Kiai Abd. Jalil bin Fadil (Bagian III)
Jan09

Kiai Abd. Jalil bin Fadil (Bagian III)

Syahid Melawan Belanda Setelah melewati perjuangan panjang dengan pengorbanan yang tak terkira, pada hari Jumat pukul 10.00 wib tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Sejak saat itu rakyat Indonesia bertekad untuk menjadi bangsa yang berdaulat dan bebas menentukan nasibnya sendiri sejajar dengan bangsa lain di dunia. Tekad itu tercermin dalam isi proklamasi dan pembukaan (preambule) UUD 1945. Untuk mewujudkan cita-cita luhur itu ternyata tidak mudah. Belanda yang pernah mereguk manisnya kesuburan tanah Indonesia selama 350 tahun lebih, tidak rela melihat Indonesia menghirup udara kebebasan. Tiga tahun setelah hari kemerdekaan diproklamirkan, mereka kembali menapakkan kakinya di Indonesia. Kejadian ini dikenal dengan istilah Agresi Belanda II. Mereka ingin mengulang memori indah saat mendapatkan segalanya dengan mudah. Menjajah. Ya, itulah yang mereka inginkan. Kembali ke Indonesia, merampas segala hasil bumi rakyat di Nusantara. Agresi Belanda itu ternyata mendapat reaksi keras dari seluruh rakyat Indonesia. Sebab, cita-cita menjadi Negara berdaulat telah bulat. Maka tidak ada pilihan lain kecuali melawan agresor sampai titik darah penghabisan. Tentara, rakyat, ulama bersatu-padu mengadakan perlawanan demi membela kehormatan agama dan Negara. Tercatat, tidak kurang dari 100 ribu pahlawan gugur dalam usaha mempertahankan kemerdekaan tersebut. Membela agama? Ya. Tidak diragukan lagi bahwa agresor yang musyrik itu di samping ingin menjajah, mereka mempunyai misi terselubung yaitu mengkafirkan rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim. Hal itu terlihat jelas dari tindakan mereka yang dengan sengaja melecehkan dan menghina simbol-simbol Islam. Inilah faktor mengapa ulama secara total melakukan perlawanan terhadap agresor Belanda. Sampai-sampai Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ (NU) mengeluarkan “Resolusi Jihad” yang dengan tegas menyatakan. “Melawan Belanda hukumnya wajib dan termasuk jihad fi sabilillah”. Aksi perlawanan yang dilakukan oleh para pejuang terhadap serdadu Belanda terus berlangsung di seluruh penjuru negeri. Cuma, karena minimnya persenjataan, perlawanan dilakukan dengan cara bergerilya. Mencari kesempatan untuk menyerang di saat Belanda lengah. Itu pun dengan senjata seadanya; bambu yang diruncingkan ujungnya, arit, parang, pedang atau apa saja yang bisa dibuat perlawanan dan menumpas Belanda. Lalu lari bersembunyi ke hutan-hutan atau dusun-dusun yang jauh dari jangkauan Belanda. Taktik gerilya ini membuat kompeni mati kutu. Sebab mereka tidak punya kesempatan untuk membalas dan kehilangan jejak. Di samping medan yang sulit untuk mereka kenal. Pada saat itu Pondok Pesantren Sidogiri menjadi tempat bersembunyi para tentara Hizbullah. Puncaknya di desa Plinggisan Pasuruan, para pejuang terlibat baku tembak dengan Belanda. Tapi untuk kali ini anggota Hizbullah terdesak. Para pejuang mundur kembali ke markas. Belanda penasaran dan mengikuti jejak mereka sampai akhirnya diketahui bahwa mereka adalah anggota pasukan Hizbullah di bawah pimpinan KA. Sa’doellah yang bermukim di Sidogiri. Akhirnya, keberadaan Pondok Pesantren Sidogiri yang dijadikan sarang pejuang tercium oleh kolonial Belanda. Beberapa mata-mata dikirim untuk melihat langsung aktivitas gerakan pejuang. Dan ternyata benar adanya,...

Selengkapnya
Menuju Wisuda Tahfid Mutun
Jan09

Menuju Wisuda Tahfid Mutun

Ramah-tamah: Panitia Wisuda Tahfid Mutun bersama para juri Hujan rintik-rintik pada malam Ahad (06/05) itu tak menghentikan derap langkah para santri untuk konsisten belajar. Terlihat beberapa sosok sedang melangkah menuju Daerah O. Di malam yang sunyi ini Pengurus Daerah O mengadakan pelantikan para juri untuk tes pra wisuda yang akan dimulai Rabu (09/05). Sebelumnya, para badal (pembina) wisudawan sudah dikumpulkan dan telah diberi arahan oleh Panitia Wisuda mengenai sistem tes calon wisudawan. Tujuannya, agar informasi penting ini bisa tersampaikan kepada calon wisudawan via badal masing-masing. Di samping informasi tentang biaya yang mesti dikeluarkan. Para badal wisudawan telah berusaha membimbing dengan metode terbaik agar para calon wisudawan bisa menyelesaikan hafalannya secara sempurna sehingga dapat mengikuti wisuda pada pergelaran Wisuda Tahfid Mutun tahun 1442-1443 H. Nazam yang dijadikan materi tes ialah Nazam Alfiyah, Imrithi, dan Maqsud, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Hal ini didukung api membara, semangat para calon wisudawan. Cita-cita luhur mereka junjung tinggi. Pagi, siang, sore dan malam tak pernah terlepas dari yang namanya nazam dan hafalan. Akhirnya, aroma perjuangan pun semakin terasa. Calon wisuda : menghafal nadam dikeheningan malam Tidak hanya itu, pada Senin (07/05) ini para wisudawan juga akan menggelar istigasah. “Tidak hanya usaha. Namun, perlu juga ada tawakal,” ujar M. Imam Hambali, salah satu badal wisuda. Ust. Abdur Roqib dalam acara motivasi Tahfid mutun Semakin dekatnya waktu akan membuat perasaan mereka semakin deg-degan. Perasaan waswas, khawatir, takut dan semacamnya bercampur. “Harapan kami semua calon wisudawan bisa lulus (tes wisuda),” tutur M. Nanang Muzni, Ketua Panitia Wisuda Tahfid Mutun. Nanang juga berharap wisuda kali ini bisa meriah sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Penulis: Iwanulkhoir Editor: Moh. Kanzul...

Selengkapnya
Orientasi Insan Pers: Belajar Terampil Menerjemah
Jan09

Orientasi Insan Pers: Belajar Terampil Menerjemah

Narasumber bersama para peserta Jumat malam (04/05) Orientasi Insan Pers yang ke empat berhasil digelar kembali pada Jumat (04/05). Badan Pers Pesantren (BPP) sebagai instansi penanggung jawab tulis-menulis di Pondok Pesantren Sidogiri mendatangkan Ust. Ahmad Dairobi Naji, Redaktur Sidogiri Media sebagai narasumber. Pembahasan kali ini berkutat seputar penerjemahan dengan tema Keterampilan Bahasa Menerjemah. Acara ini bertempat di gedung Auditorium Lt. II yang dihadiri seluruh redaksi media Pondok Pesantren Sidogiri. “Dalam menerjemah kita berkedudukan sebagai penyambung lidah kepada pasar (pembaca, red),” ujar beliau menjelaskan posisi penerjemah kepada peserta seminar. Terjemahan dari bahasa asing  haruslah tidak keluar dari konteks dan gagasan pemilik ide. Bahasa Arab dalam hal ini menjadi bahasa yang paling banyak disoroti karena satu kata dalam Bahasa Arab bisa memiliki banyak makna. Beliau menuturkan terdapat dua hal pokok yang harus dikuasai oleh para penerjemah. “Pertama, kita harus memiliki kemampuan untuk memahami bahasa yang akan diterjemah. Kedua, menerjemah ke dalam tulisan harus memiliki kemampuan argumentasi yang baik dalam tulisan.” Jika tidak menguasai dua hal ini maka mustahil untuk bisa menerjemah. Ust. Ust Dairobi Naji tampak menerangkan Ust. Dairobi banyak mengkritik terjemahan yang tidak sesuai konteks dan gagasan. Semisal dalam menerjemah kata fitnah dalam ayat Wal-Fitnatu Asyaddu Minal-Qotli. Fitnah di ayat tersebut tidak seperti fitnah yang dipahami masyarakat umum, melainkan fitnah yang ditafsiri kekufuran. Kemudian, beliau juga menuturkan menerjemah ada yang mengikuti runtutan teks atau literal. Ada juga yang tanpa mempedulikan, dalam hal ini yang terpenting tidak keluar dari konteks dan gagasan. “Orang pesantren ini paling ahli dalam menerjemah secara literal,” ujar Ust. Dairobi. “Hal yang penting tatkala menerjemah ialah tidak keluar dari konteks dan gagasan,” pesan  narasumber. Acara ini selesai pukul 11.15 Wis. Ditutup dengan pembacaan doa oleh narasumber. Penulis: Iwanulkhoir Editor: Moh. Kanzul...

Selengkapnya
Data Juarawan tingkat Tsanawiyah Tahun Ajaran 1442-1443 H
Jan08
Selengkapnya
Memasyarakatkan al-Quran degan Qurani Sidogiri
Jan07

Memasyarakatkan al-Quran degan Qurani Sidogiri

Pendidikan dan pelatihan (Diklat) Metodologi Metode Qurani Sidogiri (MQS) merupakan acara yang ditunggu-tunggu setelah setahun lamanya ditunda sebab pandemi yang belum bisa diajak damai. Agenda tahunan yang diselenggarakan setiap usai Imtihan Dauri (Imda) II ini, bisa berjalan dengan baik tahun ini. Pada Jumat (07/01) suara-suara lantang menggema ke seluruh gedung as-Suyuthi, pertanda semangat dari peserta diklat. Laporan: M. Nabil bin Syamsi Diklat Metodologi MQS sukses diselenggarakan pada hari Jumat (07/01). Acara bertempat di dua lokasi yang bertempat di seluruh ruang gedung as-Suyuthi Lt. III; ruang 25 sampai ruang 36. Tepat pukul 07.00 Wis, peserta sudah berdatangan mendekap buku catatan dan mengisi prensensi kehadiran. Setelah itu, mereka diarahkan untuk mengambil foto di ruang yang sudah ditentukan. Sebelum acara dimulai, peserta difasilitasi 10 materi Qurani dan 3 lembar kertas metode pembelajaran untuk anak didik. Materi berupa; Materi pokok; Qurani jilid 1 sampai jilid 5 dan gharaib. Materi penunjang; 1. Materi Pelengkap yang berisi latihan membaca huruf dengan makhraj dan sifatnya. 2. Materi Tambahan berupa bacaan-bacaan salat, doa sehari-sehari, surat-surat pendek dan lain-lain. 3. Dasar-Dasar Ilmu Tajwid. 4. Buku Prestasi Harian dan Hafalan. Disamping itu, peserta juga mendapat kertas kecil warna biru berukuran 7×3 cm yang bertertuliskan voucher makan. Sebelum acara dibuka, terdapat sesi pengambilan foto para peserta. Sesi foto dicukupkan pada pukul 08.00 Wis. Setelah itu, MC memulai pembukaanya. Diiringi sambutan yang dibawakan oleh Kepala MQS, Ust. Hamin Asy’ari dengan pembawaan yang humoris, sehingga peserta tidak merasa kantuk mendengarkan sambutannya sambil menikmati snack dan soft drink yang disuguhkan. Pukul 08.55 Wis sambutan usai, materi dimulai. Lokasi 1 yang bertempat di ruang 36, 35 dan 34 diisi oleh Wakil Ketua II MQS, Ust. Abd. Muthollib. Lokasi 2 yang bertempat di ruang 28, 29 dan 30 diisi oleh Wakil Ketua I MQS, Ust. Nurul Huda. Pada sesi pertama tersebut menuntaskan metodologi, cara penerapan materi dari jilid 1 dan jilid 2. Jarum pendek menunjukkan pukul 11.00 Wis, penanda waktu untuk istirahat dan persiapan salat Jumat. Sesi kedua dimulai pada pukul 01.30 Wis. Sekalipun hujan deras, peserta tetap menghadiri acara. Suara keras menggema ke seluruh gedung as-Suyuthi. Peserta sangat antusias dan asik dengan  diklat tersebut. Semangat: Peserta Metodologi sedang mencontoh bacaan pemateri. Tercatat 303 peserta terdaftar dalam Diklat Metodologi MQS. Hal ini membuat panitia sangat bersenang hati, meski tidak jauh beda dibanding dua tahun sebelumnya. Uwais Alqoroni, Ketua Panitia Diklat Metodologi MQS, memandang baik pada agenda tahunan yang dilaksanakan tahun ini. “Andaikan waktu pendaftaran tidak dibatasi 10 hari, tentu akan lebih banyak yang ikut mendaftarkan diri.” “Hal ini karena MQS dipandang berkembang pesat di luar (luar pesantren, red), karena sudah ada 528 lembaga yang menggunakan Metode Qurani Sidogiri,” lanjutnya. Pukul 04.15 Wis acara ditutup dengan...

Selengkapnya