Hari Santri Nasional (HSN) yang diperingati setiap 22 Oktober menjadi momentum untuk kembali merefleksikan hakikat jati diri santri. Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, santri dituntut untuk mampu beradaptasi, tanpa kehilangan prinsip dasar yang menjadi pijakannya. Tidak mudah terseret arus perubahan, tetapi juga tidak menutup diri dari perkembangan zaman.
Pesan tersebut disampaikan oleh Wakil Sekretaris Peringatan HSN 22 Oktober 2026, Ustaz Miftahul Huda, dalam wawancara pada Kamis (22/10). Menurutnya, peringatan HSN semestinya tidak berhenti pada perayaan seremonial, tetapi menjadi kesempatan untuk kembali memahami dan menghayati makna santri sebagaimana takrif yang digagas oleh KH. Hasani Nawawie.
Bajca juga: Menjadi Khalifah sebelum Menjadi Pemimpin: Bekal Utama Calon Pemimpin Sejati
“Hal terpenting adalah bagaimana HSN ini menjadi momentum untuk kembali mengingat jati diri seorang santri. Di Sidogiri, jati diri santri tidak hanya dilihat dari identitas atau atributnya, tetapi dari bagaimana seorang santri memahami dan mengamalkan takrif santri yang digagas oleh KH. Hasani Nawawie,” tuturnya.
Pesan refleksi tersebut dihadirkan oleh Pondok Pesantren Sidogiri melalui gelaran acara bertajuk Peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober 2026 di lapangan Pondok Pesantren Sidogiri. Belasan ribu santri bersama tamu undangan memadati lokasi untuk mengikuti rangkaian acara.
Acara diawali dengan pembacaan Surah al-Fatihah, dilanjutkan istigasah yang meliputi pembacaan Surah Yasin, tahlil, Hizb Sakran, Hizb Nashar, dan Shalawat Nariyah. Seluruh rangkaian doa dilantunkan dengan khidmat, disertai perhatian terhadap ketepatan tajwid dan tahqiq.
Melalui istigasah tersebut, hadirin memanjatkan doa untuk para masyayikh sekaligus memohon perlindungan bagi pesantren dari berbagai mara bahaya dan fitnah. Doa juga dipanjatkan agar Sidogiri senantiasa menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi para penuntut ilmu.
Baca juga: Hancurkan Dominasi Juara Bertahan, DK. Sidogiri Lumajang Raih Gelar Juara Umum Grand Muammar #5
Baca juga: MMU Ibtidaiyah Gelar Grand Muammar Antarranting dengan Inovasi Lomba Berbasis Digital
Usai istigasah, acara dilanjutkan dengan pemutaran film dokumenter. Dilanjut, atas arahan pembawa acara, seluruh hadirin berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Sidogiri secara serentak.
Momen tersebut turut membangkitkan kerinduan salah seorang santri asal Probolinggo, yang memilih untuk tidak dipublikasikan identitasnya. Ia mengaku persembahan Mars Sidogiri menjadi pengingat akan tujuan menuntut ilmu di pesantren.
“Sudah lama rasanya tidak mendengar Mars Sidogiri. Semoga persembahan Mars Sidogiri ini mampu menyadarkan kita kembali tentang hakikat tujuan kita mondok di Sidogiri,” ungkapnya.
Rangkaian acara kemudian berlanjut pada sambutan pengurus harian Pondok Pesantren Sidogiri yang disampaikan oleh Ustaz H. A. Saifulloh Muhyiddin, Ketua II PPS.
Untuk memperkaya wawasan dan memperdalam pesan peringatan HSN tahun ini, panitia juga menghadirkan dua narasumber, yakni Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf dari Pasuruan dan Habib Jakfar bin Abu Bakar al-Muhdor. Profil keduanya ditayangkan melalui layar LED sebelum penyampaian mauizah hasanah.
Setelah penyampaian mauizah hasanah, panitia menyerahkan cendera hati kepada muhadir. Penyerahan ini, dilakukan langsung oleh Ustaz Saifulloh Muhyiddin, didampingi oleh Ustaz Abror selaku Ketua Peringatan HSN 22 Oktober 2026.
Acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin langsung oleh KH. Hasbulloh Mun’im.
Melalui peringatan ini, diharapkan para santri tidak sekadar menjadikan HSN sebagai perayaan tahunan, tetapi juga sebagai momentum untuk memperkuat kembali nilai-nilai kesantrian yang mulai menghadapi tantangan di tengah perubahan zaman. Refleksi tersebut diharapkan dapat mendorong santri untuk terus menjaga jati dirinya sekaligus menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Penulis: Syahrul Maulana
Editor: Elmaghroby












