Keteguhan
Apr21

Keteguhan

Santri, berdasarkan peninjauan tindak langkahnya adalah orang yang berpegang teguh pada Al-Quran dan mengikuti sunnah Rasul SAW. dan teguh pendirian … Potongan teks yang digurat oleh Hadratussyeikh Hasani Nawawie ini sudah seperti darah bagi santri Sidogiri. Walau sebagian besar kita belum bisa mengaktualkannya secara utuh, paling tidak kita mampu menghafalnya di luar kepala. Siapa tahu, suatu saat teks sakti ini yang menjadi pengingat bagi kesadaran kita dalam keteguhan memegang prinsip. Keteguhan, kira-kira seperti kisah sahabat Bilal ketika ia masih berstatus budak. Alkisah, tubuh Bilal yang hitam legam dijemur di tanah lapang oleh tuannya. Alasannya sederhana saja; untuk merontokkan iman Bilal. Tapi, siapa nyana, ternyata Bilal teguh pada pendiriannya. Ia tak terpengaruh sama sekali. Hati tuannya terbakar, kehormatannya seperti diinjak-injak. Maka ditaruhlah sebongkah batu besar di atas dada bidang Bilal. Sambil tersenyum penuh kemenangan, sang tuan mengulangi lagi pertanyaannya yang menjadi sebab-musabab marahnya tersulut. “sekarang, siapa tuhanmu, keparat?!” “AHAD!” Jawaban yang singkat, tegas, padat dan tentu saja menusuk hati penanyanya. Ada pesan moral dari kisah ini yang harus kita tangkap sebagai sebuah niscaya. Bahwa keteguhan memegang prinsip, cita-cita, sikap, apalagi iman, harus selalu hidup. Ia tak boleh mati, sampai kapan pun! Sebab jaman sering menuntut yang bukan-bukan untuk dilayani. Maka lihatlah, betapa banyak iman yang gugur demi sesuap nasi, jati diri hilang demi sebuah legalitas pergaulan -kita sering merasa bangga dicap berandal- dan cinta yang terkomersil di etalase-etalase rumah pelacuran. Kisah orang-orang teguh selalu mengundang decak kagum. Kehadiranya bukan sekedar kisah omong kosong yang tak bernilai. Ia selalu menggugah inti kesadaran setiap orang yang rindu akan perubahan menuju kebaikan. Orang-orang teguh adalah inspirator terbesar yang menyulut jiwa kita untuk turut meneladani sekaligus mengagumi, meski sebenarnya mereka tak mengharap hal itu. Mereka memang tak sedang ingin menjual muka sebagaimana artis murahan –yang kita kagumi?- mendapat sambutan riuh tepuk tangan ketika mengulurkan bantuan. Maka, dari keteguhan itu, lahirlah Nabi Muhammad SAW, Bilal bin Rabah, Imam Ahmad bin Hambal, dan Masyayikh-masyayikh pesantren kita. Kisah-kisah heroik mereka yang bernilai tinggi dan penuh pengorbanan yang mengharu-biru tak pernah selesai diungkapkan oleh sejarah. Setiap waktu. Lagi dan lagi. Kita? Sebenarnya kita juga bisa memiliki keteguhan seperti mereka. Sebab keteguhan bukan monopoli perseorangan. Ia milik siapa saja asal masih bernama manusia. Masalahnya, kita kadang tak siap dan masih ragu-ragu menjadi orang teguh. Kita terlalu suka bersikap seperti bunglon yang tak pernah ada di dalam kurikulum Madrasah kita; ikut-ikutan keadaan. Dan Saya tak dapat membayangkan, bagaimana jadinya jika para penerus perjuangan Mbah Sayid Sulaiman adalah orang-orang yang tak memiliki keteguhan iman, sikap, cita-cita dan pendirian? Mungkin hari ini tak akan ada orang yang mau berkata Sidogiri Pesantren Salaf. Dan yang pasti, akan ada gedung-gedung perguruan tinggi yang berdampingan dengan gedung...

Selengkapnya
Cadar: Kegaduhan yang Tidak Pas
Apr21

Cadar: Kegaduhan yang Tidak Pas

Sidogiri Media Edisi 137 … Proporsionalitas penyajian informasi ke publik sangat timpang. Informasi-informasi yang menguntungkan dan pro Islam mereka buang, sedang berita-berita negatif yang merusak image Islam mereka pampang. Hingga terbentuk paradigma Islam yang membuat orang gamang. Di sinilah tampak jelas skenario dan campur tangan dari para pembenci Islam sebagai dalang. Umat Islam saat ini memang tampak malang. Reputasi dan image Islam terus dijatuhkan, digoncang, dan diserang. Saatnya media-media Islam bersatu menunjukkan perlawanan opini dengan lantang. Yakinlah Islam akan tetap jaya dan menang. Islam ya’lû walâ yu’lâ ‘alaih adalah garansi Rasul yang cukup...

Selengkapnya
Habib Jakfar;  Mulia Sebab Berhubungan dengan Perkara Mulia
Apr18

Habib Jakfar; Mulia Sebab Berhubungan dengan Perkara Mulia

  Kamis (26/07) malam, penutupan rauhah Kitab Shohih Bukhari yang bertempat di lapangan baru Pondok Pesantren Sidogiri resmi berakhir setelah pembacaan hadis terakhir oleh Habib Jakfar bin Abu Bakar al-Muhdhar sebagai muhadir pada malam itu. Disusul dengan doa sebagai tanda khatamnya pembacaan kitab tersebut. Dalam ceramahnya, Habib Jakfar menjelaskan bahwa “Majelis seperti ini merupakan salah satu dari taman-taman surga. Rasulullah Saw bersabda; jika kalian bertemu dengan salah satu kebun surga, maka berhentilah, oleh karena itu saya berhenti di sini.” Kata beliau membuka ceramah. Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa sepantasnya kita bersyukur karena bisa menjadi santri Sidogiri, “Ghi` bada hubunga bareng Sidogiri maske santre (masih ada hubungan dengan Sidogiri meski cuma santri).” Ungkap beliau dengan bahasa Madura. Beliau melanjutkan, alumni-alumni terkenal, hebat, dan keramat, bukan karena mereka yang hebat melainkan ada Sidogiri di belakang mereka. “Ajja` ga’-magaga’. Ada’ segaga’. Orenga ada’ pa-apana. Sidogiri jareya! (Jangan jumawa. Tidak ada yang jumawa, orangnya tidak ada apa-apanya. Itu Sidogiri (yang hebat).” Terang beliau mengingatkan agar santri tidak jumawa dan mengembalikan semuanya karena barakah Sidogiri. Semua hal yang bersandar dengan perkara mulia, maka akan jadi mulia. Begitu pun kita, berhubungan dengan Sidogiri maka insyaallah akan mulia. _____ Penulis: M. Afifurrohman Editor: N. Shalihin...

Selengkapnya
Kursus Ten Days; Menyita Perhatian Ratusan Anggota Imni
Apr18

Kursus Ten Days; Menyita Perhatian Ratusan Anggota Imni

  Rabu sore (24/07) panitia Ten Days melantik 16 tutor untuk kursus bahasa Inggris intensif. Pelantikan tersebut dihadiri oleh Mr. Abdullah Kholil, ketua III LPBAA. Acara ini bertempat di kantor LPBAA. Peserta Ten Days pada tahun ini meningkat begitu signifikan. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya tutor dan kelas yang disediakan. Tahun lalu hanya menyita empat ruang kelas, namun tahun ini menanjak dua kali lipat. “Tahun ini pesertanya jauh lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya,” ungkap Mr. Sholeh Wakil Sekretaris English Team. Baca berita lainnya di sini. Rencananya, kursus kilat tersebut akan dimulai 28 Rajab selama 10 hari. Kursus tersebut akan dibagi menjadi delapan kelas dengan dua tutor. Masing masing dari kelas akan diisi 25 peserta. “25 Peserta ini terdiri dari tingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah, karena pesertanya mencapai 200-an orang,” terang Mr. Yuslul Fuad sebagai Ketua Ten Days. Dalam rencana dan targetnya, semua tutor diharapkan bisa membagi dan mengondisikan waktu yang sempit itu. Hal ini agar bisa mencapai target yang sudah dicanangkan, yaitu menjadikan beginer ahli dalam bahasa Inggris. “Tahun sebelumnya, peserta Ten Days ada yang menjadi tutor di tempat tugasnya, sekiranya tahun ini juga sama bahkan lebih,” jelas Mr. Sholeh Menurutnya, di samping bertujuan mengajarkan bahasa Inggris pada santri yang lain, Ten Days ditujukan membekali teman-teman Daerah B dan K untuk mengembangkan bakat bahasa Inggris di luar pondok. Karena semua tutor dipilih dari teman-teman Tsanawiyah yang sudah mahir dalam bahasa Inggris. ______ Penulis: Muhammad Ilyas Editor: N. Shalihin...

Selengkapnya
Ust. Qoimuddin; Pahala Syahid dengan Satu Ronde
Apr18

Ust. Qoimuddin; Pahala Syahid dengan Satu Ronde

  Rabu (25/07) malam, bagian Kuliah Syariah menggelar kursus munakahah yang bertajuk ‘Pernikahan dan Keluarga Bahagia’. Kursus yang digelar di kantor Sekretariat lantai III tersebut menghadirkan salah satu narasumber kondang asal Bangil, Ust. Qoimuddin, yang juga aktif sebagai staf pengajar Aliyah. “Menikah itu bermanfaat bagi individu, keluarga, bangsa dan negara,” Ungkap Pak Qoim, sapaan akrabnya. Beliau menambahkan, selain bertujuan untuk mendapat keturunan yang baik, dengan menikah akan menuai kebahagiaan dunia dan akhirat. “Selain mencari kenikmatan, loh, ya,” Canda beliau. Baca berita lainnya di sini. Selanjutnya, selain menjelaskan beberapa dalil Alquran dan Hadis terkait pernikahan dan keluarga bahagia yang telah beliau rangkum dalam materi kursus tersebut, Ust. Qoimuddin juga memotivasi peserta kursus yang kebetulan didominasi santri Aliyah tentang hal-hal yang agak mendalam (intim, red). Dengan bahasanya, beliau memaparkan pahala ‘berhubungan’ dengan istri sama halnya mempunyai anak yang ikut serta berperang melawan orang kafir kemudian syahid, “Itu hanya satu ronde. Kalau lebih?” Lanjut beliau yang kemudian disambut sorak sorai peserta kursus. “Bayangkan! Suami-istri ketika saling pandang, Allah Swt akan memandang keduanya dengan rahmat,” Jelas beliau lagi. “Apalagi sampai saling senyum dan berpegangan tangan, maka dosa-dosa di sekujur tubuh akan rontok,” imbuhnya. Pemaparan materi terus berlanjut sambil diselingi beberapa kisah dan pengalaman dari narasumber hingga dibukanya sesi tanya jawab yang diambil dari tiga peseta dan kemudian ditutup dengan doa sebagai pamungkas kursus itu. _____ Penulis: M. Afifurrohman Editor: N. Shalihin...

Selengkapnya