BeritaUnggulan

Menjadi Khalifah sebelum Menjadi Pemimpin: Bekal Utama Calon Pemimpin Sejati

Misi utama pendidikan adalah mencetak generasi yang mampu memimpin kehidupannya pada masa yang akan datang, minimal menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Akan tetapi, sebelum memakai atribut seorang pemimpin, hendaknya aspek keilmuan dimatangkan terlebih dahulu.

Penyerahan cindera hati oleh sala satu Pimpinan MMU Aliyah

Itulah di antara fase dalam melahirkan pemimpin yang berjiwa khalifah, sebagaimana dipaparkan oleh Habib Ahmad bin Nuh al-Haddad. Habib Ahmad hadir di Sidogiri, sebagai narasumber tunggal dalam seminar yang mengusung tema, “Tarbiyah Kepemimpinan: Menumbuhkan Jiwa Khalifah”, pada Selasa malam (20/10).

“Karena kalau kamu sudah jadi pemimpin dan sudah diikuti banyak orang, maka kelak akan gengsi, selain juga sibuk mengurus mereka,” terangnya menguraikan apa yang dikatakan oleh al-Imam an-Nawawi.

Seminar yang digelar di aula Gedung Sidogiri Corp ini, merupakan program dari Unit Kegiatan Pengembangan Intelektual (UKPI) Madrasah Miftahul Ulum (MMU) Aliyah, dan dihadiri oleh segenap murid jurusan dakwah dan kelas tiga MMU Aliyah.

Alumnus Rubath Tarim ini membuka pertemuannya dengan urgensi menuntut ilmu yang tidak mengenal batas waktu. Beliau lantas bersyukur lantaran masih ditakdirkan aktif dalam aktivitas keilmuan.

“Tidak ada waktu selesai untuk mencari ilmu,” tegas beliau.

Beranjak ke pembahasan, dai yang aktif mengisi media di bawah naungan Pondok Pesantren Sunniyah Salafiyah ini mengapresiasi keselarasan tema seminar dengan misi manusia di muka bumi ini, yakni menjadi seorang khalifah.

Baca juga: MMU Ibtidaiyah Gelar Grand Muammar Antarranting dengan Inovasi Lomba Berbasis Digital

Beliau mengungkapkan bahwa sebelum membangun jiwa khalifah, pola pikir harus ditinjau terlebih dahulu. “Sebelum menumbuhkan jiwa khalifah, mindset harus kita ubah terlebih dahulu,” terangnya.

Ustadz M. Zakki Ghufron, Ketua Panitia IMNI Aliyah tampak memberikan sosialisasi terkait IMNI

Selanjutnya, pendakwah asal Pasuruan ini menyingkap beberapa prinsip yang menjadi kriteria pemimpin ala khalifah nabawiyah. Pertama, pemimpin sesungguhnya adalah dia yang selalu memikirkan dan melayani umat, sebagaimana yang diteladankan oleh Nabi Muhammad.

“Pemimpin suatu kaum, ya, pelayan mereka,” tegasnya.

Prinsip kedua, menjauhi penyakit gila jabatan. Orientasi seorang pemimpin bukanlah materi, melainkan rida Allah.

Ketiga, peran pemimpin dalam menjaga stabilitas sosial dengan menjadi tempat mengadu, juru damai, dan penjaga perasaan.

“Sayidina Umar itu bisa ditemui di mana saja, bahkan di pasar,” tutur beliau mencontohkan.

Setelah prinsip sudah kokoh, penanaman jiwa khalifah ala baginda Nabi Muhamad bisa dilakukan dalam beberapa tahapan fase.

Fase terpenting adalah menanamkan tauhid dan mental, yang bergantung kepada Allah. Pada fase ini, dengan cara melihat teladan aplikatif generasi salaf saat mendidik anak-anak mereka dalam menanamkan konsep ini.

Baca juga: Hancurkan Dominasi Juara Bertahan, DK. Sidogiri Lumajang Raih Gelar Juara Umum Grand Muammar #5

Tidak kalah penting, menjaga pergaulan juga mengambil perannya dalam mencetak karakter pemimpin yang ideal. Tidak cukup itu, beliau sampai menyebutkan bahwa anak juga harus dipisah ranjang bila sudah tiba usianya.

“Kalau kalian semua bisa menerapkan poin-poin pemimpin sejati tersebut, kalian akan memberi perubahan di tempat masing-masing,” harap beliau seraya mengakhiri penyampaiannya.

Rangakaian acara pada malam itu ditutup dengan sosialisasi panitia Imtihan Niha’i (IMNI) MMU Aliyah.

Penulis: Muhammad Fajar
Editor: Elmaghroby

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *