Tahun Baru, Apa Tahun “Bherui”?

share to

Selamat tahun barui (baca: basi). Itulah gojlokan salah satu teman kepada saya. Awalnya agak jengkel, akan tetapi setelah dipikir ulang, omelan itu ada benarnya. Mengingat, kalender memang sudah baru, akan tetapi diri saya sendiri belum pernah baru, alias barui.
Dari cemoohan itulah, saya sadar, bahwa yang terpenting dalam tahun baru bukan perayaan. Akan tetapi, me-restart ulang semua perilaku saya. Ctrl + S (save) pada semua file penting, sedangkan virus harus segera di-Ctrl + D (delete).
Selain itu, saya harus meng-instal software baru serta meng-upgrade ke versi terbaru. Agar omongan barui tidak terdengar lagi. Sebab, dengan melakukan semua itu, “komputer” akan terasa baru, tanpa harus membeli yang baru.
Juga, yang lebih penting adalah: empty recycle bin. Dengan begitu, semua virus yang sudah di-delete tidak bisa di-restore kembali.
Terakhir, jangan malu untuk merubah background dan menata ulang tampilan di desktop. Karena, untuk menata bagian dalam, harus dimulai dengan menata bagian luar terlebih dahulu.
Seandainya, setiap tahun baru saya melaksanakan seluruh item di atas, niscaya akan menjadi manusia baru. Meski kenyataannya sudah berkepala tiga.
Saya teringat pada saat liburan (baca: pulangan) kemarin. Tepatnya, saat jalan-jalan di ITCity, Surabaya. Di salah-satu lantai—entah lantai berapa—saya melihat jejeran stan eletronik. Di salah satu stan, terlihat penjual memamerkan salah-satu barangnya. Saya tertawa dalam hati, melihat laptop baru keluaran 2017, Microsoft Office-nya masih 2003. Lebih tepatnya—julukan untuk laptop tersebut—baru rasa barui.
Jika dipikir-pikir, lebih baik komputer lama, tapi programs-nya baru. Di bandingkan dengan komputer baru, tapi programs-nya barui. Karena, yang terpenting adalah dalam kinerja komputer adalah programs.
Begitupula manusia, yang terpenting dalam diri manusia adalah: perilaku. Bukan dari orangnya. Samahalnya pepetah Madura, tékká’ah muáh júbé’, sé pénting ghéllém mekól. Meskipun bermuka jelek, tapi mau disuruh memikul (baca: bekerja).
Dari pepatah itu, dapat diambil kesimpulan bahwa: yang paling dilirik masyarakat adalah sifat dan perangai, sedangkan penampilan itu nomor belakang. Begitupun tahun baru, yang terpenting bukanlah cara kita merayakan. Akan tetapi, sebesar mana perubahan yang ada. Sungguh rugi jika umur berkurang, malah amal baik juga ikut menurun. Lantas apa yang dibanggakan, hingga dirayakan besar-besaran?
Sungguh malu, jika yang belum menjadi lebih baik meneriakkan, “Selamat tahun baru!” Perkataan itu seakan-akan mengucapkan selamat pada sû’ul-khatimah. Na’udzubil-Lah!

Muhammad ibnu Romli/sidogiri.net

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *