Ngaji Maring KH. Abdullah Syaukat Siradi: Menjaga Niat dalam Menuntut Ilmu
Mei30

Ngaji Maring KH. Abdullah Syaukat Siradi: Menjaga Niat dalam Menuntut Ilmu

KALAU menurut Almarhum Kiai Hasani, sekarang susah cari ilmu. Karena kebanyakan gurunya tidak karena Allah dan yang ngaji juga tidak karena Allah. Jadi bertemunya murid dan guru yang ikhlas, ini yang bisa menciptakan ilmu manfaat. Almarhum KH. Abdul Adhim, kalau ngaji kitab, lampunya dibawa sendiri dari dalem-nya. Kata Kiai Hasani, “Saking wedine gak ikhlas, Kang Adhim ghowo lampu teko umahe, gowo dewe.” Setelah ngaji, ketika lampunya mau dibawakan, beliau tidak mau. Mau tidak manfaat bagaimana ilmunya? Kita ingin sekali punya santri yang betul-betul manfaat. Kita tidak henti-henti mendoakan santri. Sehabis Subuh mintakan santri semoga ilmunya manfaat. Ini tak ada putusnya, saking kepingine. Tapi ya tergantung santrinya juga. Kalau santri memang betul-betul, insyaAllah berhasil. Dawuh Kiai Hasani, dari pada berdoa, lebih baik mengubah tingkah. Kita berdoa minta selamat, tapi berjalan di tengah jalan, ya, mungkin susah untuk selamat. Kamu tidak usah berdoa. Kamu jalan minggir saja, hati-hati. Karena tingkah itu adalah doa. Orang tua juga penting. Sementara orang tua sekarang cuma sibuk nyambut gawe tok, sibuk kerja. Anaknya pulang malam tidak diurus. Sekarang malah lebih mahal ayam daripada anak. Ayam tidak pulang sore saja dicari ke tetangga-tetangga. Anaknya tidak pulang semalaman tidak dihiraukan. Kalau nakal ditaruh di pondok. Masya Allah, ya, ini bingung. “Sik muruk sik dungakno”. Sedangkan anaknya tidak ada kemauan sama sekali. Makanya banyak yang gagal. Jadi tergantung anaknya, niatnya apa di situ. Insya Allah, kalau kiainya Lillâhi Taâlâ, santrinya juga karena Allah, maka ilmunya akan manfaat. Wali murid itu kadang salah faham. Anaknya pulang dari pondok malah diberi kebebasan. Setahun ditahan, mumpung pulang, diberi kebebasan. Dari awal tahun diberi pengertian baik-baik, akhir tahun, kok, malah dihapus. Dawuh Kiai Hasani, apa-apa kalau punya niat tapi belum berhasil, tandanya niatnya masih setengah-setengah. Kalau punya niat 100%, pasti berhasil. Beliau pernah memberi ujian pada saya. Kata beliau, “Sekarang banyak amar makruf nahi mungkar, kok batilnya lebih banyak? Padahal dawuhnya Allah tidak begitu. Kalau ada haq, pasti bathil sirna (Idzâ jâal-haqqu wa zahaqal-bâthil). Ini kok malah banyak haq, tapi bathilnya lebih banyak? Yang salah itu al-Quran apa siapa?” Saya jawab, ya, orangnya. Ya, betul. Sebab Allah sudah berfirman di al-Quran. Kok masih tidak cocok? Berarti haq-nya ini tidak 100%. Masih bercampur hawa nafsu. Makanya para guru dan pengajar harus menjaga haq agar tidak bercampur hawa nafsu, dengan demikian amblas bathilnya. Ya, pakai latihan dulu. Guru juga begitu, latihan ikhlas. Orang yang mau berlatih pasti berhasil. Kamu lihat angkat besi di TV. Tidak langsung 100 kg. Semua sama, ototnya sama. Kenapa dia bisa mengangkat 100 kg? Semua itu karena latihan. Santri juga begitu, harus latihan. Dawuh Kiai Hasani, mari kita biasakan yang baik dan meninggalkan yang buruk. Sebagai murid, harus benar-benar latihan....

Selengkapnya
Wali Santri: “Kaget, Belum Setahun Mondok, Anak Saya Sudah Diwisuda”
Des31

Wali Santri: “Kaget, Belum Setahun Mondok, Anak Saya Sudah Diwisuda”

Prosesi wisuda murid Tarbiyah I’dadiyah yang telah berhasil menyelesaikan program akselarasi baca kitab kuning memberi kesan tersendiri bagi wali murid yang anaknya ketepatan diwisuda. Wali murid yang dibuhungi via telpon mengaku kaget menerima undangan dari Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri. Mereka dihubungi setelah putranya lulus dalam ujian tes wisuda pada hari Ahad (21/12). Meski waktu pemberitahuan sangat mepet dari pelaksanaan wisuda mereka bias hadir semua. “Bahkan yang dari luar pulau pun sudah hadir dari tadi malam. Ada yang dari Sumatra dan Bali,” jelas Muhairil Yusuf, Tata Usaha Madrasah Tarbiyah I’dadiyah. Para wali murid banyak yang terkejut saat mendengar kabar ini. Komaruddin, salah satu wali murid, mengaku kaget saat menerima telpon pemberitahuan dari Pengurus. “Semula saya kaget, wong saya dihubungi baru Ahad kemarin. Saya cari tiket adanya pada hari Rabu sehingga tidak nutut. Saya musyawarah dengan istri saya. Saya putuskan berangkat sendiri saja, sehingga harus ngompreng pake bus jurusan Jogya lalu ke Surabaya dan baru sampai tadi malam,” jelasnya. “Ya bangalah, bahkan hampir ngak percaya, wong anak saya belum satu tahun di sini kok sudah diwisuda,” akunya. Lebih lanjut ayah dua anak ini mengatakan semula dirinya mengetahui Pondok Pesantren Sidogiri dari Kiai Sohib salah satu alumni Sidogiri pemangku pesantren di kampungnya. “Saya searching di internet bersama anak saya dan anak minta mau mondok ke Sidogiri. Bismillah saya antar di bulan Ramadan kemaren dan dia sudah tidak mau pulang ke lampung,” paparnya. Di acara wisuda ini wali murid diberi kesempatan untuk memberi sambutan. Dalam hal ini diwakili oleh KH. Mustofa Halim, wali dari Mudrikul Umam asal Burneh Bangkalan. “Kami berdiri di sini sesungguhnya tidak pantas berada di hadapan para guru dan kiai kami. Namun apa mau dikata kami adalah alumni Sidogiri. Maka dari itu kami sangat berterima kasih kepada Sidogiri yang sampai saat ini telah berhasil mendidik anak kami sampai ke jenjang wisuda,” ungkap alumni Pondok Pesantren Sidogiri tahun 1973 an ini....

Selengkapnya
Badan Pers Pesantren (BPP) Aktor Utama di Balik Majunya Media Pondok Pesantren Sidogiri
Des10

Badan Pers Pesantren (BPP) Aktor Utama di Balik Majunya Media Pondok Pesantren Sidogiri

 Kalau negara kita mempunya Dewan Pers yang bertugas untuk mengawasi dan mengontrol perjalanan media-media di tanah air, makaPondok Pesantren Sidogiri (PPS) memiliki Badan Pers Pesantren (BPP) yang juga berfungsi sebagai badan yang mengawasi, mengontrol, dan membimbing perjalan media-media di PPS. Sebab hingga saat ini, jumlah media di PPS sudah berjumlah 18 media. Jumlah yang sangat besar untuk ukuruan media pesantren. Dari 18 media ini, beberapa di antaranya didistribusikan secara umum kepada masyarakat. Seperti Buletin SIDOGIRI, Majalah IJTIHAD, Buletin IstinbaT, Majalah Laziswa, dan Buletin Tauiyah. Sedangkan sisanya, berupa media dengan format mading dan buletin yang dipublikasikan dan didistribusikan secara terbatas di lingkungan internal PPS. Banyaknya media yang dimiliki oleh PPS ini, mendorong pengurus untuk membentuk lembaga khusus yang mewadahi media-media tersebut. Maka, didirikanlah Badan Pers Pesantren (BPP) pada 1428-1430 H. Dengan berdirinya BPP ini, maka media-media di PPS tidak lagi bebas terbit sesuai dengan kemauan redaksinya. Tapi media yang mau mereka terbitkan masih harus melalui BPP untuk dikoreksi. Dalam pengoreksian ini, BPP mengacu pada tiga standar yang wajib dimiliki oleh media PPS. Pertama: Tidak bertentangan dengan paham Ahlussunnah wal Jamaah, baik secara akidah, syariah, maupun akhlak. Kedua: Tidak bertentangan dengan tradisi luhur pesantren yang diteladankan oleh para Masyayikh Sidogiri. Ketiga: Tidak rentan menimbulkan keresahan di masyarakat. Dengan tiga standar ini, media-media di PPS diharapkan benar-benar menjadi corong dakwah yang efektif di dalam menyebarkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah kepada masyarakat. Selain pula dapat menjadi media yang menjadi penyambung PPS dengan alumni dan masyarakat umum. Secara umum ada dua tugas utama BPP sebagai payung media-media PPS: Pertama: Mengawasi, mengawal, dan mengarahkan penerbitan media PPS. Pengawasan di sini mencakup pengawasan konten (isi), penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta tampilan desain. Satu hal lain yang juga diawasi adalah kedisiplinan terbit. Ini dimaksudkan supaya para awak media betul-betul aktif dan serius dalam mengelola media. Media yang tidak disiplin terbit dan pengelolaannya asal-asalan akan mendapat teguran dari BPP, dan bahkan bisa distop terbit. Secara rutin BPP mengadakan koordinasi dengan semua pimpinan redaksi media sebulan sekali. Mereka diundang untuk diajak sharing, rembuk, dan melaporkan keadaan medianya masing-masing. Sehingga apabila ada keluhan atau masalah, BPP dapat langsung memberikan masukan dan solusi. BPP juga memanfaatkan koordinasi bulanan ini untuk mensosialisasikan program-program yang dimilikinya. Selain itu, BPP juga melaporkan raport dari masing-masing media.  Kedua: Membina dan mengembangkan media-media di PPS menuju ke arah yang lebih baik. Pembinaan dijalankan dalam bentuk kegiatan pelatihan, evaluasi, dan Orientasi Pers Pesantren . Orientasi Pers Pesantren dilakukan oleh BPP ini biasanya dilaksanakan setiap semester sekali dengan dengan mendatangkan tokoh-tokoh pers Nasional. Program ini wajib diikuti oleh semua redaksi. Sebagai upaya membuka wawasan lebih luas terkait ilmu jurnalistik, juga sebagai perbandingan bagi pengelola media pesantren dengan media arus utama. Untuk semester I ini BPP...

Selengkapnya
Mengikuti Sidogiri Fair 2014; Meriah dengan Berbagai Macam Kegiatan
Jun12

Mengikuti Sidogiri Fair 2014; Meriah dengan Berbagai Macam Kegiatan

Sidogiri Fair dari tahun ke tahun semakin menunjukkan perkembangannya. Terbukti stand yang disediakan oleh panitia untuk peserta Sidogiri Fair setiap tahunnya semakin bertambah. Sekitar tahun 1997 Sidogiri Fair masih bernama Expo, tahun selanjutnya diberinama Premo, kemudian Beskit. Baru pada tahun 2008 dinamai Sidogiri Fair sampai sekarang. Sidogiri Fair resmi dibuka Sabtu pagi kemarin (09/08). Grand Opening yang dilaksanakan di panggung area hiburan yang berukuran 3×6 meter ini dihadiri oleh Mas Aminullah Bq, Ketua Kopontren Sidogiri, Mas Baharuddin Thoyyib, Ketua  Umum PPS, Ustad Saifullah Muhyiddin, Ketua II PPS, dan Asisten I Bupati Pasuruan, HM. Sukarno Krisna. Pria berkumis ini diminta yang meresmikan Sidogiri Fair dengan pembacaan al-Fatihah diiringi pemukulan gong. Selalu ada hal baru di Sidogiri Fair, buktinya di Sidogiri Fair 2014 ini bukan hanya ajang pemasaran barang dari beberapa perusahaan yang sudah menempati stand masing-masing, tapi juga ada beberapa kegiatan yang sebelumnya belum pernah ada di Sidogiri Fair, seperti Seminar dan Hijab Class, Seminar Pendidikan, Lomba Fashion Show. Bukan hanya itu, Sidogiri Fair 2014 lebih megah dan lengkap. Tak luput dari liputan kami stand kantin yang di isi oleh Kopontren Unit-02 ini juga terkesan lebih mewah dari tahun sebelumya. Terlihat kursi yang disediakan untuk pengunjung dibungkus dengan kain putih memberikan kesan mewah. Para petugas yang bertugas di stand yang ada di pojok timur sebelah utara ini terlihat sibuk melayani pengunjung yang ingin menyicipi masakan khas santri. Bukan hanya stand kantin yang menggoda untuk dikunjungi, stand kitab dan buku juga tak kalah saing, stand yang berukuran 6×8 meter ini mengahdirkan bermacam-macam buku dan kitab dari berbagai penerbit ternama. Bagi para kutu buku stand ini sangat menarik sekali untuk dikunjungi, karena harga buku dan kitab yang dipajang di stand yang bersebelahan dengan stand MPM Motor ini sudah didiskon dari harga aslinya. Matahari semakin meninggi, teriknya pun semakin menyengat. Udara di dalam tenda yang berukuran 60×20 meter ini semakin panas, AC yang dipasang di beberapa titik di dalam tersebut tak banyak memberikan pengaruh untuk mendinginkan ruangan yang dipenuhi pengunjung. Para sales promotion tampak menggibas-ngibaskan apa saja yang bisa menghasilkan angin. “Meskipun di beberapa sudut sudah dipasangi AC, ruangan ini tetap panas ya…,” tanya seorang teman saya. Jika kita berbalik arah dari stand MPM Motor, kita akan melihat stand yang kelihatan paling megah daripada stand-stand yang lain. Stand itu disewa oleh Dinas Koperasi dan UKM Propinsi Jawa Timur, stand yang berada pas di sebelah timur area hiburan ini memamerkan accessories, seperti anting-anting, gelang, tas, kalung , dan berbagai busana untuk para wanita. Harganya pun terjangkau. Stand yang didesain unik dengan warna hijau terang ini menjadi peserta Sidogiri Fair mulai tahun kemarin. “Alhamdulillah di Sidogiri Fair tahun kemarin omset yang kami dapatkan cukup besar, karena...

Selengkapnya
Pembukaan Sidogiri Expo 1435: Lukisan dan Kaligrafi Masih Menjadi Komoditi Utama
Jun12

Pembukaan Sidogiri Expo 1435: Lukisan dan Kaligrafi Masih Menjadi Komoditi Utama

Sidogiri Expo resmi dibuka hari Senin (11/08). Pembukaan kali ini beda dari sebelumnya yang terdapat peresmian terlebih dahulu sebelum diresmikan, hal ini dikarenakan terkendalanya waktu. Kendala lain yang membuat Sidogiri Expo telat buka dari rencana awal yang asalnya mau dibuka pada hari Ahad (10/08) adalah adanya kegiatan belajar mengajar setelah Imda yang mana ruang itu akan digunakan. Pada tahun ini Sidogiri Expo tidak beda jauh dari sebelumnya. “Namun terdapat beberapa yang tidak bisa kami tampilkan karena banyaknya Pengurus Sidogiri Expo tahun kemarin yang boyong,” terang Syuhada’, Ketua Sidogiri Expo. Anggaran yang dihabiskan oleh Sidogiri Expo adalah 6 juta yang sebagian lagi diambil dari kas Ikatan Santri Sidogiri (ISS). “Anggaran sementara diambilkan dari kas ISS, dan belanja seluruh menghabiskan 6 juta,” ulas guru Ibtidaiyah tersebut. Barang-barang yang diunggulkan oleh Sidogiri Expo kali ini adalah lukisan, kaligrafi, miniatur yang dibuat oleh tangan-tangan kreatif santri yang menjadi tampilan utama Sidogiri Expo kali ini. Tapi kaligrafi masih menjadi komoditi utama yang dipamerkan di Sidogiri Fair kali ini.      Kontributor Mading Maktabati Editor: Zainuudin...

Selengkapnya
Sistem Virus vs Anti Virus
Feb17

Sistem Virus vs Anti Virus

Ada saja murid indisipliner atau bahkan cenderung nakal. Penanganannya perlu inten dan sedini mungkin. Kedisiplinan amat diperlukan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif. Para penanggung jawab pendidikan wajib membangun kedisiplinan di lembaga yang ia kelola. Di MMU, kedisiplinan termasuk hal yang sangat diperhatikan, mengingat terlaksananya program secara optimal serta tercapainya target KBM tidak bisa lepas dari kedisiplinan pihak-pihak terkait. Di tambah lagi, dari sekian banyak murid atau siswa, dapat dipastikan ada saja yang tidak disiplin atau bahkan cenderung nakal.Sebagaimana upaya menciptakan kedisiplinan yang tercantum dalam ilmu pendidikan, upaya yang dilakukan di MMU juga dapat dibagi menjadi tiga: preventif; represif, dan; kuratif, walaupun istilah ini tidak tersirat secara jelas dalam tata aturan di MMU. Upaya preventif adalah usaha memberikan pemahaman dan kesadaran terhadap murid untuk melaksanakan tata tertib madrasah. Memberi pemahaman bahwa tata tertib itu baik untuk perkembangan dan keberhasilan pendidikannya di madrasah. Langkah ini dilaksanakan utamanya oleh wali kelas dan pimpinan madrasah. Upaya represif berkaitan dengan murid yang sudah melanggar tata tertib, seperti absen masuk kelas atau musyawarah, datang terlambat, tidak memakai lencana, berambut atau berkuku panjang, dan lainnya. Murid-murid ini ditolong agar tidak melanggar lebih jauh lagi, dengan jalan diberi nasihat, peringatan, atau sanksi disiplin. Langkah ini dilaksanakan utamanya oleh wali kelas, wali fan, dan tim kelas visit. Jika ketidakdisiplinan murid dianggap parah, seperti absen masuk sekolah lebih dari tiga hari, maka langkah represif ditempuh secara bertingkat. Kali pertama oleh wali kelas. Ketika upaya dari wali kelas tidak membuahkan hasil, dilanjutkan oleh pimpinan madrasah, lalu Batartama, dan terakhir Ketua I PPS. Upaya kuratif adalah pembinaan dan pendampingan murid yang melanggar tata tertib dan sudah diberi sanksi disiplin. Upaya tersebut merupakan langkah pemulihan, memperbaiki, dan menyembuhkan perilaku yang tidak baik. Langkah ini dimotori oleh wali kelas. Dari sekian upaya ini, upaya preventif lebih mendominasi system membangun kedisiplinan di MMU. Sebab bagaimanapun, upaya penjegahan lebih baik daripada mengobati. Di kepengurusan pendidikan madrasiyah ini bahkan telah berjalan komunikasi rutin yang melibatkan beberapa pihak dalam menangani persoalan-persoalan madrasah termasuk kedisiplinan murid. Di antaranya adalah rapat komunikasi antara wali kelas dengan pimpinan MMU yang dilakukan tiap bulan sekali dan komunikasi antara pimpinan MMU, Labsoma, Batartama, dan Ketua I yang dilakukan tiap pekan sekali. Ada pula rapat lintas sektoral yang juga melibatkan pengurus daerah dan perangkat Tibkam (ketertiban dan keamanan). Komunikasi dengan wali santri juga menjadi bagian dari upaya ini, meski saat ini masih ditempuh dengan selebaran yang berisi penjelasan dari PPS dan MMU serta buku rapor. Dalam rapat komunikasi ini sudah termasuk upaya preventif guna mencegah ketidakdisiplinan murid sedini mungkin. Setiap kali ditemukan indikasi yang mengarah pada ketidakdisiplinan, maka akan dicarikan solusi penanganannya. Mirip seperti sistem virus-anti virus. Anti virus terus melakukan scanning dan updating untuk menanggulangi tersebarnya virus. Di samping upaya...

Selengkapnya