BeritaUnggulan

Ijazah Simthud-Durar: Menyingkap Keistimewaan Bulan Kelahiran Nabi

Membaca sirah nabawiyah melalui maulid Nabi di bulan kelahirannya merupakan sebuah kemuliaan dan kebahagiaan bagi umat Islam. Dari sekian banyak karangan maulid dan kasidah yang sangat digandrungi oleh masyarakat, terutama di Indonesia adalah Maulid Simthud-Durar. Pada Majelis, “Ijazah Shalawat Simthud-Durar”, Habib Muhammad bin Husein al-Habsyi menyingkap manfaat membaca dan mengistikamahkan maulid tersebut.

“Orang yang istikamah membaca Simthud-Durar akan memiliki keistimewaan tersendiri,” terang beliau.

Ijazah yang digelar pada Senin, (24/08) di Masjid Jamik Pondok Pesantren Sidogiri tersebut menghadirkan Habib Muhammad bin Husein al-Habsyi sebagai narasumber yang mengijazahkan Maulid Simthud-Durar karya kakeknya, Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, dari Solo.

Baca juga: Istighasah sebagai Penutup Rangkaian Peringatan HUT ke-81 RI

Habib Muhammad mengungkapkan kedekatannya dengan Sidogiri. Sampai-sampai beliau berkata, “Bagi kami, Sidogiri itu bukan orang lain”.

Kedekatan tersebut terjalin atas beberapa latar belakang. Beliau mengapresiasi partisipasi Sidogiri pada setiap peringatan Haul Solo untuk mengawal kegiatan di Jawa Tengah sana. Selain itu, beliau juga sering mengunjungi Sidogiri sewaktu nyantri kepada Habib Taufiq.

“Sidogiri saja tiap tahun mengirim sekitar 500 personel ke Solo. Masa saya hanya satu orang saja ke sini tidak mau,” ungkap beliau.

Cicit sahibul maulid itu juga menyebutkan sanad keilmuan kakeknya, Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi. Di antara guru beliau adalah Habib Husein bin Thahir, pengarang kitab Sullamut-Taufiq. Sedangkan di antara ulama Nusantara yang menyambung sanad kepada beliau adalah Syaikh Mahfudz at-Termasi dan Kiai Hasyim Asy’ari, Jombang.

“Rata-rata sanad keilmuan ulama Nusantara nyambung ke beliau,” terang beliau.

Tidak lupa, pendakwah yang aktif mengisi majelis taklim itu juga membacakan biografi dan keseharian Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi.

Para peserta ijazah maulid terlihat khusyuk membaca maulid Simtuth-Durar

Sebagai figur yang ghirah keilmuannya tinggi, Habib Ali tidak hanya gemar membaca kitab Minhajuth-Thalibin, tetapi juga menghafal sekitar 10 kitab syarahnya. Dalam hal taklim, Habib Ali memilih kitab Fathul-Mu’in sebagai materi ajar favoritnya.

Di antara karamah beliau adalah sering berjumpa dengan Nabi Muhammad ﷺ dalam keadaan terjaga. Suatu hari, saat majelis taklim pagi, beliau mengajarkan kitab Nahwu yang minim diminati. Akan tetapi, yang hadir ke majelis tersebut adalah Rasulullah ﷺ, Sayidina Ali bin Abi Thalib, dan Sayidina Hasan.

“Orang yang percaya karamah berarti punya bakat jadi wali,” tegas beliau.

Selanjutnya, beliau mulai mengulas detik-detik pendiktean Maulid Simthud-Durar kepada muridnya sebagai bentuk luapan cinta sang pengarang kepada Baginda.

“Maulid ini dikarang secara spontanitas oleh Habib Ali dengan mendiktekan kepada muridnya, yang menandakan puncak kecintaan beliau kepada Rasulullah ﷺ,” kenang beliau.

Sebelum mengijazahkan, beliau menjelaskan bahwa peminta terlebih dahulu harus membaca Maulid Simthud-Durar, sebagaimana yang dicontohkan oleh Habib Anis.

Panitia acara berharap acara tersebut tidak hanya menjadi seremonial penyambung sanad. Para santri diharapkan bisa istikamah dan mengamalkan nilai di dalamnya.

Baca juga: Bukan Sekadar Berjamaah: Ubudiyah Beri Kursus Pengetahuan Shalat Santri

Meski acara diundur dari jadwal semula, atmosfer sambung sanad tersebut tetap terasa luar biasa. Tercatat sekitar 3.000 santri mendaftar dan menghadiri acara tersebut.

Penulis: Muhammad Fajar
Editor: Elmaghroby

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *