Haul KH. Hasani Nawawie dan 10 Wasiat
Nov07

Haul KH. Hasani Nawawie dan 10 Wasiat

Pelaksanaan Haul Hadratusyaikh KH. Hasani bin Nawawie ke-19 akan dilaksanakan pada hari Sabtu (malam Ahad), 13 Rabiul Awal 1439 H/09 November 2019 M, di Pondok Pesantren Sidogiri. Sebelum menuju ke acara tersebut, kita perlu tahu sosok yang sangat dikagumi dan disegani oleh santri karena ketegasannya dalam menjaga kesempurnaan shalat. Berikut ini adalah 10 wasiat dari Kiai Hasani bin Nawawie bin Noerhasan berkenaan dengan aktifitas yang ada di Masjid Jami’ Sidogiri. “Lek kesusu melebu masjid, mending gak usah salat tahiyatal masjid, eman. Gak onok tumaknina’e.” (Kalau terburu-buru masuk masjid, lebih baik tidak usah salat tahiyatal masjid. Percuma, tidak ada tumakninahnya.)” Pernah suatu hari kiai melihat santri yang terburu-buru masuk masjid dan salat dengan cepat. Hal tersebut terlihat oleh Kiai Hasani. Beliau pun marah besar (duko, Jawa) melihat tingkah santri yang seperti itu. “Masjid itu baitullah, ojok sampek gawe turu.” (Masjid itu rumahnya Allah, jangan sampai dijadikan tempat tidur.)” Beliau juga sangat marah ketika ada santri atau siapa saja tidur dalam masjid. Walau pun masih ada ikhtilaf perihal hukumnya, beliau melarangnya. Jika ada santri atau tamu yang tidur di masjid, beliau langsung memukulnya. “Santri iku kok rame, onok opo dek masjid?” (Santri itu kenapa ramai, ada apa di masjid?)” Setiap dua pekan sekali di Masjid Jami’ Sidogiri ada kegiatan DKL (Dakwah Keliling). Ketika itu ceramah yang disampaikan berupa hal-hal yang lucu sehingga santri tertawa dan masjid menjadi ramai. Hal tersebut didengar oleh Kiai Hasani. Beliau menyuruh Mas Abdul Bari mengambil batu bata di sungai untuk kemudian dilemparkan ke masjid. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Mas Bari langsung menghubungi Kepala Bagian Ubudiyah agar menyuruh santri tidak ramai-ramai di masjid. “Lek kate lebu masjid disekno sekel kengen, lek metu sekel kacer.” (Kalau masuk masjid harud menggunakan kaki kanan, jika keluar menggunakan kaki kiri.)” “Lek wes gak dibutonno, pateni kipas karo lampu iku. Fasilitas masjid iku milik masyarakat umum,” (Setelah menggunakan kipas dan lampu harus dimatikan. Fasilitas masjid itu milik umum.)” “Lek dungo seng jelas, ojok karepe dewe,” (jika berdoa setelah salat yang jelas, jangan ambil seenaknya saja.)” Menurut ceritanya, lumrahnya usai melakukan salat pasti ada wirid yang dibaca. Begitu juga beliau (Kiai Hasani). Beliau sangat tidak suka ketika bacaan wirid usai salat dibaca terlalu cepat. “Gak onok faedahe (tidak ada faedahnya),” dawuh Kiai Hasani. “Beduk iku ditabuh lek wes jam 12.00 pas, ojok melok jam, melok bincret ae,” (Beduk ditabuh pada jam 12.00 dan usahakan agar melihat di bincret, jangan ikut jam.)” “Salat itu kudu duwe himmah, ojok pokok salat. Salat iku ngadep pengeran, mosok sek ate dipantau terus,” (salat itu harus memiliki himmah, jangan asal salat. Salat itu menghadap tuhan, jangan minta dipantau terus.)” “Khidmah seng temenan, niatono ngawulo nang kiai, saiki atau besok,” (Dalam berkhidmah yang benar,...

Selengkapnya
100 Peserta Imni Terbaik Bisa Ber-Talaqqi Langsung ke KH. M. Basori Alwi Murtadlo
Nov05

100 Peserta Imni Terbaik Bisa Ber-Talaqqi Langsung ke KH. M. Basori Alwi Murtadlo

Pada tiap akhir semester Panitia Ujian al-Quran (PUQ) mengadakan tes kenaikan marhalah dan tes kelulusan Muta’allim khusus marhalah 6 Madrasah Taklimul-Quran (MTQ). Banyak sekali komentar dari para muta’allim mengenai ujian ini, yang mungkin bisa di katakan terdapat sedikit perubahan dari pada tahun-tahun sebelumnya. Baca juga:  Kuliyah Syariah Gelar Kajian Tafsir Bersama Gus Baha “Sebenarnya khusus pada anggota peserta imni MTQ , ujian qira’ah dengan menempatkan tiga orang juri dalam satu peserta ujian itu sudah program dari tahun kemarin, agar dapat memaksimalkan hasil pencapaian seorang muta’allim. Sehingga sudah bisa dikatakan subjektif, jadi muta’allim tersebut memang betul-betul memahami tentang cara membaca al-Quran dengan makhraj yang tepat.” Tutur Ust. Zaidul Khoir selaku ketua Panitia Ujian al-Quran (PUQ). Baca juga: Beberapa Proyek Pondok Pesantren Sidogiri Selain itu, 100 peserta dari 456 anggota peserta imni MTQ, memiliki peluang emas untuk dapat ber-talaqqi langsung kepada KH. M. Basori Alwi Murtadlo, Pengasuh Pesantren Ilmu al-Quran (PIQ) Singosari Malang, dengan syarat masuk dalam 100 peserta terbaik dari sekian ratus peserta. Baca juga: Mushaf al-Miftah; Gebrakan Baru Idadiyah Dan pada malam sabtu, tanggal 20 sampai 22 Shafar 1441 H, akan kembali dilaksanakan ujian tulis bagi anggota peserta imni MTQ. Dalam ujian ini hanya mengambil dari tiga materi saja yakni Tadribul Lisan, Dalailut- tilawah dan Pokok-pokok ilmu tajwid (مبادى). Baca juga: Launching Mushaf al-Miftah ­­­­­­­­­­­­_____________ Penulis: Dihaw* Editor: Saeful Bahri bin Ripit *Redaksi Mading...

Selengkapnya
Siapa Pencetus Maulid Nabi?
Nov05

Siapa Pencetus Maulid Nabi?

Maulid Nabi adalah perkumpulan yang didalamnya bertujuan untuk mengungkapkan dan menampakkan rasa syukur dan nikmat atas Nabi Muhammad SAW dengan pembacaan maulid dan sebagian ayat al-Quran. Dan perbuatan semacam ini secara signifikan atau khusus belum pernah diadakan di masa Nabi Muhammad SAW bahkan di masa Sahabat dan Tabiin juga belum ada. Lalu siapakah yang mencetuskan kegiatan Maulidan ini. Berikut daftar nama-nama yang kami cuplik dari majalah Sidogiri Media Edisi 154.\ Baca juga: Merayakan Maulid Nabi dengan Rebana Khaizuran binti Atha’ Merupakan ibunda Khalifah Harun ar-Rasyid dan Istri Khalifah Muhammad al-Mahdi, Penguasa Dinasti Abbasiyah. Diceritakan, pada bulan Ramadhan tahun 171 H, Umi Khaizuran berangkat menunaikan ibadah haji. Menurut catatan Nuruddin Ali as-Samhudi (w. 911 H) dalam Wafa’ul-wafa bi-Akhbari Daril-Mushthafa, saat itu Umi  Khaizuran mempelopori perayaan maulid Nabi pertama yang diadakan di Masjid Nabawi. Kemudian di Makkah, beliau membeli rumah tempat kelahiran Rasulullah SAW dan mengajak masyarakat merayakan maulid Nabi di rumah masing-masing. Sekembalinya ke Irak, pusat Pemerintahan Abbasiyah, perayaan maulid pun diadakan. Konon, perayaan maulid juga dimaksudkan untuk menyaingi perayaan Nairuz dan Mahrjan yang masih sakral bagi bangsa Persia. Bunda Ratu Khaizuran wafat pada tahun 173 H.   Al-Malla’ Umar bin Muhammad al-Maushili Beliau merupakan penulis buku Sirah Wasilatul-Mubtadiin fi Sirati Sayyidil-Mursalin. Menurut sejarawan Abu Syamah Abdurrahman bin Ismail ad-Dimsyqi (w. 665 H) al-Malla adalah orang pertama yang mengadakan perayaan maulid Nabi. Beliau mengadakannya setiap tahun di Zawiyahnya bersama para Ulama dan Bangsawan. (Zawiyah adalah tempat bertafakur bagi para Sufi atau bisa juga sebuah tempat pojok). Beliau wafat pada tahun 570 H. Baca juga: Hukum Bersalawat Diiringi Rebana Al-Malik Muzhaffaruddin Abu Said Gokbori bin Zainuddin (549-630 H) Beliau yang paling masyhur sebagai pencetus diadakannya Maulid Nabi. Beliau merupakan Gubernur Irbil pada masa Pemerintahan Dinasti Ayyubiyah, sekaligus merupakan adik ipar Khalifah Salahuddin al-Ayyubi yang menikahi Rabi’ah Khatun. Menurut Imam as-Suyuthi (w. 911 H), al-Malik Muzhaffar adalah orang pertama yang mengadakan perayaan Maulid secara teratur, mewah,  dan besar-besaran. Baca juga: Memahami Hukum dan Sejarah Maulid Nabi Dalam Wafayatul-A’yan, Ibnu Khallikan mencatat: “ al-Hafizh Abul Khaththab bin Dihyah, seorang ulama besar dan tokoh masyhur, datang dari Maghrib ke Syam dan Irak. Pada tahun 604, beliau melewati kota Irbil dan mendapati penguasa tersebut merayakan Maulid Nabi. Abul Khaththab lantas menulis at-Tanwir fi malidil-Basyir an-Nadzir dan membacakannya di hadapan al-Malik Muzhaffar. Sang gubernur menghadiahinya 1000 dinar”. Baca Juga: Renungan Bagi Pembenci Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Musafal H/ dicuplik dari Sidogiri Media Edisi 154 dengan sedikit perubahan. Lihat juga artikel lain tentang maulid di sini! Oh, ya, jangan lupa disebar link-nya,...

Selengkapnya
Jawaban Imam As-Suyuthi Tentang Maulid atau Haul?
Nov05

Jawaban Imam As-Suyuthi Tentang Maulid atau Haul?

  Menjadi sebuah pertanyaan ditengah-tengah masyarakat bahkan dikalangan santri yang belum tahu, tentang masalah, mengapa untuk mengenang Nabi Muhammad SAW, kita rayakan hari kelahirannya bukan hari wafatnya seperti halnya yang terjadi dalam kalangan pesantren, dimana kiyai atau keluarga kiyai biasanya untuk mengenang beliau dengan diadakan haul atau hari wafatnya. Baca juga: Merayakan Maulid Nabi dengan Rebana Bahkan mungkin di benak seseorang akan terlintas pikiran mengapa hanya merayakan maulidnya saja, kenapa tidak sekalian dengan haulnya. Nah, untuk pertanyaan-pertanyaan semacam ini cukuplah jawaban dari Syekh Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar As-Suyuthi sebagai pelega dahaga tersebut. Pakar Tafsir dan nyaris dinobatkan sebagai Mujtahid ini menjawab pertanyaan di atas dalam kitab beliau al-Hawi lil-Fatawa, seperti berikut ini: Baca juga: Hukum Bersalawat Diiringi Rebana إِنَّ وِلَادَتَهُ صلى الله عليه وسلّم أَعْظَمُ النِّعَمِ عَلَيْنَا , وَوَفَاتَهُ أَعْظَمُ الْمَصَائِبِ لَنَا ، وَالشَّرِيْعَةُ حَثَّتْ عَلَى إِظْهَارِ شُكْرِ النِّعَمِ وَالصَّبِرِ وَالسُّكُوْنِ وَالْكَتْمِ عِنْدَ المَصَائِبِ ، وَقَدْ أَمَرَ الشَّرْعُ بِالعَقِيْقَةِ عِنْدَ الوِلَادَةِ وَهِيَ إِظْهَارُ شُكْرٍ وَفَرَحٍ بِالمَوْلُوْدِ وَلَمْ يَأْمُرْ عِنْدَ المَوْتِ بِذَبْحٍ وَلَا بِغَيْرِهِ بَلْ نَهِى عَنِ النِّيَاحَةِ وَإِظْهَارِ الجَزَعِ ، فَدَلَّتْ قَوَاعِدُ الشَّرِيْعَةِ عَلَى أَنَّهُ يَحْسُنُ فِي هَذَا الشَّهْرِ إِظْهَارُ الفَرَحِ بِوِلَادَتِهِ صلى الله عليه وسلّم دُوْنَ إِظْهَارِ الحُزْنِ فِيْهِ بِوَفَاتِهِ ، وَقَدْ قَالَ ابْنُ رَجَبٍ فِي كِتَابِ الَّلطَائِفِ فِي ذَمِّ الرَّافِضَةِ حَيْثُ اتَّخَذُوا يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ مَأْتَمًا لِأَجْلِ قَتْلِ الْحُسَيْنِ لَمْ يَأْمُرِ اللهُ وَلَا رَسُولُهُ بِاتِّخَاذِ أَيَّامِ مَصَائِبِ الأَنْبِيَاءِ وَمَوْتِهِمْ مَأْتَمًا فَكَيْفَ مِمَنْ هُوَ دُوْنَهُمْ ؟ Baca juga: Memahami Hukum dan Sejarah Maulid Nabi Kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah kenikmatan terbesar untuk kita, sementara wafatnya beliau adalah musibah terbesar terhadap kita. Dan syariat memerintahkan kita untuk menampakkan rasa syukur atas nikmat dan bersabar serta diam dan merahasiakan atas cobaan yang  menimpa. Terbukti agama memerintahkan untuk menyembelih kambing sebagai aqiqah pada saat kelahiran anak, sementara hal itu termasuk bagian dari menampakkan rasa syukur dan kebahagiaan atas kelahiran. Dan syariat tidak memerintahkan menyembelih hewan disaat ada kematian, bahkan melarang adanya ratapan dan menampakkan kesedihan. Jadi, kaidah syariat menunjukkan bahwasannya yang baik dalam bulan maulid adalah menampakkan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, bukan menampakkan kesusahan atas musibah wafatnya beliau di bulan tersebut. Dan sungguh Imam Ibnu Rajab dalam kitabnya, al-Latho’if, bab tentang “Pencelaan terhadap kaum Syiah Rafidhah”, dimana mereka telah menjadikan Asyuro sebagai hari perayaan terbunuhnya Sayyidina al-Husain, beliau berkata: Allah dan Rasul-Nya tidak memerintahkan agar menjadikan hari tertimpanya musibah dan wafatnya para nabi sebagai hari peratapan. Lalu bagaimana dengan orang yang derajatnya di bawah mereka?. Baca Juga: Renungan Bagi Pembenci Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Musafal H/Sidogiri.net Lihat juga artikel lain tentang maulid di sini! Oh, ya, jangan lupa disebar link-nya,...

Selengkapnya
Tes Wisuda Tahfidz Al-Quran Sebelum Libur Maulid
Nov04

Tes Wisuda Tahfidz Al-Quran Sebelum Libur Maulid

Menurut keterangan dari Ust. Muhammad Kholil, salah satu pengurus Tahfidz al-Quran, sebelum hari libur Maulid Nabi, akan dilaksanakan tes wisuda bagi para huffadz al-Quran. Sebenarnya tes wisuda sebelum libur Maulid ini sudah ada pada tahun sebelumnya. Namun, ada hal berbeda pada tes wisuda kali ini yang belum ada pada tahun sebelumnya, yakni tes pra wisuda. Tes pra wisuda ini akan diselenggarakan dua kali. Pertama, dilaksanakan selama satu bulan, tanggal 10 Rabi’uts Tsani sampai 09 Jumadil Tsani, untuk koreksi hafalan. Kedua, selama 15 hari, 20 Jumadil Ula sampai 05 Jumadil Tsani, untuk tes pra wisuda. Baca juga:  Kuliyah Syariah Gelar Kajian Tafsir Bersama Gus Baha Untuk tes koreksi hafalan dan pra wisuda ini sebenarnya sudah harus ada di bulan Rabiul Awal tahun sebelumnya. “Berhubung saat itu Pembina kami, Gus Mu’thi, memberi perintah secara mendadak, sedangkan kami masih belum ada persiapan apa-apa dan belum memiliki gambaran bagaimana mengatur waktu untuk tes pra wisuda tersebut. Kami baru bisa merealisasikannya sebelum libur maulid di tahun ini” Ujar beliau. Baca juga: Beberapa Proyek Pondok Pesantren Sidogiri Yang menjadi alasan utama diadakannya tes wisuda sebelum libur maulid adalah karena kebanyakan anggota tahfidz adalah kawan-kawan IMNI (murid yang duduk dijenjang akhir masing-masing tingkatan). “Karena kalau tesnya di akhir tahun kasian mereka, takut persiapan IMNInya tidak efisien”, ujarnya lagi. Baca juga: Mushaf al-Miftah; Gebrakan Baru Idadiyah __________ Penulis: Mastur* Editor: Saeful Bahri bin Ripit *Redaksi Mading...

Selengkapnya