ArtikelUnggulan

Santri; Tolok Ukur Ideal Pelajar Zaman Ini

Santri kerap dipandang sebagai kaum pelajar tradisional dan terbelakang. Aktivitas belajar mereka yang penuh dengan kesederhanaan sering kali dicap sebagai metode yang sudah ketinggalan zaman. Namun, jika kita telusuri lebih dalam, metode dan nilai yang mereka pegang justru mencerminkan esensi seorang pelajar yang tidak hanya mengedepankan ilmu, tapi juga adab. Sebuah cerminan yang harusnya menjadi teladan bagi seluruh kaum pelajar di zaman sekarang.

Sejak awal seorang santri selalu dididik untuk menanamkan nilai-nilai ukhrawi dalam hatinya. Sebuah ciri khas yang membedakannya dengan kaum pelajar lain yang sering mengedepankan tujuan duniawi daripada akhirat. Sebelum melangkah untuk menuntut ilmu, santri diajarkan untuk menata niatnya karena niat adalah modal utama yang akan menjadi penentu hasil akhir dari sebuah usaha. Dalam kitab Ta’limul Muta’allim, Syaikh az-Zaranji mengutip sebuah hadist Nabi yang berbunyi:
كم من عمل يتصور بصورة عمل الدنيا، ثم يصير بحسن النية من أعمال الآخرة، وكم من عمل يتصور بصورة عمل الآخرة ثم يصير من أعمال الدنيا بسوء النية
Artinya: “Betapa banyak amal duniawi yang bernilai ukhrawi dikarenakan niat yang bagus. Dan betapa banyak amal ukhrawi yang bernilai duniawi karena niat yang buruk.

Berangkat dari hadist di atas, kemudian Syaikh az-Zaranji menganjurkan para santri untuk tidak memasukkan unsur dunia ke dalam niatnya dalam mencari ilmu. Beliau mewanti-wanti agar tujuan mencari ilmu didasari atas mencari ridha Allah, menghidupkan agama, dan menghilangkan kebodohan.

Tidak sampai di situ saja, bahkan selama proses menuntut ilmu santri diharuskan menjaga adab-adab yang telah diajarkan oleh para ulama salaf. Adab pada saat belajar, adab kepada guru, teman, sampai adab kepada ilmu itu sendiri, semuanya diamalkan agar ilmu yang diperoleh bisa menjadi berkah dan manfaat. Selama mencari ilmu, santri dianjurkan untuk hidup dalam kesederhanaan, tidak berlebih-lebihan ketika makan, dan tidak bermewah-mewahan dalam pakaian. Bersabar dengan hidup yang penuh dengan kesederhanaan akan mempermudah santri dalam memperoleh ilmu, ketenangan hati, dan dari kesabaran ini akan memunculkan sifat-sifat kebijaksanaan dari diri santri. KH. Hasyim Asy’ari dalam kitabnya, Adabul Alim wal Muta’allim, mengutip maqalah Imam Syafi’i yang menegaskan bahwa seorang penuntut ilmu akan berhasil jika disertai dengan kerendahan hati, hidup sederhana, dan khidmah kepada para ulama’.

Di mata santri, ilmu adalah sesuatu yang agung. Oleh karenanya, mengagungkan ilmu diperlukan agar mudah untuk memperolehnya. Selama proses belajar santri diharuskan untuk selalu berada dalam kondisi suci dari hadast dan bersih dari najis. Syaikh az-Zaranji dalam kitab Ta’limul Muta’allim banyak menceritakan kisah para ulama yang selalu menjaga diri agar selalu berada dalam kondisi suci ketika belajar. Syaikh as-Sarkhasi pada saat terkena sakit perut, beliau sampai rela berwudhu’ sebanyak tujuh belas kali selama satu malam agar tetap berada dalam keadaan suci selama belajar ilmu. Sebab, tutur Syaikh az-Zaranji, ilmu adalah cahaya, sedangkan wudhu’ juga cahaya, seseorang yang belajar dalam keadaan berwudhu’ akan menambahkan sinar dari cahaya ilmu yang ia peroleh. Sebuah kebiasaan yang jarang dilakukan oleh pelajar di zaman ini.

Di hadapan seorang guru, santri selalu menjaga tatakrama karena dari merekalah para santri dapat memperoleh ilmu. Memandang wajah guru dengan rasa hormat, bersalaman dan mencium tangan guru, taat dan bersabar atas semua arahannya, dan hal-hal lain yang merupakan hak bagi seorang guru merupakan adab yang harus dijalani oleh santri. Tentunya, adab-adab ini merupakan warisan dari ulama salaf. Bukan tanpa landasan, adab seperti ini sudah ada sejak dulu bahkan pada masa Rasulullah, ketika para Sahabat berguru kepada beliau. Cukuplah hadist yang diriwayatkan dari Sahabat Anas berikut menjadi bukti bahwa adab yang dilakukan santri saat ini adalah hal sama yang dilakukan Sahabat pada masa Nabi Muhammad, berikut bunyi hadistnya:
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا تَكَلَّمَ تَكَلَّمَ بِكَلِمَاتٍ بَيِّنَاتٍ فَهْنَ يُحْفَظْهَا، وَكَانَ أَصْحَابُهُ إِذَا جَلَسُوا عِندَهُ كَأَنَّمَا عَلَى رُءُوسِهِمُ الطَّيْرُ
Artinya:
Dari Anas r.a. ia berkata: Rasulullah ﷺ jika berbicara, beliau berbicara dengan kata-kata yang jelas sehingga dapat dihafal. Dan para sahabat jika duduk di dekat beliau, seolah-olah ada burung di atas kepala mereka (saking tenangnya). (HR. Tirmidzi)

Santri bukan hanya dididik untuk alim, tapi menjadi pribadi yang shalih dan beradab. Metode pendidikan ala pesantren merupakan metode ideal untuk mencetak generasi alim dan berakhlak. Bukan hanya didikan di dalam kelas, sentuhan akhlak santri, dzikir yang mereka lantunkan, dan doa yang dipanjatkan oleh kyai merupakan hal-hal tak terlihat yang membantu untuk membuka pintu hati agar mudah menyerap ilmu. Sudah sepatutnya seluruh pelajar mulai mengikuti kiat-kiat santri dalam menuntut ilmu agar ilmu yang diperoleh bisa menjadi berkah dan manfaat.

Penulis: Moh. Syauqillah
Editor: Fahmi Aqwa

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *