Generasi yang Nyaris Kehilangan Ibu
Agu25

Generasi yang Nyaris Kehilangan Ibu

Ali Mandegar, usianya kira-kira 11 tahun. Hari itu sekolah libur. Ayahnya membawa dia keliling dengan sepeda ontel yang tua, mencari pekerjaan di kota. Ibunya di rumah bersama Zahrah, adik perempuan Ali satu-satunya. Majid Wajidi, sutradara kawakan di Iran, berhasil menyajikan siluet cerita yang menyentuh tentang keluarga Ali itu dalam film Children of Heaven. Ia bercerita tentang sebuah keluarga yang miskin—mungkin di pinggiran kota Teheran—yang berhasil menanmkan kepribadian yang kokoh dalam diri anak-anak mereka. Film itu menggambarkan potrer keluarga Timur Tengah sekitar 15 tahun yang lalu. Daam tradisi Timur Tengah, kaum Hawa memang lebih terpingit dibanding kawasan-kawasan lain di dunia. Suami punya tanggung jawab penuh untuk menghidupi keluarganya. Sedangkan, istri dengan tabah menjadi seorang ibu yang senantiasa berada di samping anak-anaknya. Di Timur Tengah pun, cetak biru keluarga ala Children of Heaven itu mungkin akan segera pudar. Beberapa kali, tokoh-tokoh dari Barat datang ke sana dan bersuara agar perempuan-perempuan Arab tak lagi terpenjara. Beberapa dari perempuan Arab terprovokasi oleh Nawal el-Sadawi atau Fatimah Mernissi. Dan, Timur Tengah sepertinya tak terlalu risau dengan itu, sebagaimana terlihat dari pemandangan kebarat-baratan di sekililing menara al-Burj di pantai Qatar. Di belahan dunia yang lain, mungkin sekali wajah ibu akan pudar lebih cepat. Wajah keibuan yang dulu teduh mulai terlihat kusam. Di negeri kita misalnya, urbanisasi besar-besaran terus menggeser batas-batas gender. Tipologi ibu Indonesia yang menghabiskan waktu untuk menemani anak-anaknya sudah menjadi prototipe ibu tradisional. Di daerah perkotaan, seorang ibu sudah lumrah menghabiskan waktu di kantor di tempat kerja. Dan, kecenderungan itu tentu saja akan segera menular ke desa-desa. Sebab, sejarah manusia memang selalu bercerita tentang desa yang menjadi urban, tak pernah tentang desa yang menulari kota. Hampir seluruh penelitian menyatakan bahwa partisipasi perempuan dalam kiprah-kiprah di luar rumah terus meningkat. Di beberapa negara, termasuk di Indonesia, hal itu didukung oleh sistem. Persentase ketewakilan perempuan di parlemen, kabinet dan profesi, menjadi target pemerintah, atau bahkan diatur secara resmi dalam undang-undang. Dalam rentang waktu 1955 s.d. tahun 1982 keterwakilan perempuan di parlemen berkisar 5-7 persen. Sedangkan antara tahun 1982-2008 antara 8-11 persen. Dan, pada pemilu 2009 yang lalu, terjadi peningkatan tajam persentase perempuan di parlemen. Di DPR RI sebesar 27 persen. Bahkan, beberapa waktu lalu, Sekretariat Jenderal DPR RI menerbitkan Buku Panduan Tentang Gender di Parlemen yang isinya mendorong adanya kaukus parlemen dan politik bagi perempuan. Dan, isu pemberdayaan perempuan, rupanya sedang menjadi komoditi politik yang cukup laris untuk mengail sura pemilih perempuan yang jumlahnya cukup signifikan. Peningkatan peran publik perempuan juga terjadi dengan cukup drastis di bidang profesi dan ketenagakerjaan. Menurut data tahun 2008 Depnakertrans, sebesar 28 persen  dari keseluruhan tenaga kerja lokal adalah perempuan. Sedangkan tenaga kerja antar negara (TKI), presentase tenaga kerja wanita (TKW) sebesar 76.85 persen. Berarti...

Selengkapnya
Kasidah Burdah Imam Al-Bushiri
Apr09

Kasidah Burdah Imam Al-Bushiri

Judul Buku : Burdah Imam al-Bushiri Penyusun : Masykuri Abdurrahman Editor : Ahmad Dairobi Tata Letak dan Perwajahan : Daydia Cetakan I : Rabiul Awal 1430 H Tebal : 122 hlm. Ukuran : 20.5 x 12.5 cm. ISBN : 978-979-26-0426-9 Harga : Rp 22.500     “Dr. Zaki Mubarak, kritikus sastra Arab yang semula ‘memandang remeh’ Burdah, ternyata akhirnya berbalik mengakui nilai-nilai istetika yang amat tinggi pada karya Imam al-Bushiri yang tak tertandingi ini. De Sacy, seorang pengamat sastra Arab dari Universitas Sorbonne Prancis, mengakui kelebihan-kelebihan karya sastra Imama al-Bushiri. Menurutnya, sampai saat ini belum ada penyair kontemporer Arab yang dapat menirukan Burdah.” — DR. Habib Mohammad...

Selengkapnya
Anekdot Fauna
Apr09

Anekdot Fauna

Judul Buku : Anekdot Fauna Penyusun : Ahmad Dairobi Editor : Moh. Achyat Ahmad Tata Letak dan Perwajahan : Daydia Cetakan I : Jumadal Tsaniah 1429 H Tebal : 168 hlm. Ukuran : 19.5 x 13 cm. ISBN : 978-979-26-0419-1 Harga : Rp 20.000     “Binatang-binatang tertentu ternyata memiliki kehebatan, kecanggihan, kecerdasan, ketangguhan, sikap bijak dan kelebihan-kelebihan lain yang sulit ditemukan pada diri manusia. Maka, ada saatnya manusia berkaca kepada binatang. Berkaca kepada anjing dalam kesetiaannya kepada majikan; berkaca kepada keledai dalam ketangguhannya; berkaca kepada semut dalam gotong royongnya; berkaca kepada merpati dalam keharmonisannya; dan...

Selengkapnya
Bahaya Aliran Kebatinan
Apr09

Bahaya Aliran Kebatinan

Judul Buku : Bahaya Aliran Kebatinan Penulis : Tim Pustaka Sidogiri Proofreader : M. Idrus Ramli Editor : Moh. Achyat Ahmad Tata Letak : @-yat Perwajahan : Daydia Cetakan I : J. Tsaniyah 1432 H Tabal : 197 hlm. Ukuran : 20.5 x 14.5 cm. ISBN : 978-979-26-0435-1. Harga : Rp. 35.000 Pergeseran paradigma dan kecenderungan pola pikir masyarakat, tampaknya, tak melulu berbanding lurus dengan sketsa umum dunia era digital yang serba rasionalistis. Tanpa disadari, ideologi aliran kebatinan yang konyol dan tak masuk akal justru mengalir cepat, lebih cepat dari yang kita bayangkan. Di sini, Tim Penulis PUSTAKA SIDOGIRI sengaja mengasah pisau analisis mereka, sedikit lebih tajam, untuk menoreh tabir-tabir tipis, yang menyembunyikan rupa hakiki aliran kebatinan dari penglihatan...

Selengkapnya
Bahasa Al-Quran Perspektif Filsafat Ilmu
Apr09

Bahasa Al-Quran Perspektif Filsafat Ilmu

  Judul Buku : Bahasa al-Qur’an Penulis : DR. Husein Aziz, MA Editor : Moh. Achyat Ahmad Tata Letak : @-yat Perwajahan : Al. Faqih MR Cetakan I : Dzul Hijjah 1431 H. Tebal : 116 hlm Ukuran : 14.5 x 10 cm. ISBN : 978-979-26-0424-5 Harga : Rp 20.000   “Dalam buku ini, penulis berupaya menguraikan secara cermat akan arti Bahasa al-Qur’an, yang juga berarti Kalâmullah, dengan menggunakan pendekatan filsafat ilmu. Dalam pemaparannya, penulis memberikan pemahaman seputar ‘bahasa langit’ kepada masyarakat bumi. Karena bagaimanapun , daya nalar masyarakat bumi tidak akan dapat menjangkau persepsi akan hakikat ‘bahasa langit’, terkecuali jika itu dilakukan dengan bantuan media analogis-alegoris terhadap fenomena-fenomena alami yang telah akrab dengan...

Selengkapnya
Chat WA dengan kami