FeatureUnggulan

Momen Iduladha, Potret Hangat Pertemuan Santri dan Orang Tua

Suasana Pondok Pesantren Sidogiri pada Jumat (13/12) siang tampak lebih ramai dari biasanya. Di sejumlah sudut pondok, para santri terlihat berjalan cepat menuju lokasi kiriman yang telah ditentukan. Sebagian membawa kantong plastik berisi makanan, sebagian lainnya sibuk mencari keluarganya di tengah kerumunan wali santri yang datang silih berganti.

Meski masa liburan Iduladha hanya berlangsung dua hari, yakni Rabu hingga Kamis, suasana kunjungan masih terasa hingga Jumat.

Halaman barat gedung An-Nawawi tampak penuh dengan walisantri

Di antara ramainya suasana itu, Muhammad Walid Fahmi tampak berjalan perlahan menuju asrama L-02 sambil membawa nasi kiriman dari keluarganya. Wajah santri baru tingkat I’dadiyah asal Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, itu terlihat bahagia. Di tangannya, ada rendang daging kurban dan ayam bumbu kuning yang dibawakan keluarganya.

Sudah hampir dua bulan Fahmi mondok di Sidogiri. Hari itu menjadi kiriman kedua sejak berangkat mondok. Pertemuan singkat bersama keluarga siang itu menjadi pengobat rindu baginya.

“Saya paling rindu ibu saya,” ucapnya pelan.

Kalimat itu dikatakannya sambil berusaha menahan tangis. Napasnya beberapa kali tertahan ketika mulai bercerita tentang sang ibu yang kini merantau di Malaysia.

Sudah empat tahun ibunya lebih banyak menghabiskan waktu di negeri Jiran. Meski sesekali pulang ke rumah, waktunya tidak lama, hanya sekitar dua pekan.

“Aku ingin ibu kayak dulu lagi,” katanya lirih. “Tinggal di rumah, tidak perlu kerja jauh-jauh.”

Sementara itu, cerita Fahmi, sang ayah bekerja sebagai tukang tebas tebu. Sesekali, ayahnya menerima pekerjaan memasang asbes jika ada tawaran.

Petugas pemanggilan santri sedang memanggil santri via pengurus daerah

Saat pertemuan tadi, ayah, nenek, dan adik perempuannya datang berkunjung. Hal pertama yang dilakukan Fahmi adalah bersalaman dan mencium tangan ayah serta neneknya. Adik perempuannya pun langsung mencium pipinya begitu bertemu.

“Saya kangen masakan ibu,” katanya. “Tadi nenek yang masak.”

Fahmi mengaku motivasi dari ibunya membuat dirinya lebih semangat belajar, meskipun sang ibu hanya bisa memberi semangat lewat panggilan video.

“Iya, jadi lebih semangat belajar,” tuturnya.

Siang itu, suasana pondok masih dipenuhi wajah-wajah bahagia. Di balik ramainya kunjungan Iduladha di Sidogiri, tersimpan banyak cerita tentang rindu dan perjuangan orang tua demi anaknya.

Kisah Fahmi adalah potongan dari serangkaian cerita yang beragam. Namun, semuanya memiliki alur yang sama, tekad yang kuat dalam mencari ilmu di tanah Sidogiri.

Penulis: Nur Afifuddin
Editor: Elmaghroby

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *