BeritaUnggulan

Jamiyah Sineas ISS Siapkan Santri Jadi Konten Kreator Andal

Ikatan Santri Sidogiri (ISS) menggelar pembukaan Jamiyah Sineas atau Sinema Santri pada Ahad malam (17/05) di Gedung Ruang Rapat Sidogiri Corp. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua ISS Ustadz Birril Walid, narasumber acara Ustadz Firdaus Sholeh, pengurus Jamiyah Sineas, serta para peserta.

Dalam sambutannya, Ustadz Birril Walid menjelaskan sejumlah manfaat yang akan diperoleh peserta selama mengikuti kegiatan tersebut. Ia menyebutkan bahwa Jamiyah Sineas telah menjalin kerja sama dengan Sidogiri TV sehingga karya peserta yang dinilai baik berpeluang ditayangkan melalui media tersebut.

“Para peserta memiliki kesempatan untuk menjadi aktor, sutradara, maupun editor video,” ujarnya.

Ia juga menilai Jamiyah Sineas sebagai salah satu jamiyah yang memiliki tingkat keseriusan tinggi karena menuntut konsistensi anggotanya. Oleh sebab itu, proses seleksi peserta dilakukan secara ketat.

Menurutnya, peserta yang tidak menunjukkan kesungguhan atau hanya mengikuti kegiatan untuk menonton film tidak akan dilibatkan kembali pada program berikutnya.

Pada sesi orientasi, Ketua Jamiyah Sineas, Ustadz Muhammad Luthfi Maulana, menjelaskan bahwa pembentukan komunitas tersebut bertujuan mendukung dakwah Islam melalui media visual.

Ia menilai santri perlu ikut bersaing dalam dunia digital dengan menghadirkan konten yang selaras dengan nilai-nilai Islam. Menurutnya, pengetahuan keislaman yang dimiliki oleh santri dapat dikemas dalam bentuk video maupun film.

“Saat ini mayoritas santri masih menjadi penonton, bukan pembuat konten. Karena itu, sudah saatnya santri memproduksi film yang mampu bersaing dengan karya para kreator non-santri,” jelasnya.

Ia juga mengajak para santri untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan arus media sosial yang terus berkembang.

“Jika tidak mampu melampaui, setidaknya kita mampu menyaingi,” tambahnya.

Sementara itu, Ustadz Firdaus Sholeh menegaskan bahwa dakwah pada era digital tidak hanya dilakukan melalui ceramah, tetapi juga dapat disampaikan melalui media visual yang memuat nilai-nilai Islam.

Menurutnya, minat masyarakat terhadap konten audiovisual saat ini semakin tinggi dibandingkan budaya membaca.

“Ulama terdahulu menulis peradaban melalui tinta. Hari ini, santri juga harus mampu menulis peradaban melalui visual,” tuturnya disambut antusias peserta.

Penulis: Syahrul Maulana
Editor: Elmaghroby

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *