Menguji Keajaiban al-Quran
Jika kita mendengarkan pepatah fisikawan terkenal peraih hadiah Nobel, Albert Einstein yaitu, “Ilmu tanpa agama itu lumpuh. Agama tanpa ilmu pengetahuan itu buta”. Maka kita akan dapat memahami, betapa pentingnya memahami agama dengan obyektif. Sebab, tanpa memahaminya dengan obyektif, kita tidak dapat membedakan antara yang ‘agama’ dengan yang ‘diagamakan’. Untuk itu, tidak ada salahnya jika Dr. Zakir Naik mengarang buku Miracles of Al-Qur’an & As-Sunnah, sebab dengan buku itu, kita dapat mengetahui seribu tanda kebenaran Al-Quran dan hadis. Selain itu, buku ini tidak seperti biasanya. Sebab, buku ini 100% mengkaji secara obyektif. Semua kajiannya tidak dipaksakan. Hal itu akan terlihat jelas, jika buku ini dibandingkan dengan bukunya Yusuf Al-Hajj Ahmad, Mukjizat Ilmiah di Lautan & Dunia Binatang. Tapi sayang, karena buku ini disetel simple, pengkajian pada kosa-kata Al-Quran kurang begitu mendalam. Sehingga pembaca yang masih tergolong pemula, akan kesulitan mencerna argumen yang disampaikan penulis. Juga, kekurangan data yang valid saat “melawan arus”, alias fakta yang bertentangan dengan keyakinan masyarakat umum. Sedangkan bagi pembaca menengah ke atas—wa bil-khusûs para santri—buku ini sangat cocok untuk menambah mahabbah kepada Al-Quran dan hadis. Selamat Membaca! Muhammad ibnu...
Santri dan Politik
Apakah politik itu jelek? Tentu saja tidak! Lantaran politik adalah siasat bernegara, untuk memegang “pucuk” wewenang. Sedangkan wewenang sendiri, adalah seseuatu yang pokok untuk mengendalikan masyarakat. Mulai dari mengajak kebaikan, hingga menumpas keburukan. Lebih tepatnya istilah amar makruf nahi mungkar. Lalu, siapakah yang berani mengatakan bahwa amar maknuf nahi mungkar tidak wajib? Amar makruf nahi mungkar tanpa wewenang, bagaikan tempe tanpa kedelai. Sebab, wewenang adalah kekuasaan untuk merubah. Sedangkan amar makruf nahi mungkar adalah upaya perubahan. Jika santri dihalangi untuk berpolitik, kemudian yang memegang kendali sepenuhnya adalah orang bejat, mana mungkin “calon ulama” itu bisa menuangkan pemikirannya? Sebab, mereka sudah kehilangan wewenang, sedangkan yang menguasainya adalah orang yang minim akan ilmu agama. Maka jangan salahkan jika hal-hal kotor kian menodai negara; harapan untuk meraih baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr kian pupus. Itulah mengapa saya membuat judul, Santri Wajib Berpolitik. Lâ yamîlu yumnatan walâ yusratan cukup sebagai dalil santri mengenai politik. Tidak terlalu anti, tidak juga gila politik. Sebelumnya tertera kalimat—atau dalam bahasa arab, kalam—wa yattabi’ sunnatar-Rasûl al-Amîn, menapak tilasi jalan Nabi SAW, adalah langkah santri hakiki. Jika satu saja buku biografi Nabi Muhammad SAW—atau kalau malas membaca buku sejarah, novelnya saja—hatam, niscaya kita tahu bahwa beliau berpolitik. Baik dalam peperangan, kenegaraan, pendidikan, hingga perekonomian. Jika sudah tahu, lantas ngapain tidak mau. Bukankah dalam sabda beliau tertera, “Fa man raghiba ‘an sunnatî, falaysa minnî”, siapa orang membenci sunnahku, maka dia bukan golonganku. Na’ûdzu bil-Lâh! Memang mayoritas politikus bersifat “tikus”. Tapi itu tidak semua. Pedoman santri tidak condong kanan-kiri fî kulli hâl (termasuk saat menggeluti politik) harus dijaga. Terlintas dibenak saya, yang sedang berdiri di negeri yang salbut, “Andai tidak ada santri yang berpolitik, mungkin saja terjadi sepuluh kalilipatnya kehancuran ini!” Sebab, sebagai mana yang sudah maklum, “Jika sesuatu diurusi selain ahlinya, fantadzir as-sâ’ah, tinggal tunggu hancurnya.” Untuk itu, kepada yang “agak sufi”, tak apalah tidak menggeluti politik. Tapi—minimal—tidak mengganggu—apalagi sampai menjatuhkan—santri yang berjihad dengan cara memasuki politik. Muhammad ibnu...
Catatan Kelam Sekte Wahabi
Istilah Wahabi sering menimbulkan kontroversi sejak kemunculannya dalam dunia Islam. Aliran ini berkembang dari dakwah seorang teolog Muslim abad ke-18 yang bernama Muhammad bin Abdul Wahhab (1115 – 1206 H/1701 – 1793 M) yang berasal dari Najd, Arab Saudi. Sejarah mencatat, ajaran Wahabi disebarkan dengan pedang dan menumpahkan darah. Dalam menyebarkan ajarannya, Muhammad bin Abdul Wahhab beraliansi dengan kelompok besar Jazirah Arab yang dipimpin Ibnu Sa’ud untuk membangun kerajaan Saudi Arabia dengan akidah mengkafirkan umat Islam, serta menghalalkan darah dan harta benda kaum muslimin. Sekitar setengah juta umat Islam yang dibunuh oleh oleh pendiri Wahabi dan anak buahnya pada waktu itu. Hingga saat ini, Wahabi masih getol mengkafirkan umat Islam yang tidak se akidah dengan mereka. Mereka dengan sangat mudahnya mensyirikkan pelaku ziarah kubur, istighatsah, tabaruk dan tawasul. Salah satu dalil yang dibuat justifikasi adalah QS. Yunus: 106 (artinya), “Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudarat kepadamu selain Allah.” dan QS. Al-Jin: 18 (artinya) “Maka janganlah kalian berdoa kepada Allah dengan menyertakan seseorang.” Menurut Wahabi, para penyembah patung di zaman Rasulullah menjalani ritual demikian murni sebagai sarana pendekatan diri kepada tuhan. Mereka tidak meyakini patung bisa menciptakan sesuatu, sebab hanya Allah lah yang mampu melakukannya. Sama seperti orang yang menjadikan ziarah kubur, istighatsah, tabaruk dan tawasul sebagai wasilah untuk bertakarub pada Tuhannya. Dalil mereka adalah QS. az-Zumar: 03 (artinya), “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Pernyataan di atas tentu sangat bertolak belakang dengan realita yang ada. Para pelaku ziarah kubur, istighatsah, tabaruk dan tawasul tidaklah sama dengan penyembah berhala, antara keduanya terdapat perbedaan layaknya warna hitam dan putih. Sangat jelas!. Meskipun penyembah berhala meyakini patung tidak kuasa menciptakan sesuatu, namun hati mereka mempercayai jika patung-patung itu berhak disembah dan diagungkan sebagai tuhan. Berbeda dengan orang yang melakukan ziarah kubur, istighatsah, tabaruk dan tawasul, mereka tidak pernah menyekutukan Allah SWT, sebab dalam hati mereka tidak pernah terbesit jika para Nabi, para wali, atau orang-orang shalih yang dibuat perantara berhak dijadikan tuhan. Justru, mereka yakin seyakin-yakinnya jika semuanya adalah makhluk dan hamba Allah SWT.[1] Maka sangat tidak pantas, jika ayat-ayat tersebut dijadikan sebagai dalil larangan ritual tawassul, istighatsah, tabaruk dan ziarah kubur, karena tujuan ritual tersebut adalah berdoa kepada Allah tanpa ada I’tikad atau keyakinan bahwa mutawassal bih (yang ditawasuli) akan menjadi sekutu Allah atau menyaingi kekuasaan-Nya. Mengenai dalil perihal keabsahan mempraktekkan ritual tersebut, Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya meriwayatkan Hadis dari Anas bahwa Sayyidina Umar pernah bertawasul dengan Sayyidina Abbas saat Madinah dilanda paceklik.[2] عَنْ أَنَسٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا...
Jangan Kaget, Indonesia Islam Sebelum Rasul Wafat!
Pada masa SD dulu, kita “disuapi” beraneka-ragam pemikiran yang entah sumbernya valid atau tidak. Di antaranya, soal awal mula Islam di Nusantara. Yang sering kita dengar—tentu bermula dari SD—Islam masuk ke kawasan Nusantara pada abad ke-14 yang dibawa oleh orang India. Hal ini pendapat yang dimotori oleh Snouck Hurgronje. Tapi siapa sangka, seorang ahli sejarah bernama Bellewood menemukan tembikar Cina dan beberapa perunggu dinasti Hun di Sumatera. Lantaran sejak itu sudah ada hubungan perdagangan antara Indonesia dengan Cina. Bahkan banyak perunggu Cina pada Dinasti Zhou (221 SM), yang sekarang berada di museum London, dikabarkan berasal dari kuburan di Lumajang. Hal ini menunjukkan, jauh sebelum abad kelima—sebelum Rasulullah SAW lahir—jalur perdagangan Nusantara ke Cina sudah berkembang. Pendapat ini diperkuat dengan argumen yang disampaikan oleh HAMKA. Beliau mengatakan ada seorang pencatat sejarah dari Tiongkok pada tahun 674 M, membuktikan bahwa ada sekelompok Arab yang berdiam di pesisir barat Sumatera. Bukti ini diakui kebenarannya oleh Princetown Univercity di Amerika. Bahkan dalam salah satu dokumen kuno asal Tiongkok menyebutkan bahwa, pada tahun 625 M (dengan kata lain, lima belas tahun setelah Rasulullah SAW menerima wahyu, atau sebilan setengah dari awal Raulullah berdakwah) ditemukan sebuah perkampungan muslim di Sumatera, di bawah kekuasaan Sriwijaya. Begitupula menurut Ahmad Mansyur Suryanegara, yang sangat meyakini keberadaan Islam di Nusantara semejak Rasulullah SAW berada di Mekkah. Bahkan beliau lebih berani lagi, dengan pernyataannya, sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, tepatnya saat memimpin perdagangannya Khadijah ke negeri Syam, di situlah beliau bertemu pedagang dari Nusantara yang juga sudah menjangkau Syam. Jelas, pendapat Snouck Hurgronje tidak bisa dibenarkan. Nusantara termasuk dari sekian negara Islam generasi perdana. Yakni mulai dari abad ke-7, bukan abad ke-14. Wal-Lahu a’lam. Muhammad ibnu...
Kekuatan Magis, Setan ataukah Malaikat?
Terkadang kita mendengar pernyataan, “Mempelajari sihir demi kebaikan”. Perkataan itu tidak salah, akan tetapi, tidak benar juga. Lebih jelasnya, simaklah firman Allah di bawah ini, “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak melakukan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mangerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babîl yaitu Harut dan Marut, sedangkan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu) sebab itu janganlah kamu kafir.’ Maka, mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 102). Dari ayat di atas Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya Jin, Iblis, Setan dan Malaikat yang Tersembunyi menyimpulkan pembagian hukum pada sihir itu sendiri, White Magic dan Balck Magic. Keduanya sama-sama menggunakan pelantara jin. Akan tetapi, proses penghasilannya tidak sama. Black Magic identik dengan proses yang kotor. Lumrahnya, dengan menodai Kitab Suci dengan beragam najis. Sedangkan White Magic lebih mengarah pada ritual suci. Lebih tepatnya, perkara yang mendapat legalitas syariah. Dari pembagian itu, terpilah pula hukumnya, adayang haram—bahkan kafir—ada juga yang halal. Akan tetapi, jika “meneropong” pada kutubut-turâts, kita akan menemukan penentangan ulama pada pemilahan tersebut. Bahkan mayoritas pendapat melarang menggunakan sihir secara mutlak alias dengan alasan apapun. Lebih luasnya, bisa Anda lihat di dalam kitab Ahkâmul-Qur’ân. Akan tetapi—jika lebih teliti—yang melatar-belakangi perbedaan itu hanyalah perbedaan definisi pada sihir itu sendiri. Ulama yang berpendapat haram secara mutlak—termasuk Ibnu ‘Araby—mendefinisikan sihir dengan: ucapan yang mengandung pengagungan kepada selain Allah yang dipercaya—oleh pengamalnya—dapat menghasilkan sesuatu dengan kadar-kadarnya. Maka sudah jelas, hal itu dilarang Agama. Walhasil, esensi pemilahan hukum sihir memamang benar adanya. Bahkan dalam Risâlah al-Lu’lu’ wal-Marjân fî Tafsîr Mûlûk al-Jân dijelaskan bahwa, sebagian ayat-ayat di al-Quran diyakini menyebabkan malaikat untuk menyuruh jin melayani kepada si pembaca. Dan inilah yang dimaksud White Magic oleh Prof Dr. M. Quraish Shihab. Tidak hanya ayat al-Quran. Imam Ghazali pun dalam otobiografinya yang berjudul al-Munqîdz minadh-Dhalâl memaparkan bahwa sebagian Hisâb al-Jumâl juga memiliki kekuatan mujarrab. Dari pemaparan di atas, mungkin cukup menjadi penengah, agar tidak saling menyalahkan. Bagi yang hobi dunia mistik, ya, silahkan. Bagi yang tidak suka, jangan komentar. Sekian!...
Mengenang Slogan, “Kids Jaman Now”
Dua bahasa gabungan di atas memang sangat aneh, tapi viral di dunia maya. Di samping “bisnis ternak lele” tenar, kalimat dua bahasa pun ikut menjolak. Di antaranya, Kids Jaman Now. Awalnya, Kids Jaman Now dilontarkan oleh akun Kak Seto Gadungan. Akun tersebut, tidak diketahui pemiliknya, tapi “gentayangan” di mana-mana. Kebiasaan yang paling sering adalah menggabungkan dua bahasa. Sehingga jadilah kaliamat tersebut. Jika kita ‘irab, “Kids” merupakan jama’ dari bahasa Inggris “Kid” (anak, Indonesia). “Jaman” adalah plesetan dari kata “zaman”. Sedengkan “Now” memiliki arti: sekarang. Saat dirangkai, tiga kata tersebut bermakna: anak-anak zaman sekarang. Emang, kenapa dengan anak-anak zaman sekarang? Ya, tentu sangat gaswat. Pemuda zaman dahulu—atau katakan lah kids jaman old—sangat sulit bertemu dengan ajnabiyah. Sedangkan zaman sekarang—atau istilah kids jaman now—tidak hanya bertemu, malah berani menjalin hubungan. Bahkan pemuda yang jomblo pun terasa asing di depen mata. Untuk itu, seharusnya kita bersyukur pada Kak Seto Gadungan, yang telah membuat kalimat, “kids jaman now”. Minimal dengan istilah itu, mereka malu dengan apa yang telah mereka perbuat. Syukur-syukur jika bisa bertobat. Dugaan saya, Kak Seto Gadungan terinspirasi dari dawuh Mas d. Nawawy Sadoellah, yang berupa, “Sidogiri bhíyén, Sidogiri saíkí”. Dawuh itu merupakan pembedaan plus penyamaan antara Sidogiri dulu dengan Sidogiri sekarang. Di katakan penyamaan karena memang tujuan awal adalah memaparkan bahwa Sidogiri dulu, adalah Siogiri sekarang. Tapi jangan bangga dulu. Sebab di balik perkataan itu, ada benang pembeda yang sangat jelas. Yaitu, pemilahan Sidogiri dulu dengan yang sekarang. Meski statusnya sama-sama santri Sidogiri, tapi bisa dibedakan, yang mana yang lawas, dan mana yang baru. Jika memang keduanya sama, mana mungkin ada istilah bhíyén dan saíkí. Dari sanalah, Kak Seto Gadungan membuat kalimat persis tapi dengan campuran bahasa Inggris, bukan Jawa. Yaitu, Kids Jaman Now. Muhammad ibnu...