Libur Maulid: Katib Majelis Keluarga Tekankan Arif Bermedsos
Nov28

Libur Maulid: Katib Majelis Keluarga Tekankan Arif Bermedsos

Sekitar jam 08:30 Wis, pada malam Senin (27/11), seluruh santri Pondok Pesantren Sidogiri dengan khidmat menyimak tausiyah Katib Majelis Keluarga, Mas d. Nawawy Sadoellah, yang disampaikan langsung oleh beliau dari Kantor Sekretariat melalui pengeras suara yang dihubungkan ke daerah pemukiman santri. “Ananda santri sekalian yang berbahagia. Besok pagi kalian akan meninggalkan Sidogiri, tidak hanya dengan menjinjing tas dan koper di punggung kalian, tapi juga menjinjing status Putra Sidogiri ke rumah kalian. Kalian adalah anak ideologis Sidogiri, putra-putra ideologis Kiai Nawawi bin Abd. Djalil dan terus ke atas, segenap masyayikh Sidogiri. Armada yang akan membawa kalian, tidak hanya membawa rombongan manusia, tapi juga membawa pernak pernik nama Sidogiri ke seluruh pelosok negeri ini,” kata Mas d. Nawawy memulai tausiyahnya. Tiga hal pokok yang disampaikan beliau terkait dengan momen pulangan santri Pondok Pesantren Sidogiri. Pertama, beliau berpesan kepada seluruh santri agar senantiasa menjaga akhlaq, karena  selama tujuh hari kedepan, masyarakat akan menilai Sidogiri dalam bentuk perilaku, tutur kata, tata krama dan penampilan para santri. “Oleh karena itu, berpikirlah seribu kali sebelum kalian melakukan atau mengucapkan sesuatu: apakah hal itu pantas untuk seseorang yang sedang mejinjing nama Sidogiri. Jangan sampai kepulangan kalian justru menjadi malapetaka bagi nama baik Pondok Pesantren Sidogiri. Ingatlah hal itu selalu dalam setiap detik waktu kalian di rumah,” unkap beliau penuh harap. Kedua, beliau bercerita tentang larangan menonton bioskop yang selalu tertera dalam surat izin pulang, tempo dulu. Yang waktu itu, menonton bioskop merupakan suatu yang sangat buruk. Untuk saat ini, kata beliau, menonton bioskop mungkin sudah tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan tontonan mutakhir seperti televisi, handphone dan internet yang tersaji dalam setiap waktu di rumah kita, atau bahkan selalu menyertai kita, ke manapun kita pergi. “Tentu saja, bukan langkah bijak, jika misalnya selama liburan nanti, santri dilarang mengoperasikan handphone dan bermedia sosial seperti halnya ketika mereka masih berada di Pesantren. Kita menyadari bahwa perangkat-perangkat tersebut sudah membanjiri setiap rumah, sehingga mustahil dihindarkan dari santri yang sedang berlibur. Maka, satu-satunya pilihan adalah menyiapkan santri agar dapat menggunakan perangkat-perangkat tersebut secara arif, bijak dan terukur,” lanjut beliau. Kemudian beliau menyampaikan dua hal yang pokok yang harus diperhatikan santri dalam menggunakan perangkat-perangkat mutakhir tersebut. Yakni tidak menggunakannya untuk hal-hal yang melanggar syariat, serta tidak menggunakannnya secara berlebihan jangan berlebihan, menurut beliau segala sesuatu yang berlebihan akan berakibat buruk. Ketiga, kepulangan santri dari Pondok Pesantren Sidogiri, harus bisa menjadi penggerak salat jamaah di daerah masing-masing, terutama jamaah salat subuh. sebagaimana himbauan Hadratussyekh Kiai Nawawi bin Abdul Jalil terhadap santri dan alumni beberapa bulan lalu. Beliau juga mengatakan bahwa jika salat jamaah di tempat itu hidup, maka hidup pula syiar yang paling penting dalam agama. Jika salat jamaahnya baik, maka hal...

Selengkapnya
Wisuda Istimewa Idadiyah;  Harapkan Indonesia Menjadi Kiblat Keilmuan Dunia
Nov25

Wisuda Istimewa Idadiyah; Harapkan Indonesia Menjadi Kiblat Keilmuan Dunia

Semua hal pasti butuh proses. Hal itu juga yang terjadi pada metode al-Miftah lil-Ulum. Menjelang usianya yang ke-5. Metode ini sudah banyak mengeluarkan kader-kader ulama’. Bagaimana ceritanya? Berikut laporan M. Afifur Rohman  Hari Sabtu, (25/11) tampak suasana berbeda di sekeliling Pondok Pesantren Sidogiri. Ribuan santri memadati jalan utama PPS mulai dari depan kantor Kuliyah Syariah hingga arah barat Masjid Jami’ Sidogiri. Beberapa menit kemudian suasana tampak istimewa ketika iring-iringan wisudawan Istimewa membelah kerumunan santri diiringi hadrah ishari PPS serta kibaran bendera merah putih para pengawal Wisudawan. Para wisudawan istimewa diiringi para pengurus dan guru Tarbiyah Idadiyah serta para wali santri menuju ke dalem pengasuh PPS, KH A. Nawawi Bin Abdul Jalil. Di dalem pengasuh, wisudawan dievaluasi satu persatu. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan kepada para wisudawan untuk dijawab dengan benar. Demonstrasi itu disaksikan langsung oleh KH. A. Nawawi bin Abdul Jalil. Setelah acara demonstrasi, peserta langsung digiring menuju kantor Laz-Sidogiri, untuk mengikuti ceremonial acara wisuda istimewa. Menurut Ust. Rifqi Almahmudi, selaku Kepala Madrasah Idadiyah atau biasa disapa (Gus Rifqi) disebut istimewa karena keistimewaan yang mereka peroleh. Kitab al-Miftah lil Ulum yang seharusnya dipelajari setahun dapat ditempuh selama empat bulan. Hal ini merupakan keistimewaan yang dapat dimiliki oleh orang tertentu dan Mereka dikalungi surban langsung oleh KH. Nawawi bin Abdil Jalil. “Mereka disebut wisudawan ‘Istimewa’ karena berhasil menyelesaikan metode al-miftah lil ulum selama setengah tahun. Mestinya, metode ini dilaksanakan selama setahun. Selain itu, pengalungan surban langsung dari pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri”. ” kata Pria asal Pasuruan. Selain itu, sepanjang perjalanan wisuda istimewa Idadiyah terus melejitkan kesuksesannya. Pada tahun ini dari 331 peserta didik yang mengikuti tes wisuda Istimewa, Pengurus berhasil mewisuda sebanyak 94 Murid, terpaut jauh dari tahun kemarin sebanyak 68. Sebelum diwusuda istimewa peserta didik diwajibkan mengikuti serangkaian kegiatan seperti menghatamkan kitab Almiftah Lil Ulum dan Fathul Qorib dalam jangka waktu relatif singkat yakni; empat bulan. Dalam hal ini peserta juga mengikuti tes tulis dan lisan kelayakan wisuda kepada Guru Tsanawiyah, Ibtidaiyah, Idadiyah. Peserta yang lulus kelayakan wisuda di uji langsung oleh pihak Batartama (badan tarbiyah wa taklimiyah madrasy.) “Yang sudah diwisuda istimewa akan melanjutkan menghafal kitab, diantaranya; kitab Fathul Qorib, Zubad, Qoidah Fiqih, Jauharut Tauhid, Faroidl, Balaghah, dan juga Arudl,” terang Gus Rifki, saat diwawancarai disela-sela kegiatannanya, Ahad (24/11). Dikesempatan berbeda, Ust. Qusyairi Ismail sangat mengharapkan dengan adanya adanya program akselerasi baca kitab Almiftah dan adanya Wisuda Istimewa, Indonesia bisa menjadi Kiblat keilmuan bagi penjuru dunia. Selain itu, yang sudah menjadi agenda dari Pengurus adalah adanya program Pra- Almiftah Lil Ulum. Metode Pra Al-miftah ini akan dikhusukan bagi anak yang masih berusiah 9 tahun kebawah, dan bisa diterapakannya di rumah sebelum anaknya mondok di Pesnatren Sidogiri. “Kami mengiginkan rumah-rumah...

Selengkapnya
BMW Akhir Tahun Jadi Ajang Silaturahmi Alumni
Mei14

BMW Akhir Tahun Jadi Ajang Silaturahmi Alumni

Untuk menambah kemeriahan Milad Sidogiri 280 dan meneguhkan ukhwah, Panitia Milad menggelar acara rutinan Bahtsul Masail Wustha (BMW) khusus alumni Sidogiri dari segala penjuru Nusantara, Senin (14/05). Acara yang berlangsung di depan panggung utama ini berjalan dengan santai dan penuh keakraban. Selain sebagai forum diskusi, acara BMW juga menjadi ajang silaturahmi dengan teman lama. Ada 50 lebih alumni yang diundang untuk mengikuti acara tersebut. Berada di bawah instruksi langsung Pengurus Pusat Ikatan Alumni Santri Sidogiri (PP IASS), Pengurus Wilayah IASS mengutus beberapa alumninya yang mumpuni dalam hal musyawarah dari kota masing-masing. Musyaffak Bisri dan Ustad Sholeh Romli hadir bertindak sebagai mushahhih, didampangi oleh KH. Fakhri Suyuthi (Sumenep) dan Ustadz Baihaqi Juri sebagai notulen. Masalah yang dibahas hanya ada dua pertanyaan; meliputi akidah dan fiqhiyah. Awal mula penciptaan alam semesta (akidah) menjadi topik yang cukup unik dan menarik. Teman-teman alumni membahas masa’il ini dengan lucu. “Awalnya kami anggap ini pertanyaan main-main. Tapi karena yang nanya (sail) Ustadz Baihaqi Juri, ini perlu untuk di-tashawwuri,” ungkap salah satu alumni dari Jember yang mengikuti acara musyawarah itu. Ustadz Baihaqi Juri sebagai sail kemudian menjelaskan bahwa dia sempat bercerita kepada Ustad Shofi (Wakil II Kuliah Syariah) yang membawahi masalah musyawarah. “Saya dulu bertanya kepada Kiai Nawawi (Pengasuh PPS), tentang kapan diciptakannya alam semesta ini,” aku Pak Baihaqi, sapaan akrab Ustdaz Baihaqi Juri, kepada para alumni. Kiai, lanjut beliau, menjawab bahwa ini pertanyaan anak-anak Ibtidaiyah, bukan Aliyah (kiai tidak memperkongkret jawaban). “Ternyata sama Pak Shofi diangkat jadi pertanyaan forum,” lanjut Pak Baihaqi diiringi tawa para alumni. Usul agar pertanyaan ini dimauqufkan datang dari beberapa alumni dan bahkan dari Pak Baihaqi sendiri. “Kalau memang mau dimauqufkan, ya dimauqufkan aja. Tapi sebelumnya saya ingin tahu, apa jawaban dari KH. Musyaffak Bisri,” lanjutnya. Musyaffak kemudian mengatakan, “Kalau saya diminta untuk menjawab, maka akan saya wakilkan kepada Ustadz Sholeh Romli saja,” Kata beliau diiringi tawa musyawirin. Ustadz Sholeh ternyata juga sama. “Saya gak bisa jawab, karena yang bertanya ini senior saya…” ungkapnya, lagi-lagi membuat musyawirin tertawa. Namun, beliau kemudian menjelaskan bahwa pertanyaan ini perlu dikerucutkan lagi. “Alam yang mana yang dimaksud (Alam Dunia, Malakut, Jabarut, dll). Kalau sudah ditentukan mungkin nanti lebih mudah, karena sail (Pak Baihaqi) meminta dalil yang ‘aqliah (logis), bukan ta’biriyah.” Ungkapknya kemudian.[] ==== Penulis : Ali Imron Editor   : Muh Kurdi...

Selengkapnya
Ngaji Maring KH. Abdullah Syaukat Siradi: Menjaga Niat dalam Menuntut Ilmu
Mei30

Ngaji Maring KH. Abdullah Syaukat Siradi: Menjaga Niat dalam Menuntut Ilmu

KALAU menurut Almarhum Kiai Hasani, sekarang susah cari ilmu. Karena kebanyakan gurunya tidak karena Allah dan yang ngaji juga tidak karena Allah. Jadi bertemunya murid dan guru yang ikhlas, ini yang bisa menciptakan ilmu manfaat. Almarhum KH. Abdul Adhim, kalau ngaji kitab, lampunya dibawa sendiri dari dalem-nya. Kata Kiai Hasani, “Saking wedine gak ikhlas, Kang Adhim ghowo lampu teko umahe, gowo dewe.” Setelah ngaji, ketika lampunya mau dibawakan, beliau tidak mau. Mau tidak manfaat bagaimana ilmunya? Kita ingin sekali punya santri yang betul-betul manfaat. Kita tidak henti-henti mendoakan santri. Sehabis Subuh mintakan santri semoga ilmunya manfaat. Ini tak ada putusnya, saking kepingine. Tapi ya tergantung santrinya juga. Kalau santri memang betul-betul, insyaAllah berhasil. Dawuh Kiai Hasani, dari pada berdoa, lebih baik mengubah tingkah. Kita berdoa minta selamat, tapi berjalan di tengah jalan, ya, mungkin susah untuk selamat. Kamu tidak usah berdoa. Kamu jalan minggir saja, hati-hati. Karena tingkah itu adalah doa. Orang tua juga penting. Sementara orang tua sekarang cuma sibuk nyambut gawe tok, sibuk kerja. Anaknya pulang malam tidak diurus. Sekarang malah lebih mahal ayam daripada anak. Ayam tidak pulang sore saja dicari ke tetangga-tetangga. Anaknya tidak pulang semalaman tidak dihiraukan. Kalau nakal ditaruh di pondok. Masya Allah, ya, ini bingung. “Sik muruk sik dungakno”. Sedangkan anaknya tidak ada kemauan sama sekali. Makanya banyak yang gagal. Jadi tergantung anaknya, niatnya apa di situ. Insya Allah, kalau kiainya Lillâhi Taâlâ, santrinya juga karena Allah, maka ilmunya akan manfaat. Wali murid itu kadang salah faham. Anaknya pulang dari pondok malah diberi kebebasan. Setahun ditahan, mumpung pulang, diberi kebebasan. Dari awal tahun diberi pengertian baik-baik, akhir tahun, kok, malah dihapus. Dawuh Kiai Hasani, apa-apa kalau punya niat tapi belum berhasil, tandanya niatnya masih setengah-setengah. Kalau punya niat 100%, pasti berhasil. Beliau pernah memberi ujian pada saya. Kata beliau, “Sekarang banyak amar makruf nahi mungkar, kok batilnya lebih banyak? Padahal dawuhnya Allah tidak begitu. Kalau ada haq, pasti bathil sirna (Idzâ jâal-haqqu wa zahaqal-bâthil). Ini kok malah banyak haq, tapi bathilnya lebih banyak? Yang salah itu al-Quran apa siapa?” Saya jawab, ya, orangnya. Ya, betul. Sebab Allah sudah berfirman di al-Quran. Kok masih tidak cocok? Berarti haq-nya ini tidak 100%. Masih bercampur hawa nafsu. Makanya para guru dan pengajar harus menjaga haq agar tidak bercampur hawa nafsu, dengan demikian amblas bathilnya. Ya, pakai latihan dulu. Guru juga begitu, latihan ikhlas. Orang yang mau berlatih pasti berhasil. Kamu lihat angkat besi di TV. Tidak langsung 100 kg. Semua sama, ototnya sama. Kenapa dia bisa mengangkat 100 kg? Semua itu karena latihan. Santri juga begitu, harus latihan. Dawuh Kiai Hasani, mari kita biasakan yang baik dan meninggalkan yang buruk. Sebagai murid, harus benar-benar latihan....

Selengkapnya
Wali Santri: “Kaget, Belum Setahun Mondok, Anak Saya Sudah Diwisuda”
Des31

Wali Santri: “Kaget, Belum Setahun Mondok, Anak Saya Sudah Diwisuda”

Prosesi wisuda murid Tarbiyah I’dadiyah yang telah berhasil menyelesaikan program akselarasi baca kitab kuning memberi kesan tersendiri bagi wali murid yang anaknya ketepatan diwisuda. Wali murid yang dibuhungi via telpon mengaku kaget menerima undangan dari Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri. Mereka dihubungi setelah putranya lulus dalam ujian tes wisuda pada hari Ahad (21/12). Meski waktu pemberitahuan sangat mepet dari pelaksanaan wisuda mereka bias hadir semua. “Bahkan yang dari luar pulau pun sudah hadir dari tadi malam. Ada yang dari Sumatra dan Bali,” jelas Muhairil Yusuf, Tata Usaha Madrasah Tarbiyah I’dadiyah. Para wali murid banyak yang terkejut saat mendengar kabar ini. Komaruddin, salah satu wali murid, mengaku kaget saat menerima telpon pemberitahuan dari Pengurus. “Semula saya kaget, wong saya dihubungi baru Ahad kemarin. Saya cari tiket adanya pada hari Rabu sehingga tidak nutut. Saya musyawarah dengan istri saya. Saya putuskan berangkat sendiri saja, sehingga harus ngompreng pake bus jurusan Jogya lalu ke Surabaya dan baru sampai tadi malam,” jelasnya. “Ya bangalah, bahkan hampir ngak percaya, wong anak saya belum satu tahun di sini kok sudah diwisuda,” akunya. Lebih lanjut ayah dua anak ini mengatakan semula dirinya mengetahui Pondok Pesantren Sidogiri dari Kiai Sohib salah satu alumni Sidogiri pemangku pesantren di kampungnya. “Saya searching di internet bersama anak saya dan anak minta mau mondok ke Sidogiri. Bismillah saya antar di bulan Ramadan kemaren dan dia sudah tidak mau pulang ke lampung,” paparnya. Di acara wisuda ini wali murid diberi kesempatan untuk memberi sambutan. Dalam hal ini diwakili oleh KH. Mustofa Halim, wali dari Mudrikul Umam asal Burneh Bangkalan. “Kami berdiri di sini sesungguhnya tidak pantas berada di hadapan para guru dan kiai kami. Namun apa mau dikata kami adalah alumni Sidogiri. Maka dari itu kami sangat berterima kasih kepada Sidogiri yang sampai saat ini telah berhasil mendidik anak kami sampai ke jenjang wisuda,” ungkap alumni Pondok Pesantren Sidogiri tahun 1973 an ini....

Selengkapnya
Badan Pers Pesantren (BPP) Aktor Utama di Balik Majunya Media Pondok Pesantren Sidogiri
Des10

Badan Pers Pesantren (BPP) Aktor Utama di Balik Majunya Media Pondok Pesantren Sidogiri

 Kalau negara kita mempunya Dewan Pers yang bertugas untuk mengawasi dan mengontrol perjalanan media-media di tanah air, makaPondok Pesantren Sidogiri (PPS) memiliki Badan Pers Pesantren (BPP) yang juga berfungsi sebagai badan yang mengawasi, mengontrol, dan membimbing perjalan media-media di PPS. Sebab hingga saat ini, jumlah media di PPS sudah berjumlah 18 media. Jumlah yang sangat besar untuk ukuruan media pesantren. Dari 18 media ini, beberapa di antaranya didistribusikan secara umum kepada masyarakat. Seperti Buletin SIDOGIRI, Majalah IJTIHAD, Buletin IstinbaT, Majalah Laziswa, dan Buletin Tauiyah. Sedangkan sisanya, berupa media dengan format mading dan buletin yang dipublikasikan dan didistribusikan secara terbatas di lingkungan internal PPS. Banyaknya media yang dimiliki oleh PPS ini, mendorong pengurus untuk membentuk lembaga khusus yang mewadahi media-media tersebut. Maka, didirikanlah Badan Pers Pesantren (BPP) pada 1428-1430 H. Dengan berdirinya BPP ini, maka media-media di PPS tidak lagi bebas terbit sesuai dengan kemauan redaksinya. Tapi media yang mau mereka terbitkan masih harus melalui BPP untuk dikoreksi. Dalam pengoreksian ini, BPP mengacu pada tiga standar yang wajib dimiliki oleh media PPS. Pertama: Tidak bertentangan dengan paham Ahlussunnah wal Jamaah, baik secara akidah, syariah, maupun akhlak. Kedua: Tidak bertentangan dengan tradisi luhur pesantren yang diteladankan oleh para Masyayikh Sidogiri. Ketiga: Tidak rentan menimbulkan keresahan di masyarakat. Dengan tiga standar ini, media-media di PPS diharapkan benar-benar menjadi corong dakwah yang efektif di dalam menyebarkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah kepada masyarakat. Selain pula dapat menjadi media yang menjadi penyambung PPS dengan alumni dan masyarakat umum. Secara umum ada dua tugas utama BPP sebagai payung media-media PPS: Pertama: Mengawasi, mengawal, dan mengarahkan penerbitan media PPS. Pengawasan di sini mencakup pengawasan konten (isi), penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta tampilan desain. Satu hal lain yang juga diawasi adalah kedisiplinan terbit. Ini dimaksudkan supaya para awak media betul-betul aktif dan serius dalam mengelola media. Media yang tidak disiplin terbit dan pengelolaannya asal-asalan akan mendapat teguran dari BPP, dan bahkan bisa distop terbit. Secara rutin BPP mengadakan koordinasi dengan semua pimpinan redaksi media sebulan sekali. Mereka diundang untuk diajak sharing, rembuk, dan melaporkan keadaan medianya masing-masing. Sehingga apabila ada keluhan atau masalah, BPP dapat langsung memberikan masukan dan solusi. BPP juga memanfaatkan koordinasi bulanan ini untuk mensosialisasikan program-program yang dimilikinya. Selain itu, BPP juga melaporkan raport dari masing-masing media.  Kedua: Membina dan mengembangkan media-media di PPS menuju ke arah yang lebih baik. Pembinaan dijalankan dalam bentuk kegiatan pelatihan, evaluasi, dan Orientasi Pers Pesantren . Orientasi Pers Pesantren dilakukan oleh BPP ini biasanya dilaksanakan setiap semester sekali dengan dengan mendatangkan tokoh-tokoh pers Nasional. Program ini wajib diikuti oleh semua redaksi. Sebagai upaya membuka wawasan lebih luas terkait ilmu jurnalistik, juga sebagai perbandingan bagi pengelola media pesantren dengan media arus utama. Untuk semester I ini BPP...

Selengkapnya