Kegiatan belajar dan mengajar di bangku sekolah tidak akan menuai hasil maksimal apabila kompetensi seorang guru berada di bawah kualifikasi. Oleh karena itu, demi melahirkan lulusan yang berkualitas, Pimpinan MMU Tsanawiyah dan Aliyah mengadakan program Ujian Praktik Mengajar (upramer) bagi murid kelas 3 Tsanawiyah dan Aliyah.
“Tujuan upramer tentunya untuk melatih praktik mengajar yang baik, dan melatih mental ketika menghadapi anak didik,” tutur Ustadz Zakky Gufron M.pd., Ketua Panitia Imtihan Niha’i Aliyah.
Baca juga: MMU Tsanawiyah Beri Apresiasi Juara Imda II, Tekankan Keberhasilan Hakiki Santri
Pembagian kelas peserta Upramer disesuaikan menurut kategori masing-masing. Bagi peserta Upramer dari MMU Aliyah terbagi menjadi 4 kategori; A dari murid PPS ke kelas 1 Aliyah, sedangkan kategori B, C, serta kategori A dari murid yang berstatus Luar Pondok Pesantren Sidogiri (LPPS) ke jenjang Tsanawiyah. Adapun kategori terendah (D) ke jenjang Idadiyah. Sementara upramer dari MMU Tsanawiyah seluruhnya ke jenjang Ibtidaiyah.
Dalam pelaksanaannya, sebelum peserta upramer mendatangi objek kelas, mereka terlebih dahulu meminta rekomendasi mata pelajaran dan batas materi kepada wali kelas. Setelah verifikasi, peserta diharapkan menelaah dan mematangkan pemahaman materi sebelum menggantikan peran guru dalam mengajar pelajaran tersebut.
Pada tahun ini, program upramer mengalami beberapa perubahan sistem. Tahun sebelumnya, MMU Tsanawiyah menerapkan sistem mengirimkan dua peserta untuk mengisi satu jam pelajaran. Artinya, satu peserta berkesempatan mengajar selama 30 menit di objek kelas. Namun, setelah dievaluasi, pembagian waktu tersebut dinilai kurang optimal, akhirnya pada tahun ini panitia menetapkan satu peserta upramer berkesempatan mengajar selama satu jam pelajaran penuh. Sementara perubahan sistem upramer Aliyah hanya meliputi aspek waktu.
“Pada tahun lalu, kegiatan Upamer Aliyah ke jenjang Tsanawiyah dilaksanakan pada jam musyawarah malam, sedangkan pada tahun ini dialihkan pada jam KBM siang hari. Adapun sasaran upamer untuk jenjang Aliyah hanya diperuntukkan bagi beberapa murid kelas satu yang memiliki kemampuan baca kitab paling rendah, berdasarkan rekomendasi dari masing-masing wali kelas. Sementara untuk tahun ini, tidak ada peserta Upamer ke Daerah D, karena telah dicukupkan melalui kelas Shifir di Idadiyah,” jelas pria yang juga menjabat sebagai Wakil I Kepala BPP tersebut.
Adapun aspek utama yang dijadikan tolok ukur penilaian upramer secara umum meliputi kedisiplinan, metode pengajaran, dan penguasaan materi, sedangkan kreativitas dan keunikan yang positif dalam teknik mengajar menjadi nilai tambah.
Nilai upramer berstatus sebagai nilai tambahan yang nantinya akan dicantumkan ke dalam ijazah dan diakumulasi dengan nilai-nilai ujian Imni lainnya.
Baca juga: Ilmu Hisab Alat Fikih, Bukan Tujuan: Lajnah Falakiyah Sidogiri Gelar Daurah Falakiyah
Program upramer Tsanawiyah dan Aliyah dilaksanakan dalam rentang waktu yang berbeda. Upramer Tsanawiyah dilaksanakan selama lima hari, terhitung sejak Ahad 31 Mei hingga 04 Juni 2026 lalu, sedangkan upramer Aliyah dilaksanakan selama empat hari, sejak Selasa hingga Sabtu (03-06/11).
Menurut penuturan Ustadz Ja’far Shodiq, Sekretaris I Imni Tsanawiyah, dalam pelaksanaan upramer tingkat Tsanawiyah, Pimpinan MMU Tsanawiyah dan Ibtidaiyah turut terjun memantau langsung pelaksanaan program. Hal tersebut untuk memastikan program ini berjalan sesuai rencana dan memperoleh hasil maksimal.
“Selain menggunakan guru sasaran atau wali kelas sasaran sebagai juri upramer, panitia juga melibatkan. Pimpinan Tsanawiyah dan Ibtidaiyah, untuk mengontrol jalannya opramer ini. Jadi kalau biasanya itu yang menilai hanya dari wali kelas, sekarang pimpinan juga ikut mengontrol,” jelasnya.
Program ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengalaman mengajar calon lulusan MMU Tsanawiyah dan Aliyah sebagai bekal untuk menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan kepada masyarakat dan murid.
Penulis: Syahrul Maulana
Editor: Elmaghroby












