Bahas Film The Santri, Ust. Nahdlor Tsana’i: Santri Tidak Seperti Itu!

share to

Untuk pertama kalinya di semester pertama tahun ajaran 1440-1441 H buletin Nasyith mengadakan bedah majalah dengan tema “Membahas Film The Santri”. Ust. Nahdlor Tsana’i, sebagai pengisi seminar menjelaskan beberapa hal yang menuai kontroversi. Beliau juga menekankan kepada para santri untuk membenahi diri sebelum berkomentar mengenai film The Santri.

Dalam penyampaiannya beliau menjelaskan bahwa santri memiliki dua alam kehidupan, Pertama  Hala kaunihi thaliban, ketika masih menjadi santi (menetap di pesantren). Kedua, Halal-Khuruj minal-Ma’had, ketika sudah keluar (boyong) dari pesantren. Dari dua keadaan ini, kita bisa memahami, ketika seorang santri telah keluar dari lingkungan pesantren, dia tetap dikatakan santri dan tidak boleh berubah, karena di pesantren telah dibekali dengan banyak ilmu pengetahuan dan akhlaqul-karimah, bahkan hanya dengan melihat pada takrif santri yang disampaikan oleh Kiai Hasani kita bisa tahu siapa santri yang sebenarnya. Santri adalah orang yang berpegang teguh pada al-Quran dan Hadis, serta teguh pendirian.

Sedangkan santri menurut dawuh Nabi Ibrahim adalah sebagaimana tercantum dalam al-Quran:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Baca Juga:  Bedah Majalah Nasyith, Menyikapi Film The Santri

Dari ayat diatas kita mendapat gambaran bahwa kehidupan santri tidak mementingkan dunia, Nabi Ibrahim berkata, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman”. Sangat sesuai dengan realita yang ada di beberapa pesantren salaf, di mana di sana bukan tempat untuk bersenang-senang dan bermewah-mewahan, melainkan mencari ilmu tanpa menghiraukan urusan duniawi. Tujuan seorang santri adalah untuk menegakkan salat, sebagaimana kelanjutan perkataan Nabi Ibrahim, “agar mereka mendirikan shalat”,  karena salat merupakan inti dari seluruh ibadah. Di akhirat kelak hal pertama yang akan dihisab oleh Allah adalah salat.

Jika dikaitkan dengan film The Santri yang banyak diperbbincangkan akhir-akhir ini, menurut beliau itu bukan perilaku santri, karena tidak sesuai dengan realita yang ada. “Santri tidak seperti itu! Di sana ada Khalwat, berduaan antara laki-laki dan perempuan dalam satu tempat.” Tegas salah satu staf pengajar Aliyah ini. Dalam hal ini, ada sesuatu yang dapat mengantarkan atau mendekatkan pada zina, yang mana jelas telah dilarang oleh al-Quran. Allah berfirman, La Taqrabuz-Zina. Sekalipun dalam suatu tempat terdapat banyak orang, jika disana terdapat hal-hal yang mendekatkan pada perzinahan maka juga haram, seperti saling melirik, berbicara sehingga menimbulkan perasaan suka dan lain sebagainya. Sangat tidak sesuai dengan takrif santri dari Kiai Hasani, yakni berpegang teguh pada al-Quran dan Hadis.

Baca Juga:  Antara NU dan Aswaja

Selain itu di sana ada adegan memberi tumpeng ke gereja. Meskipun terdapat khilaf antara ulama, tapi jika di dalam gereja tersebut jelas terdapat kemunkaran, seperti men-syirikkan Allah, terdapat patung-patung maka hukumnya haram. Terlebih jika masuk dengan tujuan takdzim pada agama lain yang mensyirikkan Allah.

Jadi menurut beliau dalam film tersebut ada dua hal yang menuai kontroversi. Pertama, di sana ada ada hubungan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram. Kedua, takdzim pada agama lain yang mensyirikkan Allah. “Sebenarnya saya hanya mentaukidi pendapat para ulama seperti Ustadz Abdul Somad dan ulama-ulama yang lain.” Terang beliau disela-sela penyampaiannya, karena pendapat beliau tak ubahnya sebutir pasir di padang sahara.

Di akhir penjelasannya, beliau berpesan pada seluruh santri untuk senantiasa tekun memahami arti santri yang sebenarnya, sebagaimana takrif santri yang dikemukakan oleh Kiai Hasani. “Ketika kita menyoroti santri, kita harus perbaiki diri kita sendiri sebagai santri, karena ‘Lisanul-Hal Afsahu min Lisanil-Maqal’”  pungkas beliau mengakhiri acara.

Baca Juga: Seminar Ilmiah UKPI Jurusan Tarbiyah

________

Penulis: Kanzul Hikam

Editor: Saeful Bahri bin Ripiit

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *