Fun Bike; Sepeda Santri, Cara Santri Menyapa Umat
Apr29

Fun Bike; Sepeda Santri, Cara Santri Menyapa Umat

                        Untuk dapat hidup normal, kita harus bisa menjaga kesehatan rohani dan jasmani. Sebab, perlu diketahui, keduanya saling berhubungan dan saling memengaruhi. Contohnya, jika bagian tubuh Anda merasa sakit, maka hati Anda secara tidak langsung akan merasa sedih dan kecewa. Begitu pula jika pikiran Anda terganggu maka tubuh akan bereaksi bahwa ada sesuatu yang salah. Begitulah mungkin tujuan adanya Fun Bike yang diselenggarakan oleh Comunitas SigiGo: menjaga kesehatan rohani dan jasmani. Berikut laporannya; Laporan: M. Afifur Rohman Ahad (29/04) pagi jam 06.00 Wis, segerombolan orang dengan seragam warna abu-abu bergaris merah di depannya, bertulisan SigiGo Fun Bike 2018 sebagai pelengkap, datang dari berbagai arah. Mereka berjubel memadati Lapangan Olahraga Sidogiri, untuk mengikuti event “Sepeda Santri”. Even yang diakomodir Comunitas SigiGo ini rutin dilaksanakan setiap tahun,  untuk memeriahkan Milad ke-281 dan Ikhtibar Madrasah Miftahul Ulum ke-72 Pondok Pesantren Sidogiri. Hadir dalam event tersebut Mas d. Nawawy Sadoêllah (Katib Majelis Keluarga), Bapak Anwar Sadad (Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur) dan Bapak Masroni (Kepala Polsek Kraton). Bertajuk “Sepeda Santri Sidogiri 2018” Mas Aminulloh Bq (Ketua Panitia Fun Bike) didampingi Edy Amin melepas peserta Fun Bike. Ribuan peserta pun tampak tumpah ruah  ke jalan raya Sidogiri, para peserta yang diperkirakan jumlahnya menembus angka enam ribu itu tidak hanya berasal dari Pasuruan, namun juga masyarakat umum yang berasal dari beberapa daerah seperti Surabaya, Malang, Probolinggo, Lumajang dan Jember. Mas Aminulloh Bq. dalam sambutannya mengatakan bahwa kesehatan jasmani merupakan perkara penting dalam proses pendidikan. Beliau menyampaikan kebahagiaannya bisa berkumpul untuk memeriahkan event yang sangat luar biasa untuk sehat bersama dengan bersepeda. “Saya sangat bahagia dan  berterima kasih atas kerja sama kepada seluruh pihak yang ikut dalam menyukseskan acara ini,” ujar beliau. Sementara itu, Menurut Bapak Anwar Sadad, acara Fun Bike ini adalah salah satu cara Sidogiri merayakan kebahagian bersama masyarakat. Beliau menyebutnya sebagai cara Sidogiri menyapa masyarakat. “Dengan Fun Bike ini kita diajak untuk bahagia bersama, bentuk peduli Sidogiri akan kesehatan jasmani masyarakat, yang hal tersebut merupakan hal penting untuk membangun karakter,” tutur pria mantan pengurus Korcab PMII Jatim ini. Putra asal Bangkalan ini juga mengatakan, setidaknya ada dua pesan yang bisa kita ambil dari  even “Sepeda Santri”  ini. Pertama, terbangunnya kemandirian Sidogiri. Kemandirian itu begitu penting, karena dengan mandiri kita bisa istiqamah untuk berbuat tanpa takut ada yang mengawasi, dan hal-hal yang lain. Kedua, menyediakan kebutuhan masyarakat. Esensi dari adanya Fun Bike ini adalah membuat kita gembira, gembira karena bisa berkumpul bersama, ngumpul bersama teman lama. “Gembira karena mendapat hadiah atau karena bisa berkumpul bersama kawan lama. Intinya, adanya Fun Bike ini, kita bisa bahagia.” Ungkap Anwar Sadad, dibarengi gelak tawa dari peserta.[] ...

Selengkapnya
Sidogiri Expo 2018; Kepuasan Pemesan dan Pembeli Menjadi Prioritas Utama
Apr27

Sidogiri Expo 2018; Kepuasan Pemesan dan Pembeli Menjadi Prioritas Utama

                      Demi kepentingan bersama, dalam berorganisasi harus rela mengorbankan banyak hal. Itulah yang di lakukan Roisurrohman Cs, untuk membuat pihak pembeli dan pemesan puas terhadap hasil kreatifitas mereka. Malam Rabu (09/10) adalah malam pertama santri libur jam belajar. Lalu lalang santri memadati setiap sudut area pondok pesantren, membuat pupil mata lelah bergerak kesana-kemari oleh sebab melihat santri berdesakan. Sementara itu, Roisurrohman, Ketua Produksi Sidogiri Expo, sedang menulis salah satu kaligrafi, pesanan santri Daerah O di Kantor ISS, Ainul Yaqin partnernya, juga terlihat serius mengukir tulisannya pada sepotong kaca. Dua kreator Sidogiri Expo itu terlihat semakin giat menyiapkan produk yang akan ditawarkan di Sidogiri Expo. Lukisan kaligrafi yang terbuat dari cermin, kaca, gabus, miniatur rumah, minatur sepeda motor vespa, dan berbagai macam pameran yang lain ikut dipersiapkan. Kaligrafi beserta kreatifitas lain yang sudah dibuat maupun belum selesai, masih berserakan di Kantor ISS, tempat tim produksi, memproduksi buah karyanya. Mereka juga harus rela meluangkan waktu tidurnya demi kepuasan pihak pembeli dan para pemesan lukisan kaligrafi mereka. Tim produksi Sidogiri Expo sebenarnya berjumlah enam orang. namun empat diantaranya tidak terlihat pada malam itu, “Mereka belum datang, nanti agak malam mungkin datang, sekarang tugas mereka sudah hampir selesai, jadi sekarang lagi istirahat,” ujar pria yang akrab dipanggil Rois tersebut dalam bahasa Madura. “Kadang saya membuat lukisan ini sampai jam empat pagi, setelah itu tidur, salat subuh. Bangun siang, baru kemudian dikerjakan lagi. Kalo partner saya yang itu, biasanya tidak tidur semalaman membuat kaligrafi itu,” ceritanya sambil menunjuk Ainul Yaqin. Berada di sidogiri Expo, menjadi tantangan tersendiri bagi Rois dan kawan-kawan untuk belajar lebih giat guna mengembangkan bakat mereka dalam dunia kaligrafi maupun kreatifitas lain. Bahkan salah seorang di antaranya rela bolak-balik bertanya, dan akhirnya mendapat cara melukis kaligrafi yang bagus setelah mendapatkan jawaban dari tim dekorasi banat. Keesokan harinya, pameran Sidogiri Expo mulai di bawa ke Mabna al-Ghazali untuk persiapan pembukaan Sidogiri Expo yang berlangsung pada malam Kamis (10/10). Ruang yang diperuntukkan Sidogiri Expo antaralain; ruang 10 gudang, ruang 09 tempat pameran, sedangkan ruang 01 ruang desain. Tidak hanya produk lokal, buatan tim produksi saja. Sidogiri Expo kali ini juga memamerkan kreatifitas karya santri Sidogiri. Terhitung ada tiga santri yang menitipkan buah karyanya pada even kali ini. “Kami sudah memberi tahu ke masing-masing daerah. Kalo ada yang mau menitipkan hasil kreatifitasnya ke Sidogiri Expo dipersilahkan. Tapi sampai saat ini masih ada tiga orang yang menyetorkan. Ini salahsatunya,” lanjutnya sembari memperlihatkan songkok emas di tangannya. Selain itu, karena mengaca pada tahun sebelumnya, yang sebagian besar dari pameran tidak laku, pameran pada tahun ini akan dibandrol dengan sangat murah dan pas dengan isi saku santri....

Selengkapnya
#KilasBalik Milad Sidogiri 280: Dihadiri Dua Tokoh Nasional
Apr18

#KilasBalik Milad Sidogiri 280: Dihadiri Dua Tokoh Nasional

  KH. Ma’ruf Amin, Ketua MUI sekaligus Rais Aam PBNU dan TGB Zainul Majdi MA, Gubernur NTB, hadir dalam malam puncak #MiladSidogiri280 yang mengusung tema #SatuLangkahSatuBarisan, Ahad malam Senin (14/05/2017 atau 17/08/1438) di Lapangan Olahraga Sidogiri. Di hadapan ribuan hadirin, TGB Zainul Majdi memuji eksistensi Pondok Pesantren Sidogiri, “Bersentuhan dengan pondok ini, kita bisa belajar banyak hal yang mulia, pertama soal keikhlasan. Tidak ada rahasia yang menjaga hampir tiga abad kecuali ilmu ikhlas.” TGB juga mengajak umat Islam agar bersabar dalam proses perjuangan. “Suasana akhir-akhir ini, banyak hal-hal Islam dianggap sebagai sesuatu yang tidak baik. Tapi tidak apa, itulah suatu tahapan perjuangan, selama Islam di Indonesia punya pondok-podok seperti Sidogiri, maka tantangan apapun pasti akan dapat kita lewati, Wallahualam bissaawaf.” Sementara itu, KH. Ma’ruf Amin banyak menyinggung masalah kebangsaan dan pesantren, “Agama jadi sumber inspirasi dan kaidah penuntun bagi bangsa,” terang beliau. KH Ma’ruf Amin menambahkan, ulama perlu senantiasa kita siapkan supaya tidak terjadi kekosongan karena banyak ulama sepuh dipanggil Allah Swt. “Kalau sampai tidak ada seorang alim pun, orang akan mengangkat pemimpin yang bodoh-bodoh yang tidak paham agama. Kalau ditanya soal ilmu (agama) mereka sesat dan menyesatkan. Karena itu, ulama harus terus dicetak.” KH Ma’ruf Amin juga memuji capaian Pondok Pesantren Sidogiri yang masih bertahan dan tetap istikamah hingga saat ini dalam mencetak generasi Islam yang berkualitas. “Saya berharap (Pondok Pesantren Sidogiri) tetap eksis,” harap KH Ma’ruf Amin. _______ Penulis: N. Shalihin Damiri Editor: Isom...

Selengkapnya
Ust Abd Hafidz: Istikamah dan Amanah Adalah Pemicunya
Mar22

Ust Abd Hafidz: Istikamah dan Amanah Adalah Pemicunya

Ketika horizon tersenyum di atas nirwana menandakan semua makhluk terpanggil untuk mengadu-tunduk di depan Tuhannya. Tanpa terkecuali. Begitu juga Ust Abd Hafidz, sang guru karismatik, membawa semangat dalam derak terompahnya. Masjid Jami’ Sidogiri menjadi pelabuhannya untuk menebar salawat bersama kawan santri. Mari kita ikuti kisahnya. Cara berjalannya penuh dengan ketawaduan, sederhana dan berwibawa. Paduan jas putih dan sarung ditambah sejadah yang diselempangkan di pundak plus bakiak adalah cara beliau berbusana. Pria dengan lima buah hati ini sudah  sudah puluhan tahun menemani santri membaca selawat ba’da maghrib di Masjid Jami’ Sidogiri. Ya, sosok itu adalah Ust Hafidz. Staf pengajar MMU Tsanawiyah itu tetap dalam keistikamahannya mengemban amanah yang dipercayakan oleh masyayikh Sidogiri. Ketika salat berjamaah maghrib selesai, santri dari tingkat Tsanawiyah berhamburan keluar. Mereka menuju ruang masing-masing untuk melaksanakan pengajian al-Quran. Untuk murid kelas 6 ibtidaiyah dan kelas 3 Tsanawiyah yang tetap berada di masjid untuk membaca salawat. Seperti biasa Ust. Hafidz memulai pembacaan salawat dengan mengirim surat al-Fatihah sebagai tawassulan kepada beginda Nabi dan para masyayikh. Selanjutnya pembacaan dimulai dengan pembacaan istighfar sebanyak 70 kali dan salawat 313 kali. Begitulah seterusnya beliau mendekatkan diri kepada-Nya. Tentang pembacaan selawat di Sidogiri ini sudah dilakukan dari masa ke masa. Hal itu dimulai sejak kepengasuhan KH. Noerhasan bin Noerkhotim. Sejak itulah pembacaan selawat dibaca secara istikamah. Menurut penuturan Ust. Hafidz sejak tahun 1978 sampai 1995 pemimpin pembacaan selawat sudah berganti sebanyak empat kali mulai dari KH. Muzakki, KH. Abu Siri, Ust. Hasan dan Ust. Hamid Bangkalan. Menurut beliau dalam pembacaan selawat ini ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi santri. Peraturan secara tak tertulis ini antara lain; dilarang membaca selawat secara cepat. “Jangan cepat-cepat, biasa saja,” dawuh KH. Abd Alim dalam suatu kesempatan. Selanjutnya dalam hitungan pembacaannya tidak boleh lebih ataupun kurang. Pada suatu kesempatan Ust. Hafidz ditegur oleh KH. Hasani Nawawie karena pembacaan selawatnya lebih. Larangan selanjutnya adalah dilarang bergurau, tidur, berbicara, serta membaca wirid lain. Begitulah Ust. Abd. Haifidz mengawal pembacaaan selawat di PPS dengan kesungguhan dan semangat mengemban amanah dari guru memberinya stimulus tambahan untuk merealisasikan amanah tersebut. “Jangan berhenti, karena itu dari Kiyai Hasani,” dawuh KH Abd Alim kepada Ust Abd Hafidz. Kata magis itulah yang melecut semangat Ust. Abd Hafidz untuk terus menjaga keistikamahan membaca salawat. Kita, santri, dan semuanya hanya perlu menaati apa-apa yang didawuhakan oleh beliau-beliau. Karena sejatinya hidup tak lepas dari ’peraturan-peraturan’ yang mau tidak mau harus kita taati. Begitu juga dengan pembacaan salawat. Mediator kita dengan baginda Nabi ini harus ‘disikapi’ dengan ‘khusus’ kalau kita ingin menjadi orang-orang yang ‘khusus’. Apalagi di bulan maulid ini kesempatan untuk berselawat terbuka lebar. Maka akan dikemanakan kesempatan itu. Selamat bersalawat dan selamat berlibur. ======= Reporter: Isomuddin Rusydi...

Selengkapnya
Renaisans Insan Pers Pesantren, BPP Terus Mengawal Ketat Media PPS
Mar14

Renaisans Insan Pers Pesantren, BPP Terus Mengawal Ketat Media PPS

Pers, begitulah deretan huruf magis yang lahirnya entah berapa ribu tahun yang lalu. Yang pasti kiprah ‘makhluk’ ini sudah mendunia. Seakan menjadi belati bermata seribu, dia bisa menjadi messiah bagi kita, dan sebaliknya menjadi penghancur paling mematikan. Ketika baru kembali dari kampung halaman, seorang teman bilang kepada saya tentang wajah baru permediaan di Sidogiri. “Kawan, kini BPP mempunyai role baru.” “Ah, kau membuatku penasaran bung..!,” saya sedikit terkejut. Seketika itu juga, jiwa kewartawanan saya ‘hangat’. Semenjak ada ‘ultimatum’ dari karib saya itu, saya beruasaha mengorek informasi tentang instansi yang menjadi pengawal media-media di PPS ini. Metode hunting news freelance saya terapkan dalam ‘perburuan’ ini. Dalam sejarahnya, sejak satu dekade silam, dunia jurnalistik mulai menyentuh PPS. Majalah Ijtihad menjadi  pioneer bagi permediaan  Sidogiri . Sejak saat itu pula, bermunculanlah media-media lain baik dengan format majalah, bulletin, maupun mading. Bila kita berjalan-jalan dari utara pesantren ‘sepuh’ ini, melewati jembatan , kita akan menyaksikan sederet media-media dengan formatMading. Posisi penempatan yang strategis; dibawah Daerah J yang digantung di dinding kamar mandi santri. Kitapun bisa melihat betapa sadar betul santri akan membaca, jika ditilik dari antusiasme santri. Membaca sambil berdesak-desakkan. Itulah fenomena yang menjamur di Sidogiri. Perpustakaan menjadi tempat halaqah paling strategis, penulis-penulis muda bermunculan, apa lagi hadirnya Pustaka Sidogiri dengan ‘mesin’ pembuat bukunya yang minta ampun. Melihat anomali pers yang mewabah, Badan Pers Pesantren, atau masyhur dengan BPP hadir untuk mengawal media-media PPS agar, meminjam istilah warga grass root, sesuai dengan khittahnya. Dan ini sudah berlangsung selama tujuh tahun atau bertetepatan pada tahun 2007. Juga, secara tidak langsung, hadirnya instansi ini menandakan kebangkitan permediaan di Sidogiri. Dan kita bisa melihatnya dengan lahirnya jurnalis-jurnalis islami dengan sekian banyak journalism media yang menjadi corong mereka. Kantor BPP yang berada di lantai dasar gedung MMU an-Nawawi lantai dasar . Bertempat di deretan gedung bagian selatan menghadap ke barat. Di depannya merupakan jalan sebagai akses utama santri, baik yang mau sekolah maupun hilir-mudik santri yang bermukim di daerah L dan I. Tidak perlu deskripsi mendetail dari kantor sederhana ini. Hanya dilengkapi satu komputer dan berkas-berkas administrasi yang tertata. Ruangan 4X3 itulah yang mengurusi permediaan di PPS. Baik dari segi editing kontent hingga pada tahap desain. Semuanya BPP yang mengawal. Pada tahun ini BPP melakukan gebrakan baru terkait dengan sistematika penerbitan media pesantren. Secara garis besar, informasi yang saya tangkap terkait dengan media PPS adalah larangan bagi santri mempunyai jabatan rangkap di dalam suatu media. Karena pada tahun-tahun sebelumnya banyak santri yang mempunyai double job. Bahkan ada santri yang mempunyai jabatan di tiga media sekaligus. Fantastis! Terobosan terbaru lainnya adalah sistematika penyetoran naskah ke BPP. Beda dengan tahun sebelumnya yang penyetoran naskahnya langsung diberikan kepada korektor BPP setelah diketik rapi dan di print....

Selengkapnya
Libur Maulid: Katib Majelis Keluarga Tekankan Arif Bermedsos
Nov28

Libur Maulid: Katib Majelis Keluarga Tekankan Arif Bermedsos

Sekitar jam 08:30 Wis, pada malam Senin (27/11), seluruh santri Pondok Pesantren Sidogiri dengan khidmat menyimak tausiyah Katib Majelis Keluarga, Mas d. Nawawy Sadoellah, yang disampaikan langsung oleh beliau dari Kantor Sekretariat melalui pengeras suara yang dihubungkan ke daerah pemukiman santri. “Ananda santri sekalian yang berbahagia. Besok pagi kalian akan meninggalkan Sidogiri, tidak hanya dengan menjinjing tas dan koper di punggung kalian, tapi juga menjinjing status Putra Sidogiri ke rumah kalian. Kalian adalah anak ideologis Sidogiri, putra-putra ideologis Kiai Nawawi bin Abd. Djalil dan terus ke atas, segenap masyayikh Sidogiri. Armada yang akan membawa kalian, tidak hanya membawa rombongan manusia, tapi juga membawa pernak pernik nama Sidogiri ke seluruh pelosok negeri ini,” kata Mas d. Nawawy memulai tausiyahnya. Tiga hal pokok yang disampaikan beliau terkait dengan momen pulangan santri Pondok Pesantren Sidogiri. Pertama, beliau berpesan kepada seluruh santri agar senantiasa menjaga akhlaq, karena  selama tujuh hari kedepan, masyarakat akan menilai Sidogiri dalam bentuk perilaku, tutur kata, tata krama dan penampilan para santri. “Oleh karena itu, berpikirlah seribu kali sebelum kalian melakukan atau mengucapkan sesuatu: apakah hal itu pantas untuk seseorang yang sedang mejinjing nama Sidogiri. Jangan sampai kepulangan kalian justru menjadi malapetaka bagi nama baik Pondok Pesantren Sidogiri. Ingatlah hal itu selalu dalam setiap detik waktu kalian di rumah,” unkap beliau penuh harap. Kedua, beliau bercerita tentang larangan menonton bioskop yang selalu tertera dalam surat izin pulang, tempo dulu. Yang waktu itu, menonton bioskop merupakan suatu yang sangat buruk. Untuk saat ini, kata beliau, menonton bioskop mungkin sudah tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan tontonan mutakhir seperti televisi, handphone dan internet yang tersaji dalam setiap waktu di rumah kita, atau bahkan selalu menyertai kita, ke manapun kita pergi. “Tentu saja, bukan langkah bijak, jika misalnya selama liburan nanti, santri dilarang mengoperasikan handphone dan bermedia sosial seperti halnya ketika mereka masih berada di Pesantren. Kita menyadari bahwa perangkat-perangkat tersebut sudah membanjiri setiap rumah, sehingga mustahil dihindarkan dari santri yang sedang berlibur. Maka, satu-satunya pilihan adalah menyiapkan santri agar dapat menggunakan perangkat-perangkat tersebut secara arif, bijak dan terukur,” lanjut beliau. Kemudian beliau menyampaikan dua hal yang pokok yang harus diperhatikan santri dalam menggunakan perangkat-perangkat mutakhir tersebut. Yakni tidak menggunakannya untuk hal-hal yang melanggar syariat, serta tidak menggunakannnya secara berlebihan jangan berlebihan, menurut beliau segala sesuatu yang berlebihan akan berakibat buruk. Ketiga, kepulangan santri dari Pondok Pesantren Sidogiri, harus bisa menjadi penggerak salat jamaah di daerah masing-masing, terutama jamaah salat subuh. sebagaimana himbauan Hadratussyekh Kiai Nawawi bin Abdul Jalil terhadap santri dan alumni beberapa bulan lalu. Beliau juga mengatakan bahwa jika salat jamaah di tempat itu hidup, maka hidup pula syiar yang paling penting dalam agama. Jika salat jamaahnya baik, maka hal...

Selengkapnya