ArtikelHikayat

Sayidah Fatimah az-Zahra’: Teladan Abadi bagi Perempuan Masa Kini

Setiap kali bulan Jumadil Tsaniyah tiba—bulan yang di dalamnya diperingati haul putri tercinta Rasulullah ﷺ, Sayidah Fatimah az-Zahra’ al-Batūl—hati umat Islam kembali disapa oleh keteladanan seorang perempuan suci yang kehidupannya memancarkan cahaya rumah kenabian. Nama beliau disebut dengan penuh hormat, bukan hanya karena kedekatannya dengan Rasulullah ﷺ, tetapi karena akhlak, keteguhan, dan kecerdasannya yang membuatnya menjadi sosok paling mulia pada zamannya. Tidaklah mengherankan jika Nabi ﷺ bersabda dalam Sahih Bukhari dan Muslim, “Fatimah adalah pemimpin wanita penghuni surga,” sebuah penghormatan ilahi yang menggambarkan betapa agungnya derajat beliau.

Sayidah Fatimah adalah cerminan ketangguhan yang dibalut kelembutan. Sejak kecil beliau menyaksikan tekanan dan kekerasan yang ditujukan kepada ayahandanya. Namun, justru dari situlah muncul pribadi yang tegar dan penuh empati.

Al-Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam al-Ishabah fī Tamyiz as-Shahabah menggambarkan Sayidah Fatimah sebagai perempuan yang paling mirip dengan Rasulullah ﷺ: dalam tutur kata, ketenangan, dan kewibawaan. Kesaksian ini menjadi bukti bahwa kemuliaan beliau bukan hanya karena nasab, melainkan karena kesempurnaan akhlaknya yang memancar dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Adab yang Hilang: Jejak Akhlak Ulama terhadap Guru

Dalam kesederhanaannya, Sayidah Fatimah menunjukkan derajat kekayaan hati yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk dunia modern saat ini. Kisah-kisah yang dihimpun oleh Imam as-Suyuthi dalam al-Khashaish al-Kubra menuturkan bahwa beliau sering mendahulukan fakir miskin, meski dirinya sendiri serba terbatas. Perbuatan itu bukan sekadar kebaikan sosial, tetapi wujud keikhlasan yang paling murni: bahwa memberi bukanlah soal memiliki banyak, melainkan memiliki hati yang lapang.

Kecerdasan beliau pun diakui para ulama. Dalam Ihya’ Ulumiddin, Imam al-Ghazali menyebut Sayidah Fatimah sebagai teladan kesalehan yang disertai kecerdasan batin: mampu menempatkan diri antara ibadah, tanggung jawab keluarga, dan kepedulian terhadap masyarakat. Beliau tidak hanya menjadi ibu bagi Hasan, Husain, dan Zainab, tetapi juga menjadi “penopang ruhani” bagi Sayidina Ali. Ketika kita membicarakan perempuan masa kini yang dituntut untuk cakap dalam banyak peran, Sayidah Fatimah adalah contoh terbaik bagaimana kesibukan dapat tetap selaras dengan kedalaman spiritual.

Baca juga: Cinta yang Membawa ke Surga

Dalam as-Shifa’ karya al-Qadhi al-‘Iyadh, disebutkan bahwa Sayidah Fatimah tidak pernah mengangkat suara kepada siapa pun, dan bahwa Nabi ﷺ berdiri menghormatinya tiap kali beliau datang. Sikap Nabi ini menjadi isyarat betapa perempuan dimuliakan dalam Islam, dan Sayidah Fatimah adalah simbol kemuliaan itu. Beliau lembut tanpa kehilangan wibawa, rendah hati tanpa kehilangan harga diri, dan tegar tanpa kehilangan kasih sayang.

Pada zaman ketika perempuan modern menghadapi tekanan sosial, standar kecantikan, dan beban peran ganda, Sayidah Fatimah memberikan teladan bahwa nilai sejati seorang perempuan berada dalam akhlak, kecerdasan, dan sumbangsihnya terhadap keluarga serta masyarakat. Beliau mengajarkan bahwa kesalihan tidak bertentangan dengan kekuatan, dan kelembutan tidak bertentangan dengan ketegasan. Sebaliknya, justru dalam perpaduan itulah terdapat kemuliaan yang sesungguhnya.

Memperingati haul Sayidah Fatimah bukanlah sekadar mengenang sejarah, tetapi memperbarui tekad untuk mengikuti jejak perempuan mulia yang memadukan cahaya ilmu, ibadah, dan pengabdian. Semoga Allah menanamkan dalam hati kita kecintaan kepada beliau, menjadikan kita dan khususnya para perempuan, mewarisi sifat-sifat luhur yang telah menjadikannya sebagai teladan sepanjang masa.

Penulis: A. Kholil
Editor: Fahmi Aqwa

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *