KH. Abdul Adzim bin Oerip (Bagian I)
Jan20

KH. Abdul Adzim bin Oerip (Bagian I)

Wali yang salamnya Dijawab oleh Nabi Mengangkat biografi kehidupan KH. Abd. Adzim, ternyata tidak mudah. Disamping rentang masa yang cukup jauh, cerita-cerita tentang beliau kadang simpang siur informasinya. Sebab menjalar dari mulut ke mulut, sehingga terjadilah penambahan ataupun perubahan tanpa disadari. Maka inilah hasilnya. Sekitar tahun 1879 M, lahirlah bayi mungil dari pasangan KH. Abdul Hayyi -atau yang dikenal dengan nama Kiai Oeripdengan Nyai Munawwarah binti KH. Noerhasan, adik KH. Nawawie bin Noerhasan Sidogiri. Bayi itu lahir di Sladi, Kejayan, Pasuruan. Kemudian dikarenakan berselisih pendapat dalam menentukan nama bayi tersebut, kedua orang tuanya berpisah. Kiai Oerip ingin nama “Sibawaih” untuk putranya, sedang Nyai Munawwarah ingin memberi nama “Abdul Adzim”. Akibat perbedaan itu tidak menemukan jalan tengah, terjadilah firaq antara keduanya. Pada akhirnya, jadilah bayi itu diberi namaAbdul Adzim. Ternyata nama Abd. Adzim bukanlah sembarang nama, hingga Nyai Munawwarah rela bercerai demi mempertahankan nama itu untuk putra pertamanya. Lalu Kiai Oerip menikah lagi, begitu pula Nyai Munawwarah. Sehingga KH. Abd. Adzim tidak punya saudara seayah kandung. Dari jalur ayah, beliau mempunyai tiga saudari. Yaitu Nyai Husnah, Nyai Cholilah/Nyai Ramlah, dan Nyai Lathifah. Sedangkan dari ibunya, beliau mempunyai tiga saudari, yakni Nyai Husnah, Nyai Sufayyah, dan Nyai Haniah. Kalau diteliti lebih lanjut, nasab KH. Abd. Adzim dari jalur ayah sampai pada Mbah Arif Segoropuro, adik Mbah Sayid Sulaiman. Sedang nasab dari jalur ibu, keturunan Mbah Sayid Sulaiman, pembabat Sidogiri. Beliau hidup dan besar di lingkungan pesantren di Sladi sebelum hijrah ke Sidogiri. Namun ada yang mengatakan, beliau ikut KH. Nawawie sejak kecil. Semasa kecil, beliau bergaul dan bermain layaknya anak-anak sebayanya, hanya sejak kecil sudah tampak bahwa beliau kelak akan menjadi seorang tokoh yang disegani. Pada masa usia belianya banyak kejadian aneh yang beliau alami. Suatu peristiwa unik terjadi ketika beliau menginjak usia remaja, saat itu beliau masih berumur sekitar 15 tahun. Sladi waktu itu orang-orangnya terkenal mempunyai ilmu kanuragan. Sehingga ada serdadu Belanda yang penasaran, dia datang ke sana dan bertanya kepada KH. Abd. Adzim yang sedang bersama Mbah Syaikh, kata orang Belanda itu, “Apa benar disini tempatnya orang sakti?” dengan rendah hati KH. Abd. Adzim mengatakan kalau orang sakti tidak ada, yang ada hanya gurauan. Lantas beliau mempraktekkan gurauan itu dengan Mbah Syaikh, dengan cara bergantian menggendong dari barat ke timur tiga kali, dengan jarak yang sudah ditentukan. Setelah itu, beliau menantang serdadu Belanda untuk melakukan hal serupa. Serdadu itu mengiyakan saja, karena dilihatnya Abd. Adzim kecil dan kurus. Serdadu itu minta digendong lebih dahulu. Maka dia digendong sekali putaran dari jarak yang sudah ditentukan, tapi Abd. Adzim muda tidak tampak kelelahan. “Kali ini giliran saya”, kata beliau. Ketika beliau naik ke punggung serdadu Belanda yang besar dan kekar,...

Selengkapnya
KH. Abdul Adzim bin Oerip (Bagian II)
Jan20

KH. Abdul Adzim bin Oerip (Bagian II)

Berkebun Sendiri   Selain jual-beli kuda, kasab Kiai Abd. Adzim dalam mencari nafkah adalah bertani. Beliau banyak memiliki sawah dan tegal. Habis salat Subuh beliau pergi ke tegalnya sambil membaca wirid. Beliau berkebun sendiri. Beliau enggan memakai pembasmi hama berbahan kimia, tapi yang dipakai adalah gula. Hama-hama tidak mengganggu tanaman, tapi memakan gula tersebut. Kata beliau tentang pembasmi hama, “Masio ketok apik, ndak bagus (Meskipun tampak baik, memakai pembasmi hama itu tidak baik).” Hal ini didorong oleh syafaqah (kasih sayang) beliau pada binatang. Suatu ketika beliau bertemu dengan seseorang yang membawa racun tikus untuk mengobati sawahnya. Setelah ditanya untuk apa obat itu, dia menjawab untuk meracuni tikus yang ada di sawah. Kiai lalu berucap, “Jangan diobati, cukup dibacakan Fatihah satu kali, lalu putari sawah tersebut dan katakan, ‘Kiai Cholil bin Nawawie waliullah!’.” Akhirnya, sawah tersebut selamat dari tikus-tikus yang mengganggu.  Konon di masa beliau, tanaman berbuah dua kali. Kalau beliau menanam, tanaman itu langsung hidup. Pernah salah satu khadamnya memotong dahan mangga dan mau dibuang. Kiai Abd. Adzim melarang dahan mangga itu dibuang, “Ojok dibuak, eman, eman!” Lalu Kiai menancapkan dahan yang sudah dipotong itu ke dalam tanah. Tanaman itu langsung hidup sampai berbuah pada waktunya. Melihat hal itu, si khadam ingin menirunya, “Kiai bisa, masak aku tidak bisa,” pikirnya. Lantas dia memotong 7 dahan pohon yang baik-baik, lalu ditanam di tegalnya yang ada di selatan Masjid. Karena maqam (derajat)-nya di sisi Allah  tidak sama dengan Kiai Abd. Adzim, dalam masa seminggu kemudian tujuh dahan itu kering semua, sebab tidak dicangkok. Kalau pedomannya Kiai, “Yang membuat ini (tanaman) ini bisa hidup atau mati adalah Allah. Bukan karena dicangkok.”   Dari senangnya menanam tanaman, beliau ketika menghadiri undangan di luar selalu membawa tunas kelapa. Bila beliau ketepatan melihat tanah kosong, beliau meminta izin kepada si pemilik tanah agar tanah tersebut ditanami tunas kelapa.  Kiai Sidogiri yang Kedelapan  Kiai Abd. Adzim merupakan Kiai Sidogiri yang kedelapan. KH. Cholil Nawawie pernah berkata ketika ada seorang Habib dari Probolinggo bertanya pada beliau, “Panjenengan Kiai (Pengasuh) yang keberapa?” Kiai Cholil menjawab, “Saya yang nomor sembilan.” Lalu beliau menuturkan beberapa urutan Kiai (Pengasuh) PPS: (1) Mbah Sayid Sulaiman, (2) KH.  Aminullah, (3) KH. Mahalli, (4) KH. Noerhasan bin Noerkhotim, (5) KH. Bahar bin Noerhasan, (6) KH. Nawawie bin Noerhasan, (7) KH. Abd. Djalil bin Fadlil, (8) KH. Abd. Adzim bin Oerip, dan (9) KH. CholiI Nawawie . Kitab yang diajarkan Kiai Abd. Adzim adalah kitab berukuran tipis, seperti MukhtAsar Jiddan dan lainnya. Beliau lebih suka mengajarkan kitab kecil tapi diamalkan, daripada memberikan kajian kitab besar tapi tidak diamalkan. Tempat beliau mengajar biasanya bertempat di dalemnya sendiri atau di Surau G. Biasanya, yang diajarkan adalah dua kitab,...

Selengkapnya
KH. Abdul Adzim bin Oerip (Bagian III)
Jan20

KH. Abdul Adzim bin Oerip (Bagian III)

Penyayang Binatang yang Disegani Binatang  Kiai Abd. Adzim terkenal sabar dan syafaqah (belas kasih/sayang) pada binatang. Suatu ketika beliau pergi ke sebuah undangan di daerah Kedung Kemaron, Kejayan. Pulangnya, di tengah perjalanan beliau melihat semut kelanggrang (rangrang)di jasnya. Lalu beliau memerintahkan pada kusirnya untuk kembali. Padahal waktu itu jalanan masih berbatu-batu dan jarak antara tempat itu dengan Kedung Kemaron sekitar 5 km. Maka kembalilah beliau dengan kereta kudanya ke tempat undangan tadi. Sesampainya di tempat itu, beliau meletakkan kelanggrang tersebut di pagar yang diyakini beliau kelanggrang itu terbawa dari situ. Kata beliau, “Kelanggrang ini sama dengan manusia, punya anak-istri dan saudara. Kalau dibawa, kasihan keluarganya, menangis.” Cerita ini cukup masyhur di Indonesia, malah ada penulis yang memasang cerita ini dalam bukunya, tapi tidak menyebut nama sang kiai dan tempat kejadian. Ternyata sang Kiai itu adalah Kiai Abd. Adzim Sidogiri.   Di dalemnya beliau meletakkan empat lepe’an berisi air gula di bawah meja makan. Empat lepe’an itu disediakan untuk semut-semut. Satu untuk semut kecil, satunya untuk semut yang agak besar, dan seterusnya. Dari syafaqah-nyabeliau terhadap binatang, jika ada rombongan semut berjalan di dalemnya, beliau melarang untuk dibersihkan. Justru beliau memberi jalan, supaya semut tersebut bisa lewat.  Pernah ada ayam bertelur di surau beliau (Surau G). “Biar, biar! Kasihan,” kata beliau. Akhirnya, banyak serangga tengu di sana. Waktu istirahat, Kiai digigiti serangga tengu itu. Setelah  diberitahu khadamnya, beliau berkata, “Kumpulkan dan bawa keluar. Jangan dibunuh, kasihan!!” Beliau memang suka merawat binatang. Tapi uniknya dalam hal merawat binatang, beliau berbeda dengan yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang. Karena binatang-binatang yang menjadi piaraannya adalah binatang liar, seperti semut dan burung yang hinggap di pohon mangga halaman rumahnya. Beliau menyediakan bumbung (bambu yang dilubangi) untuk sarang burung kecil yang hinggap di pepohonan yang ada di depan dalem, dan beliau melarang orang-orang untuk mengganggu burung-burung itu. Setiap pagi beliau memberi makan sendiri burung-burung itu. Suatu ketika beliau ditanya oleh santrinya, “Mengapa Kiai begitu sayang terhadap hewan seperti semut, sampai-sampai menyediakan makanan dan memberi makan sendiri?” Beliau menjawab, “Ya, karena doanya sesuatu yang tidak mempunyai akal itu lebih mustajab dari pada manusia.” Mungkin yang dimaksud adalah manusia yang bergelimang dosa.  mau diperlakukan seperti itu? Turun, kamu ndak usah numpak, turun saja!” kata beliau. Akhirnya si kusir turun dan menuntun dokar tersebut sampai ke tempat acara undangan. Memang tiap akan menaiki dokar, beliau berpesan pada kusirnya, “Ojok dipecuti lho jarane! (Jangan dipecuti kudanya ya!).” Jadi dokar berjalan mengikuti jalannya kuda.  Setiap pergi menghadiri undangan, Kiai Abd. Adzim selalu naik dokar. Konon beliau memiliki 7 ekor kuda. Dokar beliau lain daripada yang lain, rodanya bukan terbuat dari karet, tapi dari besi. Kalau berjalan, dokar itu bersuara ribut. Sebab disamping...

Selengkapnya
Kiai Abd. Jalil bin Fadil (Bagian I)
Jan09

Kiai Abd. Jalil bin Fadil (Bagian I)

Sosok Uswah Hasanah Kiai Abd. Djalil lahir dan besar dari keluarga yang agamis. Ayahnya bernama Kiai Fadlil bin Sulaiman bin Ahsan bin Zainal Abidin (Bujuk Cendana), nasabnya bersambung ke Sayid Qasim (Sunan Drajat) bin Sayid Rahmatullah (Sunan Ampel). Sedangkan ibunya bernama Nyai Syaikhah binti Syarifah Lulu’ binti Sayid Abu Bakar asy-Syatha ad-Dimyathi, pengarang kitab I’ânah ath-Thâlibîn. Jadi, dari jalur ibu, Kiai Abd. Djalil adalah cicit dari pengarang kitab terkenal itu. (Kiai Abd. Djalil bukan putra KH. Abd. Syakoer seperti yang pernah tertera dalam kalender resmi Pondok Pesantren Sidogiri. Kiai Abd. Syakoer adalah mertua Kiai Fadlil, dan Kiai Syakur itu menjadi menantu Syekh Syatha). Sosok Kiai Fadlil memang tidak banyak dikenal. Dalem beliau ada di desa Warungdowo (sekarang menjadi kantor BMT-MMU). Dalam kesehariannya, beliau berdagang kain. Namun darah keilmuan tetap mengalir deras pada menantu cucu Syekh Syatha ini. Tentang sosok Kiai Fadlil. Kakak Kiai Nawawie, Kiai Dahlan, pernah berkata, “Fadhil iku alim, lek ilmune didekek nang aku gak kiro sedheng, saking de’e iku tuk-makutuk ae (Fadlil itu alim. Andaikan ilmunya diletakkan pada saya, pasti tidak muat. Hanya saja dia tidak menonjolkan diri).” Saudara kandung Kiai Djalil ada 5 orang, 3 putra dan 2 putri, yaitu: Abd. Djalil, Zainal, Achmad Salim, Nyai Aminah, dan Nyai Mutammimah. Zainal dan Salim meninggal dalam usia remaja; sementara Nyai Aminah menikah dengan Syekh Iskandar, Surabaya. Dan Nyai Mutammimah kawin dengan Kiai Syukur dari desa Wangkal (abah Kiai Bahar, Warungdowo). Abd. Djalil tumbuh dan besar sebagaimana layaknya anakanak yang lain, bergaul dan akrab dengan teman-temannya. Namun, menurut Kiai Bahar -teman sepermainannya- saat masih kanak-kanak, Kiai Djalil sudah tampak kewaraannya. Di saat teman-temannya makan tebu atau mencari mangga jatuh, ia selalu menghindar tidak mau ikut. Beranjak remaja, Kiai Djalil lebih suka mempergunakan masa kecilnya untuk memperdalam ilmu-ilmu agama. Di samping bimbingan dari abahnya sendiri, beliau juga dididik oleh uwak-nya (paman) sendiri, Kiai Ahsan, Banjar Probolinggo. Secara fisik Kiai Djalil mirip dengan Kiai Bahar, keponakannya, yang kini tinggal di desa Warungdowo. Pribadinya tenang, menunjukkan kematangan jiwa. Jika berjalan selalu menunduk, sabar, dan penuh syafaqah (kasih sayang). Nyantri di Sidogiri Suatu hari, Kiai Nawawie mendapat undangan menghadiri walimah di daerah timur Warungdowo, berdekatan dengan rumah Abd. Djalil muda. Seusai acara, Kiai Nawawie bertanya “Mana cucu Sayid Syatha?” Saat itu Abd. Djalil berada di tempat itu. “Kamu mondok di Sidogiri, ya?” kata Kiai Nawawie. Abd. Djalil pun mengangguk tanda setuju. Kiai Nawawie menawarkan Abd. Djalil mondok di Sidogiri karena merasa pernah berguru pada buyut Abd. Djalil, Sayid Syatha. Di Sidogiri, Abd. Djalil dengan gigih dan bersungguh-sungguh mengikuti dan menyimak semua yang diajarkan oleh Kiai Nawawie. Bukan hanya ilmu dalam bentuk teori, akhlak dan pribadi luhur Kiai Nawawie juga membekas kuat...

Selengkapnya
Kiai Abd. Jalil bin Fadil (Bagian II)
Jan09

Kiai Abd. Jalil bin Fadil (Bagian II)

Wara’ dan Sederhana Suatu ketika Kiai Abd. Djalil menyuruh salah seorang khadamnya bernama Bukhori asal Bondowoso untuk menukar uang 10 ribu rupiah pada mas Mu’in, seorang pedagang yang terkenal wara’ di pasar Sidogiri. Sesampainya di depan toko, ternyata toko mas Mu’in sedang tutup. Namun di depan toko itu si Bukhori bertemu dengan adik mas Mu’in, mas Imad yang menjabat Kepala Desa Sidogiri, “Hendak ke mana?” sapa Pak Kades Sidogiri pada Bukhori. “Disuruh menukar uang oleh kiai, Pak,” jawab Bukhori. Lalu Pak Kades menawarkan uang kecil pada Bukhori, dan dia pun setuju dengan penawaran Pak Kades. Pikir Bukhori, toh apa bedanya uang mas Mu’in dengan uang Pak Kades. Ketika uang itu diberikan kepada Kiai, Kiai menanyakan apa betul uang itu ditukarkan kepada Mas Mu’in. Dengan jujur Bukhori menjawab uang itu ditukarkan ke Pak Kades. Kiai tidak berkenan. Sifat wara’ kiai rupanya tidak menerima uang Pak Kades yang berasal dari sumber yang tidak jelas halal haramnya, alias syubhat. Lalu, tanpa menyentuh uang itu beliau menyuruh Bukhori untuk mengembalikannya. Dengan segera ia berangkat mencari Pak Kades. Namun, Pak Kades sudah lupa terhadap uang Kiai sebab sudah bercampur dengan uang yang lain. Bukhori pun kembali melapor. “Wis gak usah dipek, gak opoopo (Sudah biarkan tidak usah diambil, tidak apa-apa).” Kata Kiai enteng. Padahal uang 10 ribu saat itu, akan bernilai jutaan rupiah saat sekarang. Menjemur padi pun Kiai berusaha agar padinya tidak berkumpul dengan milik orang lain, takut-takut ada milik orang yang terikut, walaupun hanya satu biji. Jika merasa ada yang tercampur, sekalipun tanpa sengaja, Kiai Djalil akan mengembalikan padi yang tercampur itu semua. Demikian juga bila di pondok kebetulan ada acara semacam ikhtibar atau lainnya, setelah selesainya acara, semua peralatan semacam kuali dan perlengkapan lain dibersihkan sebersih-bersihnya. Khawatir kalau-kalau ada barang milik pondok yang terikut sisanya. Uang yang dibuat belanja sehari-hari untuk kiai dan keluarganya adalah murni hasil jerih payah sendiri. Beliau memperolehnya dari hasil pertaniannya. Uang dari tamu yang sowan ke Kiai sangat jarang dibuat untuk belanja rumah tangga. Biasanya uang dari tamu itu dibuat untuk membayar ongkos para pekerja atau diberikan kepada orang lain. Yang menarik dari sikap wara’ beliau ini, Kiai menyuruh istrinya, Nyai Hanifah, untuk membuat sendiri masakan yang akan dimakan, seperti kecap, petis, tempe, serta bahan-bahan makanan lain yang bisa dibuat sendiri. Ibu Nyai Hanifah pernah sedikit protes perihal kehati-hatiannya tersebut, “Abah (Kiai Nawawie) saja tidak begitu” kata Nyai. Dengan ringan Kiai Djalil menjawab, “Abah wis wushul, aku durung (Abah sudah wushûl, aku belum).” Sifat sederhana dan istikamah Kiai Djalil menyebabkan masyarakat sekitar menjadi segan. Tanpa disuruh, kaum perempuan di sekitar Sidogiri merasa malu bila tidak menutup aurat. Sulit menemukan perempuan berjalan sendirian tanpa disertai mahramnya. Bila...

Selengkapnya
Kiai Abd. Jalil bin Fadil (Bagian III)
Jan09

Kiai Abd. Jalil bin Fadil (Bagian III)

Syahid Melawan Belanda Setelah melewati perjuangan panjang dengan pengorbanan yang tak terkira, pada hari Jumat pukul 10.00 wib tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Sejak saat itu rakyat Indonesia bertekad untuk menjadi bangsa yang berdaulat dan bebas menentukan nasibnya sendiri sejajar dengan bangsa lain di dunia. Tekad itu tercermin dalam isi proklamasi dan pembukaan (preambule) UUD 1945. Untuk mewujudkan cita-cita luhur itu ternyata tidak mudah. Belanda yang pernah mereguk manisnya kesuburan tanah Indonesia selama 350 tahun lebih, tidak rela melihat Indonesia menghirup udara kebebasan. Tiga tahun setelah hari kemerdekaan diproklamirkan, mereka kembali menapakkan kakinya di Indonesia. Kejadian ini dikenal dengan istilah Agresi Belanda II. Mereka ingin mengulang memori indah saat mendapatkan segalanya dengan mudah. Menjajah. Ya, itulah yang mereka inginkan. Kembali ke Indonesia, merampas segala hasil bumi rakyat di Nusantara. Agresi Belanda itu ternyata mendapat reaksi keras dari seluruh rakyat Indonesia. Sebab, cita-cita menjadi Negara berdaulat telah bulat. Maka tidak ada pilihan lain kecuali melawan agresor sampai titik darah penghabisan. Tentara, rakyat, ulama bersatu-padu mengadakan perlawanan demi membela kehormatan agama dan Negara. Tercatat, tidak kurang dari 100 ribu pahlawan gugur dalam usaha mempertahankan kemerdekaan tersebut. Membela agama? Ya. Tidak diragukan lagi bahwa agresor yang musyrik itu di samping ingin menjajah, mereka mempunyai misi terselubung yaitu mengkafirkan rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim. Hal itu terlihat jelas dari tindakan mereka yang dengan sengaja melecehkan dan menghina simbol-simbol Islam. Inilah faktor mengapa ulama secara total melakukan perlawanan terhadap agresor Belanda. Sampai-sampai Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ (NU) mengeluarkan “Resolusi Jihad” yang dengan tegas menyatakan. “Melawan Belanda hukumnya wajib dan termasuk jihad fi sabilillah”. Aksi perlawanan yang dilakukan oleh para pejuang terhadap serdadu Belanda terus berlangsung di seluruh penjuru negeri. Cuma, karena minimnya persenjataan, perlawanan dilakukan dengan cara bergerilya. Mencari kesempatan untuk menyerang di saat Belanda lengah. Itu pun dengan senjata seadanya; bambu yang diruncingkan ujungnya, arit, parang, pedang atau apa saja yang bisa dibuat perlawanan dan menumpas Belanda. Lalu lari bersembunyi ke hutan-hutan atau dusun-dusun yang jauh dari jangkauan Belanda. Taktik gerilya ini membuat kompeni mati kutu. Sebab mereka tidak punya kesempatan untuk membalas dan kehilangan jejak. Di samping medan yang sulit untuk mereka kenal. Pada saat itu Pondok Pesantren Sidogiri menjadi tempat bersembunyi para tentara Hizbullah. Puncaknya di desa Plinggisan Pasuruan, para pejuang terlibat baku tembak dengan Belanda. Tapi untuk kali ini anggota Hizbullah terdesak. Para pejuang mundur kembali ke markas. Belanda penasaran dan mengikuti jejak mereka sampai akhirnya diketahui bahwa mereka adalah anggota pasukan Hizbullah di bawah pimpinan KA. Sa’doellah yang bermukim di Sidogiri. Akhirnya, keberadaan Pondok Pesantren Sidogiri yang dijadikan sarang pejuang tercium oleh kolonial Belanda. Beberapa mata-mata dikirim untuk melihat langsung aktivitas gerakan pejuang. Dan ternyata benar adanya,...

Selengkapnya