Politik Kiai?
Nov08

Politik Kiai?

Konon, KH. Kholil Nawawie pernah bercerita: di saat beliau mondok di Mekkah, beliau mempunyai dua guru: Sayid Muhammad Amin al-Kutbi dan Sayid Alawi al-Maliki. Kedua guru tersebut mempunyai potensi yang berbeda dalam menyikapi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sayid Muhammad Amin al-Kutbi tidak ikut-ikutan, bahkan cenderung menjauhkan diri dari pemerintah Saudi Arabia. Tapi Sayid Alawi al-Maliki justru sebaliknya, beliau malah melibatkan dirinya dalam pemerintahan sebagai seorang mufti. Atas dasar inilah KH. Kholil Nawawie memberikan sebuah kepastian, bahwa jika memang dibutuhkan oleh pemerintah untuk memberikan sebuah pendapat, dan yang bersangkutan dianggap mampu serta teguh pendirian, maka hal itu lebih baik, karena seorang kiai adalah ulama yang menuntun pemerintah. Sedangkan pemerintah adalah pelaksana. Namun, jika yang bersangkutan tidak mampu sehingga bersikap tidak adil dan lain semacamnya, maka menjauh jelas lebih baik. Tidak heran jika Sayid Muhammad Bin Alawi al-Maliki daalm kitabnya sampai menyatakan, “Segala sesuat yang telah kerasukan politik pasti binasa”. Lalu, bagaimana dengan politik modern kiai saat ini yang ada sejak zaman orde baru hingga sekarang, yang telah banyak menuai tudingan miring kepada kiai yang melibatkan dirinya di berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pemerintahan ataupu masalah politik? tudingan itu merupakan sikap prihatin masyarakat terhadap kiai yang berpolitik peraktis, hingga tudingan itu kadang sampai pada tingkat meremehkan kapasitas kiai. Istilah kiai dikenal luas  di barbagai daerah di Indonesia, juga dikenal dengan istilah ulama. Namun, dengan arti yang berbeda, ulama adalah istilah yang lebih umum yang merujuk pada seorang muslim yang berpengatahuan tinggi. Sedangkan kiai juga memiliki makna yang beragam, namun jika dikaitkan dengan pesantren, maka yang dimaksudkan adalah pengasuh pesantr. Kiai juga berarti orang yang berilmu, yang mengajarkan ilmunya atau sebagai individu yang mempunyai tatakrama mulia. Pada dasarnya, kiai merupakan sosok istimewa yang memiliki pengaruh dan kewibawaan di masyarakat, lebih-lebih masyarakat pedesaan yang dengan kehidupannya telah menjadikan kiai sebagai figur yang dihormati dan dijadikan rujukan dalam masalah persoalan hidup. Maka, keterlibatan para kiai di parlemen negara selalu memunculkan tuduhan negatif, meski pada hakikatnya kiai, sebagai warga negara sama-sama memilik hak untuk berpolitik. Membicarakan politik kiai, sejatinya tidak akan kunjung selesai. Itulah sebabnya sosok kiai condong mempunyai kesan yang berbeda, karena lumrahnya, panggung politik kita dewasa ini diisi oleh orang-orang yang tidak bersih, maka jika para kiai yang tenggelam di ranah politik akan selalu terkesan kotor dan seolah-olah pasti berperilaku kotor juga. Tapi bukan berarti setiap orang yang berpolitik itu mesti kotor, tidak jujur, korup dan seterusnya, karena bisa jadi seorang yang berpolitik justru jujur, santun dan sesuai peraturan. Aksi politik kiai dewasa ini juga tidak mencerminkan politik Islami yang sesungguhnya, mereka malah condong memiliki kerakter angkuh karena mempunyai peluang untuk menguasai dirinya dengan memenuhi hasrat apapun yang dianggap mampu, guna membuat siapapun...

