KH. ABU DZARRIN SANTRI YANG MENJADI PENGASUH SIDOGIRI (Bagian II)
Okt10

KH. ABU DZARRIN SANTRI YANG MENJADI PENGASUH SIDOGIRI (Bagian II)

Diambil Anak Kiai Mahalli Abu Dzarrin tak menemukan tempat untuk mengadukan perihal yang menimpanya. Kepada siapa beliau akan mengutarakan perasaannya yang sedang kalut. Mau mengutarakan kepada teman kamar, mereka menjauh ketika beliau menghampirinya. Selain itu, beliau sebatang kara tidak mempunyai famili di Sidogiri. Setiap malam ia hanya bisa menangis karena ditinggalkan teman-temannya. Mereka seakan jijik untuk sekadar bertatap muka. Tak seorang santri pun yang berkenan mendekatinya apalagi sampai bercengkerama dengannya. Di tengah gelap malam yang sunyi, KH Mahalli berjalan ke sekitar bilik pemukiman santri. Beliau ingin lebih dekat dengan para santrinya. Dengan kata lain, beliau ingin mengetahui langsung aktivitas santri di malam hari. Sesampainya di salah satu sudut kompleks pesantren, beliau mendengar senggukan tangisan nan lirih. Beliau mencari sumber suara tersebut. Akhirnya beliau mendapati seorang santri tertunduk lesu sambil sesenggukan meneteskan air mata. Beliau menghampirinya dan menanyakan hal ihwal yang terjadi kepadanya. Dari jawaban yang diutarakan pemuda itu, Kiai Mahalli mafhum akan apa yang menimpanya. Tak hanya itu, beliau juga mengetahui nama serta latar belakang pemuda malang itu. Dengan penuh syafâqah (kasih sayang) beliau berkenan memberi solusi kepada Abu Dzarrin agar bertanya kepadanya jika ada kejanggalan dan ketidakmengertian akan pelajaran yang ia baca. Tak tanggung-tanggung, Kiai Mahalli memberikan kesempatan bertanya kepada Abu Dzarrin 24 jam nonstop (sehari semalam penuh). Kiai Mahalli meminta Abu Dzarrin untuk membangunkannya jika mendapatinya dalam keadaan tidur. Abu Dzarrin bahagia luar biasa. Akhirnya, ia bisa mendapatkan ’pelabuhan’ bertanya jikalau ia tidak mengerti akan suatu hal. Akan tetapi, hal yang paling membuat Abu Dzarrin girang adalah ia bisa bertanya langsung kepada pengasuhnya. Ini adalah kesempatan yang sangat jarang sekali terjadi. Sejak saat itu, Abu Dzarrin disuruh untuk tinggal bersama beliau di dalemnya dan dijadikan sebagai anak angkat, akan tetapi Abu Dzarrin menolak dengan halus tawaran tersebut. Tidak hanya satu-dua kali tawaran itu disodorkan Kiai Mahalli kepada Abu Dzarrin, tapi Abu Dzarrin tetap menolak. Abu Dzarrin takut sû’ul-’adâb dan merasa tidak pantas berada dalam satu rumah dengan kiainya. Tetapi, karena terus dipaksa oleh Kiai Mahalli, akhirnya Abu Dzarrin mau tinggal di rumah beliau dengan catatan hanya ditempatkan di dapur bukan di kamar, disamakan dengan khadam kiai yang lain. Selama tinggal di dalem Kiai Mahalli, Abu Dzarrin diberi tugas untuk menjaga kamar beliau setiap saat, terutama ketika keluar rumah. Kiai Mahalli mempunyai kamar khusus yang selalu dikunci setiap kali beliau keluar, baik mengaji, memenuhi undangan, maupun keperluan lainnya. Kamar beliau selalu dikunci. Tak seorang pun yang mengetahui isi kamar itu. Semua keluarga beliau dilarang untuk memasuki kamar tersebut dengan tanpa terkecuali, termasuk istri beliau sendiri. Dengan sigap, Abu Dzarrin melaksanakan tugas menjaga kamar khusus Kiai Mahalli dengan penuh tanggung jawab. Hal ini beliau lakukan dengan penuh kehati-hatian. Dengan...

Selengkapnya
KH. ABU DZARRIN SANTRI YANG MENJADI PENGASUH SIDOGIRI (Bagian III/Selesai)
Okt10

KH. ABU DZARRIN SANTRI YANG MENJADI PENGASUH SIDOGIRI (Bagian III/Selesai)

Pengarang Kitab yang Produktif Meskipun sudah jadi pengasuh, Mbah Dzarrin—yang terkenal dengan kealimannya—tetap menyalurkan hobinya di kala mondok di Sidogiri dulu. Beliau banyak menghabiskan waktunya dengan muthâla‘ah dan belajar. Tak banyak yang tahu di mana beliau sering menghabiskan waktunya untuk belajar. Pada suatu kesempatan, ketika santri-santri melaksanakan tugas menjaga pesantren, sesekali beliau mengontrol jalannya ronda itu. Hal ini beliau lakukan dengan tak lupa membawa kitab yang selalu beliau baca. Kealiman beliau bisa ditilik dari karangannya, baik yang hanya berbentuk manuskrip kuno maupun yang sudah dikodifikasi (dibukukan) dalam bentuk sebuah kitab. Tulisan beliau banyak sekali jumlahnya, hanya saja banyak yang tidak terkodifikasi. Di antara karangan beliau yang sempat terkodifikasi adalah kitab Sorrof Sono serta kitab yang mengulas tentang Dajjal dan Yakjuj Makjuj. Namun, kitab yang disebutkan terakhir ini hilang dan tidak ditemukan sampai sekarang. Sementara kitab Sorrof Sono, meski pernah digunakan di beberapa pondok pesantren di nusantara, seperti Ponpes Lebak, Ponpes Langitan, Ponpes Lasem, dan beberapa pesantren di Bangkalan, saat ini tidak ditemukan. Kitab Sorrof Sono adalah kitab yang membahas ilmu sharaf. Kitab ini sangat memanjakan pemula untuk belajar membaca kitab. Selain keterangannya mudah dipahami, kitab ini juga lugas dan ringkas. Sehingga membuat para pemula gampang dalam menghafalkan sekaligus menerapkannya. Ada hal yang istimewa dalam kitab Kiai Abu Dzarrin yang satu ini. Kitab ini mirip dengan kitab Sharaf Amtsilatut-Tahsrîfiyyah, karya KH Muhammad Ma’shum bin Ali Jombang (w. 1353 H/1934 M). Bedanya, kitab karya KH Abu Dzarrin ini tidak mencantumkan mashdar mîm dalam tashrîfan-nya. Selain itu, Sorrof Sono dikarang lebih dulu ketimbang kitab Sorrof Amtsilatut-Tahsrîfiyyah. Ini bisa dibuktikan dengan melihat masa hidup Kiai Abu Dzarrin dengan Kiai Ma’shum yang terpaut jauh. Kitab ini diberi nama dengan ‘Sorrof Sono’ karena mengambil nama dusun tempat beliau berdakwah dan menegakkan Agama Allah, tepatnya dusun Karangsono. Mungkin, karena proses penulisan kitab tersebut dirampungkan di dusun Karangsono, sehingga nama kitab itu diembel-embeli dengan nama ‘sono’. Menurut versi lain, kitab sorrof ini bernama “Sorrof Tugu” bukan “Sorrof Sono”. Akan tetapi pendapat pertama (Sorrof Sono) adalah pendapat yang lebih populer dan lebih banyak diutarakan oleh para narasumber. Selain Sorrof Sono, beliau mempunyai banyak karya tulis yang masih berupa manuskrip. Mayoritas manuskrip yang beliau tulis berkisar pada ilmu-ilmu Nahwu (Sintaksis) dan Sorrof. Akan tetapi, karena minimnya sarana cetak waktu itu, manuskrip yang beliau miliki tidak sempat dibukukan. Hanya saja, sebagian diajarkan kepada para santri-santrinya (untuk kalangan sendiri). Dari karangan dan tulisan beliau, bisa ditarik kesimpulan bahwa beliau adalah pakar ilmu alat (gramatika Arab). Seseorang tidak akan bisa membaca kitab kuning dengan benar dan fasih bila tidak memahami ilmu alat. “Ash-Sharfu ummul- ‘ilmi wan-Nahwu abûhâ, (ilmu Sorof adalah ibu dari segala macam ilmu, sementara ilmu Nahwu adalah bapaknya),” dawuh Kiai...

