Keimanan kepada para nabi merupakan pembeda mendasar antara seorang mukmin dan orang kafir. Pernyataan tersebut menjadi salah satu argumentasi al-Ghazali dalam Faishalut-Tafriqah untuk membantah paham Deisme. Gagasan itu dikutip oleh Ustadz Dairobi Naji dalam seminar yang diselenggarakan oleh Annajah Center Sidogiri (ACS) pada Ahad malam (12/07).
Seminar yang menjadi agenda rutin ACS tersebut mengusung tema, “Deisme Modern: Percaya Tuhan, Menolak Agama” dan diikuti oleh seluruh anggota ACS. Kegiatan berlangsung di lantai dasar Perpustakaan Sidogiri.
Mengawali pemaparannya, Ustadz Dairobi menjelaskan perbedaan mendasar antara Deisme dan Ateisme. Menurutnya, kedua paham tersebut sama-sama menolak agama, tetapi berangkat dari alasan yang berbeda.
“Orang yang menolak agama adakalanya tidak percaya kepada Tuhan sehingga disebut ateis. Ada pula yang mengakui adanya Tuhan, tetapi menolak kenabian sehingga disebut deis,” jelasnya.
Alumni yang kini berdomisili di Jember tersebut menerangkan bahwa akar pemikiran Deisme terletak pada penolakan terhadap kenabian. Pandangan ini berbeda dengan Mu’tazilah yang justru berpendapat bahwa pengutusan nabi merupakan suatu keharusan. Menurutnya, kedua pandangan tersebut sama-sama tidak tepat karena mengaitkan pengutusan nabi dengan kewajiban yang dibebankan kepada Allah.
“Allah mengutus nabi bukan karena memiliki kepentingan. Karena itu, tidak logis jika pengutusan nabi dianggap wajib bagi Allah ataupun ditolak sama sekali,” ujarnya.
Penulis buku Sufi Berduit itu juga mengkritisi kecenderungan kaum Deis yang menjadikan akal sebagai satu-satunya standar kebenaran. Menurutnya, keterbatasan akal manusia justru melahirkan relativitas dalam menentukan benar dan salah.
“Kalau kita ingin menemukan kebenaran yang mutlak, maka mau tidak mau harus kembali kepada wahyu,” tegasnya.
Bertolak dari hal tersebut, ia menegaskan bahwa keberadaan nabi dan wahyu merupakan keniscayaan untuk mencapai kebenaran hakiki. Dalam kesempatan itu, ia turut menguraikan konsep kenabian, mulai dari fungsi mukjizat sebagai bukti kerasulan hingga argumentasi rasional (burhan) yang menguatkan kebenaran wahyu.

Redaktur Senior Sidogiri Media tersebut menjelaskan bahwa mukjizat tidak cukup dibuktikan hanya dengan pengamatan inderawi, tetapi juga memerlukan ilmu dan hidayah. Ia mencontohkan kisah Nabi Musa ketika menampakkan mukjizat di hadapan Fir’aun.
“Mengapa para penyihir langsung beriman, sedangkan Fir’aun tidak? Karena para penyihir mengetahui bahwa itu benar-benar mukjizat, sedangkan Fir’aun tidak memahaminya. Tantangan terbesar sesungguhnya adalah tantangan keimanan,” tuturnya.
Menjelang akhir seminar, Ustadz Dairobi mengingatkan bahwa paham Deisme tidak hanya berkembang di dunia Barat, tetapi juga mulai tampak dalam kehidupan masyarakat modern, sering kali tanpa disadari.
“Orang yang mengaku beragama, tetapi tidak peduli terhadap ajaran agamanya, pada hakikatnya telah memiliki kecenderungan deistis,” pungkasnya.
Melalui seminar yang berlangsung sekitar dua jam tersebut, ACS berharap para peserta memiliki pemahaman yang lebih kokoh tentang konsep wahyu dan kenabian, sehingga mampu menjaga akidah dari berbagai paham yang menyimpang, khususnya Deisme modern.
Penulis: Muhammad Fajar
Editor: Elmaghroby












