Habib Idrus: Jadi Pengajar Jangan Seperti Pengajar Silat
Jan14

Habib Idrus: Jadi Pengajar Jangan Seperti Pengajar Silat

Badan Tarbiyah wa Taklim Madarasi (BATARTAMA) Pondok Pesantren Sidogiri menggelar pembinaan mengajar terhadap seluruh staf pengajar Madrasah Miftahul Ulum di Kantor Sekretariat Lt. III, Rabu (10/01) yang lalu. Habib Idrus bin Muhammad al-Hasni, asal pasuruan diundang panitia untuk menjadi pemateri dalam acara tersebut. Mengawali materinya, beliau bercerita tentang generasi paling baik, yaitu generasi Rasulullah. Beliau berpandangan, bahwa generasi menjadi yang terbaik, karena mencetak generasi-generasi hebat setelahnya, yakni generasi sahabat, dan para tabiin. “Rasulullah bersabda, sebik-baik masa adalah masaku, kemudian zaman setelahnya, yakni para sahabat, dan zaman setelahnya, yakni masa tabiin. Oleh karena itu, kalau ingin menjadi guru terbaik, maka jangan luput dari manhaj nabawiyah,” jelas beliau. Mengajar ala Manhaj Nabawi sendiri adalah metode pembelajaran yang sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh Nabi. Seperti mendidik murid dengan akhlaqul karimah, dls. Menjadi seorang guru, menurut Habib Idrus, selain menjadi Khadimul Ummah, juga harus bisa ishlah lil ummah, yakni membuat reformasi bagi bangsa, agar menjadi bangsa yang baik dan menjadi teladan bagi bangsa lain. “Di dalam kelas, jadilah guru mereka. Dan di luar kelas, jadilah bapak bagi mereka. Ketika adalah salah satu dari mereka sumpek, galau atau semacamnya, rangkullah mereka,” jelas Habib Idrus. Beliau juga menekankan, bahwa seorang guru pengajar ilmu agama, tidak boleh sama dengan pengajar ilmu pencak silat. Beliau menekankan agar memberikan seluruh ilmunya kepada sang murid, agar bisa mecetak generasi gemilang setelahnya. “Jadi pengajar jangan seperti pengajar silat, yang mana mereka bisa di pastikan menyimpan jurus andalannya, agar tidak bisa dilangkahkan oleh murid-muridnya,” lanjut beliau tersenyum. ==== Penulis: Ach Mustaghfiri Soffan Editor  : N. Shalihin...

Selengkapnya
Ketua I PPS, Tekankan Senyuman Saat Mengajar
Jan12

Ketua I PPS, Tekankan Senyuman Saat Mengajar

Demi terciptanya pendidikan yang sesuai dengan keinginan pengurus. Badan Tarbiyah wa Taklim Madarasi atau yang biasa disebut Batartama, menggelar pembinaan mengajar terhadap seluruh staf pengajar Madrasah Miftahul Ulum dari seluruh tingkatan, Idadiyah, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Acara tersebut mengusung tema ‘Meneguhkan Kembali Manhaj Nabawi’. Dalam Sesi sambutan, Mas Aminulloh Bq, menekankan kearifan dalam mendidik seorang anak. Tidak sekali-kali membuat mereka takut, sehingga membuat mereka malas untuk belajar. “Dengan cara apa saja, mungkin dengan senyuman, jangan sampai masuk ke kelas, menakutkan,” ujar Ketua I Pondok Pesantren Sidogiri bersemangat. Tidak hanya menjadi tenaga mengajar untuk para murid, pria yang akrab dipanggil Mas Amin tersebut, menginginkan agar guru juga memperhatikan akhlaqul karimah murid, mengingat akhlak murid saat ini berbanding jauh dengan akhlaq murid zaman dulu. “Jadi anak didik kita betul-betul diperhatikan tingkah lakunya, ataupun yang lainnya,” jelas beliau dihadapan semua guru madrasah Rabu (10/01) yang lalu. Acara yang bertempat di Kantor Sekretariat Lt. III tersebut menghadirkan Habib Idrus bin Muhammad al-Hasni, Pasuruan, sebagai pemateri. ==== Penulis: Ach Mustaghfiri Soffan Editor  : Isom...

Selengkapnya
MQS: Targetkan 20 Lembaga Setiap Tahunnya
Jan08

MQS: Targetkan 20 Lembaga Setiap Tahunnya

Pada kisaran 2005-an, banyak usulan supaya PPS membuat metode baca al-Quran sendiri. Karena Pengurus Qira’ati, metode baca al-Quran yang telah dipakai selama empat tahun saat itu terlalu mengintervensi Sidogiri. Berangkat dari hal ini, Ust. Aminullah Mazid, Kabag Taklimiyah (TTQ dulu) sowan kepada ketua III PPS saat itu, HM. Aminulloh Bq. “Wis Sidogiri gawe dewe, mosok gak iso? (sudah, Sidogiri buat sendiri, masak tak bisa?),” terang Ust. Abd. Syakur Noer menirukan dawuh HM. Aminulloh Bq, saat ditemui Maktabati di kediamannya, Sabtu (27/03). Berangkat dari titah ini, Ust. Aminullah Mazid bergegas membentuk tim pembuat materi. Namun, sebelum materi rampung para punggawa tim tersebut sudah boyong terlebih dahulu. Akhirnya, dibentuklah tim penerus pembuat materi. Tapi, nasib tim penerus ini tak jauh beda dengan tim yang awal; para anggotanya boyong setelah menyelesaikan cikal bakal materi Qur’ani. Meski cikal bakal materi sudah rampung dan selesai dicetak pada tahun 2009, bukan berarti tugas sudah selesai. Tugas baru telah menunggu, yaitu pengoreksian dan perbaikan materi. Karena tim sudah bubar, Ust. Abd. Syakur Noer yang ketika itu masih tersisa akhirnya menyatakan siap melaksanakan tugas baru itu sendirian. “Biarlah saya yang berkorban demi Qur’ani Sidogiri,” ujarnya pada Ust. Abd. Wahid Syafii, Kabag Taklimiyah era 2009-an. Setelah tiga bulan, metodologi Qur’ani Sidogiri selesai dirombak total oleh santri kelahiran Sokobanah, Sampang ini. Selama tahun 2009 hingga 2011 M, Qur’ani Sidogiri tak memiliki kepengurusan tersendiri. Tim ini berada di bawah koordinasi Taklimiyah, hingga pada tahun 2013 M diresmikan sebagai instansi tersendiri di PPS dengan nama Metode Qur’ani Sidogiri (MQS) setelah pada tahun 2011-2012 dibansuskan oleh Taklimiyah. Dalam perkembangannya, instansi ini telah memiliki lebih dari 355 pengguna yang tersebar mulai dari Jawa Timur, Jabotabek, Kalimantan, hingga Malaysia. Tentang jumlah pengguna ini, Moh. Habibi, TU MQS, berkomentar, “tiap tahun pengurus MQS menargetkan minimal menambah 20 lembaga pengguna. Tapi, alhamdulillah, penambahan pengguna MQS tiap tahunnya selalu melebihi target awal.” Sementara itu, Ust. Hamim Asy’ari, Kabag MQS, mengatakan bahwa untuk lembaga pengguna luar PPS di tahun ini masih tak ada laporan perkembangan. Hal ini disebabkan tashih qiraah yang belum belum terlaksana. Sedangkan untuk qur’ani di dalam PPS sendiri, perkembangannya sudah tampak. Hal ini terbukti dengan meningkatnya tes kenaikan jilid yang menjadi acuan utama. Ketika ditanya tentang kemungkinan mewisuda anak didiknya di panggung ikhtibar, staf pengajar MMU Tsanawiyah ini berkata, “Semoga tahun ini bisa. Itu (wisuda di panggung ikhtibar) akan kami usulkan ke Pengurus. Semoga dikabulkan.” Kata Ust. Syakur Noor. ====== Penulis: M. Ilyas Editor: Isom...

Selengkapnya
Dr. Adian Husaini: Sekularisme, Tantangan Terbesar Umat Islam
Jan05

Dr. Adian Husaini: Sekularisme, Tantangan Terbesar Umat Islam

Memisahkan manusia dari aturan agama dan metafisika adalah cara berfikir yang keliru. Orang yang memahami akal dan iman sebagai hubungan yang terpisah berarti telah terjebak dengan budaya Barat yang rusak. Hal itu dinyatakan oleh Dr. Adian Husaini, Ketua Program Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor, di depan santri Sidogiri dan asatidz tingkat Aliyah dalam acara Kuliah Umum yang bertempat di gedung Corporation, Laz-Sidogiri, Rabu (03/01/18), dengan tema “Sekularisasi dan Dampaknya dalam Pendidikan”. Menurut Dr. Adian, akal dan nalar manusia salah satu bukti manusia sebagai mahluk mulia dan sempurna. Keduanya menjadi sarana untuk meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kita kepada Allah Swt, bukan sebaliknya digunakan menggerus keyakinan dan fitrah manusia terhadap kebenaran agama Islam. Iman dan ilmu saling berhubungan dalam kesatuan integrasi yang mengokohkan satu dengan yang lain. “Orang yang memiliki akal benar pasti menolak terhadap pemikiran sekularisme ini. Karena, sekularisme berusaha menjauhkan syariat dari berbagai aspek kehidupan umat Islam, dan menghilangkan nilai agama dari tubuh umat Islam,” kata Dr. Adian yang saat ini menjabat Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia. Sebaliknya, bagi yang sudah teradvokasi oleh pemikiran sekularisme, mereka beranggapan bahwa agama hanya mengekang kecerdasan akal dan kebebasan berfikir manusia. Mereka menolak sistem agama dalam semua urusan dunia seperti politik, sosial, pendidikan dan sebagainya. Bagi mereka agama hanyalah penghalang terhadap kemajuan. Ironisnya, ide-ide agama dianggap kolot dan bertentangan dengan pemikiran akal sehat. Alhasil, mereka (orang sekuler, red) mengklaim peradaban mereka “maju” justru ketika telah meninggalkan Tuhan dan ajaran agama. “Inilah dampak paling berbahaya dari sekularisasi ilmu yang sedang menimpa kehidupan kita. Adanya upaya pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum lainnya,” ujarnya. Dampaknya, tak sedikit yang menganggap ketika mengkaji ilmu kedokteran atau sains, misalnya, seolah tidak ada relevansinya dengan ajaran agama. Jikapun dihubungkan, maka terkadang yang terjadi adalah konten tersebut jauh dari agama. “Ini merupakan tantangan terbesar yang dihadapi umat Islam sekarang. Kita harus benar-benar mengenali musuh-musuh kita yang menyerang ajaran Islam agar kita bisa waspada dan tahu proyeksinya dalam mendestruktifkan ajaran Islam, seperti melalui penyebaran paham sekular.” kata penulis buku Wajah Peradaban Barat. Acara yang di moderatori oleh Abdul Qodir Mahrus S. Sos, dilanjutkan dengan tanya jawab dan ditutup dengan doa. ========= Reporter: M. Afifur Rohman Editor:     Ahmad Rizqon...

Selengkapnya
Lagi, Utusan Sidogiri Juara dalam Even MHQ
Jan01

Lagi, Utusan Sidogiri Juara dalam Even MHQ

Tak henti-hentinya Pondok Pesantren Sidogiri meraih kemenangan setiap mengutus santrinya untuk mengikuti lomba yang diadakan diluar pondok pesantren. Kali ini tiga utusan Sidogiri menjuarai lomba pada even MHQ (Musabaqoh Hifdzil Quran) yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Darul Ulum, Banyu Anyar, Pamekasan, Madura, Senin (01/01). Lomba tersebut diadakan sejak Jumat (29/12) sampai Senin (01/01). Menurut penuturan Ustadz Bilal, ada tiga utusan yang  dikirim untuk mengikuti lomba. Dua Orang Utusan PPS yang juga pernah juara pada even yang sama di Jl. Teluk Surabaya, pada tahun kemarin, Masy’aril Muhtadin, Malang, dan Fuadi Nadzif, Bangkalan, kembali mendapatkan juara 2 Katagori 30 Juz, dan harapan 1 katagori 10 juz, sedangkan utusan yang lain, yakni Arrifa’i, juara 1 dalam katagori 20 Juz. Selain itu Ustadz Bilal menuturkan, bahwa tiga utusan PPS tersebut merupakan anggota tahfidz Quran Sidogiri, yang berdomisili di Daerah A. “Semoga menjadi penyemangat untuk santri yang lain, dan semoga menjadi jalan untuk menjadi ibadillahis Shalihin,” ungkapnya. ==== Penulis: Ach Mustaghfiri Soffan Editor  : N. Shalihin...

Selengkapnya
Dua Sumber Kemerosotan Umat: Kemiskinan dan Kebodohan
Des27

Dua Sumber Kemerosotan Umat: Kemiskinan dan Kebodohan

Senin (25/12) lalu Kuliah Syariah Pondok Pesantren Sidogiri menggelar acara Tauiyah yang merupakan agenda tahunan instansi tersebut. Panitia penyelenggara mengundang salah satu Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdatul Ulama (LDNU) Jakarta, KH. Misbahul Munir, sebagai motivator. Acara tersebut dihadiri oleh seluruh anggota Kuliah Syariah dan bertempat di Aula Kantor Sekretarian Lt III. Karena keterbatasan tempat, maka pengurus menyediakan layar LED di lantai dasar agar peserta yang tidak kebagian tempat juga bisa menikmati acara tersebut. Ulama karismatik kelahiran Probolinggo ini menjelaskan tentang keadaan umat Islam yang terjadi di akhir-akhir ini. Menurut beliau, dua penyebab bobroknya umat yang mengakibatkan maksiat merajalela dan menjadikan keadaan bumi semakin tidak stabil, adalah kemiskinan dan kebodohan. “Banyaknya peminum khamr, pelaku zina, juga terjadinya bencana-bencana alam ini disebabkan kedua hal tersebut,” jelas beliau. Bagi Pengasuh Pesantren Ilmu Alquran Al-Misbah, Tanjung Priok, Jakarta, (Abah Misbah)  pesantren harus memiliki kemandirian dalam segala hal. Jika terlalu bergantung kepada pemerintah, akan sulit berkembang di masa mendatang. “Kalau masih terlalu kuat ketergantungannya kepada pemerintah dalam segala hal, akan makin susah dan jangka panjangnya makin berat,” ujar Abah Misbah, sapaan akrab beliau, yang juga pernah aktif di Kader Muballigh, Yayasan At-Taufiq Cipeucang Koja. Kiai muda lulusan Pondok Pesantren Sidogiri ini mencontohkan, jika pondok tidak mandiri secara ekonomi, pasti akan sulit akan melakukan nahi munkar yang sesungguhnya. Menurutnya, lanjut beliau, kunci kesuksesan dalam bidang ekonomi adalah kemandirian. Sehingga sebagai seorang santri, sudah seharusnya  memiliki ide dan gagasan bagaimana berkiprah dalam bidang ekonomi. “Alhamdulillah, Sidogiri ini sudah hebat dan kuat kemandiriannya. Karena begini, kalau pesantren kita tidak mandiri, jamiyah kita tidak mau mandiri, maka bisa dipastikan sulit untuk melakukan nahi munkar.” sergahnya. ==== Penulis: Ach Mustaghfiri Soffan Editor  : Isom...

Selengkapnya