Kursus Metode Al-Miftah Ramadhan Resmi Dibuka
Mei13

Kursus Metode Al-Miftah Ramadhan Resmi Dibuka

Sehubungan akan dimulainya kegiatan kursus al-Miftah lil Ulum Ramadhan 1439 H, Panitia Penyelenggara kursus menggelar Grand Opening di halaman Kantor Sekretariat, Senin (13/05). Antusias peserta tampak ketika ustadz Qusyairi Ismail, kreator metode al-Miftah lil Ulum, menyampaikan harapannya terkait metode tersebut, yaitu menciptakan penghafal kitab sejak dini. Pun, sebagaimana yang dijelaskan santri kelahiran Sampang ini, bahwa metode al-Miftah lil Ulum tidak hanya metode cepat memahami ilmu Nahwu saja, melainkan ada beberapa disiplin ilmu yang juga diterapkan. “Selain al-Miftah Nahwu, juga ada Balaghah, Arud, Faraid, bahkan saat ini sedang membuat metode cepat menghafal al-Quran dan mempelajari Qiraan Sab’ah-nya,” jelas Koordinator Tarbiyah Idadiyah bersemangat. Sementara itu, Ustadz Nurul Yakin, salah satu panitia kursus, berkomentar bahwa kegiatan kursus ini memberi kesempatan bagi santri yang tidak mondok di Sidogiri untuk  juga ikut belajar metode tersebut. Menurutnya hal ini tidak boleh disia-siakan. “Sehingga nanti juga bisa menyebarkan ilmunya. Salah satu tujuannya, ya, itu, agar santri dari pondok pesantren lain juga bisa belajar metode al-Miftah lil Ulum” jelas beliau sembari tersenyum. ==== Penulis: Ach Mustaghfiri Soffan Editor  : N. Salihin...

Selengkapnya
Kursus Al-Miftah Ramadan
Mei07

Kursus Al-Miftah Ramadan

      Pelajar Putra ▪Rp. 550.000 tanpa makan ▪Rp. 750.000 include buka dan sahur Pengajar Putra ▪Rp. 350.000 tanpa makan ▪Rp. 450.000 Include makan buka dan sahur Pelajar Putri ▪Rp.650.000 include makan buka sahur Note: 1. Putri tidak ada kelas pengajar_ 2. Peserta purti wajib dekos karena aturannya putri tidak boleh keluar dari lokasi. Isi kolom pendaftaran formulir di bawah ini: Form...

Selengkapnya
Mas d. Nawawy Sadoellah; Santri Tidak Pernah Mengkhianati NKRI Part#2
Mei04

Mas d. Nawawy Sadoellah; Santri Tidak Pernah Mengkhianati NKRI Part#2

  Sudah jamak kita saksikan, bahwa saat menjelang pemilu, pilpres atau pilkada, para politisi hyper aktif merangkul para ulama, berpenampilan religius, mendatangi majelis-majelis taklim dan jamiyah. Tapi, ketika pemilu sudah selesai, mereka justru menjadi inisiator kebijakan-kebijakan yang berlawanan dengan ajaran agama, mendukung kegiatan-kegiatan maksiat, membela penodaan agama, mempropagandakan pikiran-pikiran yang sekuler, dan menghancurkan sendi-sendi gerakan umat Islam. Semoga di negeri kita ini tidak ada partai politik yang seperti itu. Kalau ada, maka sudah semestinya kita istighatsahi dengan Hizib Nashor supaya cepat hancur dan bubar. Kita tahu dari sejarah para leluhur kita, bahwa para panglima dan perwira santri selalu muncul di garda terdepan perjuangan kemerdekaan bangsa kita tempo dulu, dengan berdarah-darah dan mempertaruhkan nyawa. Seandainya, saat ini ada pasukan asing datang ke sini untuk menjajah, maka sudah pasti kita akan turun gunung untuk mengangkat senjata, seperti yang terjadi di Surabaya pada tanggal 10 Nopember 1945 itu. Begitulah para panglima santri! Oleh karena itu, sungguh sangat lucu jika ada panglima santri, hanya muncul dengan tiba-tiba menjelang pemilu. Itu merupakan anomali yang sangat jauh dari mainstream kaum pesantren. Sejarah kaum pesantren lebih memilih medan perang untuk mengusir penjajah, daripada medan politik untuk menguasai bangsa sendiri. Kenapa? Karena medan perang mendorong kita untuk memberi, memberi dan memberi kepada negeri ini, sementara medan politik cenderung menumbuhkan hasrat kita untuk memburu dan mencari keuntungan darinya. Medan perang menumbuhkan jiwa-jiwa patriot yang herois, sedangkan medan politik cenderung menumbuhkan jiwa-jiwa pragmatis yang hedonis. Dalam bernegara, kita kaum santri memiliki dua pilihan yang sama-sama baik. Jika kita bisa dan mampu untuk mengabdi dengan baik, serta mantap dan yakin bisa membendung godaan, maka silahkan terjun ke dunia politik atau birokrasi, dengan senantiasa menjaga muru’ah dan akhlak santri, istikamah dalam mematuhi aturan-aturan agama, serta teguh dalam memegang tujuan-tujuan mulia yang diajarkan oleh para Masyayikh. Jika kita tidak bisa, maka marilah kita menjadi rakyat biasa saja. Rakyat yang patuh menjalani ajaran agama, tekun salat berjamaah, seraya berdakwah dan menyebarkan kebaikan melalui pesantren, madrasah, musolla, majelis taklim dan lain sebagainya. Menjadi rakyat yang mandiri, berguna bagi masyarakat, tidak menjadi beban bagi negara, serta patuh terhadap hukum dan undang-undang yang berlaku. Dalam slogan kaum santri disebutkan, “Jadilah pemimpin yang mampu dan adil, atau rakyat yang patuh dan setia. Jangan sampai menjadi selain itu!” Baiklah, sekian dari kami. Semoga bermanfaat. Selamat Milad Pondok Pesantren Sidogiri yang ke-281 & Ikhtibar Madrasah Miftahul Ulum yang ke-82! Di bawah tajuk “Beragama, Bernegara, dan Berbangsa!” Semoga ada manfaatnya bagi kita semua dan segenap bangsa Indonesia, terutama dalam hal membangun kehidupan beragama, kehidupan berbangsa, kehidupan bermasyarakat dan kehidupan bernegara kita, agar lebih sesuai dengan nilai-nilai keislaman yang benar dan lurus, nilai-nilai kebangsaan yang damai dan tenteram, serta nilai-nilai kenegaraan...

Selengkapnya
Bahtul Masail Wustha; Bahas Jamaah Tabligh
Mei04

Bahtul Masail Wustha; Bahas Jamaah Tabligh

Bahtsul Masail Wustha (BMW) ke-56 bahas tuntas pedomanpokok Jamaah Tabligh. Asilah dilontarkan oleh alumni Pondok Pesantren Sidogiri, yang berasal dari Kokop, Bangkalan: Ust. Mukhtar Syafa’at. “Sampai sekarang, saya tidak memiliki ADART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) yang diakui oleh semua kalangan Jamaah Tabligh. Yang paling pokok, dan sudah saya konfirmasi ke pusat Jamaah Tabligh, mereka mengakui bahwa mereka mengharuskan khurûj dan hal ini diperoleh dari penafsiran Syaikh Muhammad Ilyas al-Kandahlawi mengenai kuntum khaira ummatin. Untuk itu, hal tersebut yang kami buat deskripsi masalah pada BMW kali ini,” ujar Ust. Mukhtar Syafa’at, sâil BMW ke-56 kepada salah-satu reporter Kabar Ikhtibar. Pembahasan pun berlanjut damai, yang dimoderatori oleh Ust. Nahdlor Tsana’i. Hadir sebagai Mushahhih KH Musyaffa’ Bisri. Sedangakan dewan perumus, KH Fakhri Suyuthi, Ust. Sholeh Romli, Ust. Baihaqi Juri. Sempat terjadi silang pendapat antara perumus saat Ust. Baihaqi Juri memaparkan sebuah rumusan, “Mengenai penafsiran kuntum khaira ummatin dijadikan rujukan konsep khurûj Jamaah Tabligh, ini kita sudah sepakat salah. Akan tetapi, jika terlepas dari penafsiran ayat tersebut, khurûj Jamaah Tabligh tidak bermasalah,” ringkas, Ust. Baihaqi Juri, perumus BMW ke-56, dari hasil bahtsul masail. Akan tetapi KH. Fakhri Suyuthi menyarankan agar penyampaian dari hasil BMW harus lebih halus. Agar terhindar dari sesuatu yang tidak diinginkan. “Jika kita langsung menyalahkan konsep khurûj tersebut, eman kepada nama baik Sidogiri. Bisa-bisa, keputusan ini (penyalahan terhadap konsep khurûj, red) langsung viral di masyarakat,” pesan KH Fakhri Suyuthi, salah-satu perumus BMW ke-56. Semenit kemudian, Ust. Shaleh Romli menambahkan, “Kesimpulan kasarnya, dalam pembahasan ini dapat disimpulkan kesalahan pertama adalah: Jamaah Tabligh mewajibkan khurûj kepada semua kalangan, padahal latarbelakang kewajibannya sendiri (amar makruf, red) saja harus ‘alima dan tahaqquq akan terjadinya kemungkaran. Jika tidak, maka kita dilarang untuk mencarinya (tajassus, red). Kesalahn kedua, mereka meyakini bahwa ayat kuntum khaira ummatin dijadikan dalil adanya khuruj,” timpal beliau. Setelah dewan perumus menyimpulkan, moderator memberikan waktunya kepada mushahhih. “Yang perlu ditekankan di sini adalah: jangan mencampuradukkan antara konsep ta’allum wa ta’lîm dengan amar makruf nahi mungkar. Konsep amar makruf nahi mungkar harus nyata ada kemungkaran, beda halnya dengan ta’allum wa ta’lîm. Dan, ini masih pedoman pokoknya Jamaah Tabligh, sedangkan hal lainnya kita bahas di grup yang akan kita buat sekarang. Al-Fatihah!” Pungkas KH Musyaffa’ Bisri selaku mushahhih BMW ke-56. ===== Reporter: Muhammad ibnu Romli Editor: Ali...

Selengkapnya
Tetesan Air Mata di Malam Wisuda
Mei03

Tetesan Air Mata di Malam Wisuda

Panggung wisuda kemarin malam (17/8) melibatkan sekian wisudawan dariberbagai kategori. Mulai dari wisuda Tahfizh al-Quran, al-Miftah, Bulughul-Maram, Zubad, Alfiyah Ibnu Malik, ‘Imrithi hingga Maqsud. Kekompakan mulai nampak saat senandung musik dilantunkan bersama, tanpa pemilahan kategori. Dari sl ogannya saja, “Wisuda Bersama Milad 281” sudah nampak sensasinya. “Selain karena keterbatasan waktu, yel-yel yang dinyanyikan serentak akan mengundang sensasi kekompakan yang mendalam dari wisuda yang berlatar-belakang berbeda.” Ujar Ust. Jihad Ramadan, tim kreatif wisuda. Selain senandung, acara ini dilengkapi dengan adanya atraksi tim bambu runcing. Dengan bergaya film ‘kera sakti’, pertunjukan ini memakan perhatian dari segenap penonoton. “Saya kagum dengan pertunjukan tadi. Kayak lihat film di televisi aja!” Komentar salah-satu penonton dengan terkagum-kagum. Acara wisuda juga dihangatkan dengan adanya pengalungan serban dari Majelis Keluarga Sidogiri, KH. Fuad bin Noerhasan. Hal ini dikhususkan kepada segenap wisuda al-Quran dan wisudawan terbaik dari masing-masing kategori. Tak ayal, hadirin yang terdiri dari wali santri terharu saat menyaksikan season tersebut. “Bagaimana bisa menahan jatuhnya air mata ini, jika melihat anakku dikalungi serban oleh kiai.” Aku salah satu wali santri yang tidak mau disebutkan namanya sambil terisak. Tidak hanya itu, acara ini juga mencakup demonstrasi dua anak yang terpilih dari masing-masing kategori. Agar demonstrasi ini terkesan jujur, “Kami dari Daerah O mengutus dua anak yang tangkas untuk mewakili semua wisudawan Daerah O. Dan, demonstrasi ini kami buat sejujur-jujurnya untuk membuktikan kualitas program tahfidz Sidogiri kepada wali santri.” Pungkas Ust. Rizal selaku panitia wisuda. Diawali dua orang dari perwakilan  Daerah O, kemdian disusul dengan kelas khusus Idadiyah yang demonstarinya langsung dipimpin oleh KH. Muhib Amman Aly. Setelah itu baru kemudian dari Idadiyah. Kesedihan pun muncul saat ada salah satu anggota demonstran didatangi ayahnya. Pasalnya, ibunya meninggal. Kala itu, tak sedikit dari wali santri yang juga meneteskan air mata. ===== Reporter: Muhammad ibnu Ramli Editor: Ali...

Selengkapnya
Mas d. Nawawy Sadoellah; Santri Tidak Pernah Mengkhianati NKRI Part#1
Mei01

Mas d. Nawawy Sadoellah; Santri Tidak Pernah Mengkhianati NKRI Part#1

  Alhamdulillah, segenap puja dan puji untuk Allah, yang telah memberikan anugerah tak terhitung kepada kita semua. Alhamdulillah, hingga saat ini, hingga tiga abad berlalu, Allah senantiasa menjaga pesantren kita ini dari berbagai godaan tipu daya. Semoga Allah berkenan untuk terus mengokohkannya sebagai benteng Ahlusunah wal-Jamaah hingga akhir sejarah nanti. Shalawat dan salam untuk Rasulullah Muhammad shallalahu alaihi wasallam, Nabi Agung yang telah mendedikasikan segalanya untuk keselamatan umat yang sangat beliau cintai. Semoga kita semua bisa berteduh di bawah bendera syafaat beliau dan melepas dahaga dari telaga bening beliau dalam kehidupan abadi kita nanti. Amin ya Rabbal Alamin. Saudara-saudara santri yang dirahmati Allah, Milad ke-281 Pondok Pesantren Sidogiri ini merupakan momen yang sangat istimewa bagi kita semua, karena kita sedang berupaya menyampaikan pesan kepada seluruh bangsa Indonesia atau bahkan dunia, bahwa pandangan hidup pesantren merupakan falsafah terbaik untuk mengatasi berbagai problem sosial-kemasyakatan kita saat ini dan sampai kapanpun. Nilai-nilai utama kaum pesantren seperti spiritualitas, keteguhan prinsip, kebersahajaan, kejujuran, ketulusan dan kebeningan hati merupakan kunci dari segala ketenteraman dalam hidup ini. Munculnya angkara murka, kebejatan, kejahatan, kedurjanaan dan kezaliman merupakan akibat dari hampanya nilai-nilai tersebut dalam diri umat manusia. Dalam momen Milad ke-281 ini, kita hendak menegaskan kembali tiga hal pokok tentang nilai kehidupan orang-orang pesantren dalam mencapai kebahagiaan dunia-akhirat. Yaitu, tentang bagaimana kita dalam beragama, bagaimana kita dalam berbangsa, dan bagaimana pula kita dalam bernegara. Agama adalah asas dan pedoman final kita yang tidak bisa digantikan atau diubah oleh landasan dan dasar apapun. Dalam beragama kita memegang teguh kehati-hatian dalam berbagai hal. Segala urusan, baik yang bersifat ritual maupun sosial, kita kembalikan kepada al-Quran dan Hadis, berdasarkan penafsiran dan rumusan yang dibuat oleh para ulama yang kompeten, baik dalam masalah-masalah akidah, syariat, maupun akhlak dan tasawuf. Kita mengikuti rumusan ulama-ulama mu’tabar yang mewakili pandangan mayoritas umat Islam, bukan tokoh-tokoh sempalan yang fanatik terhadap satu dalil seraya menendang ribuan dalil yang lain. Kita mengikuti ulama-ulama yang warak, zuhud dan ahli mujahadah, bukan tokoh-tokoh yang hanya lihai berargumentasi dan bersilat lidah. Kita mengikuti ulama-ulama yang luar biasa mumpuni, menguasai puluhan disiplin ilmu sebelum menyimpulkan satu hukum. Menghafal dan menyeleksi ribuan Hadis sebelum  menetapkan dalil. Berkelana dari satu guru ke guru yang lain sebelum berijtihad. Kita tidak mengikuti tokoh-tokoh instan yang sudah berlagak menjadi mujtahid, meskipun belum menguasai ilmu tajwid. Kita menghormati seluruh sahabat Nabi sebagai generasi terbaik umat ini, orang-orang yang paling berjasa dalam perjuangan Islam. Kita tidak seperti orang-orang Syiah yang memuja satu-dua sahabat, seraya memaki ribuan sahabat yang lain. Kita menghormati seluruh ulama, dan menganggap perbedaan pendapat mereka adalah buah dari hasil ijtihad yang harus sama-sama kita hormati. Kita tidak seperti aliran-aliran sempalan yang fanatik terhadap satu-dua ulama, lalu...

Selengkapnya