Membuat film tidak selalu harus berangkat dari kisah yang besar dan spektakuler. Bagi Manajer Festival Film Santri (FFS), M. Bisri Musthafa, kehidupan sehari-hari santri justru menyimpan banyak cerita yang sarat makna dan layak diangkat ke layar.
Hal tersebut disampaikan saat diwawancarai di sela-sela mendampingi peserta praktik pengambilan gambar dalam rangkaian Festival Film Santri (FFS) di halaman Daerah N Pondok Pesantren Sidogiri, Jumat (10/07).
Menurutnya, santri tidak perlu mencari ide cerita yang jauh dari realitas kehidupan pesantren. Aktivitas sederhana, seperti menjaga kebersihan, menghormati guru, hidup disiplin, hingga kebiasaan saling membantu, telah mengandung nilai-nilai Islam yang dapat dikemas menjadi tontonan yang bermakna.
“Kalau di Sidogiri ada cerita tentang membuang sampah pada tempatnya, dari situ saja kita bisa menyampaikan banyak pesan. Bahwa santri diajarkan menjaga kebersihan, peduli lingkungan, dan kebersihan merupakan bagian dari iman,” ujarnya.

Meski demikian, ia menilai tantangan terbesar dalam memproduksi film bertema pesantren bukan terletak pada pencarian ide, melainkan pada cara menyampaikan pesan kepada penonton. Menurutnya, film yang baik mampu menghadirkan nilai tanpa terkesan menggurui.
“Tantangannya adalah bagaimana membuat film yang tidak menggurui. Orang lebih mudah menerima pesan ketika disampaikan melalui cerita yang halus,” jelasnya.
Oleh karena itu, selama workshop, para peserta tidak hanya dibekali materi penyutradaraan, penulisan skenario, dan sinematografi. Mereka juga diajak mengamati kehidupan sehari-hari di lingkungan pesantren sebagai sumber inspirasi yang dekat dengan pengalaman mereka sendiri.
Bagi Mas Bisri, film merupakan salah satu media dakwah yang efektif di era digital. Melalui kekuatan cerita, nilai-nilai Islam dapat disampaikan kepada masyarakat secara lebih ringan, menarik, dan mudah diterima tanpa mengurangi substansi pesannya.
“Mulailah membuat cerita dari hal yang paling dekat. Kalau kita memahami ceritanya karena mengalaminya sendiri, pesan yang ingin disampaikan akan lebih meyakinkan,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan mampu menghasilkan karya film yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai kepesantrenan secara alami sehingga dapat menjadi media dakwah yang relevan bagi masyarakat luas.
Penulis: Nur Afifuddin
Editor: Elmaghroby












