ArtikelMasyayikh Sidogiri

Nuansa Kesufian dalam Kehidupan KH. Noerhasan bin Nawawie

Dalam khazanah tasawuf, zuhud dipahami sebagai salah satu maqam penting yang menandakan kematangan spiritual seorang hamba. Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total, melainkan melepaskan keterikatan hati terhadap kemewahan dan gemerlap dunia. Ketika seseorang telah benar-benar memasuki jalan zuhud, hasrat dan keinginannya terhadap perkara-perkara duniawi akan berkurang dengan sendirinya.

Jalan hidup semacam inilah yang secara nyata ditempuh oleh KH. Noerhasan bin Nawawie. Nama beliau dikenang tidak hanya sebagai seorang ulama, tetapi juga sebagai sosok sufi yang mengamalkan nilai-nilai kesufian dalam setiap gerak langkah kehidupannya.

Salah satu kisah yang sering dituturkan untuk menggambarkan sikap zuhud beliau ialah kehidupan yang terjadi di kediamannya. Pada suatu waktu, atap rumah beliau mengalami kerusakan di beberapa bagian sehingga ketika hujan turun, air menetes masuk ke dalam rumah. Melihat keadaan tersebut, istri beliau, Nyai Muqimah, meminta agar Kiai Noerhasan memanggil santri untuk segera memperbaiki genteng yang bocor.

Menanggapi hal itu, dengan ketenangan dan kesederhanaan yang menjadi ciri beliau, Kiai Noerhasan menjawab: “Pindah saja ke tempat yang tidak bocor, kan ada!”.

Selain zuhud, KH. Noerhasan juga dikenal sebagai pribadi yang tidak mencintai dunia dan senantiasa bertawakal dalam menerima setiap ketentuan yang terjadi. Beliau menjalani kehidupan dengan sangat bersahaja. Tidak ada keinginan untuk menonjolkan status, tidak ada ambisi untuk mengumpulkan harta benda sebanyak-banyaknya, dan tidak pernah terlintas dalam dirinya hasrat untuk mencari nilai lebih dalam urusan duniawi.

Baca juga: Haul ke-61 KH. Noerhasan bin Nawawie, Momentum Teladani Sosok Ulama dan Sufi

Kesederhanaan itu tampak jelas dalam seluruh aspek kehidupan beliau, khususnya dalam urusan keluarga. Dalam menafkahi keluarganya, KH. Noerhasan hanya mengandalkan hasil dari sebidang tanah miliknya yang dikelola dengan sistem bagi hasil bersama orang yang menggarap sawah tersebut. Dari hasil yang sederhana itulah kebutuhan sehari-hari keluarga terpenuhi, tanpa ada tuntutan untuk hidup mewah ataupun berlebih.

Dengan demikian, sikap dan perilaku KH. Noerhasan seakan menyimpan seluruh atribut ke-kiai-an yang melekat pada diri beliau. Kehidupan beliau penuh dengan nuansa kesufian. Beliau memilih untuk hidup tenang, jauh dari hiruk pikuk, dan menjadikan batin sebagai pusat perhatian utama.

Melalui peringatan haul ke-61 ini, para santri diharapkan dapat mengambil pelajaran berharga dari jejak kehidupan beliau. Keteladanan, kesederhanaan, dan kerendahan hati yang ditunjukkan KH. Noerhasan hendaknya menjadi cermin dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari.

Penulis: Muhammad Rofiul Qodri
Editor: Elmaghroby

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *