Membangun bukan Memendam
Apr24

Membangun bukan Memendam

Judul: Sidogiri Menolak Pemikiran KH. Said Aqil Siroj Penulis: Tim Penulis Pondok Pesantren Sidogiri Halaman: 204 Penerbit: Sidogiri Penerbit Peresensi: Muhammad ibnu Romli Banyak masyarakat salah paham saat buku ini diterbitkan. Tepatnya, dua tahun silam, saat Sidogiri Penerbit menerbitkan buku bantahan kepada Ketua PBNU, KH. Said Aqil Siroj yang berjudul Sidogiri Menolak Pemikiran KH. Said Aqil Siroj. Bahkan, sebagian mereka, ada yang menyatakan bahwa Sidogiri sudah mufâraqah dari NU. Belum sampai setengah tahun, buku ini sudah dinobatkan sebagai salah-satu buku Sidogiri Penerbit yang menyandang best seller. Di dalamnya berisi sekitar enam koreksi atas pendapat KH. Said Aqil Siroj yang dianggap nyeleweng. Pertama, membantah pendapat beliau yang menyatakan hadirnya Islam sarat dengan muatan politis Nabi Muhammad SAW yang ingin menguasai Byzantium. Akhirnya, di akhir bab Motif Dakwah Nabi Tim Penulis Pondok Pesantren Sidogiri menutupnya dengan pernyataan sebagai berikut. “Menyimpulkan bahwa dakwah Rasulullah SAW bernuansa politik kekuasaan sebetulnya adalah pelecehan terhadap Rasulullah SAW, dengan menafsirkan sejarah beliu secara terpisah. Penafsiran materialistik seperti itu sebetulnya adalah ciri khas orientalis dan kaum kafir Quraisy. Sebab membaca sejarah perjalanan Rasulullah SAW tidak boleh dipisahkan dari al-Quran. Demikian puula sebaliknya, menafsirkan al-Quran tidak boleh dipisahkan dari kehidupan Nabi SAW yang membawanya. Pribadi beliau adalah pengejawantahan terhadap kandungan al-Quran yang hidup, sebagai mana kehidupan beliau adalah penjelasan atas kandungan al-Quran.” (hal. 33-34) Kedua, KH. Said Aqil Siroj memiliki pandangan lain kepada kelompok Jabariyah: 1) Percaya kepada qada’ dan qadar merupakan paham Jabariyah. 2) Sayyidina Mu’awiyah adalah sosok yang mengembangkan Jabariyah untuk melanggengkan kekuasaannya. 3) Hanyalah Jabariyah yang membuat orang Islam tenang alias tidak melakukan perlawanan kepada Sayyidina Mu’awiyah. Keempat bantahan—atas pandangan beliau di atas—besertakan dalilnya bisa langsung Anda lihat dalam buku ini. Ketiga, mengenai pernyataan beliau untuk menyukuri lahirnya kelompok Syiah. Hal ini ditolak dengan ‘ibârât yang termuat dalam berapa kitab karya KH. Hasyim Asy’ari. Keempat, pluralisme agama yang beliau dukung. Kelima, lanjutan pernyataan pluralisme agama yang mengingkari ukhuwah islamiyah. Terkhir, mengenai stereotype syariat Islam. Dan, semua itu dijawab dengan ilmiyah dengan buku ini. Intinya, semua koreksi di atas sekedar kritik yang membangun Nahdhatul Ulama. Bukan malah merobohkan. Kata Pengantar yang di tulis langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, KH. A. Nawawi Abd. Djalil membuktikan hal ini. “Yang terpenting bahwa adanya bukunya dilandasi niat yang ikhlas dan tulus untuk tawashau bil-haq. Bukan untuk menjatuhkan, apalagi untuk menimbulkan kebencian dan permusuhan. Kita sudah terbiasa berbeda pemikiran, tapi kita harus saling menghormati satu sama lain sebagai mana teladan yang dicontohkan oleh para ulama salaf terdahulu.” (hal.14)....

Selengkapnya
Cadar: Kegaduhan yang Tidak Pas
Apr21

Cadar: Kegaduhan yang Tidak Pas

Sidogiri Media Edisi 137 … Proporsionalitas penyajian informasi ke publik sangat timpang. Informasi-informasi yang menguntungkan dan pro Islam mereka buang, sedang berita-berita negatif yang merusak image Islam mereka pampang. Hingga terbentuk paradigma Islam yang membuat orang gamang. Di sinilah tampak jelas skenario dan campur tangan dari para pembenci Islam sebagai dalang. Umat Islam saat ini memang tampak malang. Reputasi dan image Islam terus dijatuhkan, digoncang, dan diserang. Saatnya media-media Islam bersatu menunjukkan perlawanan opini dengan lantang. Yakinlah Islam akan tetap jaya dan menang. Islam ya’lû walâ yu’lâ ‘alaih adalah garansi Rasul yang cukup...

Selengkapnya
Petaka Pendidikan Kita
Mar13

Petaka Pendidikan Kita

Petaka Pendidikan Kita … Semua pihak harus sepakat bahwa aksi kekerasan tak boleh terjadi lagi dalam dunia pendidikan di Tanah Air. Aksi kekerasan, apa pun bentuknya, tak bisa dibenarkan. Apalagi, kekerasan itu dilakukan orang tua siswa terhadap guru dan terjadi di lingkungan sekolah. Karenanya, fenomena ini harus segera diakhiri. Boleh jadi, ini adalah tantangan yang harus dipecahkan oleh dunia pendidikan di Tanah Air. Harus ada solusi agar kekerasan tak terjadi lagi di dunia pendidikan. Jika kondisi yang terjadi saat ini terus berlangsung, para guru akan terus berada dalam bayang-bayang ketakutan saat mengajar para siswanya. Kini, Sidogiri Media hadir dengan mengangkat tema “#Save Guru”. Sidogiri Media hadir memberikan jawaban seputar kasus-kasus penganiayaan terhadap para guru oleh murid-muridnya sendiri yang tengah marak akhir-akhir ini.  Bagaimanapun kita harus segera menemukan jawaban dari masalah genting ini secepat mungkin, karena ini sudah sangat darurat!.  Sidogiri Media: edisi 136 Wawancara: Prof. Dr. Muhajir Efendy, M.A.P. Reuni: Ust. Abd. Qadir Mahrus Silaturahim: PP. Ar-Riyadh, Wrati, Kejayan, Pasuruan...

Selengkapnya
Generasi Gagal Moral
Feb24

Generasi Gagal Moral

Tak ada bencana yang lebih mengerikan yang menimpa suatu bangsa melebihi bencana gagalnya moral. Karena jika bencana ini menimpa suatu negeri, maka rutinitas para penghuni negeri itu tidak saja berbuat kerusakan, akan tetapi merusak setiap hal yang sudah baik sekaligus mencegah usaha-usaha perbaikan. Maka apa jadinya jika kita memiliki generasi yang gagal moral? Kalaupun mungkin mereka menjelma sebagai ilmuwan sekalipun, jika secara moral mereka gagal, maka ilmunya akan diarahkan pada hal-hal negatif yang jelas merusak. Itulah sebabnya ketika al-Imam asy-Syafii ditanya, “Bagaimana keinginan Anda terhadap adab”? Beliau menjawab, “Ketika aku mendengar satu huruf tentang adab, maka seluruh anggota tubuhku seakan ingin memiliki pendengaran, agar mereka bisa ikut merasakan kenikmatannya.” Beliau ditanya lagi, “Seperti apa semangat Anda dalam mencari adab itu?” Beliau menjawab, “Seperti orang perempuan yang mencari anak sematawayangnya yang hilang.” Semoga generasi kita mendapat pencerahan dalam persoalan yang sangat serius ini. #Generasi #Gagal #Moral #Santri #PondokPesantrenSidogiri #SidogiriMedia Sidogiri Media edisi 135...

Selengkapnya
Nasionalisme Nasi Bungkus
Feb05

Nasionalisme Nasi Bungkus

Diskursus seputar nasionalisme pada saat ini kembali menemukan momentumnya untuk mendapatkan perhatian yang lebih serius. Perkembangan mutakhir dan feneomena negeri yang telah sama-sama kita saksikan memang menunjukkan tanda-tanda serius, di mana telah ada banyak orang yang gagal paham tentang nasionalisme ini, atau menyelewengkan fungsinya pada yang tidak semestinya. Penulis melihat, persoalan nasionalisme ini perlu dibicarakan ulang setidaknya karena hal-hal berikut. Pertama, banyak kelompok yang hanya menjadikan isu nasionalisme sebatas sebagai komoditas politik belaka. Pada saat berkampanye, mereka mengaku sebagai kelompok yang paling nasionalis, dengan menghamburkan janji-janji yang senafas dengan semangat nasionalisme. Hingga pada saat mereka sudah menduduki puncak kekuasaan, mereka malah rajin menjual aset-aset negara, rajin membebani negara dengan utang-utang luar negeri, serta rajin membanjiri negeri dengan para pekerja impor, sedang pada waktu yang sama anak bangsa banyak yang tidak memiliki lapangan pekerjaan. Kedua, sebagian kelompok menjadikan isu nasionalisme sebagai senjata untuk menghantam lawan-lawan mereka – sekaligus menjilat pada penguasa. Mereka mempersekusi ulama karena dipandang tidak nasionalis, menyuruhnya untuk mencium bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebelum memberikan pengajian, memaksa untuk menandatangani pernyataan tertentu, menuduh kelompok lain sebagai radikal dan berpotensi melakukan makar, hanya karena mereka rajin mengkritik kebijakan-kebijakan penguasa yang tidak bijak. Memang secara de facto harus diakui bahwa yang paling banyak mengritik kebijakan-kebijakan penguasa yang dinilai merugikan rakyat itu adalah para ulama. Ketika para ulama bangkit, maka secara otomatis umat juga akan ikut bangkit. Tentu, ini akan sangat meresahkan bagi sebagian kalangan yang merasa khawatir dengan posisi dan kekuasaan mereka, dan karena itu isu makar dan nasionalisme akhirnya secara terpaksa dilemparkan untuk menyerang barisan orang-orang kritis ini. Namun, menuduh umat Islam, atau sebagian dari mereka, sebagai tidak nasionalis hanya karena kritis terhadap penguasa, atau karena memiliki haluan politik yang berbeda dengan penguasa, tentu tidak tepat sasaran dan salah penempatan, setidaknya karena beberapa faktor.Topik Utama – ISLAM DAN NASIONALISME Kajian – ALAWIYUN Editorial – ATAS NAMA NKRI Wawancara – HABIB LUTHFI BIN ALI BIN YAHYA “Santri nasionalis sejak sebelum kemerdekaan” Bahtsul Masail – HUKUM TRANSAKSI INTERNET MARKETING Sakinah – MENYIKAPI HOAX PADA KELUARGA Rihlah – TOKOH-TOKOH DIKTATOR DUNIA#sidogirimedia @sidogirimedia Segera! Sidogiri Media edisi 134...

Selengkapnya
Sidogiri Media edisi 133
Des20

Sidogiri Media edisi 133

Sidogiri Media edisi 133 telah terbit. Topik Utama: Mengembalikan Pamor NU Wawancara: KH. Maimun Zubair Kajian: Fenomena Talak Silaturahmi: Ponpes An-Nur Az-Zubaidi, Konawe Sultra Reuni: KHM. Fakhri Suyuthi  

Selengkapnya