Kuliyah Syariah Gelar Kajian Tafsir Bersama Gus Baha
Okt31

Kuliyah Syariah Gelar Kajian Tafsir Bersama Gus Baha

Malam Kamis (30/09) Kuliah Syariah Pondok Pesantren Sidogiri menggelar kajian tafsir bersama KH. Bahauddin Nursalim. Bertempat di ruang Auditorium Sekretariat lantai II, acara yang menjadi agenda rutin Kuliah Syariah ini dihadiri oleh beberapa keluarga sidogiri dan beberapa santri Aliyah Pondok Pesantren Sidogiri. Dalam acara dimaksud, Gus Baha menjelaskan mengenai ‘ibarat “al-Ibrah bi-Umumil-Lafdzi la bi-Khususis-Sabab” yang ada di berbagai kitab tafsir. Baca juga: Beberapa Proyek Pondok Pesantren Sidogiri Ulama asal rembang ini menjelaskan bahwa al-Quran itu merupakan ‘Khithabun lil-am’ (siapa saja terkena khitabnya al-Quran). Namun juga ada problem, jika khususis-sabab tidak dimasukkan pada disiplin ilmu tafsir maka juga berpotensi berbahaya. Semisal ayat: وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ Jika kita menggunakan ‘bi-Umumil-Lafdzi’ maka kita boleh salat menghadap ke arah mana pun meninjau keumuman lafadz ayat tersebut, sehingga ulama berdebat, apakah mengkaji sebab itu mengikat atau tidak. Baca juga: Launching Mushaf al-Miftah Menyikapi hal itu kita perlu mengetahui, benarkah suatu kejadian menjadi sebab turunnya ayat. “Hal ini juga berpotensi tidak benar karena al-Quran jauh lebih dulu ada (qadim), sedangkan kejadian yang menjadi penyebab turunnya ayat itu baru. Mana mungkin sesuatu yang baru menyebabkan adanya sesuatu yang qadim.” Ungkap putera KH. Nursalim ini. Baca juga: Evaluasi; Sidogiri.Net Perlukah Perubahan? Kesimpulan dari keterangan beliau, kalamullah itu ada terlebih dahulu, kemudian sebagian kejadian yang baru itu masuk pada bagian keumuman lafadz, bukan menyebabkan turunnya ayat. Tidak mungkin sesuatu yang baru menyebabkan adanya sesuatu yang qadim. “Karena kalamullah itu qadim dan ilmu Allah itu tidak menunggu terhadap terjadinya sesuatu maka kita mengambil Umumil-Lafdzi  bukan  Khususis-Sabab, karena hakikat sebab ini hanya juzun min ajzai mutakallam bih (juz dari bagian yang dibicarakan), bukan penyebab.” Jelas beliau panjang lebar. Oleh karenanya Allah sering menggunakan lafadz umum. Seperti ayat: إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ   أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ Menurut keterangan Gus Baha, khitab ayat ini adalah kepada Abu Jahal, karena sebab turunnya ayat ini adalah perilaku Abu Jahal. Tapi apakah sifat demikian tertentu pada Abu Jahal saja. Tentu siapapun yang merasa tidak butuh pada orang lain pasti dengan sendirinya akan Thagha (kewalahan). Jadi bukan hanya Abu Jahal yang memiliki watak seperti itu dengan meninjau keumuman lafadz ayat tersebut. Karena jika meninjau kekhususan ayat tersebut, yakni pada Abu Jahal, tentu tidak akan ada orang selain Abu Jahal yang bersifat demikian. Baca juga:  Bahas Film The Santri, Ust. Nahdlor Tsana’i: Santri Tidak Seperti Itu! Acara ini merupakan kali kedua beliau datang ke Sidogiri dan akan berlangsung setiap bulannya dengan kajian yang berbeda. _________ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Semarak Materi Baru
Okt30

Semarak Materi Baru

Demi mengembangkan kadar bacaan al-Qur’an santri pondok pesantren sidogiri. Madrasah Ta’limul Qur’an (MTQ) melakukan pembaruan materi. Dengan merujuk kepada kitab-kitab yang menjelaskan tentang tajwid,  Materi pengajiaan MTQ pada tahun ini mengalami pembaruan yang lebih mempermudah para santri untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan bacaan Al-Quran, seperti  lafadz-lafadz ghorib (yang jarang diketahui), dengan mentashih kembali materi pengajian MTQ yang dulu menjadi materi baru seperti yang kita pelajari saat ini. Baca juga: Beberapa Proyek Pondok Pesantren Sidogiri “Dengan merujuk pada kitab-kitab yang menjelaskan tentang ilmu tajwid, kami melakukan pembaruan pada materi MTQ dengan mentashih kembali materi MTQ yang dulu. Karna materi yang dulu masih ada yang kurang”. Terang Ust. Nurul Huda selaku pengurus bagian MTQ. Baca juga: Launching Mushaf al-Miftah Bukan hanya itu, pengurus MTQ juga melakukan perubahan pada pembayaran ujian marhalah MTQ, pembayaran MTQ pada saat ini lebih murah dari sebelumnya, karna pembayaran saat ini untuk dua kali ujian yaitu di ujian yang pertama dan kedua. Dengan begitu para santri tidak perlu membayar ujian lagi di ujian yang kedua, karena sudah melunasi pembayaran di ujian yang pertama. Sedangkan tujuan pengurus MTQ mengumpulkan pembayaran ujian semester pertama dan kedua, agar lebih mempermudah pengurus MTQ dalam mendata para santri yang ikut ujian dan lebih menghemat uang yang digunakan ketika ujian. Baca juga: Evaluasi; Sidogiri.Net Perlukah Perubahan? Baca juga:  Bahas Film The Santri, Ust. Nahdlor Tsana’i: Santri Tidak Seperti Itu! __________ Penulis: Wahab* Editor: Saeful Bahri bin Ripit *Redaksi Mading...

Selengkapnya
Lama Tidak Digunakan, Akan Disulap Menjadi WC
Okt29

Lama Tidak Digunakan, Akan Disulap Menjadi WC

Salah satu proyek yang menghabiskan dana sekitar Rp 25.000.000,- adalah toilet khusus untuk buang air kecil yang berlokasi di bawah Daerah J. Berdirinya bangunan tersebut atas usulan sebagian kepala daerah ketika dilaksanakan rapat pleno pada tahun 1435 H. Alasannya, karena kekurangan toilet khusus buang air kecil di Pondok Pesantren Sidogiri, sehingga banyak santri terpaksa buang air kecil di sungai. Setelah bangunan itu telah lama berdiri, bahkan sempat difungsikan untuk buang air kecil, ternyata terjadi kesalahan teknis. Keberadaan toilet tersebut tidak sesuai dengan keinginan pengurus, dengan alasan konstruksi bangunan tersebut kurang efisien. Ada yang mengatakan bahwa toilet tersebut sering disalahgunakan seperti untuk mencuci pakaian dan tempat melanggar peraturan. Pada tahun ini, Kepala Pengadaan, Perawatan dan Perbaikan (P3S), Ust. Hanafi Basri berinisiatif untuk mengfungsikannya kembali sebagai water closed (WC) dengan alasan agar toilet tersebut tidak sia-sia serta dapat mengurangi antrean saat buang air besar. Baca juga: Beberapa Proyek Pondok Pesantren Sidogiri Akan tetapi, dalam pelaksanaannya Kepala P3S ini masih menunggu kesepakatan dari Ketua IV, H Nurhasan Ghozi dan Pengurus Harian yang lain untuk merenovasi toilet tersebut. ”Kalau ada rekomendasi dari Ketua IV dan Pengurus Harian, akan kami laksanakan seketika itu pula,” tegas pria asal Pasuruan tersebut kepada reporter Maktabati, Rabu (28/11). Baca juga: Launching Mushaf al-Miftah Selain itu, beliau menegaskan bahwa dasar pembangunan toilet tersebut masih belum jelas. Saat P3S di bawah pimpinan Ust. Badrus Sholeh (Kepala Sihli saat ini) bangunan khusus buang air besar tersebut tidak relevan, sehingga mengakibatkan banyak hal yang tidak diharapkan terjadi seperti berbau tidak sedap, dan menjadi tempat melanggar. Baca juga: Evaluasi; Sidogiri.Net Perlukah Perubahan? Pada akhir perbincangan, beliau berharap semoga rencana untuk merenovasi toilet tersebut cepat terlaksana sehingga para santri dapat melakukan buang air besar di situ.”Untuk sementara waktu kami sarankan bagi santri agar tetap bersabar sampai toilet yang baru selesai dibangun,” pungkasnya. Baca juga:  Bahas Film The Santri, Ust. Nahdlor Tsana’i: Santri Tidak Seperti Itu! ________ Penulis: Lim* Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Beberapa Proyek Pondok Pesantren Sidogiri
Okt28

Beberapa Proyek Pondok Pesantren Sidogiri

Saat ini, terdapat banyak proyek pembangunan yang ada di Pondok Pesantren Sidogiri meliputi fasilitas kamar mandi, gedung MMU, dll. Dalam hal ini, pengurus berupaya untuk fokus dalam menyelesaikan proyek yang dinilai paling dibutuhkan terlebih dahulu, selebihnya akan tetap dilaksanakan secara bertahap. Baca juga:Launching Mushaf al-Miftah Dengan pembangunan Mabna al-Ghazali sejak lima tahun yang lalu, mengawali planing pembangunan fasilitas-fasilitas yang kini mulai dikerjakan atas inisiatif Ketua IV, Mas Nurhasan Ghozi. Pada mulanya, pembangunan yang  memakan biaya kurang lebih sebelas miliar Rupiah ini diperuntunkan untuk jeding baru, Mabna an-Nawawi, dan proyek lainnya berdasarkan hasil keputusan Pengurus Harian. Baca juga: Evaluasi; Sidogiri.Net Perlukah Perubahan? Untuk target penyelesaian jeding baru yang terletak di samping mabna al-Ghazali, ditargetkan rampung pada bulan Oktober mendatang, dikarenakan kebutuhan yang sangat mendesak dan juga telah memperkerjakan kuli bangunan yang memiliki kontrak kerja selama sepuluh bulan. Baca juga:  Bahas Film The Santri, Ust. Nahdlor Tsana’i: Santri Tidak Seperti Itu! Sedangkan proyek lainnya, seperti mabna an-Nawawi luput dari target yang ditentukan, yakni selesai dalam jangka waktu dua tahun, hal ini disebabkan oleh kendala biaya yang memang tidak dicairkan secara langsung kepada pihak yang bersangkutan. Meskipun demikian, pihak yang berwewenang, P3S tetap menunggu instruksi dari atasan. “Untuk hal itu kami masih menunggu konfirmasi dari Ketua Umum, meskipun sudah kami target sedemikian rupa, tapi kalau belum direstui oleh beliau kami tidak berani,” terang Ust. Hanafi Basri, kepala P3S, Selasa (12/12). Untuk gapura Balai Tamu yang terletak di samping perpustakaan telah selesai pada tanggal 23-Dzul Hijjah-1440 H. Gapura tersebut mulanya adalah bekas lahan parkir mobil milik kantor kopontren, lalu dijadikan lahan parkir sepeda motor dan gapura. __________ Penulis: Dimas Aji Suhar Billah* Editor: Saeful Bahri bin Ripit *Redasi Mading...

Selengkapnya
Mahasiswi UNAIR Surabaya Fakultas Bisnis Kunjungi Sidogiri
Okt27

Mahasiswi UNAIR Surabaya Fakultas Bisnis Kunjungi Sidogiri

Sabtu (27/02), mahasiswi Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Sidogiri. Tepat jam 09:00 Wib pagi mereka tiba di Pondok Pesantren Sidogiri. Mahasiswi fakultas ekonomi dan bisnis tersebut diterima oleh pihak Kopontren Sidogiri di Ruang Rapat Kantor SEC (Sidogiri Excellent Centre). Baca juga: Evaluasi; Sidogiri.Net Perlukah Perubahan? Para mahasiswi tersebut bermaksud menambah wawasan terkait ilmu yang berhubungan dengan masalah ekonomi. Studi banding lebih fokus mengenai pengelolaan, peningkatan kualitas serta motivasi kinerja. Hadir sebagai narasumber adalah Ust. Baihaqi Juri selaku Sekretaris Kopontren Sidogiri dan didampingi oleh Ahmad Edi Amin Direktur Bisnis Kopontren Sidogiri. Baca juga:  Bahas Film The Santri, Ust. Nahdlor Tsana’i: Santri Tidak Seperti Itu! Setelah melakukan studi banding ke Kopontren Sidogiri, 25 mahasiswi tersebut melanjutkan studi bandingnya ke BMT-UGT Sidogiri. _________ Penulis: Halim* Editor: Saeful Bahri bin Ripit *Redaksi Mading...

Selengkapnya
Launching Mushaf al-Miftah
Okt26

Launching Mushaf al-Miftah

Malam Jumat kemarin (25/10), Mushaf al-Miftah telah resmi diluncurkan oleh Koordinator Al-Miftah lil-Ulum, Ust. Qusyairi Ismail di Gedung Sidogiri Excellent Center (SEC). Acara juga dimaksudkan untuk mengupas tuntas isi dan kelebihan dari mushaf ini. Baca juga: Evaluasi; Sidogiri.Net Perlukah Perubahan? Hadir sejumlah Pimpinan Tarbiyah Idadiyah Pondok Pesantren Sidogiri dan Tim Idadiyah. Sementara itu, bagi santri yang ingin mengikuti lounching ini disyaratkan membawa Mushaf al-Miftah, karena akan dijelaskan bagaimana cara menggunakan mushaf tersebut dengan baik. Sambutan yang pertama datang dari Ust. Qusyairi Ismail. Dalam sambutan tersebut beliau menyampaikan keinginannya, dengan adanya Mushaf al-Miftah ini sekiranya yang banyak terasa sedikit, karena dipeta-petakan. Beliau juga menceritakan bagaimana awal mula punya inisiatif menyusun metode Mushaf al-Miftah ini. Baca juga:  Bahas Film The Santri, Ust. Nahdlor Tsana’i: Santri Tidak Seperti Itu! Rencananya, Ust. Qusyairi, akan membangun Pondok Tahfidz dengan sistem perkamar berisi pemahaman satu surat, misal kamar al-Baqarah. Namun, beliau berfikir kembali hal tersebut dirasa sangat berat, baik dari segi biaya maupun tanah yang akan dibangun. Nah, dari sanalah akhirnya beliau berfikir untuk mengkrucutkan mimpinya dengan membuat mushaf hafalan saja, maka lahirlah Mushaf al-Miftah ini. Kemudian, Ust.  Jakfar Sodik menjelaskan tentang trik menghafal. Beliau menjelaskan kemudahan dalam Mushaf al-Miftah yang dapat menentukan 5 hal, diantaranya: Mudah menentukan posisi Mudah menentukan halaman awal juz Mudah menentukan halaman akhir juz Mampu menebak juz Menentukan ayat, robith ataupun halaman dengan warna “Kita akan semakin mudah menetukan posisi ayat yang kita hafal ada dimana, untuk itu kita harus tahu bahwa halaman dengan angka ganjil pasti berada di kanan, sedangkan yang genap ada disebelah kiri, bisa dipaham?”, kata Ust. Jakfar mendemonstrasikan kemudahan al-Quran al-Miftah ini. Selanjutnya Ust. Abul Khoir mengupas isi dan sejarah terbentuknya Mushaf al-Miftah ini . Beliau yang memberi warna dan juga menyusun sedemikian rupa tata letak warna pada Mushaf al-Miftah. Hal yang perlu diketahui tentang Mushaf al-Miftah ini adalah bahwa proses kerja ini menghabiskan waktu lebih dari 1 tahun dan metodenya meniru metode menghafal dari Maroko. “Menghafal tidak butuh otak, seekor burung saja menirukan kata-kata manusia tidak menggunakan otaknya”, kata  Ust. Abul yang disampaikan ketika mulai menjelaskan bagaimana mudahnya menghafal. Beliau menegaskan bahwa menghafal harus mengedepankan otak kanan, walaupun otak kiri yang paling banyak berfungsi untuk menghafal. “Harus menyediakan waktu 3 jam sehari untuk murajaah atau pengulangan. Dan carilah waktu yang tenang untuk menghafal yakni waktu pagi”, jelasnya memberikan tips menghafal. Beliau juga menyimpulkan bahwa Mushaf al-Miftah memiliki keunggulan karena sistemnya dipetakan atau main map (peta otak). Otak diarahkan untuk mengenal al-Quran bukan sebagai beban karena banyak, tapi lebih menganggapnya mudah karena ringan dalam pikiran, sebab telah dipetakan tadi. Selain itu, ada penghubung antar ayat sehingga bagi yang membaca ayat 1 maka dalam pikirannya langsung terbayang ayat...

Selengkapnya