5 Adab Rekreasi
Syarat sah liburan adalah berlibur. Ya, berlibur ke suatu tempat. Sebab “pulangan” serasa hambar jika hanya dihabiskan di kampung halaman. Siapa pun orangnya, pasti menyukai tamasya. Menghirup oksigen di wilayah lain, serasa mencicipi hidangan dengan menu berbeda. Dengan kata lain, memiliki kesan tersendiri. Tapi bagi santri, menimbang positif dan negatif adalah sebuah kewajiban. Karena jika terlanjur “basah” dengan perkara negatif, maka sulit untuk menghindar. Bahkan merasa nanggung. Untuk itu, perhatikanlah lima point berikut: Pertama, mendapat izin dari keluarga. Lantaran pengelananya adalah seorang santri, mbokyo jaim (jaga image). Background santri adalah akhlak. Sedangkan akhlak mengajarkan pamit. Ya, pamit sebelum berpergian. Jika seandainya tidak diperbolehkan. Diam saja. Mengingat, orang tua hanya akan memberikan yang terbaik pada anaknya. Mustahil ada orang tua yang berniat buruk kepada putranya. Jika orang tua melarang. Berarti itu yang terbaik. Sebab orang tua lebih bisa memilah antara yang baik dengan yang buruk kepada anaknya. Kedua, cek dulu tempat yang ingin dituju. Sebagaimana yang telah disebutkan diatas, jika kita teledor menentukan, maka sulit menghindar. Ya, termasuk wisata yang akan kita kunjungi. Wisata domistik banyak ragamnya. Ada yang halal ada pula yang tidak. Untuk itu, jika ada yang halal ngapain kita pilih yang haram? Ingat, batasan israf adalah mengeluarkan uang recek untuk kemaksiatan. Bukan uang miliaran untuk ibadah. Ketiga, memahami betul konsep dasar fiqhus-safar. Mana yang dapat rukshah dan mana yang tidak. Sehingga kita tidak rancu mengamalkannya, alias “setengah matang”. Keempat, lantaran malaikat maut sering ada di jalanan, seyogyanya kita memiliki teman di sekitar tempat wisata tersebut. Agar tidak bingung saat terjadi sesuatu. Kelima, memakai pakaian seadanya. Dengan kata lain jangan terlalu norak. Sebab meski liburan, kita tetap santri. Santri harus jaim. Bahkan lebih bagus jika kita memakai kopyah dan sarung. Agar nuansa kepesantrenan tetap ada. Dengan kata lain, menyebarkan syiar Agama. Semua itu, tidak boleh dilupakan. Sebab lima item itulah yang akan menjaga “kelezatan” cita-rasa pesantren. Vakansi boleh, asal lima point di atas! Muhammad ibnu...
Setelah Baca Artikel Ini, Masihkah Anda Ingin Ganti Profesi?
Pernah suatu ketika saya merasa salah memilih daerah. Lantaran terlanjur mengikuti program Tahfîdzul-Mutûn, rutinitas lainnya serasa rancu. Sering saya berpikir, bahwa derah penghafal kitab tidak cocok kepada saya yang IQ rendah. Dan mungkin hal itu juga pendapat Anda. Dilema itu tidak hanya dirasakan saya sendirian. Akan tetapi banyak sahabat saya yang ingin pindah derah, karena merasa tidak cocok dengan daerah asalnya. Akan tetapi, sebelum memutuskan pindah daerah, simak dulu penjelasan Kak Mir dibawah ini: Pernah suatu ketika teman bilik berkata, “Karakter saya (yang pemalu, red) ini, yang menuntut saya meninggalkan musyawarah,” atau perkataan teman kelas saya, “Saya tidak bakat jadi penulis!” Kedua perkataan diatas mewakilkan semua ideologi kebanyakan santri. Yaitu, mengukur kesuksesan dengan karakter dan bakat. Padahal banyak sekali orang sukses yang tidak sesuai dengan karakter aslinya. Sebagai tamtsil: pada zaman jahiliyyah ketika kekejaman dan kejahiliyahan bertebaran di tanah Arab, ada salah satu orang yang lebih menonjol kekejamannya. Orang yang bertubuh besar ini sangat kejam dan suka judi. Bahkan, ia tega memendam hidup-hidup anaknya sendiri. Orang besar itu bernama Umar bin Khatthab. Beliau adalah khalifah yang adil dan penyayang. Baginya, daripada melihat rakyatnya menderita, lebih baik dirinya sendiri yang menderita. Bahkan, setiap malam, beliau rela mengontrol rakyatnya dengan memikul karung sendiri. Air matanya sering kali pecah lantaran tidak tega pada rakyatnya yang miskin. Begitupun dengan Afgan Syah Reza. Sebelum ia terkenal sebagai musisi, dia terkanal pemalu. “Waktu kecil saya jarang sekali ngomomg. Sampai-sampai ditanya guru pun tidak menjawab. Karena pada dasarnya saya pemalu,” begitulah ucapan Afgan saat diwawancarai. Bukankh sifat pemalu bertolak belakang dengan musisi. Begitupun Abdul Mun’im Idries. Dia adalah dokter forensik ternama di Indonesia. Teman kesehariannya adalha mayat, untuk diotak-atik. Padahal semasa dia menjabat sebagai doker di RS. Cipto Mangunkusumo, dia terkenal orang yang mudah jijik. Sungguh profesi yang berseberangan dengan karakternya. Samahalnya bintang film Tom Hanks yang dulunya sangat pemalu, tapi kini ia mencintai dunia akting. Atau seperti sang diktator Hitler yang terkenal dengan kekejamannya, tapi di sisi lain dia adalah seniman. (Lebih lengkapnya lihat di buku NO EXCUSE, karya Isa Alamsyah) Oleh karena itu, sangat tidak mungkin jika kesuksesanmu terhambat oleh karakter. Menyalahkan karakter, sama halnya menyalahkan Tuhan. Karena sifat seseorang adalah aslul-khilqah. Jika dilihat lebih teliti, kamu dapat menyimpulkan bahwa, karakter manusia sebenarnya sama. Yang membuat berbeda adalah lingkungan. Jika sedari kecil ditakut-takuti dengan hantu, maka menjadi penakut. Begitu sebaliknya. Karakter bukan sesuatu yang permanen. Bisa diubah sesuai keinginan. Tinggal satu kata buat kamu: IKHTIYAR. Muhammad ibnu...
Siapa Umar Mukhtar?
Jika Anda pernah membaca buku Umar Mukhtar, Napak Tilas Jihad Singa Padang Pasir karya Dr. Ali ash-Shallabi, atau pernah melihat film The Lion of the Shert dezert, Anda pasti bertanya, kenapa sosok tua renta seusia Umar Muktar masih gigih dalam berperang? Memang jauh dari pikiran, kakek-kakek yang berkuda dan bersenjata senapan angin, melawan Fasis Italia yang bersenjata tank dan pesawat tempur. Akan tetapi, tak ada perkara mustahil di dunia ini, selagi memiliki prinsip dan tekad kuat. Begitupun Umar Mukhtar. Beliau memilki prinsip yang perlu digarisbawahi. Pertama, dalam kitab Hayât Umar Mukhtar dijelaskan, bahwa beliau merasakan muraqabah (pengawasan) dari Allah SWT. Dengan begitu, segala sesuatu yang ia miliki—bahkan nyawa—beliau pertaruhkan di jalan Allah SWT. Kedua, karena Umar Mukhtar dibesarkan dalam lingkungan as-Sanusiyah, beliau ingin menuntaskan misi as-Sanusiyah. Yakni, menyebarkan risalah Islam, menyampaikan amanah, memberikan peringatan, dan anjuran, serta mengajarkan al-Quran. Ketiga, dalam melaksanakan agama, beliau tidak mengambil “setengah matang”. Beliau tahu, jika agama diambil secara parsial niscaya akan memperbesar urusan. Dalam kitab Umar Muktar, Hayâtuhu wa Jihâduhu tertera bahwa, setiap tindakan, beliau telah meneliti dengan detail. Keempat, jihad Umar Mukhtar ditempuh dengan cara ikhlas, tanpa mengharapkan royalti dan popularitas. Sehingga tak sedikitpun ancaman dapat membendung semangat beliau. Oleh karena itu, orang Eropa takjub akan kisah perjalanannya. Sebagaimana yang telah dilansir dalam majalah Times pada tanggal 17 September 1931 M. Dengan judul arikel, Kemenangan Italia tertulis, “Umar Mukhtar tidak mau menerima pemberian harta dari Italia. Dia telah mempersembahkan sesuatu yang dia miliki di jalan jihad, dan dia hidup di atas amunisi yang diberikan oleh para pengikut setianya. Dia menganggap semua kesepakatan yang dibuat orag kafir hanyalah tulisan di atas kertas belaka. Banyak orang kagum padanya, berkat kesemangatan yang tulus. Dia merupakan sosok yang terkenal dengan keberaniannya.” Selain itu itu, John dalam bukunya A History of Libya berkomentar, “Kontribusinya selama sembilan tahun sangatlah besar, mulai dari perang hingga mengorbankan diri. Bagi Umar Muktar, tantangan, pengorbanan dan mati syahid adalah sebuah prinsip mulia.” Dari itu, kita memahami, betapa penting sebuah prinsip. Kekuatan takkan bisa menjadi penentu kemenangan. Akan tetapi yang menjadi “wasit kemenangan” hanyalah prinsip. Dengan alasan apanpun, prinsip tetap berada di garda terdepan. Muhammad ibnu...
Kenapa Mazhab Empat Berbeda?
Terkadang dibenak kita terbesit pertanyaan, “Kenapa pendapat para ulama itu berbeda-beda? Padahal semua memiliki dasar hukum yang sama?” Sebenarnya, dalam sistematika perumusan dalil tidaklah sama. Sebab, dari kalangan mazhab memiliki metodologis menyusun sistematika sendiri-sendiri. Sehingga ada dalil yang terkadang disepekati dan tidak disepakati oleh ulama, lalu hal itu melahirkan hukum yang beraneka-ragam. Perbedaan itu tidak hanya terjadi dalam aspek intensitas dan otoritas penggunaan dalil. Akan tetapi, perbedaan itu menyangkut dalil non-permanen yang tidak dianggap sebagai dalil oleh kalangan yang lain. Berikut sebagian perbedaan sistematika perumusan hukum dari empat mazhab: Mazhab Hanafi Hasan Abu Thalib dalam kitabnya Tathbiq Asy-Syari’ah Fil-Bilad Al-Arabiyah, menjelaskan bahwa usulul-istinbat dan sistematika mazhab Hanafi adalah al-Quran, Sunnah, Atsâr, Ijmâ’, Qiyâs, Istihsân dan ‘Urf. Hal ini berdasarkan pernyataan Abu Hanifah sendiri yang berbunyi,“Saya berpegangan kepada Kitab Allah, bilamana saya menemukannya. Apabila tidak, maka saya berpegangan kepada Sunnah dan Atsâr. Bila masih belum menemukan, maka saya mencari pendapatnya sahabat dan mengambil yang saya sukai dan membiarkan yang lain, dan tidak akan pindah dari pendapat mereka kepada pendapat lain. Sedangkan jika persoalan sampai kepada Ibrahim as-Sya’bi, Hasan al-Bisri, Ibnu Sirrin dan Said Ibnu Musayyab, maka saya akan berijtihad…” Dari kutipan itu, sangat jelas bahwa Imam Abu Hanifah meletakkan al-Quran pada urutan pertama, disusul dengan Sunnah hingga ditutup dengan ‘Urf. Mazhab Maliki Selayaknya mazhab lain, Imam Malik pun menyusun kerangka ushulul-mazhab-nya. Akan tetapi, dengan urutan berbeda, yakni: al-Quran, Sunnah, Ijma’, Qiyâs, ‘Amal Ahli Madinah, Mashâlih Mursalah, Istihsân, Dzara’i’, ‘Urf dan Istishâb. Perbedaan yang sangat mencolok adalah penerapan dalil ijtihad yang mereka pegangi, terutama dalam ‘Amal Ahli Madinah. Bahkan menurut Hasan Abu Thalib, kalangan Malikiyah lebih dominan menggunakan ‘Amal Ahli Madinah. Mazhab Syafi’i Berbeda dengan sistematika yang dirumuskan oleh Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, Imam Syafi’i menolak jika Istihsân disebut dalil hukum. Bahkan beliau mengarang kitab Ibthâlul-Istihsân, sebuah kitab khusus yang menolak Istihsân sebagai dalil. Beliau lebih suka Istinbâtul-Hukum dari al-Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyâs. Terkadang—menurut Hasan Abu Thalib—Imam Syafi’i menggunakan Istishâb dan Maslahah Mursalah sebagai sumber dalil. Mazhab Hambali Urutan sistematika pengambilan hukum dalam mazhab Hambali sebagai berikut: al-Quran, Sunnah, Ijma’, Qiyâs, Istishâb, Mashâlih, Saddudz-Dzara’i’ dan Qaulush-Shahâbi. Menurut Hasan Abu Thalib, kalangan Hambali lebih mendahulukan Qaulush-Shahâbi dari pada Qiyâs. Mereka memakai Qiyâs sebatas dalam keadaan yang tidak darurat. Walhasil, perbedaan pendapat adalah sebuah keniscayaan. Mengingat, manusia diciptakan dengan sifat keberagaman. Dunia takkan indah jika tidak beragam. Maka dari itu, perbedaan umat Nabi Muhammad SAW adalah keunggulan, bukan kekurangan. Muhammad ibnu...
Bukan Hanya Manusia, Berikut Bukti Semut Juga Makhluk Sosial!
Manusia adalah makhluk sosial. Hal ini memang benar adanya. Sebab, mulai dari awal (baca: lahir) sampai akhir hayat (baca: mati), manusia tetap membutuhkan orang lain. Maka tak diragukan lagi, penjagaan solidaritas sebagai kewajiban prima bagi “yang merasa” dirinya manusia. Namun, perkataan di atas tidak menafikan kehidupan sosial dari makhluk lain. Sebab, semut, yang identik dengan makhluk terkecil pun tetap menjaga kehidupan yang serba gotong-royong. Bahkan Caryle P. Haskins, Ph.D., kepala Institut Carnegie di Washington menyatakan ketakjubannya pada perilaku semut. Hal ini tercatat dalam bukunya National Geographic, “Setelah enam puluh tahun mengamati dan mengkaji, saya masih takjub melihat betapa canggihnya perilaku sosial semut… Semut merupakan model yang indah untuk kita gunakan mempelajari akar perilaku hewan.” Perkataan ini dikutip oleh Harun Yahya dalam bukunya Pustaka Sains Populer Islam, Menjelajah Dunia Semut [2×0.03/Yah/P/C.01]. Wajar saja jika Caryle takjub pada pola hidup semut. Siapa yang tidak takjub, melihat hewan yang biasa kita pandang “lemah” memiliki kekompakan yang luar biasa; hewan kecil tapi keamanan sarangnya super ketat; hewan yang ukurannya tidak lebih dari 5 cm tapi dapat membangun markas hingga lebih 2 m. Lihatlah pola hidup mereka, yang mana setiap koloni semut—tanpa terkecuali—tunduk pada sistem kasta. Dalam sistem kasta, anggota teratas adalah ratu dan beberapa jantan, yang memungkinkan koloni berkembang biak. Tugas utama mereka adalah melestarikan keturunan koloni semut. Disusul dengan kasta kedua, yaitu prajurit. Tugas utama semut prajurit adalah membangun koloni alias mencari kawasan baru untuk hidup lebih aman dan nyaman. Sedangkan untuk perawatan dan kebersihan maubelir, diserahkan kepada semut pekerja, yang merupakan kasta ketiga. Dari sinilah, tersirat betapa peduli mereka pada peraturan. Mereka sudah sangat terbiasa dengan istilah “aturan”. Sehingga mereka bisa hidup tertib dan aman, meski postur badan mereka kecil. Bada jauh dengan kita, yang selama ini sangat alergi pada “aturan”, dan paling benci jika kita diatur. Sehingga, kita hidup dalam bingkaian problematika dan masalah yang continue. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita berseru, “Tirulah pola hidup semut!”. Muhammad ibnu...
Ayat dan Hadis Tentang Kebersihan
Bila ingin dicintai Rasulullah, maka bersihkanlah tubuhmu. Hal ini tidak keterlaluan. Mengingat, banyak sabda Rasulullah SAW yang menganjurkan kesehatan. Bahkan, ayat Al-Quran pun menganjurkan kebersihan. Berikut ayat dan hadis mengenai kebersihan: فيه رجال يحبون ان يتطهروا والله يحب المتطهرين “Di dalamnya ada orang-orang yang suka bersuci dan Allah mencintai orang-orang yang bersuci” يايها الذين امنوا اذا قمتم الى الصلاة فاغسلوا وجوهكم وايديكم الى المرافق وامسحوا برؤسكم وارجلكم الى الكعبين زان كنتم جنبا فالطهروا “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dengan air dan tanganmu hingga siku dan usaplah kepalamu dan basuhlah kakimu hingga mata kaki dan jika kamu junub, maka bersucilah” عن قيس بن عاصم انه اسلم فامره رسول الله صلى الله عليه وسلم ان يغسل بماء وسدر “Dari Qais dan ‘Ashim, bahwasannya dia masuk islam, kemudian Rasulullah SAW menyuruh dia mandi dengan air dan sidr” قال رسول الله صلى الله عليه وسلم طهروا هذه الاجساد طهركم الله “Rasulullah SAW bersabda: sucikanlah tubuh ini, maka Allah SWT menyucikan kalian (dari dosa)” قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من توضأ فاحسن الوضوء خرجت خطاياه حتى تخرج من تحت اظفاره “Rasulullah SAW bersabda: barang siapa yang menyempurnakan wudhu’, maka keluarlah semua dosanya, mulai dari badan hingga keluar dari kuku-kukunya” Di kutip dari buku Kebersihan dan Kesehatan dalam Ajaran Islam [297.061/Mas/K/C,01] Muhammad ibnu...