Santri Ramadan Sidogiri Tembus Angka Seribu
Mei08

Santri Ramadan Sidogiri Tembus Angka Seribu

Senin (06/05) pendaftaran pesantren Ramadan Sidogiri temmbus angka seribu. Termasuk juga, peserta kursus al-Miftah Sidogiri. Kursus ini terbagi menjadi dua bagian, ditinjau dari kelamin: putra dan putri. Masing-masing terbagi menjadi tiga kategori. Putra memiliki kategori, pelajar, pengajar, dan pengajar pasca al-Miftah. Untuk putri, tiga kategori itu meliputi: pelajar Banat 02, pelajar Banat 08, dan pengajar. Dari masing-masing kategori, mempunyai waktu tersendiri. Untuk kategori pelajar putri Banat 02, bermula 01 Ramadan hingga 18 Ramadan. Tidak hanya itu, kategori ini juga bisa ikut serta ngaji kitab langsung kepada keluarga besar Sidogiri. Kategori pelajar putri Banat 08 bermula sejak 28 Syaban, hingga 20 Ramadan. Sedangkan pengajar putri dimulai dari 29 Syaban hingga 4 Ramadan. Begitu pula dengan kursus banin, waktu sudah ditentukan sesuaai kategori. Untuk pelajar putra, dimulai sejak 28 Syaban sampai 20 Ramadan. Sedangkan pengajar putra bermula sejak 6 Ramadan sampai dengan 10 Ramadan.Sedangkan pengajar pasca al-Miftah hanya berkisar dari 9 Ramadan hingga 10 Ramadan. Info lebih lanjut untuk putra biasa klik di sini. Untuk putri di sini. _____ Penulis: Muhammad ibnu Romli Editor: Miromly Attakriny...

Selengkapnya
Persyaratan Pemohon Guru Tugas Sidogiri
Mar21

Persyaratan Pemohon Guru Tugas Sidogiri

Persyaratan Pemohon Mendapatkan Guru Tugas Pondok Pesantren Sidogiri: Mengajukan permohonan tertulis yang dilampiri dengan data-data madrasah yang akan ditempati kegiatan belajar-mengajar. Memberi pernyataan kesanggupan untuk memenuhi segala ketentuan yang telah ditetapkan oleh Pengasuh/Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri tentang Urusan Tugas Mengajar. Menyerahkan pasfoto calon penanggungjawab GT (PJGT) ukuran 3×4 sebanyak 2 lembar dan foto Madrasah tempat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) serta tempat mukim guru tugas (khusus bagi pemohon baru) masing-masing 1 lembar ukuran kartupos atau 3R. Bersedia memenuhi kebutuhan konsumsi harian GT menurut ukuran yang berlaku di tempat. Bersedia memberi uang saku setiap bulan antara tanggal 10 sampai 20 bulan Hijriyah yang besarnya ditetapkan oleh Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri. Membayar uang maslahah Urusan TM-TB dan Dai pada setiap awal penerimaan Guru Tugas. Sanggup memanfaatkan guru tugas untuk mengajar pelajaran agama di dalam kelas Madrasah lbtidaiyah atau yang sederajat dan tidak ada murid banat balighah. Menyiapkan tempat tinggal/mukim GT yang terpisah dengan tempat keluarga yang di dalamnya ada wanita balighah. Kurikulum Madrasah tempat KBM bercirikan pengajaran agama Islam. Madrasah tersebut memiliki murid minimal 50 Murid...

Selengkapnya
Omim; Menyikapi Kegaduhan Kaum Perempuan
Feb09

Omim; Menyikapi Kegaduhan Kaum Perempuan

Istilah ‘Kesetaraan Gender’ sering digaungkan  oleh para aktivis sosial maupun politisi. Dampaknya, kegaduhan kaum perempuan akan ‘Kesetaraan Gender’ semakin meningkat seraya  terus-menerus disuarakan untuk menuntut hak yang sama dengan laki-laki. Menyikapi hal tersebut Unit Kegiatan Pengembangan Intelektual [UKPI] melalui Organisasi Murid Intra Madrasah [OMIM] melaksanakan Seminar Ilmiah dengan mengangkat tema “Potret kesetaraan ‘Gender’ dalam perspektif al-Quran” Kamis (06/02) di gedung Corporation Laz-Sidogiri, mengundang Dr. KH. Abdullah Syamsul Arifin, MH. I. Ketua PCNU. Menurutnya, Dalam pembahasan mengenai ‘Kesetaraan Gender’ dalam perspektif Al-Qur’an maka kajiannya menggunakan tafsir ‘Maudu’i’. Dalam tafsir ‘Maudu’i‘ ada dua metodologi kajian yang harus diketahui yakni; kajian luar dan dalam. Kajian luar itu suatu yang tidak disebutkan dalam al-Quran. “Kalau kita mau membahas tentang kata al-Insan berati itu tema dalam, karena kata al-Insan klasifikasinya ada dalam al-Quran. Bedahalnya  jika kita mau membahas kata demokrasi berarti tema luar, karena dalam al-Quran tidak ada kata demokrasi. Sama dengan ‘Gender’. Jadi, metodologi harus menggunakan Tafsir Maudu’i,” kata KH. Syamsul Arifin, mengawali pembahasan. Berarti yang harus kita lakukan adalah mencari kata yang berbanding lurus atau dekat maknanya dengan kata ‘gender’ walaupun kata ‘gender’ sendiri tidak ada dalam al-Quran. Jadi untuk menafsirkan kata Gender harus merujuk makna dari apa yang kita baca dalam kajian tafsirnya. “Jadi jangan sering-sering bilang suatu permasalahan bertentangan dengan al-Quran. Takutnya, yang kita paham bertentangan dengan al-Quran, karena belum tentu al-Quran bicara seperti apa yang kita pahami,” lanjut Kiai yang akrab disapa Gus Aab. Tentang ‘gender’ sendiri jika kita mau meninjau dari katanya adalah bahasa Inggris yang jika diartikan menjadi perbedaan yang tampak dari seorang laki-laki dan perempuan dilihat dari nilai dan tingkah laku itu disebut dalam ‘New name’, jika dilihat dari sudut konstruksi sosialnya bukan pada fitrahnya. Menurut Women’s Studies Encyclopedia  ‘gender’ diartikan sebagai suatu konsep kultural yang dipakai untuk membedakan peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. Atau juga berarti suatu yang dibentuk oleh budaya yang ditentukan oleh masyarakat. “Mereka memahami ‘gender’ tidak bicara tentang apa itu ‘gender’ dari sisi fitrahnya, tapi bicara dari kodratnya. Jadi, pemahaman lebih condong pada sisi perannya,” ujar beliau di depan Murid Aliyah dan dewan Asatidz. “Sehingga opini yang terbentuk dalam masyarakat adalah wanita lemah, laki-laki kuat. Perempuan disumur, di dapur dan dikasur. Disini letak kesalahannya, yang setarakan itu dalam hal apa,” lanjut Pengasuh PP. Darul Arifin. Bahwa pria dan wanita adalah setara, hanya saja yang perlu dipahami adalah setara itu tidak mesti sama. Perlu adanya peninjauan setara dalam perspektif apa. Dalam al-Qur’an surat al-Hujarat ayat 13 disebut: ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ…(الايه) Dalam ayat ini sebagai premis, kalau agama...

Selengkapnya
Prof. Dr. Habib Muhammad Baharun, SH, MA.; Mereka Memiliki Dua Muka
Jan30

Prof. Dr. Habib Muhammad Baharun, SH, MA.; Mereka Memiliki Dua Muka

                                  Tips untuk membumikan Ajaran Aswaja Melalui Lisan dan Tulisan ditawarkan oleh Prof. Dr. Habib Muhammad Baharun, SH, MA. Guru besar sosiologi Agama dan ketua Hukum MUI Pusat dalam acara yang dilaksanakan Annajah Center Sidogiri dan Badan Pers Pesantren di ruang Auditorium Lt. II kantor Sekretariat, Rabu [29/01]. Menurut beliau, saat ini semua orang sudah menjadi jurnalis dengan sendirinya. Hal tersebut cukup bermodalkan Handphone yang digenggam ditangan. Tugas santri dan model perjuangan media pesantren saat ini adalah membeli kepercayaan masyarakat. “Jadi sekarang orang Pesantren sudah ditunggu-tunggu untuk itu. Kita harus perjuangkan,” kata Habib Muhammad Baharun. Lanjut habib Baharun, juga mengingatkan kepada seluruh pegiat media Pondok Pesantren Sidogiri untuk berhati-hati dalam menggunakan sosial media karena bisa jadi secara perlahan dirinya akan mulai kehilangan jati diri sesungguhnya. “Thoriqoh salaf yang dipegang oleh Sidogiri kuat, jadi dalam segala hal kita harus berpegang teguh terhadap apa yang sudah ditanamkan oleh kiai dan guru kita,” pesan beliau, yang juga pernah aktif menjadi reporter Majalah Harian Tempo. Dalam hal aqidah beliau menyebutkan contoh sekte Syiah yang memiliki dua panggung yang harus kita suarakan dan lawan, panggung depan dan panggung belakang. Memang benar dimuka mereka sama dengan kita, mereka Islam, baca syahadat. Tetapi dibalik itu mereka memiliki misi yang sangat berbahaya. “Kebangkitan itu harus dimulai dari Pesantren. Jangan mau ditimang-timang oleh Hari Santri Nasional.” Tambah beliau. Acara ditutup dengan pertanyaan dari peserta terkait perkembangan media di Indonesia. ==== Penulis: M Afifur Rohman Editor: N. Shalihin...

Selengkapnya
Sudut Pandang; Senangi Membaca Bukan Hanya Membaca Yang Disenangi
Jan17

Sudut Pandang; Senangi Membaca Bukan Hanya Membaca Yang Disenangi

Gaya Hidup ……… Di Pondok Pesantren Sidogiri aktifitas membaca merupakan hal yang sangat dianjurkan. Bahkan saat ini Pondok Pesantren Sidogiri memiliki sekitar 24 media baik online ataupun offline, dengan adanya berbagai macam media tersebut menjadi bukti keseriusan dari Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri dalam hal membudidayakan membaca. Seperti yang kita ketahui, Peradaban Yunani dimulai dengan Iliad karya Homer pada abad ke-9 SM dan berakhir dengan hadirnya Kitab Perjanjian Baru. Peradaban Eropa dimulai dengan Karya Newton (1641-1727) dan berakhir dengan filsafat Hegel (1770-1831). Peradaban Islam lahir dengan kehadiran al-Qur’an. karena kita yakin bahwa al-Qur’an tidak akan punah oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan, selama umatnya ikut bersama Allah SWT dalam menjaga dan memeliharanya. Yuk, terus senangi membaca jangan hanya membaca yang kau senangi. Penulis: Mar (Jurnalis...

Selengkapnya

Daftar Nomor Telepon Instansi Pondok Pesantren Sidogiri

Daftar Nomor Telepon Resmi Instansi Pondok Pesantren...

Selengkapnya
Chat WA dengan kami