Biaya Administrasi Sidogiri Diwajibkan Menggunakan Kartu E-MAAL
Agu18

Biaya Administrasi Sidogiri Diwajibkan Menggunakan Kartu E-MAAL

Tercatat sejak (25/10/39) dalam rangka memenuhi kebutuhan santri, Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri membuat undang-undang baru terkait administrasi santri. Aturan tersebut berupa kewajiban santri menggunakan Kartu e-maal disetiap pembayaran yang berkaitan dengan kebutuhan santri setiap harinya. Langkah ini diambil dalam rangka mempermudah santri dan wali santri dalam mengatur biaya hidup. Beda halnya dengan uang tunai yang harus bolak-balik ke ATM untuk mengambil uang. Untuk prosedur pembuatan kartu bisa dilakukan di semua cabang toko Basmalah, wali santri bisa melakukan  top-up saldo di toko Basmalah terdekat. Selain memenuhi kebutuhan santri, kartu ini juga bisa digunakan untuk semua pembayaran yang berkenaan dengan Iuran santri seperti; Ianah Maslahah, surat salinan dll. “Agar bisa praktis dan cepat. Untuk yang berkaitan dengan admnistrasi tinggal menyebutkan No. Induk Santri  (ID). selepas membayar , wali santri akan mendapatkan slip pembayaran. Slip tersebut diserahkan kepada petugas pelayanan admininstrasi di Kantor Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri,” Ucap Nanang Qosim, staf pelayanan kantor Skretariat “Masih sering dijumpai, selesai transaksi pembayaran slip yang di wali santri tidak disetorkan, bahkan sampai ada yang mengaku hilang. Akibatnya, administrasi yang seharusnya lunas jadi tidak lunas karena tidak menyetorkan slip transaksi, padahal slip itu sebagai tanda bukti,” lanjut Nanang Qosim. Pengurus menekankan program ini terealisasi dengan cepat dan baik, bahkan pada ajaran tahun mendatang semua sistem pembayaran termasuk pembayaran makan di koperasi dan lain sebagainya menggunakan kartu e-maal. Tidak jauh beda dengan pernyataan Ust. Abror, untuk tahun depan seluruh kegiatan pembiayaan dan administrasi wajib menggunakan e-maal. “Untuk tahun mendatang, Insya Allah semua sistem pembayaran di Pondok Pesantren Sidogiri diharuskan menggunakan kartu e-maal, baik yang berkaitan dengan administrasi pesantren atau kebutuhan sehari-hari,”  jelas Ust. Abror, staaf pelayanan disela-sela kesibukannya. ===== Penulis: A. Farid Muflihin Editor: N. Shalihin bin Damiri...

Selengkapnya
Warnai HUT RI dengan Gelak Tawa Santri
Agu17

Warnai HUT RI dengan Gelak Tawa Santri

Ada banyak cara yang dilakukan masyarakat dalam memperingati kemerdekaan Republik Indonesia, tak terkecuali Pondok Pesantren Sidogiri yang merayakan kemerdekaan dengan tahlil, yasin, upacara pengibaran bendera dan aneka macam lomba. Baca Juga: Merah Putih Di Atas Sarung Hijau Santri Ada berbagai macam perlombaan yang cukup menarik, di antaranya: lomba sulur sarung, tarik sarung, balap sarung dan helm sarung. Di antara berbagai lomba yang sangat diminati oleh para santri yaitu lomba “helm sarung”, lomba ini dilaksanakam di halaman Daerah M mampu mengundang gelak tawa santri. Baca Juga: Sambut Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 dengan Pembacaan Yasin dan Tahlil Pasalnya para peserta dari masing-masing daerah di ambil yang kecil dengan syarat usia 10-an kebawah, tubuh kecil tersebut dibalut dengan sarung di keseluruhan badannya serta menggunakan “helm”. ketika lomba dimulai terlihat tingkah lucu dari peserta lomba membuat para penonton tertawa. Dengan tubuh mungil yang sulit untuk bergerak itu disuruh lari      balapan dengan saingannya, “Sulit sekali untuk bergerak, saya yang mau lari jadi malu karena takut di tertawakan oleh para santri, ” kataUsman peserta lomba. Para santri yang menengok lomba tidak bisa menahan tawanya, lebih-lebih disaat kedua peserta lomba berbenturan saat bertemu di area jalannya lomba. “Saya sendiri tidak bisa menahan tawa, sangat lucu sekali. Hiburan ini sangat cocok dengan aktifitas santri yang padat, lebih-lebih merayakan HUT RI. Sangat bahagia,” jelas Arifin penonton yang tidak bisa menahan gelak tawa sejak awal pertandingan. ===== Penulis: A. Farid Muflihin Editor: N. Shalihin...

Selengkapnya
Merah Putih di Atas Sarung Hijau Santri
Agu17

Merah Putih di Atas Sarung Hijau Santri

    “Tidak terhitung berapa banyak nyawa pahlawan dan tetes darah yang sudah dibabat habis oleh Para Pahlawan untuk membela bangsa. Dan tidak terhitung juga berapa banyak harapan dan doa yang mereka lontarkan bagi masa depan Indonesia. Upacara semacam ini merupakan bentuk cinta kita kepada kedaulatan Indonesia. Bentuk syukur kita terhadap keberhasilan yang dicapai bangsa Indoneia.” Laporan: M Afifur Rohman Mata hari pagi tampak pucat menggantung rendah di timur bumi Sidogiri, Sinarnya tepantul masuk ke bilik-bilik permukiman santri, menghadirkan bayangan panjang melintasi gedung tinggi al-Ghazali. Pagi itu seolah-olah memancarkan atmosfer perayaan yang belum ada dalam acara sebelumnya. Jam digital yang sudah lama berkedip menunjukkan pukul 05.28 Wis. Tampak dari kejauhan, santri berjalan, bergerombol, membentuk barisan dengan memakai sarung hijau dan takwa koko serta bersongkok putih muncul dari arah barat, selatan. Bersatu padu walaupun tanpa komando, diiringi dengan gumpalan-gumpalan debu yang beterbangan, seakan peperangan besar akan segera dimulai. Tepat pukul 05.40 WIS seluruh santri, Pengurus Harian, Majlis Keluarga sudah memadati lapangan olahraga desa Sidogiri. Suara gumelegar Sound System bermerek Salsa menjadi warna tersendiri dari acara tersebut. Disisi depan petugas keamanan tampak sibuk dengan penertiban lalu lintas. “Semua santri agar tertib dan menempati di kelasnya masing-masing, dan jangan berebut,” intruksi dari pihak keamanan. Mulainya acara ditandai dengan masing-masing pemimpin barisan menyiapkan barisan. Dilanjutkan dengan masuknya pemimpin upacara menuju tengah lapangan. Dan peserta diambil alih oleh Pemimpin Upacara. Suasana khidmat terasa ketika Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) mulai memasuki lapangan upacara, semua hadirin diminta untuk berdiri. Selepas itu, lantunan lagu Indonesia raya diringi musik instrumen mulai menggema. “Ini pemandangan yang luar biasa. Kekompakan antara santri, pengurus, keluarga dan pihak pemerintah sangat terasa. Mereka kompak jadi satu di sini dan mudah untuk mengaturnya,” ujar Saifuddin TNI Angkatan Darat, yang menjadi pelatih dari tim Paskibra Sidogiri Jumat, 17-08-2018. Acara terus berlanjut dengan mengheningkan cipta yang dipimpin oleh Pembina Upacara (Ust. Saifulloh Muhyidin), pembacaan UUD 1945 oleh Bendahara Umum (Mas Ahmad Sa’dollah) pembacaan teks proklamasi oleh Sekretaris Umum  (Saifulloh Naji). “Pelaksanaan upacara bendera ini dalam rangka mengenang jasa para pahlawan kemerdekaan Indonesia dan menghormati pengorbanan mereka, berkat para pahlawan kita bisa menikmati hidup tentram dan damai di negara kita Indonesia. Pengibaran bendera ini merupakan bentuk cinta dan komitmen kita terhadap negara kesatuan Indonesia yang dibangun di atas darah dan nyawa para pendahulu kita. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya,” teks amanat yang dibacakan oleh Ust. Saifulloh Muhyidin. “Acara ini bukan hanya bentuk formalitas saja. Tapi ini bentuk syukur kita, rasa bahagia kita dan rasa takdzim kita terhadap para petahana bangsa. Kita berharap, Semoga bangsa Indonesia terus diberikan kedamaian dan kesejahteraan, Amin.” Tegas Sekretaris Umum Pondok Pesantren Sidogiri Ust. Saifulloh Naji, saat ditemui redaksi Sidogiri.Net. Acara...

Selengkapnya
Sambut Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 dengan Pembacaan Yasin dan Tahlil
Agu16

Sambut Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 dengan Pembacaan Yasin dan Tahlil

Asri: Pemandangan Ketika Pengurus Harian Pondok pesantren Sidogiri dan seluruh santri berkumpul dilapangan dalam acara pembacaan tahlil dan yasin untuk pahlawan bangsa. Sebelum memperingati Hari Kemerdekaan yang ditandai dengan upacara pengibaran bendera pada 17 Agustus besok, Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) biasa menggelar pembacaan yasin dan tahlil yang dihadiahkan kepada para pahlawan yang telah berjuang untuk memerdekakan Indonesia. Tahun ini, pembacaa yasin dan tahlil dilaksanakan pada malam Kamis (16/08), di lapangan baru Pondok Pesantren Sidogiri. Kegiatan ini dihadiri oleh beberapa Pengurus Harian Pondok Pesantren Sidogiri; antaranya adalah Mas Aminulloh Bq, Ketua I, Ustaz Saifullah Muhyiddin, Ketua II, dan Ustaz Saifulloh Naji, Sekretars Umum; kepala madrasah dari berbagai jenjang beserta beberapa staf pengajar MMU (Madrsah Miftahul Ulum). “Kegiatan ini, merupakan ucapan terimaksih kita kepada para Syuhada, pahlawan kemerdekaan Republik Indonesia yang telah mengorbankan segalnya; harta, nyawa, genangan darah, untuk mendapatkan Kemerdekaan Indonesia,” ujar Ustaz Saifulloh Naji dalam sambutannya. Kegiatan pembacaan tahlil ini, merupakan sebagian dari berbagai kegiatan yang akan diselenggarakan untuk menyambut Kemerdekaan RI ke-73, sedangkan beberapa macam kegiatan yang lain, akan dilaksanakan keesokan harinya, seperti upacara pengibaran bendera merah putih juga berbagai macam lomba agustus-an. ===== Penulis : Ach Mustaghfiri Soffan Editor   : N. Shalihin...

Selengkapnya
#NgajiMaring Mas. H. Sholeh Abdul Haq
Agu15

#NgajiMaring Mas. H. Sholeh Abdul Haq

Tugasnya guru tugas itu untuk membantu madrasah di tempatnya bertugas. Bagaimana sekiranya dengan adanya guru tugas dari Pondok Pesantren Sidogiri, kegiatan belajar mengajar bisa terlaksana dengan lancar. Tidak ada kelas yang kosong, kegiatan-kegiatan yang kosong. Dengan adanya pengiriman guru tugas inilah, kegiatan madrasah-madrasah bisa terlaksana dengan baik sesuai yang telah diprogramkan di madrasah tersebut.Kalau kegiatan madrasah sudah dilaksankan dengan baik, terus menerus secara rutin, maka nanti hasilnya akan baik. Jadi ini pada intinya. Di samping guru tugas itu harus menjadi uswah hasanah di dalam melaksanakan kegiatan dan pengamalan hukum-hukum keagamaan.  Karena itu memang tugas mereka. Mengajar, mengamalkan ilmu dan memberi contoh uswah hasanah. Baca Juga:  Menjaga Niat dalam Menuntut Ilmu Baca Juga: #Ngaji Maring KH. Foad Noer Hasan Kata Wakil Ketua Umum PPS, Mas d. Nawawy Sadoellah, guru tugas itu jendela Sidogiri. Untuk mengetahui keadaan di Sidogiri, cukup melihat pada guru tugas. Guru tugas itu jadi jendela bagi mereka untuk bisa melihat, bagaimana Sidogiri. Kalau guru tugas itu akhlaknya bagus, maka Sidogirinya sudah dianggap bagus. Karena guru tugas itu jadi jendela. Guru tugas yang mengamalkan semua kebaikan-kebaikan yang didapat di pesantren, seperti memberi uswah pada murid dan masyarakat, mengamalkan ilmu agama, semacam shalat dhuha dan tahajjud. Jadi kalau dari segi itu mereka sukses, maka mereka dianggap sukses dalam menjalankan tugasan. Kalau ternyata mereka menyalahi tata tertib, tidak memberi contoh uswah hasanah, maka bisa jadi mereka tidak lulus, otomatis tidak sukses. Ada tiga mashlahah yang ingin dicapai, yaitu mashlahah kepada guru tugas, kepada tempat tugas dan kepada PPS. Guru tugas yang bertugas dengan baik, mereka bisa mengerti bahwa mereka sedang berkhidmah, membaca kekurangan diri, mengembangkan ilmunya dan di samping dia juga bisa bertambah mendapat ilmu bermasyarakat. Sedangkan bagi tempat tugasnya, madrasah di sana bisa merasakan manfaat dengan kedatangan guru tugas, juga bisa mendapat tambahan tenaga. Sebab di madrasah-madrasah di luar sana sedikit sekali tenaga pengajarnya. Dengan adanya guru tugas, kemungkinan besar kegiatan madrasah bisaterlaksana dengan baik. Dengan adanya pengiriman guru tugas ini, pondok berarti telah melatih santrinya untuk terjun secara langsung ke masyarakat. Sangat diharapkan semua guru tugas itu bisa melaksanakan apa yang menjadi tujuan dari Sidogiri dalam pengiriman guru tugas. Almarhum KH. Sirajuddin Millah Waddin pernah dawuh, bahwa PJGT (Penanggung Jawab Guru Tugas, red) yang loyal pada Sidogiri, dalam artian mengikuti terhadap aturan-aturan yang telah ditetapkan pengurus, harus lebih didahulukan dalam pemberian guru tugas. Mengapa demikian, sebab jumlah guru tugas dan jumlah pemohon lebih banyak jumlah pemohon, untuk bisa memenuhi hal tersebut, maka pengurus perlu melihat, sing gati, gatê’no. Artinya, PJGT yang loyal kepada PPS, yang benar-benar taat peraturan dalam pengambilan guru tugas, harus lebih didahulukan. Begitulah yang dipesankan oleh...

Selengkapnya
H. Abd. Qadir Mahrus, M.pd : Kurban Bukan Sekedar Ajaran
Agu13

H. Abd. Qadir Mahrus, M.pd : Kurban Bukan Sekedar Ajaran

Rabu (30/11) Intansi Kuliah Syariahmelaksanakan kursus zhabihah bertempat di kantor Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri. Kursus yang dikhususkan peserta dari Aliyah dan Tsanawiyah ini dimulai jam 20:30 Wis dengan diawali pemutaran Video. Panitia kursus zhabihah menghadirkan Ustdaz H. Abd. Qadir Mahrus, M. pd sebagai pemateri. Sebelum pemateri menjelaskan prihal yang bekaitan dengan zhabihah, beliau berpesan agar santri itu bisa dalam segala lini, termasuk termasuk mengeluarkan ide terlebih persoalan zhabihah, “Karena orang menjadi hebat, harus mempunyai ide-ide hebat dalam segala lini, termasuk pada persoalan Zhabihah ini”, ungkap alumni Sidogiri era 2000-an. “Oleh karena itu diadakan kursus zhabihah ini jangan sampai santri mempunyai keinginan menjadi jagal penyembelih saja, tapi juga santri harus mempunyai keinginan menjadi jagal-jagal kitab salaf,”  lanjut beliau yang juga staf  pengajar MMU Aliyah. kursus zhabihah berjalan dengan khidmat, para peserta antusias pada penjelesan dari pemateri. Peserta    diberikesempaetelah penjelesan usai pemateri memberi pertanyaan terhadap para peserta. “Jadi santri itu harus mempunyai jadwal tersendiri ngaji ke-pesarean, kalau bisa yang istiqomah. Sidogiri itu banyak barokahnya, buktinya, saya sekarang mempunyai banyak jabatan di berbagai organisasi. Saya rasa ini barakah yang saya dapatkan karena istiqomah ke pesarean.” kata  Ust. Abdul Qodir mengakhiri acara. ===== Penulis: A. Farid Muflihin Editor: Nuris Shalihin bin...

Selengkapnya