BeritaUnggulan

Habib Quraisy Tekankan Urgensi Mencintai Nabi dalam Peringatan Maulid

Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad sukses digelar di Pondok Pesantren Sidogiri pada Kamis malam (27/08). Dalam momen penuh berkah tersebut, Habib Quraisy bin Qosim Baharun hadir untuk memberikan mutiara hikmah kepada para santri.

Penyerahan cendera hati oleh Bendahara Umum PPS, Mas H. Ahmad Sa’dulloh bin Abd. Alim

Sebelum memulai mauidzahnya, Habib Quraisy memberikan apresiasi kepada Pondok Pesantren Sidogiri yang tetap berdiri kokoh selama 290 tahun dalam meneruskan perjuangan Nabi Muhammad.

“290 tahun pondok ini berdiri dan telah menunjukkan perjuangan dan mahabbahnya kepada Rasulullah,” ungkapnya.

Dalam tausiahnya, beliau mengingatkan para santri untuk tidak menganggap sepele perayaan maulid Nabi. Hal tersebut tidak bisa dianggap hanya sebagai sebuah kebiasaan atau bahkan tradisi yang dimulai lalu selesai begitu saja.

Baca juga: Peringatan Maulid Nabi: Hadirkan Kehangatan Cinta kepada Rasulullah

Pengasuh Pondok Pesantren Ash-Shidqu, Kuningan, Jawa Barat tersebut menjelaskan bahwa peringatan maulid jika dilaksanakan dengan hati yang tulus, tidak akan menimbulkan kebencian. Justru, bergembira atas kelahiran Nabi merupakan perintah dari Allah yang sudah tercantum dalam al-Qur’an.

“Di Indonesia untuk merayakan maulid dilaksanakan dengan banyak hal. Dan ini termasuk menjalankan perintah Allah,” ujarnya.

Kemudian, Habib Quraisy menyatakan bahwa tujuan utama memperingati kelahiran Nabi adalah untuk mengenal dan menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi. Beliau juga menegaskan bahwa ketidaktahuan terhadap sosok Nabi dapat membuat seseorang jauh dari syariat.

“Kalau ada satu orang dari umat Nabi Muhammad yang melanggar syariat, berarti orang ini adakalanya tidak kenal atau tidak sayang kepada Nabi,” jelasnya.

Habib Quraisy juga menambahkan, Nabi sengaja memperkenalkan diri agar para sahabat menjadi senang, kagum, dan kemudian mencintainya. Sebab, tanpa rasa cinta pada sesuatu, maka itu ibarat bungkus yang tidak ada isinya.

Baca juga: Launching Logo Milad 290, “Satu Arah dalam Bermanhaj dan Bermazhab”

Tidak hanya itu, beliau juga menyoroti sepuluh tahun pertama kenabian di Makkah, yang mana saat itu syariat seperti shalat lima waktu, puasa Ramadhan, dan haji belum diturunkan.

“Selama sepuluh tahun, Nabi Muhammad hanya mengenalkan dan menanamkan dua hal yang paling penting. Pertama, keyakinan kepada Allah. Kedua, cinta dan mahabbah kepada Nabi Muhammad,” tegasnya.

Habib Quraisy menutup tausiyahnya dengan perumpamaan bahwa amal ibadah tanpa landasan cinta dan keyakinan dikhawatirkan hanya berbentuk debu yang beterbangan.

Penulis: Muhammad Rofiul Qodri
Editor: Elmaghroby

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *