Friday Forum ACS Bahas Toleransi
Dalam perjalannya untuk mencetak kader-kader Ahlusunah wal Jamaah, Annajah Center Sidogiri (ACS) memiliki kegiatan tahunan yang bernama Friday Forum, acara bincang akidah dalam bentuk talkshow. Friday Forum pertama kali diadakan pada 13, September 2018 lalu. Kini, Friday Forum akan dilaksanakan besok pada malam Jumat (23/1) dengan tema “Toleransi”. Laporan: Moh. Kanzul Hikam Friday Forum adalah acara bincang akidah yang berada di bawah naungan ACS, yang bertujuan untuk mengkader dan mengasah bakat santri dalam hal menguji keabsahan argumen, serta mengkaji problem kekinian yang tidak seirama dengan ajaran akidah Ahlusunah wal Jamaah. Friday Forum adalah acara yang menjadi agenda tahunan ACS sejak 2018 Friday Forum pertama kali diadakan pada 13, September 2018 yang bertempat di lantai dasar Mabna al-Ghazali. Tahun ini Friday Forum akan dilaksanakan pada Malam Jumat, 28 Jumadal Ula 1441 H atau 23 Januari 2020 M, dengan tema “Toleransi”. Baca juga: Friday Forum: Wadah Penerapan Ilmu yang Diperoleh Selama Satu Semester “Acara ini sebenarnya tidak meliki anggaran khusus, hanya saja pengurus ACS berinisiatif untuk mengadakannya dengan menggunakan dana dari sisa anggaran ACS yang masih ada,” ungkap Ulin Nuha, sekretaris acara Friday Forum. Diadakannya Friday Forum ini ditujukan untuk menjadi salah satu simbol kesuksesan ACS dan melatih kecakapan peserta untuk menyampaikan argumentasi yang sesuai dengan akidah Ahlusunah, serta menjadi wadah penerapan ilmu yang telah didapatkan selama satu semester bagi anggota ACS. Acara ini diikuti oleh: Dua orang utusan dari ACS Semester II, IV dan LITBANG (penelitian dan pengembangan).Annajah Tsanawiyah I, II dan III, (Masing-masing dua orang).Dua orang delegasi dari Lembaga Penelitian Studi Islam (LPSI) Forum Kajian (FK) Sejarah, FK Tafsir, dan FK Hadis.PP. Dalwa. PP. Sunnniyah Salafiyah.PP. Besuk. Dalwa Insitute. Sistem pelaksanaan Friday Forum adalah para peserta mempresentasikan pendapat masing-masing sesuai dengan tema yang diberikan panitia, kemudian pendapat masing-masing delegasi akan didiskusikan bersama. Setiap delegasi diharuskan menyetorkan naskah artikel dengan tema “Toleransi”, maksimal 3000 karakter dengan spasi. Beberapa hari sebelum acara, panitia menyebarkan beberapa selebaran berisi beberapa poin yang akan dibahas pada malam Jumat nanti. Tujuannya agar persiapan yang dilakukan para peserta talkshow dari masing-masing semester, baik semester II, IV, anggota Litbang dan tamu undangan dari beberapa pesantren semakin matang....
ACS Bersama Habib Mohammad Baharun
Prof. Dr. Habib Mohammad Baharun, SH, MA, konon, sewaktu berada di Malang, merupakan sosok di balik besarnya Annajah di Sidogiri, sekaligus salah-satu mentor partama Annajah di Siodgiri. Kini, beliau bersedia untuk mengisi kembali seminar ilmiah Annajah Center Sidogiri, besok Malam (21/01). Laporan: Muhammad ibnu Romli Pengurus Annajah Center Sidogiri (ACS) mendapat tawaran dari Prof. Dr. Habib Mohammad Baharun, SH, MA, Ketua Komisi Hukum MUI Pusat untuk mengadakan seminar ilmiyah yang bertajuk, “Agama, Pancasila, dan Politik Kebangsaan Perspektif Pesantren.” Pada malam Rabu (21/01). Rencananya, acara ini bertempat di ruang auditorium, kantor sekretariat lantai II. “Acara ini sebenarnya tidak direncanakan. Namun, mumpung beliau di Malang, serta bersedia untuk mengadakan acara seminar yang temanya dari beliau sendiri, kami dengan sangat senang hati mengiyakan, serta langsung merembukkan dengan pengurus ACS yang lain,” ujar Ust. Habibulloh, Wakil II ACS. Kenangan ACS bersama Prof. Dr. Habib Mohammad Baharun, SH, MA Peserta undangan terdiri dari anggota ACS semester II, semester IV, serta anggota Penelitian dan Pengembangan ACS (Litbang). Bagi ACS sendiri, acara bersama beliau bukan pertama kali. Tahun lalu ACS bekerja sama dengan Badan Pers Pesantren BPP mengadakan insan pers dengan menghadirkan beliau sebagai nara sumber. Begitu pun tiga tahun silam, ACS mengadakan seminar ilmiah yang bertemakan “Persatuan Umat Islam dalam Persepektif Aswaja” dengan pemateri yang sama. Di Sidogiri sendiri, beliau telah berkali-kali diundang. Salah satunya dalam acara yang bertajuk “Perang Pemikiran Media di Era Modern” yang diadakan BPP. Begitu pula dalam rangka hari santri tahun 2017 silam. Juga, seminar ilmiah dalam rangkaian acara Milad Sidogiri ke-277 dengan tema, “Strategi dan Psikologi Dakwah”. “Sebenarnya, acara ini tidak jauh beda dengan tahun lalu. Namun, kali ini tema sekaligus materinya memang langsung dari Habib Baharun sendiri,” terang Ulin Nuha, Sekretaris Bulletin Nasyit sekaligus ketua distributor Buletin Tuiyah, salah-satu media ACS yang murni dakwah, alias dibagikan secara gratis. Sekilas info, pembaca juga bisa mengakses Bulletin Tauiyah digital secara gratis di link di bawah ini:buletin tauiyah Prof. Dr. Habib Mohammad Baharun, SH, MA di...
Mashuri; Seharusnya Santri Itu Bisa Menulis
Saat ini, bisa dikatakan bahwa minat tulis-menulis dalam dunia pesantren mengalami penurunan dibanding dengan masa-masa sebelumnya. Ada sebagian menganggap tidak penting bagi mereka untuk menulis, karena itu bukan bidang mereka, ada pula yang beranggapan belum siap menghadapi tantangan di dunia luar, padahal, banyak sekali kita lihat penulis-penulis luar pesantren yang menulis karya dengan mengatasnamakan agama, sedangkan pengetahuan mereka tentang agama sangatlah minim, sehingga tidak sedikit ditemukan kesalahan-kesalahan pemahaman dalam isi buku hasil karangan mereka. Lebih parahnya lagi bila si penulis merupakan seorang tokoh masyarakat yang banyak penganutnya. Berikut wawancara Alfin Nurdiansyah, dari Maktabati dengan Mashuri M.A (peneliti sastra di Balai Bahasa Jawa Timur) mengenai perihal di atas. Apakah peran pesantren dalam dunia tulis menulis? Pada zaman dahulu, pesantren terkenal dengan tulisannya, entah itu dalam penulisan sajak atau pun kitab-kitab. Banyak penulis-penulis andal berlatar belakang pesantren. Diantaranya, KH. Abdul Hamid Pasuruan, KH. As’ad Samsul Arifin, dan beberapa kiai yang pernah menuntut ilmu di Haramain, semuanya adalah penulis andal. Bahkan, banyak dari Masyaikh Sidogiri merupakan penulis andal. Entah seiring berjalanya waktu, minat menulis di kalangan santri itu menurun. Seharusnya ini menjadi instropeksi kita bersama, kenapa di kalangan pesantren minat menulis menurun, padahal banyak di luar sana yang mengharapkan tulisan dari pesantren, untuk melawan pendapat-pendapat yang tidak sesuai dengan syariat. Jika dulu pesantren bisa menyumbang banyak pada dunia, seharusnya sekarang, dengan fasilitas yang terbilang lebih maju harus bisa menyumbang lebih banyak. Apa tantangan penulis pesantren di dunia luar? Sebenarnya tantangan bagi penulis bukan hanya di luar atau pun di dalam, tetapi, tantangan terbesar bagi penulis ada pada diri sendiri. Tantangan yang bersumber dari dirinya sendiri seperti malas, itu terjadi bukan hanya pada penulis pemula saja, bahkan penulis mapan pun juga sering mengalaminya. Namun, penulis sekarang lebih dimanja dengan fasilitas yang lebih nyaman, entah itu dalam segi penerbitan maupun media. Dengan akses yang serba mudah ini jarang ada penulis sekarang yang mampu membuat tulisan yang mendalam, berbeda dengan zaman dulu yang serba keterbatasan, tulisanya sangat mendalam dan detail. Istilahnya, jika kita dimanjakan sesuatu kita akan terlena, karena segala sesuatu jadi lebih mudah, hingga akhirnya kita meremehkan. Mungkin ini bisa dijadikan tantangan untuk penulis, mampukah kita mengembangkan tulisan kita dan mampu memanfaatkan fasilitas yang ada. Akhirnya, tantangan itu kembali pada diri sendiri juga. Selain itu, kita juga ditantang untuk membuat pembaruan, bagamana kita belajar dari tulisan yang ada hingga kemudian menciptakan karya baru yang dapat menarik masyarakat. Bagaimana cara penulis agar bisa menarik minat baca, meninjau menurunnya minat baca orang Indonesia? Indonesia memang terbilang negara dengan minat baca yang rendah. Namun, jika bicara soal minat baca, sebenarnya itu bukan hanya tugas penulis, tapi itu tugas kita semua, baik itu dari sisi masyarakat dan pemerintah. Kita...
Resahkan Pengurus, Stok Lencana Santri Tidak Memadai!
