Perpustakaan Sidogiri menggelar Seminar Konsultan Non-Reguler Semester I dengan mengangkat tema, “Tasawuf dan Kejawen: Analisis Persamaan Wahdatul Wujud dan Manunggaling Kawula Gusti” pada Jumat siang (10/07). Bertempat di lantai dasar Perpustakaan Sidogiri, seminar ini menghadirkan Al-Habib Dr. Ali Baqir Assegaf, M.A., Ph.D. sebagai narasumber dan diikuti oleh para pemustaka dari berbagai tingkatan.
Kepala Perpustakaan Sidogiri, Ustadz Masyhuri Mochtar, menjelaskan bahwa tema tersebut dipilih karena merupakan salah satu persoalan yang paling sering ditanyakan peserta kepada Konsultan Reguler.
“Tema ini merupakan hasil penyaringan dari beberapa pertanyaan yang paling sering diajukan kepada konsultan reguler yang kami sediakan” jelas Staf Pengajar MMU Aliyah tersebut.
Dalam presentasinya, Habib Ali Baqir mengapresiasi tema yang diangkat ini. Menurutnya, pembahasan mengenai Wahdatul Wujud dan Manunggaling Kawula Gusti merupakan kajian penting yang sudah lama tidak ia bahas secara khusus.
“Tema ini sangat, sangat, sangat bagus untuk dibahas,” ungkapnya.
Alumnus Pondok Pesantren Darut Tauhid, Malang, tersebut menjelaskan latar belakang historis kemunculan ajaran Wahdatul Wujud menurut perspektif yang ia kaji. Gagasan mengenai penyatuan wujud telah dikenal dalam tradisi filsafat sebelum Islam, kemudian berkembang dalam khazanah pemikiran Islam melalui sejumlah tokoh yang dikaitkan dengan konsep tersebut.
“Paham Wahdatul Wujud sudah ada sejak era filsafat Yunani, kemudian ketika Islam datang diadopsi oleh Syaikh Ibn ‘Arabi ath-Tha’i,” jelasnya.
Sesuai dengan tema, Habib Ali Baqir juga membandingkan konsep tersebut dengan tradisi kebatinan di Nusantara yang dikenal dengan istilah Manunggaling Kawula Gusti. Menurutnya, kedua konsep tersebut memiliki sejumlah titik persinggungan sehingga sering dibandingkan dalam berbagai kajian.
Baca juga: BMW ke-71 Bahas Status Fikih Kitab tak Bertuan
Selain itu, ia mengulas sejumlah konsep lain yang kerap disamakan dengan Wahdatul Wujud, seperti hulul dan ittihad. Ia menjelaskan perbedaan karakteristik masing-masing konsep agar tidak terjadi pencampuradukan istilah-istilah tersebut.

Selanjutnya, pemikir dari Tulungagung tersebut menyinggung sejumlah tokoh beserta karya-karya yang sering dikaitkan dengan pembahasan Wahdatul Wujud. Ia menyebut dua karya yang paling banyak menjadi rujukan dalam diskursus tersebut, yaitu Fushushul-Hikam dan Al-Futuhat al-Makkiyyah.
Baca juga: Jadi Delegasi Karangdurin, Shofiuddin: BMW selalu Saya Nanti
Menutup seminar, ia mengingatkan para penuntut ilmu agar bersikap hati-hati ketika membaca pembahasan yang bersifat filosofis dan tasawuf tingkat tinggi. Menurutnya, persoalan semacam ini memerlukan kehati-hatian serta bimbingan guru yang kompeten.
“Saya rasa yang paling aman bagi penuntut ilmu adalah memasrahkan hal ini kepada Allah,” pesannya di akhir dialog.
Melalui seminar ini, Perpustakaan Sidogiri berharap para peserta memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai pembahasan Wahdatul Wujud dan Manunggaling Kawula Gusti, sehingga mampu menyikapi perbedaan pandangan secara ilmiah, proporsional, dan berdasarkan rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Penulis: Muhammad Fajar
Editor: Elmaghroby












