Perbedaan Akad Salam dan Transaksi Pesan
Nov22

Perbedaan Akad Salam dan Transaksi Pesan

Pemesanan adalah suatu transaksi yang lumrah terjadi di Indonesia dan di kalangan santri. Akan tetapi, sungguh teragis jika mereka yang melakukan transaksi tersebut tanpa mengetahui hukum dan akadnya, sebagian dari mereka berstatement bahwasannya transaksi pesanan itu masuk ke transaksi salam. Maka dari itu, penulis akan menuliskan segelintir masalah transaksi pesanan dan transaksi salam. Pendahuluan Artikel ini hanya sebagai antitesis pada seseorag yang memasukkan transaksi pemesanan pada transaksi salam. Maka dari itu, penulis hanya menfokuskan pembahasan pada Konsep dasar transaksi salam Kontradeksi antara transaksi pesanan dan transaksi salam. Tujuannya hanyalah sebatas Mengetahui esensi transaksi salam. Mengetahui perbedaan yang mencolok antara transaksi pesanan dengan transaksi salam. Konsep Dasar Salam Dalam bab ini penulis akan menuturkan Devinisi, syarat-syarat, personalia yang terlibat dan wajib dipenuhi dalam transaksi salam. Devinisi Sebelum kita membahas panjang lebar transaksi salam, alangkah baiknya jika kita mempelajari devinisinya terlebih dahulu. Devinisi salam secara etimologinya adalah salaf, sedangkan salaf itu sendiri adalah kontan dan didahului. Salam dan salaf esensinya hanyalah sinonim belaka. Akan tetapi hanya terjadi ontradeksi etimologi negra saja. Salam adalah etimologinya penduduk Arab Saudi (hijaz), sedangkan salaf adalah etimologinya bangsa Irak. Salam secara terminologinya adalah menjual sesuatu yang jelas kriterianya (ciri-cirinya) yang ada dalam lingkup dzimmah (tanggungan) disertai kalimat salam dan salaf. Sedangkan devinisi dzimmah itu sendiri ditinjau dari segi etimologinya adalah : Janji dan Aman, sedangkan secara terminologinya adalah : Tanggungan yang terbebas dari tuntutan syariah dan paksaan. Faktor transaksi ini dinamai dengan nama salam karena modalnya diserahkan ketika pemesanan. Faktor transaksi ini dinamai dengan salaf karena modalnya didahului dari pada barangnya. *) pendevinisian ini hanyalah bertujuan agar pembaca arahan transaksi salam. Dasar transaksi salam Berdirinya transaksi ini berdasarkan cikal bakal Alquran yang berbunyi [Al-Baqarah, 282] Artinya: Ibnu Abbas menefsirkan bahwasannya ayat tersebut diturunkan dalam permasalahan transaksi salam sendiri. Selain itu, transaksi salam juga berdiri berdasarkan sabda nabi Muhammad Saw. Yang artinya “barang siapa yang ingin berakad salaf. Maka, dahului menentukan timbangan, takaran, masa yang tertentu”. Diriwayatkan oleh imam Bukhari [2240] dan imam Muslim [4202]. Hal-Hal yang terlibat dalam akad salam Didalam semua transaksi pasti akan melibatkan personel-personel. Karena transaksi sangat bekaitan dengan sosok yang akan terlibat di dalamnya. Begitu pula transaksi salam. Salam melibatkan (5) personel. Yaitu : Muslim (orang yang bertransaksi salam) Muslam Ilaih (orang yang menerima transaksi salam) Muslim dan Muslam Ilaih harus memenuhi (3) syarat. Yaitu: Diperbolehkan bertrensaksi secara mutlak : dengan artian Masa pubertas, Berakal, dan Cerdas. Tidak ada unsur pemaksaan : Transaksi salam harus terjadi dari kehendak diri. Tidak boleh dipaksa olah orang lain. Islam : syarat ini berlaku apabila muslam fih nya berupa kitab suci Alquran, Budak Islam dan lain semacamnya. Muslam Fih (barang yang di salam) Muslam fih  harus...

Selengkapnya
Daerah M Kembali Menggelar Musyawarah Fathul Qarib
Nov22

Daerah M Kembali Menggelar Musyawarah Fathul Qarib

Jumat (22/11), Pengurus  Daerah M kembali menggelar musyawarah Fathul Qarib  di halaman daerah M. Musyawarah diadakan untuk mengembangkan kemampuan dalam mencari ibarat fiqhiyah dan mampu menyampaikannya dalam forum diskusi. Musyawarah ini hanya diikuti delegasi dari asrama daerah M. “Selain memberikan pengalaman bagi peserta, kami juga mengharapkan dengan adanya acara tersebut bisa menumbuhkan gairah musyawarah santri Pondok Pesantren Sidogiri dalam mempelajari hukum-hukum fiqih,” terang salah satu pengurus Daerah M. Musyawarah yang dimulai setelah kegiatan pembacaan maulid Nabi Muhammad SAW  ini diikuiti oleh 3 orang perwakilan dari Musyawarah dan halaqah Fiqhiyah (Muhafa) dan masing-masing kamar Daerah M. Yang menjadi mushahih dalam musyawarah kali ini adalah Ust. Sofiullah Muhibbin, salah pengurus di instansi Kuliyah Syariah Pondok Pesantren Sidogiri. Sementara sebagai perumus datang dari Pembina Muhafa Daerah M, yakni Ust. Hasyim Asy’ari, Ust. Yusron, Ust. Muhammad Baihaqi, dan Ust. Hasanuddin. Sedangkan yang menjadi moderator adalah M. Luthfi, yang merupakan murid Program Khusus Idadiyah kelas Hadits. Pembahasan semalam berkaitan dengan apakah bisa melaksanakan shalat syiddatul Khouf (shalat saat keadaan takut sekali) ketika shalat ditengah hutan dan bertemu dengan pocong. Pembahasan menarik ini berhasil membuat suasana musyawarah tadi malam berlangsung seru dan ramai penonton. “Shalat Syiddatul Khouf yang dilakukan oleh teman-teman yang sedang camping dihutan itu, shalatnya harus diulangi lagi. Karena berdasarkan deskripsi soal yang ada ternyata pocong tersebut hanyalah salah satu dari mereka yang menyamar dan hanya ingin mencandai mereka. Jadi jelasnya shalatnya harus diulangi”, jelas salah satu perumus yang berkacamata. Penulis : Musafal Habib Editor   : Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Merajut Impian Masyayikh
Nov22

Merajut Impian Masyayikh

Pembabatan tanah yang kita injak ini bukanlah hal yang mudah, hutan belantara tak berpenghuni. Akan tetapi seorang perantau gigih melakukannya. Bahkan dalam buku Jejak Langkah 9 Masyaikh Sidogiri [2×9.7/Omi/j/C.01] hambatan pada saat itu bukan hanya pohon raksasa, akan tetapi para jin dan beberapa hewan liar. Karena keberanian Mbah Sulaimanlah—panggilan masyhurnya—Milad tanah ini sudah mencapai ke-280 tahun. Kegigihan dan pengorbanan bukanlah sesuatu yang muncul pada setiap saat. Di dalam buku NO EXCUSE [158/Ala/n/C.01]  kesemangatan hanyalah terbangaun dari visi dan misi yang sangat jelas. Tak mungkin seseorang semangat tanpa tujuan yang pasti. Begitu pula Mbah Sulaiman, beliau pasti memiliki visi dan misi yang sangat jelas dan agung. Karena  sangat tak masuk akal jika mengorbankan harta, waktu dan tenaga untuk membabat hutan belantara yang angker dengan tanpa iming-imingan apapun. Untuk itu, KH Hasanie Nawawie merumuskan devinisi santri dengan jelas, agar konsep yang tertanam dalam diri santri tidak ‘konslet’. Mengingat santri harus tahu impian maha gurunya. Sebagai mana yang tertera dalam buku Biografi Ringkas Keteladanan Kiai Hasanie Nawawie [2×9.09/Bak/b/C.03]. Oleh karenanya, slogan ‘satu mimpi satu barisan’ muncul sebagai tema perayaan milad PPS ke-280. Mengingat sudah saatnya santri satu arah dengan impian para masyayikh, yakni mengkader ‘ibadillahish-shalihin. Gus Dur didalam antologi esainya Kiai Nyentrik Membela Pemerintahan [2×9.874/Wah/k/C.02] menjelaskan efek dari kebersamaan dalam mencari ilmu. Di esainya terdapat cerita tentang dua kiai yang kehidupannya sangat kontras, tapi itu saling menghormati satu sama lain. Bahkan efek kemasyrakatpun lebih maksimal. Pentingnya kekompakan juga tercermin dalam buku Dari Puncak Andalusia [900/Suw/d/C.01], mulai berdirinya masjid Kordoba sebagai pusat peradaban Islam, hingga menjadi bebak belur menjadi gereja. Kekompakan yang kami maksud disini adalah menjalani semua titah masyayikh, karena mimpi itu takkan tercapai selagi Anda belum melewati jalan yang disediakan oleh guru kita. Ingat! Penyebab kekalahan muslimin di peperangan Uhud disebabkan tidak taat pada titah Nabi, sebagai mana  dalam buku Analisis Aktual Perang Badar & Uhud...

Selengkapnya
NASYITH :  Siap Berevolusi dengan Kreativitas Tanpa Batas
Nov21

NASYITH : Siap Berevolusi dengan Kreativitas Tanpa Batas

Nasyith adalah salah satu dari beberapa media aktif di Pondok Pesantren Sidogiri yang menghadirkan topik terkini seputar dunia keremajaan. Berbeda dengan majalah dinding, Nasyith yang merupakan majalah cetak memiliki tantangan yang lebih berat, setiap akan terbit mereka harus mempertimbangkan jumlah cetakan dan pasaran. “Untuk nasyit sendiri kami harus benar-benar mempertimbangkan kualitas dan jumlah cetakan sebelum terbit, karena kita tidak mau majalah kita terbit, tapi asal terbit. Terbit ya harus ada kualitasnya. Selain itu kita harus cermat dalam hal percetakan, sekiranya jumlah yang kita cetak bisa memenuhi target pemasaran”. jelas Sabiq Ni’am selaku koordinator majalah Nasyith. Dalam hal keredaksian nasyit banyak membuka peluang bagi siapapun yang memiliki bakat menulis, tanpa ada ketentuan tingkat kelas. Dengan motto kreativitas tanpa batas, Nasyith memberi kebebasan bagi redaksinya untuk mengembangkan kualitas tulisan mereka, bagaimanapun caranya. “Untuk soal redaksi, pihak ISS tidak menentukan harus Aliyah , tapi siapapun yang dianggap mampu, maka dapat masuk, karena setiap orang pasti mempunyai keahlian masing-masing.” Terangnya. “Selain dalam hal kualitas tulisan, kami juga mengembangkan kualitas manajemen, karena setiap menerbitkan majalah, kita membutuhkan biaya. Nah, jika pemasaran tidak sampai memenuhi target, maka kita akan mengalami kerugian. Jika hal tersebut terus berlanjut, bisa-bisa kita tidak terbit lagi.”, Lanjutnya. Hal ini menjawab rasa penasaran santri, tentang kenapa beberapa tahun lalu Nasyith jarang terlihat. Sabiq Ni’am juga berpesan kepada para pembaca bahwa kita selaku santri harus menyemarakan dakwah, entah itu dalam bentuk ceramah, ataupun tulisan.“Jadikan nasyit bukan hanya sekedar majalah biasa, namun sebagai ajang untuk dakwah. Dengan tulisan yang kita buat, sekiranya dapat menunjukan seperti apa remaja yang seharusnya, dan bagaimana cara kita menyikapi perkembangan zaman. Dengan tulisan, kita juga dapat menyampaikan apresiasi yang selama ini kita pendam. Karena itu menulislah,” pungkasnya. Penulis: [Alf/Redaksi Majalah Dinding...

Selengkapnya
DeIslamisasi Buku Sejarah
Nov21

DeIslamisasi Buku Sejarah

Pada masa Dinasti Abasyiah, Qash (pencerita) identik dengan Khatib (penceramah) atau Waidz (pemberi nasihat). Karena pada zaman itu cerita (baca; Sejarah) lebih direspon oleh para audien daripada nasihat-nasihat yang dilontarkan oleh para orator ulung. Hal itu menjadi bukti bahwa pengaruh sejarah jauh lebih besar dari pada nasihat-nasihat para orator. Sebangai mana yang telah dipaparkan oleh K.H.A. Musthofa Bisyri dalam buku Episode-Episode Perjuangan Tanpa Pamrih[297.9/Tho/E/C.03] bahwasannya pada zaman itu para orator terus mengkaji dalam sejarah untuk dijadikan bahan materi ceramah. Karena pada zaman itu nasehat-nasehat sangat tidak laku. Karena sangat besarnya pengaruh sejarah kepada seseorang, Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya,Api Sejarah [906/Sur/A/C.03] berupaya menghancurkan Islam dengan cara deIslamisasi dalam penulisan sejarah. Sehingga masyarakat umum tertipu dengan sejarah palsu tersebut. Syaikh Ali Ath-Thanthawi dalam buku Episode-Episode Perjuangan Tanpa Pamrih[297.9/Tho/E/C.03] menuturkan, masyarakat umum tidak memperhatikan terhadap sejarah. Kalau Anda tidak percaya akan kami buktikan!. Di dalam kitab Rihlah ibnu Bathuthah[2×9.9/Ibn/R/C.01] ada sultan muslim yang sangat bijak yaitu Talmusyirin. Beliau masih cucu Jenghis Khan. Beliau menguasai wilayah yang sangat luas, manggabungkan beberapa wilayah, dan punya kekuatan militer yang amat tangguh. Coba jawab pertanyaan saya dengan se-jujur-jujurnya! Apakah anda pernah mendengar tentang sultan Talmusyirin?. Pernahkah ada raja Muslim yang memerintah Rusia? Kekuasaan mereka sangat spektakuler. Didalam kitab-kitab sejarah  wilayah mereka disebut dengan ‘Bulghar’. Ibukotanya tidak jauh dari Stalingrat. Apakah Anda juga pernah mendengar tentang raja Aurangzib, salah satu raja di India yang memiliki kemiripan dengan Khulafaur Rasyidin dalam segi prinsip hidup dan keberhasilan?. Jika anda tidak mengetahui hal itu maka, bagaimana mungkin kita dapat memilah dan memilih sejarah yang asli dan yang palsu?. Maka dari itu, seyogyanya bagi kita untuk semangat dalam belajar sejarah dengan tujuan meninggikan syi’ar Islam. Selain karena faktor keminiman masyarakat dalam mengetahui sejarah, Ahmad Mansur Suryanegara memaparkan faktor lain didalam Api Sejarah [906/Sur/A/C.03] bahwasannya Sejarawan dalam menulis buku banyak bersumber dari barat. Contoh sejarawan nusantara yang sudah populer, R.K.H. Abdullah bin Nuh. Karya-karya beliau kebanyakan mengambil dari buku The Preaching of Islam karya sejarawan barat yang bernama Thomas W. Arnlod. Sehingga karya beliau sedikit mengalami deIslamisasi. Memang benar perkataan H.M. Iwan Gayo dalam bukunya Buku Pintar Seri Senior[915.98/Gay/B/C.03] bahwasannya penulisan suatu karya sangat sering terkendala oleh masalah data, materi dan akses informasi. Intinya, kita harus bangkit untuk menyuarakan sejarah yang asli den melawan sejarah yang telah mengalami deIslamisasi. Karena dengan menegakkan kebenaran, berarti kita menegakkan masa depan bangsa. Muhammad ibnu...

Selengkapnya