Memakai Jemuran Orang Kafir
Des26

Memakai Jemuran Orang Kafir

a. Deskripsi Masalah Di Bali, mayoritas penduduknya beragama Hindu, dan sedikit yang beragama Islam. Pada suatu hari orang Islam menggunkan tempat jemuran orang Hindu. b. Pertanyaan Najiskah baju orang Islam tersebut? c. Jawaban Baju orang Islam tersebut tidak najis karena mengikuti asal (kesucian)-nya. d. Rujukan قَاعِدَةٌ مُهِمَّةٌ: وَهِيَ أَنَّ مَا أَصْلَهُ الطَّهارَةُ، وَغَلَبَ عَلىَ الظَّنِّ تَنَجُّسُهُ لِغَلَبَةِ النَّجاسَةِ فِيْ مِثْلِهِ فِيْهِ قَوْلانِ مَعْرُوْفَانِ بِقَوْلَيِ الأَصْلِ وَالظَّاهِرِ أَوْ الغَالِبِ، أَرْجَحُهُمَا أَنَّهُ طَاهِرٌ، عَمَلا بِالأَصْلِ المُتَيَقَّنِ، لأَنَّهُ أَضْبَطُ مِنَ الغَالِبِ المُخْتَلِفِ بِالأحْوَالِ وَالأزْمَانِ، وَذَلِكَ كَثِيَابِ خَمَّارٍ وَحَائِضٍ وَصِبْيَانٍ وَأَوَانِي مُتَدَيِّنِيْنَ بِالنَّجاسَةِ اهـ (فتح المعين هامش إعانة الطالبين, 1/104). Disadur dari buku: Santri Salaf Menjawab untuk mendapatkannya, klik tombol di bawah ini Pesan...

Selengkapnya
Onani Pakai Ilalang
Des26

Onani Pakai Ilalang

a. Deskripsi Masalah Di suatu daerah sering terjadi orang onani dengan cara memasukkan ilalang ke dalam penisnya, sedang ia dalam keadaan suci (punya wudhu). b. Pertanyaan Apakah hal tersebut dapat membatalkan wudhunya? c. Jawaban Meskipun telapak tangannya sama sekali tidak menyen-tuh penisnya, hal tersebut tetap dapat membatalkan wudhu, karena setelah rumput itu masuk lalu dicabut kembali, maka keluarnya rumput itu yang membatalkan wudhu. d. Rujukan وَاحْتُرِزَ بِقَوْلِهِ مَا خَرَجَ، عَمَّا دَخَلَ، فَلَوْ أَدْخَلَ عُوْدًا فِيْ دُبُرِهِ، فَلاَ نَقْضَ بِهِ حَتَّى يَخْرُجَ اهـ (حاشية الباجوري, 1/69). Disadur dari buku: Santri Salaf Menjawab untuk mendapatkannya, klik tombol di bawah ini Pesan...

Selengkapnya
Anak Blasteran Manusia dan Anjing
Des25

Anak Blasteran Manusia dan Anjing

a. Deskripsi Masalah Baru-baru ini di Barat gempar gara-gara ada orang yang menikahi anjing. b. Pertanyaan Jika ada orang menyetubuhi anjing, sampai akhirnya anjing itu melahirkan anak, najiskah anak anjing tersebut? c. Jawaban Kalau anak anjing tersebut berupa anjing, maka hukumnya najis. Kalau berbentuk manusia, maka menurut Imam ar-Ramli suci, sedangkan menurut Imam Ibnu Hajar dihukumi najis yang di-ma’fû. d. Rujukan قَوْلُهُ (وَالْخِنْـزِيْرِ وَمَا تَوَلَّدَ مِنْهُمَا) أي بِاَنْ نَزَا كَلْبٌ عَلَى خِنْـِزْيْرٍ-إِلىَ أَنْ قَالَ-وَشَمِلَ كَلاَمُهُ الْمُتَوَلِّدَ بَيْنَ كَلْبٍ وَآدَمِيٍّ، فَاِنْ كَانَ عَلى صُوْرَةِ اْلكَلْبِ فَنَجِسٌ، فَاِنْ كَانَ عَلَى صُوْرَةِ الآدَمِيِّ فَطَاهِرٌ، عِنْدَ الرَّمْلِيِّ، وَنَجِسٌ مَعْفُوٌّ عَنْهُ، عِنْدَ اْبنِ حَجَرٍ اهـ (حاشية الباجوري على ابن قاسم, 1/108). Disadur dari buku: Santri Salaf Menjawab untuk mendapatkannya, klik tombol di bawah ini Pesan...

Selengkapnya
Bangunan Masjid dari Benda Najis
Des25

Bangunan Masjid dari Benda Najis

a. Deskripsi Masalah Di daerah yang menjadi sentra peternakan akan sulit mencari lahan yang terhindar dari najis, sehingga ketika ada orang ingin membuat batu-bata pasti akan tercampur dengan najis. Begitu juga tanah dan pasir yang menjadi bahan baku bangunan. b. Pertanyaan Bagaimana hukum bangunan masjid atau musala yang terdiri dari barang najis, semisal batanya bercampur najis? c. Jawaban Bangunan itu dihukumi suci dan bisa ditempati salat. d. Rujukan وَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ، إِذَا ضَاقَ الأَمْرُ اِتَّسَعَ، وَالْجُبْنُ المَعْمُوْلُ بِاْلانَفِحَةِ المُتَنَجِّسَةِ مِمَّا عَمَّتْ بِهِ الْبَلْوَى اَيْضًا فَيُحْكَمُ بِطَهَارَتِهِ، وَيَصِحُّ بَيْعُهُ وَاَكْلُهُ، وَلا يَجِبُ تَطْهِيْرُ الْفَمِ مِنْهِ، وَاِذَا أَصَابَ شَيْءٌ مِنْهُ ثَوْبَ الآكِلِ اَوْ بَدَنَهُ لَمْ يَلْزَمْهُ تَطْهِيْرُهُ، لَلْمَشَقَّةِ، وَاَمَّا الآجُرُ الْمَعْجُوْنُ بِالسِّرْجِيْنِ، فَيَجُوْزُ بَيْعُهُ، وَبِنَاءُ الْمَسْجِدِ بِهِ، وَفَرْسُ عَرْصِهَا بِهِ، وَتصَح الصَّلاَةُ عَلَيْهِ بِلاَ حَائِلٍ اهـ (حاشية القليوبي, 1/76). Disadur dari buku: Santri Salaf Menjawab untuk mendapatkannya, klik tombol di bawah ini Pesan...

Selengkapnya
Kotoran Telinga
Des25

Kotoran Telinga

a. Deskripsi Masalah Ketika telinga terasa gatal, kita biasa membersihkannya pakai alat pembersih telinga. Setelah itu biasanya kotoran yang ada di dalamnya akan ikut keluar. b. Pertanyaan Najiskah kotorannya telinga? Jika kebetulan menederita penyakit telinga, bagai-mana hukum cairan putih yang ada di dalamnya? c. Jawaban Tidak najis (suci). Najis, tetapi di-ma’fû. d. Rujukan (قَوْلُهُ خَرَجَ مِنَ السَّبِيْلَيْنِ) أَيْ مِنْ أَحَدِ السَّبِيْلَيْنِ الْقُبُلِ والدُبُرِ-إِلَى أَنْ قَالَ-وَخَرَجَ بِقَوْلِهِ مِنَ السَّبِيْلَيْنِ، الْخَارِجُ مِنْ بَقِيَّةِ الْمَنَافِذِ فَهُوَ طَاهِرٌ اهـ (حاشية الباجوري, 1/100). وَكَالدَّمِ فِيْما ذُكِرَ القَيْحُ والصَدِيْدُ، وَلَوْ رَعُفَ فِي الصَّلاةِ وَلَمْ يُصِبْهُ مِنْهُ إِلاَّ الْقَلِيْلُ لَمْ يَقْطَعْهَا وَإِنْ كَثُرَ نُزُوْلُهُ عَلَى مُنْفَصِلٍ عَنْهُ فَإِنْ كَثُرَ مَا أصَابَهُ لَزِمَهُ قَطْعُهَا وَلَوْ جُمْعَةً اهـ (قَوْلُهُ وَكَالَّدمِ الخ) الْمُتَبَادَرُ دَمُ الْمَنْفَذِ فَالْمُرادُ مِنَ الْقَيْحِ وَالصَّدِيْدِ حِيْنَئِذٍ قَيْحُ الْمَنافِذِ وَصَدِيْدُهَا اهـ (حواشي الشرواني على تحفة المحتاج, 2/136). Disadur dari buku: Santri Salaf Menjawab untuk mendapatkannya, klik tombol di bawah ini Pesan...

Selengkapnya
Mengapa Harus Pakai Debu?
Des24

Mengapa Harus Pakai Debu?

a. Deskripsi Masalah Dalam fikih dijelaskan, jika ada tubuh atau benda yang terkena najis mughallazhah, maka cara menyucikannya adalah membasuh-nya tujuh kali dan salah satu basuhan dicampuri debu. b. Pertanyaan Mengapa membasuh najis mughallazhah harus mengguna-kan debu, dan tidak memakai sabun saja? Mengapa harus dibasuh tujuh kali, tidak enam atau lima kali saja? c. Jawaban Selain karena sudah perintah syariat, juga karena air liur anjing mengandung bakteri yang tidak dapat dilenyapkan kecuali dengan debu. Karena ta’abbud, yakni melakukan ibadah dengan mengikuti perintah apa adanya. d. Rujukan لِلرَّسُوْلِ e مُعْجزَاتٌ كَثِيْرَةٌ، وَهَذِهِ إحْدَى الْمُعْجزَاتِ، فَلَقَدْ أثْبَتَ الطِبُّ الحَدِيْثُ، اَنَّ فِي لُعَابِ الْكَلْبِ جَرَاثِيْمُ (مِيْكرُوْبَاتٌ) لاَ يَقْتُلُهَا إِلاَّ التُرَابُ الْمَمْزُوْجُ بِالْمَاءِ، وَلِذَا خَصَّ الشَارِعُ الْحُكْمَ عَلىَ إِرَاقَةِ مَا يَشْرَب الْكَلْبُ فيْهِ وَغَسْلُ الإِنَاءِ سَبْعَ مَرَّاتٍ، وَلْيَصْحَبِ التُّرَابُ إِحْدَى الغَسَلاتِ اهـ (إبانة الأحكام, 1/43). (وَيَجِبُ فِيْ جَامِدٍ تَنَجَّسَ بِشَيْءٍ مِنْ نَحْوِ كَلْبٍ غَسْلُهُ سَبْعًا ) اهـ (قَوْلُهُ غَسْلُهُ سَبْعًا) أَيْ تَعَبُّدًا اهـ (حاشية الشرقاوي, 1/130). Disadur dari buku: Santri Salaf Menjawab untuk mendapatkannya, klik tombol di bawah ini Pesan...

Selengkapnya