Mengembalikan Spirit Amar Ma’ruf Nahi Munkar (#Part2)
Des01

Mengembalikan Spirit Amar Ma’ruf Nahi Munkar (#Part2)

“Setan yang bisu.” Kalimat ini pas disematkan kepada orang yang mengaku Muslim tapi acuh tak acuh ketika melihat kemunkaran. Meskipun tidak terlibat, sikap diamnya itu menunjukkan bahwa ia meng-iyakan kemungkaran tersebut. Sikap apatis yang demikian sangat tidak di harapkan oleh ajaran agama kita. Muslim yang sejati harus tergugah ketika melihat kemungkaran merajalela, atau kebaikan yang semakin dijauhi. Amar ma’ruf nahi munkar, meskipun merupakan kewajiban kolektif (fardhu kifâyah), namun akan menimbulkan manfaat yang sangat besar bila tidak dilaksanakan. Sebagaimana dijelaskan pada edisi yang lalu (40), amar ma’ruf merupakan salah satu syiar dan tonggak agama yang sangat penting. Ajaran dan nilai-nilai agama akan terejawantahkan di tengah-tengah umat apabila amar ma’ruf ini di lakasanakan dengan baik. Jika diabaikan, ajaran Islam akan terbengkalai pula. Jika ajaran dan nilai-nilai agama tidak dihiraukan pemeluknya sendiri, tetunya menjadi tanda kehancurannya. Ini hanya sebagian akibat meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Pengajian kali ini akan melanjutkan pembahasan amar ma’ruf nahi munkar dari sisi ekses yang ditimbulkan akibat tidak melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, dan dari sisi teknis pelaksanaannya. Selain kitab an-nashâ’ihud-dîniyyah karya al-Habib Abdullah al-Haddad, penulis juga mengutip keterangan dari kitab I’ânatuth-Thâlibîn karya Sayyid al-Bakri bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi dalam bab al-Jihâd. Semoga bermanfaat. Ketahuilah jika di antara kita menjumpai seseorang terjebak dalam rumah yang terbakar, atau melihat seseorang hampir tenggelam, sedangkan kita mampu menolongnya, maka tentu hati yang punya nurani akan tergerak untuk membantu orang yang tertimpa bencana itu. Apalagi jika bencana itu tertimpa pada saudara kita sendiri. Demikian ini juga terjadi dalam kehidupan keberagamaan kita. Apabila dijumpai saudara kita yang seiman terjerumus dalam kemungkaran, dada seorang muslim sejati akan tergugah untuk menolongnya lepas dari jerat kemungkaran. Seperti ketika ia melihat seseorang yang hampir mati karena tenggelam atau karena terbakar. Bahkan lebih dahsyat, karena bencana berupa kebakaran atau lainnya hanya bersifat sementara, tidak abadi. Sedangkan terjerumus dalam kemungkaran merupakan bencana akhirat. Di samping itu, menyelamatkan saudara kita dari melakukan kemungkaran atau meninggalkan sebuah kewajiban, sebenarnya untuk menyelamatkan diri kita sendiri juga. Ingatlah azab yang menimpa umat-umat terdahulu, tidak lain karena ulama dan pendeta mereka meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mendapat laknat dari Allah I dan selurunya mendapatkan azab tanpa pandang bulu. Dalam salah satu riwayat di sebutkan bahwa pada Hari Kiamat nanti terdapat seseorang yang menggantungkan dirinya pada orang lain, padahal orang lain tersebut tiak mengenalnya. Terjadilah dialog antara keduanya. Orang kedua bertanya; “Apa yang kau inginkan dariku, padahal kita tidak saling mengenal?” Orang pertama menjawab; “Waktu di dunia dulu, kau melihatku melakukan perbuatan dosa, tapi kau biarkan dan tidak kau larang!” Ketahuilah, salah satu yang menyebabkan doa kita tidak didengarkan dan taubat kita tidak dihiraukan oleh Allah I, karena kita meninggalkan amar ma’ruf mahi munkar....

Selengkapnya
Mengembalikan Spirit Amar Ma‘rûf Nahi Munkar! (#Part1)
Nov25

Mengembalikan Spirit Amar Ma‘rûf Nahi Munkar! (#Part1)

Apa reaksi Anda ketika misalkan Anda atau orang-orang terdekat Anda dihina? Atau bahkan harta yang Anda miliki dirampas semena-mena? Tentu Anda akan membela diri dan bahkan membalas penghinaan itu. Lalu, apabila misalkan ajaran agama kita diinjak-injak, diremehkan, dan dilanggar oleh pemeluknya sendiri, bagaimana reaksi kita? Jawabannya tidak semua orang akan membela agamanya. Bahkan cenderung menutup mata dan acuh tak acuh. Ini adalah krisis agama yang memprihatinkan, dan ini telah banyak menimpa mayoritas umat Islam. Kesadaran untuk membela ajaran agama dengan amar ma’rûf nahi munkar semakin tipis dalam keberagamaan kita. Maka, jangan heran jika kita melihat terjadinya krisis multidimensi di tengah-tegah umat. Ajaran Islam, mulai yang terkait dengan aturan ibadah mahdhah sampai yang ghairu mahdhah telah tinggal namanya saja: tanpa ada implementasi nyata. Orang-orang sibuk dengan urusan dunia masing-masing, tanpa memikirkan agamanya. Oleh karena itu, doktrin Islam berupa amar ma’ruf nahi munkar perlu kita tegakkan kembali. Rubrik Pengajian kali ini akan sedikit mengkaji tentang amar ma’rûf nahi munkar dengan merujuk pada kitab an-Nashâ’ihud-Dîniyyah wal-Washâya al-خmâninyyah, karya al-Quthb al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad. Amar Ma‘ruf adalah Syiar Agama Ketahuilah amar ma’ruf nahi munkar menempati posisi urgen dalam agama. Ia adalah sebagai syiar dan tonggak agama. Dengan tegaknya amar ma’rûf, ajaran Islam dapat dilaksanakan dengan baik di tengah-tengah pemeluknya. Sebaliknya, jika diabaikan, ajaran Islam akan terbengkalai pula. Dan ujung-ujungnya, krisis multidimensi akan menimpa umat: hak-hak umat banyak tak terpenuhi, kebenaran akan kabur dan kebatilan akan tampak. Allah I di dalam al-Qur’an dan melalui lisan Nabi-Nya r telah menjelaskan pentingnya amar ma’rûf nahi munkar. Antara lain dalam QS Ali Imran [03]: 104, yang artinya,  Dan hendaklah ada di antarakamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma‘rûf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Yang dimaksud kebajikan ialah ‘keimanan dan ketaatan’. Sedangkan yang dimaksud ma‘rûf ialah ‘setiap apa yang yang diperintahkan Allah I untuk dilaksanakan, dan Allah I senang hamba-Nya melaksanakannya’, dan yang dimaksud munkar ialah ‘setiap apa yang tidak disukai Allah I untuk dikerjakan, dan Allah I senang jika hamba-Nya meninggalkannya’. Rasulullah r bersabda yang artinya: Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangannya (kekuasaanya), jika tidak mampu, maka dengan lisannya, jika tidak mampu (lagi), maka ingkar dengan hatinya. Dan demikian ini (ingkar dengan hati) adalah selemah-lemahnya iman. Dalam Hadis lain disebutkan, Demi Dzat yang jiwaku dalam genggaman-Nya, sungguh hendaknya kalian memerintahkan ma‘rûf, dan sungguh kalian meghentikan munkar. Dan (jika tidak), sungguh kalian disiksa dengan tangan orang yang lalim, atau sungguh Allah akan mengirimkan siksa kepada kalian dari sisi-Nya. Antara Agama dan Harga Diri Amar ma‘rûf nahi munkar hukumnya fardu kifayah (kewajiban kolektif). Kewajiban ini tidak dapat ditinggalkan dengan alasan yang mengada-ada. Misalkan dengan alasan: “Jika...

Selengkapnya
Renungan Bagi Pembenci Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
Nov13

Renungan Bagi Pembenci Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

Perayaan maulid yang terjadi di tengah-tengah masyarakat merupakan ekspresi rasa bahagia atas wujudnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebab hal itu anjuran dari Allah subhanahu wa ta’ala. dalam al-Quran Surat Yunus ayat 8 yang artinya: “Katakanlah wahai Muhammad dengan fadhal Allah (ilmu) dan rahmatnya (wujudnya Nabi Muhammad) bergembiralah kalian.” (QS. Yunus, ayat 8) Ibnu Abbas dalam kitab tafsirnya berpendapat bahwa kata ‘karunia (bi-Fadlillâh) memiliki arti ilmu, sedangkan kata ‘rahmat (bi-Rahmatillah) berupa wujudnya Nabi. Atas dua hal di atas kita dianjurkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala agar berbahagia. Rasa bahagia tidak akan tampak kecuali diekspresikan. Cara kita mengepresikan kebahagian atas wujudnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan dua hal; pertama, kita merayakan kelahirannya. Sedangkan kedua, kita mengadakan dzikra (peringatan Islam yang berkaitan dengan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam). Sebab Maulid Nabi merupakan salah satu dari hari-hari Allah (ayyâmillah) yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala agar diingatkan. Allah berfirman: وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ “Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” (QS. Ibrahim {14}, ayat 5) Sementara kelompok yang membenci perayaan maulid yang telah jelas dalilnya, mereka telah tertutup mata hatinya. Sebab mereka hanya memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebatas anak yatim yang pernah diasuh oleh Abu Thalib (Yatîmu Abi Thalib). Dengan artian, mereka mungkin memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama seperti manusia biasanya dan tidak ada keistimewaan sama sekali. Adapun kita ahlusunnah wal-jamaah, memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai manusia namun tidak seperti manusia sebagaimana lumrahnya (basyaran lâ kal-basyar). Kita memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai cahaya yang kemunculannya dapat memukau kepada pikiran-pikiran. Untuk memupuk rasa cinta (mahabbah) kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dapat  dengan cara mendirikan majelis berupa Maulid Nabi. Ini adalah cara yang sangat tepat. Oleh karena itu, Imam Muhammad bin Ali al-Habsyi ketika mengarang Maulid Simtud Dhurar mengatakan: تشويقا للمحبين وترويحا للمتعلقين بهذا النور المبين (Saya mengarang maulid ini) agar membangkitkan rasa rindu bagi para pecinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menggugah rasa senang kepada orang yang (hatinya) berkaitan dengan cahaya yang terang ini. Dengan demikian, dapat dilihat alangkah celakanya orang yang tertutup mata hatinya dalam memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tidak mau atau membenci maulid, karena telah su’ul adab kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di sisi lain, kita hanya bersuka ria merayakan kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak berkabung atas kepergian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini karena memang tidak ada tuntunan dari salafunasshaleh kita. Yang ada hanya perayaan kelahirannya. Hal di atas yang membedakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan lainnya. Biasanya, selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang diperingati adalah hari wafatnya, atau yang dikenal dengan “haul”. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebaliknya, yakni hari kelahirannya yang dirayakan. Sebab pada umumnya, selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kebaikannya dikenal setelah wafatnya. Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kebaikan dan kemuliaannya sudah dipublikasikan oleh Allah subhanahu...

Selengkapnya
Kitab Khusus Menjelaskan Seputar Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
Nov05

Kitab Khusus Menjelaskan Seputar Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

Kitab-kitab khusus menjelaskan perayaan maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam: Imam al-Muhaddits al-Hafidz Abdurrahman bin Ali yang dikenal dengan Abu al-Faraj bin al-Jauzi (w. 597 H), beliau mengarang kitab yang diberi nama Al-‘Arus. Kitab tersebut dicetak di Mesir berkali-kali. Imam al-Muhaddits al-Musnid Abul Khattab Ali bin Muhammad yang dikenal dengan Ibnu Dihyah al-Kalbi (w. 633 H), mempunyai karangan yang diberi nama dengan At-Tanwir fi Maulidil Basyir an-Nadzir. Imam al-Mufti al-Muarrikh al-Muhaddits al-Hafidz Imaduddin bin Umar bin Katsir (w. 774 H), Imam al-Kabir wa al-Ilmi asy-Syahir Hafidzul-Islam al-Hafidz Abdurrahim bin al-Husain bin Adurrahman al-Mishri yang masyhur dengan al-Hafidz al-‘Iraqi (725-806 H), beliau mengarang kitab yang diberi nama dengan al-Maurid al-Hani fi al-Maulid as-Sani. Imam Syaikhul-Qurra’ al-Hafidz al-Muhaddits al-Musnid al-Jami’ Abul Khair Syamsuddin Muhammad bin Abdullah al-Jauzi asy-Syafi’i (w. 833 H), beliau mempunyai karangan khusus mengenahi maulid yang diberi nama dengan ‘Urfut-Ta’rif bi al-Maulid asy-Syarif. Imam al-Muhaddits al-Hafidz Muhammad bin Abi Bakar bin Abdillah al-Qaisi ad-Dimasyqi asy-Syafi’i yang dikenal dengan al-Hafidz bin Nashiruddin ad-Dimasyqi (777-842 H), beliau adalah guru besar di Darul Hadits Damaskus, beliau juga merupakan orang yang mengagungkan dan mencintai Ibnu Taimiyah. Disamping itu, beliau mempunyai karangan khusus mengenahi Ibnu Taimiyah yang diberi nama dengan Ar-Radd al-Wafir ‘ala Man Za’ama Anna Man Summiya Ibna Taimiyah Syaikhal Islam Kafir. Beliau mempunyai beberapa karangan khusus mengenai maaulid Nabi r, di antaranya: Jami’ul Atsar fi Mauli an-Nabi al-Mukhtar sebanyak tiga jilid. Al-Lafdzu ar-Ra’iq fi Mulidi Khairil Khala’iq, kitab ini merupakan kitab ringkasan. Mauridush-Shadi fi Maulidil-Hadi. Disebutkan oleh Ibnu Fahd, juga dalam kitab Kasyfudz-Dzhunun ‘an Usamil Kutub wa al-Funun halaman 319. Imam al-Mu’arrikh al-Kabir wa al-Hafidz asy-Syahir Muhammad bin Abdirrahman al-Qahiri yang dikenal dengan sebutan al-Hafidz as-Sakhawi (831-902 H),...

Selengkapnya
Hadis-hadis Tentang Perayaan Maulid
Okt29

Hadis-hadis Tentang Perayaan Maulid

روينا في صحيح مسلم عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما انه سمع رسول الله يقول: من صلى علي صلاة صلى الله عليه عشرا. Saya meriwayatkan di kitab Sahih Muslim dari Abdullah bin Umar bin Ash Radiyallahu Anhu, bahwa Umar bin Ash mendengar Rasulullah bersabda: “Seseorang yang membaca salawat kepada, maka Allah juga bersalawat (memberikan rahmat) padanya sebanyak sepuluh kali”.  روينا في كتاب الترمذي عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه ان رسول الله قال: اولى الناس بي يوم القيامة اكثرهم علي صلاة. قال الترمذي: حديث حسن. Saya meriwayatkan di dalam kitab at-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud Radiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda: “Paling utamanya manusia kelak bersamaku pada hari kiamat ialah yang paling banyak besalawat kepadaku”. Imam at-Tirmidzi mengatakan hadis ini Hasan. روينا في سنن ابي داود في اخر كتاب الحج في باب زيارة القبور بالاسناد الصحيح عن ابي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله: لا تجعلوا قبري عيدا, وصلوا علي, فان صلاتكم تبلغني حيث كنتم. Saya meriwayatkan di dalam Sunan Abi Daud pada ahirnya Kitabul Hajji dalam bab Ziaratul Qabri, dengan sanad sahih dari Abi Hurairah Radiyallahu Anhu, bahwa Nabi bersabda: “Jangan kalian jadikan kuburanku layaknya hari raya, dan (tapi) bersalawatlah kepadaku, karena salawat kalian semua sampai kepadaku meski dimanapun kalian berada”.  وروينا فيه ايضا باسناد صحيح عن ابي هريرة ايضا رسول الله قال: ما من احد يسلم عليَّ الا رد الله على روحي حتى ارد عليه السلا  Saya (juga) meriwayatkan hadis dalam Sunan Abi Daud dengan sanad sahih dari Abi Hurairah Radiyallahu Anhu, Nabi bersabda: “Tidak ada seorangpun yang ia mengucapkan salam kepadaku, kecuali akan disampaikan kepada ruhku sehingga saya ingin juga mengucapkan salam”.  حدثنا ابو معمر حدثنا عبد الوارث حدثنا ايوب حدثنا عبدالله بن سعيد بن جبير عن ابيه عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قدم النبي المدينة, فراى اليهودي تصوم يوم عاشوراء, فقال: ما هذا؟ قالوا: هذا يوم صالح, هذا يوم نجى الله بني اسرائيل من عدوهم فصامه موسى. قال: فانا احق بموسى منكم. فصامه وامر بصيامه. Menyampaikan kepadaku Abu Ma’mar, menyampaikan kepadaku Abdul Warits, menyampaikan kepadaku Ayyub, menyampaikan kepadaku Abdullah bin Sa’id bin Jubair dari ayahnya dari Ibnu Abbas Radiyallahu Anhu berkata: ”Ketika nabi sampai di Madinah, beliau melihat orang Yahudi puasa pada hari Asyura’, Kemudian Nabi bertanya: Ada perayaan apa ini? Mereka menjawab, ini hari bagus, ini hari dimana Allah menyelamtkan Bani Israil dari musuhnya maka Nabi Musa. Lalu Nabi berkata: “Sesungguhnya saya lebih berhak kepada Musa daripada kalian. Kemudian Nabi berpuasa dan menyuruh sahabat untuk berpuasa”. حدثنا عبد الله حدثني ابي ثنا محمد بن جعفر ثنا سعيد عن قتادة عن غيلان ابن جرير عن عبدالله بن معبد الزمان عن ابي قتادة الانصاري ان اعربيا سال...

Selengkapnya
Dalil-Dalil Maulid Nabi Dalam Bingkai Kitab Suci
Okt25

Dalil-Dalil Maulid Nabi Dalam Bingkai Kitab Suci

Setiap orang pasti akan senang ketika dia kedatangan keluarga baru ditengah-tangah mereka, yaitu kedatangan seorang anak yang baru lahir dari ibunya. Betapa senangnya hati kedua orang tua ketika melihat sibuah hati, mereka merawatnya dengan penuh kasih sayang, bahkan ketika dia menginjak usia dewasa, tak lupa kedua orang tua selalu memperingati hari kelahirannya. Orang tua mengundang tetangga dan semua kerabat untuk memperingati hari klahiran sibuah hatinya. Peringatan hari kelahiran atau yang biasa di sebut dengan ulang tahun bukanlah suatu yang baru bagi semua orang, hal ini sudah lumrah ditengah masyarakat kita, cara memperingatinyapun berbeda-beda, ada yang memperingati dengan tiup lilin, khatmi al-Qur’an, baca salawat bersama dan lain-lain. Hal diatas juga mentradisi di kalangan umat islam, bahkan pada zaman Nabi juga ada peringatah hari kelahiran tapi, tidak sama seperti zaman sekarang, contohnya: Nabi pernah melakukan puasa pada hari senin dan para sahabat bertanya tentang puasa Nabi, “wahai Nabi mengapa kau berpuasa pada hari senin? Nabi pun menjawabnya: aku puasa pada hari senin karna dihari itulah aku dilahirkan dan diutus. Dari cara Nabi memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa, sebetulnya banyak cara dalam memperigati hari kelahiran. maka dari itu orang indonesia sendiri berbeda beda caranya, ada yang merayakannya dengan baca salawat bersama, baca al-Qur’an, bersedekah dan dengan cara-cara yang lain. Sudah menjadi rutinan pada setiap tahunnya bertepatan pada tanggal 12 bulan Rabiul awal semua orang islam indonesia merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. biasanya diletakkan disebuah masjid, mushalla atau di lapangan dengan sistem acara yang meriah dan dihadiri oleh ribuan orang. Perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW bukan hanya pada tanggal 12 saja, tapi sejak tanggal 1 bulan Rabiul awal sampai sebulan suntuk, bahkan ketika ada sebagian orang tidak merayakan pada bulan Rabiul awal mereka merayakan pada bulan-bulan selanjutnya, bedahalnya yang terjadi pada kalangan masyarakat  madura, mereka juga melakukannya sebulan suntuk, tapi yang membuat beda dari yang lain, kebiasaan disana dilakukan secara bergantian dari satu rumah kerumah yang lain baik dari kalangan orang yang ekonominya diatas rata-rata atau yang menengah kebawah  dengan suguhan makanan seadanya. Melihat keragaman cara perayaan kelahiran Nabi diatas bersyukurlah kita sebagai umatnya, karna pada saatnya nanti ketika dunia sudah qiamat kita adalah satu-satunya umat yang bisa mendapatkan syafa’at dari Nabinya. Ironisnya tidak semua orang khususnya di indonesia setuju dengan adanya perayaan kelahiran Nabinya, ada sekelompok orang mengatakan bahwa perayaan kelahiran Nabi yang kita kenal dengan Maulid Nabi  adalah Bid’ah (melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan pada zaman Nabi), kalau memang perayaan maulid Nabi dianggap Bid’ah  maka pada zaman ini banyak sekali suatu yang bisa dianggap Bid’ah. Seperti kendaraan pada zaman sekarang, umumnya orang indonesia kemana-mana menaiki sepeda motor, pada zaman Nabi sendiri tidak ada yang namanya sepeda motor yang...

Selengkapnya
Chat WA dengan kami