Tidak Ada Terlupakan, Tetapi Sujud Sahwi
Nov23

Tidak Ada Terlupakan, Tetapi Sujud Sahwi

a. Deskripsi Masalah Ada orang mengerjakan salat dengan sempurna, tetapi di akhir salat sengaja menambah sujud sahwi. b. Pertanyaan Apakah sujud sahwi tersebut dapat membatalkan salat? c. Jawaban Menambah sujud sahwi yang tidak disunahkan setelah melakukan salat dengan sempurna dapat membatalkan salat. d. Rujukan أَفْتَى اْلإِمَامُ ابْنُ زِيَادٍ الْيَمَنِيُّ أَنَّهُ إِذَا سَجَدَ لِغَيْرِ مَا يُطْلَبُ لَهُ السُجُوْدُ بَطَلَتْ صَلاَةُ غَيْرِ الْجَاهِلِ الْمَعْذُوْرِ اهـ (غاية تلخيص المراد من فتاوى العلامة ابن زياد,...

Selengkapnya
Sujud Tilawah Termasuk Shalat
Nov22

Sujud Tilawah Termasuk Shalat

a. Deskripsi Masalah Kalau kita membaca kitab fikih pada bab salat, kita akan menemukan bahwa definisi salat secara syarak dalah beberapa ucapan dan pekerjaan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. b. Pertanyaan Apakah Sujud Tilawah dan Sujud Syukur termasuk dalam pengertian salat secara syarak, mengingat dalam kedua sujud tersebut terdapat beberapa ucapan dan pekerjaan, dan keduanya dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam? c. Jawaban Tidak termasuk. d. Rujukan وَاعْتُرِضَ عَلَيْهِ اَيْضاً بِأَنَّهُ غَيْرُ مَانِعٍ، لِدُخُوْلِ سَجَدَةِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ فِيْهِ، فَإِنَّ فِيْهَا أَقْوَالاً وَأَفْعَالاً، فَاْلأَقْوَالُ تَكْبِيْرَةُ اْلإِحْرَامِ بِهَا وَتَكْبِيْرَةُ الْهَوِيِّ لِلسُّجُوْدِ وَالرَّفْعِ مِنْهُ وَالتَّسْبِيْحُ فِي السُّجُوْدِ وَالسَّلاَمُ، وَالأَفْعَالُ هِيَ النِّيَةُ وَاْلهَوَى لِلسُّجُوْدِ وَالرَّفْعُ مِنْهُ وَالسُّجُوْدِ، وَأُجِيْبَ بِأَنَّ الْمُرَادَ اْلأَقْوَالُ وَاْلأَفْعَالُ الْوَاجِبَةُ اهـ (حاشية الباجوري على ابن قاسم,...

Selengkapnya
Sihli Siap Kerja Sama dengan Tibkam Guna Menindak Santri yang Buang Sampah Sembarangan
Nov22

Sihli Siap Kerja Sama dengan Tibkam Guna Menindak Santri yang Buang Sampah Sembarangan

Hukum: Ust Badrus Sholeh menerima usulan salah satu peserta terkait hukuman pada santri yang buang sampah sembarangan. Bagian Kebersihan Lingkungan (Sihli) Pondok Pesantren Sidogiri kembali mengadakan koordinasi bulanan pada malam Ahad, (14/10). Acara tersebut dimulai pukul 09.00 istiwa dan bertempat di Rumah Dinas (Dalem Syekh). Pada acara ini, Ust. Badrus Sholeh, Kepala Bagian Sihli mengundang seluruh ketua Bagian Kebersihan dan Kesehatan se-Pondok Pesantren Sidogiri. Pada acara tersebut, Kabag Sihli juga mengingatkan program pengurus yang masih belum terlaksana dengan maksimal, salah satunya penindakan terhadap santri yang membuang sampah sembarangan. Sampai saat ini, penindakan baru digiatkan oleh pelaksana kebersihan lingkungan. Baca Juga: Lantik 81 Personel Tibkam Beberapa peserta memberikan masukan agar Bagian Sihli menjalin kerjasama dengan Bagian Ketertiban dan Keamanan (Tibkam). “Alangkah lebih baik, untuk memaksimalkan program ini bekerja sama dengan bagian Tibkam untuk penindakan terhadap pelanggaran tersebut”, usul salah satu peserta. Pengurus Sihli yang bertujuan menciptakan dan menjaga lingkungan BASIT (Bersih, Aman, Sehat, Indah dan Tertib) menyambut baik usulan tersebut. Rencananya, Ust Badrus Sholeh, Kabag Sihli, akan segera menjalin kesepakatan dengan Kabag Tibkam, dalam hal ini Ust. Abd Rokib Saki. Baca Juga: Corona Virus Mengganas, Klinik Tak Duduk Diam Staf Pengajar Madrasah Miftahul Ulum (MMU) Tsanawiyah ini mengingatkan kembali kepada para peserta untuk terus menjaga dan meningkatkan kebersihan lingkungan Pondok Pesantren Sidogiri. “Bagaimana membuat para santri sungkan untuk membuang sampah sembarangan,” tekan beliau pada acara yang berakhir pukul 10.45 istiwa ini. Baca Juga: Buanglah Tempat pada Sampahnya Oleh: Fahmi Aqwa* *) Penulis adalah Pemred Maktabati asal Magelang,...

Selengkapnya
Jangan Keliru Memahami Arti Ahli Bait
Nov21

Jangan Keliru Memahami Arti Ahli Bait

Habib Taufiq Bin Abdul QOdir As-Segaf saat menyampaikan pengajian di depan santri. Kekeliruan memahami tentang siapa ahli bait bukan sesuatu yang baru. Salah satunya adalah kelompok yang menyatakan bahwa ahli bait hanya Sayyidina Ali, Sayyina Hasan, Sayyidina Husain dan Sayyidatina Fatimah. Kita sebagai umat Islam yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah tidak harus memutar otak untuk mencari dalil bantahan terhadap argumen mereka. Sebab, hampir di setiap muqaddimah kitab ulama salaf terdapat keterangan yang begitu jelas, contohnya dalam kitab Fathul Mu’in: وعلى آله) اي أقاربه المؤمنين من بني هاشم والمطلب) “Ahlunnabi adalah kerabat nabi dari keturunan Bani Hasyim dan Bani Muthalib yang beriman.” Dari satu sisi, ahli bait dibagi menjadi dua. Pertama, ahli bait sukna, yaitu para istri nabi. Kedua adalah ahli bait nasab, yakni para keturunan Rasulullah dari Sayyidina Hasan dan Husain. Dengan begitu, mengkhususkan ahli bait pada keempat sosok tadi dengan menafikan para keturunannya adalah pemikiran yang cacat. Mereka yang memiliki anggapan demikian sama halnya berujar bahwa pohon itu hanya akarnya saja, sementara batang, ranting dan daunnya tidak termasuk bagian dari pohon. Ini jelas keliru dan tidak perlu ragu mengatakan bahwa pernyataan mereka salah. Baca Juga: Santri Harus Sehat Lahir Batin Kemudian, ada juga yang berdalih bahwa pernyataan ahli bait hanya terdiri dari empat orang berasal dari perbedaan antara آل dan اهل , padahal kedua lafaz tersebut satu makna. Buktinya, ketika ditasghir, hasilnya sama yaitu اهيل . Bahkan, ulama sekelas Imam Syafii tidak membedakan kedua lafaz tersebut. Hal ini dapat kita lihat dari syairnya yang berbunyi: يا اهل بيت رسول الله حبكم # فرض من الله في القرأن أنزله يكفيكم من عظيم الفخر أنكم # من لم يصل عليكم لا صلاة له “Duhai keluarga Rasulullah! Mencintai kalian, Allah haruskan dalam al-Qur’an-Nya. Cukuplah menjadi bukti keagungan kalian. Bahwa siapapun yang tidak bershalawat pada kalian, maka shalatnya tidaklah diterima.” Dalam syair ini beliau mengungkapkan kewajiban shalawat pada ahli bait di tahyat akhir (qaul qadim) menggunakan lafaz اهل. Sementara  hadits yang dijadikan dasar penggalian hukum wajibnya menggunakan lafaz  آل. Jika masih ada yang bersikukuh bahwa ahli bait hanya tertentu pada empat sosok. Maka, dia adalah orang yang mengingkari para keturunan...

Selengkapnya
Ketika Shalat Ada Anak Kecil Terjatuh
Nov21

Ketika Shalat Ada Anak Kecil Terjatuh

a. Deskripsi Masalah Ilham sedang salat. Di pertengahan salatnya ada anak kecil yang belum tamyîz (masih kecil) merangkak, yang seandainya dibiarkan, anak kecil itu akan terjatuh dan mungkin bisa mati. Untuk menyelamatkan anak kecil tersebut, Ilham membutuh-kan banyak gerakan. b. Pertanyaan Bagaimana hukum menyelamatkan anak kecil tersebut?Bagaimana hukum salatnya? c. Jawaban Menyelamatkan anak kecil tersebut hukumnya wajib.Hukum salatnya batal. d. Rujukan وَسُنَّ لِرَجُلٍ تَسْبِيْحٌ، وَلِغَيْرِهِ تَصْفِيْقٌ-إِلَى اَنْ قَالَ-اِذَا اَصَابَهُمَا شَيْءٌ فِي صَلاَتِهِمَا، سَوَاءٌ كَانَ الشَّيْءُ مَنْدُوْباً كَتَنْبِيْهِ إِمَامِهِمَا عِنْدَ سَهْوِهِ، اَوْ مُبَاحاً كَاِذْنِهِمَا لِمُسْتَأْذِنٍ، اَوْ وَاجِباً كَاِنْذَارِ أَعْمَى اَوْ غَافِلٍ مُمَيِّزٍ فِيْ وُقُوْعِهِ فِيْ مَحْذُوْرٍ. وَيُعْتَبَرُ فِي التَّسْبِيْحِ اَنْ يَقْصِدَ بِهِ الذِّكْرَ وَحْدَهُ، اَوْ مَعَ اْلإِعْلاَمِ، فَاِنْ أَطْلَقَ اَوْ قَصَدَ اْلإِعْلاَمَ فَقَطْ بَطَلَتْ صَلاَتُهُ، وَلاَ يَضُرُّ فِي التَّصْفِيْقِ قَصْدُ اْلإِعْلاَمِ، فَاِنْ لَمْ يَحْصُلِ اْلإِنْذَارُ اِلاَّ بِالْكَلاَمِ اَوْ بِالْفِعْلِ الْمُبْطِلِ وَجَبَ وَتَبْطُلُ الصَّلاَةُ بِهِ اهـ (كاشفة السجا,...

Selengkapnya