Generasi Tik Tok dan Moralitas Anak Bangsa
Okt12

Generasi Tik Tok dan Moralitas Anak Bangsa

Tempo bulan, Pesantren kita sukses menyajikan pesta tahunannya dengan mengusung tema, Beragama, Berbangsa, dan Bernegara. Tentu hal ini masih amat segar dalam molekul ingatan kita, bahkan kemungkinan besar banyak di antara kita yang telah lekat memahami, atau mungkin amat getol menghafal arti dan filosofi dari tema tersebut; adalah mengkader generasi muda agar bisa mengemban tugas mulia, yakni mampu mengawinkan pokok-pokok penting agama dengan prinsip bernegara dengan baik. Sehingga dari sisipan tujuan tersebut, lahirlah generasi unggulan yang memiliki pribadi yang tangguh, kuat dan produktif, serta taktis mengorelasikan bidang Agama dan Negara dalam bermasyarakat. Namun ironisnya, teori hidup yang bagus ini hanya nampak elegan dari sudut pandang ‘desain-grafis’ ikhtibar saja. Akhirnya, tujuan utama menyisipkan teori hidup bagus ini menjadi kabur dan lebur. Sebab pasca perayaan dan usainya perhelatan, apalagi saat liburan, teori sebagus itu tidak langsung dibarengi dengan pengaplikasian yang diharapkan. Oleh karenanya, santri yang selayaknya menjadi mentari kecil yang dapat menyinari siraman etika pada masyarakat, malah ikut-ikutan tercebur dalam kubangan etika yang telah berkarat. Ironisnya, mereka justru bangga mengumbar etika buruknya dengan bebas tanpa sekat. Kendati ada sebagian mereka yang tetap menjunjung tinggi etika luhur yang diperoleh di pesantren. Serta merasa risih melihat sebagian kawan sejawatnya yang tanpa malu meng-expose luas perilaku buruk dan tak senooh. Hal itu sebagaimana yang terjadi saat liburan kemarin, dalam hal ini penulis kerucutkan contohnya pada satu aplikasi yang -menurut hemat penulis- sempat lumer di lidah untuk tetap diperbincangkan. Tersebab aplikasi ini bukan hanya tidak layak dikonsumsi oleh khalayak santri, melainkan juga merembet pada khalayak publik. Akibatnya, bukan hanya aplikasinya yang goblok, bahkan pengguna pun terjangkit virus goblok, dan malah marak kita dapati dari mereka yang nyaris gila. Bisa jadi, awalnya mereka hanya coba-coba. Tapi lambat-laun dengan berputarnya denting jam, mereka malah asyik tersenyum lepas merekam aksinya, hingga akhirnya semakin terjerumus ke dalam lembah keterpurukan. Dan kian waktu berpacu membikin video kocak. Tak sadar, bahwa dirinya masih dalam barisan orang-orang yang -boleh dikata- etikanya masih murni tak terkontaminasi. Mengingat etika di luar sana sudah amburadul. Mirisnya lagi, tak jarang dari mereka yang terang-terangan membagikan hasil videonya ke ruang publik, contoh gampangnya; di dinding sosial media, mulai dari akun facebook dan semacamnya. Lebih dari itu, ada sebagian dari video mereka yang melampaui batas seyogyanya, “goyang dua jari” yang dipraktekkan saat salat. Mereka berpura-pura salat lalu goyang dua jari tanpa harus malu. Sialnya, ketika diperingatkan, mereka malah tertawa cengengekan ketimbang harus memasang telinga untuk sekadar mendengarkan. Klimaksnya, bukan hanya aplikasi dan penggunanya yang dianggap bodoh, melainkan juga almamater yang mereka kenakan. Padahal telah gamblang bahwa yang salah bukan almamaternya, tapi kedunguan mereka yang tidak peka pada apa yang seharusnya mereka lakukan. Penulis: Khoiron_Abdullah salah satu Redaksi Majalah...

Selengkapnya
Arogansi dan Kepercayaan Diri
Okt08

Arogansi dan Kepercayaan Diri

Arogansi dan Kepercayaan Diri Oleh: Muhaimin El Lawi*) Sebuah arogansi dan kepercayaan diri sangat kita perlukan dalam mempertahankan sebuah jati diri. Seperti Sidogiri yang dengan kukuhnya terus bertahan dalam jati diri kesalafannya meskipun arus perubahan zaman terus bergerak tiada henti. Namun kita tidak boleh terbelenggu dalam arogansi dan kepercayaan diri yang kaku dan berlebihan. Keadaan dan iklim dunia yang terus bergonta-ganti menuntut kita untuk selalu melakukan perubahan, mengiringi pergerakan dunia yang terus melaju. Betapa banyak fakta membuktikan, bahwa sebuah arogansi dan kepercayaan diri yang kaku dan berlebihan bisa membawa kita dalam inovator dilemma. Dalam dunia korporasi, banyak perusahaan yang dulunya besar namun akhirnya gulung tikar hanya gara-gara tidak mau berubah, terjebak dalam arogansi dan kepercayaan diri berlebihan atas kebesarannya. Ponsel Nokia, pada eranya, merupakan perusahaan yang tak tertandingi. Bahkan sempat menyebut android yang muncul sebagai pesaing waktu itu sebagai semut kecil merah yang mudah digencet dan mati. Sehingga Nokia merasa tidak perlu lagi melakukan inovasi menghadapi android. Dalam situasi ini, Nokia mengalami kematian dan tergelatak kaku dalam kesunyian yang perih. Selanjutanya Nokia kolaps dihantam iPhone yang terus melakukan perubahan. Padahal sebenarnya produsen iPhone bukanlah perusahaan telekomunikasi, namun sebuah industri yang bergerak dalam komputer. Fenomena di atas patut kita jadikan kaca benggala dalam menghadapi arus zaman yang meniscayakan bergonta-gontinya keadaan. Kita hidup di ladang Sidogiri yang tanaman pokoknya adalah akidah dan keluhuran ajaran Islam. Dari luar, Sidogiri tampak sebagai pondok yang gendang ajarannya terdengar begitu membahana dan cukup menggentarkan siapa saja. Sebagai santri dan alumni yang namanya ternisbat pada Sidogiri, tentu akan merasakan kebangaan tersendiri. Dalam berbagai langkah menghadapi era global saat ini, Sidogiri telah memberikan banyak contoh dalam bergerak menghadapi perubahan zaman. Sidogiri telah mencontohkan sebuah arogansi dan kepercayaan diri yang begitu elegan. Ia teguh dan kukuh berdiri dalam prinsip kesalafannya, namun juga respon terhadap setiap perubahan. Hingga bisa terus berjalan seiring gelombang kehidupan namun tak lepas dari pijakan pokoknya, laksana ikan yang terus berenang mengikuti arus ombak lautan, namun tak pernah membuat ia asin oleh air lautan. Sebagai santri hakiki yang berprinsip lâ yamîlu yumnatan walâ yusratan, silahkan tinggikan arogansi dan besarkan kepercayaan diri dalam menjaga jati diri. Namun, jangan sampai terjebak dalam kejumudan yang membelenggu, sehingga tergilas oleh arus perubahan yang terus melaju kencang tiada ampun. Arogansi dan jati diri kita jadikan sebagai pengikat sejarah, agar setiap perubahan yang kita lakukan tidak pernah lepas dari garis pondasi awal yang kita bangun berdasarkan prinsip kesantrian. Sebab fleksibel sebenarnya adalah bergerak mengikuti keadaan angin, tapi tidak lepas dari sumbu yang membuat kita terombang-ambing. *)Penulis adalah alumni Sidogiri yang bergiat dalam dunia literasi...

Selengkapnya
Mengabdi Dengan Sepenuh Hati
Okt03

Mengabdi Dengan Sepenuh Hati

                                      Mengabdi Dengan Sepenuh Hati ….. ‘Pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi kaumnya’, begitulah Nabi menggambarkan amanah seorang pemimpin. Seorang pemimpin bukan hanya bertugas memantau dari kejauhan dan duduk berpangku tangan di meja kebesarannya. Tugas seorang pemimpin amatlah besar, berusaha menjaga kestabilan organisasi yang sedang ia emban merupakan secuil dari beberapa beban berat dipundaknya. Bayangkan jika seorang pemimpin beranggotakan dua orang personel maka kesejahteraan dua orang tersebut sudah pasti berada dalam genggamannya dalam me-manage organisasi. Bagaimana andaikan ia menjabat sebagai kepala negara dengan jumlah jutaan rakyat?, sungguh amatlah besar tanggungan pemimpin. Dulu, khalifah Abu Bakar As-Shiddiq masih berpikir dua kali untuk menggantikan posisi Nabi sebagai pemimpin umat islam kala itu. Padahal beliau merupakan sahabat yang paling di cintai oleh Nabi Muhammad Saw dan sahabat yang tidak diragukan lagi kredibelitasnya?. Lalu pantaskah generasi berikutnya berlomba-lomba untuk memperebutkan kursi jabatan pemimpin, sedangkan jauh sekali tingkatan kita dengan beliau?. Bahkan beberapa hari setelah beliau resmi jadi Khalifah, Khalifah Abu Bakar berteriak mengharap agar jabatan yang sedang ia pikul di cabut saja. Namun sahabat Umar bin Khaththab menepisnya. Mengkukuhkan supaya khalifah Abu Bakar tetap berada dalam posisinya. Lalu apa yang menjadi beban Khalifah Abu Bakar sehingga beliau enggan sama sekali menjadi seorang Khalifah?. Beliau sangat khawatir tidak sanggup menjalankan tugas sebagaimana Nabi memikulnya. Pesan-pesan Nabi mengenai tugas pemimpin amatlah berat rasanya bagi Sahabat Abu Bakar ini. Sebab pemimpin menurut Nabi adalah pemimpin di dunia dan akhirat. Beban seorang pemimpin bukan cuma di dunia saja melainkan akan tetap di pertanyakan nanti dihadapan Allah Swt kelak nanti di akhirat. Tetapi apakah kita harus phobia untuk jadi pemimpin?, dan membiarkan umat terus berjalan dalam kegelapan tanpa ada yang mengayomi?. Sepertinya terlalu berisiko meninggalkan umat tanpa pemimpin. Maka sudah seharusnya salah satu dari umat yang memiliki skil maju sebagai pemimpin. Memang sangat tidak mungkin kita mencontoh teladan Nabi Muhammad sebagai pemimpin ideal dengan sempurna. Tapi sekalipun kita tidak bisa meniru Nabi secara total, masih memungkinkan bagi kita mencontoh secuil saja dari teladan Nabi sebagai pemimpin. Masalahnya kedudukan ini sekarang menjadi semacam ajang perlombaan. Semua merasa bahwa dirinya mampu mengayomi umat. Padahal dibalik itu semua tersimpan dalam hati kotornya untuk mengusai segalanya. Godaan akan kekuasaan selalu menjadi penghias utama yang memancing hawa nafsu agar maju mencalonkan diri sebagai kandidat pemimpin terpilih. Andaikan kepemimpinan diartikan dengan khidmah, saya rasa tidak ada yang mau melangkah maju sebagai pemimpin. Semua tahu bahwa sangat sulit untuk jadi pemimpin yang benar-benar amanah. Karena memang manusia tidak pernah lepas dari keteledoran. Sehingga perasaan jadi bimbang antara maju jadi pemimpin atau diam saja membiarkan umat dalam keterpurukan....

Selengkapnya
Menghadapi Perbedaan dengan Elegan
Sep25

Menghadapi Perbedaan dengan Elegan

Menghadapi perbedaan di antar-umat sesama Muslim, sebagaimana ditunjukkan oleh perjalanan dan pengalaman umat ini sepanjang sejarah, seringkali lebih rumit daripada menghadapi perbedaan pandangan dengan umat yang berbeda agama. Hal ini, setidaknya, karena yang kita hadapi dalam perbedaan di dalam internal umat adalah ancaman akan perpecaah umat. Sedangkan jika kita berhadapan dengan perbedaan dengan umat yang berbeda agama, maka itu justru bisa mempersatukan umat untuk menghadapi lawan yang sama. Itulah sebabnya, perbedaan yang terjadi di tengah-tengah umat (dalam hal ini perbedaan haluan politik dan akidah), bisa menjadi salah satu faktor terkuat yang bisa melemahkan kekuatan umat dan memecah belah kokohnya persatuan mereka. Tentu, ini adalah hal yang amat merugikan. Jika saat ini faktanya kita ada dalam situasi yang ramai akan perbedaan dan rentan akan perselisihan dalam perbedaan itu, maka betapa kita tengah berada dalam situasi disintegrasi umat setiap waktu. Maka, di sini diperlukan pemahaman yang benar akan perbedaan dan langkah yang benar bagaimana menghadapi perbedaan itu. Pada dasarnya, hal terpenting dalam menghadapi perbedaan, dalam hal ini adalah perbedaan kita dengan aliran-aliran sesat di luar Ahlusunah wal Jamaah, adalah tidak bertindak secara gegabah, yang bisa mendatangkan bahaya yang lebih besar dan kerugian yang lebih luas. Tindakan fisik secara tegas, seperti memenjarakan, menyegel fasilitas, dan semacamnya, hanya bisa dilakukan oleh aparatur pemerintah dan tidak tidak diserahkan kepada individu umat atau masyarakat sipil. Hal demikian agar upaya memberangus paham sesat tidak justru berbuah petaka yang lebih berbahaya. Hal demikianlah yang dilakukan oleh para ulama Islam sepanjang sejarah, bahkan juga yang dilakukan oleh pemerintah Islam. Sayyidina Ali Ra, misalnya, kendati menjabat sebagai Khalifah dan berhadapan dengan kaum Khawarij yang tidak saja sesat, akan tetapi bertindak brutal dengan merampok dan membunuh, dan itu telah memenuhi syarat-syarat untuk diperangi, akan tetapi Sayyidina Ali t tidak serta merta memerangi mereka. Sayyidina Ali t masih menasihati mereka, dan memberi kesempatan mereka untuk bertobat, sedangkan yang diperangi adalah sisa-sisa dari kelompok itu yang tidak mau berhenti berbuat kerusakan, tidak mau bertobat dan terus berkomitmen melawan pemerintah. Oleh sebab itu, ketika al-Imam Hasan al-Bashri mendapatkan laporan tentang orang yang berpandangan seperti pandangan kelompok Khawarij, beliau juga tidak menginstruksikan untuk menyerang orang itu. Al-Imam Hasan al-Bashri malah menjawab: “Amal perbuatan lebih memberikan pengaruh kepada melebihi pandangan dan pemikiran. Allah akan memberikan balasan kepada manusia disebabkan amal perbuatan mereka.” Barangkali pandangan semacam ini bisa lebih kita mengerti dengan memahami kebijakan Khalifah Umar bin Abdul-Aziz terkait dengan aliran sesat. Pada tahun 100 H., di Madinah muncul sekelompok aliran sesat yang dipimpin oleh Syaudzab. Maka Umar bin Abdul-Aziz menginstruksikan kepada gubernurnya di Madinah untuk membiarkan mereka meyakini apapun, sepanjang keyakinan mereka tidak mendorong mereka pada tindakan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah. Bahkan dalam hal...

Selengkapnya
Hukum Syariat, Tanggung Jawab Siapa?
Sep20

Hukum Syariat, Tanggung Jawab Siapa?

  Hukum Syariat, Tanggung Jawab Siapa? ….. 254,9 juta lebih merupakan angka yang fantastis untuk jumlah penduduk di seantero Negara Indonesia ini. Negara dengan mayoritas memeluk agama islam yang tidak menerapkan hukum syariat. Pertanyaan dan PR besar untuk umat negeri ini, kenapa syariat Islam tidak menjadi rujukan utama dalam penetapan hukum negara?, bahkan apabila ada kelompok yang berusaha menumpas kemungkaran malah mendapat kecaman dari berbagai pihak. Seakan-akan masyarakat diberi kewenangan untuk memilih kemauan mereka sendiri tanpa ada sekat agama. Menurut sebagian tokoh islam, negeri ini adalah gambaran islam yang paling moderat dibandingkan Negara Islam yang lain. Padahal tanpa ada pengawasan yang ketat dan terus membiarkan umat maka jangan harap mereka akan melaksanakan kewajiban- kewajiban agama. Sehingga muncul di khalayak umum selogan Islam KTP. Beragama islam menjadi semacam simbolisme belaka tanpa ada pembuktian nyata. Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui dengan jelas kewajiban dan larangan yang harus mereka jauhi. Apabila dari golongan tokoh masyarakat juga tidak ada yang mengawasi pergerakan umat, ditambah lagi serangan kelompok orientalis dan antek-anteknya yang terus berusaha menggerus pondasi islam maka sebentar lagi islam akan tinggal namanya saja di negeri ini. lalu siapa yang bertugas untuk menangani masalah yang semakin semerawut ini?. Jangan pernah menganggap urusan agama adalah urusan yang sepele. Apakah umat islam sudah mulai meninggalkan kenyataan kewajibannya sebagai umat islam?, kehilangan jati diri sehingga merasa acuh tak acuh, lalu apa penyebabnya?. Lantas apakah kita akan berdiam diri menunggu keputusan hidayah dari Allah tanpa berusaha?. Kesadaran tidak akan datang sendiri tanpa usaha dan kehendak Allah. Sudah sewajarnya bagi umat yang mengaku beragama islam untuk merenung bahwa kehidupan tidak akan berarti tanpa islam. Kehidupan manusia merupakan sebuah awal ujian  dari beragama ujian yang mereka hadapi. Selanjutnya kehidupan abadi baru akan dimulai setelah kita memasuki padang mahsyar. Sebuah tempat dimana semua ras manusia mulai dari Umat Nabi Adam sampai Umat Nabi Muhammad berkumpul untuk menerima keputusan Allah atas semua kelakuan yang telah mereka perbuat semasa hidup di dunia. Antara surga dan neraka, antara bahagia dan sengsara. Memasuki kehidupan nyata dan meninggalkan kehidupan dunia yang cuma ilusi belaka. Hukum syariat harus diterapkan dan jadi rujukan bagi pemeluknya. Rasa kepedulian dan fanatisme harus tertanam kuat dalam hati agar mudah bagi kita untuk benar-benar menerapkan syari’atullah. Tidak ada salahnya kita mencoba pada diri kita sebelum menyuruh orang lain. Karena jangan mengharap mereka akan mengikuti perkataan kita apabila kita juga melanggar dan menselewengkan hukum...

Selengkapnya
Meretas Tuntas Popularitas
Sep10

Meretas Tuntas Popularitas

          Entah kenapa, predikat ‘terkenal’ seakan-akan teramat sangat prestisius bagi sebagian orang, namun bagi sebagian yang lain, justru tampak hina dan menjadi semacam momok yang menakutkan. Tapi sebagian yang ini hanya segelintir saja, tak sebanding dengan betapa antusiasnya orang-orang –yang mungkin juga saya– yang ingin terkenal dan dikenal. Penulis tak bermaksud memvonis siapapun yang ingin terkenal, itu pilihan hidup. Namun ada beberapa hal yang ingin penulis sampaikan. Kita bisa melihat sendiri bagaimana berjubelnya manusia di depan loket pendaftaran audisi menyayi, sesaknya antrean di depan ruang casting film dan sesaknya milis youtube oleh video-video amatir para netizen dengan beragam tingkah aneh dan prilaku bodoh yang seringkali menuai kehebohan. Tak ayal, harapan itu pun bersambut. Salah satu dari mereka bisa terkenal, tenar, bahkan semut pun kenal akan dirinya, meskipun kadang hanya sesaat, dan tak lama seteah itu, ketenaran mereka akan redup kembali dan dilupakan, seakan tertelan tanah kuburan, meskipun, ada pula yang kemasyhurannya terus berlanjut. Penulis tidak bisa memastikan apakah mereka yang melakukan hal itu dangan tujuan ingin terkenal ataukah ada maksud-maksud yang lain yang kita tidak bisa menerkanya. Ada pepatah arab yang cukup familiar di telinga kita; bul zam-zam fatu’rof, kencingilah air zam-zam, maka kamu akan terkenal. Agaknya pepatah ini cukup beralasan untuk membuktikan betapa tingkah lucu serta riuhnya gemeletuk kehebohan orang-orang di dunia entertaintment, panggung politik, dan dunia maya adalah merupakan upaya untuk memasyhurkan dirinya. Seperti para artis pendatang baru yang suka berceloteh aneh-aneh, bergaya tak biasa, atau prilaku para kandidat wakil rakyat yang seringkali berwacana nyeleneh yang nyaris mustahil, agar bisa menarik simpati masyarakat. Tidakkah kita malu jika kita mendengar banyaknya cerita para ulama yang justru menjauh dari ketenaran dan popularitas, bahkan ada salah satu ulama yang nekat mencuri pakaian agar kealiman dan kewaro’annya tidak dikenal lagi dan tertutupi oleh prilaku nekatnya yang mungkin sekilas tampak seperti dosa. Dengan upaya itu ulama tersebut berharap agar dirnya tak lagi dikenal dan agar namanya tak lagi disebut-sebut dalam majelis-majelis ilmu, namun apa yang terjadi, harapannya justru malah terbalik 180 derajat celcius, ia justru semakin dikenal sebagai seorang wali majdub, sontak kepribadiannya pun semakin menuai pujian. Begitulah alur nasib orang yang tak memburu ketenaran, tapi justru malah semakin dikejar-kejar oleh popularitas tanpa harus  memperkenalkan diri. Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, kaya hati, dan tersembunyi.” (HR Muslim). Memahami Hadis itu, Ibrahim bin ad-Ham juga pernah berkomentar, “Allah tidak membenarkan orang-orang yang cinta kemasyuran”. Adanya beragam sosial media saat ini seperti Facebook Twitter, Instagram dan segunung sosmed lainnya, yang jika hati dan niat tidak dimanage dengan baik maka sosmed tersebut akan berubah menjadi bumerang pada diri sendiri, serupa media penyalur hasrat riya’ dan penyakit-penyakit hati...

Selengkapnya
Chat WA dengan kami