Seminar LPSI: Suluk di Era Modern
Sep18

Seminar LPSI: Suluk di Era Modern

Dari kiri ke kanan: Habib Hadi (memegang mikrofon) dan Habib Abdullah Malam Rabu (08/02) pengurus Lembaga Penelitian dan Studi Islam (LPSI) yang berada di bawah naungan Kuliah Syariah kembali mengadakan seminar ilmiah dengan tema Suluk di Era Modern. Pada kesempatan ini pengurus LPSI mengundang dua narasumber sekaligus yaitu Habib Abdulllah bin Abdurrahman al-Muhdlor sebagai pemateri dan Habib Hadi bin Alwi al-Idrus sebagai penerjemah. Semua anggota kajian LPSI diundang sebagai peserta dalam seminar ini. Acara ini bertempat di Perpustakaan Sidogiri lantai I, jam 21.00 s.d 23.00 Wis. “Tasawuf adalah suluk (jalan) mengikuti ajaran Baginda Nabi. Tidak ada beda antara suluk di zaman modern dan zaman dahulu. Hanya saja tugas ulama ahli tasawuf zaman dahulu dan sekarang ini yang berbeda,” ungkap Habib Abdullah menjelaskan dengan bahasa Arab yang diterjemah oleh Habib Hadi. Habib Abdullah menjelaskan bahwa tugas ahli tasawuf di zaman modern ini adalah mengaplikasikan apa yang ada di kitab dan mengayomi umat, bukan menyendiri. Habib Hadi sedang menerjemah Habib Abdullah menyampaikan bahwa di zaman dulu para ahli tasawuf menyepi karena sudah ada ulama yang berdakwah di tengah umat. Kalau di zaman sekarang ini para ahli tasawuf harus berdakwah dan membimbing umat karena zaman ini merupakan zaman kebodohan. “Rasulullah mengatakan bahwa di zaman merebaknya kebodohan orang yang memiliki ilmu harus menyampaikan ilmu dan tidak boleh menyimpannya!” Beliau menambahkan, “Syekh Abdul Qodir al-Jailani mendefinisikan tasawuf dengan akhlak. Siapa yang lebih berakhlak maka ia lebih tasawuf dari yang lain. Seseorang juga harus menghilangkan akhlak-akhlak tercela serta menghias diri dengan akhlak mulia.” “Tasawuf ini relevan di setiap zaman dan tasawuf ini merupakan gabungan ilmu dan amal,” tambah beliau dihadapan para peserta. Dalam setiap masa para ahli tasawuf selalu menjadi pemimpin dalam segala aspek, baik aspek ekonomi, politik dan sosial. “Mereka ini sangat berjasa di dalam memerangi komunisme di berbagai negara, antara lain Negara Tunisia, Indonesia dan Mesir,” ujar Habib Abdullah. “Para musuh Islam mengetahui bahwa selagi masih ada ulama tasawuf Islam akan tetap jaya. Oleh karenanya mereka berupaya sekiranya tasawuf dianggap jelek di tengah-tengah umat.” Habib Abdullah mengatakan bahwa para musuh Islam menginginkan para pemimpin umat tidak ada di tengah-tengah mereka. Seminar ini berlangsung seru, beberapa peserta menanyakan beberapa hal terkait tasawuf yang dijawab oleh Habib Abdullah yang diterjemah oleh Habib Hadi. Acara berakhir dengan doa dari Habib Abdullah bin Abdurrahman al-Muhdlor. Beliau berpesan kepada teman santri yang masih memiliki pertanyaan bisa disampaikan di Youtube milik beliau yaitu Al Mehdar Tareem. Penulis: Iwanulkhoir Editor: Kanzul...

Selengkapnya
KH. Aminullah Penerus Perjuangan Sayid Sulaiman (Bagian I)
Sep12

KH. Aminullah Penerus Perjuangan Sayid Sulaiman (Bagian I)

Pesarean Kiai Aminullah yang terletak di belakang Masjid Sidogiri (dalam area pesantren) Pembabat Sidogiri setelah Sayid Sulaiman Mengorek sejarah tokoh yang hidup ratusan tahun yang lalu tidaklah mudah, tak ubahnya mencari mutiara dalam lumpur di dasar samudera. Selain masa hidup yang terpaut cukup jauh, narasumber dan saksi sejarah yang sanggup memberikan informasi valid tentang sang tokoh, juga sulit didapatkan. Tapi bagaimanapun, usaha mengumpulkan serpihan-serpihan data sejarah itu penting dilakukan. Karena dengan mengetahui sejarah, orang akan mengetahui jati dirinya, bisa mengambil hikmah darinya, dan bisa lebih menghargai jasa-jasa para pendahulu. Karena itulah diusahakan sekuat tenaga untuk mengumpulkan serpihan-serpihan data sejarah tentang KH Aminullah dari Bawean, salah satu pembabat Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, meski terdapat banyak versi tentang sejarah beliau. Perjuangan Sayid Sulaiman yang Belum Selesai Suatu hari, Sayid Sulaiman menerima tamu seorang utusan Raja Mataram, Paku Buwono III (memerintah sejak 1749). Utusan itu bermaksud mengundang beliau menemui raja. Raja Mataram belakangan mendengar bahwa ada seorang ulama di daerah Pasuruan yang dikenal alim dan bijaksana. Dan rupanya raja tertarik untuk bertemu dengan ulama yang bernama Sayid Sulaiman itu. Raja menjanjikan akan memberikan hadiah dan akan mengangkatnya menjadi hakim pemerintah. Sejak hari itu Sayid Sulaiman sering terlihat murung dan gelisah. Karena beliau dihadapkan pada pilihan yang sama-sama sulit. Di satu sisi, kalau ia terima tawaran menjadi hakim itu, beliau khawatir tidak bisa berbuat adil. Di sisi lain, beliau tidak bisa menolak keinginan sang raja. Setelah berembuk dengan keluarga dan masyarakat, akhirnya dengan berat hati Sayid Sulaiman berangkat ke Surakarta dengan ditemani dua orang santrinya, yaitu Mbah Jailani dan Ahmad Surahim bin Untung Surapati, serta putranya, Sayid Hazam. Belum sampai ke tempat tujuan, beliau jatuh sakit di tengah perjalanan, tepatnya di desa Batek, Mojoagung, Jombang. Selama sakit, beliau dirawat oleh Kiai Alif. Ketika sakit, beliau sering berdoa kalau sekiranya menemui raja adalah pilihan terbaik, maka ia memohon agar segera disembuhkan; tapi kalau itu bukan pilihan yang tepat, ia mohon segera diwafatkan di tempat itu. Tak selang beberapa lama, beliau wafat dan dimakamkan di desa itu. Di masa hidupnya, Sayid Sulaiman banyak menorehkan sejarah gemilang di bumi Pasuruan, semisal pada waktu diminta tolong Raja Pasuruan yang kehilangan Putri Kedaton (putri raja) beserta kereta dan kusirnya karena disembunyikan jin. Dengan hanya melempar sesuatu dari dalam sakunya, tibatiba muncul sang Putri Kedaton dengan kereta dan kusirnya. Sayid Sulaiman pernah juga menjadi penasehat Adipati Untung Surapati yang wafat tahun 1706. Sayid Sulaiman juga berperan besar dalam penyelamatan jenazah Untung Surapati dari perlakuan jahat Belanda. Konon Belanda mengumumkan sayembara: barangsiapa yang menemukan jenazah Untung Surapati dan menyerahkannya, maka akan diberi hadiah uang. Akhirnya mayat Untung Surapati ditemukan dan diserahkan ke Belanda. Karena kebencian Belanda, mayat ini akan dijadikan...

Selengkapnya
KH. Aminullah Penerus Perjuangan Sayid Sulaiman (Bagian II)
Sep12

KH. Aminullah Penerus Perjuangan Sayid Sulaiman (Bagian II)

Tinggal di Pulau Bawean Hadramaut dikenal dengan daerah asal orang-orang Arab yang menetap di Indonesia. Kedatangan mereka ke Indonesia diperkirakan sejak abad ke-13. Saat itu memang sudah terjalin hubungan perdagangan antara Indonesia dan negara-negara Arab. Karena letak Indonesia sangat strategis, maka mereka banyak memilih Indonesia sebagai tempat tujuan niaga. Selain karena Indonesia masyhur dengan keindahan dan kekayaan alamnya yang melimpah, juga banyak di antara mereka yang memang bertujuan menyebarkan agama Islam sebagai tuntutan kewajiban dakwah. Hadramaut memang dikenal sebagai tempat yang banyak mencetak dai-dai ke berbagai wilayah yang kering dari nilai-nilai Islam. Setelah berlayar berbulan-bulan dari Hadramaut, akhirnya Kiai Aminullah dan kelompok pedagang tiba di wilayah perairan Indonesia. Rombongan saudagar itu langsung merapat di dermaga pulau Bawean, sebuah pulau dari gugusan pulau yang terletak di kawasan Laut Jawa. Luas pulau ini sekitar 199 kilometer persegi, dengan garis tengah 15 kilometer dan keliling sekitar 60 kilometer. Bagian tengah pulau itu merupakan perbukitan. Bukit tinggi dinamakan Gunung Besar (695 m). Dataran rendahnya berposisi melingkari pesisir pulau. Di dataran rendah dan sempit ini terdapat banyak penduduk. Daerah pedalaman hingga kini belum dijamah manusia, dibiarkan sebagai hutan yang luasnya sekitar 4557 hektare. Sebagian lagi difungsikan sebagai hutan jati. Menurut Hoogerwerf, seorang geolog yang pernah melakukan penelitian di pulau itu, Bawean terbentuk dari gunung api tua dengan titik tertinggi sekitar 665 meter di atas permukaan laut. Di Bawean hanya ada sungai-sungai kecil yang berair banyak hanya pada musim hujan. Satu-satunya sumber air bagi masyarakat pulau ini adalah danau Kastoba yang terletak di Gunung Besar. Dari danau ini masyarakat menggantungkan kebutuhan pengairan untuk lahan pertanian. Hampir seluruh penduduk Bawean beragama Islam, kendati masih ada kepercayaan terhadap hal-hal gaib, seperti kepercayaan terhadap roh yang melindungi rusa hutan dari pemburu, atau roh lain yang menjaga babi-babi liar. Ada juga roh-roh yang dipercaya bersemayam di puncak Gunung Bringin. Semua itu tampak dari acara sesembahan yang dilakukan di tempat-tempat tertentu, sehingga tak heran jika Kiai Aminullah memilih pulau ini sebagai lahan dakwah. Kepercayaan masyarakat yang banyak menyimpang itu menarik perhatian Kiai Aminullah untuk meluruskannya. Tapi sayang, penulusuran yang dilakukan redaksi terhadap jejak Kiai Aminullah di pulau Bawean tidak banyak membuahkan hasil. Tak ditemukan lagi benda-benda erkeologis yang menunjukkan keberadaan Kiai Aminullah di pulau itu. Beberapa tokoh masyarakat yang dihubungi juga tidak memberikan keterangan yang cukup memuaskan. Padahal menurut cerita yang berkembang dari mulut ke mulut (oral story) serta penuturan dari sekian banyak narasumber, sebelum menetap di Sidogiri Kiai Aminullah tinggal di Bawean. Bahkan ada yang mengatakan jika beliau memang berasal dari Bawean, bukan dari Hadramaut. Pindah ke Sidogiri Dahulu, Sidogiri adalah hutan belantara yang banyak dihuni beragam tumbuhan, mulai dari tumbuhan-tumbuhan kecil hingga pohon-pohon besar. Tumbuh pula pohon-pohon yang...

Selengkapnya
KH. Aminullah Penerus Perjuangan Sayid Sulaiman (Bagian III)
Sep12

KH. Aminullah Penerus Perjuangan Sayid Sulaiman (Bagian III)

Pesarean Kiai Aminullah Yang terletak di Belakang Masjid Sidogiri (dalam area pesantren) Kiai Sakti yang Ahli Ibadah dan Kaligrafi Kiai Aminullah adalah sosok waliyullâh yang tidak mencintai dunia. Bagi beliau, ilmu adalah segala-galanya. Kiai Aminullah adalah figur ‘âbid (ahli ibadah) yang senang berkhidmah. Beliau tergolong ahli puasa. Bertahun-tahun beliau berpuasa, menahan lapar dan dahaga, mengendalikan nafsu dan mengekangnya. Beliau berpuasa hingga 40 tahun lamanya. Beliau juga istikamah mengaji al-Qur’an selama 40 tahun. Selain itu, kebiasaan Kiai Aminullah sehabis shalat Tahajud adalah mengisi air di jeding masjid sampai penuh, kemudian pindah pada jeding-jeding yang lain. Hal itu beliau lakukan selama 40 tahun. Ada kejadian menarik seputar pengisian air jeding itu. Karena jeding-jeding selalu penuh airnya pada pagi hari, orang-orang dan santri sama-sama heran. Sebab pada sore hari sebelumnya, biasanya airnya hampir habis. Mereka tidak tahu dan penasaran, siapakah gerangan yang baik hati mengisi jeding-jeding itu. Lalu ada santri yang berusaha untuk mengetahuinya. Ia tidak tidur dan menunggu untuk mengintip orang yang mengisi jeding-jeding itu. Kira-kira jam tiga malam, ia mendengar kriek-kriek bunyi kerekan sumur. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyergap si penimba. “Hayo, siapa ini?!” teriaknya. Setelah tahu bahwa orang itu adalah Kiai Aminullah, santri itu meminta maaf dan menangis menyesali perbuatannya. Konon, karena peristiwa tersebut, akhirnya santri itu menjadi wali. Kiai Aminullah diyakini oleh keturunannya mendapatkan umur yang panjang. Kesimpulan ini dengan melihat pada perjalanan hidup dan perjuangan Kiai Aminullah sebagai penerus Sayid Sulaiman dalam membabat Sidogiri dan menyebarkan Islam di Pasuruan dan sekitarnya. Selain itu, keturunan beliau dari istri keempatnya masih lebih muda dibanding keturunan beliau dari istri-istri yang lain. Lagi pula usia orang-orang zaman dulu biasanya memang panjang. Sosok Sakti yang Rendah Hati Sejak zaman dahulu daerah Banten dikenal sebagai pusat ilmu kesaktian (kanuragan), sedangkan Pasuruan lebih dikenal sebagai kota santri. Namun tidak berarti di Sidogiri kala itu tidak diajarkan ilmu kanuragan. Hanya saja ilmu agama lebih menonjol. Ilmu kesaktian juga perlu diajari sebagai sarana pendukung dakwah dan bekal menegakkan kebenaran serta melawan ketidakadilan. Kiai Aminullah dikenal rendah hati dan tidak suka menonjolkan kehebatan ilmunya. Ini sesuai dengan ajaran ilmu tasawuf yang disebut dengan istilah khumul (low profile). Awalnya beliau dikenal sebagai sosok yang sederhana, tapi lambat laun kedigdayaan beliau tampak. Beliau ternyata ahli dalam ilmu kesaktian atau ilmu kanuragan. Cerita tentang kehebatannya menaklukkan jin-jin jahat sudah tidak asing lagi di telinga. Pernah pada suatu ketika ada seorang santri beliau yang juga punya ilmu kanuragan mencoba ilmunya untuk merontokkan buah kelapa, di depan Kiai Aminullah. Dengan sekali hentak, jatuhlah semua buah kelapa yang ada di pohon itu. Melihat hal itu, Kiai Aminullah mengingatkan agar tidak menggunakan ilmu kanuragan dengan cara seperti itu. Karena buah kelapa yang masih...

Selengkapnya
Istisqa’ Dengan Doa
Sep11

Istisqa’ Dengan Doa

a. Deskripsi Masalah Pada musim kemarau, sebagian daerah di pulau Madura mengadakan ritual meminta hujan. Ini adalah kegiatan yang sudah menjadi tradisi setiap tahun, disebabkan kesulitan untuk mendapatkan air. Anehnya, ritual itu bukannya diisi dengan salat Istisqa, melainkan dengan pembacaan tahlil dan doa bersama. Para kiai di daerah tersebut juga ikut hadir bersama para hadirin yang lain. b. Pertanyaan Apakah ritual semacam itu dianggap bidah karena pelaksanaannya bukan dengan salat Istisqa?Bagaimana hukum mengadakan ritual semacam itu? c. Jawaban Tidak termasuk bidah, karena istisqa (meminta hujan) bisa dilakukan dengan tiga cara: yakni berdoa sendirian atau bersama-sama, berdoa setelah salat, dan berdoa ketika sedang membaca khutbah JumatHukumnya sunah. d. Rujukan وَالإِسْتِسْقَاءُ طَلَبُ السُّقْيَا، وَهُوَ عَلىَ ثَلاَثَةِ أنْوَاعٍ أدْنَاهَا مُجَرَّدُ الدُّعَاءِ. اهـ (حاشية الشرقاوي، 1/288). وَقَالَ ابنُ حَجَرٍ فِي فَتْحِ المُعِينِ لِتِلْمِيْذِهِ فِي شَرْحِ قَوْلِهِ e مَنْ أحْدَثَ فِي أمْرِنَا هَذاَ مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ مَا نَصُّهُ: قَالَ الشَّافِعِيُّ t ماَ أحْدِثَ وخَالَفَ كِتَابًا أوْ سُنَّةً أو إجْمَاعًا أو أثَرًا فَهُوَ البِدْعَةُ الضَّآلَةُ، وَمَا أحْدِثَ مِنَ الخَيْرِ وَلَمْ يُخَالِفْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ البِدْعَةُ المَحْمُودَةُ. وَالحاَصِلُ، أنَّ البِدْعَةَ الحَسَنَةَ مُتَّفَقٌ عَلىَ نَدْبِهَا، وَهِيَ مَا وَافَقَ شَيْئاً مِمَّا مَرَّ وَلَمْ يَلْزَمْ مِنْ فِعْلِهِ شَيْئٌ مَحْذُورٌ شَرْعِيٌّ. وَيُسَنُّ الإسْتِسْقَاءُ وَلَوْ لِغَيْرِ المُحْتَاجِ إلَيْهِ مَالَمْ يَكُنْ ذَا بِدْعَةٍ أو ضَلاَلَةٍ. ثُمَّ هُوَ ثَلاَثَةُ أنْوَاعٍ ثَابِتَةٍ بِالأخْبَارِ الصَّحِيْحَةِ: أدْنَاهَا فيِ الفَضْلِ أنْ يَكُونَ بِالدُّعَاءِ فُرَادىَ أو مُجْتَمِعِينَ فيِ أيِّ وَقْتٍ أرَادُوْا، وَأوْسَطُهاَ أن يَكُونَ باِلدُّعَاءِ خَلْفَ الصَّلاَةِ وَلَوْ ناَفِلَةً، وَفيِ الخُطْبَةِ الجُمْعَةِ وَنَحْوِهَا ِلأنَّهُ عَقِبَ الصَّلاَةِ أقْرَبُ إلىَ الإِجَابَةِ. وَالأَفْضَلُ مِنَ الأنْوَاعِ الثَّلاَثَةِ هَذاَ الأخِيْرُ (قَوْلُهُ وَنَحْوِهَا) أي كَعِنْدَ الفَرَاغِ مِنَ القِرَاءَةِ القُرآنِ وَمِنَ الدَّرْسِ وَفيِ القُنوُتِ، وَعَلَيْهِ عَمَلُ الأَئِمَّةِ فيِ المَسْجِدِ الحَرَامِ، وَعَقِبَ الأذَانِ. اهـ (موهبة ذي الفضل، 3/352). Disadur dari: Buku Santri Salaf Menjawab Pesan...

Selengkapnya