Kaum Sarungan Jadi Juragan? Siapa Takut
Agu15

Kaum Sarungan Jadi Juragan? Siapa Takut

Unit Kegiatan Pengembangan Intelektual (UKPI) sebagai bawahan Organisasi Murid Intra Madrasah (OMIM) menyelenggarakan seminar ilmiah jurusan muamalah dengan tema, “Kaum Sarungan Jadi Juragan? Siapa Takut!” Ust. Sofyan Assauri sebagai Ranger Bukalapak Madura diundang sebagai pemateri. Acara bertempat di Musala Baru Pondok Pesantren Sidogiri, malam Senin (17/01). Suasana seminar muamalah berlangsung meriah Dalam sambutannya, Ust. Ridwan Syauqi sebagai wakil ketua Omim menyampaikan bahwa adanya seminar ini sebagai sarana untuk menunjang intelektualitas dalam dunia bisnis di Era 4.0. Lebih jelasnya dunia Muamalah. Ust. Sofyan Assauri,  marketing online di MKC Group mengatakan, “Kaum santri kerja boleh sarungan, tapi omset karungan.” Dalam dunia bisnis pemuda kelahiran Pamekasan sekaligus pemilik UD. Cahaya Pamekasan dan Owner di Sofyan Store ini menjadikan sosok teladan Abdurrahman bin Auf sebagai pebisnis sukses, bukan Mark Zuckerberg, pendiri Facebook. Pemateri: Ust. Sofyan Assauri terlihat sedang menjelaskan materi “Jika bisnis kita telah berjalan dan laku di pasaran, ikutilah komunitas supaya kita dapat mengukur di mana letak kekurangan kita. Dan, jika kita sudah mencapai puncak tetaplah berpegang teguh pada empat prinsip sifat Rasulullah,” tegas pria yang pernah mengais ilmu di Sidogiri ini. Antusiasme peserta saat itu sangat besar, terbukti berbagai pertanyaan dilontarkan. Kemudian acara berakhir dengan pembacaan doa. Penulis: Muhammad Faqih Editor: Nur...

Selengkapnya
Salat Jumat Kurang 40, Digenapi Golongan Jin
Agu14

Salat Jumat Kurang 40, Digenapi Golongan Jin

a. Deskripsi Masalah Sebagaimana dikemukakan oleh dalam fikih Syafiiyah, bahwa di antara syarat salat Jumat adalah jumlah jamaahnya minimal harus harus mencapai 40 orang. b. Pertanyaan Bagaimana hukum mendirikan salat jumat bagi santri Pondok Pesantren di tempat yang bukan desanya sendiri dan sudah mencapai 40 orang, akan tetapi di situ tidak ada penduduk aslinya sama sekali.Sahkah salat jumat yang hitungannya dilengkapi dengan golongan jin? c. Jawaban Salat Jumatnya tidak jadi, sebab tidak memenuhi syarat yang berupa istîthân (penduduk tetap). Tetapi para santri tersebut wajib melaksanakan salat Jumat yang didirikan orang penduduk tetap di tempat itu. Sah, dengan syarat: 1) jin tersebut memenuhi syarat-syarat sahnya salat Jumat, yakni harus laki-laki, merdeka, istîthân dan lain-lainnya, dan b) harus menjelma dalam bentuk manusia. d. Rujukan وَتَجِبُ الجُمْعَةُ أَيْضًا عَلَى مُقِيْمٍ بِمَحَلِّ إِقَامَةِ الجُمْعَةِ أَوْبِمَحَلٍّ يَسْمَعُ فِيْهِ نِدَاءَهَا وَإِنْ لَمْ يَسْتَوْطِنْهُ وَكَالمُقِيْمِ بِذَلِكَ المَحَلِّ المُسَافِرُ إِلَيْهِ مِنْ مَحَلِّ الجُمْعَةِ. كذا قال إبن حجر فى فتح الجواد (وَلاَتَنْعَقِدُ) الجُمْعَةُ (بِهِ) أي بِمُقِيْمٍ فِى ذَلِكَ المَحَلِّ عَلَى عَزْمِ العَوْدِ إِلَى بَلَدِهِ بَعْدَ مُدَّةٍ وَلَوْ طَوِيْلَةً كَالمُتَفَقِّهَةِ وَالتُّجَّارِ وَمِثْلُهُ مُتَوَطِّنٌ خَارِجَ بَلَدِ الجُمْعَةِ فَلاَ تَنْعَقِدُ بِهِ (وَلاَ بِمَنْ بِهِ رِقٌّ) وَإِنْ قَلَّ (وَصَبِيٍّ) اهـ (نهاية الزين, 136). (وَ) ثَانِيْهَا (إِقَامَتُهَا بِأَرْبَعِيْنَ) وَلَوْ مَعَ اْلإِمَامِ (قَوْلُهُ بِأَرْبَعِيْنَ) أَيْ وَلَوْ مِنْ الجِنِّ وَحْدَهُمْ أَوْ مَعَ اْلإِنْسِ إِنْ عُلِمَ وُجُوْدُ الشُّرُوْطِ فِيْهِمْ مِنَ الذُّكُوْرَةِ وَغَيْرِهَا وَكَانُوْا عَلىَ صُوْرَةِ بَنِيْ آدَمَ اهـ (حاشية الشرقاوي على شرح التحرير,...

