KH. Marzuki Mustamar: Harus Selektif Dalam Memilih Guru
Jul16

KH. Marzuki Mustamar: Harus Selektif Dalam Memilih Guru

Sebodoh-sebodohnya orang awam, selagi mengikuti gurunya, apalagi mengikuti para ulama salafus sholeh yang tersambung sanadnya, maka akan amaliyah benar. Hal terkait ketersambungan sanad inilah yang disampaikan oleh KH. Marzuki Mustamar dalam acaranya Haul Masyayih Pondok Pesantren Sidogiri & Halal bi Halal konsulat Malang, yang bertempat di Pondok Pesantren Annur II Bululawang ini, Ahad (02/07). Menurutnya, banyak sekali orang yg tidak bisa mengaji Al Quran dan baca Kitab. Namun baca Yasin bisa sesuai dg tajwid, mimpin tahlil bisa, jadi imam sholat, sholatnya benar. Hal tersebut membuktikan jika orang tersebut mendapat barokahnya manut kepada guru. “Apalagi mengikuti guru seperti para Masyayih Sidogiri. Kita mengikuti Kiai  Nawawi bin Abdul Jalil. Jika dirunut bersambung ke Syayid Sulaiman Mojo Agung, dirunut lagi tersambung kepada Sunan Gunung Jati. Secara nasab dan syanad terus berkesinambungan sampai Rasulullah.” Jelasnya secara runtut menyebutkan mata rantai keilmuan Pondok Pesantren Sidogiri. Dalam kesempatan ini, Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah yang juga menjabat sebagai Anggota Komisi Fatwa MUI Malang ini, juga menyitir sabda Rasulullah yang menjelaskan pentingnya sanad keilmuan. “Ilmu adalah bagian dari agama, maka selektiflah dalam memilih guru” ujarnya. Kegiatan ini merupakan serangkaian agenda tahunan atas kerjasama Pengurus ISS (Ikatan Santri Sidogiri) dan IASS (Ikatan Alumni Santri Sidogiri) Konsulat Malang yang digelar pada hari liburan santri. Kegiatan serupa juga dilaksanakan di semua wilayah konsulat yang lain di daerah masing-masing; Diantaranya Konsulat Jabodetabek, Kalimantan, Surabaya, Jember, dan Madura, yang terbagi di beberapa titik.[] Penulis : Mustagfiri Editor   : Muh Kurdi...

Selengkapnya
Pemukiman Santri Padat, Gedung Perpustakaan Pindah ke Selatan Sungai
Jul14

Pemukiman Santri Padat, Gedung Perpustakaan Pindah ke Selatan Sungai

Mengacu kepada keputusan yang disepakati oleh Pengurus Harian Pondok Pesantren Sidogiri No: 717/PPS.900/kep-A/VII.1438 bahwa seluruh perkantoran yang berada di utara sungai harus dipindah ke selatan sungai. Hal tersebut dilatar belakangi oleh padatnya pemukiman santri dan jumlah santri yang setiap tahunnya mengalami lonjakan. Perpustakaan, yang menjadi target utama dari keputusan ini, mulai tancap gas sejak liburan ramadhan yang lalu, Ahad, (28/07). Selain karena letak posisinya berada di utara sungai, juga karena menjadi titik central dari keberadaan pemukiman santri. “Semua ini berkaitan erat dengan komitmen Pengurus, yang terus berupaya untuk memberikan fasilitas terbaik bagi keberadaan santri,” ungkap Ust. Saifulloh Naji, Sekretaris Umum PPS. Saat dikonfirmasi, Kepala Perpustakaan Ust. Masyhuri Mochtar menjelaskan bahwa perpustakaan dipindah ke gedung eks Kopentren yang terletak di timur Mabna As-Suyuti. Langkah ini di ambil setelah mendapat persetujuan dari Ketua Umum PPS Mas H. Baharuddin Toyyib. “Memang letak gedung Perpustakaan sangat central bagi santri. Namun karena dlorurat, gimana lagi. Kasihan santri, yang tidur di gedung Madrasah. Seharusnya dimanfaatkan untuk belajar, malah untuk tidur. tidak selayaknya santri fasilitasnya seperti itu.” Jelas Ust. Masyhuri Mochtar, ketika ditemui di meja kerjanya.[] Penulis: M Afifur Rohman Editor  : Muh Kurdi...

Selengkapnya
KH. Ma’ruf Amin: Pesantren, Lembaga Pencetak Ulama Pembela Bangsa
Mei15

KH. Ma’ruf Amin: Pesantren, Lembaga Pencetak Ulama Pembela Bangsa

(Transkip Ceramah KH. Ma’ruf Amin saat #MiladSidogiri280) Keberadaan pesantren sangatlah penting. Pesantren merupakan tempat menyiapkan orang-orang yang memahami agama, pejuang-pejuang di jalan Allah, tokoh-tokoh kebaikan dan tokoh-tokoh perubahan. Oleh karenanya, agar tidak terjadi kekosongan ulama, maka kita perlu menyiapkan kader-kader ulama. Sebab, telah banyak ulama sepuh yang dipanggil oleh Allah. Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW bahwa Allah tidak akan mengangkat ilmu dari seseorang, Allah tidak akan mencabut ilmu dari seseorang, tidak ada ilmu seseorang yang dihilangkan oleh Allah, melainkan Allah akan mengangkat ilmu itu dengan mengambil para ulama. Allah menghilangkan ilmu dari muka bumi yaitu dengan menghilangkan, mewafatkan para ulama. Karena itu, ulama harus tetap ada. Jangan sampai dunia ini kosong dari pada ulama. Sebab, ulamalah yang dapat memberikan arahan, ulamalah yang bisa menuntun, ulamalah yang mampu membimbing masyarakat dan sebagainya, terlebih seperti pada saat sekarang. Karena itu, Nabi Muhammad SAW bersabda, Sesungguhnya keutamaan seorang ahli ilmu di atas ahli ibadah adalah laksana keutamaan bulan purnama di atas seluruh bintang gemilang. Nah, dalam hal ini pesantren mempunyai peran penting. Eksistensi pesantren benar-benar dibutuhkan, terlebih seperti saat sekarang. Hari ini kita menghadapi tantangan-tantangan yang kita hadapi pada saat sekarang. Di antaranya, pertama, adanya gerakan perusakan bahkan pemurtadan. Perusakan yang dilakukan ini dalam rangka merusak tatanan akidah, merusak ajaran akidah dengan munculnya aliran-aliran sesat, seperti munculnya seorang yang mengaku bertemu dengan Malaikat Jibril, munculnya aliran sesat yang disebut Millah Abraham atau Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Kedua, adanya gerakan penyesatan dan perusakan dalam ranah pemikiran. Sekarang ada pemikiran sekular, pemikiran liberal, pemikiran pluralis dan pemikiran-pemikiran lain yang menyimpang dari ajaran Islam Ahlusunah wal Jamaah. Ketiga, adanya gerakan pelemahan. Pada saat ini umat Islam dilemahkan. Politiknya dilemahkan, ekonominya dilemahkan, pendidikannya dilemahkan, karena itu umat Islam disebut ad-Dhu‘afa wal mustad‘afin. Selain itu, pesantren juga merupakan tempat mendidik mujahidin, mendidik para pejuang-pejuang yang tidak hanya membela agama, tapi juga membela bangsa dan negara. Sebagaimana dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Para ulama dan santri rela berjibaku melawan penjajah Belanda dan Jepang demi kejayaan dan kemerdekaan Negara Kesatusan Republik Indonesia. Kebangkitan ulama dan santri inilah yang kemudian menginspirasi lahirnya kebangkitan-kebangkitan nasional yang kemudian melahirkan kemerdekaan Republik Indonesia. Kalau tidak ada penggantinya, tidak ada regenerasinya, maka bisa jadi akan terjadi kekosongan ulama, bisa jadi tidak akan ada orang-orang yang paham agama, bisa jadi tidak akan ada orang yang dapat membimbing umat menuju jalan keselamatan. Maka di sinilah peran pesantren sangat dipentingkan. Kalau sampai tidak ada seorang alim pun, maka orang-orang awam akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh, pemimpin yang tidak paham agama, pemimpin yang tidak tahu ajaran agama, pemimpin yang buta terhadap syariat Islam, yang apabila ditanya mereka akan berfatwa dengan tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.[] ===...

Selengkapnya
BMW Akhir Tahun Jadi Ajang Silaturahmi Alumni
Mei14

BMW Akhir Tahun Jadi Ajang Silaturahmi Alumni

Untuk menambah kemeriahan Milad Sidogiri 280 dan meneguhkan ukhwah, Panitia Milad menggelar acara rutinan Bahtsul Masail Wustha (BMW) khusus alumni Sidogiri dari segala penjuru Nusantara, Senin (14/05). Acara yang berlangsung di depan panggung utama ini berjalan dengan santai dan penuh keakraban. Selain sebagai forum diskusi, acara BMW juga menjadi ajang silaturahmi dengan teman lama. Ada 50 lebih alumni yang diundang untuk mengikuti acara tersebut. Berada di bawah instruksi langsung Pengurus Pusat Ikatan Alumni Santri Sidogiri (PP IASS), Pengurus Wilayah IASS mengutus beberapa alumninya yang mumpuni dalam hal musyawarah dari kota masing-masing. Musyaffak Bisri dan Ustad Sholeh Romli hadir bertindak sebagai mushahhih, didampangi oleh KH. Fakhri Suyuthi (Sumenep) dan Ustadz Baihaqi Juri sebagai notulen. Masalah yang dibahas hanya ada dua pertanyaan; meliputi akidah dan fiqhiyah. Awal mula penciptaan alam semesta (akidah) menjadi topik yang cukup unik dan menarik. Teman-teman alumni membahas masa’il ini dengan lucu. “Awalnya kami anggap ini pertanyaan main-main. Tapi karena yang nanya (sail) Ustadz Baihaqi Juri, ini perlu untuk di-tashawwuri,” ungkap salah satu alumni dari Jember yang mengikuti acara musyawarah itu. Ustadz Baihaqi Juri sebagai sail kemudian menjelaskan bahwa dia sempat bercerita kepada Ustad Shofi (Wakil II Kuliah Syariah) yang membawahi masalah musyawarah. “Saya dulu bertanya kepada Kiai Nawawi (Pengasuh PPS), tentang kapan diciptakannya alam semesta ini,” aku Pak Baihaqi, sapaan akrab Ustdaz Baihaqi Juri, kepada para alumni. Kiai, lanjut beliau, menjawab bahwa ini pertanyaan anak-anak Ibtidaiyah, bukan Aliyah (kiai tidak memperkongkret jawaban). “Ternyata sama Pak Shofi diangkat jadi pertanyaan forum,” lanjut Pak Baihaqi diiringi tawa para alumni. Usul agar pertanyaan ini dimauqufkan datang dari beberapa alumni dan bahkan dari Pak Baihaqi sendiri. “Kalau memang mau dimauqufkan, ya dimauqufkan aja. Tapi sebelumnya saya ingin tahu, apa jawaban dari KH. Musyaffak Bisri,” lanjutnya. Musyaffak kemudian mengatakan, “Kalau saya diminta untuk menjawab, maka akan saya wakilkan kepada Ustadz Sholeh Romli saja,” Kata beliau diiringi tawa musyawirin. Ustadz Sholeh ternyata juga sama. “Saya gak bisa jawab, karena yang bertanya ini senior saya…” ungkapnya, lagi-lagi membuat musyawirin tertawa. Namun, beliau kemudian menjelaskan bahwa pertanyaan ini perlu dikerucutkan lagi. “Alam yang mana yang dimaksud (Alam Dunia, Malakut, Jabarut, dll). Kalau sudah ditentukan mungkin nanti lebih mudah, karena sail (Pak Baihaqi) meminta dalil yang ‘aqliah (logis), bukan ta’biriyah.” Ungkapknya kemudian.[] ==== Penulis : Ali Imron Editor   : Muh Kurdi...

Selengkapnya
Dua Perwakilan MMU Tingkat Tsanawiyah Sabet Juara Lomba Baris
Mei13

Dua Perwakilan MMU Tingkat Tsanawiyah Sabet Juara Lomba Baris

Lomba baris-berbaris yang dilaksanakan pada Sabtu pagi (13/05) kemarin, menuai sambutan meriah dari para penonton. Lomba baris ini diikuti oleh enam tim perwakilan dari Madrasah Miftahul Ulum (MMU) tingkat Tsanawiyah, Ibtidaiyah, dan Idadiyah Takhassus. Para peserta lomba mulai berbaris dari depan pentas utama, kemudian belok kearah barat dan berakhir di lapangan baru sebelah barat bazar kuliner. Panitia memilih lapangan baru sebagai lokasi sebagai tempat atraksi formasi barisan karena lapangan sebelah barat MMU as-Suyuthi dipenuhi oleh terop yang sedang dalam proses pemasangan. Adalah Ust. Abd. Qodir Ghufron, Kepala Madrasah Aliyah dan Ust. Zaini Syarbini, Wali Kelas III Tsanawiyah yang bertindak menjadi juri dalam perhelatan lomba ini. Tiga urutan pertama yang dipersilakan untuk unjuk kebolehan adalah kelas Takhassus E, kemudian disusul Takhassus O, dan kelas 3-A Tsanawiyah. Takhassus E tampil dengan ikat kepala dari pita merah putih, sedangkan Takhassus O tampil dengan memakai sepatu seragam berwarna hitam merah dan hitam biru. Adapun kelas III-A tampil dengan memamerkan formasi berbentuk logo milad 280. Sedangkan peserta yang terakhir kali tampil dalam acara lomba baris ini adalah kelas III-I, salah satu perwakilan dari Madrasah Tsanawiyah. Berdasarkan hasil pengumuman, juara baris-berbaris ini berhasil diraih oleh dua utusan dari Madrasah Tsanawiyah, yaitu kelas III-A dan kelas III-I. Pengumuman kejuaraan ini dilaksanakan pada malam pembagian hadiah, malam Ahad (14/05). Saat ditanya tentang persiapan secara intensif, baik kelas III-A maupun kelas III-I mengaku hanya memiliki sedikit waktu. “Latihan kami hanya seminggu, tapi Alhamdulillah bisa memberikan hasil yang memuaskan.” Kata Miftahussurur, danton kelas III-A. “Kami juga sudah sowan ke Kiai Fuad, Beliau berpesan agar tetap menjaga konsentrasi dan kekompakan. Yang jelas, beliau sangat mendukung tentang final lomba baris-berbaris ini.” tambah Ali Murtadlo, wakil danton III-A. Sementara salah satu murid kelas III-I, ia ingin kemenangan ini bisa membahagiakan wali kelas masing-masing dan mempererat persaudaraan antara III-I dan III-A. Pernyataan senada juga di ungkapkan oleh Mas Kamil Mustofa, ketua kelas III-A. “Tujuan kami ingin membahagiakan Kiai.” Pungkas beliau.[] === Penulis : Sabiqun Niam Editor  : Muh Kurdi...

Selengkapnya
Wisuda 5 Idadiyah: Hanya 969 Wisudawan, Kualitas Lebih Memuaskan
Mei12

Wisuda 5 Idadiyah: Hanya 969 Wisudawan, Kualitas Lebih Memuaskan

Dengan mengusung konsep meyakinkan wali santri, para masyayikh dan audien, bahwa program unggulan Tarbiyah Idadiyah Al-Miftah Lil Ulum telah melahirkan banyak teman-teman santri yang berkualitas dalam membaca, memaknai, dan memahami kitab. Acara Prosesi Wisudawan Idadiyah yang ke-5 ini sukses digelar dengan cukup meriah di lapangan barat Mabna as-Suyuthi, Jumat malam Sabtu (12/05). Ada 969 murid Tarbiyah Ida-diyah yang berhasil lulus di-wisuda pada tahun ini. Jumlah ini lebih sedikit dari tahun ke-marin yang berjumlah 1190 orang. Meskipun lebih sedikit, kualitas yang ada jauh lebih mumpuni dari tahun-tahun se-belumnya. “Di sini kami terus mencoba untuk meningkatkan kualitas murid Idadiyah yang ada. In-syaallah, wisudawan tahun ini lebih unggul dan memuaskan. Walau banyak gak lulus itu karena banyaknya anak didik yang sakit,” Ungkap HM. Aminullah Bq, Ketua I Pondok Pesantren Sidogiri dalam sambutannya. Acara yang biasa dilaksanakan di siang hari ini menjadi sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, karena untuk tahun ini dilaksanakan di malam hari. Alasan yang paling kuat adalah karena ada instruksi langsung dari Katib Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Mas d. Nawawy Sadoellah. Sebelum acara dimulai, para wisudawan diarak dengan tabuhan Ishari dari Kantor Idadiyah, melewati jalur Balai Tamu ke selatan, dan muncul dari gerbang selatan lapangan. Lantas, acara dimeriahkan dengan lagu mars Idadiyah yang diwarnai dengan pelepasan balon. Setelah tampilan ini, lantunan ayat suci al-Quran mengalir merdu. Kemudian, HM. Aminulloh Bq. Ketua I Pondok Pesantren Sidogiri dengan didampingi Uts. H. Hudhori Abdul Karim, Kepala Batartama dan Ust. Qusairi Ismail, Koordinator Idadiyah, meresmikan prosesi acara wisuda yang sangat ditunggu-tunggu oleh wali santri ini yang hadari dalam acara tersebut, terutama bagi mereka yang kebetulan putranya akan diwisuda. Sesi demonstrasi massal kemudian berjalan dengan seru. Tampilan demonstarasi massal yang dibagi menjadi 8 sesi ini semakin memperlihatkan betapa lugas dan tanggapnya murid-murid Tarbiyah Idadiyah yang diwisuda dalam menjawab berbagai pertanyaan seputar kitab, nahwu-sharfiyah dan yang lain. Semua ini memberikan kesimpulan bahwa harapan dewan guru dan panitia acara terlaksana dengan baik dan memuaskan. Selain puasnya melihat penampilan ini, wali santri dan semua audien kemudian dibuat terharu dengan penampilan Senandung Wisuda, yang mengalun begitu merdu dan sendu. Dua penampilan ini disetting sedemikian seru dan hebat, karena dua penampilan ini memang dijadikan ruh yang diharapkan bisa menghidupkan dejavu audien yang hadir dalam Prosesi Wisudawan Id-adiyah ke-5 ini. “Yang penting itu acara Demonstrasi Massal. Tapi yang paling penting adalah senandung Wisudawan,” aku Ustadz Ridwan saat ditemui sela acara.[] Penulis : Ali Imrom Editor   : Muh Kurdi...

Selengkapnya