NOMOR HANDPHONE KEPALA DAERAH PPS
Des02

NOMOR HANDPHONE KEPALA DAERAH PPS

Nomor Handphone Kepala Daerah...

Selengkapnya
KH. BAHAR BIN NOERHASAN                     KIAI ALIT BERILMU LADUNNI (Bagian I)
Nov29

KH. BAHAR BIN NOERHASAN KIAI ALIT BERILMU LADUNNI (Bagian I)

Lahir di Tengah Laut Hadratussyekh KH Bahar bin Noerhasan bin Noerkhotim masih kanak-kanak ketika dinobatkan menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri (PPS). Saat itu beliau berumur 12 tahun. Meski demikian, Kiai Bahar adalah sosok alim yang luar biasa. Beliau terkenal memiliki ilmu ladunni, ilmu yang diberikan langsung oleh Allah tanpa proses belajar. Karena usianya yang sangat muda, beliau dikenal dengan sebutan Kiai Alit (dalam bahasa Jawa, “alit” berarti “kecil”). Kehidupannya yang unik menjadikannya sangat menarik untuk dipelajari dan disusun dalam bentuk sejarah khusus. Namun demikian, dalam penyusunan itu tidaklah semudah yang dibayangkan. Pencarian data dan analisis yang tepat mengenai kehidupan kakak KH. Nawawie bin Noerhasan ini cukup sulit bagi tim yang dipercaya untuk membukukan sejarahnya. Sebelum Kelahiran Kiai Bahar Saat itu, pertengahan abad 19, Pondok Pesantren Sidogiri masih berupa bilik-bilik kecil yang sangat sederhana. Dengan desain bilik cangkruk, kesan klasik menjadi sangat mencolok jika melihatnya. Namun, ada sesuatu yang istimewa di dalamnya. Dari bangunan-bangunan ala kadarnya itu telah banyak tumbuh ulama-ulama yang menebarkan wanginya nilai-nilai ajaran agama Islam di seantero tanah Jawa dan Madura. Para santri pada waktu itu bersemangat mengikuti pengajian KH Noerhasan bin Noerkhotim. Kiai Noerhasan senantiasa ikhlas menyalurkan ilmunya kepada mereka. Beliau yang dulunya santri Sidogiri yang sangat alim berkat ketekunan belajarnya dan memiliki sifat tawadu yang tinggi, setelah menjadi pengasuh beliau terkenal khumûl (tidak suka menampakkan kelebihan yang dimiliki) dan tidak tidur malam hari (sâhirul-layâlî). Selain itu, beliau merupakan sosok ahli ibadah. Ketika mondok di Sidogiri, Kiai Noerhasan adalah salah satu santri KH Mahalli. Beliau mendapat perhatian khusus dari Kiai Mahalli. Karena sifat-sifat mulianya tersebut, hingga suatu hari dinikahkan dengan Nyai Hanifah, putri Kiai Mahalli. Lahir di Perjalanan ke Makkah Perlahan-lahan kapal itu menarik sauh dan meninggalkan pelabuhannya. Hari itu hamba-hamba Allah akan memenuhi panggilan-Nya untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah, Makkah al-Mukarramah. Dalam perjalanan itu, Kiai Noerhasan bin Noerkhotim adalah salah satu penumpang kapal sebagai calon jamaah haji, dengan ditemani istrinya yang hamil tua, Nyai Hanifah. Walaupun alat transportasinya hanyalah kapal laut sederhana yang menyebabkan perjalanan harus ditempuh cukup lama, keduanya bersyukur dapat memenuhi panggilan Tuhan. Kapal laut saat itu merupakan satu-satunya alat transportasi untuk mencapai tanah Arab. Beberapa lama kemudian, saat kapal berada di tengah samudera, Nyai Hanifah merasa akan melahirkan. Dengan perlengkapan dan bantuan seadanya, sekuat tenaga ia mencoba berjuang melewati detik-detik penting yang mempertaruhkan nyawanya. Bahkan juga nyawa bayinya. Ketegangan pun menyelimuti para penumpang lain yang menunggu kabar di luar kamar dengan harap-harap cemas. Tiba-tiba jerit tangis seorang bayi terdengar keras. Bayi laki-laki yang baru keluar dari rahim ibunya itu menyapa manusia-manusia dengan tangisannya. Ungkapan syukur melompat-lompat dari mulut setiap orang yang menyaksikan keharuan itu. Terlebih pasangan Kiai Noerhasan dan Nyai Hanifah...

Selengkapnya
KH. BAHAR BIN NOERHASAN                     KIAI ALIT BERILMU LADUNNI (Bagian II)
Nov29

KH. BAHAR BIN NOERHASAN KIAI ALIT BERILMU LADUNNI (Bagian II)

Menikah dengan Orang Madura Selain menikahi seorang syarifah, ketika berusia 48 tahun Kiai Bahar juga pernah memperistri Nyai Fatimah Jengkebuen Bangkalan, yang sebelumnya adalah istri KH Ma’ruf yang memiliki seorang putra, KH Abdul Hadi (sebelumnya bernama Ghozali). Namun dari Nyai Fatimah, Kiai Bahar tidak dikarunia seorang pun putra. Oleh karena itu, Kiai Bahar menganggap anak pada putra Nyai Fatimah itu. Kiai Bahar memboyong Nyai Fatimah bersama putra tirinya ke Sidogiri. Kiai Bahar hidup bersama Nyai Fatimah dalam kurun waktu 6 atau 7 tahun. Setelah tinggal di Sidogiri, Nyai Fatimah kemudian pulang lagi ke Bangkalan karena Kiai Bahar wafat. Nyai Fatimah kemudian wafat sekitar tahun 1938 M. Tentang dalem Kiai Bahar, pada awalnya beliau tinggal di dalem ayahnya, KH Noerhasan bin Noerkhotim. (yakni dalem KH Abd Alim di utara Surau H). Kemudian setelah menikah, beliau pindah ke rumah di selatan (dalem KH Abd Adzim bin Oerip, timur dalem KA Sa’doellah Nawawie). Rumah tersebut merupakan pemberian seseorang kepada Kiai Bahar. Kiai Bahar tinggal di dalem selatan diperkuat oleh pernyataan KH Abd Adzim bin Oerip kepada KH Baqir, menantunya.”Iki dalemme Kiai Bahar, ‘Qir (Ini dalemnya Kiai Bahar, ‘Qir),” dawuh Kiai Abd Adzim kepada Kiai Baqir sambil menunjuk ke dalemnya, yang sekarang ditempati oleh Mas Ahmad bin Kiai Baqir. Mengasuh Sejak Kecil Pada pertengahan tahun 1800-an Masehi, Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) KH Noerhasan bin Noerkhotim berpulang ke Rahmatullah. Maka tongkat estafet kepengasuhan PPS dilanjutkan oleh putra pertama beliau, KH. Bahar bin Noerhasan. Uniknya, pada saat itu Kiai Bahar masih anak-anak. Beliau mengasuh PPS sampai berusia sepuh. Dalam sejarah PPS sejak berdiri tahun 1718 atau 1745 M, Kiai Bahar-lah satu-satunya Pengasuh yang mulai mengasuh sejak berusia kanak-kanak dan belum balig. Saat itu usia beliau 12 tahun. Umur di mana seseorang secara psikologis dan kebiasaan belum menunjukkan kematangan sikap dan mental, tapi beliau mampu mengemban amanat yang agung tersebut dan sanggup mengajarkan bermacam-macam kitab pada santri. Karena itulah beliau disebut “Kiai Alit”, artinya: kiai yang mengasuh sejak kecil. Bisa dikatakan langka, atau bahkan hampir tidak ditemukan di selain Sidogiri, sebuah pesantren dipimpin oleh seorang kiai anak kecil. Kiai Bahar adalah Pengasuh PPS ke-V, dengan urutan: (1) Sayid Sulaiman, (2) KH Aminullah, (3) KH Mahalli, (4) KH.Noerhasan bin Noerkhotim, dan (5) KH Bahar bin Noerhasan. Namun versi lain menyebutkan beliau Pengasuh yang ke-VIII, dengan urutan: (1) Sayid Sulaiman, (2) KH Aminullah, (3) KH Abu Dzarrin, (4) KH Mahalli, (5) KH Utsman, (6) KH Husain, (7) KH Noerhasan bin Noerkhotim, dan (8) KH Bahar bin Noerhasan. Meski sudah menjadi seorang Pengasuh, kebiasaan bermain kelereng dan kemiri dengan teman-temannya tak hilang dari diri Kiai Bahar. Waktu senggangnya banyak beliau gunakan untuk bermain kelereng bersama teman-teman seusianya di...

Selengkapnya
KH. BAHAR BIN NOERHASAN                     KIAI ALIT BERILMU LADUNNI (Bagian III)
Nov29

KH. BAHAR BIN NOERHASAN KIAI ALIT BERILMU LADUNNI (Bagian III)

Khumûl dan Berpenampilan Sederhana Sifat khumûl (low profile) menjadi ciri khas ulama-ulama Sidogiri dari awal sampai sekarang. Yang lebih populer di luar adalah nama pondoknya, “Sidogiri”, sedangkan kiainya tak jarang orang yang tidak mengetahuinya. Sifat khumûl inilah yang akan membuat seseorang tidak membanggakan diri dengan apa yang ada padanya, lebih-lebih bila ia seorang yang alim atau wali. Khumûl, tidak suka menampakkan kelebihan atau tidak senang menonjolkan diri di depan umum, adalah sifat para ulama salaf serta pakaian kaum sufi terdahulu. Sifat ini sangat dianjurkan, terutama bagi seorang murîd (orang yang ingin wushûl kepada Allah SWT) dan seorang sâlik (orang yang meniti jalan/tarekat menuju Allah SWT). Sifat khumûl ini juga melekat pada diri Kiai Bahar. Salah satu buktinya, ketika beliau naik dokar dan duduk bersebelahan dengan orang yang ingin bertamu ke Sidogiri, beliau tidak mengaku atau menampakkan bahwa dirinya adalah Pengasuh PP. Sidogiri yang dituju orang tersebut. Selain itu, ketika akan menikah dengan seorang syarifah Ampel Surabaya, beliau datang dengan pakaian sederhana dan memakai bakiak, sehingga dicibir oleh para undangan. Setelah beliau berpidato di hadapan mereka, baru mereka menyadari kealiman beliau. Pernah juga suatu hari Kiai Bahar ingin berziarah ke pesarean Mbah Shonhaji Batu Ampar Pamekasan Madura. Sebelum Kiai Bahar sampai di sana, Mbah Shonhaji mendatangi cucunya yang menjadi kiai penerusnya lewat mimpi. Dalam mimpi itu, Mbah Shonhaji memberitahu cucunya kalau akan kedatangan seorang tamu agung. “Hatihati ya, nanti Kiai Bahar dari Sidogiri mau ke sini, muliakan beliau!” pesan Mbah Shonhaji kepada cucunya. Kiai itu kemudian terbangun, terperanjat penuh tanda tanya, seperti apa gerangan tamu yang dimaksud mbahnya itu. Ia lalu beranjak dari peraduannya bergegas ke luar dan menyuruh para santrinya menyapu halaman pondok dan pesarean, dan yang lain menyiapkan hidangan untuk menyambut kedatangan Kiai Bahar. Tanpa disadari Kiai Bahar telah hadir di tengah-tengah kesibukan mereka, dengan mengenakan pakaian ala kadarnya, tidak menampakkan ‘kekiaiannya’. Sehingga kesederhanaan itulah yang membuat beliau tidak mudah dikenal sebagai kiai. Beliau heran melihat santri sedang ‘cuci bersih’ pesantren. Beliau bertanya pada salah seorang santri, “Ada apa, kok bersih-bersih bersama?” “Kiai Bahar mau ke sini,“ jawab santri itu ringkas. “Kiai Bahar mana?” lanjut beliau. “Kiai Bahar dari Sidogiri,” kata santri itu tanpa menyadari yang bertanya itulah yang ditunggu. Kiai Bahar lalu pergi begitu saja tanpa menyebutkan identitas dirinya, menuju pesarean Mbah Shonhaji dan mengaji al-Qur’an di sana. Setelah itu, beliau langsung pulang, tanpa pesan. Sedangkan sang kiai yang sejak tadi menunggu, tertidur pulas di rumahnya. Sekali lagi Mbah Shonhaji mendatanginya dalam mimpi dan berkata, ”Kiai Bahar sekarang sudah pulang!” Kiai itupun terbangun, lalu ia bertanya kepada santrinya, “Tadi tidak ada tamu?” “Tidak ada, Kiai,” jawab santrinya. “Tidak ada seorang pun ke pesarean?” tanya kiai itu lagi....

Selengkapnya
Perlukah Santri Kuliah?
Nov24

Perlukah Santri Kuliah?

Kuliah merupakan salah satu impian besar sebagian santri setelah lulus dari pesantren. Bertekad keras untuk mengembangkan diri dengan berkuliah. Namun, banyak yang masih tidak paham mengenai pentingnya kuliah dan seberapa besar kebutuhan santri mengenyam bangku kuliah. Oleh karena itu, simak hasil wawancara M. Nabil bin Syamsi dari Harian Maktabati dengan Mas M. Syamsul A. Munawwir, M. Psi, M. H, Kepala Lembaga Pengembangan dan Bimbingan Konseling (LPBK) serta Eks. Ketua Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri (HMASS) Pusat. Mas M. Syamsul A. Munawwir, M. Psi, M, H. Perlukah santri kuliah? KA. Sadoellah Nawawie pernah dawuh, “Aku kepingin santri iki macam-macam ga’ satu jurusan. Ono’ seng dadi bupati, polisi, tentara, DPR, dan lain-lain.” Ini pesan beliau saat Alm. Drs. HM. Bashori Alwi M. Pd. I., Mengutarakan niat untuk bersekolah. Sebab medan dakwah tidak hanya di pesantren, mereka juga perlu didakwahi. Santri juga perlu andil dalam bahagian itu. Kalau santri gak ada yang kuliah, terus mahasiswa banyak yang liberal, siapa yang salah? Apa saja yang harus dipersiapkan? Yang paling utama adalah kesiapan mental. Jangan merasa kalah dengan mahasiswa sebab latar belakang pesantren. Mestinya, harus bangga dan yakin santri itu bisa. Selain itu, persiapan administratif perlu diambil berat; sertifikat, ijazah dan semacamnya. Menyadari bahwa status kita adalah alumni santri Sidogiri. Dengan itu, kita sadar dan tahu diri. Berpegang teguh pada takrif santri itu sudah memadai. Ini juga di antara tujuan HMASS; agar santri tetap “Sidogiri”. Di samping itu, berhati-hatilah terhadap pergaulan, karena temanmu berpengaruh terhadap kepribadian dirimu. Bagaimana mengetahui jurusan yang tepat? Di perkuliahan ada tes kemampuan diri dan tes psikologi kepribadian. Sebab kalau ada tes seperti itu ‘kan bisa terjamin dan terpercaya. Tetapi, tidak semua kuliah ada semacam itu. Mengetahui kepribadian juga penting saat ingin kuliah, agar jurusan yang dipilih cocok dengan kemampuannya, karena kalau tidak sesuai, malah menyiksa diri. Pesan-pesan sampean untuk santri? Yang rajin sekolah, perbagus nilai ujian, aktif di organisasi. Pengalaman dan prestasi sangat menunjang tinggi kualitas diri. Berlomba-lomba dalam prestasi agar “dilirik”. Jangan menganggap remeh apapun sertifikat yang ada di Sidogiri. Perbanyak membaca. Yakinlah bahwa santri itu bisa. Kalau di pondok banyak pengalaman, berprestasi kemudian kuliah, insya Allah. Jangan lupa usaha batin juga. Minimal 1.000x salawat khidir, seperti di masjid itu (masjid jami’ Sidogiri; red). Insya Allah hajatnya...

Selengkapnya