Memahami Gus Dur; Sebuah Penadangan Obyektif
Mungkin bukan maqâm-nya saya menilai Gus Dur. Tapi apa salahnya jika pustakawan membela “sosok yang gemar mambaca”. Jika kita lihat sepintas—secara subyektif—keunggulan Gus Dur tidak terbantahkan. Sebab, beliau adalah cucu dari pendiri organisasi Islam Ahlussunnah Waljama’ah terbesar di dunia, KH. Hasyim Asy’ari. Juga, anak perrtama dari Menteri Agama Pertama, KH. Wahid Hasyim. Beliau darahnya “sangat biru”, dan, di dalam buku Gus Dur Garis Miring PKB (320.10/Bis/g/C.01), dikatakan paling gusnya gus. Sehingga dari jalur nasab, beliau tergolong mulia. Akan tetapi, kadang hati tidak sreg jika tidak meninjau secara obyektif pada beliau. Beliau adalah sosok yang sejak kecil dididik oleh lembaran buku, bukan sekolah. Sehingga tidak cocok jika dibandingkan dengan ulama yang—hanya—lulusan sekolahan. Sejak SR (Sekolah Rendah, kini: SD), beliau sudah biasa bolos sekolah, bahkan tidak naik kelas. Akan tetapi sudah bisa membaca novel yang berbahasa Inggris dan Belanda. Beliau dibesarkan di perpustakaan, serta sering membaca buku-buku berat. Kegemaran membaca, membuat pemikirannya peka dan menajamkan “pandangan”. Sehingga—terkadang—bisa melihat yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Karena itulah, Goenawan Mohamad (GSM) menulis di Catatan Pinggir-nya (808.84/Moh/c/C.01), “Gus Dur di sana-sini menulis risalah agama. Saya ingat deskripsinya yang akrab tentang para ulama terkenal dan tak terkenal di pelbagai pesantren. Tapi Gus Dur juga menulis komentar pintar tentang pertandingan sepak bola. Atau sebuah esai pendek tentang film”. Karena itulah beliau dikatakan mutabahhir dalam segala bidang. Sehinnga Cak Nun (Emha Ainun Najib) dalam Surat Kepada Kanjeng Nabi (814/Nad/s/C.01) mengumpamakan beliau sebagai “bintang yang telah sampai pada posisi kekuatan dipahami”. Dengan artian, beliau tidak perlu repot-repot memahami kegamangan dan kebingungan kita atas prilakunya; melainkan kitalah yang perlu membuka kitab untuk memahami beliau. Mereka menganggap pendapat beliau kontroversial karena “keminiman pengetahuannya”. Mereka hanya bisa membedakan antara hitam dan putih, layaknya—kalau saya upamakan seperti—LED yang masih blck-white, sedangkan beliau adalah LED RGB. Sehingga, cukup kontras jika kita bandingkan keduanya. Memang kecerdasan beliau—sebagi mana kata Jakob Oetama di dalam buku Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman (808.04/Wah/G/C.01)—meski tidak memiliki gelar apapun, tapi siapa yang tidak mengakui kecerdasan beliau!? Selain kecerdasan, kebaikan Gus Dur sangatlah jelas. Sebab, baik tidaknya perilaku hanya bisa dilihat setelah kematiannya. Coba kita lihat, mulai dari wafatnya Gus Dur sampai Cakrawala ini ditulis, makam beliau tidak pernah sepi dari peziarah, layaknya makam Wali Songo. Dari itulah, banyak masyarakat menyelenggarakan tour travel dengan tujuan “Wali Sepuluh”, alias Wali Songo plus Gus Dur. Coba renungkan, yang menarik hati masyarakat untuk menziarahi Gus Dur hanyalah Tuhan. Tidak mungkin Tuhan menarik masyarakat kecuali untuk berziarah kepada kekasih-Nya. Maka tak heran jika KH. Hasani Nawawie berpesan, “Hati-hatilah (jaga sikap) kepada Gus Dur. Karena tanda kewaliannya sangat jelas. Kalau hanya zuhud-nya, saya bisa niru. Tapi sabarnya, saya tidak mampu”. Ingatlah, Gus Dur...
Nasionalisme dan Islamisme di Mata Ir. Soekarno
Siapa yang tidak kenal Ir. Soekarno? Sosok pembawa kemerdekaan negeri pertiwi ini. Sampai tukang becak pun mengenal keperibadian beliau. Tapi sayang, gagasan beliau sedikit yang dibaca orang. Padahal, kemerdekaan tidak hanya diperoleh dengan “otot” belaka, melainkan yang paling berperan di sana adalah pemikiran dan gagasan. Buku Di Bawah Bendera Revolusi ditulis oleh sang revolusioner Indonesia, Ir. Soekarno pada saat pra kemerdekaan. Dalam hal ini beliau memaparkan berbagai langkah kemerdekaan, di antaranya—yang paling ditekankan—adalah: persatuan antara nasionalisme, islamisme. Sebab—menurut beliau—hanyalah persatuan yang menjadi “kapal” kemerdekaan. Orang yang memiliki jiwa nasionalis tidak dikatakan nasionalis jika tidak bersatu dengan Islamis. Begitupun Islamis, tidak dikatakan Islamis jika tidak berjiwa nasionalis. Pada cetakan kelima, buku ini disesuaikan dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang dibantu oleh penerbit Balai Pustaka. Tapi sayangnya, tidak keseluruhan, sehingga untuk memahami, pembaca perlu memiliki pembendaharaan kata kuno. Selain berisi tulisan beliau, buku ini mencantumkan foto Ir. Soekarno yang sukar ditemukan, juga beberapa foto asli manuskrip kemerdekaan, agar pembaca lebih merasakan nuansa kemerdekaan. Selamat membaca! Muhammad ibnu...
Cinta Negeri ala Santri
Tidak cinta negeri, berarti bukan santri. hal itu tidak terlalu berlebihan. Mengingat, cinta tanah air adalah sebagian iman. Meski hadits itu—menurut Mulla Ali al-Qari dalam kitab Mirqatul Mafatih fi Syarh Misykatil Masahabih (2×2.29/Qar/m/C.01)—tergolong palsu, akan tetapi Imam az-Zarkasyi berpendapat bahwa hadits itu shahih dalam maknanya saja. Selain dalil itu, dalam Shahih Bakhari (2×2.21/Buk/s/C.07) diceritakan, Rasulullah SAW mempercepat laju kendaraannya saat mendekati kota Madinah, sebagai bukti kecintaan beliau pada negarannya. Hal itu sama persis dengan komentar Ibnu Hajar al-Asqallani dalam Fathul-Bari (2×2.21/Ibn/f/C.03). Tidak hanya kecintaan pada Madinah, Rasulullah SAW jauh mencintai Mekkah, selaku tanah kelahirannya. Dalam Sunan Tirmidzi (2×2.25/Tir/j/C.02) dikisahkan, saat Rasuullah SAW diusir (baca: hijrah) dari Mekkah, beliau sedih seraya bersabda “Sungguh aku diusir darimu (Mekkah), sungguh aku tahu bahwa dirimu negara yang paling dicintai dan dimuliakan oleh Allah SWT, seandainya pendudukmu tidak mengusirku niscaya aku takkan meninggalkanmu”. Meninggalkan tanah air bukanlah hal yang remeh. Disebutkan dalam salah satu ayat al-Quran (2×1/Alq/q/C.01), “Dan sekalipun telah Kami perintahkan kepada mereka, “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu,” ternyata mereka tidak melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka” (QS: an-Nisa’ [4] 66). Pada jilid ke-15 Tafsir al-Kabir (2×1.32/Raz/t/C.01), Imam Ar-Razi berendapat, keluar dari kampung halaman (baca: tanah air) sama halnya dengan dibunuh. Mengingat, mencintai tanah air adalah suatu keniscayaan. Samahalnya dengan salah satu ayat pada surah al-Baqarah yang artinya “Dan bunuhlah mereka dimana kamu temui mereka, dan usirlah mereka dari mana mereka telah mengusirmu, dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan” (QS: al-Baqarah [2] 191). Mula al-Qarni berargumen—dalam kitabnya Mirqatu fi Syarh Misykati (2×2.29/Qar/m/C.01)—bahwa ”fitnah” disana adalah mengusir dari tanah air. Semua ayat dan hadis diatas, menuntut kita mencintai negara. Mengingat, santri adalah: orang yang berpegang teguh pada tali Allah, serta menapaktilasi Rasul-Nya. Muhammad ibnu...
Mengintip Masa Lalu, Demi Masa Depan
وَ لْتَنْظُرْ نَفْسٌ ما قَدَّمَتْ لِغَدٍ “Perhatikan pengalamanmu untuk hari esokmu” (Q.S. Al-Hasyr [59]:18). Semua pengalamanmu itu adalah palajaran untuk masa depanmu. Syaikh Wahbah az-Zuhaili menghimbau untuk memilah dan memilih pengalamanmu yang patut untuk dibudayakan dan yang diberdayakan. Ayah saya pernah berkata “pengalaman adalah guru terbaik”. Walaupun baik ataupun buruk tetap hal itu menjadi ‘Fan Pokok’ bagi masa depanmu. Semisal, jika Imda I Anda memuaskan dan nilainya bertambah tinggi maka analisalah faktornya untuk selalu dibudayakan dalam masa depanmu. Akan tetapi jika Imda I Anda mengecewakan –semoga saja tidak— maka seleksilah kesalahannya kemudian berusaha mengantisipasi kesalahan tersebut mulai dini hari. Selagi Imda III atau Imni –bagi yang kelas puncak— masih jauh dari ‘rabaan’ mata. Muhammad ibnu...
Perbedaan Akad Salam dan Transaksi Pesan
Pemesanan adalah suatu transaksi yang lumrah terjadi di Indonesia dan di kalangan santri. Akan tetapi, sungguh teragis jika mereka yang melakukan transaksi tersebut tanpa mengetahui hukum dan akadnya, sebagian dari mereka berstatement bahwasannya transaksi pesanan itu masuk ke transaksi salam. Maka dari itu, penulis akan menuliskan segelintir masalah transaksi pesanan dan transaksi salam. Pendahuluan Artikel ini hanya sebagai antitesis pada seseorag yang memasukkan transaksi pemesanan pada transaksi salam. Maka dari itu, penulis hanya menfokuskan pembahasan pada Konsep dasar transaksi salam Kontradeksi antara transaksi pesanan dan transaksi salam. Tujuannya hanyalah sebatas Mengetahui esensi transaksi salam. Mengetahui perbedaan yang mencolok antara transaksi pesanan dengan transaksi salam. Konsep Dasar Salam Dalam bab ini penulis akan menuturkan Devinisi, syarat-syarat, personalia yang terlibat dan wajib dipenuhi dalam transaksi salam. Devinisi Sebelum kita membahas panjang lebar transaksi salam, alangkah baiknya jika kita mempelajari devinisinya terlebih dahulu. Devinisi salam secara etimologinya adalah salaf, sedangkan salaf itu sendiri adalah kontan dan didahului. Salam dan salaf esensinya hanyalah sinonim belaka. Akan tetapi hanya terjadi ontradeksi etimologi negra saja. Salam adalah etimologinya penduduk Arab Saudi (hijaz), sedangkan salaf adalah etimologinya bangsa Irak. Salam secara terminologinya adalah menjual sesuatu yang jelas kriterianya (ciri-cirinya) yang ada dalam lingkup dzimmah (tanggungan) disertai kalimat salam dan salaf. Sedangkan devinisi dzimmah itu sendiri ditinjau dari segi etimologinya adalah : Janji dan Aman, sedangkan secara terminologinya adalah : Tanggungan yang terbebas dari tuntutan syariah dan paksaan. Faktor transaksi ini dinamai dengan nama salam karena modalnya diserahkan ketika pemesanan. Faktor transaksi ini dinamai dengan salaf karena modalnya didahului dari pada barangnya. *) pendevinisian ini hanyalah bertujuan agar pembaca arahan transaksi salam. Dasar transaksi salam Berdirinya transaksi ini berdasarkan cikal bakal Alquran yang berbunyi [Al-Baqarah, 282] Artinya: Ibnu Abbas menefsirkan bahwasannya ayat tersebut diturunkan dalam permasalahan transaksi salam sendiri. Selain itu, transaksi salam juga berdiri berdasarkan sabda nabi Muhammad Saw. Yang artinya “barang siapa yang ingin berakad salaf. Maka, dahului menentukan timbangan, takaran, masa yang tertentu”. Diriwayatkan oleh imam Bukhari [2240] dan imam Muslim [4202]. Hal-Hal yang terlibat dalam akad salam Didalam semua transaksi pasti akan melibatkan personel-personel. Karena transaksi sangat bekaitan dengan sosok yang akan terlibat di dalamnya. Begitu pula transaksi salam. Salam melibatkan (5) personel. Yaitu : Muslim (orang yang bertransaksi salam) Muslam Ilaih (orang yang menerima transaksi salam) Muslim dan Muslam Ilaih harus memenuhi (3) syarat. Yaitu: Diperbolehkan bertrensaksi secara mutlak : dengan artian Masa pubertas, Berakal, dan Cerdas. Tidak ada unsur pemaksaan : Transaksi salam harus terjadi dari kehendak diri. Tidak boleh dipaksa olah orang lain. Islam : syarat ini berlaku apabila muslam fih nya berupa kitab suci Alquran, Budak Islam dan lain semacamnya. Muslam Fih (barang yang di salam) Muslam fih harus...
Merajut Impian Masyayikh
Pembabatan tanah yang kita injak ini bukanlah hal yang mudah, hutan belantara tak berpenghuni. Akan tetapi seorang perantau gigih melakukannya. Bahkan dalam buku Jejak Langkah 9 Masyaikh Sidogiri [2×9.7/Omi/j/C.01] hambatan pada saat itu bukan hanya pohon raksasa, akan tetapi para jin dan beberapa hewan liar. Karena keberanian Mbah Sulaimanlah—panggilan masyhurnya—Milad tanah ini sudah mencapai ke-280 tahun. Kegigihan dan pengorbanan bukanlah sesuatu yang muncul pada setiap saat. Di dalam buku NO EXCUSE [158/Ala/n/C.01] kesemangatan hanyalah terbangaun dari visi dan misi yang sangat jelas. Tak mungkin seseorang semangat tanpa tujuan yang pasti. Begitu pula Mbah Sulaiman, beliau pasti memiliki visi dan misi yang sangat jelas dan agung. Karena sangat tak masuk akal jika mengorbankan harta, waktu dan tenaga untuk membabat hutan belantara yang angker dengan tanpa iming-imingan apapun. Untuk itu, KH Hasanie Nawawie merumuskan devinisi santri dengan jelas, agar konsep yang tertanam dalam diri santri tidak ‘konslet’. Mengingat santri harus tahu impian maha gurunya. Sebagai mana yang tertera dalam buku Biografi Ringkas Keteladanan Kiai Hasanie Nawawie [2×9.09/Bak/b/C.03]. Oleh karenanya, slogan ‘satu mimpi satu barisan’ muncul sebagai tema perayaan milad PPS ke-280. Mengingat sudah saatnya santri satu arah dengan impian para masyayikh, yakni mengkader ‘ibadillahish-shalihin. Gus Dur didalam antologi esainya Kiai Nyentrik Membela Pemerintahan [2×9.874/Wah/k/C.02] menjelaskan efek dari kebersamaan dalam mencari ilmu. Di esainya terdapat cerita tentang dua kiai yang kehidupannya sangat kontras, tapi itu saling menghormati satu sama lain. Bahkan efek kemasyrakatpun lebih maksimal. Pentingnya kekompakan juga tercermin dalam buku Dari Puncak Andalusia [900/Suw/d/C.01], mulai berdirinya masjid Kordoba sebagai pusat peradaban Islam, hingga menjadi bebak belur menjadi gereja. Kekompakan yang kami maksud disini adalah menjalani semua titah masyayikh, karena mimpi itu takkan tercapai selagi Anda belum melewati jalan yang disediakan oleh guru kita. Ingat! Penyebab kekalahan muslimin di peperangan Uhud disebabkan tidak taat pada titah Nabi, sebagai mana dalam buku Analisis Aktual Perang Badar & Uhud...