Kewajiban mengenakan lencana menjadi sorotan dalam rapat pendidikan yang diikuti oleh semua instansi bawahan ketua I, hampir semua resah terkait murid-murid yang tidak mengenakan lencana. Sudah pasti ketika mereka tidak mengenakannya maka mereka terkena pelanggaran undang-undang Pondok Pesantren Sidogiri. “Lencana ini wajib, tapi kami selalu kehabisan stok,” tutur Ust. Rifqi al-Mahmoudy, Kepala Madrasah I’dadiyah yang turut menghadiri acara tersebut. Dari permasalahan inilah timbul inisiatif untuk menjadikan lencana permanen pada seragam. Bordiran lencana akhirnya diletakkan pada bagian sisi atas saku. Ada sedikit perubahan pada desain bagian kanan baju, yang kini menggunakan bordir berbentuk terompah nabi. Akhirnya, beberapa minggu terakhir ini telah terealisasikan, tetapi masih dalam proses percobaan. “Pihak Kopontren Sidogiri telah menyediakan 500 potong seragam dengan model baru di Toko Basmalah Unit 1, dan stok ini telah habis kurang lebih hanya dalam waktu 1 minggu saja,” ungkap Mansur Assidiqi, Staff Administrasi Toko Basmalah Unit 1 kepada Reporter Maktabati....
Hadiah Untuk Mustawa
“Daerah Arab (Daerah K dan B) asrama santri yang berprestasi tinggi,” sebut Ust. Mahbub Shonhaji selaku Ketua Lembaga Pembelajaran Bahasa Arab dan Asing (LPBAA). Beliau menginginkan santri yang bermukim di Daerah Arab bisa berbahasa Arab dengan lancar layaknya orang Arab. Untuk meraih upaya tersebut, peningkatan dan pembaruan selalu diproses setiap tahun. “Sudah saatnya kualitas Bahasa Arab meningkat,” ungkap Sekretaris Umum, HA. Saifulloh Naji. Program baru tersebut diterapkan pada semua tingkat mustawa. Pada tahun ini Beliau akan mengubah materi dan sistem ujian, agar mereka lebih semangat dan mahir dalam berbahasa Arab. Selain itu, materi pembelajaran mengalami beberapa perubahan. Misalnya, kitab Qawaid al-Lughah al-Arabiyah diganti kitab Mahir fil-muhawarah di mustawa I. “Dalam masa setengah tahun, anggota baru sudah bisa berbicara seperti keinginan kami,” jelas staf pengajar kelas 2 Tsanawiyah tersebut. Pengurus LPBAA menganggap warga baru Daerah Arab sudah mumpuni di bidang nahwu dan sorrof sejak I’dadiyah, dan khawatir terjadi kemandekan seperti pada tahun sebelumnya. Di samping itu, sistem ujian mustawa I memiliki dua jenis ujian, yakni tahriri dan shafahi sebagai sensasi mahir berbahasa. Mengenai penilaian, masih dalam perencanaan rapat pengurus LPBAA. Selanjutnya, beliau berharap muhawarah (percakapan) Daerah Arab meningkat sesuai dengan bahasa modern, lebih peka pada istilah-istilah Arab. Bukan menerjemah Bahasa Indonesia ke Bahasa Arab secara literal. “Sidogiri saja yang mengalami peningkatan Bahasa Arab, yang lainnya masih belum”, tutup ayah dari dua anak tersebut. Nama: Agus Hidayat* *Wartawan...
Tambah Fasilitas Agar Kebersihan Terjaga
Pada tahun ini, Pondok Pesantren Sidogiri melakukan penambahan fasilitas baru berupa wastafel. Hal tersebut bertujuan agar para santri lebih mudah untuk tidak meludah dan membuang ingus ke sembarang tempat, ketika kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. ”Kami rasa pemasangan wastafel ini sangat dibutuhkan, karena banyak santri yang meludah sembarangan dan mengotori masdrasah, sehingga kami harus menyediakan wastafel di madrasah, ” ungkap Ust. Abdullah Mustofa kepada reporter Maktabati (1/2). Biaya pemasangan wastafel tersebut menghabiskan dana kurang lebih Rp. 35.000.000,- sesuai dengan kebijakan pengurus bahwa fasilitas baru tersebut harus diletakkan di setiap tangga mabna madrasah. Untuk mabna al-Ghazali terpasang 6 wastafel dan mabna as-Suyuthi sebanyak 10 wastafel. Selain itu, untuk mabna an-Nawawi pengurus belum merealisasikan. Baca juga: Madinah Adakan Reuni Penggunaan fasilitas tersebut bersifat umum tidak tertentu pada guru atau murid, semuanya boleh memakai wastafel sesuai kehendak mereka, tapi fasilitas tersebut hanya diprioritaskan untuk pembersih diri saja, tidak yang lain. “Dengan adanya fasilitas baru ini semoga santri menggunakannya dengan baik dan berhati-hati agar alat tersebut tidak mudah rusak,” pesannya....