KH. Ma’ruf Amin: Pesantren, Lembaga Pencetak Ulama Pembela Bangsa
Mei15

KH. Ma’ruf Amin: Pesantren, Lembaga Pencetak Ulama Pembela Bangsa

(Transkip Ceramah KH. Ma’ruf Amin saat #MiladSidogiri280) Keberadaan pesantren sangatlah penting. Pesantren merupakan tempat menyiapkan orang-orang yang memahami agama, pejuang-pejuang di jalan Allah, tokoh-tokoh kebaikan dan tokoh-tokoh perubahan. Oleh karenanya, agar tidak terjadi kekosongan ulama, maka kita perlu menyiapkan kader-kader ulama. Sebab, telah banyak ulama sepuh yang dipanggil oleh Allah. Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW bahwa Allah tidak akan mengangkat ilmu dari seseorang, Allah tidak akan mencabut ilmu dari seseorang, tidak ada ilmu seseorang yang dihilangkan oleh Allah, melainkan Allah akan mengangkat ilmu itu dengan mengambil para ulama. Allah menghilangkan ilmu dari muka bumi yaitu dengan menghilangkan, mewafatkan para ulama. Karena itu, ulama harus tetap ada. Jangan sampai dunia ini kosong dari pada ulama. Sebab, ulamalah yang dapat memberikan arahan, ulamalah yang bisa menuntun, ulamalah yang mampu membimbing masyarakat dan sebagainya, terlebih seperti pada saat sekarang. Karena itu, Nabi Muhammad SAW bersabda, Sesungguhnya keutamaan seorang ahli ilmu di atas ahli ibadah adalah laksana keutamaan bulan purnama di atas seluruh bintang gemilang. Nah, dalam hal ini pesantren mempunyai peran penting. Eksistensi pesantren benar-benar dibutuhkan, terlebih seperti saat sekarang. Hari ini kita menghadapi tantangan-tantangan yang kita hadapi pada saat sekarang. Di antaranya, pertama, adanya gerakan perusakan bahkan pemurtadan. Perusakan yang dilakukan ini dalam rangka merusak tatanan akidah, merusak ajaran akidah dengan munculnya aliran-aliran sesat, seperti munculnya seorang yang mengaku bertemu dengan Malaikat Jibril, munculnya aliran sesat yang disebut Millah Abraham atau Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Kedua, adanya gerakan penyesatan dan perusakan dalam ranah pemikiran. Sekarang ada pemikiran sekular, pemikiran liberal, pemikiran pluralis dan pemikiran-pemikiran lain yang menyimpang dari ajaran Islam Ahlusunah wal Jamaah. Ketiga, adanya gerakan pelemahan. Pada saat ini umat Islam dilemahkan. Politiknya dilemahkan, ekonominya dilemahkan, pendidikannya dilemahkan, karena itu umat Islam disebut ad-Dhu‘afa wal mustad‘afin. Selain itu, pesantren juga merupakan tempat mendidik mujahidin, mendidik para pejuang-pejuang yang tidak hanya membela agama, tapi juga membela bangsa dan negara. Sebagaimana dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Para ulama dan santri rela berjibaku melawan penjajah Belanda dan Jepang demi kejayaan dan kemerdekaan Negara Kesatusan Republik Indonesia. Kebangkitan ulama dan santri inilah yang kemudian menginspirasi lahirnya kebangkitan-kebangkitan nasional yang kemudian melahirkan kemerdekaan Republik Indonesia. Kalau tidak ada penggantinya, tidak ada regenerasinya, maka bisa jadi akan terjadi kekosongan ulama, bisa jadi tidak akan ada orang-orang yang paham agama, bisa jadi tidak akan ada orang yang dapat membimbing umat menuju jalan keselamatan. Maka di sinilah peran pesantren sangat dipentingkan. Kalau sampai tidak ada seorang alim pun, maka orang-orang awam akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh, pemimpin yang tidak paham agama, pemimpin yang tidak tahu ajaran agama, pemimpin yang buta terhadap syariat Islam, yang apabila ditanya mereka akan berfatwa dengan tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.[] ===...

Selengkapnya
KH. Fuad Noerhasan: Ilmu Barakah dengan Takdim pada Ilmu
Jun23

KH. Fuad Noerhasan: Ilmu Barakah dengan Takdim pada Ilmu

Santri dulu sangat sederhana dalam mencari ilmu. Hanya cukup ngaji langgaran (Surau, red). Tidak seperti sekarang, ada yang sekolah, jam belajar dan musyawarah. Hanya saja, santri dulu kemauan mendapat barakahnya sangat besar. Saya masih nututi ketika Kiai Cholil (KH. Cholil Nawawie, red.) mengimami di masjid, ketika beliau mau masuk ke masjid, santri rebutan untuk membalik sandal beliau. Dulu, terhadap guru sangat takdim, sampai-sampai dalam masalah nyapu, santri dulu selalu rebutan. Bahkan ada yang sampai menyembunyikan sapunya. Takut ada yang mendahului. Seandainya santri sekarang seperti santri dulu, ditambah ada gerak batin dan sekolah, maka akan lebih hebat dari santri dulu. Santri sekarang itu kurang tirakat, tidak terlalu merasakan barakah. Dulu, syubhat saja tidak mau, apalagi haram. Kalau sekarang, jangankan syubhat, haram saja dimakan. Walaupun ngajinya hanya Sullam Safînah di pondok, tapi ketika pulang bisa ngajar Fathul-Wahhâb. Salah satu caranya dengan takdim pada ilmu. Santri dulu itu sangat mengagungkan ilmu. Kalau muthalaah harus wudlu dulu, walau hanya untuk pegang kitab. Mereka tidak mau ngaji tanpa punya wudlu. Dulu, ketika Sidogiri mau membuka madrasah, masih terjadi perdebatan. Kiai Abdul Adzim sangat tidak setuju dengan madrasah. Yang ditakuti beliau adalah, nanti kalau menulis lafadz basmalah di papan tulis, lalu dihapus, bagaimana remah-remah kapur tulis yang berjatuhan itu? Takut kena injak. Hawatir remah-remah kapur itu bekas menulis lafadz basmalah. Beliau, bahkan sampai keliling ke madrasah, sambil membawa kardus. Kalau ada kertas bertulis Arab, dipunguti, ditaruh ke kotak lalu dibakar. Sekarang banyak kertas yang bertuliskan lafadz Allah, malah tidak diindahkan. Diinjak-injak. Makanya dulu Kiai Abdul Adzim sangat berat membuka madrasah. Coba niru santri dulu kalau ingin dapat ilmu barakah. Santri sekarang ini kurang takdim pada ilmu. Misalnya, tidak memegang kitab kalau tidak punya wudlu, sekalipun itu bukan al-Quran, padahal itu salah satu yang membuat ilmu barakah. Menaruh kitab di tempat yang tinggi, itu juga termasuk mengangungkan ilmu. Jangan menaruh kitab sejajar dengan kaki. Kalau membawa kitab itu, kira-kira harus berada di atas pusar. Yang ada, kadang di atas kitab malah ditaruhi songkok. Kalau begitu bagaimana mau mendapat ilmu barakah. Santri dulu tidak berani menaruh sesuatu di atas kitab. Kurang takdim pada kitab, ilmu, guru, itu yang menyebabkan ilmu tidak barakah. Bagaiman cerita Syaikhona Cholil Bangkalan dulu ketika mengaji ke Sidogiri. Beliau tidak berani diam di Sidogiri, takut cangkolang (kurang sopan, red.) pada guru. Ngajinya ke Sidogiri, tapi diam di Winongan. Padahal dari sini ke Winongan itu sekitar 17 kilo. Itu ditempuh dengan berjalan kaki. Berangkat baca Yasin, sampai di Sidogiri hatam Yasin 41 kali. Pulangnya demikian juga, baca Yasin sampai 41 kali. Bagaimana tidak mendapat ilmu manfaat dan barakah kalau demikian. Sekarang, muthalaah kadang kitabnya diileri dan dibuat bantal. Sulit dapat ilmu barakah kalau begitu....

Selengkapnya
Ngaji Maring KH. Abdullah Syaukat Siradi: Menjaga Niat dalam Menuntut Ilmu
Mei30

Ngaji Maring KH. Abdullah Syaukat Siradi: Menjaga Niat dalam Menuntut Ilmu

KALAU menurut Almarhum Kiai Hasani, sekarang susah cari ilmu. Karena kebanyakan gurunya tidak karena Allah dan yang ngaji juga tidak karena Allah. Jadi bertemunya murid dan guru yang ikhlas, ini yang bisa menciptakan ilmu manfaat. Almarhum KH. Abdul Adhim, kalau ngaji kitab, lampunya dibawa sendiri dari dalem-nya. Kata Kiai Hasani, “Saking wedine gak ikhlas, Kang Adhim ghowo lampu teko umahe, gowo dewe.” Setelah ngaji, ketika lampunya mau dibawakan, beliau tidak mau. Mau tidak manfaat bagaimana ilmunya? Kita ingin sekali punya santri yang betul-betul manfaat. Kita tidak henti-henti mendoakan santri. Sehabis Subuh mintakan santri semoga ilmunya manfaat. Ini tak ada putusnya, saking kepingine. Tapi ya tergantung santrinya juga. Kalau santri memang betul-betul, insyaAllah berhasil. Dawuh Kiai Hasani, dari pada berdoa, lebih baik mengubah tingkah. Kita berdoa minta selamat, tapi berjalan di tengah jalan, ya, mungkin susah untuk selamat. Kamu tidak usah berdoa. Kamu jalan minggir saja, hati-hati. Karena tingkah itu adalah doa. Orang tua juga penting. Sementara orang tua sekarang cuma sibuk nyambut gawe tok, sibuk kerja. Anaknya pulang malam tidak diurus. Sekarang malah lebih mahal ayam daripada anak. Ayam tidak pulang sore saja dicari ke tetangga-tetangga. Anaknya tidak pulang semalaman tidak dihiraukan. Kalau nakal ditaruh di pondok. Masya Allah, ya, ini bingung. “Sik muruk sik dungakno”. Sedangkan anaknya tidak ada kemauan sama sekali. Makanya banyak yang gagal. Jadi tergantung anaknya, niatnya apa di situ. Insya Allah, kalau kiainya Lillâhi Taâlâ, santrinya juga karena Allah, maka ilmunya akan manfaat. Wali murid itu kadang salah faham. Anaknya pulang dari pondok malah diberi kebebasan. Setahun ditahan, mumpung pulang, diberi kebebasan. Dari awal tahun diberi pengertian baik-baik, akhir tahun, kok, malah dihapus. Dawuh Kiai Hasani, apa-apa kalau punya niat tapi belum berhasil, tandanya niatnya masih setengah-setengah. Kalau punya niat 100%, pasti berhasil. Beliau pernah memberi ujian pada saya. Kata beliau, “Sekarang banyak amar makruf nahi mungkar, kok batilnya lebih banyak? Padahal dawuhnya Allah tidak begitu. Kalau ada haq, pasti bathil sirna (Idzâ jâal-haqqu wa zahaqal-bâthil). Ini kok malah banyak haq, tapi bathilnya lebih banyak? Yang salah itu al-Quran apa siapa?” Saya jawab, ya, orangnya. Ya, betul. Sebab Allah sudah berfirman di al-Quran. Kok masih tidak cocok? Berarti haq-nya ini tidak 100%. Masih bercampur hawa nafsu. Makanya para guru dan pengajar harus menjaga haq agar tidak bercampur hawa nafsu, dengan demikian amblas bathilnya. Ya, pakai latihan dulu. Guru juga begitu, latihan ikhlas. Orang yang mau berlatih pasti berhasil. Kamu lihat angkat besi di TV. Tidak langsung 100 kg. Semua sama, ototnya sama. Kenapa dia bisa mengangkat 100 kg? Semua itu karena latihan. Santri juga begitu, harus latihan. Dawuh Kiai Hasani, mari kita biasakan yang baik dan meninggalkan yang buruk. Sebagai murid, harus benar-benar latihan....

Selengkapnya
Taujihat Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri Menjelang Liburan Maulid 1436 H
Des31

Taujihat Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri Menjelang Liburan Maulid 1436 H

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته بسم الله  الحمد لله  والصلاة والسلام على رسول الله   وعلى أله وصحبه ومن والاه. أما بعد Anak-anakku sekalian… saya tahu libur Maulid ini sudah cukup lama kalian nantikan, mungkin sejak berbulan-bulan yang lalu. Saya tahu, sejak jauh-jauh hari kalian telah menghitung-hitung tanggal atau mengurung angka-angka di kalender setiap pagi. Dan, mungkin malam inipun kalian juga menghitung-hitung jam menunggu fajar terbit dan subuh tiba. Adalah hal yang amat manusiawi jika seseorang merindukan kampung halaman dan handai tolannya. Saya teringat ada seorang penyair berkata: Silakan kau pindahkan hati kepada cinta yang manapun Hati itu akan tetap terikat dengan cintanya yang pertama Seperti pemuda berkelana, menyenangi banyak tempat di sana Tapi rasa rindu hanya untuk kampung halamannya yang pertama Bagi bangsa Indonesia pada umumnya, nilai kampung halaman melebihi emas permata. Bangsa kita memiliki filosofi memilih hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang. Dalam filosofi Jawa, mangan ora mangan kumpul. Boleh jadi, karena filosofi inilah, bangsa kita sampai saat ini tidak bisa menjadi bangsa yang maju. Bangsa-bangsa yang maju lebih banyak memiliki tipe berani berkelana, berani merantau, dan dalam  bahasa sejarah Islam, berani hijrah karena ingin mencapai cita-cita. Beberapa negara di Eropa, saat ini menjadi bangsa yang ditakuti dunia, karena mereka berani datang ke negeri asing. Tahukah kalian, bangsa Inggris pernah membawa pasukannya hampir ke 90 persen wilayah di dunia ini. Hal yang hampir sama juga dilakukan oleh bangsa Prancis, Jerman dan Amerika Serikat. Kita harus mengambil pelajaran dari sejarah. Pelajaran hidup itulah yang menjadi salah satu tujuan inti kenapa sejarah diajarkan. Kiblat kita tentu saja adalah sejarah Rasulullah r dan para sahabat beliau, meskipun kita juga dianjurkan mengambil pelajaran dari sejarah manapun. Kenapa agama kita bisa tersebar hingga ke sini, hampir sembilan ribu kilometer dari Makkah dan Madinah? Karena ada beberapa tokoh ulama yang rela jauh dari kampung halaman demi misi untuk menyebarkan agamanya. Islam menjadi jaya setelah Rasulullah r dan kaum Muslimin berani meninggalkan kampung halaman mereka, berhijrah ke Madinah, tempat baru yang lebih menjanjikan. Semua orang merasa berat untuk meninggalkan kampung halaman, tapi orang yang berpikir dewasa dan berjiwa besar akan berani memikul hal-hal berat demi menggapai impiannya di kemudian hari. Belajarlah untuk berjiwa besar, yaitu tidak hanya mengikuti apa yang kalian senangi saat ini, tapi memikirkan apa yang akan kalian capai di masa yang akan datang. Keluarlah dari zona nyaman agar jiwa kalian bangkit dan berkobar. Berjalanlah dan mengalirlah, jangan terus menerus diam, karena air yang diam akan keruh berlumut. Semua hal menjadi bernilai karena berani meninggalkan tempat asal. Darah rusa menjadi kasturi karena berpindah dari tempat asalnya. Sekuat apapun seekor singa, bukanlah apa-apa jika ia tak bisa berlari. Konon,...

Selengkapnya
Taujihat Malam Libur Maulid 1435Taujihat Malam Libur Maulid 1435Taujihat Malam Libur Maulid 1435
Jan10

Taujihat Malam Libur Maulid 1435Taujihat Malam Libur Maulid 1435Taujihat Malam Libur Maulid 1435

Taujihat Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri Menjelang Liburan Maulid (Malam Sabtu, 10 Rabiul Awal 1435 H) السلام عليكم ورحمة الله وبركاته بسم الله  الحمد لله  والصلاة والسلام على رسول الله   وعلى أله وصحبه ومن والاه. أما بعد Anak-anakku sekalian… Saat tiba malam pulangan seperti saat ini, sebetulnya sangat banyak sekali uneg-uneg yang ingin saya tumpahkan kepada kalian. Seperti seorang ibu yang hendak melepaskan anak bocahnya menembus kerumunan orang atau menyeberang jalan, sendiri, tanpa pengawasan, dan tanpa penjagaan. Tentu ada banyak sekali kekhawatiran yang menguap dan membesar, serta menggelembung di dada. Andai bukan karena tujuan-tujuan jangka panjang, sebenarnya hati Sidogiri mungkin akan lebih tenang dan tenteram jika meletakkan kalian di sebuah menara gading yang membuat kalian hanya bisa menengok ke bawah, tapi tak bisa menyentuhnya. Atau, di sebuah rumah kaca yang membuat kalian bisa melihat segalanya, tapi tak bisa terlibat di dalamnya. Tapi tidak. Sidogiri tidak berpikir seperti itu. Kalian dipersiapkan bukan hanya untuk menyelamatkan diri sendiri. Sidogiri adalah kawah penempaan agar kalian juga bisa menyelamatkan orang lain. Agar kalian datang seperti Khalid bin Walid ke Persia atau Thoriq bin Ziyad ke Andalusia. Kalian datang untuk mengubah sesuatu, dan melestarikan sesuatu yang lain. Inilah  kalian! Kita harus menyadari dalam setiap langkah kita, bahwa dunia sedang dikendalikan oleh pandangan hidup Barat. Sejak berabad-abad lalu, petinggi-petinggi Barat sudah berkonspirasi untuk mewujudkan tatanan hidup yang mereka sebut sebagai Tatatan Hidup Baru. Yaitu, tatanan hidup dalam satu kendali, tanpa terpecah ke dalam agama-agama, dan batas-batas teritorial negara. Karena itulah, Barat membuat PBB, organisasi bangsa-bangsa dunia yang kenyataannya hanya membela kepentingan Amerika, Israel dan negara-negara pemilik hak veto saja. Karena itu pula, dunia sekarang sedang bergerak secara ramai-ramai menuju globalisasi, di mana sekat-sekat negara sudah hendak dihapus sedikit demi sedikit. Karena itu pula, di tengah-tengah kita muncul banyak sekali pandangan hidup liberal yang menganggap semua agama itu sama. Kecenderungan yang terakhir ini merupakan tantangan nyata untuk kaum santri. Untuk itulah kita berada di Sidogiri selama bertahun-tahun. Saat ini, orang yang membela atau menonjol-nonjolkan agama sudah dipandang dengan sinis. Jika ada orang yang tampil membela agama, maka akan dicibir, dianggap ekstrem, fundamentalis, tidak sesuai dengan Pancasila, tidak sesuai dengan kemajemukan Indonesia dan semacamnya. Tidak sedikit orang Islam, bahkan tokoh-tokoh Islam, yang menganggap agama bukan urusan yang terlalu penting untuk dipermasalahkan. Toh, pada akhirnya, kata mereka, semua agama itu sama, sama-sama mengajarkan kebaikan dan menjadi jalan menuju tuhan. Sekarang, pandangan seperti ini bukan hanya saya dengar dari para akademisi jebolan Barat, tapi juga sudah mulai saya dengar dari orang-orang jebolan pesantren. Padahal, pandangan semacam ini merupakan bentuk kekafiran yang nyata; merupakan bentuk pengingkaran yang sangat ekstrem terhadap kebenaran agama Islam, dan kesesatan agama lain. Jadi, kalian dilepas...

Selengkapnya
Taujihad Pertemuan Guru 1434Taujihad Pertemuan Guru 1434Taujihad Pertemuan Guru 1434
Nov03

Taujihad Pertemuan Guru 1434Taujihad Pertemuan Guru 1434Taujihad Pertemuan Guru 1434

Taujihat Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri dalam Pertemuan Staf Pengajar MMU Selasa, 27 Syawal 1434 H. السلام عليكم ورحمة الله وبركاته بسم الله  الحمد لله  والصلاة والسلام على رسول الله   وعلى أله وصحبه ومن والاه. أما بعد Alhamdulillah, kita bisa kembali bertatap muka di pertemuan yang sangat penting ini sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Diselenggarakannya pertemuan ini pada awal tahun, sesuai dengan program yang telah ditetapkan, menandakan bahwa para pengelola pendidikan di Madrasah Miftahul Ulum Pondok Pesantren Sidogiri ini telah benar-benar siap untuk menjalankan program-program kemadrasahan yang lain secara keseluruhan. Komitmen semacam ini sangat penting untuk kita tanamkan sejak awal, dan perlu kita hidupkan secara terus menerus, agar spirit yang telah tertanam dalam diri kita terus berkobar, hingga amanat yang kita emban ini nantinya bisa tertunaikan dengan sempurna. “Awalan yang baik akan membuahkan akhiran yang baik pula”, kata salah seorang guru sufi. Untuk itu, kedisiplinan adalah kunci bagi terlaksananya tugas-tugas yang tengah kita emban. Kita membutuhkan kekuatan hati untuk bisa disiplin, dari awal sampai akhir. Disiplin saat masih baru, atau saat masih awal tahun, adalah hal yang amat mudah. Tapi, untuk bertahan disiplin dari awal sampai akhir, dan tetap semangat saat memasuki masa jenuh, memerlukan kematangan hati dan kemantapan visi. Sangat banyak nasehat dari para leluhur yang kita dengar, bahwa menjalani hal-hal biasa secara kontinu setiap waktu, jauh lebih hebat daripada melakukan hal luar biasa, tapi cuma satu kali. Yang membuat kita disiplin itu adalah semangat yang ada dalam diri kita sendiri. Jika seseorang sudah cukup termotivasi, maka kedisiplinan akan terbentuk sendiri. Jika kita tidak termotivasi dan tidak terbiasa mengatur waktu, maka kedisiplinan adalah mekanisme yang amat menyeramkan. Motivasi dalam diri kita menyebabkan kedisiplinan menjadi sesuatu yang indah. Hilangnya motivasi setidaknya disebabkan dua hal. Yang pertama, adalah karena kita belum meresapi pentingnya apa yang kita lakukan. Yang kedua, karena ada hal lain yang membuat kita jadi lalai. Saya yakin, kematangan yang dimiliki oleh Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara sekalian dapat melenyapkan dua faktor negatif ini. Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara Dewan Guru sekalian… Hal lain yang juga menjadi tugas asasi bagi setiap guru, adalah peranan guru yang tidak hanya sebagai pengajar, tapi juga sebagai pendidik, pembimbing, pengayom, pengarah, dan teladan yang baik bagi murid-muridnya. Guru tidak selayaknya hanya sekadar membacakan materi-materi yang terkandung dalam tumpukan kitab-kitab, lalu menerangkan isinya secara panjang lebar, lantas selesai. Hal seperti itu tentu jauh dari kata cukup. Guru juga harus mengenal kepribadian murid secara lebih detail, agar bisa memberikan arahan, bimbingan, serta evaluasi, tidak saja terhadap nilai-nilai materi pelajaran yang dicapai oleh murid, tapi juga terhadap nilai-nilai akhlak, perilaku keseharian, serta kecenderungan kejiwaannya. Demikianlah tugas guru seutuhnya. Guru sejati adalah ia yang bisa memberikan bimbingan secara kontinu...

Selengkapnya