FeatureUnggulan

Persiapan Dua Minggu, Tim Al-Banjari Sidogiri Pukau Ribuan Santri di Malam HSN 2026

Peringatan HSN 2026 yang diselenggarakan di lapangan Pondok Pesantren Sidogiri malam itu belum benar-benar dimulai ketika jam menunjukkan pukul 19.15 WIB. Namun, atmosfer di sekeliling panggung utama sudah terasa bergetar. Ribuan santri yang datang bergelombang membuat malam peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 ini terasa begitu khidmat.

​Di balik riuh lautan santri dan kilatan layar LED panggung utama, lima penabuh dan lima vokalis berdiri dengan tatapan fokus. Pada Kamis malam 22 Oktober 2026 tersebut, rebana al-Banjari digenggam erat-erat. Malam itu, mereka membawa misi yang tak biasa, yaitu menghadirkan warna baru dalam tradisi panggung HSN Sidogiri.

Baca juga: Peringatan HSN 2026, Momentum Refleksi Jati Diri Santri

Jika pada perhelatan Hari Santri Nasional dan perayaan hari besar Islam tahun-tahun lalu, panggung lapangan Pondok Pesantren Sidogiri selalu diwarnai oleh dentuman bas hadrah dan ritme rancak khas hadrah al-Habsyi, tahun 2026 menjadi tolok ukur tersendiri. Panitia sepakat menghadirkan sentuhan yang berbeda. Kental dengan budaya Jawa Timur-an, panitia menghadirkan kolaborasi pembacaan Qasidah Burdah dan Shalawat al-Habsyi yang dipadu dengan pukulan khas al-Banjari.

​”Tantangan kami sejak terlantik sebagai pengisi acara Hari Santri Nasional ini bukan hanya memukul terbang hadrah, melainkan menyatukan ketukan al-Banjari yang presisi dengan lantunan Burdah agar tetap khusyuk, namun tetap hidup,” ujar Muhammad Asad, salah satu personel tim di sela persiapan pra-acara.

Menariknya, waktu yang dimiliki tim ini tergolong amat singkat. Di tengah
aktivitas pengajian dan rutinitas pesantren yang padat dan ketat, sepuluh santri ini hanya memiliki waktu latihan dua minggu.

Baca juga: HSN 2026, Ustadz A. Saifulloh Muhyiddin Ajak Santri Lanjutkan Perjuangan Ulama Melalui Ilmu Pengetahuan

​Dalam kurun waktu yang singkat itu, ruang-ruang madrasah menjadi saksi perjuangan mereka mencari ketukan yang pas: tempo diselaraskan dan harmoni vokal digembleng. Setiap ketukan terbang bukan sekadar latihan teknik, melainkan proses penyatuan chemistry atau hubungan antara lima vokalis dan lima penabuh agar sanggup menguasai panggung sebesar lapangan Sidogiri.

Penanggung Jawab (PJ) tim shalawat, Ustadz Basar, menjelaskan bahwa konsep tim al-Banjari ini dirancang untuk membentuk suasana khidmat dan selaras dengan pembacaan hizib.

​”Kami mendapat amanah dari panitia untuk memandu acara yang intinya adalah istigasah dan pembacaan hizib, agar terasa khidmat dan berkesan bagi para santri,” ungkapnya.

Tepat saat MC mempersiapkan pembukaan, sepuluh santri tersebut mengambil posisi. Ketika pukulan terbang pertama dibunyikan, suasana lapangan yang semula bising perlahan melandai menjadi ketenangan yang padu.

Baca juga: Mauizah HSN 2026: Tekad Mengubah Diri hingga Menjadi Orang Asing yang Beruntung

Lantunan Qasidah Burdah membumbung tinggi, menyebar di antara ribuan santri, disusul Shalawat al-Habsyi yang diiringi ketukan cepat dan presisi khas al-Banjari. Selama 30 menit durasi pra-acara, tim Shalawat al-Banjari tak sekadar mengisi kekosongan waktu sembari menunggu santri merapikan barisan, tetapi mereka menjadi pengondisi jiwa, menuntun ribuan hadirin masuk ke dalam kekhusyukan acara inti.

Bagi para pengisi acara, tampil di panggung HSN Sidogiri bukan tentang sorot kamera atau tepuk tangan. Ini adalah bentuk khidmah kepada para masyayikh, pesantren, dan ikatan sejarah perjuangan Resolusi Jihad 1945.

​Dua minggu latihan yang begitu intensif, malam itu terbayar tuntas. Lewat jemari yang menari di atas kulit terbang, sepuluh santri Sidogiri telah membuktikan bahwa tradisi, kedisiplinan pesantren, dan semangat cinta shalawat sanggup merajut malam Hari Santri Nasional 2026 menjadi kenangan yang tak mudah dilupakan.

Penulis: Nijaful Ali
Editor: Elmaghroby

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *