Nama Madrasah Miftahul Ulum (MMU) tentu tak asing di kalangan santri dan masyarakat sekitar Sidogiri. Di balik berdirinya madrasah ini, ada sosok ulama penuh keteladanan yang dikenal sangat hati-hati dalam menjaga adab dan kesucian ilmu. Beliau adalah K.H. Abd. Djalil, atau yang lebih akrab dikenal dengan panggilan Kiai Djalil.
Kiai Djalil lahir dari keluarga dengan garis keturunan ulama dan wali. Dari jalur ayah, nasab beliau tersambung ke Sunan Drajat dan Sunan Ampel. Sementara dari jalur ibu, beliau adalah cicit dari ulama besar asal Makkah, Syekh Abu Bakar asy-Syatha ad-Dimyathi, pengarang kitab I’anatut-Thalibin yang masyhur di kalangan pesantren.
Sejak kecil, beliau dikenal memiliki sifat tenang, sabar, dan sangat menjaga sopan santun. Bahkan ketika nyantri di Sidogiri, beliau sangat berhati-hati agar tidak menyentuh barang orang lain tanpa izin. Sisa kayu bakar, sandal, hingga jemuran milik teman pun dijaga kehormatannya. Inilah yang kemudian membuat banyak orang menyebutnya sebagai sosok wara’ sejati, ulama yang penuh kehati-hatian dalam setiap langkahnya.
Di Pondok Pesantren Sidogiri, beliau adalah murid kesayangan Kiai Nawawie bin Noerhasan. Tidak hanya menyerap ilmu, beliau juga meneladani akhlak sang guru. Hingga akhirnya, Kiai Nawawie menikahkan putrinya, Nyai Hanifah, dengan Kiai Djalil.
Tahun 1347 H (1930 M), Kiai Nawawie wafat. Saat itu, Kiai Djalil sedang berada di Makkah. Saat kembali ke tanah air, beliau diminta untuk melanjutkan estafet kepemimpinan pesantren. Meski sempat menolak dan mengusulkan nama lain, akhirnya beliau menerima amanat besar itu.
Pada masa awal kepemimpinannya, sistem pendidikan di Sidogiri masih menggunakan metode sorogan. Namun, seiring bertambahnya santri, muncul usulan untuk mendirikan lembaga pendidikan klasikal. Meski sempat keberatan, karena khawatir sisa kapur bertuliskan ayat al-Quran akan terinjak, akhirnya Kiai Djalil menyetujui usulan tersebut setelah melakukan istikharah.
Tanggal 14 Shafar 1357 H atau 15 April 1938 M, berdirilah Madrasah Miftahul Ulum (MMU) tingkat Ibtidaiyah sebagai cikal bakal sistem pendidikan madrasah di Sidogiri. Tempat belajarnya kala itu masih sangat sederhana: di surau, masjid, dan rumah keluarga masyayikh.
Kini, MMU telah berkembang pesat. Beberapa madrasah ranting atau afiliasi tersebar di banyak daerah. Madrasah ini menjadi salah satu lembaga pendidikan diniyah yang disegani dan dipercaya masyarakat hingga saat ini.
Semangat keikhlasan dan adab yang ditanamkan oleh Kiai Djalil tetap hidup dalam setiap jengkal kegiatan belajar-mengajar di MMU. Beliau tidak hanya mewariskan sistem pendidikan, tetapi juga nilai-nilai kesalehan yang mendalam. Semoga kita semua diakui sebagai santrinya, Amin. Lahul-Fâtihah.












