KH. Hasani Nawawie (Bagian III)
Mar05

KH. Hasani Nawawie (Bagian III)

Visi Keumatan: Memprioritaskan Ukhuwah  Menjelang Pemilu tahun 1997, Sidogiri terlibat dalam sebuah polemik di majalah Editor. Adalah Ustadz H. Mahmud Ali Zain yang menjadi jubir Sidogiri ketika itu. Apa yang katanya tentang pemilu? “Berpartai hukumnya haram!”.   Ada apa Sidogiri dengan pernyataan yang menyentak publik itu? Penegasan itu datang dari Kiai Hasani. Tak ada hal lain yang mendorong Kiai menegaskan hal itu kecuali ghirah dan keprihatinan yang sangat kuat melihat fenomena umat. Begitu mudah persatuan umat tercabik-cabik hanya karena fanatisme yang dihembuskan oleh kalangan partai. Urusan partai betul-betul telah membuat umat ini berada pada pertikaian yang tak tentu ujungnya. Bahkan, kerap kali tokoh umatnya sendiri yang menjadi motor pertikaian itu. Melihat kenyataan bahwa berpartai mengandung potensi sangat kuat dalam tafriq al-jama’ah (memecahbelah umat), Kiai Hasani mengharamkan berpartai ini. Masalah berpartai merupakan salah satu sarana untuk tanshib al-imamah (memilih pemimpin), maka berpartai bukan satu satunya cara untuk memilih pemimpin itu.  Bagaimanapun, kata Kiai Hasani, orang berpartai akan memupuk sifat ta’ashhub (fanatisme) dalam hatinya. Ia akan membela partainya tanpa melihat apakah partai itu patuh pada Syariat atau tidak.  Fanatisme partai sudah sedemikian lama menjadi penyakit yang menggilas semangat ukhuwah. Politik dan berpartai merupakan motif utama konflik umat secara massal. Kiai Hasani tak kuasa melihat fenomena ini. Pertikaian umat betul betul menyesakkan ruang dada beliau. “Bagaimana nanti aku akan bertanggung jawab di akhirat terhadap santri-santri Sidogiri yang ikut partai ini dan itu, kemudian saling bertengkar?” tanyanya bernada kecewa suatu ketika kepada H. Thoyyib (Ketua Yayasan STIE Malang kucecwara), sahabat dekat beliau.  Kiai Hasani sangat konsisten dengan pandangan-pandangan tentang persatuan umat. Tak ada kamus fanatisme terhadap madzhab dan golongan tertentu bagi beliau. Yang terpenting adalah Islam dan berperilaku Islami, bukan golongan ini dan golongan itu atau madzhab ini dan madzhab itu.  Solidaritas Islam begitu mengakar pada pandangan dan langkah-langkah beliau. Kiai paling tidak bisa menerima jika melihat umat Islam ditindas. LB. Moerdani (Panglima ABRI di masa Soeharto) adalah orang yang sangat dibencinya. Moerdani merupakan tokoh utama di balik pembantaian ratusan umat Islam di Tanjung Priok Jakarta Utara. Di kalangan aktivis pembela Islam, Moerdani dikenal sebagai Panglima Salibis. Hal itu disebabkan karena sikap kerasnya dalam memusuhi umat Islam dan membela umat Kristen. “Jika membawa bom, lalu salaman dengan Moerdani, kemudian dia mati bersama Moerdani, itu bukan mati bunuh diri, tapi mati syahid,” papar beliau suatu ketika.  Santri dan Pesantren: Sebuah Predikat Moral  SANTRI. Berdasarkan peninjauan tindak langkahnya, adalah orang yang berpegang teguh pada Al Qur’an dan mengikuti sunnah Rasul saw. dan teguh pendirian. Ini adalah arti dengan bersandar sejarah dan kenyataan yang tidak dapat diganti dan diubah selama-lamanya. Allah yang maha Mengetahui atas kebenaran sesuatu dan kenyataannya”.   Mirip sebuah prasasti, kalimat tersebut terpampang...

Selengkapnya
KH. Hasani Nawawie (Bagian II)
Mar03

KH. Hasani Nawawie (Bagian II)

Mendidik Masyarakat dengan Uswah   Tidak ada Kiai Hasani, Sidogiri seperti kehilangan urat nadi. “Kiai Hasani wafat, siapa lagi yang punya perhatian penuh pada salat?” Kalimat itu kerap terdengar dari santri Sidogiri pasca wafatnya Hadratussyekh.   Memang, pada dasawarsa terakhir, Sidogiri memiliki komitmen pendidikan salat yang luar biasa. Upaya pendidikan salat bagi santri digalakkan sedemikian rupa. Hal ini juga direspon oleh pihak madrasah, semenjak dua tahun yang terakhir, lembaga ini menetapkan lulus ujian salat sebagai syarat kenaikan kelas.  Komitmen yang luar biasa hebatnya ini merupakan buah perhatian ekstra Kiai Hasani terhadap salat santri. Dalam dawuhnya, beliau menyatakan bahwa salat merupakan standar keberhasilan pendidikan di Pondok Pesantren Sidogiri. Jika salat santri baik, berarti pendidikan berhasil; salat santri jelek, berarti pendidikan gagal total.  Kiai Hasani memang lebih sering memerankan sebagai sosok yang mengerem langkah Pondok Pesantren Sidogiri agar tidak bergeser dari visi semula: ingin mencetak ‘ibadillâh ashshâlihîn. Beliau adalah supervisor, penyelia segenap komponen pesantren yang sedang berproses.  Tugas ini beliau akui sebagai beban yang maha berat, soalnya menyangkut tanggung jawab di hadapan Allah swt. Tugas mahaberat ini sejalan dengan pandangan beliau bahwa pesantren merupakan lembaga yang ussisa ‘ala at-taqwa, dibangun dan berdiri atas dasar takwa kepada Allah swt. Jadi, bagaimanapun dan kemanapun pesantren ini melangkah, takwa tetap harus menjadi oreintasi dasar.   Hal tersebut betul-betul membuat Kiai Hasani tidak bisa tenang, terutama ketika menyaksikan ibadah santri. Di dalem, Kiai kadang berdiri sampai berlama-Iama menghadap ke arah masjid. Beliau memperhatikan dengan seksama santri yang sedang melakukan salat. Kiai memang mempunyai keprihatinan yang mendalam melihat salat santri belakangan ini.  Beliau menjalankan kontrol penuh terhadap masjid. Sampai sekarang pun, setelah mangkatnya, dalemnya yang terletak bersebelahan dengan masjid itu seperti menjadi pengawas bisu bagi santri yang masuk ke masjid. Mereka terlihat amat hati-hati berada di masjid ini, terutama ketika Hadratussyekh masih hidup.  Menyaksikan masjid Sidogiri akan terlihat aktivitas ibadah yang berlangsung tertib. Masjid selalu ramai dengan lalu-lalang santri yang hendak, usai, atau sedang melaksanakan ibadah. Bangunan tua itu memang padat dengan aktivitas dalam 24 jam. Tapi, semuanya berjalan tenang dan tertib. lni semua buah kontrol ketat Kiai Hasani terhadap tempat ibadah itu. Kontrol penuh Kiai Hasani atas masjid itu memang terbukti efektif bagi pembangunan semangat ibadah bagi santri Sidogiri.  Kiai Hasani sangat tidak suka jika tempat ibadah itu dicampuri dengan hal-hal yang bisa merusak makna ketertundukan terhadap sang Maha Pencipta. Setiap kali ada halhal yang mengurangi kesopanan terhadap tempat suci ini, Hadratussyekh mesti memberi respon kontrolnya, minimal dalam bentuk teguran kepada orang yang dipasrahi untuk menjaga ketertiban ibadah di masjid.  Beliau sering memberi teguran jika terjadi keramaian yang sebetulnya tidak perlu terjadi. Peringatan yang sering beliau sampaikan kepada santri menjadi kontrol efektif bagi mereka untuk tidak...

Selengkapnya
KH.  Hasani Nawawie (Bagian I)
Mar02

KH. Hasani Nawawie (Bagian I)

Kiai Hasani Ketika Seorang Sufi Mendobrak Fanatisme 10 hari Sebelum Wafat. Kiai Didatangi Imam al-Ghazali Ribuan orang berjubel di komplek pesarean (makam) Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri.   Komplek pemakaman yang terletak di belakang mesjid, sebelah barat mihrab itu, tampak penuh dengan orang-orang yang ingin memberikan penghormatan terakhir untuk KH. Hasani Nawawie. Sebagian besar datang dari jauh, bukan masyarakat setempat. Wajah-wajah mereka terlihat muram. Berduka. Tak ada tawa. Di sebelah barat komplek pemakaman dengan luas sekitar 50 meter persegi ini, terlihat lain jenis) untuk melihat prosesi pemakaman dari atas tirai terpal itu.  Di sekitar pagar, tampak petugas dari satuan Banser sibuk mencegah orang-orang yang merangsek ke pagar. Mereka ingin masuk ke dalam kompleks agar dapat mengekspresikan penghormatan terakhirnya secara langsung. Di dalam pagar, tampak Keluarga Sidogiri, tokoh-tokoh dan orang-orang yang sibuk mempersiapkan pemakaman.  Sementara itu di luar komplek pemakaman, terdengar gaduh. Masyarakat berebut ikut memikul keranda jenazah Kiai Hasani Nawawie. Minimal, mereka dapat menyentuh keranda tokoh panutan itu. Melalui pengeras suara, terdengar seruan agar masyarakat tidak berebutan. “Hormati mayyit, hormati jenazah, jangan berebutan!” Teriakan itu terdengar sibuk dan sangat keras.  Ketika jenazah sampai di pesarean, masyarakat yang sejak semula gaduh mulai tenang. Hanya sesekali terdengar bisikan dan gumam “Allah… Allah…” dan isak tangis wanita dari barat pesarean.  Prosesi pemakaman itu berlangsung sekitar pukul 16.00 Selasa sore, 13 Rabiul Awal 1422 / 5 Juni 2001. Sebelumnya, salat jenazah dilaksanakan sebanyak 11 kali di Masjid Jami’ Sidogiri. Salat jenazah dilaksanakan berulang-ulang karena masyarakat yang datang berta’ziah terus mengalir dari berbagai daerah. Setiap kali salat jenazah dilaksanakan, masjid selalu penuh bahkan sampai meluber ke surau dan jalan-jalan. Salat jenazah pertama dilaksanakan sekitar pukul 09.00 pagi, sedang salat jenazah terakhir sekitar 16.00 sore.  Kiai Hasani memenuhi panggilan Allah SWT. sehari setelah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW; tepatnya pada malam Selasa, 13 Rabiuts Tsani 1422, pukul 03.50 dini hari. Beliau wafat pada usia 77 tahun karena serangan darah tinggi yang sudah sejak lama dideritanya.  Sehari sebelum wafat (malam Senin), Hadratussyekh masih sempat menghadiri acara peringatan Maulid Nabi di Masjid Sidogiri. Kiai mengikuti pembacaan diba’ dengan sempurna mulai awal sampai selesai. Beliau juga masih sempat berta’ziyah ke rumah H. lsmail, seorang warga desa Sidogiri yang wafat sehari sebelum peringatan hari maulid. Saat itu, Kiai sudah terlihat sakit parah. Sambil dipapah, beliau berjalan ke rumah H. Ismail yang berjarak kira-kira 150 meter dari dalemnya.  Menurut penuturan dari salah satu putra tirinya, Mas H. Abdul Barri, 10 hari sebelum wafat, Kiai Hasani bercerita telah didatangi Imam al-Ghazali dalam tidurnya. Beliau mushafahah (berjabat tangan) dengan tokoh sufi terkemuka Abad Pertengahan itu. Kiai Hasani merasakan perjumpaan dengan Imam al-Ghazali seperti dalam alam nyata, tidak dalam mimpi. Beliau tidak menceritakan lebih lanjut...

Selengkapnya
KH. Sadoellah Nawawie (Bagian III)
Feb26

KH. Sadoellah Nawawie (Bagian III)

KH. Sa’dulloh Nawawie (Bagian I) Supel dalam Bergaul   Ramah tamah pada semua orang, hubungannya luas dan siapa saja bisa menghubunginya. Itulah kepribadian KA. Sa’doellah Nawawie, yang tidak mau menonjolkan kekiaiannya dalam bergaul. Sikapnya dalam bergaul sangat supel. Kalau dilihat sepintas, dari akrabnya beliau pada teman, orang takkan menyangka bahwa beliau orang besar.   Beliau sering mengajak boncengan orang kampung yang ditemuinya di jalan, misalnya dari Warungdowo ke Sidogiri. Suatu ketika saat beliau akan pulang dari Pasuruan naik sepeda motor, ada seorang wanita yang menjadi karyawan Pemerintah Daerah, ingin berboncengan dengan beliau. Wanita itu beranggapan Kiai Sa’doellah pasti mau memboncengnya, mengingat betapa supelnya beliau dalam bergaul. Namun beliau memberi alasan mau membeli sesuatu dan langsung pulang lewat Besuk.   Sebagai Penanggung Jawab dan Ketua Umum PPS, beliau sangat mengayomi dan akrab sekali dengan Pengurus pondok selaku bawahannya. Beliau sering mengajak mereka mayoran (tanak bersama) dengan lauk ikan, yang biasanya hasil menjala di sungai selatan pondok. Kadang-kadang beliau menyembelih merpati atau memesan kerak nasi (kerrek, Madura) pada santri.   Saat bercengkerama dengan Pengurus Pondok, beliau suka bercerita diselingi dengan gurauan. Sehingga dalam rapat pun kalau melihat anggota sudah lesu dan ngantuk, maka beliau memberikan joke-joke segar, sehingga mereka bersemangat kembali. Sikap humor beliau semisal ada seorang santri yang akan berangkat tugas ke Malang. Dengan bahasa Madura, beliau berpesan sambil bergurau, ”Ingat, masyarakat Malang jangan dimahabbah semua, nanti anak orang dibuat tertarik semua. Jangan-jangan nanti semua perempuannya tertarik pada kamu!”.   Mendirikan RMI  Untuk menyatukan visi dan misi seluruh pondok pesantren dalam mempertahankan Ahlussunnah Waljamah, utamanya pesantren salaf, Kiai Sa’doellah bersama KH. Achmad Jufri Besuk serta KH. Achmad Shiddiq Jember, menginginkan agar semua pondok pesantren berafiliasi dalam satu wadah organisasi. Sering mereka bertiga berembuk mematangkan ide, baik di Sidogiri atau di Besuk, sehingga pada akhirnya diputuskanlah organisasi itu bernama IMI (Ittihad Ma’had Islami).   Untuk mendapat pengesahan dari PBNU, mereka sepakat untuk mengajukannya pada KH. Abd. Wahab Hasbullah yang ketika itu menjabat Rais Aam PBNU. Rupanya Kiai Wahab merespon dengan baik, sehingga organisasi itu menjadi salah satu organisasi dibawah naungan NU.  Pada akhirnya, pada tahun 50-an, dilaksanakanlah konferensi, yang bertempat di rumah KH. Achmad Siddiq Jember. Konferensi ini dihadiri oleh KH. Abd. Wahab Hasbullah. Setelah melalui perdebatan seru tentang nama organisasi persatuan antar pondok pesantren itu, akhirnya atas usulan Kiai Wahab diputuskan organisasi itu bernama Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) dengan mengacu pada ayat,”Ya ayyuha alladzîna âmanû ishbirû wa shâbirû warâbithû wattaqullâha, la’allakum tuflihûn”(QS. Ali Imron:200). Sampai sekarang RMI menjadi salah satu organisasi otonom NU.  Qanaah dan Khumul, Menolak Jadi Menteri Agama  Kalau melihat penampilannya sehari-hari, pasti orang yang melihatnya akan mengira Kiai Sa’doellah bukan tokoh masyarakat yang berpredikat kiai dan disegani. Kalau akan bepergian, pakaiannya necis:...

Selengkapnya
KH. Sadoellah Nawawie (Bagian II)
Feb20

KH. Sadoellah Nawawie (Bagian II)

KA. Sa’doellah Nawawie sebagai Pejuang: Ingin Mati Ditembak Belanda Demi Indonesia  Semasa revolusi memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, KA Sa’doellah Nawawie mempunyai peran penting dalam memobilisasi rakyat guna membendung invasi asing yang menjajah bumi Nusantara. Bahkan dengan sigap penuh keberanian beliau mengangkat senjata dan memimpin pasukan untuk mengusir kolonial Belanda.   Mulai 10 Oktober 1945 sampai 1 Januari 1946, beliau bergabung dengan front perlawanan Hizbullah selaku komandan Kompi II untuk Divisi Timur. Tentara yang dipimpin sekitar 250-an yang bermarkas di Sidogiri. Beliau bersenjatakan keris dan Pegras, sejenis pistol.  Menurut pandangannya, agresi Belanda harus dihadapi dengan berperang. Memerangi Belanda adalah peperangan suci untuk membela tanah air dari invasi kaum kafir.   Dengan ketegasan dan kedisiplinan seorang militer, Kiai Sa’doellah memimpin pasukannya dengan strategi yang matang dalam bergerilya. Kepiawaiannya dalam memimpin pasukan sangat dikagumi oleh pasukannya, sehingga mereka sangat patuh terhadap semua perintahnya. Bahkan pada tahun 1946, ketika berumur 24 tahun, beliau dan pasukannya ada di Tulangan Sidoarjo untuk mempertahankannya dari serangan Belanda. Dalam pertempuran itu, mereka kadang harus maju dan kadang terpaksa mundur untuk menyusun strategi.   Ketegasan beliau melawan Belanda, berbeda jauh dengan KH. Hasani, adiknya, yang berjuang melalui pendekatan terhadap Belanda. Pernah beliau mendapat keluhan dari bawahannya tentang sikap Kiai Hasani yang dekat dengan Belanda, sampai memakai baju doreng tentara Belanda dan pernah naik tank Belanda. ”Kalau betul Hasani itu ikut Belanda, tidak usah kalian yang membunuhnya. Aku sendiri yang akan menembaknya. Tapi aku akan menanyakan pada Hasani dulu apa maksudnya dia seperti itu,” ungkap beliau.   Lalu beliau mengajak Kiai Hasani bertemu di suatu tempat, dan menanyakan apa maksud dari semua perbuatannya. Lantas Kiai Hasani mengungkapkan alasannya, yakni ingin menyelamatkan santri. Karena pada masa itu pesantren kosong ditinggalkan berjuang dan mengungsi oleh semua kiai. “Kalau aku tidak berbuat begini, pasti pondok dibakar,” ungkapnya. Mendengar alasan itu, Kiai Sa’doellah tidak bertindak apapun.    Keberanian dan Strateginya   Semangat dan keberanian Kiai Sa’doellah dalam berjuang sangat tinggi, sehingga tidak mementingkan diri sendiri. Kesehariannya rela ada di mana-mana, bergerilya dan bertempur di medan perang. Pernah beliau pergi ke Semarang, Jogjakarta dan tanah Betawi untuk menghadapi agresi Belanda, dengan menunggang seekor kuda dan memegang cemeti. Sedangkan pasukannya diangkut dengan truk.  Untuk menyemangati pasukannya, sebelum berangkat berperang, Kiai Sa’doellah membakar semangat mereka dengan orasinya yang menggebu. Beliau mengintruksikan pada semua pasukannya agar jangan takut dan susah. Walau digertak bagaimanapun juga oleh Belanda, jangan sampai ada yang menyerah.  Ayat al-Qur’an yang sering disampaikan pada pasukannya adalah, ”Kullu nafsin dza’iqatu al-maut” (QS. Ali Imron:185). Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Menurut beliau, ”Walau bagaimanapun juga, setiap manusia pasti akan merasakan kematian. Jadi jangan sampai takut mati dan susah. Pantang mundur, dan terus maju!”.   Perjuangan beliau sangat...

Selengkapnya
KH. Sa’dulloh Nawawie (Bagian I)
Feb18

KH. Sa’dulloh Nawawie (Bagian I)

KH. Sa’dulloh Nawawie waktu muda Ulama Intelektual Pembela Revolusi Kemerdekaan Putra Pendiri NU yang Kutu Buku  Sejarah dilaksanakan oleh banyak orang. Namun, hanya segelintir manusia yang dapat tampil, karena mereka lahir pada saat yang tepat dan mampu menafsirkannya”. Demikian kata wartawati Oriana Fallaci dalam pengantar bukunya yang terkenal, Interview with Histori. KA Sa’doellah Nawawie boleh jadi termasuk salah satu orang yang digambarkan Fallaci itu. Putra salah satu pendiri NU KH. Nawawie bin Noerhasan ini adalah salah satu orang yang dapat tampil ke pentas sejarah Republik Indonesia, sehingga dapat mewujudkan kemerdekaan bangsa dari agresi sang imperialis Belanda.   Sekelumit Silsilah dan Masa Kecil  Kiai Sa’doellah lahir di Sidogiri (?) pada tahun 1922 M. Beliau terlahir sebagai anak kedua dari empat bersaudara, dari pasangan KH. Nawawie bin Noerhasan dan Nyai Asyfi’ah yang sering disebut Nyai Gondang. Kakaknya yang seayah dan seibu adalah KH. Siradjul Millah-Waddin, sedangkan adiknya KH. Hasani dan seorang perempuan yang meninggal pada usia 4 (empat) tahun.     Kiai Nawawie, abahnya, adalah ulama besar yang menjadi salah seorang pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri ini menyetujui pendirian NU dengan syarat tidak mengurus uang (baca: tidak mengambil iuran pada anggota).   Beliau juga ikut andil dalam pembuatan lambang organisasi Islam terbesar di dunia ini. Yakni, setelah para ulama sepakat mendirikan NU, hadlratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari menyuruh KH. Ridlwan Surabaya untuk membuat lambang NU. Lewat istikharah, Kiai Ridlwan mendapat isyarat gambar bumi dan bintang sembilan. Hasil itu segera ia laporkan pada Kiai Hasyim. Kata Kiai Hasyim, “Gambar itu sudah bagus. Tapi saya minta kamu sowan ke Kiai Nawawie di Sidogiri Pasuruan untuk meminta petunjuk lebih lanjut”.   Kiai Ridlwan segera menemui dan mengutarakan maksudnya pada Kiai Nawawie yang di kalangan ulama saat itu dikenal sebagai kiai yang waskita (mukasyafah). Beliau menjawab dalam bahasa Jawa, ”Saya setuju dengan gambar bumi dan bintang. Namun masih perlu ditambah tali untuk mengikatnya. Dan juga ditambah tulisan ayat, ‘Wa’tashimu bihablillahi jami’an wa la tafarraqu” (QS. Ali Imron:103).   Kiai Nawawie juga meminta agar tali yang mengikat gambar bumi ikatannya dibuat agak longgar. Setelah lambang itu disahkan, Kiai Nawawie di hadapan kiai-kiai berkata, ”Selagi (filosofi) tali yang mengikat bumi itu masih kuat, maka sampai kiamat NU tidak akan habis dan selalu ada”. (Disampaikan oleh Gus Ishom Hadzik, Jombang, dalam lokakarya kebangsaan untuk komunitas pesantren di Surabaya) Kembali ke KA Sa’doellah, dibandingkan saudara-saudaranya, sejak kecil Kiai Sa’doellah bisa dibilang aneh. Saat kecil, beliau sangat dekat pada abahnya, Kiai Nawawie. Saking dekatnya, apa saja yang dilakukan abahnya beliau tiru. Dan setiap kali abahnya bepergian, beliau mengikutinya dari belakang. Selain itu, Kiai Nawawie memberi perhatian penuh padanya.  Sejak kecil sudah tercermin bahwa beliau kelak akan menjadi orang besar dan ahli...

Selengkapnya