BeritaFeature

Jadi Delegasi Karangdurin, Shofiuddin: BMW selalu Saya Nanti

Ruang istirahat delegasi Bahtsul Masail Wustha (BMW) ke-71 mulai sepi pada Kamis (09/07) malam. Seluruh peserta telah kembali ke pesantren masing-masing. Hanya Shofiuddin dan rekannya yang masih duduk santai di teras sambil berbincang dengan beberapa teman lamanya. Dua tas ransel dan barang bawaan lain miliknya telah berada di sampingnya, menunggu kendaraan yang akan mengantarnya ke stasiun Bangil.

Baca juga: BMW ke-71, Teguhkan Tradisi Keilmuan dan Peran Pesantren Menjawab Problematika Umat

Shofiuddin bukan peserta baru. Staf pengajar Pondok Pesantren Karangdurin, Sampang, itu mengaku telah sembilan kali mendapat amanah menjadi delegasi Karangdurin ketika BMW digelar di Sidogiri.

“Kalau bahtsul masail di tempat lain biasanya ada delegasi lain. Tapi kalau bahtsul masail di Sidogiri, pondok memang memprioritaskan saya,” ujarnya.

Sebelum mengabdi di Karangdurin, ia pernah nyantri selama tujuh tahun dan mengajar selama dua tahun di Pondok Pesantren Sidogiri. Ini menjadi alasan mengapa ia jadi delegasi langganan ke Sidogiri.

Tampilan layar pentas utama pada pelaksaan BMW ke-71 di Komisi B

Menurutnya, BMW bukan hanya forum musyawarah. Ia datang untuk belajar sekaligus membawa pulang pengalaman yang dapat diterapkan di pesantrennya.

“Kami ingin belajar lebih banyak kepada Sidogiri. Harapannya, pengalaman selama mengikuti BMW bisa diterapkan di Karangdurin sehingga santri di sana juga merasakan manfaatnya,” tuturnya.

Shofiuddin menilai BMW Sidogiri selalu menghadirkan pembahasan yang dekat dengan persoalan masyarakat. Salah satu as’ilah di Komisi A tahun ini, menurutnya, merupakan persoalan yang banyak ditemui di berbagai pesantren, termasuk di Karangdurin.

“As’ilah itu memang dibuat oleh Sidogiri, tetapi kejadiannya ada di banyak pesantren. Karena itu, hasil musyawarah ini nantinya bisa menjadi solusi yang diterapkan di pondok masing-masing,” jelasnya.

Selain materi musyawarah, ia juga mengapresiasi budaya yang dijaga selama BMW berlangsung. Mulai dari larangan merokok sebagai bentuk memuliakan ilmu, panitia yang selalu mengingatkan waktu shalat, hingga adanya tata tertib yang harus dipatuhi saat musyawarah.

Baca juga: BMW ke-71 Bahas Status Fikih Kitab tak Bertuan

Ketika jadwal BMW bertepatan dengan Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) di Malang—yang dikenal sebagai forum musyawarah terbesar se-Jawa dan Madura—Shofiuddin mengaku tetap memilih memenuhi undangan dari Sidogiri.

“Sidogiri tetap nomor satu. Kalau FMPP, biar teman saya yang lain saja yang ikut,” katanya mantap.

Bukan semata untuk bermusyawarah, tetapi setiap kembali ke Sidogiri ia bisa sowan ke dalem, berziarah ke pesarean, dan bernostalgia bersama sahabat-sahabat lamanya.

“Kalau diungkapkan dalam satu kata, berada di Sidogiri itu membuat hati adem,” pungkasnya sambil tersenyum.

Penulis: Nur Afifuddin
Editor: Elmaghroby

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *