Rambak dari Kulit Bangkai
a. Deskripsi Masalah Di berbagai toko banyak dijual rambak dari kulit hewan. Tapi kita tidak tahu tentang status kulit yang menjadi bahan baku rambak, apakah dari hewan sembelihan atau dari bangkai. b. Pertanyaan Bolehkah memakan kulit bangkai yang sudah disamak? c. Jawaban Jawaban terdapat pemilahan: kalau berupa kulit hewan yang boleh dimakan, maka menurut Qaul Jadîd boleh, sedangkan menurut Qaul Qadîm tidak boleh. Kalau berupa kulit hewan yang tidak boleh dimakan, maka tidak boleh sama sekali. d. Rujukan وَهَلْ يَجُوْزُ أَكْلُهُ يُنْظَرُ فَإِنْ كَانَ مِنْ حَيَوَانٍ يُؤْكَلُ فَفِيْهِ قَوْلَانِ قَالَ فِى القَدِيْمِ لَايُؤْكَلُ لِقَوْلِهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّمَا حَرَّمْتُ المَيْتَةَ كُلَّهَا وَقَالَ فِى الجَدِيْدِ يُؤْكَلُ لِاَنَّهُ جِلْدٌ طَاهِرٌ مِنْ حَيَوَانٍ مَأْكُوْلٍ فَاَشْبَهَ جِلْدَ المُذَكَّى وَاِنْ كَانَ مِنْ حَيَوَانٍ لَايُؤْكَلُ لَمْ يَحِلَّ أَكْلُهُ لِأَنَّ الدِّبَاغَ لَيْسَ بِاَقْوَى مِنَ الذَّكَاةِ وَالذَّكَاةُ لَاتُبِيْحُ مَا لَا يُؤْكَلُ لَحْمُهُ إهـ (المجموع شرح المهذب,...
Air Sabun untuk Wudhu
a. Deskripsi Masalah Kamar mandi jika sudah lama tidak dibersihkan, maka airnya akan berubah karena bercampur dengan berbagai zat lain, teremasuk sabun. b. Pertanyaan Bolehkah air yang berubah karena bercampur sabun digunakan untuk bersuci? c. Jawaban Bila sampai mengubah nama air tersebut menjadi air sabun, maka tidak boleh. Apabila tidak sampai mengubah namanya, maka boleh. d. Rujukan (و) القِسْمُ الثَّالِثُ (طَاهِرٌ) فِي نَفْسِهِ (غَيْرُمُطَهِّرٍ) لِغَيْرِهِ إِلَى اَنْ قَالَ وَالمُتَغَيِّرُ أى وَمِنْ هَذَا القِسْمِ المَاءُ المُتَغَيِّرُ اَحَدُ أَوْصَافِهِ بِمَا أَىْ بِشَيْءٍ خَالَطَهُ مِنَ الطَّاهِرَاتِ تَغَيُّرًا يَمْنَعُ إِطْلَاقَ اسْمِ المَاءِ عَلَيْهِ إهـ (فتح القريب بهامش حاشية الباجوري,...
Kebersihan Sebagian dari Iman
a. Deskripsi Masalah Sering dinyatakan oleh para dai bahwa kebersihan adalah bagian dari Iman, tulisannya pun banyak ditemui di banyak tempat umum. b. Pertanyaan Sebenarnya bagaimakah penjelasan kalimat “an-nazhâfatu minal-îmân”? c. Jawaban Kami tidak menemukan kalimat tersebut dalam kitab-kitab Hadis maupun lainnya, akan tetapi kami menemukan Hadis yang berbunyi: الطَّهُوْرُ شَطْرُ الِإيْمَانِ yang artinya, “kesucian itu adalah separuh keimanan”, demikian Hadis riwayat Muslim (I/203). Sedangkan berkaitan dengan kebersihan, ada Hadis dalam al-Jâmi’ush-Shaghîr berbunyi: إِنَّ الإِسْلَامَ نَظِيْفٌ فَتَنَظَّفُوْا فَإِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الجَنَّةَ إِلَّا نَظِيْفٌ Sesungguhnya Islam itu bersih, maka berbersihlah, karena tidak ada orang yang masuk surga melainkan dalam keadaan bersih. d. Rujukan إِنَّ الِإسْلَامَ نَظِيْفٌ فَتَنَظَفُّوْا فَإِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الجَنَّةَ إِلَّا نَظِيْفٌ–(خط) عن عائشة–قال شارحه العلامة المناوي: أي نَقَوْا ظَوَاهِرَكُمْ مِنْ دَنَسِ نَحْوِ مَطْعَمٍ وَمَلْبَسٍ حَرَامٌ وَمُلَابَسَةِ قَذَرٍ وَبَوَاطِنَكُمْ بِإِخْلَاصِ العَقِيْدَةِ ونَفْيِ الشِّرْكِ وَمُجَانَبَةِ الأَهْوَاءِ وَقُلُوْبِكُمْ مِنْ نَحْوِ غَلٍّ وَحِقْدٍ وَحَسَدٍ (فَإِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الجَنَّةَ إِلَّا نَظِيْفٌ) أي طَاهِرُ الظَّاهِرِ والبَاطِنِ وَمَنْ لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ طُهْرَتُهُ النَّارُ اهـ (فيض القدير شرح الجامع الصغير, 2/322), و (إتحاف السادة المتقين, 1305). حديث بُنِيَ الدِّيْنُ عَلَى النَّظَافَةِ، ذكره في (الإحياء,1/49), وقال مخرجه: لَمْ أَجِدْهُ، وَفِي الضُّعَفَاءِ لِابْنِ حبان من حديث عائشة: تَنَظَّفُوْا فَإِنَّ الِإسْلاَمَ نَظِيْفٌ، وللطبراني بسند ضعيف جدا من حديث ابن مسعود: النَّظَافَةُ تَدْعُوْ إِلَى الِإيْمَانِ. اهـ. وقال السيوطي: وأقرب منه ما أخرجه الترمذي عن سعد بن أبي وقاص مرفوعا: إِنَّ اللهَ نَظِيْفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ فَنَظَّفُوْا أَفْنِيَتَكُمْ اهـ. وروى الترمذي من حديث سعد بن أبي وقاص: إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ، نَظِيْفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ، كَرِيْمٌ يُحِبُّ الكَرَمَ، جَوَّادٌ يُحِبُّ الجُوْدَ، فَنَظَّفُوْا إلى آخر ما قال اهـ (الأسرار المرفوعة في الأخبار الموضوعة, 167-168). فَتَفَطَّنْ ذُوْ البَصَائِرِ بِهَذِهِ الظَّوَاهِرِ اِنَّ اَهَمَّ الاُمُوْرَ بِطَهِيْرِ السَّرَائِرِ اَذْ يَنْفُذُ اَنْ يَكُوْنَ المُرَادُ بِقَوْلِهِ صلى الله عليه وسلم الطَّهُوْرُ نِصْفُ الِايْمَانِ بِجِمَارَةِ الظَّاهِرِ بِالتَّنْظِيْفِ وَبِاِفَاضَةِ المَاءِ وَاِلْقَائِهِ وَتَخْرِيْبِ البَاطِنِ وَاِبْقَائِهِ بِالأَخْبَاثِ وَالأَقْذَارِ هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ إهـ (إحياء علوم الدين, 1/125), و (إتحاف السادة المتقين,...