Selengkapnya
Santri Tidak Haus Akan Kebebasan.(Tendensi untuk Langkah Santri)
Nov03

Santri Tidak Haus Akan Kebebasan.(Tendensi untuk Langkah Santri)

Sebagian orang sangat terobsesi membongkar koridor pembatas gaya hidup (life style) demi mencari kebebasan. Sebagian yang lain berusaha menggerogoti undang-undang kehidupan demi orientasi serupa. Adapula yang menjauhkan diri dari intervensi norma, bahkan menendang berbagai aturan, agar bisa terbebas lepas tanpa batas. Mereka terlalu memuja dan mendewa-dewakan hedonisme dan kebebasan, seakan-akan itu semua telah mengambil alih dan menggantikan posisi Tuhan yang telah menciptakan mereka. Dengan merancang sendiri dan menerapkan faham demokrasi yang telah diupayakan sejak beberapa tahun yang silam oleh Abraham Lincoln; bebas berorasi, berpendapat, bersuara, menghujat, mengkudeta, menghegemoni dan dihegemoni; siapapun, kapanpun dan di manapun. Yang akhirnya, faham inipun juga diterima dan digunakan oleh negara kita. Mereka juga mendoktrin semua orang dengan adanya faham perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) yang selalu dijunjung tinggi sebagai sarana yang dapat menjustifikasi dan melegitimasi sepak terjangnya dalam bentuk apapun. Berbagai faham yang mereka bentuk sedemikian rupa. Hingga menyerupai sebuah ‘aturan’, padahal semua itu adalah tipudaya yang menyebabkan undang-undang itu sendiri tidak memiliki kekuatan apapun untuk mengatur prilaku dan cara hidup mereka yang bebas. Inilah semestinya yang harus kita sadari. Tapi mengapa dunia selalu saja seakan-akan masih dirasa terlalu sempit bagi mereka, hingga upaya hedonisme selalu disuarakan dengan semarak tiada henti. Kebebasan sepertinya masih dirasa kurang bebas. Entah kosa kata apalagi yang akan mereka gunakan agar takrif makna ‘bebas’ dari sudut pandang etimologi dan terminologinya bisa bermakna lebih dari sekedar sebuah kebebasan setelah ‘freedoom‘. Sungguh tak sepadan jika dikomparasikan dengan berbagai bentuk aturan yang terdapat di dalam Islam apalagi jika kita menilik lebih jauh sebuah status kesantrian. Sebuah status yang dipilih oleh sebagian generasi muslim, dengan berbagai aturan agama dan pesantren yang membatasi ekspresi dalam gerak-geriknya. yang cenderung mempersempit ruang gerak, memperkecil langkah, membatasi area dengan ‘garis batas’ Tuhan, berupa aturan-aturan agama yang bersumber dari al-Quran dan Hadits. Sebagi peraturan yang akan mengatur langkah  demi keselamatan mereka. Mungkin selayang pandang kehidupan santri bagi mereka dinilai ‘terkekang’ dan ajaran Islam dianggap over protective. Sejatinya, santri juga menemukan kebebasan dalam ikatan tersebut, tentu dalam bentuk kebebasan yang berbeda. Yang jelas, besar kemungkinan mereka akan bebas dari berbagai godaan; kemaksiatan, kenistaan, pergaulan buruk hingga ‘bebas dari sebuah kebebasan’ yang tak lain adalah program unggulan syetan. Maka tak salah jika penulis novel best seller Negeri Lima Menara A. Fuadi, mengatakan; “Kehidupan kaum santri bak berada dalam ikatan, yang mana dalam waktu tertentu ikatan tersebut akan diulur dan ditarik.”. Sesuai ada dan tidaknya ancaman kebebasan, berdasarkan ajaran Islam yang telah terpatri di dalam jiwanya. Pada intinya, eratnya ikatan status santri tidaklah membuat mereka gerah dan haus bak berada di padang gersang yang kering kerontang, justru bagaikan oase meski berada di tengah gurun yang tak bertepi. Santri tidak haus akan...

Selengkapnya
Kaligrafi Islam Warisan Seni Paling Dihargai Sepanjang Zaman
Okt24

Kaligrafi Islam Warisan Seni Paling Dihargai Sepanjang Zaman

Kaligrafi secara etimologi berasal dari kata Yunani kaligraphia atau kalligraphos. Kalios berarti indah dan grapho berarti tulisan. Kaligrafi secara jelasnya merupakan perpaduan dua unsur yaitu aksara dan nilai estetis. Di dalam bahasa Arab dikenal dengan khat atau lebih dikenal dengan istilah tahsin al-khat, al-khat al-jamil dan al-kitabah al-jamilah. Walaupun asas khat adalah bahasa arab, tapi ia lebih masyhur dikenal dengan kaligrafi islam, bukan kaligrafi arab. Seperti yang dikatakan oleh tokoh kaligrafi Libanon, Kamil Baba bahwa peran Islam dalam usaha pengembangan kaligrafi Arab yang menyebabkan pelbagai literatur menyebutnya ‘Seni Kaligrafi Islam’ jauh lebih populer daripada sebutan ‘Seni Kaligrafi Arab’. Kaligrafi Islam merupakan warisan seni yang tertua berbanding seni-seni yang lainnya seperti ornamentasi gaya Islam, seni ruang dan seni suara. Seni sastra pula menggungguli warisan yang paling kuno karena telah wujud sejak pertama kali Allah memerintahkan malaikat untuk mengajari Nabi Adam setiap nama benda yang ada di syurga. Kaligrafi Arab atau lebih dikenali kaligrafi Islam menurut satu versi berakar dari tulisan heroglif Mesir. Lalu terbagi menjadi khat Feniqi (Fenesia), Arami (Aram) dan Musnad (kitab hadis) yang banyak dipakai oleh masyarakat Himyar dan raja-raja suku Ad (Hadramaut Timur). Bahkan Ibnu Wahsyiyah an-Nabti menyimpulkan dalam Kitab al-Filahat an-Nabatiyah bahwa peletak dasar khat adalah Ismail Bin Ibrahim A.S. Asal-usul kaligrafi islam kononnya juga sudah wujud sejak zaman kenabian Hud A.S seperti yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Farukh dalam kitab at-Takmilah karya Ibnu al-Abar bahwa beliau pernah membaca dialog yang ditukil oleh Abdurrahman bin Ziyad dari ayahnya. Katanya : Ziyad Bin An’am : Wahai orang-orang Quraisy, beritaknlah kepada saya tentang tulisan arab ini, adakah kalian telah menuliskannya sebelum Allah mengutus Muhammad SAW. Kalian kumpulkan di antara tulisan itu yang berkumpul dan kalian pisahkan di antaranya yang terpisah, seperti alif, lam dan nun ?”. Abdurrahman bin Abbas: ”Ya”. Ziyad Bin An’am:”Dari mana kalian memperolehnya?. Abdurrahman bin Abbas: Dari Harb bin Umayyah Ziyad Bin An’am : Dari mana Harb memperolehnya ? Abdurrahman bin Abbas: Dari Abdullah bin Jindan Ziyad Bin An’am : Dari mana Abdullah bin Jindan memperolehnya ? Abdurrahman bin Abbas: Dari penduduk Anbar Ziyad Bin An’am : Dari mana Anbar memperolehnya? Abdurrahman bin Abbas : Dari seorang penakluk Yaman yang menaklukkan mereka. Ziyad Bin An’am : Dari mana penakluk itu memperolehnya ? Abdurrahman bin Abbas : Dari al-Khalijan bin Qasim, penulis wahyu yang diturunkan bagi Nabi Hud. Namun, kaligrafi Islam lebih menonjol dan tumbuh subur ketika bermulanya proses penyalinan al-Quran pada zaman Khulafa ar-Rasyidun. Penting dicatat bahwa al-Quran yang memainkan peranan penting dalam perkembengan tulisan Arab. Sejak para penghafal al-Quran banyak yang gugur dalam medan peperangan. Khalifah Abu Bakar segera memulai penulisan al-Quran yang diawali usulan Saidina Umar bin Khattab, pengumpulan al-Quran dilakukan oleh Zaid...

Selengkapnya
Benarkah, Rebo Wekasan Hari Sial?
Okt23

Benarkah, Rebo Wekasan Hari Sial?

Bulan Shafar identik dengan segala tradisi yang berbau ‘mitos’. Di antaranya adalah tradisi minum air rajah, sedekah bubur Shafar, dan Rebo Wekasan. Kali ini kita fokuskan pembahasan tentang Rebo Wekasan dan segala hal yang berkaitan di dalamnya.Bulan Shafar identik dengan segala tradisi yang berbau ‘mitos’. Di antaranya adalah tradisi minum air rajah, sedekah bubur Shafar, dan Rebo Wekasan. Kali ini kita fokuskan pembahasan tentang Rebo Wekasan dan segala hal yang berkaitan di dalamnya. Rebo Wekasan atau yang juga dikenal dengan Rabu Pungkasan adalah sebuah tradisi di hari Rabu terakhir bulan Shafar. Tradisi ini telah mengakar kuat di kalangan akar rumput dan diwariskan secara turun-temurun. Istilah Rebo Wekasan diyakini menjadi ‘hari sial’ dikarenakan turunnya bala’ pada hari tersebut. Benarkah keyakinan ini atau hanya sekadar kabar burung belaka? Syekh Ahmad bin Umar ad-Dairabi dalam kitabnya al-Mujarrabat ad-Dairabi al-Kabir menjelaskan, bahwa seorang waliyullah mendapatkan ilham, bahwasanya 320.000 musibah turun pada hari tersebut. Hal ini selaras dengan pendapat dalam kitab Jawahir al-Qamsi, bahwa 320.000 bala’ turun di setiap tahunnya dan semuanya turun pada hari Rabu terakhir bulan Shafar. Menyikapi penjelasan tersebut, muncullah beragam amaliah untuk menolak marabahaya tersebut. Para tokoh masyarakat ‘menakut-nakuti’ umat untuk melakukan shalat berjamaah, istighasah bersama, tahlil, dan semacamnya pada hari tersebut. Namun, hal ini justru menimbulkan perspektif miring di kalangan awam. Mereka beranggapan amaliah tersebut dilakukan murni didasari faktor ‘hari sial’, sehingga bila tidak dilakukan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Menganggap ‘sial’ hari Rabu bulan Shafar tersebut tergolong thiyarah (Su’udzon kepada Allah) yang sangat dilarang oleh Syara’, seperti statement Ahli Nujum (peramal) yang meyakini hari Rabu adalah hari yang berbintang merkuri. Sedangkan bintang merkuri adalah lambang kesialan. Hal ini sudah jelas keluar dari konteks syariat. Adapun dilakukannya amaliah di atas bertendensi pada hadis yang berbunyi, “Dari ‘Aisyah, Istri Rasulullah, berkata: “Saya tidak pernah melihat Rasulullah tertawa terbahak-bahak hingga terlihat anak lidahnya”, Beliau hanya tersenyum.  ‘Aisyah berkata: “Apabila Beliau melihat awan atau angin, maka hal itu dapat diketahui pada wajahnya.” Dia berkata: “Wahai Rasulullah! Apabila orang-orang melihat awan mereka sangat bahagia berharap supaya turun hujan. Sedangkan saya melihat engkau setiap kali melihatnya tampak kekhawatiran di wajahmu.” Beliau bersabda: “Wahai ‘Aisyah! Saya tidak merasa aman, jangan-jangan isinya mendatangkan siksaan. Telah diazab suatu kaum dengan angin dan suatu kaum lagi melihat azab, namun dia malah mengatakan, “Ini adalah awan yang mengandung hujan, yang akan menghujani kami” padahal, justru awan itu akan mendatangkan siksa.” (HR.Bukhari)Alhasil, terdapat benang merah antara amaliah Rebo Wekasan dan sikap Nabi dari hadis di atas. Amaliah tersebut bukan murni menolak kesialan, namun sebagai bentuk ibadah dan ikhtiar kita kepada Allah untuk memohon perlindungan. Semuanya harus diyakini dengan keyakinan yang benar. Tidak ada campur tangan ‘hari sial’ dalam takdir Allah....

Selengkapnya
Menyoal Tradisi di Bulan Shafar?
Okt22

Menyoal Tradisi di Bulan Shafar?

Pada bulan Shafar, beragam amaliyah sudah menjadi realita dan adat. Di antaranya tradisi bubur Shafar (tajhin shappar) yang dibagikan pada tetangga dan kerabat sekitar. Bagaimana  hukum tradisi ini? Bagaimana sejarahnya? Jawabannya dapat Anda temukan dalam ulasan berikut. Pada bulan Shafar, beragam amaliyah sudah menjadi realita dan adat. Di antaranya tradisi bubur Shafar (tajhin shappar) yang dibagikan pada tetangga dan kerabat sekitar. Bagaimana  hukum tradisi ini? Bagaimana sejarahnya? Jawabannya dapat Anda temukan dalam ulasan berikut: SEJARAH: Sejarah tradisi bubur Shafar, penulis belum menemukan data yang kongkrit tentang hal ini. Yang jelas tradisi ini sudah masuk ke Nusantara sebelum Islam masuk. Orang Syiah mengatakan bahwa yang memelopori tradisi bubur Shafar ini adalah mereka. Menurut mereka, tradisi ini untuk memperingati kepala Sayyidina Husain yang ditendang-tendang dalam peristiwa Karbala. Pendapat ini ditolak dan tidak dapat dijadikan dalil, karena ini termasuk khobar gairal mafkud bihi dan sanad-nya tidak jelas. Bukti bahwa pendapat Syiah ini bohong dan hanya buatan belaka adalah seringnya mereka mengaku-ngaku sebagai pelopor dan penggagas. Penggagas tawassul, istighasah, maulid, bubur Shafar, dan yang lainnya. Semua itu mereka akui, merekalah yang menjadi penggagasnya. Akan tetapi, semua itu ditolak dan dianggap bohong oleh ulama yang akreditas keilmuannya. HUKUM: Untuk menghukumi tradisi bubur Shafar, terdapat dua tinjauan yang sama-sama diperbolehkan. Tinjauan pertama, mengenai hukum membuat bubur. Jelas dalam membuat bubur ini, diperbolehkan dan tidak ada yang melarang. Bahkan Nabi pernah menyuruh Shahabat Abu Dzarrin untuk membuat makanan yang sejenis bubur, yang dimungkinkan makanan itu adalah bubur yang seperti sekarang ini. Tinjauan kedua, hukum membuat bubur khusus bulan Shafar yang disedekahkan pada orang-orang. Hukum yang kedua ini jelas tidak apa-apa dan termasuk tradisi yang baik, karena memberi makanan sangat diperintah oleh Rasulullah. Tradisi bubur Shafar sudah masyhur berdasarkan pengamatan Ustad Idrus Ramli yang pernah berkeliling kemana-mana. Hal ini seperti sabda pertama beliau ketika hijrah ke Madinah, “اَفْشُ السَّلَامِ وَاِطْعَامُ الطَّعَامِ” Sebarkanlah salam dan berikanlah makanan”di samping itu, untuk  menghukumi ketidakbolehan yang kedua ini, harus ada nash yang jelas-jelas melarangnya, baik dari al-Quran atau hadis.  Dalam Ushul fiqih, ketika suatu perkara tidak ada nash atau dalilnya, maka bukan berarti suatu perkara tersebut haram atau dilarang. Malah perkara tersebut diperbolehkan, dengan syarat sesuai aturan syariat. Dan sudah pasti tradisi bubur Shafar ini tidak melanggar aturan syariat bahkan melakukan hal yang dianjurkan oleh syariat, yakni sedekah dan menyambung tali silaturrahim. KONKLUSI: Tradisi bubur Shafar ini jelas diperbolehkan seperti yang sudah dijelaskan di atas. Dan yang menjadi penggagas tradisi ini jelas bukan Syiah seperti yang dikoar-koarkan oleh mereka. Juga, tradisi ini adalah tradisi yang baik dan sangat dianjurkan oleh syariat, karena dalam tradisi ini banyak mengandung norma agama seperti bersedekah, menyambung tali silaturrahim, dan yang lainnya. Wassalam. ====...

Selengkapnya
‘IBADAH’ NGOPI
Okt22

‘IBADAH’ NGOPI

Entah ada apa sebenarnya di balik minuman yang digandrungi banyak penikmat: kopi. Perjalanannya kini sudah meluas keseluruh penjajahan dunia. Tak ada pemasaran sebelumnya agar kopi tersebar dan dinikmati oleh seluruh orang. Hanya, di balik hal itu yang pasti adalah terdapat ‘sesuatu yang luar biasa’ di balik biji kopi. ‘sesuatu luar biasa ’ yang mempertahankan keberadaan kopi hinggi kini. Konon, suatu ketika disalah satu daerah terdapat seorang pengelana. Dalam perjalanannya dia merasakan letih luar biasa dan rasa kantuk yang tak tertahankan. Dia terus berjalan dengan sisa-sisa tenaga yang masih dia miliki. Tiba di sebuah tempat, dia mengkonsumsi beberapa butir biji yang dia temukan. Biji yang telah mengembalikan daya tahan tubuhnya dan mengusir rasa kantuk yang tadinya amat sangat dia rasakan. Dan terlebih lagi, biji itu ampuh bukan hanya menghilangkan rasa kantuk, tapi juga menguatkan kelopak mata untuk terus terbuka. Terlebih di malam hari. Dan katanya biji itu adalah biji kopi.! Beragam catatan historis mengenai latar belakang kemunculan kopi. Tapi, kopi ada hingga kini hampir pasti dengan satu alasan yang sama: kelezatan rasa dan aroma surga.! Tak aneh jika kopi terkadang ada untuk mendampangi salah seorang sufi beribadah. Tak aneh, jika seorang raja menemukan jalan keluar suatu urusan setelah menyeruput kopi. Tak aneh jika kopi terkadang menjadi pengantar imaji-imaji indah terhadap seorang penyair. Dan tak aneh, jika kopi biji surga yang tersesat di bumi.! Adalah wajar jika pada tahun 1668 M Bir tergantikan oleh kopi sebagai minuman terfavorit di New York. Nilai lebih dibalik biji kopi sudah terbukti beberapa abad yang silam. sebab, jikalau tuak membuatmu tertagih untuk lupa. Kopi akan menolongmu siuman dari banyak dosa. Karna, ngopi adalah ‘ibadah’ yang mudah dilaksanakan. Ngopi, ‘ibadah’ indah untuk merenungi semua kesalahan. ‘Ibadah’ indah untuk menyadari banyaknya kekurangan. Dan ‘ibadah’ indah untuk mendekat pada tuhan. Sebab, jika gandum penyelamat rombongan nabi nuh saat banjir bandang, kopi hadir sebagai warisan nabi yang menyadarkan umatnya dari sikap lalai.! Karna, kopi; pahit seperti hidup yang kalah. nikmat seperti sakit nan tabah. ====...

Selengkapnya