Baksos Ala Calon Legeslatif (Caleg)
Okt05

Baksos Ala Calon Legeslatif (Caleg)

SETINGAN Deskripsi Masalah: Menjelang pileg atau bahkan pilpres, banyak sekali caleg yang melakukan metamorphosis dengan melakukan acara baksos [bakti social] dan cara-cara yg lain agar menarik minat masyarakat sebagai ajang pengenalan dan sosialisasi. Tapi mirisnya, acara-acara tersebut, hanyalah settingan belaka, yang sengaja dibuat demi mendongkrak citra baik si caleg. Bahkan ia rela masuk gorong-gorong, atau memakai pakaian islami, walaupun nyata-nyata caleg tersebut Non-Muslim. Dan lebih mirisnya lagi banyak orang-orang bayaran yang direkrut untuk mensukseskan acara setingan tersebut. Pertanyaan: 1. Bagaimana hukum mengadakan acara setingan? Jawaban : Tidak boleh atau haram, sebab mengandung unsur talbis (pengelabuhan terhadap masyarakat) karena hakikatnya calon tersebut tidak memenuhi syarat mnjadi pemimpin (tidak layak dipilih). 2. Apa status uang yang diterima oleh orang yang direkrut? Jawaban: Haram, karena suatu yang dikerjakan dari perkara haram maka tidak ada ujrah. Refrensi: Ihya’ Ulumuddin (Hal.285) Ihya’ Ulumuddin (Hal.278) Ianatut Thalibin (2/95) Hasiyah Bujairomi (13/389) Kifayatul Ahyar (2/160) Tuhfatul Muhtaj (24/295) Hawasyi As-Sarwani (6/137) Ianatut Thalibin (2/234) Alhawi al-kabir...

Selengkapnya
Jangan Sentuh Uang Hafidzul al-Quran
Sep06

Jangan Sentuh Uang Hafidzul al-Quran

“Kecil kecil kok sudah kaya…” itu bukan hal yang aneh. Pasalnya, ada seorang anak yang menjuarai Hafidzul Qur’an”, dan berhak memperoleh hadiah uang yang cukup banyak. Suatu saat, ketika sang ayah lagi boke’, dia menggunakan uang tersebut atas nama hutang, lantas setiap hari sang ayah membayar dengan cara membelikan susu,makanan dll. Pertanyaan : Bagaimana hukumnya penggunaan uang tersebut? Bagaimana pula hukum pembayaran hutang seperti diatas ?  Jawaban : Tidak boleh, kecuali apabila anak itu memang wajib menafkahi orangtuanya (orangtuanya Mu’sir/miskin, dan anaknya punya kekayaan yang melebihi dari kebutuhannya), maka boleh mengambil nafkah secukupnya serta tidak wajib mengembalikan. Yang tidak boleh apabila dilakukan, maka orangtuanya berkewajiban mengembalikan sejumlah barang yang diambil, dan bila ada maslahat bisa mengembalikan qimahnya atau harga asal (seperti dalam pertanyaan) dengan cara istibdal. Refrensi: إعانة الطالبين، ج 3 ص 88-89, الفقه الإسلامي وأدلته، ج 7 ص 752-753, òحاشية اعانة الطالبين، ج 4 ص 110. òالعزيز شرح الوجيز، ج 8 ص 437-438. òروضة الطالبين، ج 5 ص 271.òحاشية الجمل، ج 3 ص 349....

Selengkapnya
Perbedaan Antar Kalangan
Sep03

Perbedaan Antar Kalangan

Disebuah desa ada beberapa masjid dari kalangan yang berbeda-beda, seperti Nahdliyin (NU), Muhammadiyah, LDII dan lain-lain. Ironisnya masing-masing kalangan enggan untuk memperhatikan masjid yang lain, kendati masjidnya berada disamping rumahnya. Keengganan tersebut seperti tidak berjamaah dan tidak mau mengikuti segala aktivitas di masjid tersebut. Bahkan untuk melaksanakan salat Jum’at mereka lebih memilih masjid dari kalangan sendiri meskipun agak jauh. Pertanyaan : Bagaimana hukum ke-engganan mereka untuk memperhatikan masjid kalangan lain ? Bagaimana hukum memilih masjid kalangan sendiri untuk salat jum’at seperi dalam permasalahan diatas? Masjid manakah yang dihukumi sah salat jum’atnya? Jawaban: Boleh, apabila untuk mempertahankan madzhabnya dan tidak ada dloror (hal yang berdampak negative) bagi madzhab atau dirinya. Boleh, bahkan wajib bila ada dloror dan mencukupi syarat ta’adudul Jum’at Sama seperti jawaban b. Refrensi: òتنقيح الفتاوي الحامدية الجزء2 صحـــ 334 حنفي : ابن عابدين,  òإسعاد الرفيق الجزء 2 صحـــ 50, الترمسى الجزء 3 صحــ 212...

Selengkapnya
Tentang Shalat Jamak dan Qosor
Sep01

Tentang Shalat Jamak dan Qosor

Ilmu merupakan sesuatu yang sangat berharga dan mahal nilainya. Sehingga dalam proses mencari ilmu tidak memandang jarak dan besarnya biaya yang dikeluarkan. Seperti halnya Baron, santri asal pulau Madura yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren yang berada di pulau jawa. Selama di pondok ia aktif dalam forum Bahsul Masa’il sehingga pada suatu ketika ia dijadikan delegasi untuk mengikuti Bahsul Masi’il di pulau garam Madura yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Pertanyaan : Apakah boleh Baron melakukan sholat qoshor padahal jaraknya tidak mencapai masafatul qosri ketika diukur dari tempat tinggalnya? Kalau tidak boleh adakah qoul yang memperbolehkan?  Jawaban : Tafsil : Jika tidak melewati baladnya (daerah) maka boleh mengqoshor shalat. Jika melewati baladnya maka tidak boleh, namun menurut Sayyid Umar Basri boleh melakukan qoshor selama tidak ada kesengajaan melewati balad Gugur. Refrensi: òالترمسي – (ج : 3/  ص :...

Selengkapnya
Buka Puasa Ikut Azan Yang Mana?
Agu17

Buka Puasa Ikut Azan Yang Mana?

Deskripsi Masalah Parenduan adalah daerah yang terletak di tepi barat kabupaten Sumenep, kurang lebih 30 km. dari sumenep kota. Sedangkan kecamaan Guluk-guluk adalah derah yang berada di tepi barat kabupaten Sumenep, (kurang lebih 35 km. dari Semenep kota). Untuk menentukan awal waktu berbuka puasa, masyarakat Sumenep bagaian barat, sangat bervariasi. Ada yang mengikuti azan RRI di Sumenep kota, ada pula yang lebih malam sedikit dari azan tersebut, bahkan ada yang mengikuti azan yang di kumandang oleh Rodio Karimata di kota Pamekasan, di sebelah barat kabupaten Sumenep. Pertanyaan Berapa jarak lebar dan panjang suatu daerah yang diperbolekan mengikuti azan yang di kumandangkan daerah lain dalam menentukan waktu berbuka uasa atau ibadah yang lain? Dapatkah dikatakan satu waktu antara Sumenep kota dengan Sumenep bagian barat dalam menentukan awal waktu berbuka puasa atau ibadah yang lain? Jika ternyata salah dalam mngikuti azan tersebut, wajibkah mengqadai puasa yang dilakukan pada waktu tersebut? Jawaban 28,4375 km, atau sama dengan waktu 1 menit. Bisa, apabila masih dalam jarak 28,4375 km. Wajib Refrensi:  (الدُّرُوْسُ اْلفَلَكِيَّةِ، 44), (الدُّرُوْسُ الْفَلَكِيَّةِ، 73), (الفَتَاوَى الْكُبْرَى الفِقْهِيَّة عَلَى مَذْهَبِ اْلإِمَامِ الشَافِعِيِّ، 1/9), (تَفْسِيْرُ آَيَاتِ الْأَحْكَامِ،  ...

Selengkapnya
Penambahan Lafadz Takbir
Agu13

Penambahan Lafadz Takbir

Deskripsi Masalah Perbedaan keinginan membuat seseorang berbeda persepsi, yang akan berujung kepada perbedaan keyakinan. Tak terkecuali orang yang membaca takbir pada malam hari raya atau siangnya. Kadang dari mereka menambah takbir dengan permulaan surat al-Ikhlâsh. Ada pula yang menambah dengan beberapa ragam bacaan lain. Pertanyaan Bagaimana hukum membaca ayat tersebut? Jawaban Sighat takbir yang dibenarkan serta yang warid dari Nabi  adalah sebagai berikut: اَللهُ اَكْبَرُ (ثَلَاثًا) لَااِلَهَ اِلَّاللهُ هُوَ اللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ  وَلِلَّهِ الْحَمْدُ. اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَا نَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا، لَا اِلَهَ اِلَااللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَّجُنْدَهُ وَحَزَمَ الْاَحْزَا بَ وَحْدَهُ، لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ. Dan apabila ada penambahan seperti yang ditanyakan, maka boleh. Refrensi: (نهاية المحتاج، 2/400) , (الشرقاوي،...

Selengkapnya
Chat WA dengan kami