Pada acara Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad ﷺ yang digelar di Pondok Pesantren Sidogiri, Habib Musthofa bin Umar Alaydrus menyampaikan dua hikmah utama dari peristiwa agung tersebut. Tausiah ini menyoroti makna shalat serta pentingnya menumbuhkan rasa percaya diri dan keteguhan hati dalam bersandar kepada Allah ﷻ.
Hikmah pertama berkaitan dengan momen dialog Rasulullah ﷺ bersama Allah ﷻ saat peristiwa mikraj. Peristiwa tersebut merupakan kenangan terindah sekaligus malam paling mulia dalam kehidupan Rasulullah ﷺ. Allah ﷻ kemudian mengabadikan momen agung itu dalam ibadah shalat, yang menjadi sarana perjumpaan seorang hamba dengan Tuhannya. Para ulama pun menyebut, “Shalat adalah mikrajnya orang-orang mukmin.”
Baca juga: Peringatan Hari Santri Nasional 2025: Mutiara Hikmah dari Habib Kholid bin Hasan al-Madihij
Habib Musthofa menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ tidak mencintai urusan dunia kecuali tiga hal. Dua di antaranya membutuhkan biaya, yakni perempuan dan wewangian, sementara yang ketiga tidak memerlukan modal apa pun, yaitu shalat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
“Dijadikan aku mencintai tiga perkara dari dunia kalian: perempuan, wewangian, dan dijadikan penyejuk hatiku dalam shalat.”
Oleh karena itu, shalat menjadi bentuk perayaan paling hakiki atas peristiwa Isra Mikraj. Di dalam shalat tersimpan dialog suci antara Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ yang hingga kini terus dilantunkan oleh umat Islam melalui bacaan tahiyat:
التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
Hikmah kedua, Isra Mikraj merupakan cara Allah ﷻ meneguhkan Rasulullah ﷺ agar sepenuhnya bersandar kepada-Nya. Tidak ada sandaran yang paling nyaman selain kepada Allah ﷻ, sementara bergantung kepada makhluk kerap menimbulkan rasa sakit ketika ditinggalkan.
Kondisi tersebut dialami Rasulullah ﷺ setelah wafatnya dua sosok paling berpengaruh dalam hidup beliau, yakni Sayidah Khadijah RA, istri yang senantiasa memberikan dukungan emosional dan material, serta Abu Thalib, paman yang selalu melindungi Rasulullah ﷺ dari berbagai ancaman dan tekanan.
Sebelum melakukan perjalanan Isra Mikraj, hati Rasulullah ﷺ kembali dibedah oleh Malaikat Jibril, dibasuh dengan air zam-zam, dan disucikan. Penyucian ini bukan karena adanya noda dalam hati Rasulullah ﷺ, melainkan sebagai bentuk penambahan keyakinan serta penguatan rasa percaya diri sepenuhnya kepada Allah ﷻ.
Di akhir tausiah yang disampaikan di hadapan ribuan santri tersebut, Habib Musthofa mengingatkan para santri agar menghargai waktu sebagai kunci untuk menjadi ulama besar.
“Jangan pernah berharap menjadi ulama, jika tidak menghargai waktu,” tegas dai asal Surabaya itu.
Ketua Alumni Rubath Tarim Indonesia tersebut kemudian menuturkan kisah Abu Abdirrahman al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi, seorang ulama besar yang sangat menjaga waktu belajarnya. Beliau tidak rela waktu belajarnya berkurang, bahkan untuk makan dan minum. Karena itu, makanan favorit Imam Khalil adalah roti yang dicampur air, agar mudah ditelan dan cepat dicerna tanpa perlu banyak mengunyah.
Penulis: Imam Rohimi
Editor: Fahmi Aqwa












