Haul ke-61 KH. Noerhasan bin Nawawie dilaksanakan pada Ahad malam (09/08) di asrama Daerah I Pondok Pesantren Sidogiri. Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB selepas Isyak tersebut dihadiri oleh alumni, santri, simpatisan, keluarga, serta masyarakat umum. Haul tahun ini berlangsung khidmat dengan jumlah jemaah yang tampak lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Rangkaian acara dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama, dikhususkan bagi keluarga dan warga Sidogiri dengan jumlah sekitar 500 undangan. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sesi kedua untuk undangan umum. Sementara itu, santri aktif Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) mengikuti rangkaian haul secara terpisah di daerah masing-masing.
Baca juga: Malam Penghargaan Imda I MMU Ibtidaiyah, Apresiasi bagi Murid dan Guru Berprestasi
Acara diawali dengan sambutan perwakilan keluarga yang disampaikan oleh Ustadz H. Masykuri Abdurrahman, kemudian dilanjutkan sambutan perwakilan alumni sekaligus panitia oleh H. Ahmad Bushiri. Setelah itu, Mas H. Muhsin membacakan manaqib Almaghfurlah KH. Noerhasan bin Nawawie.
Dalam pembacaan manaqib tersebut, KH. Noerhasan dikenang sebagai sosok ulama sekaligus sufi. Sifat zuhud, khumul, dan kebiasaan menghidupkan malam menjadi bagian dari keteladanan beliau. Bahkan, setelah kewafatannya, KH. Noerhasan sempat enggan menerima amanah sebagai pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri. Hal tersebut sempat menyebabkan kekosongan kepemimpinan di PPS.
Memasuki acara inti, mauizah hasanah disampaikan oleh KH. Nukman Abd. Majid, Pengasuh PP Hidayatullah Tampung sekaligus Rais Syuriah MWC NU Kecamatan Gondang Wetan, Pasuruan.
Dalam mauizahnya, Kiai Nukman mengingatkan pentingnya mengenang dan mempelajari perjalanan hidup para ulama. Beliau menyampaikan sebuah ungkapan yang menggambarkan keutamaan menulis, membaca, dan menziarahi biografi orang-orang saleh. Menurutnya, mencatat biografi seorang mukmin seakan-akan menghidupkannya, membacanya seakan-akan menziarahinya, sedangkan menziarahinya menjadi jalan untuk mendapatkan keridaan Allah di surga.

Kiai Nukman juga menjelaskan bahwa perhatian para auliya kepada murid, muhibbin, dan pengikutnya tidak berhenti setelah wafat. Bahkan, perhatian tersebut dapat menjadi lebih besar karena tidak lagi terhalang oleh keterbatasan hubungan secara lahiriah. Sebab itu, beliau mengajak para santri untuk menjadikan momentum haul sebagai sarana memperkuat pengabdian kepada guru.
“Siapa yang mendekat kepada gurunya dengan pengabdian, maka Allah akan mendatanginya dengan kemuliaan,” tutur beliau.
Selain pengabdian, Kiai Nukman juga menekankan pentingnya menjaga keyakinan dan adab seorang murid kepada guru. Beliau menyoroti fenomena ketika sebagian murid justru berseberangan dengan guru, bahkan berani menyalahkan pilihan yang telah ditetapkan gurunya.
Baca juga: 58 Ranting Ikuti Muammar Tsanawiyah, Ajang Evaluasi Hasil Belajar Antar-Madrasah
Menurut beliau, seorang murid hendaknya memahami posisi guru dan menjaga adab dalam hubungan keilmuan. Ketika guru telah menentukan suatu pilihan, murid tidak semestinya gegabah mempertentangkan atau menyalahkannya.
Kiai Nukman kemudian menguraikan pentingnya keyakinan seorang santri kepada guru sebagaimana yang dikisahkan dalam Tafsir Bahrul Madid karya Imam Ahmad ibn ‘Ajibah. Beliau menyampaikan tiga prinsip yang dapat menjadi pegangan seorang murid dalam memandang gurunya.
Pertama, meyakini bahwa guru menjadi salah satu perantara yang mengantarkan dirinya menuju wusul kepada Allah. Kedua, menyadari bahwa guru tetap merupakan manusia biasa yang tidak maksum. Ketiga, memahami bahwa kesalahan guru merupakan urusannya dengan Allah, sehingga seorang murid tidak memiliki hak untuk mencampurinya dengan sikap yang merusak adab.
Rangkaian haul kemudian dilanjutkan dengan pembacaan surah Yasin yang dipimpin oleh Habib Syekh bin Abdullah al-Haddad, yang diteruskan dengan pembacaan tahlil oleh Ustadz H. Syamsul Huda Ajib dan ditutup dengan doa bersama.
Melalui haul tersebut, para jemaah diharapkan tidak hanya mengenang KH. Noerhasan bin Nawawie sebagai bagian dari sejarah Pondok Pesantren Sidogiri, tetapi juga mampu mengambil keteladanan dari keilmuan, kezuhudan, dan pengabdian beliau. Momentum haul pun menjadi kesempatan untuk memperbarui hubungan batin dengan para masyayikh serta melanjutkan nilai-nilai perjuangan yang telah diwariskan.
Penulis: Muhammad Fajar
Editor: Elmaghroby












