Panitia Imni 1441-1442 H Sukses Dilantik
Jan04

Panitia Imni 1441-1442 H Sukses Dilantik

Panitia Imtihan Nihai (IMNI) Madrasah Miftahul Ulum Pondok Pesantren Sidogiri tahun ajaran 1441-1442 H resmi dilantik pada malam Ahad (26/12) di lantai 2 Ruang Auditorium Kantor Sekretariat. Acara yang ditunda sehari dari jadwal yang semestinya ini dihadiri oleh Ketua I Pondok Pesantren Sidogiri, Mas Aminulloh Bq, Kepala Batartama, Kepala Labsoma, semua Kepala Madrasah, dan beberapa guru kelas peserta Imni terkait. Setelah pembacaan SK dari masing-masing Kepala Madrasah, Mas Aminulloh Bq melantik Panitia Imni terpilih dengan pembacaan al-Fatihah. Ust. Minhajul Abidin diangkat sebagai Ketua Panitia Imni tingkat Ibtidaiyah. Wk. IV Kepala Madrasah Tsanawiyah, Ust. Mustofa dilantik menjadi Ketua Panitia Imni tingkat Tsanawiyah, sedangkan Panitia Imni tingkat Aliyah diketuai oleh Ust. Muhammad Kholilulloh, Kepala Kuliah Syariah. Seusai melantik, Mas. Aminulloh Bq memberi arahan terkait persiapan dan pelaksanaan IMNI. Hal ini karena tingkat belajar peserta imni akhir-akhir ini terlihat menurun, tidak seperti dulu. “Sepertinya, suasana tahun ini adem-adem saja, tidak seperti ketika Imni zaman saya yang antusiasnya luar biasa,” terang beliau. Beliau berpesan agar menekankan kesehatan kepada semua peserta Imni, harus menjaga baik-baik kesehatan sebelum imni dimulai, “Sekarang ini sudah memasuki musim pancaroba, santri rawan terserang penyakit.” Terkait persiapan Imni tahun ini, Ust. Mustofa, Ketua Panitia Imni tingkat Tsanawiyah tidak banyak berkomentar. “Suksesnya teman-teman santri itu bisa mengerjakan tugas dengan baik, sesuai standar yang ditetapkan panitia. Suksesnya Panitia Imni, bisa memfasilitasi santri demi suksesnya kegiatan yang dimaksud,” tutur guru asal Karangpanas, Pasrepan, Pasuruan ini. *** Penulis: M. Nabil bin Syamsi, Sekretaris Redaksi mading Maktabati asal Kuala Lumpur,...

Selengkapnya
Pengurus Makin Tingkatkan Kualitas Shalat Santri
Sep04

Pengurus Makin Tingkatkan Kualitas Shalat Santri

Masjid Jamik Sidogiri: Istikamah shalat berjemaah Kamis malam Jumat (04/09), Ubudiyah Pondok Pesantren Sidogiri mengundang seluruh Kepala Kamar dalam acara “Pengarahan Pembinaan Shalat” dengan menghadirkan Ustaz Ahmad Faqih sebagai pemateri. Acara yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas shalat santri ini bertempat di Gedung an-Nawawi lantai IV. Materi untuk tahun ini dirancang khusus dalam satu buku yang diberi nama Shalatuna II. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang dipetak dalam beberapa judul, kemudian diserahkan perjudul pada pembina setiap satu bulan. “Untuk tahun sebelumnya, bentuk materinya dibagi per-maudlu’ (judul) dan diserahkan setiap bulan ke Kepala Kamar,” tutur Ustaz Ach. Syaiful Furqon, Wakil I Ubudiyah PPS. Butuh Wawasan? klik di sini Tahap Koreksi: Materi baru program pembinaan shalat sabtu terakhir tiap bulan Penyampaian materi dari Ustaz Ahmad Faqih sebagai narasumber menjadi acara inti. Dalam penjelasannya, beliau lebih banyak mengingatkan serta mengajak semua kepala kamar untuk memperhatikan dan membina anggota kamarnya dalam masalah shalat.  Selain itu beliau juga mengingatkan agar semua pembina menggunakan konsep taklim, bukan konsep dakwah ketika mendidik anak kamarnya, “Bukan konteks dakwah kalau di pondok, tapi konteks taklim,” ujarnya. Hal ini disampaikan agar semua santri terbiasa mengaplikasikan pendapat yang muktamad dalam mazhab Syafi’iyah. Sebelum acara diakhiri dengan doa, Ustaz Ahmad Faqih yang pernah menjabat sebagai Kabag Ubudiyah memberi saran pada Pengurus Ubudiyah untuk membuat jurnal serta mengadakan evaluasi terkait program Pembinaan Shalat bulanan ini. Selain itu, beliau juga menyampaikan pesan Pengurus Ubudiyah kepada audiensi untuk turut mengoreksi materi yang sudah ada di tangan mereka, “Mohon sambil dikoreksi, karena masih tahap koreksi. Kalau ada yang perlu diperbaiki, sampaikan pada Pengurus Ubudiyah Daerah agar nanti bisa ditindak lanjuti ke Pengurus Ubudiyah Pusat ketika rapat bulanan,” pungkasnya. Penulis: Muhammad Iksan Editor: Saiful Bahri bin...

Selengkapnya
Mengintip Kesibukan Dapur Kopontren Saat Pagebluk
Agu27

Mengintip Kesibukan Dapur Kopontren Saat Pagebluk

Menangani perkara makan sepuluh ribu lebih santri bukanlah perkara mudah. Butuh tenaga ekstra, ketelatenan, ketekunan serta kesabaran dalam mengerjakannya. Laporan: Muhammad Ilyas Belum genap pukul 06:00 istiwa, lapangan baru Pondok Pesantren Sidogiri sudah sangat ramai dengan ratusan, bahkan, ribuan santri yang berolahraga. Ada yang bermain sepak bola, sedangkan lainnya menikmati permainan bola kasti. Beberapa santri bermain voli, yang lain asyik dengan jogingnya. Tidak ketinggalan, kegiatan senam yang dilaksanakan secara bergilir tiap satu atau dua daerah membuat suasana tambah riuh. Di sebelah utara, tepatnya di dapur umum, beberapa kerabat khidmah bersiap-siap di depan kompor besar. “Kami mulai masak pukul 06:00 istiwa,” ungkap Fatimah (29), Ketua Koki. Benar saja, ketika genap jam 06:00 istiwa, kompor gas langsung membara. Begitupun dengan tiga rice cokker besar yang berjejer di bagian selatan. “Untuk tiga rice cokker ini bisa memuat 10 karung berisi 25 kg beras. Berarti dalam sekali masak ada 2,5 kuintal beras yang dihabiskan. Adapun durasi menanak 70 menit,” tambah ibu asal Kemuning, Kraton ini pada sidogiri.net. Masih menurut keterangan Fatimah, tiap hari dapur kopontren yang baru selesai dibangun ini bisa menghabiskan 35 karung beras berisi 25 kg. Itu artinya, hampir satu ton beras tiap hari dihabiskan untuk keperluan konsumsi ± 11.000 santri Sidogiri. “Itu (menghabiskan 35 karung beras berisi 25 kg) saat hari biasa. Beda halnya bila hari libur seperti (iduladha) kemarin itu masak, waduh masyaallah, 40 karung. Masaknya harus dengan tenaga ekstra. Capai bener waktu itu,” tambahnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Bekerja di sini lebih berat dari pada menanak nasi untuk acara hajatan besar. Acara semacam itu tidak seberapa melelahkan dan beras yang dihabiskan pun tidak seberapa banyak. Begitu pula, hajatan seperti itu biasanya cuma dua-tiga hari saja. Tidak tiap hari seperti di sini.” Memang, dengan jumlah 20 koki yang saat ini berkhidmah di dapur Kopontren, tidak hanya stamina, dibutuhkan pula kesabaran dan ketelatenan dalam menekuni dan melakoninya. ___________ Penulis: Muhammad Ilyas Editor: Saepul Bahri bin...

Selengkapnya
Fikih Lingkungan dan Bencana Alam
Okt20

Fikih Lingkungan dan Bencana Alam

Kita patut prihatin dengan rentetan bencana alam yang menimpa saudara-saudar kita di beberapa kawasan di tanah air baru-baru ini. Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) mencatat, selama 31 hari pada Januari telah terjadi 119 bencana yang mengakibatkan 126 orang meninggal, 113.747 orang menderita dan mengungsi, serta belasan ribu rumah rusak. Menyikapinya, tidak salah jika kita menyebut sebagai bagian dari takdir Ilahi. Akan tetapi, apakah takdir tersebut lepas dari sebab? Secara eksplisit, al-Qur’an menyatakan bahwa egala jenis kerusakan yang terjadi di permukaan bumi ini merupakan akibat dari ulah tangan yang dilakukan oleh manusia dalam berinteraksi terhadap lingkungan hidupnya. Allah SWT berfirman: وَلاَتُفْسِدُوا فِى اْلأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللهِ قَرِيْبٌ مِنَ اْلمُحْسِنِيْنَ Artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. al-A’raf [07]:56). Dalam firman yang lain, Allah SWT menegaskan: وَإِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَاتُفْسِدُوْا فِى اْلأَرْضِ قَالُوْا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ, أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلَكِنْ لَايَشْعُرُوْنَ Artinya: “Jika dikatakan pada mereka, jangan kalian mebuat kerusakan di bumi, mereka mengatakan: kami hanya memperbaikinya. Ingat! Sesungguhnya mereka adalah perusak, hanya saja mereka tidak merasa.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 11). Dalam banyak tafsir, perusakan manusia dimaksud dalam dua ayat berkaitan dengan keyakinan dan perbuatan lalilm, seperti perbuata kufur, maksiat, munafik, dan perbuatan dosa lainnya. Akan tetapi, di sisi yang lain Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H.), salah satu ulama Mazhab Syafi’i kenamaan, memiliki pandangan berbeda khususnya berkaitan dengan tatanan alam dan manusia. Tentang dua ayat ini, beliau menyinggungnya dalam kitab al-Fatawa al-Haditsiyah, alah satu kitab kumpulan fatwa Ibnu Hajar. Dalam ulasannya, Ibnu Hajar menyatakan bahwa ayat di atas merupakan tanshish (dalil) atas ketegasan larangan Allah SWT terhadap segala bentuk perusakan di muka bumi. Pamakaian kata ‘al-ardh’ yang berarti bumi atau alam, mengindikasikan adanya keumuman kata sehingga mencakup seluruh alam. Apalagi, kata ardh bergandengan dengan ‘al’ yang menurut kalangan para pakar ilmu metodologi fikih (Ushuliyah) menunjukkan keumuman sebuah kata. Dari itu, meskipun ayat ini tujuan utamanya adalah masyarakat Madinah di mana ayat ini di turunkan, tetapi pelarangannya bersifat universal, mencakup seluruh masyarakat dunia. Sebab, akibat yang dimunculkan dari perusakan alam akan lebih parah (aqbah) dibandin perusakan itu sendiri,dan itu tidak hanya pada Madinah tapi juga pada belahan dunia lainnya. Dalam hal ini, Ibnu Hajar juga mangatakan, di antara tujuan penting dari ayat ini adalah sebagai puncak peringatan keras sekaligus menakuti manusia (ghayatut-taqri’ wat-takhwif) bahwa perusakan yang dilakukan akan berakibat pada kematian penduduk bumi, terutama manusia sendiri. Sebab, kerusakan pada bumi mendatangkan kehancuran dan kemusnahan penduduka bumi. Sepertinya, kata Ibnu Hajar, telah dikatakan kepada manusia sebuah peringatan: “Jangan kalian menjadi...

Selengkapnya
Generasi yang Nyaris Kehilangan Ibu
Agu25

Generasi yang Nyaris Kehilangan Ibu

Ali Mandegar, usianya kira-kira 11 tahun. Hari itu sekolah libur. Ayahnya membawa dia keliling dengan sepeda ontel yang tua, mencari pekerjaan di kota. Ibunya di rumah bersama Zahrah, adik perempuan Ali satu-satunya. Majid Wajidi, sutradara kawakan di Iran, berhasil menyajikan siluet cerita yang menyentuh tentang keluarga Ali itu dalam film Children of Heaven. Ia bercerita tentang sebuah keluarga yang miskin—mungkin di pinggiran kota Teheran—yang berhasil menanmkan kepribadian yang kokoh dalam diri anak-anak mereka. Film itu menggambarkan potrer keluarga Timur Tengah sekitar 15 tahun yang lalu. Daam tradisi Timur Tengah, kaum Hawa memang lebih terpingit dibanding kawasan-kawasan lain di dunia. Suami punya tanggung jawab penuh untuk menghidupi keluarganya. Sedangkan, istri dengan tabah menjadi seorang ibu yang senantiasa berada di samping anak-anaknya. Di Timur Tengah pun, cetak biru keluarga ala Children of Heaven itu mungkin akan segera pudar. Beberapa kali, tokoh-tokoh dari Barat datang ke sana dan bersuara agar perempuan-perempuan Arab tak lagi terpenjara. Beberapa dari perempuan Arab terprovokasi oleh Nawal el-Sadawi atau Fatimah Mernissi. Dan, Timur Tengah sepertinya tak terlalu risau dengan itu, sebagaimana terlihat dari pemandangan kebarat-baratan di sekililing menara al-Burj di pantai Qatar. Di belahan dunia yang lain, mungkin sekali wajah ibu akan pudar lebih cepat. Wajah keibuan yang dulu teduh mulai terlihat kusam. Di negeri kita misalnya, urbanisasi besar-besaran terus menggeser batas-batas gender. Tipologi ibu Indonesia yang menghabiskan waktu untuk menemani anak-anaknya sudah menjadi prototipe ibu tradisional. Di daerah perkotaan, seorang ibu sudah lumrah menghabiskan waktu di kantor di tempat kerja. Dan, kecenderungan itu tentu saja akan segera menular ke desa-desa. Sebab, sejarah manusia memang selalu bercerita tentang desa yang menjadi urban, tak pernah tentang desa yang menulari kota. Hampir seluruh penelitian menyatakan bahwa partisipasi perempuan dalam kiprah-kiprah di luar rumah terus meningkat. Di beberapa negara, termasuk di Indonesia, hal itu didukung oleh sistem. Persentase ketewakilan perempuan di parlemen, kabinet dan profesi, menjadi target pemerintah, atau bahkan diatur secara resmi dalam undang-undang. Dalam rentang waktu 1955 s.d. tahun 1982 keterwakilan perempuan di parlemen berkisar 5-7 persen. Sedangkan antara tahun 1982-2008 antara 8-11 persen. Dan, pada pemilu 2009 yang lalu, terjadi peningkatan tajam persentase perempuan di parlemen. Di DPR RI sebesar 27 persen. Bahkan, beberapa waktu lalu, Sekretariat Jenderal DPR RI menerbitkan Buku Panduan Tentang Gender di Parlemen yang isinya mendorong adanya kaukus parlemen dan politik bagi perempuan. Dan, isu pemberdayaan perempuan, rupanya sedang menjadi komoditi politik yang cukup laris untuk mengail sura pemilih perempuan yang jumlahnya cukup signifikan. Peningkatan peran publik perempuan juga terjadi dengan cukup drastis di bidang profesi dan ketenagakerjaan. Menurut data tahun 2008 Depnakertrans, sebesar 28 persen  dari keseluruhan tenaga kerja lokal adalah perempuan. Sedangkan tenaga kerja antar negara (TKI), presentase tenaga kerja wanita (TKW) sebesar 76.85 persen. Berarti...

Selengkapnya