Puasa dan Segala Hal Mengenainya
Mei16

Puasa dan Segala Hal Mengenainya

Pengertian Puasa Puasa dalam bahasa Arab dikenal dengan shiyâm atau shaûm, yang secara etimologi berarti menahan diri dari segala hal, baik kebaikan ataupun kejelekan. Sedangkan pengertian yang dikehendaki dalam syariat Islam adalah menahan diri dari sesuatu yang dapat membatalkan puasa. Itu artinya puasa mencakup arti menahan untuk tidak makan, menahan untuk tidak minum, atau menahan hawa nafsu pada waktu yang telah ditentukan, yakni mulai dari keluarnya fajar sampai terbenamnya matahari.    2. Kriteria Wajib Berpuasa  Berpuasa pada bulan Rajab disunahkan kepada setiap orang Islam, baik lelaki maupun wanita, tua atau pun muda, dengan catatan dia sudah mencapai umur baligh, berakal, serta memiliki kemampuan untuk berpuasa. Oleh karena itu orang kafir, anak yang belum mencapai umur baligh, orang gila, dan orang yang tidak kuat berpuasa, seperti karena sakit parah atau karena lanjut usia, tidak wajib berpuasa. Ukuran umur baligh dapat diketahui dari salah satu tanda berikut ini: laki-laki: Pernah mimpi basah (ihtilam) Telah berumur 15 tahun Perempuan: Mengalami menstruasi (haid) Pernah mengalami mimpi basah Telah berumur 15 tahun  Beberapa Pengecualian Ada beberapa orang yang tidak boleh melaksanakan puasa, karena berada dalam suatu kondisi, yaitu seorang wanita yang sedang haid atau nifas. Dia tidak diperbolehkan melakukan puasa sampai habis masa haid atau nifasnya. Namun begitu, dia diwajibkan untuk mengganti puasa Ramadhan yang ia tinggalkan dengan melaksanakannya di bulan lain. Selain itu, ada pula orang yang diberi kelonggaran untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan, tetapi wajib menggantinya di bulan lain. Mereka itu ialah: orang sakit yang masih ada harapan untuk sembuh dan orang yang sedang bepergian jauh (+ 90 km). Karena itu seorang musafir yang merasa kuat untuk melanjutkan puasanya dianjurkan untuk meneruskan puasa, sedangkan yang merasa lemah dan berat lebih baik berbuka dan menghentikan puasa, karena bila memaksakan diri, maka hukumnya adalah makruh. Selain itu ada pula orang yang diberi kelonggaran untuk tidak mengerjakan puasa dan tidak wajib menggantinya dengan puasa di bulan lain, tetapi wajib baginya untuk menunaikan fidyah, yaitu memberi makan kepada orang miskin, satu orang untuk satu hari puasa. Mereka adalah orang yang tidak lagi mampu mengerjakan puasa karena alasan berikut: Orang yang umurnya sangat tua Wanita yang menyusui anaknya atau sedang mengandung dan khawatir akan kesehatan dirinya bila memaksakan diri untuk berpuasa. Orang yang sakit terus-menerus yang tidak ada harapan sembuh. Orang yang sehari-hari kerjanya berat dan tidak mungkin mampu dikerjakan sambil puasa, serta tidak mendapat pekerjaan lain yang lebih ringan dari itu. Rukun- Rukun Puasa Rukun adalah bagian-bagian inti dari suatu ibadah, karena itu rukun menjadi tolak ukur sah dan tidaknya suatu amal ibadah tersebut. Adapun rukun puasa itu ada dua: Niat Niat adalah bermaksud untuk melakukan puasa. Niat harus dilakukan setiap kali hendak berpuasa dan dilakukan...

Selengkapnya
Jadwal Pengajian Kitab Ramadhan 1439 H
Mei16

Jadwal Pengajian Kitab Ramadhan 1439 H

Berikut jadwal pengajian kitab Ramadhan 1439 H di Pondok Pesantren Sidogiri.   Keterangan Foto: 1) Pengajian kitab yang diasuh oleh Hadratussyeikh KH. A. Nawawi Abd. Djalil akan dilaksanakan pada hari Jumat (2 Ramadhan) 2) Semua pengajian kitab selain yang diasuh oleh Hadratussyeikh KH. A. Nawawi Abd. Djalil dilaksanakan pada hari Sabtu (3 Ramadhan). 3) Bagi murid kelas III Tsanawiyah dan III Aliyah (calon Guru Tugas) wajib mengikuti pengajian yang diasuh oleh Hadratussyeikh. 4) Murid kelas III Tsanawiyah dan III Aliyah (calon Guru Tugas) mengikuti pengajian sesuai majelis yang telah ditentukan pengurus. 5) Semua pengajian kitab boleh diikuti oleh santri Ramadhan (umum). 6) Materi pengajian kitab yang diasuh oleh Mas H. Ahmad Sa’dulloh Abd. ‘Alim adalah kitab النصائح...

Selengkapnya
Kursus Metode Al-Miftah Ramadhan Resmi Dibuka
Mei13

Kursus Metode Al-Miftah Ramadhan Resmi Dibuka

Sehubungan akan dimulainya kegiatan kursus al-Miftah lil Ulum Ramadhan 1439 H, Panitia Penyelenggara kursus menggelar Grand Opening di halaman Kantor Sekretariat, Senin (13/05). Antusias peserta tampak ketika ustadz Qusyairi Ismail, kreator metode al-Miftah lil Ulum, menyampaikan harapannya terkait metode tersebut, yaitu menciptakan penghafal kitab sejak dini. Pun, sebagaimana yang dijelaskan santri kelahiran Sampang ini, bahwa metode al-Miftah lil Ulum tidak hanya metode cepat memahami ilmu Nahwu saja, melainkan ada beberapa disiplin ilmu yang juga diterapkan. “Selain al-Miftah Nahwu, juga ada Balaghah, Arud, Faraid, bahkan saat ini sedang membuat metode cepat menghafal al-Quran dan mempelajari Qiraan Sab’ah-nya,” jelas Koordinator Tarbiyah Idadiyah bersemangat. Sementara itu, Ustadz Nurul Yakin, salah satu panitia kursus, berkomentar bahwa kegiatan kursus ini memberi kesempatan bagi santri yang tidak mondok di Sidogiri untuk  juga ikut belajar metode tersebut. Menurutnya hal ini tidak boleh disia-siakan. “Sehingga nanti juga bisa menyebarkan ilmunya. Salah satu tujuannya, ya, itu, agar santri dari pondok pesantren lain juga bisa belajar metode al-Miftah lil Ulum” jelas beliau sembari tersenyum. ==== Penulis: Ach Mustaghfiri Soffan Editor  : N. Salihin...

Selengkapnya
Kursus Al-Miftah Ramadan
Mei07

Kursus Al-Miftah Ramadan

      Pelajar Putra ▪Rp. 550.000 tanpa makan ▪Rp. 750.000 include buka dan sahur Pengajar Putra ▪Rp. 350.000 tanpa makan ▪Rp. 450.000 Include makan buka dan sahur Pelajar Putri ▪Rp.650.000 include makan buka sahur Note: 1. Putri tidak ada kelas pengajar_ 2. Peserta purti wajib dekos karena aturannya putri tidak boleh keluar dari lokasi. Isi kolom pendaftaran formulir di bawah ini: Form...

Selengkapnya
Mas d. Nawawy Sadoellah; Santri Tidak Pernah Mengkhianati NKRI Part#2
Mei04

Mas d. Nawawy Sadoellah; Santri Tidak Pernah Mengkhianati NKRI Part#2

  Sudah jamak kita saksikan, bahwa saat menjelang pemilu, pilpres atau pilkada, para politisi hyper aktif merangkul para ulama, berpenampilan religius, mendatangi majelis-majelis taklim dan jamiyah. Tapi, ketika pemilu sudah selesai, mereka justru menjadi inisiator kebijakan-kebijakan yang berlawanan dengan ajaran agama, mendukung kegiatan-kegiatan maksiat, membela penodaan agama, mempropagandakan pikiran-pikiran yang sekuler, dan menghancurkan sendi-sendi gerakan umat Islam. Semoga di negeri kita ini tidak ada partai politik yang seperti itu. Kalau ada, maka sudah semestinya kita istighatsahi dengan Hizib Nashor supaya cepat hancur dan bubar. Kita tahu dari sejarah para leluhur kita, bahwa para panglima dan perwira santri selalu muncul di garda terdepan perjuangan kemerdekaan bangsa kita tempo dulu, dengan berdarah-darah dan mempertaruhkan nyawa. Seandainya, saat ini ada pasukan asing datang ke sini untuk menjajah, maka sudah pasti kita akan turun gunung untuk mengangkat senjata, seperti yang terjadi di Surabaya pada tanggal 10 Nopember 1945 itu. Begitulah para panglima santri! Oleh karena itu, sungguh sangat lucu jika ada panglima santri, hanya muncul dengan tiba-tiba menjelang pemilu. Itu merupakan anomali yang sangat jauh dari mainstream kaum pesantren. Sejarah kaum pesantren lebih memilih medan perang untuk mengusir penjajah, daripada medan politik untuk menguasai bangsa sendiri. Kenapa? Karena medan perang mendorong kita untuk memberi, memberi dan memberi kepada negeri ini, sementara medan politik cenderung menumbuhkan hasrat kita untuk memburu dan mencari keuntungan darinya. Medan perang menumbuhkan jiwa-jiwa patriot yang herois, sedangkan medan politik cenderung menumbuhkan jiwa-jiwa pragmatis yang hedonis. Dalam bernegara, kita kaum santri memiliki dua pilihan yang sama-sama baik. Jika kita bisa dan mampu untuk mengabdi dengan baik, serta mantap dan yakin bisa membendung godaan, maka silahkan terjun ke dunia politik atau birokrasi, dengan senantiasa menjaga muru’ah dan akhlak santri, istikamah dalam mematuhi aturan-aturan agama, serta teguh dalam memegang tujuan-tujuan mulia yang diajarkan oleh para Masyayikh. Jika kita tidak bisa, maka marilah kita menjadi rakyat biasa saja. Rakyat yang patuh menjalani ajaran agama, tekun salat berjamaah, seraya berdakwah dan menyebarkan kebaikan melalui pesantren, madrasah, musolla, majelis taklim dan lain sebagainya. Menjadi rakyat yang mandiri, berguna bagi masyarakat, tidak menjadi beban bagi negara, serta patuh terhadap hukum dan undang-undang yang berlaku. Dalam slogan kaum santri disebutkan, “Jadilah pemimpin yang mampu dan adil, atau rakyat yang patuh dan setia. Jangan sampai menjadi selain itu!” Baiklah, sekian dari kami. Semoga bermanfaat. Selamat Milad Pondok Pesantren Sidogiri yang ke-281 & Ikhtibar Madrasah Miftahul Ulum yang ke-82! Di bawah tajuk “Beragama, Bernegara, dan Berbangsa!” Semoga ada manfaatnya bagi kita semua dan segenap bangsa Indonesia, terutama dalam hal membangun kehidupan beragama, kehidupan berbangsa, kehidupan bermasyarakat dan kehidupan bernegara kita, agar lebih sesuai dengan nilai-nilai keislaman yang benar dan lurus, nilai-nilai kebangsaan yang damai dan tenteram, serta nilai-nilai kenegaraan...

Selengkapnya