ArtikelHikayat

Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi: Ulama Besar dari Hadramaut, Penulis Maulid Simthud Durar

Pada hari Jumat, 24 Syawal 1259 H (1839 M), di Kota Qasam, Hadramaut, Yaman, lahirlah seorang anak dari keluarga mulia: Habib Muhammad bin Husain al-Habsyi dan Sayyidah Alawiyah binti Husain bin Ahmad al-Hadi al-Jufri. Bayi laki-laki itu kemudian diberi nama Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi oleh seorang ulama besar, as-Syekh al-Habib Abdullah bin Husain Bin Thahir, pengarang kitab Sullamut Taufiq yang dipelajari di banyak pesantren.

Sejak kecil, Ali telah menunjukkan kecintaan yang luar biasa terhadap ilmu agama. Kecerdasan dan ketekunannya tampak sejak usia dini. Pada usia tujuh tahun, ia ikut bersama ayah dan ketiga saudaranya: Abdullah, Ahmad, dan Husain, berhijrah ke Makkah. Perjalanan ini merupakan bentuk ketaatan atas arahan langsung dari guru-guru mereka, yakni Habib Abdullah bin Husain bin Thahir dan Habib Umar bin Hasan bin Abdullah al-Haddad.

Saat berusia sebelas tahun, Ali bersama ibundanya pindah ke Kota Seiwun untuk lebih mendalami ilmu fikih dan berbagai cabang keilmuan agama lainnya.

Pada usia 17 tahun, beliau kembali menuntut ilmu di Makkah selama dua tahun. Sepulangnya ke Seiwun, Ali telah menjadi seorang alim yang menguasai berbagai bidang ilmu agama. Keilmuannya menarik perhatian masyarakat sekitar, yang datang berbondong-bondong untuk berguru dan mengambil manfaat dari ilmunya.

Meskipun telah mencapai derajat ulama besar, semangat Habib Ali dalam mencari ilmu tak pernah surut. Ia kerap bepergian ke Tarim untuk menemui para ulama, terutama gurunya yang sangat dicintai, Habib Abu Bakar bin Abdullah al-Attas.

Saking besar rasa cintanya kepada sang guru, suatu ketika Habib Ali kembali dari kampung halamannya dan langsung melakukan perjalanan ke Ghufrah demi bertemu Habib Abu Bakar. Dikisahkan, saat berada di rumah seorang kenalan, sang guru meminta tuan rumah menambah hidangan sebagai bentuk penghormatan atas kedatangan Habib Ali. Namun, dengan penuh tawadhu, Habib Ali berkata, “Ucapan orang saleh cukup sebagai pengganti makanan selama sebulan.” Ungkapan ini mencerminkan betapa dalamnya cinta dan hormat Habib Ali kepada gurunya.

Setelah menetap di Hadramaut, Habib Ali mendirikan Ribath Seiwun, pesantren pertama di kota tersebut, yang kemudian menjadi pusat pendidikan Islam di wilayah itu. Selain sebagai pendidik, Habib Ali juga dikenal sebagai penulis. Karya beliau yang paling masyhur adalah Maulid Simthud Durar, sebuah rangkaian pujian dan kisah kelahiran Nabi Muhammad ﷺ yang ditulis dengan penuh cinta dan adab. Karya ini menyebar luas ke berbagai penjuru dunia Islam dan hingga kini terus dibaca oleh jutaan Muslim di seluruh dunia.

Di Indonesia, peringatan haul Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi diperingati setiap tanggal 20 Rabiuts Tsani, khususnya di Kota Solo, tempat keturunan beliau melanjutkan dakwah dan perjuangannya di bumi Nusantara.

Habib Ali dikenal sebagai sosok yang lembut, penuh kasih sayang, berakhlak luhur, dan sangat mencintai Rasulullah ﷺ. Dakwahnya merangkul semua kalangan, dari para ulama hingga rakyat jelata. Banyak orang dari berbagai daerah datang untuk berguru dan mengambil berkah dari ilmunya.

Beliau adalah simbol cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ, pelestari tradisi maulid, serta panutan dalam menyebarkan ilmu dan akhlak Rasulullah. Hingga hari ini, karya-karya dan keturunannya terus melanjutkan perjuangan beliau dalam menebarkan cahaya Islam yang penuh rahmat, hikmah, dan kasih sayang.

Penulis: Nijaful Ali
Editor: Fahmi Aqwa

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *