FK Tafsir Ungkap Kesamaan UUD 1945 dengan al-Quran
Jan26

FK Tafsir Ungkap Kesamaan UUD 1945 dengan al-Quran

Memang membahas tentang toleransi, takkan ada usainya. Memang, toleransi sudah jelas perilaku baik. Namun, pertanyaannya, apakah semua paham tentang toleransi sebenarnya? Friday Forum yang diadakan ACS hadir untuk menjawab semuanya. Termasuk FK Tafsir yang akan membahas titik temu UUD 1945 dengan al-Quran. Laporan: Muhammad ibnu Romli Friday Forum mengundang kelompok khusus untuk mengkritisi toleransi dalam sudut-pandang al-Quran sekaligus tafsirnya. FK Tafsir, bawahan Kuliyah Syariah mengamini undangan tersebut. Hasilnya, sungguh memukau. Dimulai dengan memaparkan negeri ini terlebih dahulu. “Beragam ras, suku, budaya dan perbedaan agama bukan menjadi problem bagi Indonesia, hal ini malah menjadikan kekayaan dan nilai tersendiri bagi Indonesia, bahwa Indonesia mampu menyatukan segala perbedaan menjadi sebuah kesatuan yang diatur oleh UUD 1945 di bawah panji NKRI,” ujarnya. Lalu, usai menyeruput kopi dihadapannya, mulai masuk ke dalam kajian khasnya: al-Quran. “Dalam al-Quran perbedaan yang demikian menjadi sebuah realitas sosial, bukan menjadi sebuah masalah yang signifikan, malah hal itu patut kita syukuri supaya kita saling mengenal dan menjalin sebuah keharmonisan antara satu dengan yang lain,” jelasnya. Uniknya dalam pembahasan ini, dua utusan dari FK Tafsir itu menyebutkan bahwa UUD 1945 sama sekali tidak bertentangan dengan al-Quran. “Ayat al-Baqarah 265 mengindikasikan bahwa kita sebagai Muslim tidak diperkenankan untuk memaksa siapapun untuk masuk Islam, dan ini juga diterapkan oleh UUD 1945 yang memberikan kebebasan kepada seluruh warga negara Indonesia untuk memilih agama sesuai kehendaknya,”...

Selengkapnya
FK Sejarah Berbicara Toleransi dari Sudut Pandang Historis
Jan25

FK Sejarah Berbicara Toleransi dari Sudut Pandang Historis

Benar juga, bahwa majelis paling top ialah majelis ilmu. Bagaimana tidak, Friday Forum yang diadakan ACS beberpa hari lalu, manfaatnya terasa sangat jelas. Kajian yang didapatkan pun dinilai lebih dari cukup. Termasuk penjelasan dari Forum Kajian (FK) Sejarah yang satu ini. Laporan: Muhammad ibnu Romli “Toleransi berasal dari bahasa latin tolerare yang berarti sabar dan menahan diri. Toleransi juga berarti suatu sikap saling menghormati dan tolong menolong antar sesama manusia tanpa memandang suku, ras, agama, dan antar golongan. Islam sudah mengenal konsep toleransi sejak lama, hal ini termaktub dalam al-Qur’an surah al-Hujurat ayat 13,” begitu delegasi FK Sejarah memulai pembicaraannya. Dengan mengutip ayat yang menjelaskan konsep toleransi secara umum dalam Islam, menurut pandanganya, seluruh manusia dari manapun asal mereka, ras, warna kulit dan keturunan siapapun sama dalam pandangan Allah. Hanya orang yang paling bertakwalah yang dapat meraih kemuliaan di sisi-Nya. “Jika toleransi diartikan secara bebas tanpa batas, seperti doa bersama dalam gereja, ikut merayakan natal dan ritual-ritual agama lainya maka Islam adalah agama yang tidak mengenal toleransi dalam agama. Islam tidak memebenarkan hal itu dan pelakunya mendapat ancaman yang berat,” tambahnya. Untuk sejarah sendiri, sosok yang gemar kajian tiap malam ini memulai sejarahnya dari tragedi Piagam Madinah. “Di Madinah, Nabi Muhammad dihadapkan pada sebuah realita keberagaman suku kaum muslimin dan bertetangganya mereka dengan kabilah-kabilah Yahudi. Maka di tahun yang sama Nabi Muhammad membuat sebuah perjanjian yang kemudian dikenal dengan nama Piagam Madinah. Secara umum, isi dalam Piagam Madinah adalah menjadikan kaum muslimin bersatu padu dalam sebuah persaudaraan berasaskan ruh Islami, tanpa memandang asal suku, ras, ataupun nasab. Serta membentuk sikap saling menghargai terhadap agama Yahudi sekaligus pemeluknya dan bahu-membahu dengan mereka dalam hal melindungi kota Madinah,” jelas pria dengan kumis tipis ini dengan sejelas-jelasnya. Sambil menikmati hidangan, pria ini melanjutkan penjelasannya, “Dengan Piagam Madinah tersebut, Rasulullah hendak menjadikan Madinah sebagai kota penuh damai dan berasaskan toleransi Islami meskipun para pendukunnya multi suku dan agama. Dalam lintas sejarah, Piagam Madinah disebut sebagai the first written constitution in Islam atau konstitusi tertulis pertama dalam Islam dan the first documented case of constitutional law atau kasus hukum konstitusional yang pertama kali didokumentasikan. Bahkan orang Orientalis mengakui keautentikan Piagam Madinah. Piagam ini juga menjadi bukti kehebatan percaturan politik Nabi Muhammad. Tidak heran jika salah seorang tokoh Orientalis, W. Montgomery Watt menyebut Nabi Muhammad sebagai prophet and Statesman,” imbuhnya. Puas dengan penjelasan perihal Piagam Madinah, pria yang tidak punya waktu kecuali untuk muthalaah ini menambahkan keterangan Islam di Semenanjung Iberia. Penaklukan Thariq bin Ziyad dalam mengislamkan Spanyol yang dulu dikenal dengan Andalusia juga patut dibuat contoh baik tentang sebetapa baik toleransi umat Islam kepada orang non-muslim. “Di bawah kekuasaan Islam, penduduk Kristen dan Yahudi...

Selengkapnya
Grand Opening Lomba Milad 283
Jan24

Grand Opening Lomba Milad 283

Pembukaan dengan Baris-Berbaris dan Instrumen Energik Jumat (24/01), Grand Opening Lomba Milad Sidogiri ke-283 dan Ikhtibar Madrasah Miftahul Ulum (MMU) ke-84 telah digelar. Bertempat di Lapangan Selatan Sidogiri, acara ini diresmikan oleh Ust. Mahbub Shonhaji, Wakil Ketua Panitia Milad Sidogiri ke-283 dan Ikhtibar Madrasah Miftahul Ulum (MMU) ke-84 . Acara ini menjadi pembuka kegiatan lomba Milad 283 secara keseluruhan, bukan hanya untuk lomba volley dan kasti. Acara ini dipandu oleh dua host yang tidak asing bagi santri Sidogiri, sebut saja ada Ust. Mahbub Ali yang berdomisili di Daerah B dan Ust. Rifki Ali yang berdomisili di Daerah M.  Group drumband mengirini 20 Kontingen atau utusan pemain volley ball dan kasti. 20 kontingen terdiri dari perwakilan masing-masing  17 daerah asrama Santri Sidogiri, mulai A sampai P dan Z, serta tiga sisanya perwakilan dari MMU Idadiyah, Ibtidaiyah, dan Tsanawiyah. Semua Kontingen berbaris rapi di dalam arena yang telah dipersiapkan panitia. Baca juga: Volley Ball: Minus Supporter, Tim Asrama Z Tampil Impressif “Mari kita sambut, para punggawa-punggawa daerah, mereka akan siap mempertaruhkan nama baik daerah dan merebut kemenangan”, kata host bernama Ust. Rifki Ali ini dengan semangat. Parade pembukaan lomba menampilkan tim baris-berbaris yang dilanjutkan dengan atraksi dari para pemain drum band. Kemudian acara diisi dengan nyanyian lagu Indonesia dengan pengibaran Bendera Merah Putih yang memanjang di ujung Arena. Peresmian Lomba diwarnai dengan Obor, Kembang Api, dan Flare Setelah itu, dilanjutkan dengan peresmian lomba oleh Ust. Mahbub Shonhaji, dengan simbolis penyalaan obor dan diiringi kembang api serta warna-warni flare di seluruh arena. “Dengan bertawakal kepada Allah dengan pembacaan surat al-Fatihah semoga kegiatan berjalan lancar dan semoga direstui oleh Masyayikh”, harap Ust. Mahbub Shonhaji meresmikan lomba Milad. Acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Panitia Lomba Milad, Ust. Syukron. Beliau menegaskan untuk semua peserta lomba agar mematuhi segala bentuk peraturan dan memprioritaskan sportifitas. Beliau juga sangat menekan supporter agar tertib, tidak melakukan tindakan di luar norma santri. “Dengan dibukanya lomba ini, harapan kami, semua bisa mematuhi tata tertib, baik bagi pemain maupun supporter”, ucap Ust. Syukron ini. Acara dilanjutkan dengan perlombaan volley ball, Daerah B melawan Daerah C, Daerah N berhadapan dengan Daerah Z, dan Daerah L bertemu rivalnya Daerah D. Musyafalhabib|Sidogiri.net Tonton videonya di...

Selengkapnya
Delegasi Dalwa Ikut Ramaikan Friday Forum
Jan24

Delegasi Dalwa Ikut Ramaikan Friday Forum

Bila malam Jumat lalu, al-Ghazali diisi acara talkshaw berupa Ngopi: Ngobrol Bareng LPSI, yang hanya diisi anggota LPSI, malam Jumat kali ini (23/01) berbeda. Annajah Center Sidogiri (ACS) mengelar acara Friday Forum dengan mengundang beberapa delegasi pesantren lain. Tercatat, dari Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah (Dalwa) mengirim dua delegasi dan dari Dalwa Institute juga mengirim dua delegasi. Menurut Ust. Maksum, Wakil II ACS, ada yang baru dari gelar wicara tahun ini. Bila tahun lalu hanya mengandalkan perwakilan dari majelis kajian dalam pesantren, tetapi tahun ini turut mengundang pesantren lain. “Besuk, Sunniyah Salafiyah, PP Dalwa, dan Insititut Dalwa juga turut diundang. Namun yang hadir hanya dari PP Dalwa dan Dalwa Institute,” begitu penjelasan dari pria kelahiran Pulau Garam ini dalam sambutannya. Dari Sidogiri sendiri ada beberpa perwakilan yang ikut serta mempresentasikan artikelnya. Antara lain: Semester II ACS, Semester IV ACS, Lembanga Penelitian dan Pengembangan (LITBANG), FK Sejarah, dan FK Tafsir. Masing-masing perwakilan, wajib menyetorkan satu karya artikel tentang tema, “Toleransi Kebablasan”. Dewan perumus sedang meluruskan permasalahan di acara Friday Forum “Semua mempertangungjawabkan tulisannya, yang nantinya ditasheh oleh dewan perumus: yakni Ust. Achyat Ahmad dan Ust. Afifuddin,” ujar Ust. Zaki Ghufron, Wakil I ACS. Acara ditutup dengan pembacaan istighatsah bersama, tepat pukul 12.00 Wis malam. Ust. Iqbal Hawasyi Akbar, salah-satu delegasi dari PP. Dalwa. “Biasanya, Dalwa mengutus saya di forum-forum Musyawarah atau Bahtsul Masail. namun, kali ini ada yang berbeda. Kami diutus untuk mengisi acara Talkshow. Ini baru kesan pertama, yang menurut saya amazing!” Ujar Ust. Iqbal Hawasyi Akbar, salah-satu delegasi dari PP. Dalwa. Muhammad ibnu Romli |...

Selengkapnya
Persaudaraan Laksana Pohon
Jan23

Persaudaraan Laksana Pohon

al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Seggaf: Perumpaan Persaudaraan di jalan Allah laksana sebuah pohon yang harus disiram dengan air (Saling Berziarah) “Perumpaan persaudaraan di jalan Allah diibaratkan sebuah pohon yang harus disiram dengan air ( dengan saling berziarah) dan nantinya akan membuahkan rasa saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa, apabila tidak disiram maka pohon itu akan kering, dan apabila tidak berbuah maka akan dipotong.” Demikian penyampaian isi dari Kitab Hikam karya al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad yang dibacakan dan diterjemahkan oleh al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Seggaf, pada pengajian Malam Jumat kemarin (17/01) di Masjid Jami’ Sidogiri. Baca juga :Al-Habib Taufiq Bin Abdul Qadir as-Seggaf: Perumpaan Orang yang Berbuat Dosa Untuk Taubat Setelahnya Ukhuwah fillah itu penting dan ukhuwah itulah disebut mukmin, karena ukhuwah fillah menjadi lambang kekuatan iman. Ukhuwah ini ditandai dengan cinta dan benci karena Allah. Walau bersaudara, apabila ditemukan kekeliruan dan kesalahan maka saudara yang baik akan membencinya karena Allah. Seperti dicontohkan seorang mukmin yang bersaudara dengan seseorang yang baik, dan dia mencintainya karena Allah. Dan suatu waktu ternyata orang yang awalnya baik itu melakukan penghinaan terhadap nabi, maka sebagai mukmin adalah membencinya karena Allah bukan malah membelanya tetapi harus diluruskan dan dibenarkan. Apabila sudah menemukan sosok yang memiliki jiwa ukhuwah fillah maka harus dirawat dengan cara saling berziarah (silaturahim). Ibarat pohon yang harus disirami agar terus hidup, maka seperti itulah menjaga ukuwah dengan berkunjung. Allah telah menginformasikan dalam al-Quran bahwa yang akan mendapat mahabbah Allah adalah yang saling cinta karena Allah, saling duduk karena Allah, saling membantu karena Allah, dan saling berziarah karena Allah.  Bahkan dalam hadits dijelaskan bahwa mereka yang mengunjungi saudaranya karena Allah akan diiringi malaikat sebanyak 70.000. Baca juga: Al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Seggaf: Shadaqah Lebih Baik dari Menyimpan Harta Diceritakan dalam hadits Nabi, ada orang yang berziarah kepada saudaranya di suatu daerah. Allah mengirimkan satu malaikat yang menjelma manusia. Ketika malaikat itu bertemu dengan orang tersebut, malaikat itupun menanyakan alasan kenapa mengunjungi saudaranya itu. Orang itu menjawab karena orang itu cinta kepada Allah. Malaikat yang menjelma manusia tadi akhirnya mengakui sebenarnya ia diutus Allah untuk memberi kabar bahwa Allah cinta kepada orang tersebut karena orang tadi cinta kepada saudaranya. al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Seggaf: Ziarahlah waqtu ba’da waqtin Habib Taufiq juga menyarankan agar tidak terlalu sering berkunjung atau berziarah ke saudaranya. Karena ibarat pohon jangan terlalu banyak disiram, siramlah secukupnya. Selain itu, beliau juga tidak menginginkan terlalu jarang mengunjungi saudaranya nanti jadi menjauh. “Ziarahlah waqtu ba’da waqtin, jangan terlalu sedikit berkunjung nanti menjauh, dan berhentilah ziarah tiap hari nanti bisa bosen”, pesan Habib Taufiq yang merupakan cucu Habib Jakfar Syaikhon Pasuruan ini. Musyafal...

Selengkapnya
Lulus Diklat Syarat Masuk Asrama Arab
Jan22

Lulus Diklat Syarat Masuk Asrama Arab

Syarat Lulus Diklat ditetapkan Mulai Tahun ini Lulus Pendidikan Shalat (Diklat) menjadi syarat mukim di Asrama Arab. Hal ini sebagaimana tertulis dalam surat pemberitahuan Pendaftaran Warga Arab, Ahad (20/01). Hal ini dibenarkan oleh Sekretaris Penerimaan Warga Baru Daerah Arab, Ust. Ali Akbar. Beliau bahkan telah bekerjasama dengan bagian Diklat untuk mengetahui database peserta Diklat yang lulus untuk mengurangi tindak kecurangan. “Kami telah menetapkan harus lulus Diklat. Ditetapkan mulai tahun ini dan berlaku seterusnya. Bagi yang belum lulus, bisa mengikuti ujian Diklat terlebih dahulu dan namanya belum bisa kami cantumkan sampai benar-benar jelas kelulusan Diklatnya”, terang pria yang juga merupakan TU LPBAA. Baca juga: LPBAA: Uji Bakat Dengan “Drama Arab” Baca juga: Nama Syekh Mari’ Ikut Menghiasi Daftar Tamu Istimewa LPBAA Selain harus lulus Diklat, Ust. Ali Akbar juga menyampaikan bahwa para calon warga Arab juga harus lulus pendidikan Qurani Sidogiri. Sementara itu, pendaftaran untuk masuk Asrama Arab telah dibuka sejak Ahad kemarin. Pendaftaran dilakukan di Ruang Pelayanan Kantor Sekretariat Lantai I pada pukul 08.00 Wis malam selain malam Jumat. Musyafalhabib |...

Selengkapnya