DMTS Dihapus?
Jan10

DMTS Dihapus?

Taklimiyah wa Tahfidzul al-Quran (TTQ) telah mengadakan rapat koordinasi bawahan Wakil ll TTQ bagian musyawarah, pada malam Sabtu,(21/12). Bahan pembahasan utama yang diperbincangkan adalah mengenai Musyawarah yang rutin diselenggarakan setiap tahun yakni DMTS (Daurah Musyawarah Tingkat Tsanawiyah). Ustaz Fahmi Aziz menyampaikan, bahwa musyawarah rutinan ini akan ditiadakan sejak tahun sebelumnya, namun hal itu tidak terjadi, karena berbagai alasan dan pertimbangan, maka DMTS masih perlu untuk tetap diselenggarakan, “Rencana awal musyawarah ini hanya akan dihadiri delegasi dari dalam pondok saja, tidak megundang dari luar pondok, karena rencana dari pengurus TTQ masa khidmah 1439-1440 H DMTS akan di hapus”, terang beliau. Namun hal ini tidak terlaksana dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Sehingga dengan tetap diadakannya DMTS, maka panitia pelaksana berencana akan mengundang delegasi dari luar pondok Pesantren Sidogiri. Dan rencananya, pengurus bagian musyawarah akan mengundang dari PP. Lirboyo dan pesantren-pesantren lain yang kompeten dalam bidang musyawarah di wilayah Jawa Timur, namun oleh ustaz Fahmi Aziz Selaku kepala bagian Taklimiyah wa Tahfidz Al-Qur’an, sudah menganggap cukup mengundang delegasi dari pesantren-pesantren ternama di Pasuruan, “Saya rasa cukup mengundang delegasi dari pondok ternama yang ada di Pasuruan saja”. Ujar beliau. Keputusan di atas menjadi kesepakatan bersama, hari dan tanggal pelaksanaan DMTS pun menjadi bahan perbincangan berikutnya, jika di tahun-tahun sebelumnya dilaksanakan berdekatan dengan berakhirnya pelaksanaan Imtihan Dauri (IMDA) yang ke-2, dan untuk tahun ini pelakasanaan  DMTS akan dilaksanakan jauh hari pasca pelaksanaan IMDA II berakhir, setelah mempertimbangkan beberapa pertimbangan dan faktor lainnya, maka malam jum’at tanggal 21 Jumadil Ula 1441 H, menjadi hari dan waktu yang telah di tetapkan dan disepakati oleh pimpinan TTQ dan semua pengurus serta panitia DMTS untuk tahun ini. [ATTAHQIQ|...

Selengkapnya
Sinar Redup Sastra Sidogiri
Jan08

Sinar Redup Sastra Sidogiri

Laksana lilin dalam gelas, sastra Sidogiri mulai mati. Masasi hendak mengangkat gelas itu. Namun, sebelum terangkat, Masasi menghilang entah kemana. Masihkah api sastra bertahan? Laporan: Muhammad ibnu Romli Berbicara perihal bangkit-runtuh sastra di Sidogiri, kami menemui saksi sejarah yang masih berstatus santri aktif Pondok Pesantren Sidogiri. Bin Damiri, namanya. Setelah menghirup aroma secangkir kopi di hadapannya, beliau menjelaskan, “Meninjau perkembangan, santri di sini memiliki potensi yang lebih besar ketimbang pelajar selain pesantren. Namun, kekurangnnya hanyalah sosok yang sanggup untuk mengayomi.” Sambil menunjuk ke arah saya, santri berdarah Camplong, Sampang ini melanjutkan, “Kamu ingatkan? Tahun lalu, sempat ada Masasi yang ingin menyatukan semua sanggar yang ada di Sidogiri. Namun, sehabis satu acara, majelis tersebut juga turut habis, dengan beberapa kendala.” Saya pun teringat sangat, tepat setahun lalu. Muktafi Kafi, Bangkalan mengundang seluruh pemimpin sanggar ke rumah dinas, guna menjalankan kelas sastra di Sidogiri. Setelah konsep rampung, Masasi ingin mengadakan acara perdana sekaligus louching konsepnya. Sebagai tampilan perdana, Sanggar Iqra’ menampilkan puisi berjemaah, sebagai acara pembuka. Deklarasi puisi dikuasai Sanggar Tobung. N. Shalihin Damiri, dari Sanggar Kun berencana menampilkan puisi bergenre monolok. Sayang, santri berinisial Bin ini berhalangan. Hadir sebagai sambutan, Muhammad Ibnu Salam dari Sanggar Pelangi, dengan membaca puisi sekalugus motivasi. Usai acara, Masasi tak ada kabar. Hingga tahun ini, Masasi tetap bungkam. Ditambah lagi dengan Muktafi Kafi yang sedang tugas ke Jember. Sebelum Masasi berdiri, acara yang bertajuk Ngaji Puisi yang dituanrumahi Sanggar Iqra’ menjadi batu pertama. Turut meramaikan kala itu, Sanngar Hijrah, Sanggar Tobung dan Sanggar Tajribat. Jauh sebelum itu semua, Sanggar Inspirasi yang diprakarsai Ust. Fadhoil Khalik dan kawan-kawan hadir sebagai majelis sastra perdana di Sidogiri. Upaya alumni bernama pena Afak akram ini tidak sia-sia. Beliau sempat melahirkan antologi puisi, yang diterbitkan di Balai Pustaka. Disusul dengan antologi cerpen, adikarya prajurit Sanggar Kun. Kemajuan semacam itu terbilang sangat cepat. Sastra sangat berkaitan dengan pesantren. “Kata sastra bermakna keindahan. Pencari ilmu, konon dipanggil sastri, sang pencari keindahan. Untuk membedakan pelajar salaf dengan formal, Sunan Ampel merubahnya menjadi santri,” terang d. Zawawi Imran saat mengisi Ngaji Sastra di Sidogiri, dua tahun...

