Catatan Tidur dan Hal Lain
Okt22

Catatan Tidur dan Hal Lain

Sengaja buku ini saya beri judul Catatan Tidur, karena sebenarnya ini adalah tulisan-tulisan tidur saya selama ini. Kenapa tidur? Karena, jujur, selama ini saya merasa belum pernah bangun untuk berbuat sesuatu. Saya biasanya hanya tidur dan tidur. Saya hanya pemimpi, yang belum tentu becus melaksanakan apa yang saya tulis. Namun meski tulisan-tulisan ini adalah mimpi saya, siapapun bisa bangun dan melaksanakannya. Pilah yang baik-baik. Karena selayaknya mimpi, mungkin benar, mungkin salah. Apalagi, mimpi-mimpi itu seringkali hanyalah kelebatan pikiran yang terbawa arus atau suasana. Tak benar-benar mimpi yang merdeka. Biasa yang berharga. Kekejaman yang melahirkan pahlawan. Plong. Patuh. Nawaitu. Kelebihan yang kurang. Membaca dan membaca. Ganyang! Bermain dengan sungguh-sungguh atau sungguh-sungguh bermain (?) Orang #1. Orang #2. Orang #3. Menitipkan atau memasrahkan. Soal tatakrama. Bukan tulisan saya. Jilat. Ah, santri. Doa. Mengenang kepergian Kiai Abd. ‘Alim menjaga untuk tak banyak bicara. Pesan Kiai Nawawie, jatidiri sidogiri. Pesantren bukan bungkus. Memahami plakat sidogiri. Modernisasi pendidikan ala sidogiri. Cetakan pertama Sya’ban 1433 H 192 halaman 14×21 cm ISBN: 978-979-26-0441-2...

Selengkapnya
Mengaktualkan Maulid Nabi?
Okt22

Mengaktualkan Maulid Nabi?

Cukup banyak orang yang merasa heran dan bertanya: mengapa masyarakat kita yang sudah rutin menyelenggarakan Maulid Nabi, bahkan majelis-majelis shalawat sudah menjamur di mana-mana, namun mereka justru masih jauh dari teladan Nabawi? Persoalan ini sangat penting untuk kembali kita diskusikan, mengingat kita percaya bahwa Islam adalah solusi, dan jalan menuju kesana adalah meneladani Baginda Nabi. Di mana letak masalahnya dan bagaimana cara kita mengatasinya? Di sini kami berusaha menyumbangkan beberapa pemikiran dan alternatif jawaban. TABAYUN Menjaga Iman Dari Kemaksiatan TOPIK UTAMA Mengaktualkan Maulid Nabi? DATA FAKTA Siapa Pencetus Maulid Nabi KAJIAN Wanita-wanita Hebat Dalam Al-Qur’an SIDONESIA Mengalir OPINI Menyoal Hakikat Santri Lewat Film The Santri KOLOM FUQAHA Kopi Luwak TIPS PESANTREN Meneladani Akhlak Baginda SAKINAH Kenapa Doa Menjadi Tumpul? MUSLIMAH Fatamorgana Ketampanan Pria SILATURAHIM Pondok Pesantren Al-Inaroh, Jenggawah Jember “Utamakan Pemahaman dan Hafalan Santri” REUNI H. Achmad Thohir Muhyiddin Jember “Menjadikan Madrasah Diniyah Sebagai Prioritas”...

Selengkapnya
Plus Minus Ngaji Online
Sep24

Plus Minus Ngaji Online

Di era internet, ngaji online bukan hanya tren, akan tetapi sudah menjadi kebutuhan yang tak terelakkan. Itu merupakan akumulasi dari berbagai faktor yang saling berkaitan; orang banyak awam soal agama, namun mereka butuh tuntunan keagamaan, sedangkan mereka sibuk dengan berbagai aktivitas mereka, maka ngaji online adalah jawaban yang masuk akal bagi mereka. Sekilas, kita melihat ngaji online adalah solusi yang benar. Akan tetapi jika dilihat lebih cermat, justru kita mendapati potensi bahaya yang sangat besar yang bisa diakibatkannya. Karena itu, kita perlu mendiskusikan tema ini secara serius, dan menemukan jalan keluar yang tepat. EDITORIAL Memproduksi Kesesatan Ilmiah TOPIK UTAMA Plus Minus Ngaji Online DATA FAKTA Berguru Virtual Kepada Ulama Internasional SOWAN Kiat Terhindar Dari Kebatinan KAJIAN Bidadari Surga dan Diskriminasi Wanita OPINI Bukan Sombong Tapi Sesumbar KOLOM AKIDAH Siapakah Moderat dan Radikal itu (?) KOLOM FUQAHA Beli Barang, Kredit atau Kontan KHANIQAH SUFI Tantangan Spiritual Bagi Tubuh Gendut NGAJI HIKAM Tentara Hati SAKINAH Bagaimana Jika Istri Berbuat Kasar? MUSLIMAH Antara Cinta dan Rayuan SILATURAHIM Pondok Pesantren Daarul Rahman, Cipedak Jagakarsa Jakarta Selatan 12630, “Oase Ilmu-ilmu Agama di Tengah Kota” REUNI HM. Khudari Abdul Karim Pasuruan, “Terus Berkhidmah Tanpa Lelah”...

Selengkapnya
Terjemah Burdah
Sep13

Terjemah Burdah

Seperti sebuah magnet, bila Burdah yang menggunakan akhiran “mimiyat” ini dilantunkan di tengah perhelatan, baik dibaca sendiri secara solo maupun koor, segera akan menyihir suasana bertambah khidmat, dan jamaah yang sami’în pun ikut larut dengan puisi-puisi indah al-Bushiri ini. Semangat pendengar kian terpompa, harapan seakan sudah berada di depan, dan spirit kecintaan terhadap kekasih Allah, Muhammad s terasa kian bertambah-tambah. Kata pepatah, “cinta bukanlah cinta jika orang itu tidak terlibat langsung dalam merasakannya”. Maka, pembacaan Burdah ini seperti menghadirkan insan yang tersanjung itu, dan kita yang larut dengan madah al-Bushiri ini menyambut kehadiran kekasih yang ditunggu-tunggu. Dr. Zaki Mubarak, kritikus sastra Arab yang semula ‘memandang remeh’ Burdah, ternyata akhirnya berbalik mengakui nilai-nilai estetika yang amat tinggi pada karya Imam al-Bushiri yang tak tertandingi ini. De Sacy, seorang pengamat sastra Arab dari Universitas Sorbonne Prancis, mengakui kelebihan-kelebihan karya sastra Imam al-Bushiri. Menurutnya, sampai saat ini belum ada penyair kontemporer Arab yang dapat menirukan Burdah. Judul : Terjemah Burdah Imam al-Bushiri Penyusun : Masykuri Abdurrahman 122 halaman (21,5 x 12,5 cm) ISBN 978-979-26-0426-9 Cetakan ke-1 R. Awal 1430 H | Maret 2009 M Rp. 25.000 Pemesanan...

Selengkapnya
Sudah Terbit Sidogiri Media Edisi 147
Mar20

Sudah Terbit Sidogiri Media Edisi 147

Generasi milenial hakikatnya merupakan generasi akhir zaman. Hal yang paling dituntut dari mereka bukan bagaimana terlihat keren secara penampilan, melainkan bagaimana mereka bisa menaklukkan tantangan-tantangan zaman yang semakin keras, terutama tantangan menyangkut masalah agama dan keimanan. Karena itu, generasi milenial perlu modal yang cukup untuk menghadapi tantangan-tantangan zaman mereka, berupa ilmu, pengetahuan, pemahaman, dan petunjuk dari agama yang memberikan solusi dan langkah-langkah konkret yang mesti mereka ambil. Info Pemesanan:...

Selengkapnya
Beginilah Cara Mengkritik Gus
Sep14

Beginilah Cara Mengkritik Gus

Hanya satu kata untuk kaum pengkritik ulama: ngelama’. Tapi tidak dengan Fuad Mubarok. Dengan antologi cerpennya Jangan Panggil Aku Gus, ia berhasil menyampaikan kejanggalan yang selama ini menjadi rutinitas sebagian “kaum atasan pesantren”, tanpa harus menyakiti hati. Sebab, sembilan belas cerpen yang berisi masukan, bisa mengalir tanpa ada ranting yang menggores tepi sungai. Diawali sebuah “cermin” sosok gus yang baik. Cerita ini di bawah judul cerpen yang menjadi judul cover buku ini: Jangan Panggil Aku Gus. Cerpen tersebut mengajari para anakanda kiai untuk tidak gila penghormatan, dengan menceritakan sosok gus yang merasa risih dengan penghormatan orang sekitar. Ternyata, Penulis yang pernah menjadi reporter di koran Kabar Ikhtibar (bertepatan dengan milad PPS 289-280) ini tidak hanya menyadari kesalahan yang dialami kaum gawâgis. Bahkan dengan berani menyalahkan sikap kiai. Tentunya, dengan penyampaian yang tidak menggurui. Kudeta Singgasana Kiai salah satunya. Cerpen itu menceritakan pertengkaran seorang kiai yang merasa pesantrennya tersaingi oleh kiai lain. Begitu pula dengan cerpen Sengketa Podium berisi kritikan kepada penceramah yang menghalalkan berbagai cara untuk tampil di panggung, serta—yang terpenting—mengeruk harta dari tuan rumah. Di halaman 81, saya dikagetkan dengan cerpen Jangan Istimewakan Aku. Bukan judulnya, tapi tulisan dibawahnya: Jangan Panggil Aku Gus #2. Ternyata, Fuad Mubaok belum puas mengkritik kaum lora. Dia menambah satu cerpen, sebuah kisah yang pantas dibuat uswah oleh putera mahkota kiai. Isinya sama: merasa tidak nyaman saat diistimewakan. Bukan sebaliknya! Selain mengkritik “keluarga ningrat pesantren”, Fuad Mubarok—tentunya dalam buku ini—tidak lupa menyertakan cerpen mengenai kehidupan pesantren, baik banin ataupun banat. Jadi, sangat rugi jika santri tidak membaca buku ini, tentunya dengan membeli terlebih dahulu.    ===== Penulis: Fuad Mubarok Halaman: 172 Penerbit: Sidogiri Penerbit Peresensi: Muhammad ibnu...

Selengkapnya