Selengkapnya
KH. ABU DZARRIN SANTRI YANG MENJADI PENGASUH SIDOGIRI
Okt06

KH. ABU DZARRIN SANTRI YANG MENJADI PENGASUH SIDOGIRI

Putra Magelang, Senasab dengan Sayid Sulaiman Dalam kitab al-Hikam, Ibnu Athaillah as-Sakandari berujar, “Idfin wujûdaka fî ardhil-khumûl.” Pendamlah dirimu dalam ranah ke-khumûl-an (merendahkan diri), atau lebih dikenal dengan low profile. Imam as-Sakandari menyarankan kepada siapa saja untuk sebisa mungkin bersikap tawaduk (merendahkan diri) dan menjauhi ketenaran. Sifat inilah yang sering kita dapati dalam biografi-biografi ulama terdahulu (salaf). Sifat yang diaplikasikan oleh orang mulia agar tidak dimuliakan. Sifat yang melekat dalam diri ulama yang tidak ingin bergantung kepada kehidupan semu (ad-dunyâ) dan tidak menghendaki kemasyhuran. Begitu pula dengan KH Abu Dzarrin, sosok kiai yang biografinya akan dikisahkan berikut ini. Beliau adalah santri Sidogiri yang kemudian menjadi ulama kharismatik Pasuruan penerus perjuangan Rasulullah SAW. dalam berdakwah di jalan Allah SWT. (fî sabîlillâh). Biografi KH Abu Dzarrin tidak banyak diketahui oleh khalayak. Selain karena masanya yang teramat jauh, juga disebabkan sifat low profile yang selalu menghiasi diri beliau. Lumrah saja jika kepribadian beliau tidak dikenal orang banyak. Meskipun tidak banyak yang mengetahui kiprah KH Abu Dzarrin, kearifan dan kealiman beliau terendus sampai ke seantero Nusantara. Tak ayal, banyak santri luar Jawa yang hendak menuntut ilmu kepadanya. Selain alim, beliau juga dikenal sebagai sosok kiai yang penuh kehati-hatian dalam keduniawian. Kepribadian dan jejak langkahnya memang patut diketahui dan dijadikan suri teladan oleh santri-santri masa kini. Beliau menjadi kiai yang ’allâmah tidaklah secara instan. Akan tetapi, dengan kerja keras dan penuh keseriusan. Belajar dengan tekun dan istikamah serta gigih dalam menangkal rasa malas adalah kuncinya. Dan tentunya, tanpa mengenyampingkan kepatuhan dan ketundukan kepada guru (kiai), sekalipun harus memilih jalan yang pahit. Sekalipun menjadi sosok yang ‘âlim ‘allâmah, tidak ada ego ataupun kesombongan dalam diri Kiai Abu Dzarrin. Bahkan sebaliknya, beliau dikenal sebagai sosok kiai yang tawaduk, merendahkan diri dan tak merasa sebagai orang yang mempunyai wawasan luas (‘âlim). Beliau tetap menjaga prinsipnya ini hingga akhir hayat. Asal Muasal Kiai Abu Dzarrin Tak ada yang mengetahui dengan jelas kapan beliau dilahirkan. Akan tetapi masa hidup beliau diperkirakan terbentang antara akhir abad ke-18 sampai awal abad ke-19 Masehi. Perkiraan ini mengacu pada haul beliau yang ke-163 di penghujung tahun 2008 M atau 1429 H. Membahas biografi seseorang yang telah lama wafat tidaklah mudah. Renggang waktu yang sangat lama sekali, serta tak adanya buku atau kitab yang membahas biografi beliau adalah salah satu penyebabnya Sedangkan mengenai dari mana beliau berasal, terdapat tiga pendapat yang berbeda. Pertama, beliau dilahirkan di salah satu daerah di kota Magelang. Kota yang sekarang tumbuh menjadi salah satu ikon seni-kultur di Jawa Tengah. Di masa lalu, kota ini adalah salah satu daerah yang dikuasai oleh Kerajaan Mataram pada kurun abad 15 sampai 17 Masehi. Mayoritas penduduk di sana mengandalkan persawahan, kebun, dan ladang...

Selengkapnya
KH. Mahalli, Guru Empat Pengasuh Sidogiri (Bagian I)
Okt04

KH. Mahalli, Guru Empat Pengasuh Sidogiri (Bagian I)

Anak Bawean yang Mondok di Sidogiri Hadratussyekh KH Mahalli tak banyak dikenal dan disebut orang, sebab sifatnya yang khumûl atau low profile. Kendati demikian, beliau memberikan manfaat yang besar pada agama dan umat. Sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, Sidogiri Kraton Pasuruan, Kiai Mahalli telah mendidik dan mengkader banyak ulama dan dai di masanya. Di salah satu pesantren tertua di pulau Jawa itu, beliau meneruskan perjuangan mujahid agung Sayid Sulaiman dan KH Aminullah dalam menyebarkan ilmu-ilmu agama Islam. Dan cucunya, KH Nawawie bin Noerhasan, menjadi salah satu pendiri ormas keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). Kilas Balik Berdirinya PPS kiai mahalli Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) dibabat dan didirikan oleh seorang sayid berdarah ningrat dari Cirebon Jawa Barat bernama Sayid Sulaiman. Beliau adalah keturunan Rasulullah SAW. dari marga Ba-Syaiban. Ayahnya, Sayid Abdurrahman, adalah seorang perantau dari negeri wali, Tarim Hadramaut Yaman. Sedangkan ibunya, Syarifah Khadijah, adalah putri Sultan Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati. Dengan demikian dari garis ibu, Sayid Sulaiman merupakan cicit Sunan Gunung Jati, salah satu Walisongo yang mendirikan Kesultanan Cirebon. Perjuangan Sayid Sulaiman membabat tanah Sidogiri adalah atas titah seorang raja-ulama penguasa Kerajaan Giri (Gresik) keturunan Sunan Giri, yakni Pangeran Singanegara. Sayid Sulaiman diberi segumpal tanah dan diperintahkan untuk mencari tanah yang sama dengan segumpal tanah itu. Tugas itu bukanlah tugas yang mudah. Ternyata tanah yang dicari itu ditemukan di sebuah hutan lebat yang banyak ditumbuhi pepohonan besar dan tumbuhan lainnya, dan juga menjadi pusat kerajaan jin yang dihuni bangsa jin sejak jauh sebelumnya. Tanah itu kemudian dinamakan Sidogiri. Merasa terganggu dengan kehadiran Sayid Sulaiman, jin-jin tersebut kemudian berusaha menghalangi Sayid Sulaiman. Namun demikian, beliau datang tidak hanya berbekal pengetahuan ilmu agama yang siap disebarluaskan, beliau juga berbekal kesaktian yang dimilikinya. Karena itu, beliau bergeming menghadapi jin-jin yang berusaha menggagalkan usahanya. Sayid Sulaiman membabat dan mendirikan PPS dengan dibantu oleh KH Aminullah. Kiai Aminullah adalah santri sekaligus menantu Sayid Sulaiman yang berasal dari pulau Bawean, Gresik. Pembabatan Sidogiri tersebut dilakukan selama 40 hari 40 malam. Sidogiri dipilih untuk dibabat dan dijadikan pondok pesantren karena diyakini tanahnya baik dan berbarakah. Mengenai segumpal tanah yang dibawa Sayid Sulaiman, menurut sebuah riwayat berada di depannya (timurnya) Surau H tempo dulu sebelum pelebaran. Bahkan lambang NU pertama yang terbuat dari tanah liat sebagian diambilkan dari tanah itu juga oleh KH Nawawie bin Noerhasan, keturunan Sayid Sulaiman yang menjadi salah satu pendiri NU. Ada yang mengatakan NU bisa besar seperti sekarang juga karena barakah tanah tersebut. Sebelum rampung membabat Sidogiri, Sayid Sulaiman keburu wafat. Maka Kiai Aminullah meneruskan perjuangan guru sekaligus mertuanya itu. Perjuangan Kiai Aminullah meneruskan perjuangan Sayid Sulaiman tidak lepas dari bantuan santri sekaligus menantunya, Kiai Mahalli, hingga akhirnya Sidogiri dapat...

Selengkapnya
KH. Mahalli, Guru Empat Pengasuh Sidogiri (Bagian II)
Okt04

KH. Mahalli, Guru Empat Pengasuh Sidogiri (Bagian II)

Keturunan Kiai Mahalli Kiai Mahalli membina rumah tangga sakinah dengan Nyai Hafshah di tempat tinggalnya di Sidogiri. Pasangan ini kemudian dikaruniai tiga putra-putri, yakni: 1. Nyai Hanifah 2. KH Urip (Abdul Hayyi) 3. Nyai Sari’ah Putri pertama beliau, Nyai Hanifah, kemudian dinikahkan dengan santrinya yang terkenal alim dan memiliki tingkat akhlak yang tinggi, KH Noerhasan bin Noerkhotim dari Madura. Sebagaimana Nyai Hanifah, Kiai Noerhasan juga keturunan Sayid Sulaiman pendiri PPS. Nasabnya adalah Kiai Noerhasan bin Noerkhotim bin Asror bin Abdullah bin Sulaiman. Dari pernikahan ini, Kiai Noerhasan dan Nyai Hanifah dikaruniai tiga orang putra dan tiga putri, yaitu: 1. KH Bahar (Kiai Alit), Sidogiri 2. KH Dahlan, Sukunsari Kebonagung Pasuruan 3. KH Nawawie, Sidogiri 4. Nyai Munawwaroh, Serambi Pasuruan 5. Nyai Fathonah, Sidogiri 6. Nyai Anisatun, Sidogiri Putra kedua Kiai Mahalli yang bernama Kiai Urip (Abdul Hayyi) juga tinggal di Sidogiri. Kiai Urip dikaruniai dua putri dan seorang putra. Mereka adalah: 1. Nyai Ru’yanah, Sidogiri 2. Nyai Amnah 3. KH A. Syafi’i, Sidogiri Sedangkan putri ketiga Kiai Mahalli yang bernama Nyai Sari’ah dikaruniai tiga orang putra, yaitu: Sedangkan putri ketiga Kiai Mahalli yang bernama Nyai Sari’ah dikaruniai tiga orang putra, yaitu: 1. KH. Abdullah, Dungaron 2. KH. Abdul Ghani, Gondang/Pekoren 3. KH. Barro’, Dungaron. Kiai Noerhasan bin Noerkhotim—menantu Kiai Mahalli—kemudian juga menjadi Pengasuh PPS. Dan tiga cucu lelaki Kiai Mahalli dari pasangan Kiai Noehasan dan Nyai Hanifah—yakni Kiai Bahar, Kiai Nawawie, dan Kiai Dahlan—merupakan orang-orang yang diberi keistimewaan berbeda oleh Allah SWT. Kiai Bahar bin Noerhasan yang dijuluki Kiai Alit (kiai kecil, karena menjadi kiai sejak usia 12 tahun) adalah seorang ulama yang memiliki ilmu ladunni (mengetahui berbagai ilmu tanpa proses belajar). Beliau mendapatkannya ketika menuntut ilmu kepada Syaikhona Cholil Bangkalan (1835-1925), seorang wali dan ulama besar sekaligus mursyid tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah. Telah masyhur bahwa Kiai Bahar tidak lama mondok di Bangkalan, karena beliau diperintahkan untuk pulang ke Sidogiri oleh Syaikhona setelah diperintah menebang pohonpohon bambu dan memakan habis sekian banyak makanan. “Tang elmoh la epatadek bi’ Mas Bahar. Wes lah kakeh mole! (Ilmuku sudah dihabiskan oleh Mas Bahar bin Noerhasan. Sudah, pulanglah kamu [Mas Bahar]!” kata Syaikhona seraya menghapus air matanya. Kiai Bahar bukanlah satu-satunya Keluarga Sidogiri yang dapat menguasai ilmu tanpa harus belajar, Mas Abdul Ghoni putra beliau juga memiliki keistimewaan yang sama dengan abahnya itu. Namun sayang Mas Abdul Ghoni wafat dalam usia muda, tidak berapa lama menjelang pernikahannya. Adapun Kiai Dahlan bin Noerhasan, beliau juga santri Syaikhona Cholil Bangkalan. Kiai Dahlan adalah sosok ulama perantau dari satu tempat ke tempat yang lain. Dan setelah menikah, beliau pindah dari Sidogiri ke Sukunsari Kebonagung Pasuruan dan mendirikan Pondok Pesantren Sukunsari. Di antara santri Kiai Dahlan adalah...

Selengkapnya
KH. Mahalli Guru Empat Pengasuh Sidogiri (Bagian III/Selesai)
Okt03

KH. Mahalli Guru Empat Pengasuh Sidogiri (Bagian III/Selesai)

Jadikan Santri sebagai Anak Angkat Suatu hari pada masa kepengasuhan Kiai Mahalli datanglah seorang anak laki-laki ke Sidogiri, Kraton, Pasuruan. Dengan berbekal sekeranjang kitab dan sekeranjang nasi karak ia datang dari Magelang Jawa Tengah bermaksud menimba ilmu di Sidogiri. Setelah diterima sebagai santri baru, ia pun menempati bilik yang ditentukan untuknya bersama teman-teman yang lain. Ia bernama Abu Dzarrin. Santri yang satu ini semangat belajarnya luar biasa. Ia cerdas dan sering belajar bersama dengan teman-temannya. Tak pelak santri itu menjadi santri yang luas ilmu pengetahuannya. Bukan hanya dari sisi belajarnya yang bersungguh-sungguh, dalam urusan makan pun Abu Dzarrin selalu berhati-hati. Ia makan nasi karak bekal yang dibawanya dari Magelang hanya jika perutnya terasa lapar, selain itu tidak. Tak jarang Abu Dzarrin mengganjal perutnya dengan batu menahan rasa lapar. Namun, nasib malang menimpanya. Tak selang berapa lama tinggal di pesantren, ia terkena penyakit gatal-gatal yang tak kunjung sembuh. Bau tak sedap tercium pada bagian yang terkena penyakit itu, sehingga ia dijauhi oleh teman-temannya. Mereka merasa jijik melihat keadaan Abu Dzarrin. Sejak saat itu, anak yang cerdas dan rajin itu merasa seperti kehilangan sesuatu yang paling berharga. Sebab tidak dapat lagi bertanya masalah pelajaran dan bermusyawarah (berdiskusi) dengan teman-temannya. Karena itu, akhirnya ia sering menangis di tengah malam. Suatu malam tangisan Abu Dzarrin itu dengan tanpa sengaja didengar sang kiai, Kiai Mahalli. Beliau kemudian menanyakan perihal yang membuatnya menangis. Ditanya oleh sang kiai, Abu Dzarrin menjelaskan bahwa dirinya kini tidak bisa lagi belajar bersama, bertanya, dan memusyawarahkan kitab pelajarannya, karena teman-temannya merasa jijik dan meninggalkannya. Kiai Mahalli kemudian memberikan kesempatan pada Abu Dzarrin untuk bertanya kepadanya kapan saja, bahkan waktu beliau tidur sekalipun agar dibangunkan jika mau bertanya. Tentu saja Abu Dzarrin merasa sangat gembira dan bersyukur atas perhatian gurunya itu. Semenjak saat itu, Abu Dzarrin diminta tinggal di dalem Kiai Mahalli dan hendak dijadikan anak angkat, sebab kecerdasan dan kerajinannya melebihi teman-temannya. Awalnya dengan halus Abu Dzarrin menolak, sebab ia merasa dirinya tidak pantas. Namun karena sang kiai memaksa, akhirnya Abu Dzarrin bersedia tinggal di dalem, asal ditempatkan di dapur sebagai khadam, bukan sebagai anak angkat. Seiring dengan berjalannya waktu, karena rajin belajar dan sering bertanya pada Kiai, Abu Dzarrin kemudian menjadi seorang santri yang sangat alim. Bahkan sering kali Abu Dzarrin mewakili Kiai Mahalli mengisi pengajian kitab untuk santri ketika beliau berhalangan. Kemungkinan besar karena itulah Abu Dzarin–yang disebut Kiai Abu Dzarin–kemudian diyakini pernah menjadi Pengasuh PPS. Setelah terjadi peristiwa Kiai Abu Dzarrin melihat isi kamar Kiai Mahalli (sebagaimana akan dijelaskan di bab selanjutnya), Kiai Abu Dzarrin oleh gurunya itu ia hendak ditunangkan dengan putrinya, Nyai Hanifah binti Mahalli. Lagi-lagi Kiai Abu Dzarrin menolak halus tawaran sang Kiai. Alasannya,...

Selengkapnya