Fikih Lingkungan dan Bencana Alam
Okt20

Fikih Lingkungan dan Bencana Alam

Kita patut prihatin dengan rentetan bencana alam yang menimpa saudara-saudar kita di beberapa kawasan di tanah air baru-baru ini. Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) mencatat, selama 31 hari pada Januari telah terjadi 119 bencana yang mengakibatkan 126 orang meninggal, 113.747 orang menderita dan mengungsi, serta belasan ribu rumah rusak. Menyikapinya, tidak salah jika kita menyebut sebagai bagian dari takdir Ilahi. Akan tetapi, apakah takdir tersebut lepas dari sebab? Secara eksplisit, al-Qur’an menyatakan bahwa egala jenis kerusakan yang terjadi di permukaan bumi ini merupakan akibat dari ulah tangan yang dilakukan oleh manusia dalam berinteraksi terhadap lingkungan hidupnya. Allah SWT berfirman: وَلاَتُفْسِدُوا فِى اْلأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللهِ قَرِيْبٌ مِنَ اْلمُحْسِنِيْنَ Artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. al-A’raf [07]:56). Dalam firman yang lain, Allah SWT menegaskan: وَإِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَاتُفْسِدُوْا فِى اْلأَرْضِ قَالُوْا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ, أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلَكِنْ لَايَشْعُرُوْنَ Artinya: “Jika dikatakan pada mereka, jangan kalian mebuat kerusakan di bumi, mereka mengatakan: kami hanya memperbaikinya. Ingat! Sesungguhnya mereka adalah perusak, hanya saja mereka tidak merasa.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 11). Dalam banyak tafsir, perusakan manusia dimaksud dalam dua ayat berkaitan dengan keyakinan dan perbuatan lalilm, seperti perbuata kufur, maksiat, munafik, dan perbuatan dosa lainnya. Akan tetapi, di sisi yang lain Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H.), salah satu ulama Mazhab Syafi’i kenamaan, memiliki pandangan berbeda khususnya berkaitan dengan tatanan alam dan manusia. Tentang dua ayat ini, beliau menyinggungnya dalam kitab al-Fatawa al-Haditsiyah, alah satu kitab kumpulan fatwa Ibnu Hajar. Dalam ulasannya, Ibnu Hajar menyatakan bahwa ayat di atas merupakan tanshish (dalil) atas ketegasan larangan Allah SWT terhadap segala bentuk perusakan di muka bumi. Pamakaian kata ‘al-ardh’ yang berarti bumi atau alam, mengindikasikan adanya keumuman kata sehingga mencakup seluruh alam. Apalagi, kata ardh bergandengan dengan ‘al’ yang menurut kalangan para pakar ilmu metodologi fikih (Ushuliyah) menunjukkan keumuman sebuah kata. Dari itu, meskipun ayat ini tujuan utamanya adalah masyarakat Madinah di mana ayat ini di turunkan, tetapi pelarangannya bersifat universal, mencakup seluruh masyarakat dunia. Sebab, akibat yang dimunculkan dari perusakan alam akan lebih parah (aqbah) dibandin perusakan itu sendiri,dan itu tidak hanya pada Madinah tapi juga pada belahan dunia lainnya. Dalam hal ini, Ibnu Hajar juga mangatakan, di antara tujuan penting dari ayat ini adalah sebagai puncak peringatan keras sekaligus menakuti manusia (ghayatut-taqri’ wat-takhwif) bahwa perusakan yang dilakukan akan berakibat pada kematian penduduk bumi, terutama manusia sendiri. Sebab, kerusakan pada bumi mendatangkan kehancuran dan kemusnahan penduduka bumi. Sepertinya, kata Ibnu Hajar, telah dikatakan kepada manusia sebuah peringatan: “Jangan kalian menjadi...

Selengkapnya
Generasi yang Nyaris Kehilangan Ibu
Agu25

Generasi yang Nyaris Kehilangan Ibu

Ali Mandegar, usianya kira-kira 11 tahun. Hari itu sekolah libur. Ayahnya membawa dia keliling dengan sepeda ontel yang tua, mencari pekerjaan di kota. Ibunya di rumah bersama Zahrah, adik perempuan Ali satu-satunya. Majid Wajidi, sutradara kawakan di Iran, berhasil menyajikan siluet cerita yang menyentuh tentang keluarga Ali itu dalam film Children of Heaven. Ia bercerita tentang sebuah keluarga yang miskin—mungkin di pinggiran kota Teheran—yang berhasil menanmkan kepribadian yang kokoh dalam diri anak-anak mereka. Film itu menggambarkan potrer keluarga Timur Tengah sekitar 15 tahun yang lalu. Daam tradisi Timur Tengah, kaum Hawa memang lebih terpingit dibanding kawasan-kawasan lain di dunia. Suami punya tanggung jawab penuh untuk menghidupi keluarganya. Sedangkan, istri dengan tabah menjadi seorang ibu yang senantiasa berada di samping anak-anaknya. Di Timur Tengah pun, cetak biru keluarga ala Children of Heaven itu mungkin akan segera pudar. Beberapa kali, tokoh-tokoh dari Barat datang ke sana dan bersuara agar perempuan-perempuan Arab tak lagi terpenjara. Beberapa dari perempuan Arab terprovokasi oleh Nawal el-Sadawi atau Fatimah Mernissi. Dan, Timur Tengah sepertinya tak terlalu risau dengan itu, sebagaimana terlihat dari pemandangan kebarat-baratan di sekililing menara al-Burj di pantai Qatar. Di belahan dunia yang lain, mungkin sekali wajah ibu akan pudar lebih cepat. Wajah keibuan yang dulu teduh mulai terlihat kusam. Di negeri kita misalnya, urbanisasi besar-besaran terus menggeser batas-batas gender. Tipologi ibu Indonesia yang menghabiskan waktu untuk menemani anak-anaknya sudah menjadi prototipe ibu tradisional. Di daerah perkotaan, seorang ibu sudah lumrah menghabiskan waktu di kantor di tempat kerja. Dan, kecenderungan itu tentu saja akan segera menular ke desa-desa. Sebab, sejarah manusia memang selalu bercerita tentang desa yang menjadi urban, tak pernah tentang desa yang menulari kota. Hampir seluruh penelitian menyatakan bahwa partisipasi perempuan dalam kiprah-kiprah di luar rumah terus meningkat. Di beberapa negara, termasuk di Indonesia, hal itu didukung oleh sistem. Persentase ketewakilan perempuan di parlemen, kabinet dan profesi, menjadi target pemerintah, atau bahkan diatur secara resmi dalam undang-undang. Dalam rentang waktu 1955 s.d. tahun 1982 keterwakilan perempuan di parlemen berkisar 5-7 persen. Sedangkan antara tahun 1982-2008 antara 8-11 persen. Dan, pada pemilu 2009 yang lalu, terjadi peningkatan tajam persentase perempuan di parlemen. Di DPR RI sebesar 27 persen. Bahkan, beberapa waktu lalu, Sekretariat Jenderal DPR RI menerbitkan Buku Panduan Tentang Gender di Parlemen yang isinya mendorong adanya kaukus parlemen dan politik bagi perempuan. Dan, isu pemberdayaan perempuan, rupanya sedang menjadi komoditi politik yang cukup laris untuk mengail sura pemilih perempuan yang jumlahnya cukup signifikan. Peningkatan peran publik perempuan juga terjadi dengan cukup drastis di bidang profesi dan ketenagakerjaan. Menurut data tahun 2008 Depnakertrans, sebesar 28 persen  dari keseluruhan tenaga kerja lokal adalah perempuan. Sedangkan tenaga kerja antar negara (TKI), presentase tenaga kerja wanita (TKW) sebesar 76.85 persen. Berarti...

Selengkapnya
Kasidah Burdah Imam Al-Bushiri
Apr09

Kasidah Burdah Imam Al-Bushiri

Judul Buku : Burdah Imam al-Bushiri Penyusun : Masykuri Abdurrahman Editor : Ahmad Dairobi Tata Letak dan Perwajahan : Daydia Cetakan I : Rabiul Awal 1430 H Tebal : 122 hlm. Ukuran : 20.5 x 12.5 cm. ISBN : 978-979-26-0426-9 Harga : Rp 22.500     “Dr. Zaki Mubarak, kritikus sastra Arab yang semula ‘memandang remeh’ Burdah, ternyata akhirnya berbalik mengakui nilai-nilai istetika yang amat tinggi pada karya Imam al-Bushiri yang tak tertandingi ini. De Sacy, seorang pengamat sastra Arab dari Universitas Sorbonne Prancis, mengakui kelebihan-kelebihan karya sastra Imama al-Bushiri. Menurutnya, sampai saat ini belum ada penyair kontemporer Arab yang dapat menirukan Burdah.” — DR. Habib Mohammad...

Selengkapnya
Anekdot Fauna
Apr09

Anekdot Fauna

Judul Buku : Anekdot Fauna Penyusun : Ahmad Dairobi Editor : Moh. Achyat Ahmad Tata Letak dan Perwajahan : Daydia Cetakan I : Jumadal Tsaniah 1429 H Tebal : 168 hlm. Ukuran : 19.5 x 13 cm. ISBN : 978-979-26-0419-1 Harga : Rp 20.000     “Binatang-binatang tertentu ternyata memiliki kehebatan, kecanggihan, kecerdasan, ketangguhan, sikap bijak dan kelebihan-kelebihan lain yang sulit ditemukan pada diri manusia. Maka, ada saatnya manusia berkaca kepada binatang. Berkaca kepada anjing dalam kesetiaannya kepada majikan; berkaca kepada keledai dalam ketangguhannya; berkaca kepada semut dalam gotong royongnya; berkaca kepada merpati dalam keharmonisannya; dan...

Selengkapnya
Bahaya Aliran Kebatinan
Apr09

Bahaya Aliran Kebatinan

Judul Buku : Bahaya Aliran Kebatinan Penulis : Tim Pustaka Sidogiri Proofreader : M. Idrus Ramli Editor : Moh. Achyat Ahmad Tata Letak : @-yat Perwajahan : Daydia Cetakan I : J. Tsaniyah 1432 H Tabal : 197 hlm. Ukuran : 20.5 x 14.5 cm. ISBN : 978-979-26-0435-1. Harga : Rp. 35.000 Pergeseran paradigma dan kecenderungan pola pikir masyarakat, tampaknya, tak melulu berbanding lurus dengan sketsa umum dunia era digital yang serba rasionalistis. Tanpa disadari, ideologi aliran kebatinan yang konyol dan tak masuk akal justru mengalir cepat, lebih cepat dari yang kita bayangkan. Di sini, Tim Penulis PUSTAKA SIDOGIRI sengaja mengasah pisau analisis mereka, sedikit lebih tajam, untuk menoreh tabir-tabir tipis, yang menyembunyikan rupa hakiki aliran kebatinan dari penglihatan...

Selengkapnya
Chat WA dengan kami