Dubes Mesir Kunjungi Pondok Pesantren Sidogiri
Nov20

Dubes Mesir Kunjungi Pondok Pesantren Sidogiri

Jumat (14/04), Duta Besar (Dubes) Mesir untuk Indonesia melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Sidogiri. Kedatangannya ini dalam rangka safari ke pesantren-pesantren salaf di Jawa Timur, sekaligus untuk mengenalkan lembaga kepesantrenan dan juga metode pendidikannya ke kancah global. Acara kunjungan ini ditempatkan di Ruang Auditorium lt. II. Hadir dalam kunjungan ini Prof. Dr. Ashraf Sultan, Dubes, Ahmed Abdelhady, Atase Keagamaan dan Kebudayaan, Habib Ahmad al-Habsyi, Penasehat Majelis Muwasholah Jatim, Habib Ahmad Mujtaba Syihab, Sekretasis Majelis Muwasholah, dua orang dari Nabawi TV dan tiga panitia lainnya. Kedatangan Dubes Mesir ini disambut langsung oleh KH. Fuad Noerhasan, Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, Mas Achmad Sa’dullah, Bendahara Umum dan Ust. H A. Saifulloh Naji, Sekretaris Umum. Bapak Dubes dan rombongan bersama Masyayikh Sidogiri Sesampainya di Sidogiri, Dubes Mesir beserta rombongannya disambut tim hadrah dan para Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri yang dikawal oleh personel Ketertiban dan Keamanan (Tibkam) dan Bansus Ikatan Alumni Sidogiri (IASS). Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri yang hadir dalam kunjungan ini ialah Majelis Keluarga, Pengurus Harian, Pengurus Pelaksana, Keluarga Senior, anggota Forum Musyawarah Keluarga Muda (FMKM), Pengurus Pusat IASS, Ketua Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri (HMASS), Pengurus Lembaga Amil Zakat (LAZ), Pengurus Lembaga Wakaf (L-Kaf) Sidogiri, dan Kepala Daerah A-Z. Acara dimulai dengan pembacaan al-Fatihah. Kemudian dilanjutkan pembacaan salawat oleh Sayid Abdullah al-Habsyi. Setelah itu, sambutan oleh Mas Achmad Sa’dullah mewakili pengurus Pondok Pesantren Sidogiri, dan dilanjutkan Habib Ahmad Mujtaba mewakili Majelis Muwasholah. Sambutan dari Prof. Dr. Ashraf Sultan, selaku Dubes Mesir untuk Indonesia mengakhiri sesi sambutan. Acara berlanjut pada sesi pemutaran video-video program unggulan Pondok Pesantren Sidogiri serta pertanyaan kepada Dubes Mesir. Video yang ditampilkan meliputi program al-Miftah lil Ulum, Tahfidz al-Quran, Tahfidz Hadis, Tahfidz Mutun dan Metode Qur’ani Sidogiri. Foto bersama Masyayikh Sidogiri bersama rombongan Dubes Menjelang selesainya acara pengurus memberikan cendera mata kepada Dubes Mesir. Cendera mata yang diberikan berupa buku-buku karya Santri Sidogiri, Jurnal Tamassya dan lukisan bakar yang bertuliskan takrif santri. Acara ditutup dengan pembacaan doa oleh Habib Ahmad al-Habsyi yang akhiri dengan pembacan al-Fatihah oleh KH. Fuad Noerhasan. Acara berakhir sekitar jam 10.20 WIS. Foto bersama: Foto bersama Dubes Mesir usai acara kunjungan Setelah selesainya acara, pengurus mempersilahkan Dubes Mesir beserta rombongan untuk menikmati hidangan ditemani Pengasuh dan Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri di Ruang Lobi Sekretariat. Kunjungan ini diakhiri dengan foto bersama di depan Kantor Sekretariat. Program kunjungan Dubes Mesir ini merupakan inisiatif dari KH. Miftachul Akhyar, Rois Aam PBNU sekaligus Ketua MUI Pusat. Beliau ingi mempromosikan program pesantren salaf ke negara-negara luar. Akhirnya beliau berinisiatif melakukan program Kunjungan Duta-Duta Besar Negara Asing ke pesantren-pesantren salaf. Jawa Timur terpilih sebagai provinsi pertama untuk mendapat kunjungan dengan pertimbangan memiliki populasi pesantren salaf terbesar. Mesir menjadi negeri pertama yang...

Selengkapnya
Motivasi untuk Kembalikan Semangat
Nov20

Motivasi untuk Kembalikan Semangat

MC sedang memandu acara motivasi Pengurus Daerah O Pondok Pesantren Sidogiri mengadakan motivasi untuk warga daerahnya pada Rabu (17/11). Acara bertempat di Gedung Sidogiri Excellent Center (SEC) lantai III. Pengurus mengundang Ust. Abd. Roqib Saki, salah satu staf pengajar Aliyah sebagai motivator. Motivasi ini bertujuan mengembalikan semangat para warga Daerah O dalam menghafalkan nazam. Dalam sambutannya, Ust. Fuad Salim, Koordinator Tahfid Mutun menyampaikan bahwa sebelumnya program menghafal nazam ini berada di Daerah B. Pendirinya ialah Ust. Musyaffa’ Siraj. Hingga akhirnya dipindah ke Daerah O pada tahun 1437 H. Dengan adanya motivasi ini Ust. Fuad mengharap ke depannya para warga lebih semangat lagi dalam menghafal. “Diadakan motivasi ini untuk mengembalikan semangat teman-teman yang mulai hilang” Ust. Abdur Roqib hadir sebagai motivator Di awal penyampaiannya, Ust. Abdur Roqib menjelaskan tentang tingginya derajat orang yang punya ilmu di sisi Allah. “Mereka bisa memberi syafaat kepada orang yang tidak mereka kenal,” ungkap beliau. Bahkan beliau menceritakan ada salah satu hamba yang hendak dimasukkan ke neraka. Namun, hanya karena dia memiliki teman yang mencintai ulama, akhirnya oleh Allah hamba tadi diperintahkan untuk dimasukkan Surga. Ust. Abdur Roqib juga menganjurkan agar sering berkumpul dan berkhidmah kepada ulama. “Hal ini ditunjukan oleh I’rab Rafa’ Dhammah yang artinya berkumpul.” Hal ini sebagaimana yang dilakukan Sayidina Abbas yang berkumpul dan berkhidmah kepada Rasulullah. Teater: Ekspresi salah seorang pemeran dalam pertunjukan taeter Beliau juga menambahkan, “Kita juga harus tawaduk sebagaimana I’rab rafa’ wawu yang berasal dari kata Arab yang artinya rendah diri.” Alasan beliau menyatakan hal ini karena ilmu tidak akan masuk pada orang yang sombong. Pesan terakhir dari sosok yang juga menjabat Kepala Bagian (Kabag) Tibkam ini agar kita semua meniru alif, “Kita juga harus meniru I’rab rafa’ alif diputar bagaimana pun yang terlihat tetap satu bentuk tidak berubah. Artinya, kita harus punya satu tujuan yaitu Ibtighâa Mardhâtillâh.” Usai motivasi dari Ust. Abdur Rokib, pengurus melanjutkan ke sesi pembagian hadiah. Kategori juara meliputi warga daerah terbaik, badal terbaik dan majelis terbaik. Terlihat Iqbal (warga Daerah O) sedang membaca puisi Acara ini ditutup dengan pembacaan puisi dan teater. Acara ini sangat meriah. Saking meriahnya, tepuk tangan warga Daerah O mengiringi acara ini hampir dari awal acara sampai usainya acara. “Acara ini sangat seru dan unik! Bahkan menurut saya acara ini sama meriahnya seperti Ikhtibar,” ujar Ust. Fawaiduz Zaman, salah seorang badal di Daerah O. Penulis: Iwanulkhoir Editor: Kanzul...

Selengkapnya
Bincang Akidah: FEMEMISNE VIS A VIS ISLAM
Nov18

Bincang Akidah: FEMEMISNE VIS A VIS ISLAM

Annajah Center Sidogiri (ACS) menggelar acara Bincang Akidah bertema Feminisme Vis A Vis Islam. Bertempat di halaman gedung al-Ghazali, Malam Jumat (18/11). Diikuti oleh enam delegasi; utusan dari ACS Semester II dan semester IV, Litbang (Penelitian dan Pengembangan), Lajnah Murajaah Fiqhiyah (LMF), Lembaga Penelitian Studi Islam (LPSI) Forum Kajian (FK) Ushul Fikih dan FK Tafsir.  Hadir selaku senior ACS sebagai pentashih, Ust. Ahmad Sabiq  Ni’am, Sekretaris Sidogiri Media dan Ust. Moh. Zaki Gufron, redaktur Sidogiri Media. Redaktur: Ust. Achyat Ahmad sedang memberi sambutan. Di samping itu, tema di atas diangkat sebab ada isu kontroversial tentang poligami, termasuk usaha-usaha kalangan liberal yang ingin mengharamkan poligami. Persoalan ini juga termasuk bagian dari isu yang dikedepankan oleh gerakan feminisme. Sesuai penuturan Direktur ACS, Ust. Achyat Ahmad dalam sambutannya, bahwa yang diperdebatkan dalam Bincang Akidah ini adalah isu-isu feminisme secara umum. Dilansir dari Wikipedia, Feminisme adalah serangkaian gerakan sosial, gerakan politik, dan ideologi yang memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mendefinisikan, membangun, dan mencapai kesetaraan gender di lingkup politik, ekonomi, pribadi, dan sosial. Gerakan feminis telah mengampanyekan hak-hak perempuan, termasuk hak untuk memilih, memegang jabatan politik, bekerja, mendapatkan upah yang adil, upah yang setara dan menghilangkan kesenjangan upah gender, untuk memiliki properti, mendapatkan pendidikan dan untuk memiliki cuti kehamilan. Gerakan ini sangat berpengaruh dan mendapat respon positif dari kaum hawa-terlebih para Muslimah, sehingga kesadaran itu muncul dan menjadi nyata dalam bentuk aksi. Namun, terlepas dari itu semua, hal paling inti dalam diskusi Feminisme kali ini adalah ada semacam tugas dan kewajiban yang sebenarnya bukan mutlak untuk wanita, melainkan karena ada beberapa faktor tertentu sehingga seluruh hak dan kewajiban tersebut justru dibebankan kepada mereka (red; istri). Seperti mengurus anak, mencuci pakaian dan sebagainya. Kewajiban yang sebernarnya merupakan hak mutlak lelaki berbalik menjadi beban kaum hawa. Akhirnya, melalui gerakan tersebut, banyak kaum hawa—Muslimah—yang enggan mengurus anak serta melakukan pekerjaan rumah yang sebelumnya biasa ia selesaikan. Penulis: M. Nabil bin Syamsi Editor: Moh Kanzul...

Selengkapnya
Evaluasi Anggota LPSI Demi Regenerasi
Nov14

Evaluasi Anggota LPSI Demi Regenerasi

Lembaga Penelitian dan Studi Islam (LPSI) Pondok Pesantren Sidogiri mengadakan evaluasi semester I untuk para anggota juniornya pada Jumat (07/04). Materi yang dievaluasikan adalah artikel yang telah disetorkan oleh masing-masing kelompok kajian kepada Pengurus LPSI. Juri dalam evaluasi kali ini Ust. Alil Wafa, Pemred Sidogiri Media dan Ust. Moh. Yasir Zuhri, Editor Sidogiri Media. Tujuan evaluasi ini untuk mengetahui hasil belajar para anggota kajian LPSI selama satu semester. Evaluasi ini bertempat di halaman gedung an-Nawawi. Delegasi FK Hadis Junior sedang mempresentasikan artikel ilmiahnya “Evaluasi artikel ilmiah hanya untuk anggota junior. Evaluasi untuk anggota senior ialah membuat buku di akhir tahun nanti,” ujar Ridwan Syauqi, TU Kuliah Syariah. Ia berharap dengan adanya evaluasi ini muncul penulis hebat dan handal. Ust. Arbi Syarbini, Naib I Kuliah Syariah mengatakan, “Acara ini acara yang santai, tetapi wajib diikuti.” Meski evaluasi ini untuk anggota junior, tetapi anggota senior pun tetap wajib mengikuti acara ini. Sistem yang digunakan dalam evaluasi ini adalah sistem presentasi di mana setiap delegasi masing-masing Forum Kajian (FK) maju dan mempresentasikan artikel ilmiahnya. Kemudian juri akan mengujinya dengan melontarkan pertanyaan seputar artikel yang dipresentasikan, lalu dijawab oleh peserta. Kadang para juri juga memberi masukan atau sekedar komentar pribadi perihal karya peserta tersebut. Tenang: Salah satu peserta evaluasi tengah menjawab pertanyaan dari juri Setelah semua para peserta selesai dengan karya ilmiahnya para anggota LPSI juga diperkenankan untuk ikut mengkritisi karya yang telah dipresentasikan. Hasil karya ilmiah FK Muamalah Junior mendapat kritikan pedas dari Ahmad Muhajir, Anggota FK Sejarah Junior. Namun, Khoiron Rofiq, Ketua FK Muamalah Junior tetap bisa mementahkan pertanyaan tersebut dengan argumentasi yang kuat. Para peserta sangat puas dengan adanya evaluasi ini. “Acara ini sangat seru! Banyak karya ilmiah yang berbobot dan menarik,” ujar salah satu anggota Muamalah Junior yang tidak mau disebutkan namanya. Penulis: Iwanulkhoir Editor: Moh Kanzul...

Selengkapnya
Ust. Moh. Yasir Zuhri: Bukan Lagi Soal Tulisan, Tapi Bobot Kajian
Nov12

Ust. Moh. Yasir Zuhri: Bukan Lagi Soal Tulisan, Tapi Bobot Kajian

Jumat (07/04), Badan Pers Pesantren (BPP) sukses laksanakan Kelas Menulis Lanjutan di ruang Auditorium Sekretariat Lt. II. Seluruh redaksi media Pondok Pesantren Sidogiri diundang dalam acara tersebut. Gamblang: Narasuber sedang memberi penerangan secara detail Tema berjudul “Kiat Menggali Referensi di Era Digital”dipilih guna meningkatkan kepekaan serta kecakapan jurnalis dalam memilah rujukan-rujukan yang akan dikutip sebagai referensi, terutama yang bersumber dari laman web. Seterusnya, Ust. Moh. Yasir Zuhri, narasumber yang berjabat sebagai Editor Sidogiri Media, menyebutkan beberapa kasus yang sering terjadi pada karya tulis; Tidak memiliki referensi (tidak ilmiah)Tidak mencantumkan referensi, bahkan plagiatMencantumkan sumber data yang tidak terverifikasikan atau bermasalahSalah dalam sitasi atau mengutip rujukanTidak bisa memilih sumber data yang baik dan sesuai Beliau juga menjelaskan betapa pentingnya sitasi dalam sebuah tulisan. Di antaranya; Termasuk isnad yang penting dalam agama.Tanggung jawab ilmiah.Menghindari plagiarisme.Memberikan gambaran bobot tulisan.Pembaca bisa melakukan penelusuran lebih lanjut. Staf pengajar MMU Aliyah kelahiran Sumenep tersebut juga menjelaskan tips memilih referensi pustaka, “Dahulukan referensi primer, baru referensi sekunder, lalu referensi tersier. Kemudian, pilih sumber-sumber otoritatif sesuai bidang kajian. Terakhir, gunakan sumber-sumber yang terverifikasi.” Penulis: M. Nabil bin Syamsi Editor: Moh Kanzul...

Selengkapnya