Setetes Air Mata Orang Tua, Jalan Menuju Neraka
Nov17

Setetes Air Mata Orang Tua, Jalan Menuju Neraka

Prolog Santri itu marah melihat perempuan tua berbaju lusuh -bahkan banyak roberakan- mendatanginya ke Sidogiri. Apalagi ketika melihat sandal yang dia gunakan ternyata “berselingkuhan”-yang kanan bermerek Swallow warna merah, yang kiri bermerek Skiway berwarna biru, hatinya semakin tenggelam dan terhanyut perih dalam amarah. Pergaulannya yang penuh kemewahan di Sidogiri, meski hasil ngutang sana-sini, telah membuat hatinya tertutup untuk bisa mengerti arti perjuangan yang selalu dilakukan oleh perempuan tua yang tak lain adalah ibunya sendiri. Jauh-jauh dari pulau Madura bersimbahkan peluh dan lesu, semuanya terobati ketika anaknya terlihat dari kejauhan, pelan-pelan mulai menghampirinya. Dia tahu, bahwa di akhir tahun seperti ini, banyak wali-santri yang datang ke Sidogiri. Dia tidak mau melihat anaknya hanya bengong sendirian. Karena alasan itulah, sekarang dia berada di sana. Namun, bukannya bahagia melihat ibunya datang, anak itu justru merasa malu. Dia takut teman-temannya yang rata-rata anak orang kaya tahu bahwa dirinya tak lebih hanyalah anak orang miskin dan melarat. Menoleh kesana-kemari, melihat-melihat anak santri yang lalu lalang di sekitarnya. Jangan sampai teman-teman melihat ibu saya, doanya dalam hati.                 Skenario Tuhan akhirnya terjadi. Gerombolan teman-temannya berjalan, dan –mungkin hanya kebetulan- melewati dirinya yang sedang terpaksa menemui ibunya. Anak itu panik. Diam-diam dia berdiri. Agak menjauh dari lemek usang tempat ibunya duduk. Teman-temannya yang melihat kemudian bertanya, “Kiriman? Orangtuanya mana?” Anak itu kebingungan. Haruskah saya beritahu ibuku yang seperti ini. Namun dengan penuh kesadaran, dia tunjuk perempuan paruh baya yang dari penampilannya terlihat jelas bahwa dia orang kaya. Perempuan itu berada tepat di samping ibunya. Sungguh sangat keterlaluan! Dia tidak menunjuk ibunya sendiri! Ibunya yang melihat jelas semua kejadian yang diperankan anaknya yang seperti Malin Kundang itu hanya diam penuh keheranan, sebelum akhirnya dia menangis karena sadar, bahwa anaknya tidak pernah mengharapkan disini. Di Sidogiri. Bahkan, kini dia tahu bahwa anaknya malu memperkenalkan dirinya kepada teman-temannya sebagai ibu sendiri.   Mereka Surga Kita Sebuah cerita yang cukup membuat hati ngilu. Kita tahu, salah satu busur panah yang bisa membuat perih hati nurani adalah, tidak diakui di hadapan diri sendiri. Apalagi dengan orangtua yang tidak diakui oleh anaknya di depan teman-temannya!? Dalam firman-Nya, Allah banyak memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada kedua orangtua, khususnya kepada ibu. Sepeti dalam surah an-Nisa’ ayat 36; al-Isra’ 23-24; al-‘Ankabut 08; dan surah Luqman ayat 14. Lebih dari itu, Allah kadang menyandingkan berbuat baik kepada orangtua dengan menundukkan jiwa menyembah kepada-Nya. Semua itu menunjukkan betapa birul walidain (berbuat baik kepada orantua) sangatlah tinggi derajatnya. Bahasa sederhananya, derajat birul walidain “menyamai” menyembah kepada-Nya. Di samping al-Quran, birul walidain juga banyak dijelaskan dalam hadis nabi. Sahabat Abdullah bin Mas’ud pernah bertanya kepada Nabi Muhammad, “Pekerjaan apa yang paling dicintai Allah?” Nabi Muhammad menjewab, “Shalat tepat...

Selengkapnya
Bentuk Romatisme Ala Nabi Muhammad
Nov16

Bentuk Romatisme Ala Nabi Muhammad

Ketika hendak membicarakan keromantisan Nabi Muhammad dalam rumah tangga, ada baiknya jika kisah demi kisah yang ada, kita lihat sabagaimana berikut: Memanggil istri dengan sebutan mesra dan manja Praktek yang berlaku saat ini, memanggil pasangan dengan kata sayang seperti my darling dan yayang, adalah bentuk etika bermanja yang telam lama dipaktekkan oleh Nabi Muhammad 14 abad silam. Sering Nabi Muhmmad memanggil Aisyah dengan sebutan Humaira (panggilan sayaang Nabi kepada Aisyah) yang memiliki arti perempuan yang rada merah pipinya. Selain itu, nabi juga suka memanggil istrinya itu dengan panggilan Aisy, dengan mengikuti kode tashghir (membuang kata akhir). Dengan ini, jelas Nabi Muhammad ingin bermanja-rayu dengan istrinya itu. Rasulullah berkata pada Aisyah, “Wahai Aisy, ini dia Malaikat Jibril menyampaikan salam padamu.” Aisyah menjawab, “Dan baginya pula keselamatan serta rahmat Allah dan barakahnya.” (HR Bukhari.) Bercanda dengan istri Meski Nabi Muhammad suka bercanda dan tertawa bersama istrinya, tapi sopan santun dan akhlaq yang beliau ajarkan, tetap terlihat dan selalu menghiasi tingkah lakunya. Hal itu semakin menumbuhkan kekaguman yang mendalam di hati para istrinya. Suatu hari Nabi Muhammad duduk di antara Asiyah dan Saudah. Satu kaki beliau berada dipangkuan Aisyah, sedangkan yang lain berada di pangkuan Saudah. Aisyah lalu memberi Saudah makanan semacam kue yang terbuat dari tepung dan susu, tapi dia menolak dengan alasan tidak enak makan. Asiyah terus memaksa Saudah untuk memakannya, tapi tetap saja Saudah menolak. Makanan itu kemudian diambil oleh Aisyah dan dilumuri ke wajah Saudah. Nabi yang melihat itu tertawa. Beliau lalu mengangkat kakinya dari pangkuan Saudah, agar dia bisa membalas permainan Aisyah. Sejenak, wajah keduanya telah belepotan dengan kotoran kue disana-sini. Tidur Berpelukan tidak hanya sebatas pujian di lisan, kemesraan yang diajarkan ole Nabi juga berlanjut ketika dua pasangan berada dalam kamar. Meski mungkin sedikit tabu dan kurang etis untuk dibicarakan, tapi itu juga harus disampaikan, agar kehidupan rumah tangga yang dijalani umat ini  bisa brlangsung dengan sempurna. Pernah suatu malam Nabi Muhammad berada di luar rumah. Sedangkan Aisyah telah terlelap tidur di dalam. Angin malam lantas mengusik Nabi, hingga beliau memasuki kamar dan membangunkan Aisyah. “Mendekatlah padaku! Hangatilah aku! Hangatilah aku!” kata beliau kepada Aisyah. Aisyah yang ketika itu haid bertanya pada Nabi. Lantas Nabi menjelaskan bahwa bercumbu-rayu itu tidak apa-apa dalam keadaan haid. Aisyah kemudian menghangati tubuh Nabi dengan tubuhnya sendiri. Hingga kahirnya beliau terlelap dan tidur. (HR Abu Dawud) Mandi Bersama Hal yang banyak dilupakan oleh pasangan suami-istri saat ini adalah indahnya mandi bersama. Padahal, bisa kita bayangkan kemesaraan seperti apa yan akan kita dapatkan, jika cara yang satu ini benar-benar dilakukan. Kemesaraan semacam ini, diam-diam telah begitu lama diajarkan secara tersirat oleh junjungan kita Muhammad. Aisyah berkata, “Aku mandi bersama Rasulullah dalam satu...

Selengkapnya
Sidogiri Media Edisi 132 Rabiul Awal 1439
Nov15

Sidogiri Media Edisi 132 Rabiul Awal 1439

Politik Santri  Politik zaman now tengah melakukan manuver tingkat tinggi menyerang setiap hal yang ada hubungannya dengan agama, mulai dari organisasi-organisasi keagamaan, lembaga-lembaga pendidikan agama, simbol-simbol keagamaan, hingga hukum-hukum negara. Faktanya, politik zaman now telah membuat organisasi keagmaan terbesar pun seperti kehilangan visi, gelar Bu Nyai mudah diduplikasi untuk mendukung calon pemimpin tertentu, bahkan gelar itu begitu mudahnya disematkan pada politikus kafir. Pesantren-pesantren pun tidak luput dari sasaran politisasi. Kita harus punya sikap yang jelas dalam membuat manuver-manuver politik...

Selengkapnya
Syaikh Muhammad bin Suud al-Jihdi al-Yamani; Jangan Putus Asa Karena Kecerdasan yang Lebih Rendah
Nov15

Syaikh Muhammad bin Suud al-Jihdi al-Yamani; Jangan Putus Asa Karena Kecerdasan yang Lebih Rendah

Senin (13/11) Pengurus Pondok Pesantren Siodigri (PPS) menggelar Daurah Ilmiah bertempat di Aula Kantor Sekretariat lantai III. Acara tersebut diselenggarakan atas titah Sekretaris Umum PPS, Ust. Saifulloh Naji, kepada Kepala Lembanga Pengembangan Bahasa Arab dan Asing (LPBAA), Ust. Mahbub Sonhaji, dan Kepala Kuliah Syariah, Ust. Afifuddin, untuk mengkordinir anggota-anggotanya agar ikut serta pada acara daurah tersebut. “Kepala LPBAA di suruh untuk mengikutkan warga Daerah Arab, B dan K, dan Kepala Kuliah Syariah untuk mengkikutkan peserta LPSI (Lembaga Penelitian dan Studi Islam ),” jelas Ust. Abdullah Kholil, Wakil III LPBAA. Syekh Muhammad bin Suud al-Jihdi al-Yamani, Narasumber pada acara tersebut menyampaikan beberapa hal melalui Ustaz Arif Rohman sebagai penerjemah.  Di antaranya beliau menganjurkan kepada semua peserta daurah agar tidak belajar tanpa bimbingan seorang guru, karena akan menimbulkan kesalah fahaman ketika memahmi sebuah kitab. “Usahakan juga agar ketika kalian ingin ingin memulai sesuatu, mulailah dengan ilmu, karena Imam Bukhari mengawali kitabnya dengan Babul ilmu,” Jelas beliau. Beliau juga menyampaikan betapa pentingnya menghafal ilmu, dan kemudian bercerita tentang Imam Syafii yang ditegur oleh sekawanan perampok karena tidak mengahafal kitab-kitab yang dibawanya menggunakan unta. “Ketika itu, Imam Syafii ingin kembali dari Yaman ke Hijaz dan membawa semua kitabnya, di perjalanan Imam Syafii bertemu dengan kawanan perampok, kemudian Imam Syafii berkata, ‘jangan kau ambil peti-peti ini, karena ilmuku ada di dalamnya,’ Lantas si perampok berkata, ‘apa gunanya ilmu yang cuma diletakakkan dalam kotak, tapi tidak engkau hafalkan,’ Imam Syafii tersinggung, lalu menghafal semua kitab yang ada didalam petinya, kemudian beliau berkata ‘Ilmuku selalu bersamaku, dimanapun aku berad,” jelas Ustaz Arif Rohman menerjemahkan penyampaian Syekh Muhammad. Selain itu, Syekh yang mengabdikan hidupnya dalam pengembaraan mencari ilmu selama 20 tahun ini juga menyampaikan, bahwa dalam mencari ilmu, kecerdasan memang sangat dibutuhkan, namun jangan karena kecerdasan yang dimiliki lebih rendah dari yang lain, kemudian berputus asa. “Semua manusia memiliki potensi yang kuat, tinggal apakah kita mau mengasahnya atau tidak,” papar beliau. ==== Penulis: Ach Mustaghifiri Soffan  Editor  : N. Shalihin...

Selengkapnya
Selfie antara Halal dan Haram?
Nov15

Selfie antara Halal dan Haram?

Prolog Tanpa kita sadari, selfie telah menjadi tradisi orang-orang masa kini. Serasa berdosa jika tidak selfie di momen-momen penting yang dialami. Beragam cara yang dilakukan dan tempatnyapun milih-milih, bila hatinya memandang itu merupakan tempat yang layak, maka tidak perlu berfikir panjang, langsung jepret-jepret dengan gaya tersendiri. Ternyata, selfie tidak hanya digandrungi oleh satu-dua orang saja, bisa dikatakan hampir di seluruh dunia, bahkan ditempat pelosokpun selfie telah menjadi keharusan yang wajib untuk tidak dilewatkan. Orang-orang berselfie ria sering kita temukan ditempat-tempat umum. Begitu menyaksikan pemandangan yang dianggap istimewa, mereka langsung pasang kuda-kuda untuk berselfie. Kadang gemes juga sih melihat kelakuan-kelakuan unik itu. Kadang mereka sengaja memanyunkan bibir supaya menghasilkan foto yang lucu dan unik. Pose manyun ini sangat populer dikalangan para aktivis selfie dan mereka biasa menyebutnya dengan duck face (wajah bebek). Selfie juga tidak memandang umur, anak kecil, remaja atau bahkan orangtuapun juga tidak ingin ketinggalan selfie. Jepret sana, jepret sini, sudah biasa. Bukan menjadi hal yang tabu bahkan dianggap tidak memalukan.   Komentar Agama sama sekali tidak melarang selfie, kita boleh saja berselfie di mana saja dan kapan saja. Sekalipun demikian, kita perlu menjaga etika selfie agar tidak melanggar norma-norma agama. Buat kaum hawa, foto-foto hasil jepretan selfie jangan dibagikan kepada laki-laki yang bukan mahram. Apa lagi sampai disebarkan di dunia maya dan disaksikan jutaan manusia. Tentu dosanya dapat berlipat ganda. Tatkala berselfie kita juga harus memperhatikan kiri-kanan. Tidak jarang anak muda terlalu bersemangat melakukan selfie di jalan hingga mengganggu lalu-lalang orang. Selfie juga jangan sampai menimbulkan kegaduhan di tempat-tempat yang menuntut ketenangan seperti di masjid dan yang lainnya. Suara jepretan kamera juga jangan sampai mengusik keseriusan orang-orang yang tengah berkegiatan di tempat itu. Demikian pula di majlis taklim, matikan HP tatkala ustad memberikan tausiyah. Juga, jangan berselfie pada waktu pengajian berlangsung, sebab hal itu akan merusak suasana khidmat majlis. Apabila kita hendak berselfie dengan orang lain, kita minta izin terlebih dahulu dari yang bersangkutan. Jangan langsung jepret aja, karena orang itu belum tentu berkenan dengan hasil jepretannya yang lalu disebarluaskan. Satu lagi yang amat sangat perlu diperhatikan dalam berselfie, jangan pernah berselfie dengan orang-orang yang terkena musibah dan membutuhkan pertolongan, karena ini tergolong perbuatan kejam. Orang yang terkena musibah seharusnya dibantu dan diberi santunan bukan diajak foto selfie. Ini namanya pelecehan yang maha dahsyat dan pelakunya layak diberi gelar “makhluk paling tidak beretika” . Konklusi Pada dasarnya, selfie tidak dilarang oleh syariat kecuali jika menimbulkan hal negatif seperti dilihat orang yang bukan mahramnya atau menyebabkan adanya fitnah di sebagian kalangan. Oleh karenanya, sebaiknya kita menjauh dari dunia selfie, minimal, tidak disebarkan ke dunia maya. Cukup diri kita sendiri yang tau. Supaya tidak terjerumus dalam hukum haram....

Selengkapnya