Selengkapnya
Sejarah Kuliner Santri dan Restu Kiai Hasani
Jan07

Sejarah Kuliner Santri dan Restu Kiai Hasani

Keterbatasan lembaran sejarah membuang sebagaian besar sejarah yang belum tertulis. Pada semester pertama, Badan Pers Pesantren (BPP) mengupayakan untuk menelusuri sejarah awal seluruh media pesantren, dalam bentuk lomba. Pada semester kedua, BPP kembali mengadakan sayembara penelususran sejarah instansi di Sidogiri. Namun, sampai saat ini, belum pernah sejarah berdiri Pasar Santri dan Kuliner Santri tertuang dalam naskah. Untuk itu, Kabar Ikhtibar menghadirkan sepak-terjang keduanya pada edisi kali ini. Laporan: Muhammad ibnu Romli Malam Senin (02/08) kami berbincang lebar dengan Mohamad Hilmi Khoifillah (21), Rembang, yang konon ayahnya menjadi perintis bazar satiap akhir tahun ajaran. Bpk. H Nor Hamim, namanya. Beliaulah yang memiliki inisiatif membangun bazar di halaman Daerah K. “Dulu, pertama kali bazar didirikan terletak di depan Daerah K,” ceritanya, mengawali perbicaraan. Setelah mengambil nafas sejenak beliau melanjutkan, “Pertama kali saya memiliki inisiatif semacam itu, saya izin ke kantor, dan diberi restu oleh KH Hasani Nawawie. Pertama kali yang meresmikan adalah KH. Abdul Alim bin Abd. Djalil. Sehari setelahnya, baru KH Hasani yang meresmikan,” tambahnya. Menurut laporan, kantor sekretariat dulu masih terletak di samping Daerah F (kini Daerah P). Di sanalah tempat pengurus harian bisa ditemui, termasuk KH. Hasani bin Nawawie. “Bazar yang dulu tidak seperti sekarang. Konon, hanya ada kitab dan semacamnya, sementara makanan dan minuman masih jarang,” terang alumni asal Pekoren, Rembang ini. Setelah dimintai penjelasan perihal tujuan, beliau menjelaskan, “Saya ingin, kalau nanti tabungan sudah keluar, santri bisa lebih bijak mengelolanya. Dengan artian, memilih barang yang lebih besar manfaatnya, seperti kitab dan lain sebagainya.” Memang, bazar dulu hanya identik dengan kitab, buku dan pakaian. Namun, seiring waktu berjalan, tersedialah makanan dan minuman. Dari sana bazar terbagi menjadi dua: Pasar Santri dan Kuliner Santri. Asal-mula muncul kuliner, sangat erat dengan kopontren. Mula-mula kopontren membuka stand sendiri. Sejak dulu, di antara lauk-pauk di sana berasal dari keluarga Sidogiri.Dari sanalah, bazar (kini: Kuliner Santri) membuka stand khusus keluarga Sidogiri, secara terpisah dari kopontren. Letak stand Kuliner Santri ini pun sempat berpindah-pindah. Pada mula, Daerah K, lalu pindah ke kopontren unit I. Lalu, ke timur as-Suyuthi. Pada Milad Sidogiri 280, Kuliner Santri sempat berpindah ke lapangan...

Selengkapnya
Bedah Kitab Hadirkan al-Habib Umar bin Muhammad as-Seggaf
Jan06

Bedah Kitab Hadirkan al-Habib Umar bin Muhammad as-Seggaf

Sabtu (04/01),  al-Habib Umar bin Muhammad as-Seggaf dari Rejoso, Pasuruan kembali mengisi Dauroh Ilmiyah yang bertempat Aula Kantor SEC (Sidogiri Excellent Centre). Ini bukanlah pertama kalinya beliau mengisi acara Pondok Pesantren Sidogiri. Acara yang diselenggarakan oleh Kuliah Syariah kali ini, mengkaji kitab al-Muntholaqaad fi binaai dzawaatid-Daa’iyaadz. Sebuah kitab karya al-Habib Umar bin Hafidz, yang juga merupakan guru dari Habib Umar bin Muhammad ketika beliau belajar di Tarim, Hadromaut. Dan darinyalah Habib Umar bin Muhammad banyak belajar dan memahami teori maupun praktek berdakwah. “Dakwah itu mengikat makhluk kepada pencipta-Nya”, jelas habib yang juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Sidogiri. Tiga hal yang harus dipenuhi oleh seorang da’i atau pendakwah, yaitu ilmu, ‘amalul-ilm atau pengamalan, dan berpengetahuan luas. [Kang/MKT]...

Selengkapnya
Ubudiyah Adakan Diklat di Daerah D
Jan05

Ubudiyah Adakan Diklat di Daerah D

  Pagi ini, Ahad (05/01) Bagian Ubudiyah Pondok Pesantren Sidogiri adakan Pendidikan shalat di Daerah D. Dengan pemateri ketua Diklat Sholatuna, Ust. Mustafid Ibnu Khozin. Acara merupakan serangkaian agenda Wakil I Ubudiyah untuk mengadakan diklat di asrama santri. Kegiatan di mulai setelah pelaksanaan shalat shubuh. Daerah D yang merupakan asrama khusus bagi santri di tingkat Ibtidaiyah terdiri dari kelas 1 sampai dengan kelas 4. Mereka telah siap untuk mengikuti program ini, walau mengantuk, acara berjalan dengan lancar. “Semua santri sudah kami kondisikan untuk meliburkan kegiatan setelah shubuh dengan diganti kegiatan pendidikan shalat dari Ubudiyah ini. Rata-rata anak-anak cukup antusias ingin mengikuti ini”, kata pengurus Daerah D ketika ditanya antusias anak daerahnya. Program ini telah disiapkan sejak sebelum libur Maulid dan masuk dalam kalender kegiatan Diklat. Dan baru bisa terlaksana ketika selesai pelaksanaan Imtihan Dauri ke-II. “Kami telah mempersiapkan ini dan baru terlaksana hari ini. Karena dari pihak Daerah D mengkonfirmasi program kami bisanya setelah pelaksanaan IMDA II dan diletakkan setelah kegiatan shalat shubuh berjamaah”, kata pengurus Diklat. Pelaksanaan yang direncanakan berdurasi 1 jam ternyata lebih hingga ke pelaksanaan shalat dhuha. Hal ini karena banyak yang harus disampaikan tidak sekedar praktek gerakannya saja. Walau masih terdapat kekurangan baik dari perlengkapan dan alokasi waktu, secara keseluruhan kegiatan telah diapresiasi dengan baik oleh pihak Daerah D. Kedepan akan dilakukan perbaikan secara signifikan. _____ Penulis : Musafal Habib Editor    : Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Pelantikan Panitia IMNI Periode 1440-1441 H
Jan04

Pelantikan Panitia IMNI Periode 1440-1441 H

  Malam Sabtu (03/01) panitia ujian Imtihan Niha’i (IMNI) Madrasah Miftahul Ulum (MMU) resmi  dilantik oleh Ketua I Pondok Pesantren Sidogiri, M. Aminulloh Bq. Bertempat di ruang auditorium sekretariat lantai II. Acara dihadiri oleh ketua I Pondok Pesantren Sidogiri, M. Aminulloh Bq, Kepala Madrasah (KM) Aliyah, Ust. Abd. Qodir Ghufron, KM Tsanawiyah, Ust. HM. Masykur Dahlan, KM Ibtidaiyah, Ust, Muntahal Hadi dan beberapa guru dari masing-masing tingkatan. Personalia panitia IMNI Ibtidaiyah: Ketua, M. Nurul Hakim, Pasuruan. Wakil Ketua, M. Misbahul Munir, Pasuruan. Sekretaris, Yuslul Fuad, Banyuwangi. Wakil I Sekretaris, Tolut Hasan, Pasuruan. Wakil II Sekretaris, Salaman, Sampang. Bendahara, M. Ali Wafa, Pasuruan. Personalia panitia IMNI Tsanawiyah: Ketua, Mustofa, Pasuruan. Wakil Ketua, A. Saiful Furqon, Sampang. Bendahara, Abd. Qodir, Bangkalan. Sekretasis, Masruhin, Gersik. Wakil Sekretaris, Hayatulloh, Pasuruan. Personalia panitia IMNI Aliyah: Ketua, Umar Hamdan, Pasuruan. Sekretaris, Fakhruzi, Jakarta Utara. Bendahara, Nur Hasyim, Probolinggo. Dalam pelantikan tersebut, ketua I Pondok Pesantren Sidogiri menyampaikan bahwa biaya IMNI untuk tingkat Tsanawiyah dan Ibtidaiyah adalah gratis. Beliau juga berpesan kepada seluruh guru yang hadir, agar segera mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menghadapi IMNI, “Segera disiapkan segala sesuatunya, mulai sekarang jangan santai-santai karena waktunya terbatas,” pesan beliau. Harapan beliau untuk IMNI tahun ini adalah semua murid dari setiap tingkatan bisa lulus murni seratus persen, “Saya ingin semua peserta IMNI lulus murni seratus persen,” jelas beliau. _________ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya