Menggauli Istri Pasca Perzinahan
Mar24

Menggauli Istri Pasca Perzinahan

Deskripsi Masalah Ani melakukan perzinahan dengan kekasih gelapnya. Dan kejadian itu diketahui oleh suami Ani lantaran ada informasi dari salah seorang tetangganya, selain itu memang ada pengakuan dari Ani setelah dia ditanyakan oleh sang suami. Meski demikian, mungkin karena alasan cinta, sang suami tidak mau menceraikan Ani. Bahkan dua hari setelah kejadian itu sang suami menggauli Ani. Pertanyaan Bolehkah seorang suami menggauli istrinya pasca perzinahan? Seandainya setelah kejadian di atas terjadi kehamilan, maka bernasab kepada siapakah anak yang dilahirkan? Jawaban Boleh karena zina tidak mewajibkan ‘iddah. Jika anak itu lahir setelah enam bulan dari masa menggauli, maka anak tersebut dinisbatkan kepada suaminya. Jika anak tersebut lahir sebelum masa enam bulan dari hubungan intim pasutri, maka anak tersebut dinisbatkan kepada ibunya. Rujukan وَوَطْءُ الزِّنَا لَا يُوجِبُ عِدَّةً ، اعْتِبَارًا بِكَوْنِ الْمَوْطُوءَةِ فِي نَفْسِ الْأَمْرِ زَوْجَةً وَمَا تَخَيَّلَهُ بَعْضُ ضَعَفَةِ الطَّلَبَةِ مِنْ أَنَّ الْمُرَادَ أَنَّ مَنْ وَطِئَ بِذَلِكَ الظَّنِّ، وَجَبَ عَلَيْهَا أَنْ تَعْتَدَّ مَعَ بَقَاءِ الزَّوْجِيَّةِ وَحَرُمَ عَلَى زَوْجِهَا وَطْؤُهَا قَبْلَ انْقِضَاءِ الْعِدَّةِ فَهُوَ مِمَّا لَا مَعْنَى لَهُ، لِأَنَّهُ إنْ نَظَرَ إلَى كَوْنِ الْوَطْءِ بِاسْمِ الزِّنَا فَالزِّنَا لَا حُرْمَةَ لَهُ إنْ نَظَرَ إلَى كَوْنِهَا زَوْجَةً فِي نَفْسِ الْأَمْرِ لَمْ يَكُنْ وَطْؤُهَا مُوجِبًا لِلْعِدَّةِ فَتَنَبَّهْ لَهُ فَإِنَّهُ دَقِيقٌ. (حاشية البجيرمي على الخطيب، 11/235) (مَسْأَلَةٌ: يَ شَ) نَكَحَ حَامِلاً مِنَ الزِّنَا فَوَلَدَتْ كَامِلاً كَانَ لَهُ أَرْبَعَةُ أَحْوَالٍ، إِمَّا مُنْتَفٍ عَنِ الزَّوْجِ ظَاهِراً وَبَاطِناً مِنْ غَيْرِ مُلَاعَنَةٍ، وَهُوَ الْمَوْلُوْدُ لِدُونِ سِتَّةِ أَشْهُرٍ مِنْ إِمْكَانِ الْاِجْتِمَاعِ بَعْدَ الْعَقْدِ أَوْ لِأَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِ سِنِيْنَ مِنْ آخِرِ إِمْكَانِ الْاِجْتِمَاعِ، وَإِمَّا لَاحِقٌ بِهِ وَتَثْبُتُ لَهُ الْأَحْكَامُ إِرْثاً وَغَيْرَهُ ظَاهِراً، وَيَلْزَمُهُ نَفْيُهُ بِأَنْ وَلَدَتْهُ لِأَكْثَرَ مِنَ السِّتَّةِ وَأَقَلَّ مِنَ الْأَرْبَعِ السِّنِيْنَ، وَعَلِمَ الزَّوْجُ أَوْ غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ أَنَّهُ لَيْسَ مِنْهُ بِأَنْ لَمْ يَطَأْ بَعْدَ الْعَقْدِ وَلَمْ تَسْتَدْخِلْ مَاءَهُ، أَوْ وَلَدَتْ لِدُوْنِ سِتَّةِ أَشْهُرٍ مِنْ وَطْئِهِ ، أَوْ لِأَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِ سِنِيْنَ مِنْهُ، أَوْ لِأَكْثَرَ مِنْ سِتَّةِ أَشْهُرٍ بَعْدَ اسْتِبْرَائِهِ لَهَا بِحَيْضَةٍ وَثَمَّ قَرِيْنَةٍ بِزِنَاهَا، وَيَأْثَمُ حِيْنَئِذٍ بِتَرْكِ النَّفْيِ بَلْ هُوَ كَبِيْرَةٌ، وَوَرَدَ أَنَّ تَرْكَهُ كُفْرٌ، وَإِمَّا لَاحِقٌ بِهِ ظَاهِراً أَيْضَاً، لَكِنْ لَا يَلْزَمُهُ نَفْيُهُ إِذَا ظَنَّ أَنَّهُ لَيْسَ مِنْهُ بِلَا غَلَبَةٍ، بِأَنِ اسْتَبْرَأَهَا بَعْدَ الْوَطْءِ وَوَلَدَتْ بِهِ لِأَكْثَرَ مِنْ سِتَّةِ أَشْهُرٍ بَعْدَهُ وَثَمَّ رَيْبَةٌ بِزِنَاهَا، إِذِ الْاِسْتِبْرَاءُ أَمَارَةٌ ظَاهِرَةٌ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ مِنْهُ لََكِنْ يُنْدَبُ تَرْكُهُ لِأَنَّ الْحَامِلَ قَدْ تَحِيْضُ، وَإِمَّا لَاحِقٌ بِهِ وَيَحْرُمُ نَفْيُهُ بَلْ هُوَ كَبِيْرَةٌ، وَوَرَدَ أَنَّهُ كَفَرَ إِنْ غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ أَنَّهُ مِنْهُ، أَوِ اسْتَوَى الْأَمْرَانِ بِأَنْ وَلَدَتْهُ لِسِتَّةِ أَشْهُرٍ فَأَكْثَرَ إِلَى أَرْبَعِ سِنِيْنَ مِنْ وَطْئِهِ، وَلَمْ يَسْتَبْرِئْهَا بَعْدَهُ أَوِ اسْتَبْرَأَهَا وَوَلَدَتْ بَعْدَهُ بِأَقَلَّ مِنَ السِّتَّةِ، بَلْ يَلْحَقُهُ بِحُكْمِ الفِرَاشِ، كَمَا لَوْ عَلِمَ زِنَاهَا وَاحْتَمَلَ كَوْنُ الْحَمْلِ مِنْهُ أَوْ مِنَ الزِّنَا، وَلَا عِبْرَةَ بِرَيْبَةٍ يَجِدُهَا مِنْ غَيْرِ قَرِيْنَةٍ، فَالْحَاصِلُ أَنَّ الْمَوْلُوْدَ عَلَى فِرَاشِ الزَّوْجِ لَاحِقٌ بِهِ مُطْلَقاً إِنْ أَمْكَنَ كَوْنُهُ مِنْهُ، وَلَا يُنْتَفَى عَنْهُ إِلَّا...

Selengkapnya
Mari Kembalikan Gairah Baca Kitab di Bumi Nusantara Bersama Al Miftah Lil Ulum
Mar22

Mari Kembalikan Gairah Baca Kitab di Bumi Nusantara Bersama Al Miftah Lil Ulum

Kitab Kuning adalah simbol tradisi intelektual Islam pesantren. Ia menjadi wahana penyebaran ajaran islam yang dirumuskan para Ulama Salafus Sholeh, kepada para pelajar masa kini. Adalah keniscayaan dan keistimewaan tersendiri bagi seorang santri bisa membaca teks kitab turast. Hampir bisa dikatakan tabu yang miris jika santri tidak mampu memahami kandungan yang tertera dalam kitab turast, karena didalamnya terangkup sumber pengetahuan islam yang merupakan suatu bidan disiplin ilmu yang harus dimiliki oleh seorang santri. Namun –bagi sebagian kalangan– jangankan untuk memahami, hanya sekedar membacapun sudah ogah, lantaran teksnya yang tidak memiliki harakat sebagaimana Al Quran. Untuk bisa membaca kitab kuning berikut arti harfiah kalimat per kalimat agar bisa dipahami secara menyeluruh, dibutuhkan kecapakan dalam berbagai ilmu gramatikal arab; Nahwu dan Sorof. Maka dari itu Al-Miftah Lil Ulum Sidogiri hadir sebagai solusi membendung kejumutan berpikir yang berdensi membuat jurang pemisah antara kalangan pelajar dari sumber aslinya (baca. kitab kuning). Padahal untuk menguasai teknik membaca kitab yang dikenal denngan sebutan kitab gundul ini tidaklah sesulit apa yang dibayangkan. Melain bisa sangat mudah mempelajarinya dengan metode “Cara Mudah Belajar Kitab Kuning ala Al Miftah Lil Ulum” ini asalkan dengan kesungguhan dan ketelatenan. Al Miftah Lil Ulum merupakan sebuah perpaduan dari berbagai macam ilmu gramatika arab yang dipadukan menjadi metode yang mudah pratis, dan menyenangkan sangat cocok diajarkan kepada anak-anak. Dilengkapi dengan lagu-lagu dan nadham Alfiyah Ibnu Malik yang kemas secara kreatif, mudah dihafal dan diaplikasikan secara langsung. Pada kesempatan ini, dalam menyambut bulan suci Ramadhan yang akan segera tiba, Madrasah Tarbiyah Idadiyah Pondok Pesantren Sidogiri kembali akan menyelenggarakan Training Al Miftah Lil Ulum dengan motto “Mengembalikan Gairah Baca Kitab di Bumi Nusantara” selama 22 hari yang dimulai pada 28 Sya’ban s.d 20 Ramadhan 1438 H, yang bertepatan pada tanggal 25 Mei s.d 15 Juni 2017 mendatang. Training Al Miftah Lil Ulum ini dibagi menjadi dua format yaitu untuk pengajar dan pelajar. Bagi pelajar yang mengingikan dirinya bisa baca kitab; sedangkan pengajar bagi yang mampu membaca kitab dan ingin mempejari metode pengajaran yang nantinya bisa diterapkan di kampung halamannya sebagai bekal dalam  membumikan “Gairah Baca Kitab di Bumi Nusantara”. Sekedar untuk diketahui Training ini, tidak hanya bisa diikuti oleh kaum bersarung, namun juga bisa diikuti oleh kalangan pelajar dan mahasiswa yang masih belum akrab dengan pengajaran kitab kuning. Bahkan bisa diikuti oleh remaja putri yang akan ditempatkan di asrama Banat VIII Pondok Pesantren Sidogiri. Hanya saja kuota peserta perempuan maksimal 220 peserta putri. Sementara untuk putra tanpa batas maksimal peserta. Para peserta Training akan dibimbing oleh mentor-mentor yang kompeten, berpengalaman dan sudah memiliki sertifikat mengajar “Al Miftah Lil Ulum; Mudah Belajar Baca Kitab Ala Sidogiri. Untuk info lebih lanjut Anda bisa menghubungi contak person...

Selengkapnya
Cinta Pudar, Istri Minta Cerai
Mar20

Cinta Pudar, Istri Minta Cerai

  Deskripsi Masalah Gimin adalah pemuda yang paling bahagia di desa Bungkal. Bagaimana tidak? Dengan tampang pas-pasan dia berhasil mempersunting Juminten, bunga desa Bungkal. Oleh karena itu, dia bertekad untuk membahagiakan istri tercinta. Demi meraih impian untuk hidup lebih baik, Gimin membulatkan tekad untuk mengadu nasib ke Taiwan. Setiap bulan, Gimin tak lupa untuk mengirimkan uang 5 juta rupiah kepada istri tercintanya. Namun setelah 4 tahun berpisah, rasa cinta di hati Juminten lama-lama mulai pudar. Apalagi setelah Juminten bertemu dengan Karyo, cinta pertamanya saat SMP dulu. Karyo yang dulu masih ingusan sekarang sudah berubah menjadi laki-laki tampan yang berkehidupan mapan. Dan cinta lama pun bersemi kembali di antara mereka. Tragisnya, konrak kerja Gimin yang semula hanya 4 tahun diperpanjang menjadi 8 tahun. Akhirnya Juminten memutuskan untuk menggugat cerai suaminya di pengadilan atas dasar telah pudarnya rasa cintanya kepada Gimin. Dan pengadilan pun mengabulkan gugatan Juminten. Setelah proses perceraiannya selesai, Juminten menikah lagi dengan Karyo dan hidup bahagia bersamanya. Pertanyaan Apakah langkah pengadilan yang mengabulkan gugatan cerai Juminten atas dasar pudarnya rasa cinta tersebut dapat dibenarkan? Bolehkah seorang istri menggugat cerai hanya berdasarkan cinta yang telah hilang kepada suaminya dalam perspektif fikih? Jawaban Langkah pengadilan yang mengabulkan gugatan cerai Juminten atas dasar semata-mata pudarnya rasa cinta tidak dibenarkan. Kecuali kalau langkah pengabulan gugatan cerai tersebut atas dasar pertimbangan Juminten telah ditinggal lama oleh suaminya. Menurut mazhab Maliki dan Hanbali, langkah tersebut dapat dibenarkan. Langkah pengabulan gugatan cerai tersebut itu pun harus sudah sesuai dengan prosedur yang ada, semisal suami disurati/ditelpon untuk kembali. Tidak boleh, kecuali kalau pernikahan tersebut tetap dipertahankan justru akan mengakibatkan mafsadah menurut pandangan syara’, yaitu terjadinya perzinahan. Rujukan               فَلَا شَكَّ أَنَّ الْإِسْلَامَ جَعَلَ الطَّلَاقَ حِلًّا إِيْجَابِيًّا لِفَضِّ النَّزَّاعَاتِ الزَّوْجَةِ النَّاشِئَةِ عَنْ عَدَمِ ائْتِلَافِ الطَّبَاعِ وَالْأَخْلَاقِ، وَلَكِنْ لَمْ يَجْعَلْ هَذَا الْحِلُّ دُوْنَ قَيْدٍ أَوْ شَرْطٍ، بَلْ جَعَلَ لَهُ حُدُوْداً وَقَوَانِيْناً تُنَظِّمُهُ بِمَا تَقْتَضِيْهِ الْمَصْلَحَةُ الْأُسْريَّةُ.وَمِنْ هَذِهِ الْقَوَانِيِنَ: النَّهْيُ عَنْ طَلَبِ الْمَرْأَةِ الطَّلَاقَ مِنْ زَوْجِهَا فِي غَيْرِ مَا بَأْسَ. فَلَا شَكَّ أَنَّ الْإِسْلَامَ قَدْ جَعَلَ الطَّلَاقَ خُلِقَتْ الْمَرْأَةُ عَلَيْهَا مِنْ حَيْثُ غَلَبَةِ الْعَاطِفَةِ، وَلَيِّنِ الْجَانِبِ، وَالتَّسَرُّعِ، رُبَّمَا تَجْعَلُهَا غَيْرَ حَكِيْمَةٍ إِذَا أَقْدَمَتْ عَلىَ طَلَبِ الطَّلَاقِ لِمُجَرَّدِ مُشْكِلَةٍ عَابِرَةٍ، أَوْ مُشَادَّةٍ كَلَامِيَّةٍ بَيْنَهَا وَبيْنَ زَوْجِهَا، خُصُوْصاً إِذَا كَانَ لَهَا أَبْنَاءٌ.فَهِيَ بِذَلِكَ تَحْطُمُ رِبَاطَ الزَّوْجِيَّةِ –الى ان قال– وَمِنْ أَجْلِ هَذَا كُلِّهِ فَقَدْ زَجَرَ النَّبِيُّ e النِّسَاءَ عَنْ طَلَبِ الطَّلاَقِ مِنْ أَزْوَاجِهِنَّ فِي غَيْرِ مَا بَأْسَ مِنْهُمْ. فَقَالَ e )أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلَاقاً فِي غَيْرِ مَا بَأْسَ، فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ( وَلَا شَكَّ أَنَّ هَذَا الْحَدِيثَ الشَّرِيْفَ يَدُلُّ عَلىَ حُرْمَةِ طَلَبِ الْمَرْأَةِ الطَّلَاقَ مِنْ زَوْجِهَا فِي غَيْرِ مَا بَأْسَ مِنْهُ، وَلَكِنْ إِذَا تَرَجَّحَتْ فِي ذَلِكَ مَصْلَحَةٌ شَرْعِيَّةٌ، أَوْ إِذَا تَرَجَّحَتْ فِي اسْتِمْرَارِ الزَّوَاجِ مَفْسَدَةٌ شَرْعِيَّةٌ، جَازَ لَهَا أَنْ تَطْلُبَ...

Selengkapnya
MAI: Boleh Membakar Mushaf al-Quran yang Tidak Layak Pakai
Mar14

MAI: Boleh Membakar Mushaf al-Quran yang Tidak Layak Pakai

Musyawarah Antar Instansi (MAI), di bawah naungan Kuliah Syariah kembali digelar pada Kamis (11/05) yang lalu. Kegiatan yang dihelat di halaman Daerah B tersebut membahas fenomena pembakaran mushaf al-Quran yang sudah tidak layak pakai. Perlu diketahui, di Masjid Jami’ Sidogiri dan pesarean, banyak ditemui al-Quran yang bertulis ‘wakaf’ yang salah satunya merupakan sumbangan dari L-Kaf Sidogiri, lembaga Pondok Pesantren Sidogiri yang menangani wakaf. Selain itu, banyak ditemukan al-Quran berstatus wakaf itu sudah terlepas beberapa lembarannya, bahkan sebagian lembarnya terlepas. Petugas yang menangani hal itu memutuskan membakar mushaf al-Quran tersebut. Alasannya, karena mushaf yang telah rusak jarang dipakai oleh santri, sehingga al-Quran tersebut terabaikan dan dikhawatirkan mushaf tersebut akan terinjak serta tidak dihormati. Musyaffa’ Bisri dan Ust. Syamsul Arifin sebagai musahih menyatakan boleh membakar mushaf tersebut. Keputusan tersebut mengacu pada ibarat dalam kitab al-Majmu’ Syarhu al-Muhadzdzab dan Tuhfah al-Habib ‘ala Syarhi al-Khatib. Dalam kedua kitab tersebut dinyatakan bahwa boleh membakar mushaf sekalipun berstatus wakaf dengan alasan menjaga kemuliaan al-Quran tersebut.[] Penulis : Faried Muflihien Editor   : Muh Kurdi...

Selengkapnya
Kuliah Syariah Akan Segera Mengelar Bedah Kitab ‘Arbaina Hadisan’
Mar12

Kuliah Syariah Akan Segera Mengelar Bedah Kitab ‘Arbaina Hadisan’

Dalam waktu dekat ini, Kuliah Syariah Pondok Pesantren Sidogiri akan segera mengelar kuliah umum yang dikemas dalam acara bedah kitab. Bedah kitab kali ini akan membedah kitab “Arbaina Hadisan ‘ann Arbaina Syaikhan  ‘ann Arbaina Baladan” karya Syaikh Abi Faidz Muhammad Yasin bin Isa Al Padangi al Makki, yang akan dilaksanakan pada Jumat malam (17/03) mendatang pada pukul 08.30 wis. Acara yang direncankan bertempat di Aula Gedung Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri ini diagendakan akan menghadirkan KH. Abdul Qoyyum Manshur, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Lasem Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Lasem. Menurut penuturan salah satu panitia, Gus Qooyum sapaan akrab sosok dai keponakan dari KH. Sahal Madfudz dalam seminar ilmiah ini. “Beliau diundang untuk memberi daurah ilmiyah. Di samping itu juga kita minta ijazah sanad keilmuan karena adanya ketersambungan sanad merupakan hal yang sangat penting dalam keilmuan dan hal ini merupakan ciri dari Ahlussunnah wal Jamaah,” ungkap Ustadz Darwis, Tata Usaha Kuliah...

Selengkapnya