Minyak Kejatuhan Najis
a. Deskripsi Masalah Dijelaskan dalam kitab fikih bahwa benda cair selain air yang terkena najis tidak bisa disucikan lagi. b. Pertanyaan Bisakah minyak goreng yang terkena najis itu disucikan, mengingat harga minyak yang relatif mahal dan kasihan kalau dibuang? Kalau bisa bagaimana caranya? c. Jawaban Tidak bisa. Tetapi ada pendapat yang mengatakan bisa disucikan. Caranya, tuangkan air ke dalam wadah yang berisi minyak yang terkena najis itu. Lalu aduk sampai merata. Setelah itu diamkan beberap menit agar minyaknya ke atas permukaan air. Kalau minyaknya sudah terapung, lubangi bagian bawah wadahnya. Setelah airnya keluar semua, tutuplah segera lubangnya, jangan biarkan minyaknya ikut keluar. Perlu diingat, jangan sampai minyaknya yang dituangkan ke dalam air itu, karena akan menajiskan air tersebut. d. Rujukan وَلَوْ تَنَجَّسَ مَاِئعٌ تَعَذَّرَ تَطْهِيْرُهُ وَقِيْلَ يَطْهُرُ الدُهْنُ بِغَسْلِهِ (وقيل يطهرالدهن بغسله) قِيَاسًا عَلَى الثَّوْبِ وَكَيْفِيَـةُ تَطْهِيْرِهِ كَمَا ذَكَرَهُ فِي المَجْمُوْعِ أَنْ يَصُبَّ المَاءَ عَلَيْهِ وَيُكَاثِرَهُ ثُمَّ يُحَرِّكَـُه بِخَشَبَةٍ وَنَحْوِهَا بِحَيْثُ يُظُنُّ وُصُوْلُهُ لِجَمِيْعِهِ ثُمَّ يُتْرَكَ لِيَعْلُو ثُمَّ يُثْقِبَ أَسْفَلُهُ فَإِذَا خَرَجَ المَاءُ سُدَّ إهـ (مغني المحتاج,...
Percikan Air Musta’mal
a. Deskripsi Masalah Biasanya kalau mandi di kamar mandi, bekas air yang telah digunakan memercik kemana-mana. b. Pertanyaan Bagaimana hukum percikan air tersebut bila mengena pada pakaian? c. Jawaban Ada dua pendapat, manurut pendapat yang lebih kuat hukumnya suci. d. Rujukan (قاعدة مهمة) وَهِيَ أَنَّ مَا أَصْلُهُ الطَّهَارَةُ وَغَلَبَ عَلَى الظَّنِ تَنَجُّسُهُ لِغَلَبَةِ النَّجَاسَةِ فِي مِثْلِهِ فِيْهِ قَوْلَانِ مَعْرُوْفَانِ بِقَوْلِي الأَصْلُ وَالظَّاهِرُ أوْ الغَالِبُ، أَرْجَحُهُمَا أَنَّهُ طَاهِرٌ عَمَلاً بِالأَصْلِ المُتَيَقَّنِ إهـ (فتح المعين بهامش إعانة الطالبين,...
Meragukan Najis di Lantai Masjid
a. Deskripsi Masalah Pada bagian telapak kaki seseorang terdapat najis yang masih basah. Ia baru mengetahuinya setelah turun dari Masjid dan ia yakin bahwa najisnya mengena pada lantai Masjid. b. Pertanyaan Apakah ia wajib membersihkan semua lantai Masjid? c. Jawaban Ia hanya wajib menyucikan tempat yang diyakini terkena najis saja, bukan yang masih ia ragukan. d. Rujukan قَطَرَاتُ بَوْلٍ مُتَفَرِّقَاتٍ وَقَعَتْ بِمَسْجِدٍ وَمَرَّ النَّاسُ فِي المَحَلِّ مَعَ تَرَطُبِ أَرْجُلِهِمْ لَمْ يَجِبْ إِلَّا مَحَلُّ البَوْلِ فَقَطْ لَا كُلُّ المَحَلِّ لِلشَّكِّ فِي تَنَجُّسِهِ إذْ يَحْتَمِلُ مُرُوْرُ المُتَوَضِّئِيْنَ عَلى النَّجَاسَةِ وَعَلى المَوْضِعِ الطَّاهِرِ وَالقَاعِدَةُ إِنَّا لَا نُنَجِّسُهُ لِلشَّكِّ إهـ (بغية المسترشدين,...