Bulan Dzulhijjah dan ibadah haji adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan karena pada bulan inilah ibadah tahunan itu dilaksanakan. Haji yang merupakan rukun Islam kelima selalu menjadi ibadah yang spesial di mata umat Islam. Tidak sembarang orang yang dapat menjalankan ibadah ini, karena hanya mereka yang terpanggil menjadi tamu-tamu Allah di tanah suci.
Namun, tahukah Anda bahwa haji adalah salah satu ibadah kuno yang telah ada jauh sebelum Islam datang. Bahkan, haji masih dilaksanakan oleh masyarakat Arab jahiliyah pra-Islam, meskipun ada beberapa penyimpangan dalam pelaksanaannya.
Haji sendiri merupakan ibadah yang erat kaitannya dengan kisah Nabi Ibrahim. Kisah inspiratif ini pun telah masyhur, mulai dari bagaimana perjuangan Siti Hajar mencari air untuk putranya, Nabi Ismail hingga pembangunan Ka’bah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Serangkaian peristiwa dalam kisah tersebut kemudian termanifestasikan dalam ibadah haji.
Pasca Nabi Ismail wafat, daratan Arab tak lagi memiliki seorang Nabi dalam waktu yang sangat lama. Namun demikian, para penduduknya tetap patuh menjalani syariat yang dibawa oleh Nabi Ismail. Generasi mulai berganti, masyarakat Arab berikutnya sedikit demi sedikit mulai melupakan ajaran Nabi Ismail. Mereka perlahan menjauh dari ajaran yang benar dan mulai menyekutukan Allah.
Terlebih pada saat ‘Amr bin Luhay mulai menyebarkan kepercayaan paganisme di jazirah Arab, masyarakat Arab sedikit demi sedikit tersusupi kepercayaan sesat dan masuk ke dalam ibadah-ibadah ajaran Nabi Ismail. Haji pun tak luput dari sasaran kepercayaan ini.
Al-Imam ath-Thabari, ketika menjelaskan tafsir surah al-A’raf ayat 31, menjelaskan bahwa orang-orang pada masa jahiliyah thawaf tanpa memakai sehelai pakaian. Berdasarkan kisah yang diriwayatkan oleh Imam az-Zuhri, orang Arab selain suku Quraisy dilarang tawaf dengan mengenakan pakaian pribadi. Mereka harus menanggalkan pakaiannya dan memakai pakaian milik suku Quraisy. Jika tidak ada satu pun penduduk Quraisy yang mau meminjamkan pakaiannya, maka harus tawaf dalam kondisi telanjang.
Keyakinan sesat Arab jahiliyah juga menyusupi ibadah Sa’i. Masyarakat Arab meletakkan berhala di puncak bukit Shafa dan Marwah. Ketika pelaksanaan sa’i, kaum Arab jahiliyah akan mengusap kedua berhala tersebut, saat tiba di puncak dua bukit tersebut.
Kepercayaan sesat orang Arab yang telah tertanam kuat di dalam ibadah haji ini terus berlangsung hingga terutusnya Nabi Muhammad. Kedatangan Sang Nabi Terakhir berhasil membasmi segala kepercayaan syirik bangsa Arab dan memurnikan kembali ibadah haji sesuai dengan ajaran sang nenek moyang, Nabi Ibrahim.
Penulis: Moh. Syauqillah
Editor: Fahmi Aqwa












