BMW Ke 52: Ini Yang Harus Dipertahankan Oleh Kita

share to

Keterangan: Kepala Kuliah Syariah Pondok Pesantren Sidogiri saat memberikan sambutan dalam acara Bahtsul Masail Wustha (BMW) ke 52.

Keterangan: Para delegasi tampak semangat melontarkan argumentasinya.

Keterangan: Dewan musahhih memberikan keterangan dihadapan delegasi Pesantren se Jawa-Madura.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dilaksanakan sejak Kamis (23/01) hingga Jumat (24/01) bertempat di Mabna as-Suyuthi. Bahtsul Masail Wustha (BMW) ke 57 Pondok Pesantren Sidogiri sukses digelar. Peserta BMW merupakan utusan dari berbagai pondok pesantren se-Jawa-Madura. Menurut keterangan yang didapat dari Kepala Kuliah Syariah Bahtsul Masail Wustha (BMW) ini merupakan forum intelektualitas yang dimiliki kaum Pesantren. Bahkan di perguruan tinggi pun masih belum ditemukan.

Musyawarah merupakan reprentasi dari segala tindakan, Rasulullah saja dalam semua hal dan tindakan lebih mengedepankan musyawarah,” kata Ust. Afifuddin, Kepala Kuliah Syariah.

Tidak jauh beda dengan apa yang disampaikan Ust. Afifuddin, Ust. Ilham peserta musyawaroh juga menegaskan akan pentingnya acara semacam Bahtsul Masail Wustha (BMW). Menurutnya Penyelesaian masalah yang dilakukan secara bersama-sama pasti keputusannya akan lebih kuat dan matang karena hasil tersebut adalah hasil bersama atau mufakat bersama.

Saya datang dari pulau Madura. Tidak ada persiapan yang matang. As’ilah (pertanyaan) dari panitia sebanyak Sembilan macam tapi saya hanya bawa ibarat sebanyak empat macam. Lakar le ta’ niat senoroah deddi musyawarah coman partisipasi polaen olle undangan (Memang tidak niat musyawarah tapi karena dapat undangan kami partisipasi saja). Tapi Alhamdulillah dengan barakah BMW saya dapat ilmu banyak dari Sidogiri,” kata Ust. Ilham utusan dari Pondok Pesantren as-Saidiyah, Arosbaya Bangkalan.

Selain itu beliau (Ust. Afifuddin) berharap dengan adanya Bahtsul Masail Wustha (BMW) bisa menjadi tali penyambung antar pesantren dan membentuk karakter yang gemar ber-Musyawarah. 

Tidak hanya menjadi tali penguat persaudaraan tapi juga membentuk karakter yang ahli dalam musyawarah. Sehingga muncul selogan tidak ada waktu kecuali bermusyawarah.” Ujarnya kepada reporter Sidogiri.Net.[]

=====

Penulis: M. Afifur Rohman

Editor: N. Shalihin Damiri

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Chat WA dengan kami