Menggauli Istri Pasca Perzinahan
Mar24

Menggauli Istri Pasca Perzinahan

Deskripsi Masalah Ani melakukan perzinahan dengan kekasih gelapnya. Dan kejadian itu diketahui oleh suami Ani lantaran ada informasi dari salah seorang tetangganya, selain itu memang ada pengakuan dari Ani setelah dia ditanyakan oleh sang suami. Meski demikian, mungkin karena alasan cinta, sang suami tidak mau menceraikan Ani. Bahkan dua hari setelah kejadian itu sang suami menggauli Ani. Pertanyaan Bolehkah seorang suami menggauli istrinya pasca perzinahan? Seandainya setelah kejadian di atas terjadi kehamilan, maka bernasab kepada siapakah anak yang dilahirkan? Jawaban Boleh karena zina tidak mewajibkan ‘iddah. Jika anak itu lahir setelah enam bulan dari masa menggauli, maka anak tersebut dinisbatkan kepada suaminya. Jika anak tersebut lahir sebelum masa enam bulan dari hubungan intim pasutri, maka anak tersebut dinisbatkan kepada ibunya. Rujukan وَوَطْءُ الزِّنَا لَا يُوجِبُ عِدَّةً ، اعْتِبَارًا بِكَوْنِ الْمَوْطُوءَةِ فِي نَفْسِ الْأَمْرِ زَوْجَةً وَمَا تَخَيَّلَهُ بَعْضُ ضَعَفَةِ الطَّلَبَةِ مِنْ أَنَّ الْمُرَادَ أَنَّ مَنْ وَطِئَ بِذَلِكَ الظَّنِّ، وَجَبَ عَلَيْهَا أَنْ تَعْتَدَّ مَعَ بَقَاءِ الزَّوْجِيَّةِ وَحَرُمَ عَلَى زَوْجِهَا وَطْؤُهَا قَبْلَ انْقِضَاءِ الْعِدَّةِ فَهُوَ مِمَّا لَا مَعْنَى لَهُ، لِأَنَّهُ إنْ نَظَرَ إلَى كَوْنِ الْوَطْءِ بِاسْمِ الزِّنَا فَالزِّنَا لَا حُرْمَةَ لَهُ إنْ نَظَرَ إلَى كَوْنِهَا زَوْجَةً فِي نَفْسِ الْأَمْرِ لَمْ يَكُنْ وَطْؤُهَا مُوجِبًا لِلْعِدَّةِ فَتَنَبَّهْ لَهُ فَإِنَّهُ دَقِيقٌ. (حاشية البجيرمي على الخطيب، 11/235) (مَسْأَلَةٌ: يَ شَ) نَكَحَ حَامِلاً مِنَ الزِّنَا فَوَلَدَتْ كَامِلاً كَانَ لَهُ أَرْبَعَةُ أَحْوَالٍ، إِمَّا مُنْتَفٍ عَنِ الزَّوْجِ ظَاهِراً وَبَاطِناً مِنْ غَيْرِ مُلَاعَنَةٍ، وَهُوَ الْمَوْلُوْدُ لِدُونِ سِتَّةِ أَشْهُرٍ مِنْ إِمْكَانِ الْاِجْتِمَاعِ بَعْدَ الْعَقْدِ أَوْ لِأَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِ سِنِيْنَ مِنْ آخِرِ إِمْكَانِ الْاِجْتِمَاعِ، وَإِمَّا لَاحِقٌ بِهِ وَتَثْبُتُ لَهُ الْأَحْكَامُ إِرْثاً وَغَيْرَهُ ظَاهِراً، وَيَلْزَمُهُ نَفْيُهُ بِأَنْ وَلَدَتْهُ لِأَكْثَرَ مِنَ السِّتَّةِ وَأَقَلَّ مِنَ الْأَرْبَعِ السِّنِيْنَ، وَعَلِمَ الزَّوْجُ أَوْ غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ أَنَّهُ لَيْسَ مِنْهُ بِأَنْ لَمْ يَطَأْ بَعْدَ الْعَقْدِ وَلَمْ تَسْتَدْخِلْ مَاءَهُ، أَوْ وَلَدَتْ لِدُوْنِ سِتَّةِ أَشْهُرٍ مِنْ وَطْئِهِ ، أَوْ لِأَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِ سِنِيْنَ مِنْهُ، أَوْ لِأَكْثَرَ مِنْ سِتَّةِ أَشْهُرٍ بَعْدَ اسْتِبْرَائِهِ لَهَا بِحَيْضَةٍ وَثَمَّ قَرِيْنَةٍ بِزِنَاهَا، وَيَأْثَمُ حِيْنَئِذٍ بِتَرْكِ النَّفْيِ بَلْ هُوَ كَبِيْرَةٌ، وَوَرَدَ أَنَّ تَرْكَهُ كُفْرٌ، وَإِمَّا لَاحِقٌ بِهِ ظَاهِراً أَيْضَاً، لَكِنْ لَا يَلْزَمُهُ نَفْيُهُ إِذَا ظَنَّ أَنَّهُ لَيْسَ مِنْهُ بِلَا غَلَبَةٍ، بِأَنِ اسْتَبْرَأَهَا بَعْدَ الْوَطْءِ وَوَلَدَتْ بِهِ لِأَكْثَرَ مِنْ سِتَّةِ أَشْهُرٍ بَعْدَهُ وَثَمَّ رَيْبَةٌ بِزِنَاهَا، إِذِ الْاِسْتِبْرَاءُ أَمَارَةٌ ظَاهِرَةٌ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ مِنْهُ لََكِنْ يُنْدَبُ تَرْكُهُ لِأَنَّ الْحَامِلَ قَدْ تَحِيْضُ، وَإِمَّا لَاحِقٌ بِهِ وَيَحْرُمُ نَفْيُهُ بَلْ هُوَ كَبِيْرَةٌ، وَوَرَدَ أَنَّهُ كَفَرَ إِنْ غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ أَنَّهُ مِنْهُ، أَوِ اسْتَوَى الْأَمْرَانِ بِأَنْ وَلَدَتْهُ لِسِتَّةِ أَشْهُرٍ فَأَكْثَرَ إِلَى أَرْبَعِ سِنِيْنَ مِنْ وَطْئِهِ، وَلَمْ يَسْتَبْرِئْهَا بَعْدَهُ أَوِ اسْتَبْرَأَهَا وَوَلَدَتْ بَعْدَهُ بِأَقَلَّ مِنَ السِّتَّةِ، بَلْ يَلْحَقُهُ بِحُكْمِ الفِرَاشِ، كَمَا لَوْ عَلِمَ زِنَاهَا وَاحْتَمَلَ كَوْنُ الْحَمْلِ مِنْهُ أَوْ مِنَ الزِّنَا، وَلَا عِبْرَةَ بِرَيْبَةٍ يَجِدُهَا مِنْ غَيْرِ قَرِيْنَةٍ، فَالْحَاصِلُ أَنَّ الْمَوْلُوْدَ عَلَى فِرَاشِ الزَّوْجِ لَاحِقٌ بِهِ مُطْلَقاً إِنْ أَمْكَنَ كَوْنُهُ مِنْهُ، وَلَا يُنْتَفَى عَنْهُ إِلَّا...

Selengkapnya
Cinta Pudar, Istri Minta Cerai
Mar20

Cinta Pudar, Istri Minta Cerai

  Deskripsi Masalah Gimin adalah pemuda yang paling bahagia di desa Bungkal. Bagaimana tidak? Dengan tampang pas-pasan dia berhasil mempersunting Juminten, bunga desa Bungkal. Oleh karena itu, dia bertekad untuk membahagiakan istri tercinta. Demi meraih impian untuk hidup lebih baik, Gimin membulatkan tekad untuk mengadu nasib ke Taiwan. Setiap bulan, Gimin tak lupa untuk mengirimkan uang 5 juta rupiah kepada istri tercintanya. Namun setelah 4 tahun berpisah, rasa cinta di hati Juminten lama-lama mulai pudar. Apalagi setelah Juminten bertemu dengan Karyo, cinta pertamanya saat SMP dulu. Karyo yang dulu masih ingusan sekarang sudah berubah menjadi laki-laki tampan yang berkehidupan mapan. Dan cinta lama pun bersemi kembali di antara mereka. Tragisnya, konrak kerja Gimin yang semula hanya 4 tahun diperpanjang menjadi 8 tahun. Akhirnya Juminten memutuskan untuk menggugat cerai suaminya di pengadilan atas dasar telah pudarnya rasa cintanya kepada Gimin. Dan pengadilan pun mengabulkan gugatan Juminten. Setelah proses perceraiannya selesai, Juminten menikah lagi dengan Karyo dan hidup bahagia bersamanya. Pertanyaan Apakah langkah pengadilan yang mengabulkan gugatan cerai Juminten atas dasar pudarnya rasa cinta tersebut dapat dibenarkan? Bolehkah seorang istri menggugat cerai hanya berdasarkan cinta yang telah hilang kepada suaminya dalam perspektif fikih? Jawaban Langkah pengadilan yang mengabulkan gugatan cerai Juminten atas dasar semata-mata pudarnya rasa cinta tidak dibenarkan. Kecuali kalau langkah pengabulan gugatan cerai tersebut atas dasar pertimbangan Juminten telah ditinggal lama oleh suaminya. Menurut mazhab Maliki dan Hanbali, langkah tersebut dapat dibenarkan. Langkah pengabulan gugatan cerai tersebut itu pun harus sudah sesuai dengan prosedur yang ada, semisal suami disurati/ditelpon untuk kembali. Tidak boleh, kecuali kalau pernikahan tersebut tetap dipertahankan justru akan mengakibatkan mafsadah menurut pandangan syara’, yaitu terjadinya perzinahan. Rujukan               فَلَا شَكَّ أَنَّ الْإِسْلَامَ جَعَلَ الطَّلَاقَ حِلًّا إِيْجَابِيًّا لِفَضِّ النَّزَّاعَاتِ الزَّوْجَةِ النَّاشِئَةِ عَنْ عَدَمِ ائْتِلَافِ الطَّبَاعِ وَالْأَخْلَاقِ، وَلَكِنْ لَمْ يَجْعَلْ هَذَا الْحِلُّ دُوْنَ قَيْدٍ أَوْ شَرْطٍ، بَلْ جَعَلَ لَهُ حُدُوْداً وَقَوَانِيْناً تُنَظِّمُهُ بِمَا تَقْتَضِيْهِ الْمَصْلَحَةُ الْأُسْريَّةُ.وَمِنْ هَذِهِ الْقَوَانِيِنَ: النَّهْيُ عَنْ طَلَبِ الْمَرْأَةِ الطَّلَاقَ مِنْ زَوْجِهَا فِي غَيْرِ مَا بَأْسَ. فَلَا شَكَّ أَنَّ الْإِسْلَامَ قَدْ جَعَلَ الطَّلَاقَ خُلِقَتْ الْمَرْأَةُ عَلَيْهَا مِنْ حَيْثُ غَلَبَةِ الْعَاطِفَةِ، وَلَيِّنِ الْجَانِبِ، وَالتَّسَرُّعِ، رُبَّمَا تَجْعَلُهَا غَيْرَ حَكِيْمَةٍ إِذَا أَقْدَمَتْ عَلىَ طَلَبِ الطَّلَاقِ لِمُجَرَّدِ مُشْكِلَةٍ عَابِرَةٍ، أَوْ مُشَادَّةٍ كَلَامِيَّةٍ بَيْنَهَا وَبيْنَ زَوْجِهَا، خُصُوْصاً إِذَا كَانَ لَهَا أَبْنَاءٌ.فَهِيَ بِذَلِكَ تَحْطُمُ رِبَاطَ الزَّوْجِيَّةِ –الى ان قال– وَمِنْ أَجْلِ هَذَا كُلِّهِ فَقَدْ زَجَرَ النَّبِيُّ e النِّسَاءَ عَنْ طَلَبِ الطَّلاَقِ مِنْ أَزْوَاجِهِنَّ فِي غَيْرِ مَا بَأْسَ مِنْهُمْ. فَقَالَ e )أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلَاقاً فِي غَيْرِ مَا بَأْسَ، فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ( وَلَا شَكَّ أَنَّ هَذَا الْحَدِيثَ الشَّرِيْفَ يَدُلُّ عَلىَ حُرْمَةِ طَلَبِ الْمَرْأَةِ الطَّلَاقَ مِنْ زَوْجِهَا فِي غَيْرِ مَا بَأْسَ مِنْهُ، وَلَكِنْ إِذَا تَرَجَّحَتْ فِي ذَلِكَ مَصْلَحَةٌ شَرْعِيَّةٌ، أَوْ إِذَا تَرَجَّحَتْ فِي اسْتِمْرَارِ الزَّوَاجِ مَفْسَدَةٌ شَرْعِيَّةٌ، جَازَ لَهَا أَنْ تَطْلُبَ...

Selengkapnya
RUU Pengoprasian Warnet
Feb03

RUU Pengoprasian Warnet

Deskripsi Masalah Maraknya warung internet (warnet) yang disinyalir tidak sehat, mendapat perhatian dari DPRD Pamekasan. Wakil rakyat kini tengah berinisiatif merancang peraturan daerah (Perda) tentang pembatasan operasi warnet, yang bertujuan mengantisipasi penyalahgunaan warnet. Ketua DPRD Pamekasan menjelaskan bahwa, saat ini penggunaan jasa warnet tanpa mengenal batas usia, siswa SD-pun kini sudah bisa mengakses internet. Di satu sisi, ini memang positif karena mengenalkan teknologi, namun disisi lain hal ini rentan untuk disalah-gunakan, seperti hanya bermain game online, melihat situs-situs porno, dsb. Ini bisa berbahaya jika penggunanya adalah anak-anak. Rancangan Perda tersebut antara lain: Larangan pengoperasian bagi anak-anak di bawah umur (SD-SMP). Tempat tidak boleh tertutup. Tidak boleh menggunakan skat/bilik. Selain itu, para pengusaha warnet saat ini banyak yang membuka usaha warnetnya selama 24 jam non stop (full time) sehingga hal ini berpotensi sekali untuk disalah-gunakan oleh para pengguna jasa warnet. Pertanyaan Bagaimana respons fikih terhadap Perda di atas? Bagaimana hukum membuka warnet selama 24 jam? Jawaban Membatasi penggunaan internet sebagaimana di atas boleh bahkan wajib, karena adanya dugaan kuat timbulnya mafsadah. Boleh, selama tidak menimbulkan maksiat. Rujukan وَكَذَلِكَ يُحِقُّ لِلدَّوْلَةِ التَّدَخُّلُ فِي الْمِلْكِيَّاتِ الْخَاصَّةِ الْمَشْرُوْعَةِ لِتَحْقِيْقِ الْعَدْلِ فِي التَّوْزِيْعِ، سَوَاءٌ فِي حَقِّ أَصْلِ الْمِلْكِيَّةِ، أَوْ مَنْعِ الْمُبَاحِ، أَوْ فِي تَقْيِيْدِ حُرِّيَّةِ التَّمَلُّكِ الَّذِي هُوَ مِنْ بَابِ تَقْيِيْدِ الْمُبَاحِ، وَالْمِلْكِيَّةُ مِنَ الْمُبَاحَاتِ قَبْلَ الْإِسْلَامِ وَبَعْدَهُ إِذَا أَدَّى اسْتِعْمَالُ الْمِلْكِ إِلَى ضَرَرٍ عَامٍ. (الفقه الإسلامي وأدلته، 7/23–22) (فَصْلٌ) يَجِبُ عَلَى السُّلْطَانِ أَوْ نَائِبِهِ الَّذِي لَهُ النَّظْرُ فِي ذَلِكَ أَنْ يَقْصِدَ مَصْلَحَةَ عُمُوْمِ الْمُسْلِمِيْنَ وَمَصْلَحَةَ ذَلِكَ الْمَكَانِ وَالْمَصَالِحَ الْأُخْرَوِيَّةِ وَيُقَدِّمُهُا عَلَى الدُّنْيَوِيَّةِ وَالْمَصَالِحَ الدُّنْيَوِيَّةِ الَّتِي لَا بُدَّ مِنْهَا وَمَا تَدْعُوْ إِلَيْهِ مِنَ الْحَاجَةِ وَالْأَصْلَحِ لِلنَّاسِ فِي دِيْنِهِمْ  وَمَهْمَا أَمْكَنَ حُصُوْلَ الْمَجْمَعِ عَلَيْهِ لَا يَعْدُلُ إِلَى الْْمُخْتَلَفِ فِيْهِ إِلَّا بِقَدْرِ الضَّرُوْرَةِ فَإِذَا تَحَقَّقَ عِنْدَهُ مَصْلَحَةٌ خَالِصَةٌ أَوْ رَاجِحَةٌ نَهَى عَنْهَا وَمَتَى اسِتَوَى عِنْدَهُ الْأَمْرَانِ أَوِ اشْتَبَهَ عَلَيْهِ فَلَا يَنْبَغِي لَهُ الْإِقْدَامُ بَلْ يَتَوَقَّفُ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُ وَمَتَى كَانَ شَيْءٌ مُسْتَمِرٌّ لَمْ يُمْكِنْ أَحَدًا مِنْ تَغْيِيْرِهِ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُ وَجْهٌ يُسَوِّغُ التَّغْيِيْرَ وَمَتَى كَانَ شَيْءٌ مِنَ الْعِبَادَاتِ حَرصَ عَلَى تَكْمِيْلِهِ وَاسْتِمْرَارِهِ وَعَدَمِ انْقِطَاعِهِ وَعَدَمِ إِحْدَاثِ بِدْعَةٍ فِيْهِ وَحِفْظِ انْضِمَامِهِ عَلَى مَا هُوَ عَلَيْهِ . وَمَتَى كَانَ شَيْءٌ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ اجْتَهَدَ فِي إِزَالَتِهِ جُهْدَهُ وَكَذَلِكَ الْمَكْرُوْهَاتُ وَمَتَى كَانَ شَيْءٌ مِنَ الْمُبَاحَاتِ فَهُوَ عَلَى مَا هُوَ عَلَيْهِ مِنْ تَمْكِيْنِ كُلِّ حَدٍّ مِنْهُ وَعَدَمِ مَنْعِ شَيْءٍ مِنْهُ إِلَّا بِمُسْتَنِدٍ وَيَرْجِعُ إِلَى عَقْلِهِ وَدِيْنِهِ وَمَا يَفْهَمُهُ مِنَ الشَّرْعِ وَمِمَّنْ يَثِقُ فِي دِيْنِهِ وَلَا يُقَلِّدُ فِي ذَلِكَ مَنْ يُخْشَى جَهْلُهُ أَوْ تَهَوُّرُهُ أَوْ هَوَاهُُ أَوْ دَسَائِسُ تَدْخُلُ عَلَيْهِ أَوْ بِدْعَةٌُ تَخْرُجُ فِي صُوْرَةِ السُّنَّةِ يَلْبِسُ عَلَيْهِ فِيْهَا كَمَا هُوَ دَأْبُ الْمُبْتَدِعِيْنَ وََذَلِكَ أَضَرُّ شَيْءٍ فِي الدِّيْنِ وَقَلَّ مَنْ يَسْلَمُ مِنْ ذَلِكَ. (فتاوى السبكي، 1/199) (قَوْلُهُ وَاجِبٌ بِأَمْرِ الْإِمَامِ) وَظَاهِرٌ أَنَّ مَنْهِيَهُ كَمَأْمُوْرِهِ فَيَمْتَنِعُ ارْتِكَابُهُ وَلَوْ مُبَاحًا عَلَى التَّفْصِيْلِ فِي اْلمَأْمُوْرِ...

Selengkapnya
Kebohongan Pemerintah dalam Pencitraan
Feb01

Kebohongan Pemerintah dalam Pencitraan

Deskripsi Masalah Prinsip kerja pemerintah adalah amanah (dapat dipercaya dalam memikul mandat) dan adil. Selebihnya, moral lembaga negara (aparatur) tidak mendorong rakyat untuk bermaksiat. Fakta di lapangan tidak sepenuhnya demikian. Kesan pencitraan mudah terbaca betapa informasi kepada publik diwarnai kebohongan yang dikemas seakan-akan benar adanya. Praktik percontohan moral tersebut jelas mengindikasikan bahwa aparatur negara penyampaian informasi kepada publik diwarnai oleh kebohongan (tidak sesuainya dengan fakta). Pertanyaan Apakah berbohong/berdusta bisa ditoleransi sekira yang melakukannya adalah pihak pemerintah? Cukup memadaikah bila kebohongan publik itu menjadi bukti penodaan atas “sumpah jabatan”? Jawaban Apabila berbohong yang dimaksud itu sebagaimana pengertian syar‘i, maka tidak ada toleransi. Tergantung bentuk kebohongan dan materi sumpah jabatannya. Rujukan (فَائِدَةٌ) اَلْكَذِبُ حَرَامٌ وَقَدْ يَجِبُ كَمَا إِذَا سَأَلَ ظَالِمٌ عَنْ وَدِيْعَةٍ يُرِيْدُ أَخْذَهَا فَيَجِبُ إِنْكَارَهَا كَذِبٌ وَلَهُ الْحَلَفُ عَلَيْهِ مَعَ التَّوْرِيَّةِ –اِلَى اَنْ قَالَ– وَقَدْ يَجُوْزُ كَمَا إِذَا كَانَ لَا يَتِمُّ مَقْصُوْدُ حَرْبٍ وَإِصْلَاحِ ذَاتِ الْبَيِّنِ وَإِرْضَاءِ زَوْجَتِهِ إِلَّا بِالْكَذِبِ فَمُبَاحٌ. (فتح المعين، 247) إعْلَمْ أَنَّ الْكَذِبَ لَيْسَ حَرَامًا لِعَيْنِهِ بَلْ لِمَا فِيْهِ مِنَ الضَّرَرِ عَلَى الْمُخَاطَبِ أَوْ عَلَى غَيْرِهِ فَإِنَّ أَقَلَّ دَرَجَاتِهِ أَنْ يَعْتَقِدَ الْمُخْبِرُ الشَّيْءَ عَلَى خِلَافِ مَا هُوَ عَلَيْهِ فَيَكُوْنُ جَاهِلًا –اِلَى اَنْ قَالَ– وَرُبَّمَا كَانَ وَاجِبًا قَالَ مَيْمُونُ بنِ مَهْرَان اَلْكَذِبُ فِي بَعْضِ الْمَوَاطِنِ خَيْرٌ مِنَ الصِّدْقِ –اِلَى اَنْ قَالَ– فَنَقُوْلُ الْكَلَامُ وَسِيْلَةٌ إِلَى الْمَقَاصِدِ فَكُلُّ مَقْصُوْدٍ مَحْمُوْدٍ يُمْكِنُ التَّوَصُّلُ إِلَيْهِ بِالصِّدْقِ وَالْكَذِبِ جَمِيْعًا فَالْكَذِبُ فِيْهِ حَرَامٌ وَإِنْ أَمْكَنَ التَّوَصُّلُ إِلَيْهِ بِالْكَذِبِ دُوْنَ الصِّدْقِ فَالْكَذِبُ فِيْهِ مُبَاحٌ إِنْ كَانَ تَحْصِيْلُ ذَلِكَ الْقَصْدِ مُبَاحًا وَوَاجِبٌ إِنْ كَانَ الْمَقْصُودُ وَاجِبًا. (إحياء علوم الدين،...

Selengkapnya
Shalat Sunah, Tapi Punya Tanggungan Qada
Jan26

Shalat Sunah, Tapi Punya Tanggungan Qada

Deskripsi Masalah Termasuk dalam kategori kebiasaan santri adalah selalu melakukan wirid dan salat sunah setelah salat fardhu. Saat berada di pondok, kebisaan itu tidak pernah terlalaikan, bahkan sebagian dari mereka ada yang merasa tidak enak kalau salat fardhu tanpa disertai salat sunah atau wiridan. Tapi, saat pulangan, tiba-tiba keistikamahan mereka mulai terbengkalai, bahkan ada yang sampai berani tidak shalat fardhu gara-gara sibuk bermain dengan teman-temannya. Hingga kadang sebagian dari mereka tidak langsung mengqadainya sampai beberapa hari, hingga mereka kembali ke pondok. Setelah sampai di pondok, mereka melakukan keistikamahan mereka kembali (membaca wiridan dan salat sunah). Pertanyaan Bagaiamana hukum membaca wiridan dan salat sunah bagi orang punya tanggungan salat qada? Jawaban Kalau qada salat itu harus dilakukan dengan segera (meninggalkan salat tanpa ada uzur), maka berbuat apapun tidak diperbolehkan, termasuk salat sunah atau wiridan, kecuali apabila waktunya salat hadhîrah sudah hampir habis, maka harus mendahulukan salat hadhîrah daripada salat qada. Namun, bila qada itu tidak harus dilakukan segera (meninggalkan salat karena ada alasan yang dibenarkan syara’), maka mengerjakan aktivitas yang lain masih diperbolehkan. Rujukan (يَقْضِيْ الشَّخْصُ مَافاَتَهُ مِنْ مُؤَقَّتٍ) وُجُوْبًا فِيْ الْفَرْضِ وَنَدْبًا فِيْ النَّفْلِ كَمَا ذَكَرَهُ الْاَصْلُ فِيْ بَابِهِ (مَتَى تَذَكَّرَهُ وَقَدَرَ عَلَى فِعْلِهِ وَاِنْ كَانَتِ الْجُمْعَةُ تُقْضَى ظُهْرًا) لَا جُمْعَةً لِخَبَرِ الصَّحِيْحَيْنِ: )مَنْ نَامَ عَنْ صَلاَةٍ اَوْ نَسِيَهَا فَلْيُصَلِّهَا اِذَا ذَكَرَهَا( وَالْمُبَاذَرَةُ اِلَى قَضَاءِ النَّفْلِ سُنَّةٌ وَكَذَا اِلَى الْفَرْضِ اِنْ فَاتَهُ بِعُذْرٍ وَاِلَّا وَجَبَتْ (اِلَّا اِنْ خَافَ فَوْتَ حَاضِرَةٍ فَيَبْدَاءُ بِهَا وُجُوْباً) قَوْلُهُ (اِنْ فَاَتهُ بِعُذْرٍ) كَنَوْمٍ لَمْ يَتَعَّدِ بِهِ وَنِسْيَانٍ لَمْ يَنْشَأْ عَنْ تَقْصِيْرٍ كَلَعْبِ شَطْرَنْجِ وَلَوْ تَيَقَّظَ مِنْ نَوْمِهِ وَقَدْ بَقِيَ مِنْ وَقْتِ الْفَرِيْضَةِ مَا لَا يَسَعُ اِلَّا الْوُضُوْءَ اَوْ بَعْضَهُ فَحُكْمُهُ حُكْمُ مَنْ فَاتَتْهُ بِعُذْرٍ فَلَا يَجِبُ قَضَاءُهَا فَوْرًا وَلَوْ بَقِيَ مِنَ الْوَقْتِ مَا يَسَعُ الْوُضُوْءَ دُوْنَ رَكْعَةٍ قَدَّمَ الْفَائِتَةَ لِاَنَّ الصَّاحِبَةَ الْوَقْتَ صَارَتْ فَائِتَةً اَيْضًا. (قَوْلُُهُ وَاِلَّا) بِأَنْ فَاتَ بِغَيْرِ عُذْرٍ وَجَبَتِ الْمُبَاذَرَةُ فَلَا يَجُوْزُ أَنْ يَصْرِفَ زَمَنًا فِيْ غَيْرِ قَضَائِهَا كَالتَّطَوُّعِ اِلَّا فِيْماَ يَظْهَرُ اِلَيْهِ كَنَوْمٍ اَوْ مُؤْنَةِ مَنْ تَلْزَمُهُ مُؤْنَتُهُ وَكَذاَ فِيْهَا ذَكَرَهُ بِقَوْلِهِ اِلَّا اِنْ خَافَ . (الشرقاوي، 1/276) (وَيُبَادِرُ) مَنْ مَرَّ (بِفَائِتٍ) وُجُوْبًا، إِنْ فَاتَ بِلَا عُذٍْر، فَيَلْزَمُهُ الْقَضَاءُ فَوْرًَا. قَالَ شَيْخُنَا أَحْمَدُ بْنُ حَجَرٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى: وَالَّذِيْ يَظْهَرُ أَنَّهُ يَلْزَمُهُ صَرْفُ جَمِيْعِ زَمَنِهِ لِلْقَضَاءِ مَا عَدَا مَا يَحْتَاجُ لِصَرْفِهِ فِيْمَا لَا بُدَّ مِنْهُ، وَأَنَّهُ يِحْرُمُ عَلَيْهِ التَّطَوُّعُ، وَيُبَادِرُ بِهِ نَدْبًا إِنْ فَاتَ بِعُذْرٍ كَنَوْمٍ لَمْ يَتَعَدِّ بِهِ وَنِسْيَانٍ كَذَلِكَ قَوْلُهُ: (وَيُبَادِرُ مَنْ مَرَّ) أَيِ الْمُسْلِمُ الْمُكَلَّفُ الطَّاهِرُ وَقَوْلُهُ: بِفَائِتٍ أَيْ بِقَضَائِهِ. قَوْلُهُ: (وَالَّذِيْ يَظْهَرُ أَنَّهُ) أَيْ مَنْ عَلَيْهِ فَوَائِتُ فَاتَتْهُ بِغَيْرِ عُذْرٍ. قَوْلُهُ: (مَا عَدَا مَا يَحْتَاجُ لِصَرْفِهِ فِيْمَا لَا بُدَّ لَهُ مِنْهُ) كَنَحْوِ نَوْمٍ، أَوْ ُمْؤنَةِ مَنْ تَلْزَمُهُ مُؤْنَتُهُ، أَوْ فِعْلِ وَاجِبٍ آخَرَ مُضَيَّقٍ يُخْشَى فَوْتُه. قَوْلُهُ: (وَأَنَّهُ يَحْرُمُ عَلَيْهِ التَّطَوُّعُ) أَيْ مَعَ صِحَّتِهِ، خِلَافًا لِلزَّرْكَشِيِّ. قَوْلُهُ...

Selengkapnya
Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah
Jan24

Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah

Deskripsi Masalah Akidah yang ditawarkan oleh golongan Wahabiyah ada tiga konsep. 1) Tauhid Rububiyah yaitu tauhid yang mengatakan wujudnya Tuhan. Walaupun kemungkinan tauhid tersebut tidak meng-Esa-kan Tuhan, seperti agama Nashrani dll. Maka golongan atheis tidak memilliki ini. 2) Tauhid Uluhiyah, yaitu tauhid yang meng-Esa-kan Tuhan sehingga hanya beribadah kepada-Nya. Ini adalah tauhid Islam sehingga orang Nashrani tidak memiliki tauhid ini. 3) Tauhid Asma’ wa Sifat, yaitu kepercayaan terhadap nama-nama dan sifat bagi Allah I seperti dalam akidah Islam. (Keterangan lebih lanjut, lihat: KH. Sirajuddin Abbas, I’tiqad Ahlusunnah wal Jamaah, atau kitab-kitab Wahabiyah seperti karya Utsaimin dll.). Pertanyaan Bagaimana memasukkan konsep Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah di dalam konsep akidah Ahlusunah wal Jamaah yang dipahami oleh golongan Asya’irah dan Maturidiyah? Jawaban Memasukkan konsep tauhid Rububiyah dan Uluhiyah versi Wahabiyah ke dalam Ahlusunah wal Jamaah tidak dibenarkan kerana bertentangan dengan konsep tauhid versi Ahlusunah wal Jamaah. Catatan Maksud dan tujuan dari konsep tauhid kelompok Wahabiyah adalah untuk mengkafirkan orang mukmin yang bertawasul melalui Nabi e dan orang-orang saleh, mengkafirkan orang-orang mukmin yang menakwil ayat-ayat yang mengandung sifat-sifat Allah I yang megembalikan penafsirannya kepada ayat muhkamât. Ini berarti pengkafiran Ahlusunah wal Jamaah yang merupakan kelompok meyoritas umat Muhammad e. Rujukan وَقَالُوْا اِنَّ التَّوْحِيْدَ نَوْعَانِ تَوْحِيْدُ الرُّبُوْبِيَّةِ وَهُوَ الَّذِيْ فَيْ الاَيَاتِ بِمَعْنَى اْلعِبَادَةِ وَهُمْ لَبَسُوْا عَلىَ الْخَلْقِ وَجَعَلُوْهُ بِمَعْنَى النِّدَاءِ وَقَدْ عَلِمْتَ بُطْلانَهُ مِنَ النُّصُوْصِ السَّاِبقَةِ. وَأَمَّا جَعْلُهُمْ التَّوْحِيْدَ نَوْعَيْنِ تَوْحِيْدَ الرُّبُوْبِيَّةِ وَتَوِحِيْدَ الأُلُوْهِيَّةِ فَبِاطِلٌ أَيْضًا. فَإِنَّ تَوْحِيْدَ الرُّبُوْبِيَّةِ هُوَ تَوْحَيْدُ الأُلُوْهِيَّةِ. أَلا تَرَى اِلَى قَوْلِهِ تَعَالَى }أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَاُلوْا بَلَى{ (الاعراف [7]: 172). وَلَمْ يَقُلْ أَلَسْتُ بِإِلَهِكُمْ فَكْتَفَى مِنْهُمْ بِتَوْحَبْدِ الرُّبُوْبِيَّةِ. وَمِنَ الْمَعْلُوْمِ مَنِ أَقَرَّ لَكَ بِالرُّبُوْبِيَّةِ فَقَدْ أَقَرَّ لَهُ بِالأُلَوْهِيَّةِ إِذْ لَيْسَ رَبٌ غَيْرَ الإِلَهِ بَلْ هُوَ الإْلَهُ بِعَيْنِهِ. وَفِيْ الْحَدِيْثِ إِنَّ الْمَلَكَانِ يَسْئَلاَنِ الْعَبْدَ فِيْ قَبْرِهِ فَيُقُوْلانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ وَلَمْ يَقُوْلا لَهُ: مَنْ إِلَهُكَ فَدَلَّ أَنَّ التَّوْحِيْدَ الرُّبُوْبِيَّةِ هُوَ التَّوْحِيْدُ الأُلُوْهِيَّةِ. (الدرر السنية لسيد زيني دحلان،...

Selengkapnya