Sidogiri Media Edisi 142
Okt20

Sidogiri Media Edisi 142

Informasi: http://bit.ly/PemesananMajalah...

Selengkapnya
Jadwal Kegitan IASS Dan Pondok Pesantren Sidogri
Okt20
Selengkapnya
Taujihat Majelis Keluarga  Warnai Semarak Idadiyah
Okt13

Taujihat Majelis Keluarga Warnai Semarak Idadiyah

Semarak Idadiyah tahun ini lebih lengkap dengan adanya taujihat dari Katib Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Mas d. Nawawy Sadoellah, yang dibacakan oleh koordinator Idadiyah, Ust. Qusyairi Ismail dalam acara bertajuk, “Merajut Akhlakul Karimah, Menggapai Ilmu Barakah,” Rabu (01/02). Menurut beliau, murid Idadiyah menjadi generasi santri Sidogiri yang beruntung, karena pertama kali mereka menginjakkan kaki di Sidogiri, ia langsung digembleng dengan program khusus membaca kitab. Beliau berpesan, agar senantiasa mengerjakan hal positif baik menghafalkan, memahami, serta mendalami pelajaran yang telah di pelajari. “Kalian saat ini merupakan gambaran apa dan seperti apa kalian di masa mendatang,” dawuh beliau pada sebuah petikan dalam taujihatnya. Menurut pria kelahiran Bondowoso ini, setelah mencari ilmu, ada dua hal yang lebih penting, yakni mengamalkan serta menyebarkan ilmu yang telah di dapatkan dari Sidogiri. “Pesantren itu hanyalah jembatan bagi kalian. Seindah apapun ia, hanyalah lintasan untuk sampai ke seberang. Kalian tidak boleh berdiam diri, tapi harus maju melangkah untuk sampai ke sana,” ujar Mas Dwy. Seperti biasa, pada acara yang sama pihak Idadiyah juga menggelar demonstrasi bagi beberapa murid yang telah menyelesaikan program Idadiyah al-miftah. Hal tersebut dianggap akan menjadi salahsatu pendorong sekaligus penyemangat bagi murid-murid yang lain. Penulis: Ach Mustaghfiri Soffan Editor  : N. Shalihin...

Selengkapnya
N. Shalihin Damiri;  Manfaatkan Kesempatan Ini dengan Baik
Okt13

N. Shalihin Damiri; Manfaatkan Kesempatan Ini dengan Baik

Pengurus Perpustakaan Sidogiri melantik perserta magang semester I pada Selasa (09/10). Acara ini dihadiri oleh Wakil II, Wakil III, TU Perpustakaan serta segenap petugas magang terpilih. Ust. Mukafi, Wakil II Perpustakaan, menyosialisasikan hal-hal yang berkaitan dengan perpustakaan. “Kalau di awal-awal, rasa tak betah dan lelah pasti dirasakan, tapi kalau sudah biasa, kalian akan merasa tidak enak bila tidak membaca kitab dan koleksi Perpustakaan.” Peserta magang pada tahun ini relatif lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya. Magang yang biasanya membutuhkan maksilmal 25 orang, kini hanya melantik 20 orang saja. “Mumpung kalian di Perpustakaan, manfaatkan waktu dan kesempatan dengan sebaik mungkin. Eman!,” nasihat N. Shalihin Damiri, TU Perpustakaan, kepada segenap peserta setelah sebelumnya beliau menjelaskan hal terkait dengan digitalisasi perpustakaan. Peserta magang akan memulai masa khidmahnya di Perpustakaan Sidogiri selama satu bulan, terhitung sejak tanggal 1 Safar hingga 30 Safar 1440 H. Petugas magang juga akan mendapatkan pelatihan intensif terkait kepustakaan meliputi, selving koleksi, proses scaning, mendata koleksi, memperbaiki koleksi. Dengan pelantikan ini, peserta magang resmi bergabung dengan Perpustakaan. Di akhir masa khidmahnya, mereka mendapat sertifikat sebagai bukti khidmah yang telah dilakukan dan sebagai rasa terimakasih Perpustakaan Sidogiri kepada pihak yang bersangkutan. === Penulis: Dimas Aji Suharbillah Editor  : Ach Mustaghfiri...

Selengkapnya
Generasi Tik Tok dan Moralitas Anak Bangsa
Okt12

Generasi Tik Tok dan Moralitas Anak Bangsa

Tempo bulan, Pesantren kita sukses menyajikan pesta tahunannya dengan mengusung tema, Beragama, Berbangsa, dan Bernegara. Tentu hal ini masih amat segar dalam molekul ingatan kita, bahkan kemungkinan besar banyak di antara kita yang telah lekat memahami, atau mungkin amat getol menghafal arti dan filosofi dari tema tersebut; adalah mengkader generasi muda agar bisa mengemban tugas mulia, yakni mampu mengawinkan pokok-pokok penting agama dengan prinsip bernegara dengan baik. Sehingga dari sisipan tujuan tersebut, lahirlah generasi unggulan yang memiliki pribadi yang tangguh, kuat dan produktif, serta taktis mengorelasikan bidang Agama dan Negara dalam bermasyarakat. Namun ironisnya, teori hidup yang bagus ini hanya nampak elegan dari sudut pandang ‘desain-grafis’ ikhtibar saja. Akhirnya, tujuan utama menyisipkan teori hidup bagus ini menjadi kabur dan lebur. Sebab pasca perayaan dan usainya perhelatan, apalagi saat liburan, teori sebagus itu tidak langsung dibarengi dengan pengaplikasian yang diharapkan. Oleh karenanya, santri yang selayaknya menjadi mentari kecil yang dapat menyinari siraman etika pada masyarakat, malah ikut-ikutan tercebur dalam kubangan etika yang telah berkarat. Ironisnya, mereka justru bangga mengumbar etika buruknya dengan bebas tanpa sekat. Kendati ada sebagian mereka yang tetap menjunjung tinggi etika luhur yang diperoleh di pesantren. Serta merasa risih melihat sebagian kawan sejawatnya yang tanpa malu meng-expose luas perilaku buruk dan tak senooh. Hal itu sebagaimana yang terjadi saat liburan kemarin, dalam hal ini penulis kerucutkan contohnya pada satu aplikasi yang -menurut hemat penulis- sempat lumer di lidah untuk tetap diperbincangkan. Tersebab aplikasi ini bukan hanya tidak layak dikonsumsi oleh khalayak santri, melainkan juga merembet pada khalayak publik. Akibatnya, bukan hanya aplikasinya yang goblok, bahkan pengguna pun terjangkit virus goblok, dan malah marak kita dapati dari mereka yang nyaris gila. Bisa jadi, awalnya mereka hanya coba-coba. Tapi lambat-laun dengan berputarnya denting jam, mereka malah asyik tersenyum lepas merekam aksinya, hingga akhirnya semakin terjerumus ke dalam lembah keterpurukan. Dan kian waktu berpacu membikin video kocak. Tak sadar, bahwa dirinya masih dalam barisan orang-orang yang -boleh dikata- etikanya masih murni tak terkontaminasi. Mengingat etika di luar sana sudah amburadul. Mirisnya lagi, tak jarang dari mereka yang terang-terangan membagikan hasil videonya ke ruang publik, contoh gampangnya; di dinding sosial media, mulai dari akun facebook dan semacamnya. Lebih dari itu, ada sebagian dari video mereka yang melampaui batas seyogyanya, “goyang dua jari” yang dipraktekkan saat salat. Mereka berpura-pura salat lalu goyang dua jari tanpa harus malu. Sialnya, ketika diperingatkan, mereka malah tertawa cengengekan ketimbang harus memasang telinga untuk sekadar mendengarkan. Klimaksnya, bukan hanya aplikasi dan penggunanya yang dianggap bodoh, melainkan juga almamater yang mereka kenakan. Padahal telah gamblang bahwa yang salah bukan almamaternya, tapi kedunguan mereka yang tidak peka pada apa yang seharusnya mereka lakukan. Penulis: Khoiron_Abdullah salah satu Redaksi Majalah...

Selengkapnya
Chat WA dengan kami