Selengkapnya
Renovasi, Balai Tamu Tutup
Agu13

Renovasi, Balai Tamu Tutup

Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri resmi menutup balai tamu (batam) pada Sabtu (15/01). Penutupan ini diumumkan ke daerah-daerah lewat surat keputusan yang ditandatangani Wakil Ketua Umum Pondok Pesantren Sidogiri, Mas d. Nawawy Sadoellah. Penutupan ini dikarenakan balai tamu yang akan direnovasi. Renovasi: tampak balai tamu Sidogiri yang akan direnovasi. Renovasi ini akan berlangsung selama 15 hari. Hal ini sebagaimana disampaikan pihak batam, yakni sejak Sabtu (15/01/1444). Setelah 15 hari, pelayanan akan kembali dibuka sebagaimana hari-hari biasanya. Penulis: Iwanulkhoir Editor: Nur...

Selengkapnya
Rabith vs Imam
Agu12

Rabith vs Imam

a. Deskripsi Masalah Rabith (penyambung suara imam) adalah salah satu persyaratan sahnya salat seorang makmum yang tidak dapat melihat langsung shaf terakhir di masjid. Menurut ulama Syafiiyah Rabith mempunyai hukum layaknya imam dalam dua hal saja, yaitu takbiratul ihram dan salam, sehingga bagi makmum di belakangnya tidak boleh mendahului Rabith dalam dua hal tersebut. Yang menjadi masalah, saat Rabith terlihat dalam keadaan rukuk namun imam ternyata sudah beranjak bangun itidal, manakah yang harus diikuti makmum di belakang Rabith? Juga ketika Rabith tertinggal satu rukun dari imam, sementara makmum yang ada di belakang Rabith tertinggal satu rukun dari Rabith. b. Pertanyaan Sebenarnya apa dasar ulama dalam menstatuskan Rabith bagaikan imam dalam dua hal sebagaimana dalam deskripsi di atas?Ketika seorang yang makmum dengan melalui Rabith terlambat takbiratul ihram karena menunggu takbirnya Rabith, masihkah ia mendapatkan keutamaan takbiratul ihram?Manakah yang dijadikan acuan (i‘tibâr) bagi makmum di belakang Rabith untuk menemukan rakaat, apakah thuma’ninah-nya Rabith atau imam? c. Jawaban Dasarnya adalah sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ.Tetap mendapatkan fadilahnya takbiratul-ihram, karena terlambatnya makmum melakukan takbiratul ihram disebabkan uzur yang terkait dengan maslahahnya jamaah (dengan ketentuan rabithnya adalah orang yang mendapatkan fadilahnya jamaah).Yang dijadikan acuan adalah thuma’ninah-nya imam. d. Rujukan مَسْأَلَةٌ: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: “فَإِنْ صَلَّى فِي دَارٍ قُرْبَ الْمَسْجِدِ لَمْ يُجْزِهِ إِلَّا بِأَنْ تَتَّصِلَ الصُّفُوفُ وَلَا حَائِلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا، فَأَمَّا فِي عُلُوِّهَا فَلَا يُجْزِئُ بِحَالٍ لِأَنَّهَا بَائِنَةٌ مِنَ الْمَسْجِدِ، وَرُوِيَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ نِسْوَةً صَلَّيْنَ فِي حُجْرَتِهَا، فَقَالَتْ: لَا تُصَلِّينَ الْإِمَامِ، فَإِنَّكُنَّ دُونَهُ فِي حِجَابٍ”. (الحاوى الكبير, 2/790). (قوله: نَعَمْ يُغْتَفَرُ لَهُ وَسْوَسَةٌ إلخ) وَكَذَا يُغْتَفَرُ لَهُ اِشْتِغَالُهُ بِدُعَاءِ الإِقَامَةِ إِذَا تَرَكَهُ الإِمَامُ كَمَا مَرَّ عَنْ ع ش فِي أَوَاخِرِ بَابِ الأَذَانِ (قوله: أو تراخى إلخ) أي وَلَوْ لِمَصْلَحَةِ الصَّلاَةِ كَالطَّهَارَةِ مُغْنِي (قوله: خفية) بِأَنْ لاَ تَكُوْنَ بِقَدْرِ مَا يَسَعُ رُكْنَيْنِ عَلَى المُعْتَمَدِ شَيْخِنَا عبارة ع ش وَهِيَ الَّتِي لاَ يُؤَدِّي الاِشْتِغَالُ بِهَا إِلَى فَوَاتِ رُكْنَيْنِ فِعْلِيَيْنِ كَمَا يُفِيْدُهُ قَوْلُهُ وَاسْتُشْكِلَ إلخ وَلَعَلَّهُ غَيْرُ مُرَادٍ بَلِ المُرَادُ مَا لاَ يَطُوْلُ بِهَا زَمَانٌ عُرْفًا حَتَّى لَوْ أَدَّتْ وَسْوَسَتُهُ إِلَى فَوَاتِ القِيَامِ أَوْ مُعْظَمِهِ فَاتَتْ فَضِيْلَةُ التَّحَرُّمِ . (حواشي الشرواني والعبادي, 2/255). قوله وَيَكُوْنُ ذَلِكَ كاَلإِمَامِ الخ عبارة شرح م ر وَهَذَا الوَاقِفُ بِإِزَاءِ المَنْفَذِ كَالإِمَامِ بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ خَلْفَهُ لاَ يُحْرِمُوْنَ قَبْلَهُ وَلاَ يَرْكَعُوْنَ قَبْلَ رُكُوْعِهِ وَلاَ يُسَلِّمُوْنَ قَبْلَ سَلاَمِهِ وَلاَ يَتَقَدَّمُ المُقْتَدِي عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ مُتَأَخِّرًا عَنِ الإِمَامِ وَيُؤْخَذُ مِنْ جَعْلِهِ كَالإِمَامِ أَنَّهُ يُشْتَرَطُ فِيْهِ أَنْ يَكُوْنَ مِمَّنْ يَصِحُّ الاِقْتِدَاءُ بِهِ وَهُوَ كَذَلِكَ فِيْمَا يَظْهَرُ وَلَمْ أَرَ فِيْهِ شَيْئًا وَلاَ يَضُرُّ زَوَالُ هَذِهِ الرَابِطَةِ فِي أَثْنَاءِ الصَّلاَةِ فَيُتِمُّوْنهَاَ خَلْفَ الإِمَامِ حَيْثُ عَلِمُوْا بِانْتِقَالاَتِهِ لِأَنَّهُ يُغْتَفَرُ فِي الدَّوَامِ مَا لاَ يُغْتَفَرُ فِي الاِبْتِدَاءِ وَنَقَلَ الاِسْنَوِي عَنْ فَتَاوِي البَغَوِي أَنَّهُ لَوْ كَانَ البَابُ مَفْتُوْحًا وَقْتَ الإِحْرَامِ فَرَدَّهُ الرِّيْحُ فِي أَثْنَاءِ الصَّلاَةِ لَمْ...

Selengkapnya
Shaf Pertama Salat Berjamaah
Agu10

Shaf Pertama Salat Berjamaah

a. Deskripsi Masalah Salat berjamaah akan mendapat keutamaan yang sempurna ketika memenuhi berbagai aspek, di antaranya formasi tatanan shaf yang benar. Seperti di beberapa masjid yang selalu ramai dipenuhi orang yang salat berjamaah. Karena beberapa alasan mereka lebih memilih, bahkan berebut untuk memenuhi bagian dalam masjid terlebih dahulu, baru kemudian melebarkan shafnya menyamping ke arah serambi yang berada di kanan dan kiri masjid. Fakta lain, ketika musim hujan, banyak tempat di serambi yang basah terkena air hujan dan para jemaah memilih tempat yang kering, pada akhirnya shaf jadi berantakan. Bahkan, ada juga shaf yang sengaja tidak ditempati karena hanya memberi jalan untuk para jamaah lain yang baru datang. b. Pertanyaan Manakah yang lebih diutamakan antara memenuhi bagian dalam masjid terlebih dahulu atau mengisi shaf terdepan, kendati harus melebar sampai ke serambi?Sejauh manakah batasan keutamaan shaf awal ke arah samping (hanya sebatas lokasi masjid, serambi, atau bahkan sampai luar)?Realita seperti dalam permasalahan di atas (basah dan untuk lewat) yang menjadikan shaf tak beraturan, dapat-kah menggugurkan keutamaan berjamaah atau shaf? c. Jawaban Lebih diutamakan mengisi shaf awal walaupun harus melebar menyamping ke serambi.Batasan keutamaan shaf awal adalah ke arah samping sekalipun sampai ke luar masjid.Tidak sampai menggugurkan keutamaan salat berjamaah, sebab hal itu termasuk kategori uzur. d. Rujukan مسألة: قَالَ فِي التُّحْفَةِ الصَّفُّ الاَوَّلُ المَمْدُوْحُ هُوَ الَّذِي يَلِي الاِمَامَ سَوَاءٌ تَخَلَّلَتْ مَقْصُوْرَةٌ وَنَحْوُهَا كَالسَّارِيَةِ وَنَحْوِهَا اَمْ لاَ, قَالَ النَّوَوِيُّ وَهَذَا هُوَ الصَّحِيْحُ الَّذِي تَقْتَضِيْهِ ظَوَاهِرُ الاَحَادِثِ وَبِهِ صَرَّحَ الجُمْهُوْرُ. وَلاَ تُكْرَهُ الصَّلاَةُ بَيْنَ السَّوَارِي كَمَا صَرَّحَ بِهِ ابْنُ حَجَرٍ فِي الاِيْعَابِ. قَالَ شَيْخُنَا وَصَرَّحَ اَصْحَابُنَا بِاَنَّ الصَّفَّ الاَوَّلَ هُوَ الَّذِي يَلِي الاِمَامَ وَاِنْ طَالَ وَخَرَجَ عَنِ المَسْجِدِ فَهُوَ اَفْضَلُ مِنَ الصَّفِّ الثَّانِي وَاِنْ قَرُبَ مِنَ الاِمَامِ.( عمدة المفتي والمستفتي, 1/132). وَسُئِلَ t عَمَّنْ صلى في الصَّفِّ الْأَوَّلِ ولم يُمْكِنْهُ التَّجَافِي في الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ أو حَصَلَ رِيحٌ كَرِيهٌ أو رُؤْيَةُ من يَكْرَهُهُ أو نَظَرُ ما يُلْهِيه فَهَلْ يَكُونُ الصَّفُّ الثَّانِي أو غَيْرُهُ إذَا خَلَا عن ذلك أَفْضَلُ أو لَا فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ مُقْتَضَى قَوْلِهِمْ الْمُحَافَظَةُ على الْفَضِيلَةِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِذَاتِ الْعِبَادَةِ أَوْلَى من الْمُحَافَظَةِ على الْفَضِيلَةِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِمَكَانِهَا أَنَّ الصَّفَّ الثَّانِيَ أو غَيْرَهُ إذَا خَلَا عَمَّا ذُكِرَ في السُّؤَالِ أو نَحْوِهِ يَكُونُ أَفْضَلَ من الصَّفِّ الْأَوَّلِ وهو ظَاهِرٌ حَيْثُ حَصَلَ له من نَحْوِ الزَّحْمَةِ وَرُؤْيَةِ ما ذَكَرَ ما يَسْلُبُ خُشُوعَهُ أو يُنْقِصُهُ وَإِلَّا فَفِي كَوْنِ الصَّفِّ الثَّانِي الْمُشْتَمِلِ على الْإِتْيَانِ بِالتَّجَافِي أَفْضَلَ من الْأَوَّلِ وَقْفَةٌ لِأَنَّ قَضِيَّةَ قَوْلِهِمْ يُسَنُّ الدُّخُولُ لِلصَّفِّ الْأَوَّلِ وَإِنْ لم يَكُنْ فيه فُرْجَةٌ بَلْ ما يَسَعُهُ لو تَضَامَّ بَعْضُهُمْ إلَى بَعْضٍ أَنَّهُ لَا فَرْقَ بين أَنْ يَتَرَتَّبَ على ذلك فَوَاتُ التَّجَافِي أو لَا وَيُفَرَّقُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ نَظَرِ ما يُلْهِيه وَنَحْوِهِ أَنَّ نَظَرَ ذلك مَكْرُوهٌ بِخِلَافِ تَرْكِ التَّجَافِي على ما حَقَقْته في غَيْرِ هذا الْمَحَلِّ من حَمْلِ قَوْلِ الْمَجْمُوعِ يُكْرَهُ تَرْكُ...

Selengkapnya