Taujihat Majelis Keluarga  Warnai Semarak Idadiyah
Okt13

Taujihat Majelis Keluarga Warnai Semarak Idadiyah

Semarak Idadiyah tahun ini lebih lengkap dengan adanya taujihat dari Katib Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Mas d. Nawawy Sadoellah, yang dibacakan oleh koordinator Idadiyah, Ust. Qusyairi Ismail dalam acara bertajuk, “Merajut Akhlakul Karimah, Menggapai Ilmu Barakah,” Rabu (01/02). Menurut beliau, murid Idadiyah menjadi generasi santri Sidogiri yang beruntung, karena pertama kali mereka menginjakkan kaki di Sidogiri, ia langsung digembleng dengan program khusus membaca kitab. Beliau berpesan, agar senantiasa mengerjakan hal positif baik menghafalkan, memahami, serta mendalami pelajaran yang telah di pelajari. “Kalian saat ini merupakan gambaran apa dan seperti apa kalian di masa mendatang,” dawuh beliau pada sebuah petikan dalam taujihatnya. Menurut pria kelahiran Bondowoso ini, setelah mencari ilmu, ada dua hal yang lebih penting, yakni mengamalkan serta menyebarkan ilmu yang telah di dapatkan dari Sidogiri. “Pesantren itu hanyalah jembatan bagi kalian. Seindah apapun ia, hanyalah lintasan untuk sampai ke seberang. Kalian tidak boleh berdiam diri, tapi harus maju melangkah untuk sampai ke sana,” ujar Mas Dwy. Seperti biasa, pada acara yang sama pihak Idadiyah juga menggelar demonstrasi bagi beberapa murid yang telah menyelesaikan program Idadiyah al-miftah. Hal tersebut dianggap akan menjadi salahsatu pendorong sekaligus penyemangat bagi murid-murid yang lain. Penulis: Ach Mustaghfiri Soffan Editor  : N. Shalihin...

Selengkapnya
N. Shalihin Damiri;  Manfaatkan Kesempatan Ini dengan Baik
Okt13

N. Shalihin Damiri; Manfaatkan Kesempatan Ini dengan Baik

Pengurus Perpustakaan Sidogiri melantik perserta magang semester I pada Selasa (09/10). Acara ini dihadiri oleh Wakil II, Wakil III, TU Perpustakaan serta segenap petugas magang terpilih. Ust. Mukafi, Wakil II Perpustakaan, menyosialisasikan hal-hal yang berkaitan dengan perpustakaan. “Kalau di awal-awal, rasa tak betah dan lelah pasti dirasakan, tapi kalau sudah biasa, kalian akan merasa tidak enak bila tidak membaca kitab dan koleksi Perpustakaan.” Peserta magang pada tahun ini relatif lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya. Magang yang biasanya membutuhkan maksilmal 25 orang, kini hanya melantik 20 orang saja. “Mumpung kalian di Perpustakaan, manfaatkan waktu dan kesempatan dengan sebaik mungkin. Eman!,” nasihat N. Shalihin Damiri, TU Perpustakaan, kepada segenap peserta setelah sebelumnya beliau menjelaskan hal terkait dengan digitalisasi perpustakaan. Peserta magang akan memulai masa khidmahnya di Perpustakaan Sidogiri selama satu bulan, terhitung sejak tanggal 1 Safar hingga 30 Safar 1440 H. Petugas magang juga akan mendapatkan pelatihan intensif terkait kepustakaan meliputi, selving koleksi, proses scaning, mendata koleksi, memperbaiki koleksi. Dengan pelantikan ini, peserta magang resmi bergabung dengan Perpustakaan. Di akhir masa khidmahnya, mereka mendapat sertifikat sebagai bukti khidmah yang telah dilakukan dan sebagai rasa terimakasih Perpustakaan Sidogiri kepada pihak yang bersangkutan. === Penulis: Dimas Aji Suharbillah Editor  : Ach Mustaghfiri...

Selengkapnya
Ubudiyah: Agar Salat Santri Sesuai Syariat
Okt10

Ubudiyah: Agar Salat Santri Sesuai Syariat

“Salat merupakan kunci utama bagi setiap ,muslim mendekatkan diri kepada Allah SWT. Seluruh rukun qalbi (hati), rukun qauli (bacaan) dan rukun fi’li (gerakan)‎ dalam salat memberikan kekuatan pada jiwa seseorang untuk mendapat pertolongan dari-Nya. Oleh sebab itu salat merupakan sesuatu yang urgen dalam islam. Tolak ukur akan kesuksesan seorang hamba dilihat dari bagaimana seorang hamba tersebut memberlakukan shalatnya di dunia,” demikian yang disampaikan Moh. Faqih Kepala Bagian Ubudiyah Pondok Pesantren Sidogiri. Menurut pria yang akrab disapa Gus Faqih, perihal masalah menyempurnakan salat santri Pondok Pesantren Sidogiri memiliki badan khusus. Badan Khusus tersebut diformat layaknya Pendidikan yang ada di madrasah dengan nama Mustafid (Muassasah Tarbiyah Fiqh Ibadah). Program Mustafid merupakan gentian dari program lama yang diberi nama Diklat (Pendididkan Salat). “Sebenarnya mengenai sempurnanya salat santri (sesuai dengan syariat) , kita memiliki badan khusus. dulu namanya Dikalat (Pendidikan Salat). Namun karena hasil dari program tersebut dianggap kurang efektif, kita ubah menjadi program Mustafid (Muassasah Tarbiyah Fiqh Ibadah),” Kata Gus Faqih.   Beda Mustafid dengan Diklat, lanjut Gus Faqih Dalam system pengajaran, mustafid lebih mengedepankan praktik daripada mendalami praktik. Hal ini bertujuan agar para santri lebih terbiasa mengamalkan apa yang sudah ada di dalam kitab turats bukan sekedar menumpuk pengetahuan tanpa diamalkan. “Demikian itu agar para santri hafal dengan gerakan tubuh bukan hafal di telinga saja,” ujar pria asal kota Pasuruan. Lebih dari itu, anak didik dari program ini diambil dari murid Madrasah Miftahul Ulum Idadiah, Thakhossus dan murid MMU Ibtidaiyah. Sedangkan untuk murid MMU Tsanawiah Pengurus Ubudiyah juga membuat program khusus . Rencananya Proram khusus tersebut akan menyajikan metode pembelajaran yang memfokuskan terhadap legalitas menjadi imam. Sedangkan untuk staf pengajar tidak lagi diambil dari murid Madrasah Miftahul Ulum Aliyah seperti program sebelumnya (Diklat). Tapi diambil dari wali kelas madrasah disetiap tingkatan. “Supaya lebih mudah memantau anak didiknya terkait salat dan mereka yang lebih tahu akan ihwal mereka. Yang tidak kalah penting, merekalah yang bertanggungung jawab dalam memperbaiki salat anak didiknya.” Tegas Gus Faqih.[] ===== Penulis: M. Afifur Rohman Editor: N. Shalihin...

Selengkapnya
TTQ: Dalam Tahap Penyempurnaan Maksimalkan Bacaan Quran
Okt07

TTQ: Dalam Tahap Penyempurnaan Maksimalkan Bacaan Quran

Memperbaiki bacaan al-Quran merupakan suatu yang dianjurkan, bahkan membaca al-Quran dengan baik akan menambah pahala tersendiri. Hal tersebut juga menjadi perhatian khusus dari Pengurus di Pondok Pesantren Sidogiri. Melalui  Taklim wa Tahfidzul Quran (TTQ) kualitas bacaan al-Quran Santri Sidogiri terus dipantau. Sejak awal tahun pengurus membentuk program baru dengan sebutan “Madrasah Taklimul Quran (MTQ)”. Program ini merupakan pengganti dari program Metode ‘Sufla dan ‘Wustha. “Sebelum adanya program sebutan “Madrasah Taklimul Quran (MTQ)”, Sidogiri memiliki metode Sufla dan Wustho. Namun karena program tersebut dianggap kurang maksimal maka kita bentok sistem baru yakni; MTQ,” ungkap Ustadz Fahmi Aziz selaku Wakil I TTQ. Selain program tersebut pengurus juga terus berupaya menyempurnakan dan memperbarui materi pengajian al-Quran disetiap majlis. “Semua materi kami perbarui. Namun, khusus untuk kelas enam sendiri kami membuat program menggunakan semua materi (kelas satu sampai lima, red) agar murid yang sudah lulus dari program ini bisa maksimal,” ujar santri asal Jember ini. “Materi yang disajikan oleh pengurus untuk kelas satu Tatrîbul Lisân. Kelas dua dan kelas empat sama-sama memakai Mabâdi’ fi-‘Ilmi Tajwîd. Akan tetapi untuk kelas dua khusus bab Tajwid dan kelas empat bab Waqaf dan Washâl. Kelas tiga Dalail at-Tilâwah. Kelas lima mengenal Rasm Ustmany dan perbadanya dengan rasm yang lain, materi kelas lima sendiri masih dalam proses, sedangkan namanya kami rahasiakan terlebih dahulu,” jelas beliau.[] ==== Penulis: Muhammad Sufyan Editor: N. Salahin...

Selengkapnya
BMW Ke 52: Ini Yang Harus Dipertahankan Oleh Kita
Okt05

BMW Ke 52: Ini Yang Harus Dipertahankan Oleh Kita

                                                Dilaksanakan sejak Kamis (23/01) hingga Jumat (24/01) bertempat di Mabna as-Suyuthi. Bahtsul Masail Wustha (BMW) ke 57 Pondok Pesantren Sidogiri sukses digelar. Peserta BMW merupakan utusan dari berbagai pondok pesantren se-Jawa-Madura. Menurut keterangan yang didapat dari Kepala Kuliah Syariah Bahtsul Masail Wustha (BMW) ini merupakan forum intelektualitas yang dimiliki kaum Pesantren. Bahkan di perguruan tinggi pun masih belum ditemukan. “Musyawarah merupakan reprentasi dari segala tindakan, Rasulullah saja dalam semua hal dan tindakan lebih mengedepankan musyawarah,” kata Ust. Afifuddin, Kepala Kuliah Syariah. Tidak jauh beda dengan apa yang disampaikan Ust. Afifuddin, Ust. Ilham peserta musyawaroh juga menegaskan akan pentingnya acara semacam Bahtsul Masail Wustha (BMW). Menurutnya Penyelesaian masalah yang dilakukan secara bersama-sama pasti keputusannya akan lebih kuat dan matang karena hasil tersebut adalah hasil bersama atau mufakat bersama. “Saya datang dari pulau Madura. Tidak ada persiapan yang matang. As’ilah (pertanyaan) dari panitia sebanyak Sembilan macam tapi saya hanya bawa ibarat sebanyak empat macam. Lakar le ta’ niat senoroah deddi musyawarah coman partisipasi polaen olle undangan (Memang tidak niat musyawarah tapi karena dapat undangan kami partisipasi saja). Tapi Alhamdulillah dengan barakah BMW saya dapat ilmu banyak dari Sidogiri,” kata Ust. Ilham utusan dari Pondok Pesantren as-Sa’idiyah, Arosbaya Bangkalan. Selain itu beliau (Ust. Afifuddin) berharap dengan adanya Bahtsul Masail Wustha (BMW) bisa menjadi tali penyambung antar pesantren dan membentuk karakter yang gemar ber-Musyawarah.  “Tidak hanya menjadi tali penguat persaudaraan tapi juga membentuk karakter yang ahli dalam musyawarah. Sehingga muncul selogan tidak ada waktu kecuali bermusyawarah.” Ujarnya kepada reporter Sidogiri.Net.[] ===== Penulis: M. Afifur Rohman Editor: N. Shalihin...

Selengkapnya
Ngaji Maring Mas Ahmad Sa’dulloh bin KH. Abd Alim; Kriteria Alumni Sidogiri Sukses
Okt03

Ngaji Maring Mas Ahmad Sa’dulloh bin KH. Abd Alim; Kriteria Alumni Sidogiri Sukses

Ngaji maring Mas Ahmad Sa’dulloh Abd Alim; Kriteria Alumni Sukses Ilmu manfaat, barokah, pandangan (baik) seorang murid seorang guru terhadap guru, dan menjaga apaun yang dilakukan seorang guru adalah beberapa hal yang harus dilakukan seorang santri yang telah boyong dari pesantren sebagai khidmah kepada pesantren. Khidmah juga bisa dilakukan oleh alumni melalui Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS), sebagai wadah organisasi resmi yang sudah direstui dan diresmikan oleh masyayikh. Hal itu bisa dilakukan melaui beberapa bidang; dakwah sosial, pendidikan dan pelatihan, hukum, dan ekonomi bisnis. Hal itu dilakukan sebagai bentuk pengabdian kepada PPS di tengah masyarakat. Para alumni juga diharapkan mengajarkan ilmunya yang sudah didapat dari pesantren. Mendoakan para masyaikh dan guru serta mengikuti program-program IASS. Hal ini dilakukan sebagai bentuk perhatian masyaikh karena di situ ada sebuah hikmah. Karena yang dikhawatirkan masyaikh adalah takut keluar dari apa yang sudah diajarakn oleh masyaikh. Alumni yang sukses adalah menjalankan (mengamalkan) apa yang sudah didapat dari guru. Ini adalah arti sukses sebagai murid. Namun, partisipasi dan dukungan alumni terhadap IASS serta aktif dalam organisasi IASS juga bisa dikatakan sukses. Oleh karenanya, diharapkan alumni kompak untuk menjaga apa yang sudah diperjuangkan oleh masyaikh. Jadi, partisipasi alumni dalam tubuh IASS itu agar supaya tidak keluar jalur dari PPS serta apa yang sudah didapat dari PPS. Itulah sebagian dari apa yang sudah diharapka oleh masyaikh terhadap alumni PPS. Secara tidak langsung, PPS tetap memperhatikan dan peduli terhadap santri yang sudah keluar dari PPS. Hal yang menjadi harapan dari IASS adalah partisipasi alumni dalam pengajian rutianan yang diadakan oleh IASS. Hal ini dilakukan agar alumni tetap dalam jalur yang sudah diharapkan oleh masyaikh. Dalam pelaksanaannya, pengajian IASS diabsen. Hal itu bertujuan untuk disiplin alumni terhadap apa yang sudah ditetapkan. Apabila ada alumni yang tidak bisa hadir karena terkendala dana, sesama alumni bisa bantu. Kalau untuk di luar itu, tidak bisa dilakukan.[]...

Selengkapnya
Chat WA dengan kami