ArtikelHikayat

Semangat Ajak Jaga Shalat: Teladan dari Kiai Abdullah Syaukat Siradj

الصلاة عماد الدين، فمن تركها فقد هدم الدين
“Shalat adalah tiang agama. Barang siapa yang meninggalkannya, maka ia telah meruntuhkan agama.”
(HR. al-Baihaqi)

Sosok yang akan dikisahkan dalam tulisan ini sangat erat kaitannya dengan hadis di atas. Semasa hidupnya, beliau selalu berpesan kepada siapa pun yang ditemuinya agar menjaga shalat dengan sungguh-sungguh. Bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali beliau menekankan pentingnya shalat sebagai fondasi utama kehidupan seorang Muslim.

Beliau adalah K.H. Abdullah Syaukat Siradj, atau yang lebih akrab disapa Kiai Loh.

Setiap menjelang waktu Subuh, Kiai Loh tak pernah lalai membangunkan orang-orang di sekitarnya agar segera menunaikan shalat. Bahkan, diceritakan setiap pukul 03.00 dini hari, beliau rutin mengirim pesan ke seluruh kontak di ponselnya, sekadar untuk mengingatkan agar bangun dan menunaikan shalat Tahajud serta Subuh. Ini adalah bentuk nyata kepedulian beliau—kepedulian yang melampaui urusan duniawi dan menyentuh sisi spiritual setiap orang yang dikenalnya.

Penulis sendiri masih mengingat dengan jelas pesan beliau saat melepas keberangkatan guru tugas pada tahun 1442 H. Pesan beliau sangat sederhana, namun sarat makna:
“Jaga shalat, jangan sampai ditinggalkan.”

Kiai Loh juga menambahkan, “Wong iku isok didelok teko sholate. Lek sholate dijogo, Insya Allah wonge apik.”
(Seseorang bisa dinilai dari shalatnya. Jika ia menjaga shalat, Insya Allah orangnya baik.)

Selain ketegasannya dalam perkara shalat, Kiai Loh juga memiliki banyak sifat mulia lain yang layak diteladani. Salah satunya adalah keramahan dan sikap bersahabat kepada siapa pun yang datang bertamu ke kediamannya.

Bagi yang mengenal beliau akan sepakat bahwa Kiai Loh adalah sosok yang sangat ramah dan rendah hati. Baik tamunya seorang anggota DPR, petani, pengusaha, sesama kiai, atau bahkan santri kecil sekalipun, semua dijamu dengan hangat di ruang tamu sederhana beliau. Tak ada sekat strata sosial, tak ada pembedaan berdasarkan jabatan ataupun harta.

Diceritakan, ada seorang alumni yang sedang mengalami kebangkrutan. Alumni ini sangat ingin sowan kepada Kiai Loh untuk meminta nasihat dan doa. Ia pun menghubungi seseorang agar bisa diantar ke sana. Namun, orang itu justru berkata, “Kamu tidak akan diperhatikan oleh beliau. Kiai Loh itu tamunya cuma pejabat.”

Meskipun sempat ragu, si alumni ini, tetap memutuskan pergi seorang diri. Ia datang, mengucap salam, dan betapa terkejutnya ia ketika Kiai Loh sendiri yang menyambutnya dengan ramah. Kiai Loh mendengarkan keluh kesahnya dengan penuh perhatian. Ternyata, anggapan bahwa beliau hanya menerima tamu dari kalangan elite sama sekali tidak benar.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, sungguh sulit menemukan sosok seperti Kiai Abdullah Syaukat Siradj. Sosok yang tak hanya peduli pada urusan dunia sesama, tetapi juga pada keselamatan akhirat mereka. Kepedulian beliau adalah cerminan akhlak mulia yang lahir dari pemahaman agama yang mendalam.

Di momentum Haul ke-3 K.H. Abdullah Syaukat Siradj ini, marilah kita bersama-sama meneladani akhlak dan keteladanan beliau. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada beliau, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Almarhum kini bersemayam di Jannatul Ma’la, Makkah Al-Mukarramah.

Lahul Fâtihah…

Penulis: Moh. Syauqillah
Editor: A. Kholil

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *