Taujihad Pertemuan Guru 1434Taujihad Pertemuan Guru 1434Taujihad Pertemuan Guru 1434

share to

Taujihat Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri

dalam Pertemuan Staf Pengajar MMU

Selasa, 27 Syawal 1434 H.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله  الحمد لله  والصلاة والسلام على رسول الله   وعلى أله وصحبه ومن والاه. أما بعد

Alhamdulillah, kita bisa kembali bertatap muka di pertemuan yang sangat penting ini sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Diselenggarakannya pertemuan ini pada awal tahun, sesuai dengan program yang telah ditetapkan, menandakan bahwa para pengelola pendidikan di Madrasah Miftahul Ulum Pondok Pesantren Sidogiri ini telah benar-benar siap untuk menjalankan program-program kemadrasahan yang lain secara keseluruhan. Komitmen semacam ini sangat penting untuk kita tanamkan sejak awal, dan perlu kita hidupkan secara terus menerus, agar spirit yang telah tertanam dalam diri kita terus berkobar, hingga amanat yang kita emban ini nantinya bisa tertunaikan dengan sempurna. “Awalan yang baik akan membuahkan akhiran yang baik pula”, kata salah seorang guru sufi.

Untuk itu, kedisiplinan adalah kunci bagi terlaksananya tugas-tugas yang tengah kita emban. Kita membutuhkan kekuatan hati untuk bisa disiplin, dari awal sampai akhir. Disiplin saat masih baru, atau saat masih awal tahun, adalah hal yang amat mudah. Tapi, untuk bertahan disiplin dari awal sampai akhir, dan tetap semangat saat memasuki masa jenuh, memerlukan kematangan hati dan kemantapan visi. Sangat banyak nasehat dari para leluhur yang kita dengar, bahwa menjalani hal-hal biasa secara kontinu setiap waktu, jauh lebih hebat daripada melakukan hal luar biasa, tapi cuma satu kali.

Yang membuat kita disiplin itu adalah semangat yang ada dalam diri kita sendiri. Jika seseorang sudah cukup termotivasi, maka kedisiplinan akan terbentuk sendiri. Jika kita tidak termotivasi dan tidak terbiasa mengatur waktu, maka kedisiplinan adalah mekanisme yang amat menyeramkan. Motivasi dalam diri kita menyebabkan kedisiplinan menjadi sesuatu yang indah.

Hilangnya motivasi setidaknya disebabkan dua hal. Yang pertama, adalah karena kita belum meresapi pentingnya apa yang kita lakukan. Yang kedua, karena ada hal lain yang membuat kita jadi lalai. Saya yakin, kematangan yang dimiliki oleh Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara sekalian dapat melenyapkan dua faktor negatif ini.

Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara Dewan Guru sekalian…

Hal lain yang juga menjadi tugas asasi bagi setiap guru, adalah peranan guru yang tidak hanya sebagai pengajar, tapi juga sebagai pendidik, pembimbing, pengayom, pengarah, dan teladan yang baik bagi murid-muridnya. Guru tidak selayaknya hanya sekadar membacakan materi-materi yang terkandung dalam tumpukan kitab-kitab, lalu menerangkan isinya secara panjang lebar, lantas selesai. Hal seperti itu tentu jauh dari kata cukup. Guru juga harus mengenal kepribadian murid secara lebih detail, agar bisa memberikan arahan, bimbingan, serta evaluasi, tidak saja terhadap nilai-nilai materi pelajaran yang dicapai oleh murid, tapi juga terhadap nilai-nilai akhlak, perilaku keseharian, serta kecenderungan kejiwaannya. Demikianlah tugas guru seutuhnya. Guru sejati adalah ia yang bisa memberikan bimbingan secara kontinu kepada murid secara lahir dan batin, hingga si murid bisa sampai pada tahap pencapaian yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Itulah sejatinya tugas yang diamanatkan oleh Pengasuh kepada Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara sekalian. Bagaimanapun, Pengasuh tidak memiliki banyak kesempatan dan keleluasaan untuk mendidik dan membimbing santri-santri secara langsung, sehingga beliau mengangkat Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara sekalian untuk itu. Lalu jika kemudian Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara sekalian hanya bersedia membacakan dan menerangkan isi kitab-kitab saja, lantas merasa tidak punya waktu dan kesempatan untuk memberikan pendidikan dan bimbingan, lalu apalah artinya pengangkatan dan penyerahan amanat yang mulia ini?

Kedisiplinan memang sangat penting, sebagaimana telah saya nyatakan tadi. Namun jangan kemudian kedisiplinan justru hanya diwujudkan sebagai formalitas yang kaku; presensi kehadiran seratus persen sekalipun menjadi tidak penting jika mengajar di kelas hanya menjadi rutinitas yang berjalan seperti mesin; jika bel berbunyi segera masuk kelas, lalu memberikan makna kitab dan penjelasan, setelah itu bel kembali berbunyi, kita pun istirahat dan pulang. Tanpa melakukan pendekatan terhadap kepribadian murid, tanpa memberikan bimbingan dan pendampingan, tanpa memberikan arahan dan kasih sayang, guru tak ubahnya raga tanpa jiwa, seperti jasad yang kehilangan ruh. Tentu, keadaan semacam ini sangat tidak kita harapkan.

Jika kita memahami tugas dan peran kita yang sesungguhnya, maka pasti kita bisa merasakan betapa tugas ini bukan tugas yang remeh dan sepele, namun tugas yang sangat berat dan agung. Kiai Choliel Nawawi mengatakan, bahwa tugas menjadi guru jauh lebih berat daripada tugas sebagai pengurus. Karena itu, jalankanlah tugas ini dengan penuh kesungguhan dan kehati-hatian. Lakukan dan teladankan hal-hal baik kepada murid-murid, sekecil apapun nilai kebaikan itu, sampai kebaikan itu tertanam di dalam jiwa mereka. Hindari hal-hal yang tidak baik, sekecil apapun itu, karena ia pasti akan memberikan pengaruh negatif kepada hasil yang akan dicapai oleh murid, sekecil apapun pengaruh itu.

Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara Staf Guru sekalian…

Menjalankan peran sebagai guru, lebih-lebih pada zaman seperti sekarang ini, tentu tidaklah mudah. Diperlukan niat yang tulus, mental yang kuat, keuletan, ketelatenan, ketekunan dan kesabaran. Semua orang dari kita sepertinya sepakat bahwa umat ini sedang terpuruk, sedang porak poranda secara moral dan sosial. Generasi muda berada di tubir jurang yang sangat mengkhawatirkan, atau bahkan sedang ramai-ramai terjun ke sana. Sudah biasa kita mendengar keluh kesah tentang dekadensi moral remaja kita saat ini. Namun, sedikit sekali di antara keluh kesah itu yang disertai semangat untuk mengubahnya. Orang-orang kita telah terjebak ke dalam pola pikir pasrah terhadap keadaan. Orang-orang kita tidak begitu peduli, mungkin karena khawatir ketenangan hidupnya terusik, mungkin karena tidak memiliki teman yang punya semangat sama, mungkin karena pesimis, dan mungkin karena faktor-faktor yang lain.

Posisi sebagai guru di pesantren adalah titik yang paling tepat untuk membangun umat ini, merekahkan kembali fajarnya yang telah redup. Para santri dan murid ini adalah anak-anak panah yang siap dilepaskan dan mengubah keadaan masyarakat jika kita mampu merautnya dengan baik. Kita mesti menyiapkan mereka agar menjadi kader-kader yang militan terhadap dakwah dan perjuangan agama.

Oleh karena itu, setiap detik di madrasah ini adalah waktu yang sangat mahal dan berharga. Tolong gunakan, dan persiapkan dengan baik. Jangan sampai disia-siakan, dengan jam kosong atau sajian-sajian yang tidak berguna, jangan sampai diisi dengan humor yang tidak perlu, dan hal-hal tak penting yang lain. Di desa-desa, apalagi di kota, sudah jarang orangtua yang semangat terhadap ilmu agama. Madrasah-madrasah diniyah sudah banyak yang bubar gara-gara les sekolah dan kegiatan pramuka. Ini terjadi di mana-mana. Para alumni santri sendiri sudah banyak tidak semangat dengan ilmu agama. Lalu, kalau kita tidak semangat, siapa lagi yang akan menyebarkan ilmu agama ini?

Pendidikan diniyah sudah menjadi kelompok minoritas. Senjata kita yang tersisa hanyalah militansi dan semangat. Jika keduanya habis, tamatlah pendidikan diniyah ini. Isian waktu di madrasah ini sangat menentukan bagi corak masyarakat kita ke depan. Sebab, para staf guru sekalian merupakan salah satu unsur yang paling berpengaruh dalam membentuk pandangan hidup dan wawasan para santri dan murid. Apa dan bagaimana mereka di kemudian hari, dan apa yang bisa mereka perbuat untuk umat, sangat bergantung pada sejauh mana pengetahuan yang mereka miliki, dan setinggi apa keteladanan yang mereka dapatkan.

Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara Staf Guru sekalian…

Berkiprah di lembaga pendidikan ini, membutuhkan kesabaran dalam segala bentuk dan macamnya. Sabar dalam mematuhi ketentuan, sabar dalam menjauhi larangan, sabar dalam menahan kejenuhan, dan sabar-sabar yang lain. Sebab, pendidikan bukanlah suatu kegiatan yang terjadi secara sporadis dan instan. Pendidikan adalah sebuah proses yang berkesinambungan dari waktu ke waktu. Nyaris tanpa jeda, dan tanpa akhir. Tidak seperti membangun gedung yang membutuhkan tenaga ekstra tapi bisa selesai dalam beberapa waktu.

Meskipun saya sendiri bukanlah seorang guru atau pengajar, saya bisa membayangkan bahwa betapa mengajar itu merupakan suatu kegiatan yang amat menjenuhkan. Sangat dibutuhkan ketahanan dan kemauan untuk terus menyemangati diri sendiri. Dari sisi bentuk kegiatan, sebetulnya mengajar itu bukanlah pekerjaan yang berat, namun dari segi tanggungjawab sangatlah berat. Tanggung jawab keteladanan, tanggung jawab kebenaran, tanggung jawab kedisiplinan, dan tanggung jawab-tanggung jawab yang lain.

Semoga pertolongan dan lindungan Allah senantiasa memayungi diri kita sekalian. Semoga pengabdian kita semua menjadi amal jariyah yang menjadi lentera bagi kita kelak di Hari Pembangkitan. Semoga pengabdian kita bisa menjadi tali penyambung dengan para Masyayikh kita.

Semoga Allah menurunkan berkah dalam segala sisi hidup kita. Semoga anak-anak kita dan murid-murid kita dijadikan orang-orang yang berilmu tinggi, tekun beribadah, dan santun budi pekertinya. Semoga keluarga kita dijadikan sebagai keluarga yang tenteram dengan rezeki yang mudah dan halal, serta terang dengan cahaya keimanan yang terang benderang. Amin ya Rabbal-Alamin.

Sidogiri, 26 Syawal 1434 H 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

d. Nawawy Sadoellah

Katib Majelis Keluarga

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *