Pondok Pesantren Sidogiri kembali dipadati oleh ribuan jamaah untuk mengikuti pembacaan Yasin dan Tahlil dalam rangka Haul ke-26 KH. Hasani bin Nawawie dan 40 Hari Kewafatan Almarhumah Ibu Nyai Hj. Lu’lu’ul Mukarromah pada Selasa malam (25/08). Rangkaian acara haul kali ini terbuka untuk umum dan disiarkan secara langsung di kanal YouTube SidogiriTV.
Haul diawali dengan pembacaan maulid, lalu dilanjut dengan pembacaan Yasin yang dipimpin oleh Habib Hadi bin Abdul Qodir Al-Idrus dan Tahlil oleh Ustadz Yasin Abdul Karim. Sementara tausyiah disampaikan oleh Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf.

Dalam tausyiahnya, Habib Taufiq mengingatkan bahwa hidup di atas dunia ini dimulai dengan kelahiran dan pasti akan diakhiri dengan kematian. Jika Allah masih berkehendak untuk memanjangkan umur seseorang maka ada lima fase kehidupan yang harus dilalui.
Fase pertama adalah usia kecil yang dimulai sejak lahir sampai balig. Menurut beliau, pada fase ini manusia belum ada taklif sehingga masih ada keringanan untuk tidak melakukan tuntutan syariat. Fase ini menjadi masa paling penting dalam pendidikan seorang anak. Tanggung jawab penuh ada di pundak orang tua untuk menjaga anaknya agar tidak keluar dari fitrah sucinya.
“Jika orang tuanya tidak mendidik, maka anaknya berhak menuntut di hari kiamat kelak,” tegas Habib Taufiq.
Memasuki fase kedua, yaitu sejak balig sampai umur 35 tahun. Di masa ini kekuatan seseorang masih terkumpul tetapi setelah itu akan melemah. Di usia inilah godaan paling besar datang, terutama dari lingkungan dan pergaulan. Oleh sebab itu, orang tua tidak boleh lepas tangan untuk mengawasi pergaulan anaknya.
“Kebanyakan, kerusakan anak muda itu disebabkan pertemanan yang tidak benar,” tegasnya.
Fase ketiga adalah usia penuaan, yakni antara umur 35 sampai 55 tahun. Pada fase ini, manusia dituntut untuk benar-benar memanfaatkan umurnya untuk beribadah kepada Allah. Di usia ini pula seseorang seharusnya sudah bisa menjadi contoh dan teladan bagi keluarga serta masyarakat di sekitarnya.
Fase selanjutnya adalah usia tua, yaitu antara umur 50 sampai 70 tahun. Habib Taufiq mengingatkan bahwa di usia ini manusia tidak perlu terlalu sibuk mengejar dunia.
“Kalau sudah umur 50 tahun apa yang mau dicari, apa yang mau ditunggu kecuali kematian,” ujarnya.
Fase kelima adalah usia yang sangat tua. Kondisinya sudah sangat lemah, jalan harus dituntun, mata sudah rabun, dan badan sering sakit-sakitan.
Oleh sebab itu, Habib Taufiq mengajak seluruh jamaah untuk meneladani kehidupan Kiai Hasani dan Ibu Nyai Hj. Lu’lu’ul Mukarromah. Sejak kecil kehidupan beliau berdua sudah terdidik dengan baik. Masa mudanya hanya dihabiskan hanya untuk belajar dan mengajar, dan itu terus dilakukan hingga beliau sudah lanjut usia.
Pada akhir tausiyah, Habib Taufiq berpesan agar jamaah tidak menjadikan haul hanya sebagai acara seremonial datang lalu pergi.
“Kita hadir di acara haul ini jangan cuma hadir kemudian keluar. Tapi harus sadar bahwa saat ini kita sudah lebih mendekati kuburan. Buka hati kita, sadar bahwa kematian sudah dekat,” pungkasnya.

Kemudian acara ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Sayid Muhammad Amin bin Idrus bin Syekh Abu Bakar dari Madinah dan Habib Abdullah bin Abdurrahman Al-Muhdhar yang telah menetap di Pasuruan.
Penulis: Muhammad Rofiul Qodri
Editor: Elmaghroby












